Punya Harta Berkecukupan Tapi Tidak Qurban, Apakah Dosa?

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Ada Muslim nan kudu mengumpulkan duit sedikit demi sedikit untuk bisa berqurban. Namun, ada juga Muslim nan bisa hartanya sehingga penghasilannya dalam satu bulan bisa langsung untuk berqurban kambing alias domba misalnya.

Lantas gimana hukumnya jika ada Muslim nan bisa kekayaan tapi tidak melaksanakan qurban, apakah dosa? KH Ahmad Sarwat Lc pada laman Rumah Fiqih menjawab pertanyaan tersebut.

KH Ahmad Sarwat menjelaskan, meski nampak sederhana namun pertanyaan itu cukup krusial untuk dibahas. Sebab di kembali euforia orang menjelang Hari Raya Idul Adha yang sibuk mengurus dan menyembelih hewan qurban, banyak juga nan tidak terlalu mendalami norma fiqih di kembali itu.

Sampai ada nan beranggapan bahwa menyembelih hewan qurban itu hukumnya wajib. Sehingga, jika sampai tidak dilaksanakan seolah-olah berdosa besar. Meskipun pendapat nan yang mewajibkan ini tidak terlalu salah, namun sebenarnya kebanyakan ustadz (jumhur) tidak mewajibkannya, meskipun seseorang terbilang cukup berada dari sisi finansial.

Lalu apa hukumnya sebagaimana nan dipahami oleh para fuqaha berasas dalil-dalil dari Alquran dan As-Sunnah?

Hukum Menyembelih Hewan Qurban:

Setidaknya secara umum hukumnya berkisar pada dua hal, ialah antara sunah dan wajib.

Sunah

Umumnya para ustadz (jumhur), ialah ajaran Al-Malikiyah, Asy-syafi'iyah dan Al-Hanabilah beranggapan bahwa norma menyembelih hewan qurban bukan merupakan kewajiban, melainkan hukumnya sunah.

Kenapa hukumnya menjadi sunah? Jawabnya lantaran ada banyak dalil nan menunjukkan bahwa jenis ibadah ini memang sunah. Di antaranya adalah hadits-hadits berikut ini.

إِذَا دَخَل الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ بَشَرِهِ شَيْئًا

"Bila telah memasuki 10 (hari bulan Zulhijjah) dan seseorang mau berqurban, maka janganlah dia usik rambut qurbannya dan kuku-kukunya." (HR Imam Muslim dan lainnya)

Dalam perihal ini perkataan Rasulullah SAW bahwa seseorang mau berqurban menunjukkan bahwa norma berqurban itu diserahkan kepada kemauan seseorang, artinya tidak menjadi wajib melainkan sunah. Kalau hukumnya wajib, maka tidak disebutkan jika berkeinginan.

ثَلاَثٌ هُنَّ عَلَيَّ فَرَائِضَ وَهُنَّ لَكُمْ تَطَوُّع: الوِتْرُ وَالنَّحْرُ وَصَلاَةُ الضُّحَى

Tiga perkara nan bagiku hukumnya fardhu tapi bagi kalian hukumnya tathawwu' (sunah), ialah sholat witir, menyembelih udhiyah dan sholat dhuha. (HR Imam Ahmad dan Al-Hakim)

Perbuatan Abu Bakar dan Umar bin Khattab 

Dalil lainnya adalah atsar dari Abu Bakar dan Umar bin Khattab bahwa mereka berdua tidak melaksanakan penyembelihan hewan qurban dalam satu alias dua tahun, lantaran takut dianggap menjadi kewajiban.

Dan perihal itu tidak mendapatkan penentangan dari para shahabat nan lainnya. Atsar ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi.

Jenis Hukum Sunah: Sunah Muakkadah

Dalam pandangan jumhur ulama, nilai kesunahan penyembelihan hewan qurban ini menduduki posisi nan cukup tinggi, ialah sunah muakkadah.

Dari sisi nilainya, jumhur ustadz bukan sekedar menyebut bahwa menyembelih hewan qurban itu sunah, tetapi sunah nan punya posisi nilai paling atas, ialah sunah muakkadah.

Selain ketiga ajaran besar itu, para shahabat nan termasuk berada pada pendapat ini adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Bilal bin Rabah Radhiyallahu'anhum. Termasuk Abu Ma'sud Al-Badri, Said bin Al-Musayyib, Atha', Alqamah, Al-Aswad, Ishaq, Abu Tsaur dan Ibnul Munzdir.

Bahkan Abu Yusuf meski dari ajaran Al-Hanafiyah, termasuk nan beranggapan bahwa menyembelih hewan udhiyah tidak wajib, hanya sunah muakkadah.

Karena bukan wajib, maka jika pun seseorang nan bisa tapi tidak menyembelih hewan qurban, maka dia tidak berdosa.

Apalagi jika mereka memang tergolong orang nan tidak bisa dan miskin. Namun, jika seseorang sudah bisa dan berkecukupan, makruh hukumnya jika tidak menyembelih hewan qurban.

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam