Ramadan: Bulan Perbaikan Akhlak

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya saya hanyalah diutus untuk menyempurnakan adab nan mulia.” (HR. Ahmad no. 8952 dan Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 273. Lihat Shahih Adabul Mufrad.)

Dalam sabda di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggunakan redaksi (lafaz) إِنَّمَا  (innama) nan mempunyai makna pembatasan (makna: hanya) dan menetapkan norma suatu perkara dengan meniadakan perkara nan lain. Maksudnya, tujuan Nabi  shallallahu ‘alaihi wasallam diutus hanyalah untuk memperbaiki (menyempurnakan) akhlak. Sehingga, sebagian ustadz mengatakan bahwa seluruh hukum Islam dan ajarannya bermuara pada adab mulia.

Dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam nan lain,

أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا

“Mukmin nan paling sempurna imannya adalah nan paling baik (sempurna) akhlaknya.“ (HR. Tirmidzi no. 1162. Lihat Ash-Shahihah no. 284.)

Oleh lantaran itu, mukmin nan paling baik ibadahnya, paling kuat imannya, dan paling tinggi akidahnya adalah nan paling sempurna (baik) akhlaknya. Jika ada nan bertambah pengetahuan dan imannya, semangat dalam ibadahnya, tetapi akhlaknya tidak bertambah baik, waspadalah, mungkin ada nan salah ketika belajar kepercayaan dan mengamalkannya.

Akhlak-akhlak nan diperbaiki selama Ramadan

Bulan Ramadan merupakan bulan nan berisikan banyak ibadah nan agung dan istimewa. nan ibadah-ibadah tersebut dapat mendidik (memperbaiki) adab seseorang agar semakin baik dan sempurna. Lalu, apa saja adab nan diperbaiki selama bulan Ramadan? Berikut rincian dan penjelasannya.

Pertama, sabar

Salah satu ibadah di bulan Ramadan nan sangat spesial adalah puasa. Puasa Ramadan dapat memperbaiki kesabaran seseorang. Sehingga, setelah Ramadan berlalu, seseorang nan lulus menapaki madrasah Ramadan bakal menjadi lebih penyabar.

Nabi  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ

“Puasa bulan kesabaran.” (HR. Ahmad,  7567, 8965 dan Imam Muslim, 1162)

Dari sabda di atas, Nabi  shallallahu ‘alaihi wasallam mensifati bulan Ramadan sebagai bulan kesabaran. Hal ini lantaran pada bulan Ramadan terhimpun beragam jenis kesabaran. Sabar dalam ketaatan dan beragam ibadah di bulan Ramadan (puasa, tarawih, zakat, iktikaf, dan lainnya). Sabar menjauhi kemaksiatan dan dosa. Bahkan, pada perkara nan legal pun dia bersabar, dengan menahan agar tidak melakukannya saat puasa (semisal makan, minum, hubungan suami istri). Sabar di sini juga mencakup saat kondisi emosi (marah), serta menghadapi hinaan dan hinaan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى امْرُؤٌ صَائِمٌ

“Jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah bercakap-cakap kotor, dan jangan pula bertindak bodoh. Jika ada seseorang nan mencelanya alias mengganggunya, hendaklah mengucapkan, ‘Sesungguhnya saya sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari  dan Muslim)

Kedua, jujur

Ramadan adalah salah satu sarana untuk melatih kejujuran. Kejujuran di sini mencakup jujur dalam perilaku maupun perkataan. Sebagaimana halnya puasa, nan mengetahui dirinya melaksanakan ibadah puasa alias membatalkan alias apalagi meninggalkan puasa, hanyalah dirinya sendiri dan Allah Ta’ala. Jujur dalam lisan mencakup meninggalkan perkataan dusta, jorok, sia-sia, gibah (menggunjing), fitnah, adu domba, dan semisalnya.

Nabi  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa nan tidak meninggalkan perkataan bohong dan malah justru mengamalkannya, maka Allah Ta’ala tidak butuh dari rasa lapar dan haus nan dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903, Abu Daud no. 2362, dan Ahmad no. 10562)

Dalam sabda beliau nan lain,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

“Puasa bukan hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah menahan diri dari berbicara sia-sia dan jorok.” (HR. Ibnu Hibban no. 3479 dan Hakim no. 1570. Lihat Shahih At-Targhib no. 1082)

Baca juga: Belajar Akhlak dari Kisah Para Nabi sebelum Diutus

Ketiga, dermawan

Jika kita perhatikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika di luar Ramadan adalah seorang nan sangat dermawan. Namun, tatkala masuk bulan Ramadan, beliau tambah lebih murah hati lagi.

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma mengatakan,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس ، وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل ، وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيُدارسه القرآن ، فالرسول الله صلى الله عليه وسلم أجودُ بالخير من الريح المرسَلة

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang nan paling dermawan. Dan beliau lebih murah hati lagi di bulan Ramadan saat beliau berjumpa Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al-Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melampaui angin nan berhembus.” (HR. Bukhari)

Ada beberapa kegunaan singkat dari sabda di atas. Pertama, ada hubungan antara membaca Al-Qur’an dengan adab seseorang. Semakin sering dan baik seseorang membaca Al-Qur’an, maka semestinya perilakunya juga semakin baik dan lebih murah hati terhadap sesama. Kedua, kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diibaratkan bak angin nan bertiup kencang. Tatkala angin bertiup kencang, maka dia bakal sigap dan mengenai segala arah (luas). Oleh lantaran itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika Ramadan sangat ringan, cepat, banyak, dan luas cakupannya dalam memberi, tanpa banyak berpikir. Bahkan, sampai orang kafir pun merasakan kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana riwayat berikut.

Ibnu Syihaab berkata,

غَزَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَزْوَةَ الْفَتْحِ – فَتْحِ مَكَّةَ – ثُمَّ خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْ مَعَهُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، فَاقْتَتَلُوا بِحُنَيْنٍ، فَنَصَرَ اللهُ دِينَهُ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأعْطَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَئِذٍ صَفْوَانَ بْنَ أميَّةَ مِائَةً مِنَ النَّعَمِ، ثُمَّ مِائَةً، ثُمَّ مِائَةً.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan perang menaklukkan kota Makkah. Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi berbareng kaum muslimin bertempur dalam perang Hunain. Maka, Allah memenangkan agama-Nya dan kaum muslimin. Dan pada hari itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan kepada Shafwan bin Umayyah 100 ekor unta, lampau 100 ekor unta, lalu100 ekor unta.”

Sa’id Ibnul Musayyib berbicara bahwasanya Shafwan bin Umayyah berkata,

وَاللهِ لَقَدْ أعْطَانِى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أعْطَانِى، وَإِنَّهُ لأبْغَضُ النَّاسِ إلَىَّ، فَمَا بَرِحَ يُعْطِينِى حَتَّى إنَّهُ لأحَبُّ النَّاسِ إلَىَّ

“Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kepadaku apa nan dia berikan, padahal dia adalah orang nan paling saya benci. Namun, Nabi terus memberikan kepadaku hingga akhirnya dia adalah orang nan paling saya cintai.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keamanan dan kekayaan kepada Shafwan agar dia dapat merasakan kebaikan dari aliran kepercayaan Islam. Dan pada akhirnya, Shafwan pun masuk Islam.

Keempat, disiplin

Hampir seluruh ibadah di dalam kepercayaan Islam ada waktu-waktu nan telah ditentukan, semisal salat, zakat, haji, kurban, dan lainnya. Pada bulan Ramadan, kita dilatih dan dididik untuk mendisiplinkan diri menaati hukum dan norma Allah Ta’ala. Sebagaimana saat puasa, ada pemisah waktu untuk sahur, imsak, dan berbuka. Malamnya dilatih untuk disiplin dalam ibadah tarawih, tadarus, dan iktikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Kemudian, kita juga dilatih untuk disiplin dalam mengelola diri saat puasa, dengan tidak bermaksiat dengan lisan dan perbuatan, agar tidak mengurangi alias apalagi membatalkan pahala puasa nan dilakukan.

Semua adab nan dilatih saat bulan Ramadan di atas tujuan puncaknya adalah agar menjadikan seorang mukmin menjadi hamba nan bertakwa. Dan inilah adab nan tertinggi, ialah adab kepada Allah Ta’ala. Hal ini selaras dengan firman-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang nan beriman, diwajibkan atas Anda berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum Anda agar Anda bertakwa.” (QS. Al Baqarah; 183)

Semoga Ramadan kali ini dapat memberikan jejak dalam diri dan adab kita semua. Aamiin.

Baca juga: Letak Kesempurnaan Iman dalam Akhlak terhadap Istri

***

Penulis: Arif Muhammad N.

Artikel: Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah