Review Buku Seorang Pria Yang Melalui Duka Dengan Mencuci Piring

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Grameds, setiap orang pasti pernah merasakan rasa duka entah. Berduka adalah momen terberat nan mungkin dialami oleh seseorang baik dalam waktu nan sigap alias lambat. Kita boleh saja bersungkawa namun jangan sampai rasa duka itu malah menyelimuti kita terlalu dalam dan membikin kita menjadi tidak konsentrasi dalam melakukan semua hal. Untuk menangani rasa duka itu kita perlu melewati jalan nan tidak selalu mulus namun juga banyak sakitnya dan lika-likunya. Dalam kehidupan kita juga tentu mempunyai banyak memori mungkin memori senang alias memori sedih. Ketika kita menorehkan banyak momen pada satu orang pasti bakal bertambah besar juga duka nan ditinggalkan oleh nya saat orang itu pergi.

Nah Grameds, kitab ini berjudul Seorang Pria nan Melalui Duka dengan Mencuci Piring memang bisa? Tenang saja Grameds, titel ini terdengar unik memang sungguh berbeda dari nan lain. Penulis mengambil afinitas dengan mencuci piring ketika merasakan duka. Apa hubungannya? Memang bisa? Buku ini bakal membahas mengenai rasa duka dan sedih lebih dalam. Buku ini bakal mengajarkan Anda gimana menerima rasa duka nan tidak selalu berlarut sehingga Anda tetap bisa menjalani hari dengan lebih ringan. Sebelum Anda membaca kitab ini berikut ini adalah ulasan singkat mengenai Buku Seorang Pria nan Melalui Duka dengan Mencuci Piring.

Sinopsis Buku Seorang Pria nan Melalui Duka dengan Mencuci Piring

Ketika kehadiran pasien nan sedang mengalami duka, seorang psikiater bakal menggali keilmuan nan dimiliki. Dia bakal mengulas semua teori nan pernah dipelajari ketika masa kuliah dulu dan mengingat kembali dari pengalamannya berbareng dengan pasien-pasien sebelumnya. Kemudian bakal mensintesis itu untuk membantu pasien nan bersungkawa dihadapannya. Namun semua berbeda ketika Andreas, seorang psikiater kehilangan anaknya, dia melakukan perihal nan berbeda. Dia seakan-akan melempar semua teori nan pernah dia pelajari ke luar jendela dan memutuskan untuk mencari makna kenapa ini semua terjadi. Dan dia menemukan bahwa duka bisa dilalui dengan mencuci piring kotor nan menumpuk di dapur.

Menurut dr. Andreas Kurniawan, Sp. KJ dia pernah mengalami kehilangan dua orang nan begitu dicintai ialah ayah dan anaknya. Ia menganalogikan mencuci piring sebagai aktivitas nan tepat sekali dalam menggambarkan gimana seseorang melewati perasan tidak nyaman ketika berduka. Hal ini lantaran tidak ada orang nan senang dengan aktivitas mencuci piring, nan sebagian banyak orang adalah makan alias mungkin hanya memasak. Ketika memandang piring menumpuk di wastafel rasanya itu adalah beban berat nan susah untuk dikerjakan. Namun gimana lagi? Itu adalah perihal nan kudu dilakukan seseorang nan mau ‘membereskannya’.

Ketika kita mencintai seseorang pasti suatu saat kelak bakal ada kondisi duka nan dilewati oleh salah satu dari mereka lantaran kudu ada nan merasakan rasanya kehilangan. Rasa duka dan beban nan ada ketika bersungkawa itu ibaratkan sebuah tumpukan cucian piring, Anda tidak boleh membiarkan itu menumpuk terlalu lama jika itu terjadi tentu kita bakal semakin merasa berat untuk membereskannya.

Ketika kita mencuci piring, perihal nan dilakukan pertama adalah dengan membuang sisa sampah makanan nan ada di piring dan berceceran ke tempat sampah. Kemudian bisa memulai dengan membersihkan piring menggunakan spons satu persatu dan membilasnya. Sama halnya dengan rasa duka, ada beragam step nan kudu dilakukan untuk dapat bisa ‘membereskan’ rasa duka itu. Kita tidak perlu menolak dan menganggap semuanya baik-baik saja saat kenyataannya tidak, nan kita perlukan adalah melaluinya dengan sabar dan perlahan-lahan. Kita perlu mengerjakan pekerjaan nan perlu kita kerjakan dan jangan sampai itu membikin kita mengganggu aktivitas kita.

Buku ini adalah proses Dr. Andreas dapat memaknai kehilangan nan besar nan terjadi dalam hidupnya. Buku ini dikemas dengan santuy dan tambahan lawakgelap nan membikin kitab ini semakin wajib untuk Anda baca ketika Anda merasakan duka. Buku ini berisikan mengenai pedoman berfaedah nan langsung bisa kita aplikasikan dalam hidup seperti “Tutorial Mencuci Piring”, “Tutorial Menyusun Puzzle” dn “Tutorial Menerima Kematian Seorang Anak.”

Buku ini dilengkapi dengan 16 bab nan bakal menemani Anda mengarungi perjalanan dan perjuangan dari awal hingga akhir. Pada bab pertama Dr. Andreas bakal mengucapkan selamat datang kepada Klub Berduka tempat orang-orang bisa datang dan membicarakan mengenai duka nan mereka rasakan. Bab kedua Anda bakal diajak merasakan gimana rasa 24 jam pertama ketika seseorang mengalami duka.

Dr. Andreas sendiri mengatakan dalam wawancaranya dengan SEA Today bahwa tantangan terberat dalam menulis kitab ini adalah menghadapi duka itu sendiri. Menurutnya bab 10 adalah bab nan paling susah untuk ditulis. Dalam bab ini bakal ada cerita mengenai Hiro nan merupakan putranya secara rinci 30 menit sebelum meninggal. Dan pada bab ke 4 gimana Dr. Andreas akhirnya menghubungkan proses bersungkawa dengan mencuci piring pada titel “Tutorial Mencuci Piring”. Pada bab ke 16, pembaca bakal sampai pada titel kitab “Normal Baru nan Asimetris”, Pada bab ini pembaca bakal diajak memandang gimana kehidupan melangkah setelah ditinggalkan orang nan paling dicintai.

Buku ini termasuk dalam kitab nan sangat manusiawi dalam memberikan pencerahan lantaran tidak ada tips dan trik tertentu nan kudu kita lakukan ketika kehilangan seseorang nan berharga

Tentang Penulis Seorang Pria nan Melalui Duka dengan Mencuci Piring

Dr. Andreas Kurniawan adalah seorang ahli Kedokteran Jiwa (Psikiater) nan juga merupakan penulis dari kitab Seorang Pria nan Melalui Duka dengan Mencuci Piring. Dr.Andreas Kurniawan lulus di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dengan kesukaan dalam bagian Behavior Sciences. Ia adalah psikiater nan banyak menangani pasien dengan gangguan mood, depresi, apalagi bipolar, fobia, gangguan kecemasan, gangguan tidur, hiperaktivitas pada usia anak, konsultasi gangguan seks dan perkawinan dan masalah emosi dan perilaku lainnya. Dr. Andreas juga merupakan personil dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia dan Ikatan Dokter Indonesia.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Seorang Pria nan Melalui Duka dengan Mencuci Piring

Pros & Cons

Pros

  • Dapat menjadi pencerahan mengenai rasa duka
  • Menggunakan pendekatan nan unik mengenai mencuci piring
  • Ditulis oleh ahlinya ialah master ahli kejiwaan
  • Ditulis dengan bahasa nan mudah dipahami
  • Memiliki banyak pesan moral
  • Cover nan menarik

Cons

  • TIdak ada ilustrasi gambar nan dapat membantu penggambaran emosi emosi pembaca

Kelebihan Buku Seorang Pria nan Melalui Duka dengan Mencuci Piring

Buku ini bisa menjadi pencerahan mengenai rasa duka nan dirasakan oleh seseorang. Buku ini bakal menemani Anda melewati rasa duka lantaran kehilangan seseorang sehingga Anda bisa menjalani aktivitas dan aktivitas dengan normal tanpa mengganggu mu.

Selain itu kitab ini menggunakan pendekatan nan unik ialah mencuci piring untuk membagikan cerita mengenai rasa duka. Mencuci piring mungkin afinitas nan tepat dan ringan untuk bisa mengendalikan rasa duka namun proses nan dilalui ketika ada cucian piring dan rasa bersungkawa sama-sama mempunyai beban nan berat.

Buku ini juga ditulis oleh master ahli psikologis alias psikiater nan memang mahir dalam menangani pasiennya nan bermasalah dengan emosi dan juga gangguan kesehatan mental lainnya. Sehingga Grameds tidak perlu ragu lagi untuk membaca isi dalam kitab ini lantaran sudah ditulis oleh ahlinya. Selain itu kitab ini juga ditulis berasas pengalaman penulis mengenai kehilangan jadi mungkin apa nan dirasakan pembaca dan penulis bisa saja sama.

Buku ini juga ditulis dengan bahasa nan mudah dipahami dan mudah dimengerti oleh pembacanya. Tidak rumit dan bisa diresapi dengan baik. Buku ini cocok untuk Anda nan sedang malas berpikir dan rasa tidak mau melakukan apapun lantaran sedang berduka. Buku ini juga dilengkapi dengan humor-humor gelap nan membikin kitab ini semakin menarik untuk dibaca.

Buku ini juga mempunyai banyak sekali pesan moral nan dapat diambil seperti agar kita tidak larut dalam kesedihan dan rasa duka. Kita tetap mempunyai aktivitas dan aktivitas nan kudu dijalani di bumi ini dan kita berkuasa berbahagia setelah melewati masa-masa susah dalam keadaan itu.

Selain itu kitab ini mempunyai cover nan menarik menggambarkan seseorang nan sedang mencuci piring sesuai dengan afinitas mencuci piring dan juga kedukaan nan dibahas di dalam buku.

Kekurangan Buku Seorang Pria nan Melalui Duka dengan Mencuci Piring

Tidak ada ilustrasi gambar pada bagian-bagian novel nan bisa menambah motivasi membaca para pembacanya. Seharusnya dengan adanya gambar ilustrasi bakal merefresh kembali otak dan kita juga diberikan gambaran mengenai apa nan sedang dijelaskan.

Pesan Moral Buku Seorang Pria nan Melalui Duka dengan Mencuci Piring

Grameds, bersungkawa adalah emosi nan pasti dirasakan oleh setiap manusia. Semakin kita mencintai dan menyayangi seseorang maka bakal semakin rasa duka itu terasa jika orang itu kudu meninggalkan kita apalagi dalam perihal kematian. Berduka adalah suatu proses untuk kembali lagi menjadi pribadi nan lebih kuat dan lebih handal dari sebelumnya. Dengan bersungkawa kita bakal menghargai waktu, kesempatan dan juga momen dengan orang lain. Maka dari itu Grameds jika Anda sedang merasakan rasa duka nan begitu dalam lantaran kehilangan seseorang maka kitab ini bisa menjadi support Anda untuk bangkit dari rasa duka itu.

Nah Grameds, jika Anda tertartik Anda bisa mendapatkannya di Gramedia.com alias toko kitab Gramedia terdekat di kotamu! Selamat Membaca Grameds.

Gramedia senantiasa menjadi #SahabatTanpaBatas untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, gramedia selalu menyediakan buku-buku berbobot dan original agar Grameds mempunyai info #LebihDenganMembaca.

Penulis: Devina

Rekomendasi Buku Terkait

Anxiety Sucks: Sebuah Buku Untuk Membantumu Menghadapi Gangguan

anxiety sucks

Anxiety Sucks: Sebuah Buku Untuk Membantumu Menghadapi Gangguan Kecemasan merupakan salah satu kitab pengembangan diri karya Isnanahhh. Perasaan kekhawatiran sering dialami oleh nyaris semua manusia. Kecemasan pada dasarnya bukan merupakan gangguan. Kecemasan ini merupakan sinyal nan menyadarkan. Ia memperingatkan adanya ancaman nan mengancam, sehingga dalam banyak perihal dia justru bisa meningkatkan kewaspadaan dan membikin tubuh bersiap melakukan suatu tindakan untuk mengatasi ancaman.

Segala-galanya Ambyar

segala-galanya ambyar

Segala-galanya Ambyar merupakan kitab nan berisi tentang pesan-pesan tentang kehidupan agar mendapatkan kehidupan dan bumi nan lebih baik. Buku ini mempunyai konsentrasi pembahasan ialah angan dan segala-galanya ambyar. Pada konsentrasi pembahasan harapan, Manson membagi lagi ke beberapa poin ialah kebenaran nan menggelisahkan, kendali diri adalah sebuah ilusi, norma newton tentang emosi, 5 langkah untuk mewujudkan mimpi, dan angan itu ambyar. Sedangkan pada konsentrasi pembahasan segala-galanya ambyar, Manson membagi ke beberapa poin ialah formula kemanusiaan, rasa sakit merupakan konstanta universal, ekonomi perasaan, dan kepercayaan final. Buku ini merupakan kelanjutan dari Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat (Subtle Art of Not Giving A F*ck).

Seni Mendengarkan Orang Lain

seni mendengarkan orang lain

Mendengarkan orang lain merupakan keahlian nan krusial untuk membangun hubungan nan baik dan memahami perspektif orang lain. Namun, tentu saja tidak semua orang bisa mendengarkan orang lain dengan seksama. Oleh karena itu, melayani curhat itu susah. Namun, seberapa perlu kita mendengarkan orang lain? Mengapa pula kita butuh untuk didengarkan? Bagaimana jika kita sama sekali tidak punya kawan nan mau mendengarkan kita? Atau justru sebaliknya, gimana jika banyak kawan nan mengadu setiap saat pada kita? Apa sih susahnya mendengarkan? Bukannya setiap manusia sebagai makhluk Tuhan nan dianugerahi indra pendengar pastinya tidak susah melakukan perihal ini? Bahkan hari ini, saudara-saudara kita nan tunarungu pun telah terbantu dengan perangkat untuk bisa menerima suara-suara nan ada di sekitarnya. Lalu, apa sebenarnya nan dipermasalahkan dari sebuah keahlian diri untuk “mendengarkan”? Di bumi ini semua orang sibuk bercakap-cakap tanpa pernah mendengar kata-kata orang lain.” Seperti halnya keahlian membaca. Ia diartikan tidak sekadar sebagai keahlian membunyikan huruf menjadi kata, nan terangkai menjadi kalimat, nan menyusun paragraf, hingga saling mengenai dalam sebuah teks. Kemampuan mendengarkan tidak sebegitu mudahnya diartikan sebagai menerima suara-suara nan diucapkan alias dibunyikan oleh orang lain, alias segala sesuatu di luar tubuh kita. Lebih dari itu, kompetensi diri untuk mendengarkan adalah tentang memahami bunyi suara itu menjadi sebuah makna nan bisa lebih bisa kita cerna dengan baik.

Selengkapnya
Sumber Gramedia Official Blog
Gramedia Official Blog