Review Buku Yang Sering Bilang Gapapa, Padahal Berantakannya Luar Biasa

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Grameds, setiap orang pasti pernah mempunyai rasa sakit alias rasa sedih nan luar biasa. Ada orang-orang nan mengungkapkan perasaan-perasaan sakit dan sedih itu dengan menunjukkan kepada orang-orang seperti menangis dan menceritakan rasa sedih itu, namun ada juga nan tidak menunjukkan rasa sakit dan sedih itu kepada orang-orang dan hanya bersikap biasa saja dan mengatakan “gapapa” sedangkan emosi nan dirasakan begitu menyiksa.

Yang Sering Bilang Gapapa, Padahal Berantakannya Luar Biasa

Nah Grameds, apakah ada nan merasakan tentang emosi nan sama? Jika Anda sedang merasakan perihal nan sama sesuai dengan titel buku, mungkin kitab ini bisa membantu Anda untuk menghilangkan rasa “berantakan” di hatimu. Buku ini bakal memberikanmu rasa nyaman nan mungkin tidak bisa Anda dapatkan lantaran Anda selalu menutupi rasa sedih dan sakit dengan kata “gapapa”. Nah Grameds berikut ini adalah ulasan mengenai kitab Yang Sering Bilang Gapapa, padahal Berantakannya Luar Biasa.

Sinopsis Buku nan Sering Bilang Gapapa, padahal Berantakannya Luar Biasa

Yang Sering Bilang Gapapa, Padahal Berantakannya Luar Biasa

Ada nan sedang berantakan, tapi tetap berupaya terlihat waras dan tenang.

Ada nan sedang menopang beban, tapi tetap berupaya tegak dan seimbang. 

Ada nan menangis diam-diam, tapi mencoba tegar dan bertahan. 

Dunia memang terdiri dari banyak kepura-puraan. “Gapapa” menjelma jadi tempat sembunyi paling nyaman. 

Kita bukannya tidak percaya siapa-siapa. Hanya saja, tidak semua pendengar bakal mengerti, alias setidaknya mencoba memahami. 

Akhirnya, nan bisa kita lakukan adalah pulang, pada diri sendiri.

Buku ini bakal menemani Anda menyembuhkan rasa sakit dan emosi nan dirasakan nan sekiranya mengganggu aktivitas dan aktivitas sehari-hari. Buku ini mempunyai 15 bagian dimana pada masing-masing bagian bakal membahas sebagai berikut :

Pada Bagian I bakal membahas mengenai Emosi-Emosi nan Dirasakan, Perlu Diwaraskan. 

Pada Bagian II bakal membahas mengenai “Gapapa”

Pada Bagian III bakal membahas mengenai Istirahat

Pada Bagian IV bakal membahas mengenai Semampunya

Pada Bagian V bakal membahas mengenai Ekspektasi

Pada Bagian VI bakal membahas mengenai Berjuang, Sekali Lagi

Pada Bagian VII bakal membahas mengenai Beranjak dan Tumbuh

Pada Bagian VIII bakal membahas mengenai Apresiasi Diri Sendiri

Pada Bagian IX bakal membahas mengenai Gimana?

Pada Bagian X bakal membahas mengenai Semua Ada Waktunya, kan?

Pada Bagian XI bakal membahas mengenai Sabar, Sebentar Lagi

Pada Bagian XII bakal membahas mengenai Bukan Perlombaan

Pada Bagian XIII bakal membahas mengenai Reda

Pada Bagian XIV bakal membahas mengenai Sesuai Kadarnya

Pada Bagian XV bakal membahas mengenai Mahir

Pada Bagian XVI bakal membahas mengenai Merayakan Luka dan Bahagia

Makin dewasa, kita jadi terbiasa menghadapi hal-hal rumit sendirian. Terlalu sibuk menguatkan díri dengan kata-kata “gapapa”, sampai lupa jika sebenarnya diri sedang butuh bantuan. Butuh untuk díkuatkan, butuh telinga untuk didengarkan. Karena terlalu banyak nan di-gapapa-in dan di-yaudah-in, ketika ada kesempatan untuk nangis, jadinya tumpah semua.

Sering bilang “gapapa” sama diri sendiri, padahal acak-acakan juga. Lebih mudah bilang “gapapa” daripada kudu bercerita tentang apa nan membikin bisingnya isi kepala. Lebih mudah menguatkan diri sendirian, daripada kudu melibatkan orang lain nan sebenarnya juga sedang berupaya untuk tak menyerah menghadapi banyak perihal dalam hidupnya.

“adakalanya, orang-orang tak betul-betul sepeduli itu, mereka hanya mau tahu”

Katanya, diantara banyak duka, Tuhan bakal memberi senang sebagai hadiahnya. Kalau hari ini diberi banyak kecewa, kandas berkali-kali, penolakan, ditinggalkan… hingga membikin kita lagi-lagi hanya bisa bilang “gapapa”, siapa tahu besok banyak bahagianya.

Tidak ada nan perlu ditahan. Tidak semua perihal bisa di gapapa in. Apapun nan sedang dirasakan, mulai sekarang belajar untuk jujur pada diri sendiri. Beri ruang untuk diri membuang segala kerumitan nan ada. Kalau sedang berantakan, akui saja. Biarkan diri melepaskan segala perihal nan tidak bisa dikendalikan. Kalau sedih, silahkan bersedih.  Kalau terluka dan berantakan, silahkan menangis.

“Mulai sekarang, jangan takut pada banyaknya sedih dan kecewa nan datang. Lagi pula,semua hanya sementara, kan?” 

Di depan orang lain, kita selalu terlihat baik-baik saja. Katanya, memendam itu tidak baik. Tapi, kata siapa kita memendam semuanya sendiri? Ketika isi kepala sudah betul-betul penuh, kita kerap bercerita sembari berkendara sendirian. Hal nan cukup efektif untuk mengurangi sedikit isi kepala. Biarkan keluhan-keluhan nan menyesakkan itu terbang terbawa angin dan tertinggal di sepanjang perjalanan nan terlalui.

Tentang Penulis Buku nan Sering Bilang Gapapa, Padahal Berantakannya Luar Biasa

Penulis kitab ini adalah Syarilla Asri nan biasa juga berkawan disapa dengan nama Rilla. Syarilla Asri merupakan penulis nan lahir di Riau pada Juni 1996. Bagi Rilla, jika dia menulis tulisan nan berasal dari hati pasti bakal sampai pula ke hati para pembacanya. Ia percaya bahwa setiap tulisan mempunyai takdir pembacanya sendiri. Buku Yang Sering Bilang Gapapa, Padahal Berantakannya Luar Biasa adalah kitab pertamanya nan terbit di Mediakita.

Selain kitab ini, Rilla juga mengeluarkan kitab keduanya nan sudah terbit dengan titel Ikhlas Saja Tidak Cukup. Buku keduanya ini cocok untuk Anda nan sedang merasa capek dengan hidup dan merasa kehilangan, sedang merasa berada di fase hidup nan rendah dan tidak tahu melakukan apa.

Syarilla Asri juga sering membagikan info mengenai kitab dan tulisannya pada akun media sosial instagram @syarillaasri. Jika Grameds, mau mengenal penulis lebih dekat maka Anda bisa langsung follow akun Instagramnya ya.

Kelebihan dan Kekurangan Buku nan Sering Bilang Gapapa, Padahal Berantakannya Luar Biasa

Yang Sering Bilang Gapapa, Padahal Berantakannya Luar Biasa

Pros & Cons

Pros

  • Merupakan kitab kumpulan quotes
  • Terdapat ilustrasi menarik di dalamnya
  • Mengangkat tema keresahan nan sering terjadi di kalangan anak muda
  • Buku ini dapat menjadi motivasi dan pengobatan diri.

Cons

  • Bahasa nan terlalu puitis

Kelebihan Buku Yang Sering Bilang Gapapa, Padahal Berantakannya Luar Biasa

Yang Sering Bilang Gapapa, Padahal Berantakannya Luar Biasa

Buku ini bukan hanya kitab novel pada umumnya nan membahas mengenai kesehatan mental dengan tulisan nan banyak dan membosankan. Namun kitab ini ditulis dengan konsep kumpulan quote dan ditambahkan ilustrasi nan menarik.

Buku ini mengangkat tema nan menjadi keresahan nan sering dialami oleh anak-anak muda saat ini dalam menjalani proses pendewasaannya. Banyak sekali anak muda nan saat ini membohongi diri sendiri dengan mengatakan ‘gapapa’ namun hati dan dirinya sebenarnya berantakan.

Buku ini dapat menjadi motivasi dan membujuk pembaca untuk menerima dan menghargai diri sendiri hingga dapat menenangkan dan merangkul diri sendiri. Diharapkan pembaca dapat lebih terbuka dan tidak menyalahkan diri sendiri alias menyembunyikan luka dari orang lain.

Kekurangan Buku nan Sering Bilang Gapapa, Padahal Berantakannya Luar Biasa

Yang Sering Bilang Gapapa, Padahal Berantakannya Luar Biasa

Beberapa bahasa penulisan memang susah untuk dipahami lantaran penuh dengan kalimat nan sangat puitis sehingga betul-betul meresapi apa nan ditulis oleh penulis. Gaya penulisan nan kaya bakal metafora dan afinitas seringkali membikin pembaca kudu menggali makna nan lebih dalam untuk memahami pesan nan mau disampaikan.

Bagi beberapa orang, pengalaman membaca teks-teks semacam ini menjadi sebuah perjalanan intelektual nan memuaskan, di mana mereka dapat mengeksplorasi dan merenungkan makna nan tersembunyi di kembali kata-kata.

Namun, bagi sebagian orang lain, kata-kata puitis ini perlu diartikan lebih universal lantaran tidak semua pembaca dapat mengartikannya dengan baik. Mereka mungkin merasa kehilangan alias tidak terhubung dengan karya tersebut jika tidak dapat memahami sepenuhnya apa nan dimaksud oleh penulis.

Penutup

Yang Sering Bilang Gapapa, Padahal Berantakannya Luar Biasa

Grameds itu dia adalah ulasan singkat mengenai kitab Yang Sering Bilang Gapapa, Padahal Berantakannya Luar Biasa. Buku ini cocok untuk Anda nan sedang memendam emosi sedih alias luka namun memilih untuk tidak mengungkapkannya.

Jika Grameds tertarik membaca kitab ini, Grameds bisa mendapatkannya di Gramedia.com alias di toko kitab Gramedia terdekat di kotamu.

Gramedia senantiasa menjadi #SahabatTanpaBatas untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Grameds selalu menyediakan buku-buku berbobot dan original agar Grameds mempunyai info #LebihDenganMembaca.

Penulis: Devina

Rekomendasi Buku Terkait

Atomic Habits: Perubahan Kecil nan Memberikan Hasil Luar Biasa

 Perubahan Kecil nan Memberikan Hasil Luar Biasa

Atomic Habits: Perubahan Kecil nan Memberikan Hasil Luar Biasa adalah kitab kategori self improvement karya James Clear. Pada umumnya, perubahan-perubahan mini seringkali terkesan tak berarti lantaran tidak langsung membawa perubahan nyata pada hidup suatu manusia. Jika diumpamakan sekeping koin tidak bisa menjadikan kaya, suatu perubahan positif seperti meditasi selama satu menit alias membaca kitab satu laman setiap hari mustahil menghasilkan perbedaan nan bisa terdeteksi. Namun perihal tersebut tidak sejalan dengan pemikiran James Clear, dia merupakan seorang master bumi nan terkenal dengan ‘habits’ alias kebiasaan. Ia tahu bahwa tiap perbaikan mini ibaratkan menambahkan pasir ke sisi positif timbangan dan bakal menghasilkan perubahan nyata nan berasal dari pengaruh campuran ratusan apalagi ribuan keputusan kecil. Ia menamakan perubahan mini nan membawa pengaruh nan luar biasa dengan nama atomic habits.

Merawat Luka Batin

Merawat Luka Batin

Merawat Luka Batin adalah kitab nan ditulis oleh seorang Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa berjulukan dr. Jiemi Ardian Sp.Kj. Buku ini berisi tentang proses berpikir, bukan sekadar berpikir dengan positif. Saat emosi sedang tidak baik-baik saja, terlebih pada keadaan depresi, proses pikir kita biasanya ikut andil dalam memperburuk keadaan. Namun, susah bagi kita untuk menyadari proses berpikir nan bermasalah ini lantaran kita menganggapnya sebagai langkah kita memandang realitas. Menyadari pikiran nan keliru saat perihal itu muncul bukanlah perihal nan mudah.

Setiap Luka Akan Pulih

Setiap Luka Akan Pulih

Patah hati, depresi, hingga beberapa kali mau mengakhiri hidup, pernah kulalui saat umur 20-an. Aku merasa tidak kuat menghadapi beban hidup, terlebih saat itu saya merantau sendirian di ibu kota, jauh dari family di Kabanjahe, Sumatra Utara. Lalu, ketika sakit fisikku tak kunjung membaik, rupanya ada di dalam diri ini juga nan perlu diobati. Aku pun ke psikolog, dan dari sanalah saya tahu, bahwa akar dari emosi tidak berkekuatan itu adalah peristiwa-peristiwa di masa kecilku, my inner child. Anak mini nan diabaikan dan tidak mendapatkan perhatian, bakal tumbuh menjadi orang dewasa nan haus perhatian, butuh validasi, dan kandas menghadapi dinamika hubungan. Lewat kitab Setiap Luka bakal Pulih ini, saya menyusuri satu demi satu kejadian di masa lampau dan berupaya pulih dari luka-luka itu. Tidak ada kehidupan nan sempurna. Luka-luka itu pasti ada, tapi percayalah, setiap luka bakal pulih dan besok pasti lebih baik.

Selengkapnya
Sumber Gramedia Official Blog
Gramedia Official Blog