Review Buku The Book You Wish Your Parents Had Read

May 06, 2026 09:23 AM - 3 hari yang lalu 3655

The Book You Wish Your Parents Had Read – The Book You Wish Your Parents Had Read (Orang Tuamu Wajib Baca Buku Ini, dan Anakmu Akan Senang Jika Kamu Membacanya adalah salah satu kitab yang sangat menarik perhatian beragam generasi.

Dengan memandang judulnya saja, Anda bakal tahu, sedikit banyak kitab ini bakal membahas hal-hal yang relevan tentang hubungan orang tua dan anak. Terutama, bagi Anda yang mempunyai masa mini dengan pengalaman pahit, dan tidak mau anaknya kelak merasakan perihal seperti itu.

Pertama kali diterbitkan pada Maret 2019, kitab The Book You Wish Your Parents Had Read karya Philippa Perry ini sudah datang dalam jenis terjemahan Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Renebook pada 18 Oktober 2022.

Buku ini dipenuhi pesan positif dan penuh optimisme untuk menjadi orang tua yang baik, yang bisa menerapkan pola asuh terbaik bagi anak.

Grameds yang merupakan orang tua alias calon orang tua, direkomendasikan untuk membaca kitab ini. Mari wujudkan pola asuh yang tepat untuk buah hatimu! Informasi lebih komplit mengenai kitab ini sudah Gramin rangkum di bawah ini.

Profil Philippa Perry – Penulis Buku The Book You Wish Your Parents Had Read

Philippa Perry (lahir 1 November 1957) merupakan seorang penulis dan psikoterapis asal Inggris. Ia dikenal melalui sejumlah karyanya, seperti Couch Fiction: A Graphic Tale of Psychotherapy (2010), How to Stay Sane (2012), The Book You Wish Your Parents Had Read (and Your Children Will Be Glad That You Did) (2019), serta The Book You Want Everyone You Love To Read (and Maybe a Few You Don’t) (2023).

Ia menikah dengan Grayson Perry dan dikaruniai seorang putri berjulukan Florence yang lahir pada tahun 1992. Keluarga ini menetap di London. Dalam beragam kesempatan, dia kerap mendapat pertanyaan tentang kehidupannya berbareng sang suami yang dikenal sebagai seorang transvestit, dan dia menjawab dengan ringan bahwa perihal tersebut justru menyenangkan lantaran membuatnya selalu tampil menarik.

Pada tahun 1985, dia mengikuti training dan menjadi relawan di Samaritans. Setelah itu, dia melanjutkan pendidikan sebagai psikoterapis dan menjadi personil Asosiasi Praktisi Psikologi Humanistik Inggris. Selama kurang lebih dua dekade, Perry berkecimpung di bagian kesehatan mental, termasuk sepuluh tahun membuka praktik pribadi, sebelum akhirnya aktif menulis dan menerbitkan karya-karyanya.

Sinopsis Buku The Book You Wish Your Parents Had Read

button cek gramedia com

Setiap orang tua tentu menginginkan kebahagiaan bagi anaknya. Namun, kenyataannya orang tua yang merasa senang tidak selalu bisa menghadirkan kebahagiaan yang sama bagi anak.

Kondisi tersebut kerap menjadi dilema, terutama bagi orang tua baru yang tetap mencari langkah terbaik dalam mengasuh dan mendidik anak dengan tepat sekaligus menyenangkan.

Melalui kitab ini, Perry menghadirkan pendekatan parenting yang berangkat dari hal-hal mendasar. Ia menyoroti bahwa relasi antara orang tua dan anak seringkali terabaikan dalam banyak kitab parenting lain yang lebih menitikberatkan pada metode alias teknik tertentu.

Selain itu, setiap konsep yang disampaikan dilengkapi dengan contoh kasus yang relevan, sehingga memudahkan pembaca memahami situasi nyata sekaligus langkah menerapkannya.

Buku ini mendorong pembaca untuk lebih sadar bahwa kualitas hubungan antara orang tua dan anak memegang peranan krusial dalam proses pengasuhan, serta menjadi pondasi utama dalam membentuk perkembangan anak hingga dewasa.

Kelebihan dan Kekurangan Buku The Book You Wish Your Parents Had Read

Pros & Cons

Pros

  • Bisa dibaca semua kalangan.
  • Pengingat bagi anak & orang tua.
  • Memberikan pengesahan perasaan.
  • Berisi Nasihat praktis.

Cons

  • Generalisasi penyebab masalah.
  • Pendekatan yang terlalu normatif.

Kelebihan Buku The Book You Wish Your Parents Had Read

Buku The Book You Wish Your Parents Had Read karya Philippa Perry merupakan kitab pedoman yang tepat bagi siapapun yang mau belajar tentang pola asuh alias mendalami pola asuh yang diterima dirinya.

  • Bisa dibaca semua kalangan

The Book You Wish Your Parents Had Read adalah kitab untuk semua kalangan. Para orang tua, calon orang tua, alias apalagi Anda yang bukan calon orang tua, tetapi semata-mata untuk mencari tahu kenapa Anda merasakan apa yang Anda rasakan.

Buku tentang pola asuh ini menyajikan hal-hal yang relevan dengan semua kalangan mengenai hubungan orang tua dengan anak.

  • Pengingat bagi anak & orang tua

Buku ini memuat fakta-fakta yang mungkin susah diterima, seperti kebenaran bahwa Anda tidak semestinya diperlakukan seperti itu oleh orang tuamu. Namun, kitab ini berulang kali mengingatkan bahwa selain sebagai orang tua, mereka juga manusia. Manusia yang bisa membikin kesalahan, manusia yang tidak luput dari emosi.

  • Memberikan pengesahan perasaan

Melalui penjelasannya, Philippa Perry membantu pembaca memahami argumen di kembali emosi dan perilaku mereka. Ia mengaitkan pengalaman masa mini dengan kondisi emosional saat ini, sehingga pembaca merasa dipahami.

Buku ini memberikan rasa lega, kejelasan, sekaligus kehangatan yang mungkin selama ini tidak disadari dibutuhkan.

  • Berisi Nasihat praktis

Sebagai seorang psikoterapis, Perry menyampaikan beragam saran yang masuk akal, mudah dipahami, dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ide-ide yang disajikan terasa dekat dengan realitas, terutama bagi mereka yang berkecimpung dalam bumi anak alias keluarga.

Buku ini juga membantu pembaca menciptakan suasana rumah yang lebih sehat dan harmonis.

Kekurangan Buku The Book You Wish Your Parents Had Read

Meskipun kitab The Book You Wish Your Parents Had Read karya Philippa Perry menawarkan banyak kelebihan, kitab ini tetap tidak luput dari kekurangan yang bisa ditingkatkan lagi.

  • Generalisasi penyebab masalah

Sebagian pembaca menilai bahwa kitab ini condong mengaitkan beragam kesulitan dalam mengasuh anak dengan pengalaman masa mini yang kurang baik. Padahal, dalam kenyataannya, tantangan dalam merawat anak, terutama bayi, bisa muncul secara alami dan tidak selalu berakar pada trauma masa lalu. Pendekatan ini membikin beberapa pembaca merasa kurang terwakili.

  • Pendekatan yang terlalu normatif

Di beberapa bagian, pemikiran yang disampaikan terasa cukup berat dan condong menimbulkan rasa bersalah. Meskipun penulis menyatakan tidak mau menghakimi, ada contoh yang dianggap terlalu jauh, seperti mengaitkan kebiasaan orang tua menggunakan ponsel dengan akibat perilaku ekstrem pada anak di masa depan. Hal ini membikin sebagian pembaca merasa pendekatannya kurang proporsional.

Tantangan Parenting di Era Digital

Tantangan mengasuh anak di era digital menurut Philippa Perry dan para master lainnya tidak hanya soal membatasi lama penggunaan layar.

Hal yang jauh lebih krusial adalah gimana menjaga kedekatan emosional tetap terjalin di tengah derasnya distraksi teknologi.

Berikut beberapa tantangan utama yang banyak dihadapi orang tua saat ini:

  • Otoritas Orang Tua vs Pengaruh Gawai

Anak-anak kerap lebih percaya pada info dari platform digital alias figur seperti YouTuber dibandingkan nasihat orang tua maupun guru. Hal ini dapat menggeser peran orang tua sebagai sumber utama pembelajaran dan nilai.

  • Paparan Konten Berisiko

Arus info yang tidak terbendung membuka kesempatan anak terpapar konten yang tidak sesuai usia, mulai dari kekerasan, pornografi, hingga cyberbullying. Dampaknya bisa mempengaruhi perkembangan emosional dan mental anak.

  • Kurangnya Literasi Digital Orang Tua

Tidak sedikit orang tua yang tetap mempunyai pemahaman terbatas tentang teknologi. Kondisi ini membikin mereka kesulitan dalam mengawasi kegiatan digital anak sekaligus memberikan pengarahan yang tepat.

  • Distraksi Koneksi

Penggunaan ponsel yang berlebihan sering kali mengurangi kualitas hubungan langsung. Padahal, menurut Perry, kehadiran penuh secara emosional sangat krusial untuk membantu anak merasa dipahami dan dihargai.

Strategi ala Philippa Perry & Pakar

Perry menekankan bahwa setiap perilaku anak merupakan corak komunikasi, termasuk ketika mereka terlihat terlalu berjuntai pada gawai.

Oleh lantaran itu, pendekatan yang digunakan perlu lebih empatik dan penuh kesadaran.

  • Validasi Emosi, Bukan Reaksi Emosi

Ketika anak marah saat gawainya dibatasi, hindari langsung merespons dengan kemarahan. Cobalah mengakui emosi mereka terlebih dahulu, lampau ajak berbincang tentang batas yang sehat.

  • Menjadi Contoh yang Konsisten

Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika orang tua mau anak lebih bijak dalam menggunakan teknologi, maka orang tua juga perlu menunjukkan kebiasaan yang serupa dalam keseharian.

  • Mengutamakan Kualitas Kebersamaan

Meluangkan waktu tanpa gangguan gawai menjadi langkah penting. Misalnya dengan menerapkan waktu unik di pagi hari, sepulang aktivitas, dan sebelum tidur untuk betul-betul datang dan terhubung secara emosional dengan anak.

  • Tetapkan Batasan Berbasis Autentisitas

Alih-alih memberi larangan tanpa penjelasan, sampaikan argumen dengan jujur dan hangat. Mengungkapkan kemauan untuk menghabiskan waktu berbareng dapat membikin anak lebih memahami dan menerima batas tersebut.

Penutup

Buku The Book You Wish Your Parents Had Read dapat menjadi referensi yang relevan untuk membangun hubungan yang lebih kuat antara orang tua dan anak di tengah tantangan digital.

Pada akhirnya, teknologi mungkin bakal terus berkembang, tetapi kebutuhan anak untuk merasa didengar, dipahami, dan dicintai bakal selalu menjadi perihal yang paling utama.

The Book You Wish Your Parents Had Read merupakan referensi yang sangat layak dipertimbangkan bagi siapa pun yang sedang memulai perjalanan berkeluarga. Namun, nilai kitab ini tidak berakhir disitu saja. Bahkan jika Anda belum alias tidak berencana menjadi orang tua sekalipun, kitab ini tetap menjadi pilihan yang tepat untuk dibaca.

Buku The Book You Wish Your Parents Had Read karya Philippa Perry bisa Anda dapatkan di Gramedia.com ya, Grameds! Untuk mendukung Anda #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan info dan produk terbaik untuk kamu.

Penulis: Gabriel

Rekomendasi Buku

Parenting Your Adult Children

Parenting Your Adult Children

button cek gramedia com

Selama ini membicarakan parenting selalu saja identik dengan membahas mengenai tumbuh kembang anak, mulai dari bayi sampai dengan remaja. Seakan-akan tugas orangtua selesai pada saat anak memasuki usia remaja. Padahal sejatinya, peran sebagai orangtua adalah peran seumur hidup. Orangtua bakal menjadi orangtua sampai kapanpun.

Banyak bentrok yang terjadi justru ketika anak telah memasuki usia dewasa. Bahkan tidak jarang bentrok ini kemudian meruncing dan merusak kedekatan yang selama ini dibangun. Hubungan antara orangtua dan anak dewasa memang menjadi sebuah hubungan yang unik.

Buku ini membahas gimana memelihara hubungan antara orangtua dan anak yang telah dewasa dan cara-cara menyikapi bentrok yang banyak terjadi.

Buku Positive Parenting for Kids: Memahami dan Merespons Perilaku Anak

Positive Parenting for Kids

button cek gramedia com

Usia 2 hingga 7 tahun merupakan masa tumbuh kembang. Pada usia 7 tahun, perkembangan otak anak sudah mencapai 90% dan otaknya bakal terhubung berasas pengalaman-pengalaman yang dimilikinya dan corak perhatian yang didapatkannya sejak lahir. Sebagai orangtua, Anda merasa seolah-olah dituntut untuk mengetahui apa yang kudu “dilakukan” untuk menghadapi anak dengan rentang usia tersebut.

Ketika anak menolak untuk mengenakan jaket alias mencoba untuk menunda waktu tidur, Anda berupaya mencari beragam kata dan tanggapan yang “tepat”, sembari berupaya tetap bekerja. Kamu pasti sudah mengalami masa-masa ketika dihadapkan oleh kemarahan, argumen, alias amukan yang menuju tahap berikutnya.

Buku ini ditulis untuk membantu Anda mengetahui apa yang kudu dilakukan ketika berada di momen-momen seperti itu, dengan memberikan wawasan apa yang sebenarnya terjadi di pikiran anak-anak.

The Parenting Map

The Parenting Map

button cek gramedia com

Sebetulnya, semua orangtua bisa membesarkan buah hati mereka menjadi anak yang sehat, bahagia, dan stabil secara emosional. Namun, banyak orangtua yang terjebak dan kehilangan arah dalam prosesnya. Kondisi ini seperti peledak waktu, memicu hubungan yang tidak selaras serta penderitaan bagi orangtua dan anak.

Padahal, sejatinya, mengasuh anak bukan perkara menjadi orangtua yang paling sempurna alias terbaik, melainkan tentang mempunyai kesadaran, memahami argumen inti dari perjuangan sebagai orangtua.

Selengkapnya