Jakarta -
Membesarkan gen alpha memerlukan pendekatan yang berbeda dari anak-anak yang lahir di generasi sebelumnya. Gen alpha adalah istilah yang disematkan untuk anak-anak yang lahir di tahun 2010-2024, Bunda.
Anak-anak yang tumbuh di era digital ini dikenal sebagai digital native, ialah generasi yang serba kritis dan sigap beradaptasi dengan teknologi. Namun tenang, Bunda, ada pola asuh yang direkomendasikan psikolog untuk membesarkan anak Gen Alpha.
Menurut seorang Psikolog Klinis Anak dan Remaja dari Universitas Indonesia, Ocha Ananda Suherik, M.Psi., Psikolog, dibutuhkan pendekatan unik dalam mendidik anak-anak dengan generasi ini.
Pola asuh yang diterapkan tentunya kudu bisa menyeimbangkan antara kedisiplinan dan empati agar Si Kecil tetap berkembang dengan karakter yang positif.
Lantas, pola asuh seperti apa yang direkomendasikan psikolog untuk membantu Bunda membesarkan anak Gen Alpha? Simak, yuk!
Memahami karakter unik Gen Alpha
Anak-anak Gen Alpha tumbuh di tengah bumi yang serba digital, Bunda. Mereka begitu mudah mengakses informasi, sehingga langkah berpikir dan belajarnya pun lebih sigap dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
Generasi ini juga dikenal punya rasa mau tahu yang tinggi. Mereka senang mencoba hal-hal baru dan mencari jawaban lewat internet hanya dalam hitungan detik. Semua perihal yang serba instan membikin mereka terbiasa mendapatkan hasil yang cepat.
Namun, di kembali kecepatan berpikir dan rasa mau tahunya yang besar, Gen Alpha mempunyai tingkat kesadaran diri dan empati sosial yang luar biasa, Bunda. Oleh lantaran itu, Bunda perlu pahami pola asuh yang tepat untuk membesarkan anak generasi ini.
"Kesadaran diri (self awareness) & kesadaran sosial (social awareness) juga tinggi. Anak sudah bisa menyampaikan emosinya seperti, 'Bunda, saya tuh sedih dan kecewa lantaran kejadian di sekolah tadi.' Anak juga lebih peka memandang situasi jika ada temannya marah alias sebaliknya. 'Bunda, kayanya si A tadi di sekolah begini.' Jadi mereka sudah bisa membaca situasi apa yang mereka hadapi,"ungkap Psikolog Ocha dalam kegiatan talkshow parenting kerjasama Siloam Hospitals Agora dan HaiBunda, pada akhir pekan lalu.
Tantangan yang dihadapi orang tua dalam mengasuh gen alpha
Orang tua diharapkan juga melakukan penyesuaian dengan perubahan era dalam mengasuh gen alpha. Kemajuan teknologi yang semakin canggih membikin penggunaan gadget tak dapat dihindarkan. Berikut beberapa tantangan yang siap dihadapi orang tua dalam membesarkan digital native:
- Pengelolaan penggunaan gadget
Beri patokan mengenai penggunaan gadget. Anak-anak di bawah dua tahun, sebaiknya belum terpapar screen time, Bunda. Namun, pada anak yang sudah besar sebaiknya berikan batas 1-2 jam sehari. "Jika sudah kadung terpapar lama, Bunda bisa berjenjang dalam mengatasinya. Misal yang sehari bisa sampai enam jam, bisa Bunda pelan-pelan kurangi. Minggu ini jadi lima jam, minggu depan jadi empat jam. Dikurangi secara berjenjang dengan diskusi," saran Psikolog Ocha.
- Sulit mengikuti aturan
Anak yang besar di era internet, bakal dianggap susah mengikuti patokan lantaran mereka terpapar banyak info baru. Misalnya, disebut jangan keluar malam lantaran ada hantu, anak-anak bisa mendebat pendapat tersebut dengan jawaban yang lebih rasional.
- Menjaga minat anak terhadap sesuatu
Bunda pasti setuju, sebagian besar anak-anak gen alpha sigap jenuh pada sesuatu. Tren yang terlalu sigap bergeser, membikin anak-anak era now lebih sigap beranjak pada perihal baru.
- Perbedaan perspektif antara orang tua & anak
Generasi Alpha tumbuh di lingkungan yang sangat berbeda dari masa mini orang tua mereka-dengan akses sigap ke informasi, budaya digital yang kuat, dan langkah berpikir yang lebih terbuka. Sementara itu, orang tua tetap membawa nilai-nilai tradisional yang condong menekankan kepatuhan, keteraturan, dan pengalaman masa lalu. Akibatnya, sering terjadi kesenjangan dalam langkah memandang masalah, mengambil keputusan, alias menanggapi perubahan.
- Terlalu ekspresif dalam meluapkan emosi
Anak-anak ini, lebih mudah dalam mengungkapkan perasaannya, baik saat merasa senang, marah, kecewa, maupun frustasi. Hal ini bisa dipengaruhi oleh pola komunikasi yang terbuka di era digital, di mana mereka terbiasa mengekspresikan emosi secara langsung melalui media sosial alias tontonan yang mereka konsumsi. Di sisi lain, mereka mungkin belum mempunyai keahlian emosional yang cukup untuk mengelola emosi tersebut secara sehat.
Pola asuh yang direkomendasikan psikolog untuk membesarkan Gen Alpha
Menurut psikolog klinis anak dan remaja dr Siloam Hospitals Agora ini, pola asuh authoritative lebih direkomendasikan untuk mendampingi tumbuh kembang anak Gen Alpha, yang mengedepankan responsivitas dan kontrol.
Pola asuh authoritative ini merupakan pendekatan pengasuhan yang menggabungkan antara support emosional dan didikan disiplin yang konsisten. Di mana anak-anak tetap butuh direspons ketika bercerita alias mau mengungkapkan pendapatnya. Namun, orang tua juga mempunyai kontrol terhadap perilaku anak.
"Bunda yang menerapkan pola asuh authoritative, bakal membuka ruang obrolan dengan anak. Sehingga Si Kecil tetap diberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapatnya," ungkap Psikolog Ocha.
Anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh ini condong mempunyai kepercayaan diri yang baik, keahlian sosial yang kuat, serta bisa mengelola emosi dan tanggung jawab secara seimbang. Anak sudah diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat sejak kecil, diberi ruang untuk menyalurkan sisi kritisnya. Sehingga nantinya, bakal memupuk rasa percaya diri dalam menyampaikan pendapat dalam bermarsyarakat.
Pola asuh authoritative cocok untuk membesarkan gen alpha. Anak-anak yang tetap kritis dalam mengemukakakan pendapat diberi kesempatan untuk bicara. Namun, tetap ada patokan tegas agar tidak terhanyut oleh arus teknologi dan budaya instan.
Pendekatan ini memungkinkan anak tumbuh dalam lingkungan yang suportif namun tetap mempunyai struktur, yang krusial untuk menghadapi tantangan bumi modern yang kompleks.
Pola asuh responsif berfaedah Bunda perlu datang secara emosional dan tentunya bisa memahami kebutuhan anak. Sementara itu, pola asuh kontrol menekankan pentingnya memberikan pengarahan dan batas yang jelas tanpa bersikap otoriter, Bunda.
Anak Gen Alpha tetap memerlukan pengarahan agar bisa membedakan mana yang baik dan tidak, terutama di tengah derasnya info digital. Kunci utamanya, Bunda perlu menjadi teladan yang baik bagi anak.
Bunda bisa mencontohkan langkah menggunakan teknologi dengan bijak, misalnya dengan mengatur lama tentang penggunaan gadget, memilih aplikasi yang kondusif untuk diakses, serta membiasakan anak untuk tidak menggunakan perangkat di ruang tertutup.
Itulah ulasan mengenai pola asuh yang disarankan psikolog untuk membantu Bunda membesarkan anak Gen Alpha. Jadi, Bunda sudah mulai menerapkannya pada Si Kecil?
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·