Puasa Tempat Melatih Kesabaran Dan Ketabahan Diri

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia–  Puasa, bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kesabaran dan ketabahan diri. Di bulan Ramadhan, umat Islam diuji untuk mengendalikan hawa nafsu dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Bagaimana puasa melatih kesabaran dan ketabahan?

Sudah mafhum bahwa puasa (Ramadhan) adalah salah satu dari rukun Islam nan wajib dilakukan-penuhi. Rasulullah Saw. bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَ إِقَامِ الصَّلَاةِ، وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ. رواه البخاري ومسلم.

Artinya: “Islam dibangun di atas lima perkara: persaksian bahwa tiada tuhan nan berkuasa disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, pergi haji, dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Tidak hanya itu. Bukankah di dalam al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183 dengan tegasnya Allah Swt. Menyerukan (mewajibkan) kepada orang-orang nan beragama untuk berpuasa. Dinyatakan:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ 

Artinya: “Wahai orang-orang nan beriman! Diwajibkan atas Anda berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum Anda agar Anda bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183).

Di dalam al-Qur’an, ada sebagian ayat-ayat nan diawali dengan “ya ayyuhannas” (wahai manusia), dan ada pula ayat nan diawali dengan “ya ayyuhalladzina amanu” (wahai orang-orang nan beriman). Ayat nan diawali dengan “ya ayyuhannas” pada umumnya turun di Makkah sebelum Nabi Hijrah.

Sedangkan ayat nan diawali dengan “ya ayyuhalladzina amanu” turun di Madinah. Jika dilihat ayat diatas, ayat tersebut diawali dengan “ya ayyuhalladzina amanu”. Ayat ini mewajibkan puasa kepada orang-orang nan beragama dengan memakai kata “kutiba”. Secara harfiah kata “kutiba” berarti dituliskan. Akan tetapi dalam perihal ini berfaedah diwajibkan.

Umumnya, ustadz tafsir mengatakan bahwa, tanggungjawab puasa telah ada sejak sejarah manusia. Itu sebabnya, Allah Swt. tidak menggunakan kata “furida” (diwajibkan/difardhukan) melainkan kata “kutiba”. Pertama, kata “kutiba” mempunyai makna seolah-olah dia sudah tertulis begitu lama sehingga tetap menjadi kewajiban.

Masalahnya ada norma tertulis dan norma tidak tertulis. Karena itu, norma sudah berjalan lama dan begitu penting, biasanya disebut norma tertulis. Lebih dari itu, kata “kutiba” juga menunjukkan bahwa tanggungjawab puasa sudah ada sejak Nabi Adam As.

Kedua, “kutiba” dipakai lantaran pentingnya kewajiban. Puasa adalah suatu tanggungjawab nan sangat krusial nan bukan sekadar perintah biasa. Dikatakan krusial lantaran Allah Swt. sendiri nan bakal memberikan hadiah pahala kepada orang nan berpuasa. Ini sebagaimana terekam dalam hadits qudsi, Rasulullah Saw. bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ 

Artinya: “Setiap ibadah kebaikan nan dilakukan oleh manusia bakal dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan nan semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Swt. Berfirman: “Kecuali ibadah puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri nan bakal membalasnya.” (HR. Muslim).

Ketiga, tanggungjawab puasa ini tertulis di semua kitab suci nan azali. Seperti terdapat dalam kitab Injil, Zabur, dan Suhuf-Suhuf Ibrahim. Hanya saja, perbedaannya pada tata caranya, sedangkan tanggungjawab puasanya itu sendiri sudah tertulis.

Konsep menahan diri (al-imsak)

Puasa dalam bahasa Arab disebut “siyam” alias “saum” nan artinya “menahan dari segala sesuatu, baik perbuatan maupun perkataan, seperti menahan makan, minum, nafsu, menahan berbincang nan tidak berfaedah dan sebagainya”. Termasuk ke dalam pengertian ini menahan berbincang dengan orang lain seperti disebut dalam al-Qur’an surat Maryam ayat 26 Allah Swt. berfirman:

فَكُلِيْ وَاشْرَبِيْ وَقَرِّيْ عَيْنًا ۚ فَاِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ اَحَدًا ۙ فَقُوْلِيْۤ اِنِّيْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلِّمَ الْيَوْمَ اِنْسِيًّا 

Artinya: “Maka makan, minum, dan bersenang hatilah engkau. Jika engkau memandang seseorang, maka katakanlah, “Sesungguhnya saya telah bernazar berpuasa untuk Tuhan nan Maha Pengasih, maka saya tidak bakal berbincang dengan siapa pun pada hari ini.” (QS. Maryam [19]: 26).

Al-Raghib al-Isfahani salah seorang ustadz dari Baghdad mengatakan, bahwa kata “al-saum” pada dasarnya berfaedah “menahan diri dari perbuatan, baik makan, berkata, maupun apa saja”. Oleh lantaran itu, kuda nan tidak mau melangkah alias makan disebut “sa’im”.

Demikian juga angin nan tidak berdesir disebut “saum” dan tengah haripun dikatakan shaum sebagai gambaran tentang berhentinya mentari di puncak langit. Pendek kata, puasa adalah dimensi meninggalkan sesuatu nan sebenarnya halal, tetapi ditinggalkan semata-mata lantaran mengikuti perintah Allah Swt.

Syahdan. Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin Imam Al-Ghazali menyebut enam langkah menahan diri pada waktu puasa. Pertama, menahan pandangan dan tidak mengumbarnya pada hal-hal nan menyibukkan hati, sehingga lupa kepada Allah Swt.

Kedua, menjaga lidah dari ucapan nan sia-sia, berbohong, mengumpat, memfitnah, bentrok dan membiasakan diam, serta menyibukkan lidah dengan zikir kepada Allah Swt. Ketiga, menahan pendengaran dari hal-hal nan dibenci agama.

Keempat, menahan seluruh personil tubuh nan lain dari dosa perut dari makanan haram, tangan dari menganiaya orang lain alias mengambil nan bukan haknya, kaki dari menginjak-injak kewenangan orang lain. Kelima, menahan diri untuk tidak makan berlebih-lebihan, walaupun dengan makanan halal. Keenam, setelah berbuka sebaiknya hati selalu berada di antara resah dan harap; dia tidak boleh terlalu takut bahwa puasanya tidak diterima Allah Swt., dan juga tidak terlalu percaya jika puasanya sudah sempurna.

Puasanya orang-orang dulu

Jika ditelisik lebih jauh, sejak permulaan sejarah, manusia tidak menemukan langkah apa pun nan lebih baik dibandingkan dengan puasa untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan biadab nan susah terobati nan pada akhirnya menuntunnya menuju kelalaian. Para penganut syahadat Ilahiah (penganut monoteisme/tauhid), masyarakat-masyarakat non-Muslim, dan bangsa-bangsa dulu kala sudah terbiasa dengan puasa.

Bangsa-bangsa Mesir Kuno, Yunani, Romawi, dan Cina Kuno, serta bangsa-bangsa lainnya telah mempraktikkan puasa untuk beberapa alasan. Sebagian apalagi tetap melakukan puasa sampai sekarang. Bangsa Yunani telah mengenal puasa dan manfaat-manfaatnya dari bangsa Mesir Kuno.

Mereka biasanya melakukan puasa ketika menjelang keterlibatan mereka dalam suatu peperangan. Bangsa Romawi berupaya mengungguli bangsa Yunani tidak hanya dalam mitologi, namun juga dalam melaksanakan puasa, terutama ketika mereka diserang agar dapat meraih kemenangan.

Tak berakhir di situ, mereka percaya bahwa puasa memperkuat bentuk mereka dan mengajari mereka kesabaran dan ketabahan, dua prasyarat nan dibutuhkan untuk memenangkan peperangan melawan godaan-godaan internal dan juga bahaya-bahaya eksternal. Bangsa Cina Kuno juga memasukkan puasa ke dalam doktrin-doktrin mereka. Selama berabad-abad, orang Hindu dan Budha telah melaksanakan corak puasa nan lebih hebat.

Demikian juga orang-orang Yahudi dan Kristen melaksanakan jenis-jenis puasa tertentu. Nabi Musa As. melaksanakan puasa empat puluh hari di Bukit Sinai. Selama periode itu, Nabi Musa diberikan tanggung jawab berat berupa “Sepuluh Perintah Tuhan” alias The Ten Commandments. Nabi Musa diperintahkan dalam kitab Taurat untuk melaksanakan puasa pada hari kesepuluh bulan ketujuh dan hari kesembilan bulan kedelapan.

Orang-orang Yahudi era dulu melaksanakan puasa selama masa kesedihan dan ratapan serta ketika menghadapi bahaya. Mereka juga terbiasa untuk melaksanakan puasa satu hari sebagai pertobatan, dan kapan pun mereka percaya bahwa Tuhan murka kepada mereka. Pada masa ini, mereka melaksanakan puasa selama satu minggu untuk memperingati kehancuran Yerusalem di tangan Nebukadnezar II (605-562 SM), putra dari Nabopolassar, pendiri kerajaan Babilonia Baru pada 16 Maret 597 SM.

Mereka juga melaksanakan puasa pada hari-hari lain. Nabi Isa As. dan ibundanya Siti Maryam binti Imran, diberitakan melaksanakan puasa pada hari pertobatan. Nabi Isa dan para muridnya melaksanakan puasa selama empat puluh hari sebagaimana nan dilaksanakan oleh Nabi Musa sebelumnya. Ini membuktikan bahwa, puasa bukan ibadah nan baru, melainkan ibadah nan sudah ratusan apalagi ribuan tahun lampau sudah dilakukan oleh kakek dan nenek moyang kita. 

Karena itu, jika belakangan ada orang nan melarang alias mencegah kita untuk berpuasa, maka bisa dipastikan dia tidak tahu asal dan usulnya, terlebih tidak membaca sejarah. Ia tak tahu bahwa puasa selain mendapatkan pahala, juga memberikan akibat positif nan sangat energik. 

Demikian penjelasan mengenai puasa tempat melatih kesabaran dan ketabahan riri. Semoga tulisan tentang puasa tempat melatih kesabaran tersebut bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawaab. [Baca juga: Sabar dalam Islam]

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah