Rasulullah Marah Ketika Ada Non-muslim Ditampar

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Kincaimedia– Terdapat beberapa kisah dalam hadits Nabi Muhammad SAW nan menceritakan Rasulullah marah ketika memandang ada non-Muslim ditampar.  Hakikatnya, Islam adalah kepercayaan rahmah, kasih sayang terhadap sesama manusia dan alam semesta serta kontra terhadap kekerasan dan agresivitas terhadap sesama manusia dan alam semesta.

Di dalam al-Qur’an Surat Al-Anbiya ayat 107 ditegaskan:

وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya [21]: 107).

Tentu saja, perihal ini menunjukkan bahwa kepercayaan Islam adalah kepercayaan untuk semua makhluk Allah Swt (universal), tidak terbatasi geografi, suku, bangsa, dan ras, apalagi kepercayaan juga diserukan untuk para hantu dan lainnya. Wujud nyata dari pemahaman ini adalah terbentuknya pemeluk-pemeluk dan penganut kepercayaan Islam nan saleh dengan teladan utama ialah Nabi Muhammad Saw.

Namun demikian, sampai akhir ini tetap banyak nan melakukan pelanggaran-pelanggaran kekerasan. Pendek kata, di banyak pribadi Muslim sangat sedikit nan mengamalkan Islam rahmah dan kasih sayang terhadap sesama manusia, sekalipun juga di Jazirah Arab sendiri.

Tak jarang orang Muslim merasa lebih baik dari mereka nan non-Muslim, apalagi tak segan-segan mencaci dan memusuhinya. Padahal, jika aliran kasih sayang merambah ke seantero dunia, sungguh asyiknya kita hidup dalam kenikmatan demi kenikmatan.

Itu sebabnya, Nabi Saw melarang menyakiti penduduk non-muslim dalam segala corak kezaliman dan keburukan. Nabi Muhammad Saw bersabda:

أَلَا مَنْ ظَلَمَ مُعَاهِدًا أَوِ انْتَقَصَهُ أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ فَأَنَا حَجِيجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Ingatlah, bahwa barangsiapa nan melakukan kejam kepada penduduk non-muslim, alias mengurangi haknya, alias membebaninya lebih dari kemampuannya, alias mengambil sesuatu darinya tanpa kerelaan darinya, maka saya (Nabi Muhammad Saw) bakal menjadi lawannya kelak di hari kiamat”. (Sunan Abu Dawud,  no. Hadits: 3054).

Dalam hadits lain disebutkan:

عَن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَو لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَومِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، ومَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ واليَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ) رَوَاهُ اْلبُخَارِي وَمُسْلِمٌ.

Artinya: “Dari Abu Hurairah ra dia berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa nan beragama kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir maka hendaknya dia berbincang nan baik alias (kalau tidak bisa hendaknya) dia diam. Barangsiapa nan beragama kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia menyakiti tetangganya. Barangsiapa nan beragama kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tamunya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Tak berakhir di sini, selagi non Muslim tidak mengganggu dalam soal urusan kepercayaan serta mengusir kamu, maka melakukan baik kepada mereka tidak dilarang. Terlepas dari apapun itu motifnya, mereka non Muslim juga manusia seperti Anda nan butuh ini dan itu. Maka, menyakitinya sangat tidak dibenarkan.

لَا يَنْهٰٮكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْۤا اِلَيْهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

Artinya: “Allah tidak melarang Anda melakukan baik dan bertindak setara terhadap orang-orang nan tidak memerangimu dalam urusan kepercayaan dan tidak mengusir Anda dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang nan bertindak adil.” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 8).

Kisah Rasulullah marah ketika ada Non-Muslim ditampar. Hal ini sebagaimana dalam beberapa hadits, diceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah marah ketika ada non-Muslim ditampar;

باب إذا لطم المسلم يهوديا عند الغضب رواه أبو هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم

حدثنا محمد بن يوسف حدثنا سفيان عن عمرو بن يحيى المازني عن أبيه عن أبي سعيد الخدري قال جاء رجل من اليهود إلى النبي صلى الله عليه وسلم قد لطم وجهه فقال يا محمد إن رجلا من أصحابك من الأنصار قد لطم في وجهي قال ادعوه فدعوه قال لم لطمت وجهه قال يا رسول الله إني مررت باليهود فسمعته يقول والذي اصطفى موسى على البشر قال قلت وعلى محمد صلى الله عليه وسلم قال فأخذتني غضبة فلطمته قال لا تخيروني من بين الأنبياء فإن الناس يصعقون يوم القيامة فأكون أول من يفيق فإذا أنا بموسى آخذ بقائمة من قوائم العرش فلا أدري أفاق قبلي أم جوزي بصعقة الطور

Artinya: “Bab menjelaskan jika Seorang Muslim Menampar Seorang Yahudi Saat Sedang Marah. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah atas izin Nabi, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian.”

“Muhammad bin Yusuf meriwayatkan kepada kami, Sufyan meriwayatkan kepada kami, atas kewenangan Amr bin Yahya Al-Mazni, atas kewenangan ayahnya, atas kewenangan Abu Saeed Al-Khudri. Katanya Seorang laki-laki Yahudi mendatangi Nabi, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian, dan dia telah ditampar wajahnya. Lalu dia mengadu kepada Nabi, “Wahai Muhammad, seorang laki-laki sahabatmu dari Ansar telah menampar wajahku.”

“Kata Nabi: “Panggil dia.” Maka mereka pun memanggilnya. Beliau bertanya, “Mengapa Anda menampar mukanya?” Maka nan menampar menjawab, “Wahai Rasulullah, saya melewati orang-orang Yahudi dan mendengar dia berkata, “Demi Dzat nan telah memilih Musa atas manusia, dan kepada Muhammad, semoga Tuhan memberkati dia dan memberinya kedamaian,” ucapnya.

“Mendengar itu, kemudian saya diliputi amarah, maka saya menamparnya. Dia berkata: “Jangan pilih saya di antara para nabi, lantaran manusia bakal menjadi seperti itu terkejut pada hari kiamat, dan akulah nan pertama bangun. Maka, jika saya berbareng Musa, memegang salah satu tiang Arsy, saya tidak tahu apakah dia bakal bangun sebelum saya alias saya nan bakal bangun dikejutkan oleh keterkejutan.”

Tentu, dari sini kita bisa memetik hikmahnya. Dengan kata lain, bahwa dengan memahami nama kepercayaan Islam, seseorang dapat mengetahui bahwa Islam adalah kepercayaan nan mendambakan sebuah perdamaian, bukan pertikaian.

Kata “Assalamualaikum” adalah sebuah kata nan dianjurkan untuk disampaikan di setiap pertemuan, di mana dengan mendengarkannya seseorang dapat memahami bahwa kedamaian nan didambakan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk sesama, tanpa pandang bulu.

Oleh lantaran itu, prinsip perdamaian menjadi salah satu karakter unik utama dari kepercayaan Islam. Sebab, Islam lahir dari aliran nan memuat tentang Allah (tauhid), alam semesta (hablum min al-alam) dan manusia (hablum min al-nas).

Islam adalah kepercayaan nan tidak hanya sekedar berupa doktrin peribadatan semata. Namun, lebih dari itu, Islam adalah way of life nan bisa menciptakan nilai-nilai kemanusiaan nan sesungguhnya. Wallahu a’lam bisshawaab

*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah