perjamuan arwah – Di meja perjamuan ini , tidak ada yang gratis. Setiap gairah yang terwujud selalu menuntut pengorbanan yang tak terbayangkan.
Demi mencari sang adik yang hilang, Mira kudu melangkah ke dalam ritual mematikan dalam Perjamuan Arwah. Penasaran seberapa jauh dia sanggup bertaha di tengah teror gaib ini, Grameds? Intip ulasan selengkapnya di bawah.
Sinopsis Buku Perjamuan Arwah
Segalanya bermulai ketika Jay berdiri di hadapan sebuah gerbang besi tua yang dipenuhi karat. Baginya, semua peristiwa yang membawanya ke tempat itu terasa seperti potongan segmen dari movie rusak yang tidak lagi mempunyai alur jelas. Satu-satunya perihal yang tetap dia ingat adalah pesan singkat yang sempat dikirim kepada kakaknya, Mira. Hanya dua kata yang sukses dia tuliskan, “Aku pergi,” sebelum semua ingatannya seolah terputus.
Jay menyadari bahwa kemungkinan besar Mira belum sempat membaca pesan tersebut. Saat itu hari tetap sangat pagi, sementara sang kakak baru saja pulang setelah beraktivitas semalaman. Tanpa disadari, pesan singkat itu menjadi awal dari rangkaian kejadian yang jauh lebih mengerikan daripada yang pernah mereka bayangkan.

Profil Wicak Hidayat – Penulis Buku Perjamuan Arwah
Wicak Hidayat merupakan penulis sekaligus praktisi media digital yang telah berkecimpung di industri kewartawanan selama lebih dari dua dekade. Pengalamannya yang panjang di bagian editorial membuatnya dikenal sebagai sosok yang piawai mengolah cerita, baik dalam corak tulisan maupun karya fiksi. Salah satu novel terbarunya adalah Perjamuan Arwah yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo pada tahun 2023.
Di luar bumi kepenulisan, Wicak saat ini menjabat sebagai Audience Development Director sekaligus Editor in Chief di Hello Sehat. Dalam perannya tersebut, dia bertanggung jawab mengelola strategi editorial, pengembangan konten bermerek, Search Engine Optimization (SEO), hingga Customer Relationship Management (CRM) untuk memperluas jangkauan pembaca.
Kreativitas Wicak tidak hanya terlihat melalui tulisan. Ia juga mempunyai kesukaan besar pada bumi permainan, khususnya tabletop games. Sebagai fans TTRPG seperti Dungeons & Dragons, dia kerap berkedudukan sebagai Game Master yang merancang alur cerita dan petualangan bagi para pemain.
Penulis yang berdomisili di Depok, Jawa Barat, ini juga banyak mengambil inspirasi dari pengalaman hidupnya. Rumah masa kecilnya berada di area Perumnas Depok, tidak jauh dari sebuah pohon beringin yang tumbuh melilit pohon kelapa dan dikenal penduduk sekitar dengan julukan “Pohon Kawin”. Pengalaman dan khayalan tersebut turut memperkaya nuansa seram yang sering datang dalam karya-karyanya.
Sebelum menerbitkan Perjamuan Arwah, Wicak telah menghasilkan sejumlah karya yang mendapat perhatian. Ceritanya yang berjudul Buku Merah diadaptasi menjadi movie pendek pada tahun 2021 dan diputar dalam sebuah pagelaran movie di Malaysia. Selain itu, cerpennya Merah Pedas pernah dimuat di harian Kompas dan kemudian masuk dalam antologi Hujan Klise yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas pada tahun 2018.
Kelebihan dan Kekurangan Buku Perjamuan Arwah
Pros & Cons
Pros
- Premis seram yang unik.
- Alur cerita yang mengalir
- Penuh misteri dan kejutan cerita.
- Memberikan perspektif pandang yang unik.
- Cocok untuk pembaca yang mau seram ringan.
Cons
- Beberapa misteri dan bentrok belum dijelaskan secara tuntas.
Pros & Cons
Pros
- Premis seram yang unik.
- Alur cerita yang mengalir
- Penuh misteri dan kejutan cerita.
- Memberikan perspektif pandang yang unik.
- Cocok untuk pembaca yang mau seram ringan.
Cons
- Beberapa misteri dan bentrok belum dijelaskan secara tuntas.
Kelebihan Buku Perjamuan Arwah
Buku Perjamuan Arwah merupakan karya internasional yang direkomendasikan lantaran menyajikan beragam kelebihan sebagai berikut.
- Premis seram yang unik
Buku ini menawarkan premis yang tidak biasa, ialah sebuah ritual misterius tempat setiap orang dapat mewujudkan kemauan terdalamnya dengan akibat yang kudu dibayar. Konsep premis tersebut membikin cerita ini langsung menarik sejak awal dan sukses membangun rasa mau tahu mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Jay, serta rahasia di kembali Perjamuan Arwah.
- Alur cerita yang mengalir
Dengan jumlah laman yang relatif sedikit, cerita dalam kitab ini bergerak dalam tempo yang sangat sigap dan tanpa banyak jeda. Setiap bab diakhiri dengan situasi yang membikin pembaca mau segera membuka laman berikutnya. Ritme seperti ini menjadikan kitab ini terasa sebagai page turner yang dapat diselesaikan hanya dalam sekali duduk.
- Penuh misteri dan kejutan cerita
Selain unsur horor, kitab ini juga mengandalkan misteri yang perlahan terungkap seiring perjalanan Mira dalam mencari adiknya. Beberapa rahasia mengenai masa lampau dan hubungan antar tokoh juga disajikan dalam corak kejutan yang sukses membikin pembaca terus penasaran dengan kitab ini.
- Memberikan perspektif pandang yang unik
Di kembali kisah supranaturalnya, kitab ini juga membujuk pembaca memandang gimana manusia dapat melakukan apa saja demi memenuhi kemauan terdalam mereka. Setiap tokoh datang dengan tujuan berbeda, tetapi semuanya kudu menghadapi akibat atas pilihan yang mereka buat.
- Cocok untuk pembaca yang mau seram ringan
Bagi pembaca yang belum terbiasa dengan membaca cerita horor, Perjamuan Arwah menjadi pilihan yang ramah lantaran ceritanya tidak terlalu panjang dan bahasanya juga mudah dipahami. Intensitas seram dalam cerita ini tidak berlebihan sehingga lebih menonjolkan unsur misteri dan petualangannya dibandingkan dengan segmen yang betul-betul menyeramkan.
Kekurangan Buku Perjamuan Arwah
Meskipun Buku The Perjamuan Arwah menawarkan banyak kelebihan, kitab ini tetap tidak luput dari kekurangan yang bisa menjadi pertimbangan bagi pembaca.
- Beberapa misteri dan bentrok belum dijelaskan secara tuntas
Meski menawarkan konsep yang menarik, ada sejumlah bagian yang tetap menyisakan pertanyaan setelah cerita berakhir. Beberapa latar belakang tokoh, argumen di kembali tindakan tertentu, serta penyelesaian beberapa bentrok dianggap belum sepenuhnya dijelaskan.
Tradisi Menghormati Arwah Leluhur di Indonesia, Benarkah Ada?
Novel Perjamuan Arwah menghadirkan ritual misterius yang menjadi pusat bentrok cerita. Hal ini mungkin membikin sebagian pembaca bertanya-tanya, benarkah tradisi yang berangkaian dengan arwah memang ada di Indonesia? Jawabannya adalah ya, tetapi maknanya sangat berbeda dengan yang digambarkan dalam cerita horor. Di beragam daerah di Indonesia, terdapat sejumlah tradisi yang berangkaian dengan arwah alias roh leluhur. Namun, ritual tersebut pada umumnya bermaksud untuk menghormati, mengenang, alias mendoakan orang yang telah meninggal, bukan memanggil arwah demi memperoleh kekuatan supranatural alias mengabulkan kemauan tertentu.
-
Ngaben di Bali
Ngaben merupakan upacara kremasi dalam kepercayaan Hindu Bali yang bermaksud mengantarkan roh menuju alam berikutnya. Masyarakat Hindu Bali meyakini bahwa prosesi ini menjadi bagian krusial dalam siklus kehidupan lantaran membantu membebaskan roh dari ikatan duniawi sebelum melanjutkan perjalanan spiritualnya. Oleh lantaran itu, Ngaben bukanlah ritual pemanggilan arwah, melainkan corak penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal.
-
Rambu Solo’ di Tana Toraja
Suku Toraja di Sulawesi Selatan mempunyai tradisi pemakaman budaya yang dikenal sebagai Rambu Solo’. Upacara ini dapat berjalan selama beberapa hari dan melibatkan seluruh family besar sebagai corak penghormatan kepada mendiang. Bagi masyarakat Toraja, prosesi tersebut menjadi simbol penghormatan, rasa syukur, serta pelepasan terakhir kepada personil family yang telah berpulang. Nilai utama dari tradisi ini adalah penghormatan terhadap leluhur dan penguatan ikatan kekeluargaan.
-
Cheng Beng
Tradisi Cheng Beng tetap dilaksanakan oleh banyak masyarakat Tionghoa di Indonesia setiap tahun. Pada momen ini, family mengunjungi makam leluhur untuk membersihkan area pemakaman, menaburkan bunga, menyalakan dupa, serta membawa makanan sebagai corak penghormatan. Tradisi ini menjadi langkah untuk mengenang jasa para leluhur sekaligus mempererat hubungan antar generasi dalam keluarga.
-
Festival Hantu Lapar (Cioko)
Sebagian masyarakat Tionghoa di Indonesia juga mengenal Festival Hantu Lapar alias Cioko. Dalam tradisi ini, masyarakat memberikan persembahan berupa makanan, buah-buahan, dan dupa sebagai simbol penghormatan kepada arwah leluhur maupun arwah yang dipercaya tidak mempunyai keluarga. Meski sering dikaitkan dengan kisah-kisah mistis, tujuan utama tradisi ini adalah menumbuhkan rasa hormat, kepedulian, dan angan bagi mereka yang telah meninggal.
Meski sama-sama berangkaian dengan arwah, tradisi penghormatan leluhur di Indonesia mempunyai makna yang sangat berbeda dengan ritual yang sering muncul dalam novel alias movie horor. Sebagian besar tradisi tersebut berakar pada nilai budaya, kepercayaan, dan penghormatan kepada orang yang telah meninggal, bukan sebagai langkah untuk memperoleh kekuatan gaib alias mengabulkan keinginan.
Penutup
Buku Perjamuan Arwah menjadi pilihan referensi tepat bagi Grameds yang menyukai novel seram dengan nuansa misteri, ritual gelap, dan alur yang bergerak cepat. Di kembali teror yang disajikan, kitab ini juga bakal membujuk Grameds untuk merenungkan tentang pengorbanan, ambisi, dan akibat dari setiap pilihan yang diambil. Meski ceritanya singkat, pengalaman membaca yang ditawarkan tetap bisa menghadirkan rasa penasaran hingga laman terakhirnya.
Buku Perjamuan Arwah karya Wicak Hidayat ini bisa Anda dapatkan hanya di Gramedia.com ya! Untuk mendukung Anda #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan info dan produk terbaik untuk kamu.
Rekomendasi Buku
Horor Rumah Tua


Buku ini menghadirkan kisah-kisah seram yang terinspirasi dari mitos dan urban legend yang berasosiasi dengan rumah tua di beragam daerah Indonesia. Ada kisah dari area ibu kota; dari tepian Sungai Ciapus di Ciomas, Bogor; dari lereng Gunung Merapi, Yogyakarta; dari daerah Bangkalan, Madura; dari Tapanuli di Pulau Sumatra, hingga dari tanah Kalimantan. Setiap cerita tersebut disajikan dengan alur yang kuat dan atmosfer yang mencekam, hasil perpaduan kisah-kisah yang telah lama dipercaya masyarakat dengan sentuhan fiksi yang imajinatif.
Rumah Tusuk Sate


Rumah indekos bertingkat yang tepat berada di ujung gang itu sekarang tak lagi mendatangkan rasa nyaman bagi para penghuninya. Seolah menunggu giliran, setiap dari mereka diteror ketakutan bakal perihal yang tak kasat mata.
Memang. Harinya nyaris tiba. “Dia” datang untuk menagih tumbal nyawa.
Rawangsemi


Di sebuah desa yang semestinya telah mati, tari tidak lagi menjadi seni, melainkan warisan dendam.
Sedayu Wirayu Permadani dan empat penari Jathil lainnya datang ke Desa Watuwiyah dengan niat sederhana: belajar, tampil, dan pulang membawa pengalaman baru. Namun Sanggar Tari Rawangsemi menyambut mereka bukan sebagai murid, melainkan sebagai penerus. Di kembali lantai kayu yang dingin dan topeng Singa Barong yang tak pernah betul-betul diam, tersembunyi obsesi lama yang menunggu tubuh-tubuh retak untuk diisi.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·