Renungan Kematian: Kita Lahir Menangis, Akankah Pergi dengan Senyum?

Bincang Syariah oleh Waktu baca 9 menit 523x dilihat
Renungan Kematian: Kita Lahir Menangis, Akankah Pergi dengan Senyum?

Bagikan Postingan

 Kita Lahir Menangis, Akankah Pergi dengan Senyum?Renungan Kematian: Kita Lahir Menangis, Akankah Pergi dengan Senyum?

Kincai Media– Manusia adalah satu-satunya makhluk yang menangis ketika lahir dan bisa tertawa di tengah beragam absurditas kehidupan, apalagi hingga mendekati akhir hidupnya. Tangis dan tawa sebenarnya bukan dua emosi yang saling bertentangan. Keduanya adalah dua langkah manusia menghadapi realita hidup yang penuh dengan kerapuhan.

Tangis menandai keterkejutan kita ketika pertama kali memasuki bumi yang fana. Sementara itu, tawa bisa menjadi corak perlawanan ketika maut dan penderitaan datang mendekat. Ketika hidup terasa begitu berat, tawa menjadi semacam jalan untuk menjaga agar jiwa tidak hancur. Kita tertawa sebagai langkah menghadapi takdir yang sering kali berada di luar kendali kita.

Namun, pada akhirnya, di ujung perjalanan hidup, tawa dan tangis dapat melebur menjadi satu. Keduanya menunjukkan satu perihal yang paling mendasar: bahwa kita pernah betul-betul hidup, pernah merasakan kerapuhan, dan pada akhirnya kudu menerima realita bahwa hidup ini bakal berakhir.

Syahdan, ada satu bait syair yang meskipun hanya terdiri dari dua baris, menyimpan renungan yang sangat dalam. Syair ini dikutip oleh Syekh Abdul Qadir bin Milal Huais dalam karyanya Ulumul Qur’an wa Ushulut Tafsir Bayan al-Ma’ani, jilid 1, laman 207. Dikatakan:

وَلَدَتْكَ أُمُّكَ يَاابْنَ آدَمَ بَاكِيًا # وَالنَّاسُ حَوْلَكَ يَضْحَكُونَ سُرُورًا
فَاجْهَدْ لِنَفْسِكَ أَنْ تَكُونَ إِذَا بَكَوْا # فِي يَوْمِ مَوْتِكَ ضَاحِكًا مَسْرُورًا

Artinya: “Wahai anak Adam, engkau dilahirkan oleh ibumu dalam keadaan menangis, sementara orang-orang di sekelilingmu tertawa berbahagia. Maka berjuanglah sungguh-sungguh untuk dirimu sendiri, agar kelak ketika mereka menangis di hari kematianmu, engkaulah yang justru tertawa berbahagia.”

Dua baris syair ini bukan sekadar nasihat keagamaan yang didengar lampau dilupakan. Ia seperti cermin yang memperlihatkan perjalanan hidup manusia: dari mana kita datang, ke mana kita bakal pergi, dan apa yang semestinya kita lakukan selama berada di antara dua titik tersebut.

Setiap manusia, tanpa terkecuali, memulai kehidupan di bumi dengan tangisan. Tidak ada bayi yang lahir sembari tersenyum. Hal ini begitu umum terjadi sehingga kita nyaris tidak pernah lagi mempertanyakannya. Kita menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.

Namun, jika direnungkan lebih dalam, tangisan pertama seorang bayi sebenarnya merupakan respons paling jujur terhadap bumi yang baru dikenalnya. Ia baru saja memasuki lingkungan yang asing: penuh cahaya, udara yang berbeda, dan ruang yang jauh lebih luas setelah selama sembilan bulan berada dalam rahim yang hangat, sempit, dan terasa aman.

Yang menarik bukan hanya tangisan bayi itu, tetapi juga keadaan yang menyertainya. Syair di atas menempatkan dua respons yang berbeda dalam satu peristiwa: bayi menangis, sementara orang-orang di sekelilingnya tertawa bahagia. Perbedaan ini bukan sekadar permainan kata. Ia menggambarkan bahwa satu peristiwa yang sama bisa mempunyai makna yang berbeda, tergantung dari perspektif pandang orang yang mengalaminya.

Bagi bayi, kelahiran berfaedah kehilangan: kehilangan kehangatan rahim, kehilangan suasana yang selama ini dikenalnya, dan kehilangan rasa kondusif yang sebelumnya dia miliki. Namun, bagi orang-orang di sekelilingnya, kelahiran adalah sebuah kebahagiaan lantaran datang kehidupan baru, angan baru, dan kelanjutan keturunan.

Di sinilah kita mulai memahami bahwa makna sebuah peristiwa sangat berjuntai pada perspektif pandang dan kapan peristiwa itu dinilai. Tangisan bayi bukan berfaedah penderitaan yang bakal berjalan selamanya. Ia hanya sebuah respons sesaat yang justru menjadi awal dari kehidupan yang panjang.

Pesan pertama dari sini adalah bahwa kesulitan di awal tidak selalu berfaedah keburukan. Begitu pula, kegembiraan di awal tidak selalu menjamin bahwa semuanya bakal berhujung dengan baik.

Tawa sebagai Selubung Ketidaktahuan

Jika tangisan bayi merupakan respons alami terhadap bumi yang baru dan asing, maka tawa orang-orang di sekelilingnya justru lahir dari sesuatu yang lebih rapuh: harapan, gambaran tentang masa depan, dan, jika kita jujur, ketidaktahuan.

Mereka tertawa bukan lantaran mengetahui apa yang bakal terjadi pada bayi tersebut sepanjang hidupnya. Mereka tertawa lantaran merasa senang memandang kemungkinan-kemungkinan baik yang mungkin terjadi, meskipun semua itu belum tentu menjadi kenyataan.

Di sinilah syair tersebut menjadi menarik sebagai kritik terhadap langkah manusia memahami kebahagiaan. Kita sering merayakan sebuah permulaan tanpa betul-betul memikirkan gimana perjalanan itu bakal berakhir.

Sebuah pernikahan dirayakan dengan penuh kegembiraan, meskipun tidak ada yang bisa menjamin bahwa pernikahan itu bakal memperkuat selamanya. Sebuah proyek dimulai dengan optimisme, meskipun hasil akhirnya belum diketahui.

Begitu pula sebuah kelahiran disambut dengan sukacita, meskipun kita belum tahu jalan hidup seperti apa yang bakal ditempuh oleh anak tersebut: akankah dia tumbuh menjadi pribadi yang membawa kebaikan, alias justru sebaliknya?

Dalam kerangka pemikiran ini, tawa di awal kehidupan sebenarnya adalah tawa yang lahir dari ketidaktahuan bersama. Manusia secara alami lebih mudah memandang kemungkinan yang baik dan menyenangkan, sementara kesadaran bahwa setiap kelahiran juga merupakan awal perjalanan menuju kematian sering kali kita kesampingkan.

Filsafat eksistensialis Barat menyebut keadaan ini sebagai upaya manusia untuk “melarikan diri” dari kesadaran bakal kefanaan (mortality). Manusia condong menunda kesadaran bahwa setiap yang lahir pada akhirnya bakal mati.

Membalik Posisi Tangis dan Tawa

Bagian paling kuat dari bait ini terletak pada baris kedua. Baris tersebut membalik keadaan yang digambarkan pada baris pertama.

Jika baris pertama menggambarkan keadaan saat kelahiran—bayi menangis sementara orang lain tertawa—maka baris kedua menawarkan sebuah tantangan: bagaimana jika keadaan itu dibalik pada akhir kehidupan?

Ajakan untuk “berjuang” (al-ijtihad) dalam bait tersebut bukanlah rayuan untuk melakukan upaya seadanya. Kata ijtihad dalam tradisi keilmuan Islam mengandung makna mengerahkan seluruh keahlian dan daya upaya secara sungguh-sungguh.

Artinya, keadaan ketika seseorang dapat “tertawa” di hari kematiannya, sementara orang lain menangisinya, bukan sesuatu yang terjadi secara otomatis. Keadaan itu merupakan hasil dari perjuangan panjang, kesadaran, dan kesungguhan selama menjalani kehidupan.

Di sinilah keelokan susunan syair tersebut terlihat. Syair ini menggambarkan perjalanan waktu secara utuh.

Pada awal kehidupan, kita menangis sementara orang lain tertawa. Pada akhir kehidupan, keadaan itu diharapkan berbalik: kita tertawa sementara orang lain menangis.

Di antara dua keadaan itulah seluruh kehidupan manusia berlangsung. Waktu yang kita miliki menjadi kesempatan untuk menentukan gimana akhir perjalanan tersebut.

Dengan demikian, manusia bukan sekadar makhluk yang pasif menerima nasib. Ia mempunyai ruang dan kesempatan untuk berupaya menentukan makna dari perjalanan hidupnya sendiri.

Kematian sebagai Cermin, Bukan Sekadar Akhir

Ada kemungkinan kita membaca bait ini hanya sebagai nasihat moral sederhana: melakukan oke agar ketika meninggal dunia, banyak orang yang merasa kehilangan dan mendoakanmu, sementara engkau sendiri berbahagia menyambut kematian.

Namun, jika direnungkan lebih jauh, muncul pertanyaan: mengapa kematian yang dijadikan ukuran, bukan pencapaian duniawi seperti harta, jabatan, alias ketenaran?

Jawabannya lantaran kematian tidak mudah dimanipulasi. Berbeda dengan kesuksesan duniawi yang bisa dibuat terlihat indah, dipoles, apalagi dipalsukan di hadapan orang lain, kematian adalah saat ketika beragam topeng sosial terlepas.

Tangisan yang betul-betul tulus dari orang-orang yang ditinggalkan tidak dapat dibeli dengan duit alias dipaksakan dengan kekuasaan. Tangisan itu lahir dari kesan yang ditinggalkan seseorang selama hidupnya: dari kebaikan yang pernah diberikan, keteladanan yang pernah ditunjukkan, dan jejak yang betul-betul memberi perubahan dalam kehidupan orang lain.

Dengan demikian, kematian dalam bait ini dapat dipandang sebagai semacam ujian akhir yang jujur. Kematian menjadi cermin yang memperlihatkan kembali kualitas hidup seseorang tanpa banyak ruang untuk berpura-pura.

Karena itu, pendapat “tertawa di hari kematian” menjadi sangat kuat. Ia mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak semestinya berjuntai pada pengakuan manusia selama kita hidup. Yang lebih krusial adalah kejernihan hati ketika menghadapi kematian.

Ketenangan semacam itu hanya mungkin tumbuh ketika seseorang berupaya menjalani hidup dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Antara Motivasi Spiritual dan Bahaya Fatalisme

Meskipun pesan dalam bait ini bagus dan menggugah, kita tetap perlu membacanya secara kritis. Jangan sampai pesan tersebut dipahami secara terlalu sederhana alias keliru.

Pertama, ada akibat bahwa pendapat “berjuang demi kebahagiaan di hari kematian” disalahpahami sebagai rayuan untuk terlalu berfokus pada kematian. Jika demikian, seseorang justru bisa mengabaikan kegembiraan, tanggung jawab, dan makna kehidupan di bumi yang juga kudu dijalani dengan penuh rasa syukur.

Kesadaran bahwa hidup ini sementara semestinya mendorong kita untuk menjalani kehidupan dengan lebih bermakna. Kesadaran itu bukan untuk membikin kita hidup dalam ketakutan alias kekhawatiran berlebihan terhadap kematian.

Kedua, menjadikan “tangisan orang lain” sebagai ukuran kebaikan seseorang juga perlu dipahami dengan hati-hati. Tidak semua orang yang ditangisi banyak orang ketika meninggal berfaedah betul-betul baik dalam makna yang sebenarnya. Tangisan bisa muncul lantaran beragam alasan: kehilangan seseorang yang mempunyai kekuasaan, kehilangan sumber penghasilan, alias sekadar mengikuti kebiasaan dan formalitas sosial.

Sebaliknya, ada banyak orang saleh yang meninggal dalam kesunyian dan tidak banyak ditangisi. Namun, perihal itu tidak berfaedah kualitas spiritual mereka rendah.

Karena itu, tangisan orang lain sebaiknya dipahami sebagai simbol alias gambaran tentang jejak kebaikan seseorang, bukan sebagai satu-satunya ukuran untuk menentukan kualitas hidupnya.

Ketiga, bait ini juga tidak semestinya digunakan untuk menghakimi orang lain. Kita tidak boleh merasa berkuasa menentukan siapa yang “akan tertawa” dan siapa yang “akan menangis” pada alambaka nanti. Hal tersebut sepenuhnya berada di luar pengetahuan manusia.

Pesan utama syair ini semestinya diarahkan kepada diri sendiri. Ia merupakan bahan untuk melakukan muhasabah alias introspeksi, bukan perangkat untuk menilai dan menghakimi perjalanan spiritual orang lain.

Ruang di Antara Dua Tangisan

Kehidupan manusia dapat dipahami sebagai ruang di antara dua tangisan: tangisan kelahiran yang sudah pasti terjadi dan tangisan kematian yang belum kita ketahui gimana akhirnya.

Apakah kematian kita kelak bakal diiringi tangisan tulus dari orang-orang yang betul-betul merasa kehilangan sosok berharga? Ataukah hanya menjadi tangisan yang sejenak dan tidak meninggalkan kesan mendalam?

Di antara dua titik itulah seluruh kehidupan manusia berlangsung. Di sanalah kita membikin beragam pilihan mini setiap hari. Di sanalah kita menentukan nilai-nilai yang bakal kita pegang alias justru kita tinggalkan. Di sanalah kita menanam kebaikan alias memilih untuk mengabaikannya.

Syair yang dikutip oleh Syekh Abdul Qadir bin Milal Huais ini pada akhirnya bukan hanya rangkaian kata bagus untuk dihafalkan. Ia adalah rayuan untuk merenungkan arah kehidupan yang sedang kita jalani.

Syair ini membujuk setiap manusia untuk berakhir sejenak dari rutinitas dan bertanya kepada dirinya sendiri: jika hari ini adalah hari terakhir dalam hidup saya, tangisan seperti apa yang bakal saya tinggalkan? Dan yang lebih penting, ketenangan seperti apa yang sudah saya persiapkan untuk menyambut kepergian itu?

Hemat penulis, mungkin di situlah letak kebijaksanaan terdalam dari bait sederhana ini. Kehidupan bukan hanya tentang seberapa meriah tawa yang menyambut kehadiran kita, tetapi juga tentang seberapa tulus air mata yang mengiringi kepergian kita, dan seberapa tenang hati kita sendiri ketika menghadapinya. Wallahu a’lam bisshawab.


*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Artikel Lainnya Bincang Syariah
Close Right Ads
Close Left Ads