Review Novel The Ocean At The End Of The Lane – Samudra Di Ujung Jalan Setapa

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Grameds, apakah nan bakal Anda lakukan ketika pemondok di rumah keluargamu mencuri mobil mereka dan bunuh diri di dalamnya? Hal ini rupanya membangkitkan kekuatan-kekuatan purba nan semestinya dibiarkan tidak terusik. Ada makhluk gelap nan berasal dari bumi seberang dan Anda hanya berpikir gimana caranya untuk bisa memperkuat hidup. Apakah nan bakal Anda lakukan? Penasaran kan gimana kelanjutan kisahnya?

Jika Anda tertarik dengan novel fiksi bergenre fantasi, maka novel ini bisa menjadi pilihan untuk Anda baca. Neil Gaiman kembali dengan salah satu dongeng terbarunya nan mengisahkan petualangan seorang anak di bumi nan absurd. Buku Samudera di Ujung Jalan Setapak merupakan fabel nan membentuk ulang kisah khayalan modern. Jika Anda tertarik untuk membaca Buku Samudera di Ujung Jalan Setapak maka Anda bisa memandang ulasan berikut ini.

Sinopsis Buku Samudera di Ujung Jalan Setapak

Buku The Ocean at The End of The Lane - Samudra di Ujung Jalan Setapak

Buku ini menceritakan tokoh Aku  nan juga merupakan narator dan tokoh utama dari cerita nan berjulukan George. Dengan mengambil setting sebuah pedesaan Sussex di Inggris, tokoh Aku merupakan seorang laki-laki berumur 40 tahunan nan kembali ke lingkungan tempat dia tumbuh dengan kepentingan menghadiri sebuah pemakaman. Setelah pulang dari pemakaman, laki-laki ini kemudian butuh menjernihkan pikiran dan memilih untuk berkendara di sekitar rumah lamanya nan sudah dihancurkan. Pria ini menelusuri jalan setapak hingga sampailah di sebuah pertanian nan rupanya merupakan rumah temannya family Hempstock. Disana ada Lettie Hempstock nan merupakan anak wanita sebaya dirinya, Ginnie Hempstock nan merupakan ibu dari Lettie dan Mrs. Hempstock tua alias nenek dari Lettie.

George pun semakin menelusuri pertanian ini dan satu kenangan masa kecilnya mulai kembali dengan jelas. Kenangan nan dia ingat dimulai dengan ditemukannya mobil milik ayahnya dan seorang penyewa bilik loteng di ujung jalan setapak itu. Langkah kaki laki-laki ini kemudian berakhir di sebuah kolam bebek dimana kolam ini ukurannya jauh lebih mini dari nama nan lettie berikan ialah samudera. Kolam ini seperti tidak menggambarkan sebuah samudera nan luas. Kemudian terkenang mengenai gadis nan berumur sebelas tahun dengan rambut merah dan hidung pesek dan bintik-bintik hitam di pipinya nan menyeruak. Pria ini ditarik kembali ke beberapa puluh tahun nan lampau ketika dia tetap berumur tujuh tahun.

Awal mula bentrok Lettie dan laki-laki ini adalah ketika mereka tetap berumur tujuh tahun.  Pria ini sendiri melupakan pesan Lettie lantaran tidak melepaskan tangannya ketika berjumpa dengan ‘kutu’. Karena perihal itu tubuh laki-laki ini digunakan oleh sang “kutu” untuk keluar dari bumi nya ke bumi manusia. Sang “kutu” ini datang ke bumi manusia sebagai cacing nan membikin lubang di kakinya, dia berupaya mengeluarkannya namun tidak sukses hingga akhirnya ketika cacing ini keluar dari tubuh laki-laki ini tiba-tiba ada pengasuh dia ketika tetap kecil. Kehadiran pengasuh nan rupanya merupakan jelmaan ‘kutu’ menjadi awal kengerian dalam hidup George ini. Lettie merupakan salah satu dari tiga wanita nan tinggal di pertanian itu dan hanya mereka bertiga lah nan dapat melindungi laki-laki ini dari masalah nan bakal timbul nanti.

Pengasuh baru itu berjulukan Ursula Monkton dan George tidak menyukainya lantaran dia menggoda ayahnya dan semenjak ada pengasuh ini, ayahnya selalu bersikap sadis kepadanya. Georgei akhirnya kabur dari rumah dan tujuannya tentu rumah Lettie Hempstock, ditengah jalan Lettie sukses mengusir Ursula lantaran memasuki tanah pertaniannya. George kemudian ditolong oleh ibu Lettie, dia disuruh mandi dan diberi makan apalagi kedua orangtua Lettie juga menyembuhkan kaki George dan menutup lubang nan ada.

Dari sinilah Lettie menceritakan bahwa sebenarnya Ursula merupakan makhluk dari era Cromwell dan corak sebenarnya adalah kain abu-abu nan kumal. Lettie mengantarkan George pulang ke rumahnya sembari membawa benda-benda asing nan dapat memanggil para pembersih nan rupanya seperti burung-burung hitam. Para pembersih ini langsung menyerang Ursula alias kutu ini.

Setelah Ursula lenyap dimakan pembersih, rupanya pembersih ini tidak mau segera pergi. Lettie menyuruh George berlindung di dalam lingkaran peri nan sebenarnya semak rhododendron yang bentuknya lingkaran, ketika pembersih mulai menyantap segalanya seperti: pohon, bintang-bintang, dan sebagainya. Akhirnya, Lettie dan sang nenek bisa mengatasi para pembersih. Lettie membawa udara dari samudera menggunakan sebuah ember dan meminta George masuk kesana. George ini akhirnya bisa merasakan samudra Lettie nan sebenarnya. Kemudian muncul di kolam bebek dekat rumah Lettie.

Meski kitab ini merupakan fabel namun kitab ini ditujukan untuk orang dewasa ya Grameds. Meski pemeran dalam kitab ini adalah anak-anak namun tidak ada perspektif pandang anak-anak dalam cerita ini. Semua cerita menggunakan perspektif pandang orang dewasa dan mempunyai cerita nan berbelok-belok tentu bukan tipikal kitab cerita untuk anak-anak.

Lalu seperti apakah kelanjutan cerita dari George dan Lettie serta keluarganya? Apakah family Lettie sukses mengusir pembersih dan memusnahkan makhluk purba nan muncul ke bumi manusia? Nah Grameds Anda bisa membacanya pada kitab ini ya !

Tentang Penulis Buku Samudera di Ujung Jalan Setapak

Neil Richard Gaiman alias nan biasa dikenal sebagai Neil Gaiman merupakan penulis asal Inggris nan merupakan penulis Buku Samudera di Ujung Jalan Setapak. Neil lahir pada 10 November 1960, dia merupakan seorang pengarang fiksi pendek, novel, komik, novel grafis, teater rekaman dan juga film. Karya-karya neil nan paling terkenal adalah komik The Sandman dan novel Stardust, American Gods, Coraline, dan The Graveyard Book.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Samudera di Ujung Jalan Setapak

Buku The Ocean at The End of The Lane - Samudra di Ujung Jalan Setapak

Pros & Cons

Pros

  • Alur cerita nan runtut dan Alur cerita nan runtut dan rapi
  • Ceritanya tidak mudah ditebak
  • Terjemahannya nan dapat dipahami dengan baik
  • Cover kitab nan menarik
  • Memberikan kebebasan pembaca untuk berimajinasi
  • Lebih mengarah kepada semi fabel bukan fabel
  • Terdapat beberapa segmen nan membikin ngilu sehingga condong lebih cocok untuk orang dewasa
  • Ceritanya tidak mudah ditebak
  • Terjemahannya nan dapat dipahami dengan baik
  • Cover kitab nan menarik
  • Memberikan kebebasan pembaca untuk berimajinasi

Cons

  • Lebih mengarah kepada semi fabel bukan fabel
  • Terdapat beberapa segmen nan membikin ngilu sehingga cocok sebenarnya untuk orang dewasa

Kelebihan Buku Samudera di Ujung Jalan Setapak

Buku The Ocean at The End of The Lane - Samudra di Ujung Jalan Setapak

Buku ini mempunyai alur cerita nan runtut dan rapi. Tidak terburu-buru untuk menyelesaikan jalan cerita namun penulisnya memberikan cerita nan dapat dinikmati secara perlahan namun tidak muluk-muluk dan tidak bertele-tele.

Cerita pada kitab ini dikemas dengan tidak mudah tertebak dan ketegangan nan tidak mudah dijawab. Maka dari itu perihal ini nan membikin kitab ini tidak membosankan dan malah membikin pembacanya semakin penasaran. Selain itu penulis juga sukses membikin kitab ini tidak begitu menyeramkan namun tetap tegang dengan masalah-masalah nan muncul seperti mulanya ketika kedua anak itu masuk ke rimba dan George melepaskan tangannya.

Buku ini aslinya ditulis dalam Bahasa Inggris dan terjemahannya Bahasa Indonesia mempunyai terjemahan nan sesuai dan tidak membingungkan. Sebuah karya terjemahan nan mudah dipahami oleh para pembacanya menentukan keberhasilan karya tersebut dimata pembacanya. Meski ada beberapa terjemahan nan sebenarnya tidak perlu diterjemahkan namun untuk sebagian orang justru malah menambah keasyikan dari kitab ini sendiri.

Selain itu kitab ini juga mempunyai cover buku nan menarik dan sesuai dengan penggambaran judulnya ialah seseorang nan tenggelam dalam air nan merupakan samudra nan berada di sebuah pertanian ujung jalan.

Buku ini mempunyai banyak ketidaktahuan lantaran banyak hal-hal absurd dan absurd nan digambarkan pada kitab ini seperti siapa family Hempstock? Mengapa kolam bebek Lettie disebut Samudra? Seperti apa bentuk Ursula? Siapa nan meninggal dan dihadiri pemakamannya oleh George? dan tetap banyak lagi. Keabstrakan dan keabsurdan ini dibiarkan oleh penulis agar pembacanya bebas berimajinasi mengenai kitab ini.

Kekurangan Buku Samudera di Ujung Jalan Setapak

Buku The Ocean at The End of The Lane - Samudra di Ujung Jalan Setapak

Pada awalnya dikatakan bahwa kitab ini merupakan fabel, namun kemunculan hewan-hewan tidak banyak dan hanya menjadi cameo saja alias iklan nan numpang lewat. Seperti kucing ajaib nan ceritanya tidak diulas dengan dalam pada cerita dan si “kutu” nan merupakan jelmaan dari sosok purba nan jahat ini nan direpresentasikan dengan corak nan tidak seperti kutu. Selanjutnya ada pembersih nan dapat dibayangkan rupanya merupakan seekor burung pemakan bangkai. Jadinya kitab ini seperti semi fabel.

Buku ini juga mempunyai beberapa segmen nan membikin kita ngilu jika membayangkannya seperti ketika Ayah George nan mencoba menenggelamkan George dalam bak mandi untuk memberikan pelajaran alias apalagi ketika George mengeluarkan kutu dari lubang kakinya.

Penutup

Grameds, kitab ini membujuk pembaca untuk berimajinasi, menciptakan sendiri rangkaian alur cerita, dan penggambarannya sehingga pembaca dapat mengembangkan produktivitas dan juga imajinasinya sendiri.

Nah Grameds, jika Anda tertarik dengan kitab Samudera di Ujung Jalan Setapak kamu bisa mendapatkan bukunya di Gramedia.com alias toko kitab Gramedia terdekat di kotamu!

Gramedia senantiasa menjadi #SahabatTanpaBatas untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berbobot dan original agar Grameds mempunyai info #LebihDenganMembaca

Penulis : Devina

Selengkapnya
Sumber Gramedia Official Blog
Gramedia Official Blog