Ragu Jumlah Rakaat Saat Shalat? Ini SolusinyaKincai Media – Di antara sekian banyak gangguan dalam shalat, ragu jumlah rakaat, barangkali adalah yang paling sering dialami umat Islam. Bayangkan: seseorang sedang khusyuk dalam rakaat ketiga, tiba-tiba pikirannya melayang — “Tadi ini rakaat keempat alias baru ketiga?” Dalam momen seperti itu, ketenangan ibadah pun berubah menjadi kebingungan.
Lantas gimana jika seorang Muslim tak percaya atau ragu berapa rakaat shalat yang telah dia tunaikan? Haruskah dia menebak dengan perasaan? Atau gimana pedoman fiqh dalam masalah ragu dalam bilangan shalat?
Imam an-Nawawi, dalam kitab Raudhatut Thalibin menjelaskan bahwa jika seseorang sedang shalat lampau merasa ragu, misalnya tidak percaya apakah sudah tiga rakaat alias empat, maka yang kudu diambil adalah jumlah yang paling sedikit, ialah tiga rakaat. Setelah itu, dia melanjutkan kekurangannya hingga shalatnya lengkap, lampau melakukan sujud sahwi (dua kali sujud lantaran lupa alias ragu).
Alasannya, dalam Islam kita diajarkan untuk berpegang pada perihal yang percaya dan meninggalkan yang tetap diragukan. Dalam contoh ini, yang pasti adalah tiga rakaat (karena tiga sudah dilakukan dengan yakin), sedangkan empat tetap ragu. Simak penjelasan Imam An-Nawawi berikut;
ولو شكَّ هل صلَّى ثلاثًا أم أربعًا؟ أخذ بالأقلِّ، وأتى بالباقي، وسجد للسهو؛ ولا ينفعه الظن، ولا أثر للاجتهاد في هذا الباب
Artinya; Jika seseorang ragu apakah dia telah shalat tiga rakaat alias empat rakaat, maka dia kudu mengambil jumlah yang lebih sedikit (yaitu tiga rakaat), kemudian menyempurnakan kekurangannya, dan setelah itu melakukan sujud sahwi. Dalam perihal ini, dugaan alias perkiraannya tidak dianggap benar, dan ijtihad (upaya menebak dengan kepercayaan pribadi) juga tidak bertindak dalam masalah seperti ini. (Imam An-Nawawi, Raudhatut Thalibin, Jilid I, laman 308)
Melakukan Sujud Sahwi di Akhir Shalat
Pun, Imam al-Mardawi, menjelaskan perihal yang sama, jika seseorang ragu jumlah rakaat shalatnya, maka dia kudu berpegang pada yang paling yakin, ialah jumlah yang lebih sedikit. Misalnya, jika seseorang tidak percaya apakah dia sudah shalat dua alias tiga rakaat, maka dia kudu menghitungnya dua rakaat saja, lantaran itu yang pasti. Setelah itu, dia menyempurnakan kekurangannya dan melakukan sujud sahwi di akhir shalat.
وأمَّا الشَّكُّ، فمتى شكَّ في عدد الركعات بَنَى على اليقين، هذا المذهب مطلقًا، وعليه جماهير الأصحاب
Artinya; Adapun keraguan dalam jumlah rakaat, maka andaikan seseorang ragu berapa rakaat yang telah dia kerjakan, dia kudu berpegang pada yang lebih percaya (jumlah yang lebih sedikit). Inilah pendapat ajaran (Syafi‘i) secara umum, dan menjadi pegangan kebanyakan ustadz dalam ajaran tersebut. (Imam Mardhawi, Al-Inshaf, Jilid II, laman 146)
Pada sisi lain, dalam sabda riwayat Abu Daud, dijelaskan bahwa Nabi Muhammad mengajarkan, ketika seseorang ragu dalam shalat; apakah sudah tiga rakaat alias empat, maka seyogianya ikutilah yang paling yakin, ialah jumlah rakaat yang lebih sedikit. Setelah itu, sebelum salam di akhir, sempurnakan kekurangannya dan tutup shalat dengan dua sujud sahwi.
إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيُلْقِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى الْيَقِينِ فَإِذَا اسْتَيْقَنَ التَّمَامَ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَإِنْ كَانَتْ صَلَاتُهُ تَامَّةً كَانَتْ الرَّكْعَةُ نَافِلَةً وَالسَّجْدَتَانِ وَإِنْ كَانَتْ نَاقِصَةً كَانَتْ الرَّكْعَةُ تَمَامًا لِصَلَاتِهِ وَكَانَتْ السَّجْدَتَانِ مُرْغِمَتَيْ الشَّيْطَانِ
Artinya; Apabila salah seorang di antara kalian ragu dalam shalatnya, maka buanglah keraguannya dan berpeganglah pada yang lebih yakin. Jika kemudian dia menyadari bahwa shalatnya telah sempurna, maka rakaat tambahan itu menjadi kebaikan sunnah baginya, dan dua sujud (sujud sahwi) juga menjadi tambahan pahala. Namun jika rupanya shalatnya tetap kurang, maka rakaat tambahan itu menjadi penyempurna shalatnya, dan dua sujud tersebut bakal membikin setan terhina. (HR. Imam Abu Daud).
Muhammad Syamsu Haq ‘Ubadi, ‘Aunul Ma’bud, juha menjelaskan ketika seseorang mengalami keraguan dalam shalat, maka dia kudu berpegang pada perihal yang paling yakin, ialah jumlah rakaat yang lebih sedikit. Setelah itu, dia menyempurnakan kekurangannya dan melakukan sujud sahwi di akhir shalat.
. ( الشك ) ويلزمه البناء على اليقين وهو الأقل فيأتي بما بقي ويسجد للسهو فمن شك هل صلى ثلاثا أم أربعا مثلا يبني على الأقل وهو الثلاث ومن شك هل صلى ثلاثا أو اثنتين يبني على اثنتين . وأصرح في المراد حديث عبد الرحمن بن عوف كما سيأتي . قال النووي : وهو مذهب الشافعي والجمهور فإنهم قالوا في وجوب البناء على اليقين ، وحملوا التحري في حديث ابن مسعود على الأخذ باليقين ، قالوا والتحري هو القصد ، ومنه قوله تعالى تحروا رشدا في حديث أبي سعيد وغيره . انتهى ، وسيجيء توضيحه من كلام الخطابي وسلف آنفا كلام البيهقي فيه والله أعلم
Artinya; Ketika keraguan (dalam shalat) terjadi, maka diharuskan untuk dibangun di atas keyakinan, ialah pada jumlah rakaat yang lebih sedikit. Setelah itu, sisa rakaat disempurnakan dan dilakukan sujud sahwi.
Maka jika keraguan antara tiga alias empat rakaat muncul, tiga rakaat dijadikan patokan. Dan jika ragu antara dua alias tiga rakaat, maka dua rakaat yang dijadikan dasar. Hal ini diperjelas dalam sabda Abdurrahman bin ‘Auf, sebagaimana bakal disebutkan kemudian.
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa pendapat ini adalah ajaran Imam Syafi‘i dan jumhur (mayoritas ulama). Mereka beranggapan bahwa shalat kudu dibangun di atas keyakinan, dan kata “taharrī” dalam sabda Ibnu Mas‘ud dipahami sebagai berpegang pada keyakinan.
Mereka berbicara bahwa “taharrī” berfaedah niat dan maksud yang benar, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Taharrau rusydan” — bertujuannya kepada jalan yang benar. Penjelasan tentang perihal ini juga bakal disebutkan dari perkataan al-Khaththabi, dan sebelumnya telah disebut penjelasan al-Baihaqi tentang perihal tersebut. Allah Maha Mengetahui. (Muhammad Syamsu Haq ‘Ubadi, ‘Aunul Ma’bud, (Beirut: Darul Fikr, 1995 M) Juz III, laman 244).
Dengan demikian, ketika seseorang ragu terhadap jumlah rakaat dalam shalat, langkah pertama yang kudu dilakukan adalah berpegang pada jumlah yang paling sedikit, lantaran itulah yang lebih meyakinkan. Misalnya, dalam shalat Isya seseorang ragu apakah sudah melaksanakan tiga alias empat rakaat, maka yang diambil adalah tiga rakaat. Setelah itu, dia menyempurnakan kekurangannya dan menutup shalat dengan dua sujud sahwi.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·