Kincai Media , JAKARTA -- Qushay bin Kilab menurunkan banyak anak cucu. Seorang cucunya berjulukan Hasyim sehingga keturunannya disebut sebagai Bani Hasyim. Seorang yang terkemuka dari putra-putra Hasyim adalah Abdul Muthalib. Reputasinya dikenal luas lantaran keluhuran adab dan kelurusan akidahnya.
Seorang anaknya, Abdullah, kelak menurunkan manusia paling mulia dalam sejarah eksistensi manusia hingga Hari Akhir. Dialah Abdullah, yang pada akhirnya menjadi ayahanda Nabi Muhammad SAW. Dalam kehidupannya, Abdullah sempat nyaris bakal dikorbankan. Sebab, bapaknya bernazar suatu hal.
Ya, sebelum Abdullah lahir, Abdul Muthalib bernazar bahwa jika dirinya dikaruniai anak laki-laki kesepuluh maka dia bakal mengorbankannya. Allah SWT pun mengaruniakan pada istrinya anak kesepuluh itu.
Berdasarkan sejumlah riwayat menyebut Abdul Mutalib kemudian menyampaikan nazarnya itu kepada orang-orang Quraisy. Namun Abdul Muthalib sangat mencintai bayinya itu.
Dalam Tarikh ath-Thabrani yang dikutip Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfury dalam ar-Rahiq al-Makhtum menjelaskan bahwa Abdul Muthalib kemudian melakukan undian untuk memilih antara Abdullah alias unta yang bakal dikorbankan.
Sewaktu diundi rupanya nama yang keluar adalah Abdullah. Upaya mengorbankan Abdullah pun dicegah oleh paman-pamannya dari Bani Makhzum. Abdul Muthalib meminta saran tentang nazarnya itu.
Abdul Muthalib pun disarankan untuk mengundi kembali antara Abdullah dengan sepuluh ekor unta. Jika undian yang keluar adalah nama Abdullah, maka undian diulang dengan menambahkan 10 unta lagi dan seterusnya hingga Allah SWT meridhai pengorbanan Abdul Muthalib.
Setelah mencapai seratus ekor unta sebagai pengganti nazar, undian pun baru jatuh pada unta. Segera Abdul Muthalib menyembelih unta-unta itu lampau meninggalkannya.
Syekh Shafiyurrahman menuliskan jika terjadi pembunuhan di antara suku Quraisy, tradisi yang bertindak adalah satu nyawa ditebus dengan sepuluh ekor unta. Namun sejak saat itu, aturannya berubah menjadi seratus ekor unta per kepala.
Terkait nazar Abdul Muthalib yang hendak mengorbankan Abdullah dapat dipahami dari sabda Nabi Muhammad SAW. Beliau bersabda, “Aku adalah anak dari dua kurban.” Yang dimaksud dengan dua kurban itu adalah berangkaian dengan sosok Nabi Ismail dan ayah Rasulullah SAW, ialah Abdullah.
Sejarah mencatat, putra Abdul Muthalib itu meninggal ketika Rasulullah SAW tetap di dalam kandungan Aminah binti Wahb. Prof Quraish Shihab dalam kitab Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW menjelaskan, ada pendapat-pendapat yang diriwayatkan mengenai kapan Abdullah wafat. Terdapat pendapat yang menyebut, dia meninggal ketika Muhammad SAW berumur dua bulan. Bahkan, ada riwayat yang menyatakan bahwa ketika itu Nabi berumur 28 bulan.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·