Rajanya Istighfar: Redaksi Istighfar Yang Paling Sempurna

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Sudah sepatutnya sebagai seorang nan beriman, kita menghiasi hari-hari kita dengan banyak beristighfar kepada Allah ‘azza wa jalla, memohon pembebasan atas dosa-dosa, kelalaian, dan kekurangan kita dalam beragama kepada Allah.

Beristighfar dengan angan Allah mengampuni dan mengampuni banyak kesalahan kita, menerima ibadah kita dan menutupi aib-aib kita.

Istighfar dalam Al-Quran dan As-Sunnah

Banyak redaksi istighfar nan terdapat pada Al-Quran maupun As-Sunnah. Di dalam Al-Quran misalnya:

رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِىٓ أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami nan berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum nan kafir” (QS. Ali Imran: 147)

Donasi Semarak Ramadan YPIA

رَّبَّنَآ إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِى لِلْإِيمَٰنِ أَنْ ءَامِنُوا۟ بِرَبِّكُمْ فَـَٔامَنَّا ۚ رَبَّنَا فَٱغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّـَٔاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ ٱلْأَبْرَارِ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) nan menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah Anda kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang nan banyak berbakti.” (QS. Ali Imran: 193)

رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang nan merugi.” (QS. Al-A’raf: 23)

Adapun di dalam As-Sunnah, di antaranya seperti sabda nan diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Kami pernah menghitung, dalam satu majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengucapkan doa:

رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

‘Ya Rabbi, berikanlah pembebasan padaku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang),’ sebanyak seratus kali.” (HR. Abu Dawud II/21, Ibnu Majah 3814, Tirmidzi 3430, Ahmad dalam Al Musnad II/21, Baghawi dalam Syarhus Sunnah 1289, dan Ibnu Suni dalam ‘Amalul Yaumi wal Lailah 458)

Dan tetap banyak lagi redaksi istighfar nan lainnya.

Baca juga: Keutamaan dan Buah Istighfar, bag. 1

Istighfar nan Paling Sempurna

Di antara redaksi istighfar nan banyak tersebut, ada satu redaksi istighfar nan paling sempurna. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai Sayyidul Istighfar yang dapat kita artikan sebagai Tuan alias Rajanya seluruh istighfar.

Al-Imam Al-Bukhari menyebut di dalam Sahihnya, Bab Afdhalul Istighfar (Istighfar nan Paling Utama):

بُشَيْرُ بْنُ كَعْبٍ الْعَدَوِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي شَدَّادُ بْنُ أَوْسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ انَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيِّدُ الاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ اللهُمَّ أَنتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَني وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ قَالَ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يمسي فَهُوَ منْ أَهْل الْجَنَّة وَمَنْ قَالَهَا مِنْ الليْلِ وَهوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ منْ أَهْل الْجَنَّة

Busyair bin Ka’ab al-‘Adawi berkata, “Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu menceritakan (hadis) kepadaku dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tuan dari seluruh istighfar adalah engkau berdoa, ‘Allaahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta, khalaqtanii wa ana ‘abduka wa ana ‘alaa ‘ahdika wawa’dika mastatha’tu, a’uudzu bika min syarri maa shana’tu, abuu’u laka bini’matika ‘alayya wa abuu’u laka bidzanbi faghfirlii, fa-innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illaa anta’ (Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada tuhan nan berkuasa disembah selain Engkau, Engkau ciptakan saya dan saya adalah hamba-Mu, terikat dengan janjiku kepada-Mu (dengan mengerjakan janji) sesuai dengan kemampuanku, saya berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan dan kejelekan nan saya lakukan, saya akui bakal ni’mat- ni’mat-Mu kepadaku dan saya juga mengakui bakal kesalahan dan dosaku kepada-Mu, (oleh lantaran itu) ampunilah lantaran tidak ada nan dapat mengampuni dosa-dosaku selain Engkau).’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ قَالَهَا مِنْ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

‘Siapa nan bermohon dengan angan tersebut di siang hari dengan penuh kepercayaan bakal terkabulnya, lampau dia meninggal di hari itu sebelum sore hari, maka orang tersebut menjadi penunggu surga. Dan siapa nan bermohon dengan angan tersebut di malam hari dan dia percaya bakal dikabulkannya angan tersebut lampau dia meninggal bumi sebelum masuk waktu pagi maka orang tersebut menjadi penunggu surga.” (HR. Bukhari 6306)

Syekh ‘Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr hafizhahullah mengatakan, “Ini adalah angan agung nan mengumpulkan makna-makna taubat dan menghinakan diri kepada Allah tabaraka wa ta’ala serta kembali pada-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mensifatinya sebagai sayyid (penghulu) istighfar. Hal itu lantaran dia mengungguli ungkapan-ungkapan istighfar nan lainnya dari segi keutamaan, serta berada di atasnya dari segi tingkatan. Di antara makna ‘sayyid‘ adalah nan mengungguli kaumnya dalam perihal kebaikan, dan berada di atas mereka.

Sisi keistimewaan angan ini atas selainnya dari ungkapan-ungkapan istighfar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulainya dengan pujian kepada Allah subhanahu wa ta’ala, pengakuan bahwa dirinya adalah hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang dimiliki dan dicipta oleh Dia ‘azza wa jalla. Adapun Dia subhanahu wa ta’ala adalah sembahan nan haq dan tidak ada sembahan nan haq selain-Nya. Bahwa dia (hamba) komitmen di atas janji, eksis di atas perjanjian, berupa keagamaan terhadap-Nya, kitab- Nya, semua nabi dan Rasul-Nya. Dia (hamba) komitmen di atas perihal itu sesuai daya dan kemampuannya.

Kemudian dia meminta perlindungan kepada-Nya subhanahu wa ta’ala dari keburukan segala perbuatannya, dan kekurangan dalam melakukan apa nan wajib atasnya, berupa tidak mensyukuri nikmat dan mengerjakan dosa-dosa. Lalu dilanjutkan dengan pengakuan bakal nikmat-nikmatNya subhanahu wa ta’ala yang silih berganti dan pemberian-pemberianNya nan tak pernah berhenti. Begitu pula dia (hamba) mengakui apa nan dia lakukan dari dosa-dosa dan kemaksiatan. Setelah itu dia memohon kepada-Nya subhanahu wa ta’ala ampunan terhadap semua itu disertai pengakuan tak ada nan mengampuni dosa-dosa selain Dia subhanahu wa ta’ala.

Inilah kondisi paling sempurna dalam doa. Oleh lantaran itu dia menjadi ungkapan istighfar paling agung dan paling utama serta merangkum makna-makna nan mengharuskan pemaafan dosa-dosa.” (Fiqih Do’a & Dzikir, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr, Terbitan Griya Ilmu, Jilid 2 Halaman 16)

Beliau hafizhahullah juga mengatakan di akhir penjelasannya tentang sabda ini, “Orang nan kontinyu mengamalkan angan ini meraih janji mulia, pahala besar, dan jawaban melimpah tersebut, hanyalah lantaran dia memulai siangnya dengan tauhid kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam rububiyah dan uluhiyah-Nya, mengakui peribadatan dan persaksian bakal pemberian, serta pengakuan bakal nikmat, dan menyadari kejelekan jiwa diri dan kekurangannya. Lalu meminta maaf dan pembebasan dari Dzat nan Maha Pengampun. Disertai penyelenggaraan kehinaan, ketundukan, dan keluluhan. Ia adalah makna-makna agung dan sifat-sifat mulia nan digunakan mengawali siang dan mengakhirinya. Sudah sepantasnya pemiliknya alias orang kontinyu mengerjakannya untuk mendapat pemberian maaf dan ampunan, pembebasan dari neraka, dan masuk ke dalam surga. Kita minta kepada Allah nan mulia untuk melimpahkan karunia-Nya.” (Fiqih Do’a & Dzikir, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr, Terbitan Griya Ilmu, Jilid 2 Halaman 18)

Semoga Allah memudahkan kita semua untuk istikamah mengamalkan sabda ini dan menerapkan kandungannya pada keseharian kita. Wabillahit Taufiq.

Baca juga: Pengurai Berbagai Permasalahan

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

  • Taubat & Istighfar (Membersihkan Hati dari Noda Dosa), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Penerbit Al Qowam
  • Terjemah Shahih Al Bukhari, Pustaka As Sunnah Jakarta
  • Fiqih Do’a & Dzikir, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr, Terbitan Griya Ilmu
Selengkapnya
Sumber Artikel Islami Muslimah.or.id
Artikel Islami Muslimah.or.id