Rahasia Asmaul Husna Al-quddus Dan 3 Hikmah Yang Bisa Diambil

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA— Al-Quddus adalah salah satu asma' Allah. Dalam Alquran, kata Al-Quddus (atau nan Mahasuci), sering didampingkan dengan kata Al-Malik (Raja alias Penguasa). 

Misalnya dalam QS Al-Hasyr ayat 23 dan Al-Jumuah ayat 1. Allah SWT berfirman: 

 اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dialah Allah nan tiada Tuhan selain Dia, Raja, nan Mahasuci, nan Mahasejahtera, nan Mengaruniakan Keamanan, nan Mahamemelihara, nan Mahaperkasa, nan Mahakuasa, nan Memiliki segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa nan mereka persekutukan.” (QS al- Hasyr ayat 23). 

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

“Senantiasa bertasbih kepada Allah apa nan ada di langit dan apa nan ada di bumi. Raja, nan Mahasuci, nan Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QQS Al-Jumuah ayat 1).

Dalam kamus Bahasa Arab, Al-Quddus adalah nan suci murni alias nan penuh keberkatan. Dari sini muncul beragam penafsiran dari kata Al-Quddus, di antaranya terpuji dari segala macam kebajikan.

Imam Al-Ghazali mengatakan, Allah SWT sebagai Al-Quddus adalah Dia nan tidak terjangkau oleh indera, tidak dapat dikhayalkan oleh imajinasi, dan tidak dapat diduga oleh lintasan nurani. Demikian sempurnanya Allah SWT.

Dia tidak terkejar Bentuk dan Dzat-Nya oleh kekuatan indera. Indera kita terlalu lemah untuk menjangkau keagungan Allah nan menggenggam alam semesta ini.

Mahasuci Allah dari beranak dan diperanakan. Bagi umat Islam, Allah tidak diserupai dan menyerupai apapun (laisa kamitslihi syai'un). Jadi, jika ada nan menganggap Allah itu menyerupai sesuatu, maka pendapat itu tidak bisa diterima. Karena sesuatu itu pasti makhluk, dan setiap makhluk pasti ada kelemahan. Apalagi menyerupakan Allah dengan manusia.

Mahasuci Allah secara unsur dan perbuatan-Nya. Tidak ada satupun perbuatan Allah nan abnormal alias gagal. Mengatakan abnormal dan kandas pada perbuatan Allah pun tidak layak. Allah tidak mungkin melakukan sesuatu nan gagal. Mahasuci Allah dari nan dianggap sempurna oleh makhluk. Manusia punya standar kesempurnaan. Namun, sesempurna apapun dalam pandangan manusia, pasti tidak menjangkau kesempurnaan Allah nan sesungguhnya.

Akal manusia terbatas. Ia hanya mengenal 26 huruf dan sepuluh angka. Bagaimana mungkin kita nan serba terbatas bisa menilai kesempurnaan Allah, Dzat Penggenggam langit dan bumi? Hikmah apa nan bisa kita diambil dari sifat Al-Quddus ini? 

Pertama, kita bisa menikmati apapun ketetapan Allah tanpa prasangka buruk. Allah telah berjanji, "Aku sesuai prasangka hamba-Ku". Berburuk sangka kepada Allah bakal menjadi malapetaka bagi kita. Kita kudu tetap khusnudzan, pasti ada hikmah di kembali setiap kejadian. Maka, nikmatilah setiap kejadian sebagai sarana pertimbangan diri. nan terpenting, kejadian apapun nan menimpa kudu mengubah kita menjadi lebih baik.

Kedua, siap dengan ketidaksempurnaan diri. Apa nan kita banggakan sebagai manusia jika tanpa iman? Kita serba kalah oleh binatang. Masuk ke air, ikan lebih lincah. Meski kita bisa menjadi pelari tercepat, tetap kalah sigap dari kuda.

Manusia pun tetap kalah kuat dengan badak, kalah besar dari gajah. Hanya kekuatan imanlah nan membikin kita lebih tinggi dari makhluk apapun. Mari kita tutup pintu kesombongan diri dan bukalah lebar-lebar pintu ketawadhuan. Sebab, tiadalah orang nan rendah hati, selain Allah bakal meninggikan derajatnya.

Ketiga, siap dengan kekurangan orang lain. Kita kudu siap menghadapi realita bahwa orang terdekat kita (khususnya pasangan hidup) tidak sempurna. Secara bentuk mungkin mendekati kesempurnaan, tapi adab tidak ada nan sempurna. Ada nan pemarah, pelit, alias egois. Kita kudu terlatih menghadapi orang-orang terdekat kita, baik pasangan hidup, orangtua, anak maupun pembantu di rumah. 

Kesiapan mental dalam menerima kekurangan dan keterbatasan orang lain, insya Allah bakal membikin kita lebih bisa bersikap bijaksana. Orang nan stres dalam hidup adalah orang nan selalu mau sempurna dalam segala hal.

Ingin nan terbaik boleh, tapi mau sempurna tidak pernah ada. Kesempurnaan hanyalah milik Allah. Memang kita kudu melakukan perencanaan nan matang, persiapan nan optimal, dan penyelenggaraan nan hati-hati, tapi kita kudu siap pula bahwa hasil nan dicapai tidak bakal pernah sempurna.

*Naskah KH Abdullah Gymnastiar terbit di Harian Republika. 

sumber : Harian Republika

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam