Review Buku Si Anak Pohon Karya Srividhya Venkat Dan Nayantara Surendranath

Sedang Trending 4 minggu yang lalu

Si Anak Pohon bukan karya fiksi nan biasa saja. Buku ini memancarkan keistimewaan dari kisahnya nan magis dan sederhana. Fakta uniknya, karya ini merupakan kitab anak nan ditulis oleh penulis sekaligus pendongeng pagelaran nan sudah lama bergulat dalam bagian pendidikan anak usia dini. Tak heran jika kitab anak ini bisa memberikan nilai dan pesan moral nan begitu indah.

Grameds, apa nan Anda pikirkan tentang kitab anak? Kamu mungkin bakal terbayang kisah di negeri ajaib alias cerita seputar kehidupan sehari-hari nan ditujukan sebagai bahan pembelajaran bagi anak-anak. Nah, kisah dalam kitab Si Anak Pohon tak jauh berbeda lantaran turut menuturkan cerita nan sama.

Si Anak Pohon

button cek gramedia com

Si Anak Pohon ditulis oleh Srividhya Venkat berbareng Nayantara Surendranath. Buku ini bukan sekadar cerita anak, tapi kisah nan memberikan ruang bagi anak-anak untuk menilai dan memahami emosi. Kisahnya juga tidak membujuk anak-anak menjelajahi bumi khayalan di alam imajinasi.

Lebih dalam lagi, kisah dalam kitab ini membujuk anak-anak untuk menerima makna-makna kehidupan. Si Anak Pohon sendiri bercerita tentang Sid, seorang anak laki-laki dengan kehidupan normal nan suatu hari berubah menjadi pohon.

Hmm, kisahnya memang unik, ya. Di kembali keunikannya, kitab ini sangat cocok untuk referensi anak-anak. Grameds, jika Anda mau menghadiahi adik tercinta alias orang terkasih nan tetap kanak-kanak, kitab ini adalah pilihan nan tepat.

Buku Si Anak Pohon ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Andi Offset, lho. Terbit pada 13 Oktober 2020, kitab dengan tebal 32 laman ini cocok sekali menemani keseharian anak-anak. Nah, biar Anda punya gambaran lebih tentang kitab ini, mari berkenalan dulu dengan dua penulisnya.

Profil Srividhya Venkat

Sumber: South Asia Book Award

Srividhya Venkat dikenal oleh bumi sebagai penulis cerita anak-anak dari India nan sudah banyak melahirkan buku-buku terkenal, salah satunya adalah Si Anak Pohon. Sirividhya menulis cerita anak berasas latar belakangnya nan tinggal di Asia. Oleh lantaran itu, buku-buku nan dia tulis terinspirasi dari kehidupan anak-anak Asia.

Tak hanya kitab Si Anak Pohon, Srividhya juga menulis kitab The Clever Tailor, Girls on Wheels, dan Dancing in Thatha’s Footsteps. Ketiga kitab merupakan kitab anak bergambar nan banyak menyita perhatian publik internasional. Misalnya saja ada kitab The Clever Tailor nan meraih Penghargaan Buku South Asia (SABA) 2020. Buku ini masuk dalam daftar ‘101 Great Books for Kids (2019)’ nan disusun oleh Perpustakaan Umum Evanston.

Sebagai penulis nan andal, Srividhya Venkat sukses memulai debut menulisnya di Amerika Serikat. Dengan debutnya di Amerika Serikat melalui kitab nan berjudul Dancing in Thatha’s Footsteps, Srividhya Venkat terus menginspirasi pembaca dari beragam bagian bumi dengan khayalan dan kearifannya dalam bercerita.

Kesuksesan Srividhya Venkat di kancah internasional ini mengharumkan nama India sebagai bangsa nan besar. Melalui karyanya, banyak orang nan dapat mengenal budaya dan kehidupan anak-anak di area Asia. Srividhya nan dilahirkan dan dibesarkan di India telah menghabiskan beberapa tahun di Amerika Serikat dan Singapura. Selama masa-masa ini, dia banyak mengalami beragam budaya nan unik dari setiap negara nan dijelajahinya.

Pengalaman hidup nan beragam ini akhirnya mendorongnya untuk bermimpi tentang sebuah bumi tanpa batas. Melalui mimpi ini, Srividhya berupaya berkedudukan dengan menciptakan kisah-kisah dahsyat sembari membagikan kebesaran dan keelokan dunia. Baginya bumi adalah tempat tinggal bagi setiap perseorangan unik, tetapi tetap saling terhubung.

Selain penulis cerita anak, Srividhya Venkat juga dikenal pendongeng pagelaran alias perfomance storyteller. Karier Srividhya berangkaian erat dengan aktivitasnya nan dulu pernah menjadi pendidikan anak usia dini. Sementara itu, Nayantara Surendranath nan ikut berkontribusi dalam penulisan kitab ini merupakan seorang ilustrator. Ia dikenal sebagai seniman visual nan berbasis di India dan telah menciptakan banyak karya.

Sinopsis Buku Si Anak Pohon

Si Anak Pohon

button cek gramedia com

Buku ini menceritakan anak laki-laki berjulukan Sid nan mempunyai kehidupan layaknya anak-anak. Namun, Sid mengalami kejadian nan kurang menyenangkan saat dia tidak bisa menyelamatkan gawang. Sid kebobolan gol saat bermain bola dan perihal ini membikin tidak lagi bersemangat. Sid nan kesenyapan pun pulang ke rumah dan pergi tidur seperti biasa.

Namun, perihal tak terduga terjadi pada keesokan paginya. Sid terbangun dengan sekujur tubuh nan berubah menjadi sebatang pohon. Terperangkap dalam bentuk nan tidak dikenal, Sid menghadapi tantangan besar untuk beradaptasi dengan kehidupan baru nan penuh dengan misteri dan keanehan.

Terlebih lagi Sid sebenarnya membenci pohon-pohon nan menurutnya tidak mempunyai otak dan bodoh. Namun, sekarang Sid menjadi salah satu pohon nan dia anggap tolol itu. Tentu saja, perihal ini membikin Sid bingung. Dalam upayanya untuk memahami situasi nan mengubah hidupnya secara drastis ini, Sid merenungkan pertanyaan-pertanyaan nan mengusiknya. Ada pertanyaan tentang keraguan apakah dia bisa kembali menjadi seperti semula? Lalu, apakah rasa kesenyapan nan Sid rasakan ini bakal memudar lantaran dia mendapat kehidupan baru?

Selama perjalanan Sid sebagai sebatang pohon, dia berjumpa dengan beragam karakter unik dan menarik. Sid pun menghadapi beragam pengalaman nan mengubah pandangannya terhadap diri sendiri dan bumi di sekitarnya.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Si Anak Pohon

Si Anak Pohon

button cek gramedia com

Pros & Cons

Pros

  • Ditulis dengan diksi-diksi nan ringan dan mudah dimengerti oleh anak-anak.
  • Gaya bahasanya santuy dan sangat mengalir sehingga nyaman diikuti oleh anak-anak.
  • Narasinya dituturkan dengan langkah nan sederhana.
  • Premisnya unik dan menarik.
  • Ilustrasi nan termuat dalam kitab ini mendukung alur cerita sehingga anak tidak bakal sigap bosan.
  • Pemilihan warna dan style visual dalam kitab ini sangat menarik sehingga berkedudukan menghidupkan ceritanya.
  • Ada banyak pesan moral tentang kehidupan, penerimaan diri, rasa kesepian, perubahan dalam hidup, dan persahabatan.
  • Buku ini membujuk anak-anak untuk memahami pesan-pesan moral nan disampaikan dengan melalui langkah nan ramah.

Cons

  • Jumlah halamannya tergolong cukup sedikit.

Kelebihan Buku Si Anak Pohon

Si Anak Pohon

button cek gramedia com

Cerita dalam kitab ini menawarkan perspektif pandang nan unik dari anak laki-laki nan mengalami kegagalan dan akhirnya berubah menjadi sesuatu nan dibencinya. Sid sebenarnya membenci pohon lantaran menganggap tumbuhan itu tak mempunyai otak. Namun, Sid nan tidak suka dengan perihal ini malah secara ajaib berubah menjadi pohon. Tentu saja perihal ini menjadi tantangan dan perubahan nan menyakitkan bagi Sid.

Dari perubahan ajaib inilah, Si Anak Pohon mau menyoroti tentang penerimaan diri pada masa kanak-kanak. Terkadang suatu kondisi nan asing bakal susah diterima bagi anak dan mempengaruhi pandangannya. Nah, pesan inilah nan mau disampaikan oleh sang penulis.

Sebelum menyelami pesan tentang penerimaan diri, Sid sebelumnya sudah mengalami hal-hal nan berakibat jelek baginya. Kegagalan menyelamatkan gol saat bermain bola dan rasa kesenyapan nan muncul setelahnya. Dua rumor inilah nan menjadi penggerak cerita sehingga kita perlahan dibawa menjelajahi kehidupan baru Sid nan penuh keajaiban.

Dari segi premis, cerita ini tidak menyuguhkan bentrok nan berat lantaran berfokus pada pesan moral dan gimana langkah Sid menangkap pesan itu. Alurnya pun sangat mudah diikuti dengan tambahan plot-plot nan nyaman untuk dipahami. Selain alurnya nan tersusun dengan rapi, style bahasa nan digunakan pun sangat ringan.

Narasi nan mengalir membikin pembawaan ceritanya menjadi lebih menyenangkan, terutama bagi anak-anak. Jadi, sebagai referensi anak-anak di waktu luang, kitab Si Anak Pohon ini sangat direkomendasikan. Namun, meski ada banyak poin kesederhanaan dalam kitab ini, tetapi nilai-nilai moralnya tetap tersampaikan dengan sangat baik.

Pembaca nan bukan anak-anak pun tetap bisa merasa terhubung dengan nilai-nilai ini, lho. Hal ini lantaran cerita Sid nan belajar menerima dirinya sebagai sebatang pohon banyak mencerminkan situasi di bumi nyata, baik bagi anak-anak alias orang dewasa.

Begitu dengan rasa kesenyapan nan rupanya bisa datang juga dalam kehidupan anak-anak, seperti nan dirasakan oleh Sid. Kegagalan dalam suatu perihal nan disukai juga menjadi bagian dari kehidupan orang dewasa, seperti nan dialami Sid. Nah, langkah penulis mengeskplor nilai-nilai ini didasarkan pada kisah fantasi.

Bagi Sid, sebatang pohon hanya tumbuhan nan tak berotak. Namun, ketika dia menjadi pohon, Sid justru dapat belajar memahami dirinya. Tak hanya itu, melalui pertemuan dengan beragam karakter, Sid dapat memahami bumi nan dia tempati.

Jika Sid tidak diberi kesulitan, mungkin dia tidak bakal pernah belajar. Nah, pesan inilah nan menjadi sorotan utama kisahnya. Selama perjalanan Sid menyelami kehidupan baru, kita juga bakal memandang pertumbuhan karakter Sid dari anak kesenyapan menjadi seseorang nan berani menghadapi masalah.

Sid nan merasa kesenyapan tidak hanya menemukan teman-teman baru, tapi juga banyak kekuatan untuk bangkit. Oleh lantaran itu, Sid dapat menerima dirinya sebagai sebatang pohon dan mulai mengatasi kesulitannya. Keberanian dan ketangguhan ini tidak datang tiba-tiba, tapi dibangun secara perlahan.

Bagi anak-anak, perjuangan dan pertumbuhan karakter Sid ini dapat menjadi inspirasi nan tidak menggurui. Sebaliknya anak-anak bakal mendapat teladan nan baik sehingga mau mencontoh perbuatan Sid. Dalam bumi anak-anak, menemukan teladan adalah perihal nan sangat penting. Lagi-lagi, tak hanya bagi anak-anak, kitab nan memberi contoh teladan ini juga bakal relevan bagi pembaca nan lebih tua.

Selain pesan moral tentang penerimaan diri sendiri dan langkah menemukan keberanian dalam hidup, kitab ini juga membicarakan nilai-nilai persahabatan. Dari kisah Sid, kita seakan diberi tahu bahwa tidak ada makhluk nan sendirian lantaran pada akhirnya Sid mempunyai teman-teman baru.

Grameds, poin menarik lainnya dari kitab ini terletak pada style visualnya nan khas, sederhana, dan menarik. Pemilihan warnanya juga sangat beragam sehingga mendukung alur ceritanya. Tentu saja poin tentang visual, layout, dan warna ini sangat krusial mengingat kitab ini memang ditujukan untuk anak-anak.

Kekurangan Buku Si Anak Pohon

Si Anak Pohon

button cek gramedia com

Buku ini memang tergolong singkat sehingga dapat dihabiskan dalam sekali duduk saja, Grameds. Mungkin inilah poin nan menjadi kekurangan dari kitab Si Anak Pohon. Jika kitab ini mempunyai jumlah laman nan lebih banyak, nilai-nilai moral nan didasarkan dari latar belakang budaya Asia bakal lebih tereksplor.

Jika dilihat dari latar belakang penulisnya nan banyak menggali kultur Asia, kitab ini dapat memuat budaya-budaya Asia dengan detail. Oleh lantaran itu, penambahan laman dengan cerita nan lebih panjang dapat memperluas kandungan nilai dan budaya ini. Bagi para pembaca pun, kandungan nilai budaya nan kuat dapat menjadi bahan pembelajaran dan tambahan wawasan.

Pesan Moral dalam Buku Si Anak Pohon

Si Anak Pohon

button cek gramedia com

Grameds, mungkin bakal susah menerima perubahan diri sendiri, terutama jika kita tiba-tiba berada dalam keadaan nan kita benci. Namun, hidup kudu tetap melangkah seperti biasa. Sebagai manusia, kita nan kudu kuat menghadapi perubahan dan kondisi dalam hidup nan membikin kita merasa benci. Keberanian kita kudu tumbuh seiring dengan masalah nan bakal terus hadir. Itulah pelajaran nan bisa Anda dapatkan di kitab Si Anak Pohon.

Nah, itulah ringkasan pesan moral dari kitab ini. Grameds, jika Anda tertarik dengan kitab ini, langsung saja kunjungi situs gramedia alias toko buku, ya. Gramedia selalu setia menjadi #SahabatTanpaBatas nan bakal memberikan buku-buku berbobot dan original dari penulis terbaik agar Anda dapat #LebihDenganMembaca.

Penulis: Gheani

Rekomendasi Buku Anak

Nanti itu Kapan karya Satoko Miyano

Nanti itu Kapan?

button cek gramedia com

Saat Tocchan minta kudapan, mamanya bilang “nanti”. Saat Tocchan membujuk main, papanya bilang “nanti”. Sebenarnya “nanti” itu kapan, sih? Berapa lama Tocchan kudu menunggu? 1 menit? 2 menit? Atau 1 jam? Tocchan selalu merasa bahwa dia sendirian di rumah. Keluarganya mempunyai toko makanan. Orang tua Tocchan sibuk menjalankan toko dan melayani pelanggan. Setiap kali Tocchan meminta ibu dan ayahnya untuk bermain, alias menanyakan sesuatu kepada mereka, mereka hanya mengatakan “Nanti…”. Orang tuanya tidak segera melakukan apa nan mereka janjikan. Lonely Tocchan mencoba menghabiskan waktunya sendiri. Tocchan nan malang, bertanya-tanya kapan sebenarnya “nanti” itu? Ibu awalnya membeli ini untuk “mengajarkan” anak gimana menunggu. Tapi, Ibulah nan menyadari bahwa apalagi untuk anak kecil, menunggu itu tidak mudah. Padahal, orang dewasa kudu bisa mengatur waktu dan menepati janji untuk anak. Tidak peduli seberapa sibuk mereka. “Nanti Nak”, kalimat itu begitu sering diucapkan tanpa penjelasan berapa lama sang anak kudu menunggu.

Sepeda Ontel Kinanti karya Iwok Abqari

Sepeda Ontel Kinanti

button cek gramedia com

 Sepeda merupakan barang kesayangan Kinanti. Bagi Kinanti, sepeda dapat mengantarkannya menggapai cita-cita menuju masa depan nan lebih baik.

Gadis Kecil Penjaga Bintang karya Wikan Satriati

Gadis Kecil Penjaga Bintang

button cek gramedia com

“Kau bisa saja menganggap doamu menguap sia-sia,namun sesungguhnya angan itu bakal sampai kepada Tuhan.” Gadis Kecil Penjaga Bintang merupakan kumpulan kisah tentang doa;doa untuk orang tua, angan belajar, serta ungkapan rasa syukur Tak ada nan bisa menandingi keelokan dan kemuliaan doa. Sesama, lingkungan sekitar, diri sendiri, terutama kepada Sang Pencipta.

Selengkapnya
Sumber Gramedia Official Blog
Gramedia Official Blog