Riwayat Sumur Zamzam Yang Pernah Tak Terurus

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA,JAKARTA – Sumur Zamzam peninggalan Nabi Ismail tercatat dalam sejarah pernah terabaikan dan tak terurus. Sebelum akhirnya digali kembali hingga airnya bisa dinikmati hingga sekarang. 

Kakek Rasulullah SAW, Abdul Muthalib, pernah diriwayatkan menceritakan mimpinya di suatu ketika. Dalam mimpi itu, beliau diperintahkan untuk menggali sumur Zamzam peninggalan Nabi Ismail nan sudah lama terkubur dan tak terurus.

Dalam kitab Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam karya Abdus Salam Harun dijelaskan, ketika Abdul Muthalib tidur di Hijir Ismail, beliau bermimpi diperintahkan menggali sumur Zamzam.

Beliau, Abdul Muthalib, menceritakan kisahnya sebagai berikut, “Ketika saya sedang tidur di Hijir Ismail, tiba-tiba dalam mimpi saya didatangi oleh seseorang dan berkatalah dia kepadaku, "galilah Thiibah!"

Beliau melanjutkan dan bertanya kembali kepada orang tersebut di dalam mimpinya, “Apa itu Thiibah?” Kemudian orang itu menghilang dan keesokan harinya ketika beliau tidur di tempat semula, beliau bermimpi kembali dan diatangi seseorang dalam mimpi nan berkata, “galilah Madhnuunah!”

Ketika beliau mempertanyakan kembali apa itu Madhnuunah, orang dalam mimpinya itu menghilang. Hingga di keesokan harinya, beliau kembali tidur dan didatangi kembali oleh seseorang nan berkata,  “galilah Zamzam!”

Dalam mimpinya, beliau bertanya apa itu Zamzam. Lalu orang itu menjelaskan bahwa Zamzam adalah sumur nan tiada terkuras lenyap dan tiada mengering. Memberi minum kepada para jamaah haji yang datang berduyun-duyun, dan letaknya di antara kotoran dengan darah di dekat patukan gagak a’sham (A’sham adalah burung gagak nan terdapat bercak putih pada sayapnya).

Konon riwayatnya, ketika Abdul Muthalib hendak memulai menggali sumur Zamzam, dia memandang ciri-ciri nan disebutkan dalam mimpinya. Yakni rumah semut dan patukan gagak. Namun dia belum memandang kotoran dan darah. Ketika beliau sedang memikirkannya, tiba-tiba seekor sapi lepas dari tukang jagal, mereka baru sukses menangkapnya kembali dari Masjid Al-Haram.

Lalu si tukang jagal menyembelihnya di situ. Maka mengalirlah darah dan kotorannya di tempat tersebut. Dari peristiwa itulah kemudian Abdul Muthalib mengerti bahwa tempat itulah nan disebutkan dalam mimpinya. Maka, dia pun menggali sumur Zamzam di sana.

Setelah jelas baginya letak sumur Zamzam itu, Abdul Muthalib pun keluar dengan membawa peralatan nan dibantu oleh putranya berjulukan Al-Harits. Saat itu, anaknya barulah satu orang. Sambil dibantu anaknya, begitu tampak batu penutup sumur maka dia pun bertakbir sehingga orang-orang Quraisy mengetahui bahwa dia telah sukses menemukannya.

Kaum Quraisy pun akhirnya menemui Abdul Muthalib lampau berkata, “Wahai Abdul Muthalib, itu adalah sumur bapak kita, Ismail AS. Berilah bagian untuk kami lantaran kami pun punya kewenangan di dalamnya!” Mendengar itu, beliau pun menjawab, “Tidak! Sumur ini unik bagiku, tidak untuk kalian."

Mendengar jawaban itu, kaum Quraisy pun menantang beliau dan berkata, “Bersikap setara lah, karena kami tidak bakal membiarkanmu begitu saja memilikinya, kami bakal menggugatmu!” Lalu, Abdul Muthalib meminta kepada mereka untuk mengusulkan pengadil guna menjatuhi tuntutan-tuntutan. Akhirnya, kaum Quraisy pun menunjuk Hudzeim nan seorang dukun dari Bani S’'ad sebagai pengadil mereka.

Air nan memancar

Karena Hudzeim tinggal di sebuah dataran tinggi di negeri Syam, Abdul Muthalib disertai dengan beberapa orang dari Bani Abdul Manaf. Mereka berangkat kepada utusan kaum Quraisy dan masing-masing kabilah mengutus satu orang.

Siapa sangka? Di perjalanan menuju dataran tinggi negeri Syam, medan nan mereka lalui tidak lah mudah. Medan nan dilalui berupa padang sahara tandus. Sehingga rombongan Bani Abdul Manaf kehabisan air dan kehausan serta hampir-hampir mati. Mereka pun akhirnya meminta air minum kepada rombongan kaum Quraisy tapi ditolak.

Saat melakukan penolakan itu, kaum Quraisy berkata: “Kami sekarang ini berada di padang sahara nan tandus, kami cemas kehabisan air seperti kalian,”. Mendengar perihal itu, kalangan Bani Abdul Manaf kecewa dan putus asa, mereka hampir-hampir pasrah jika kudu meninggal di padang sahara itu.

Hingga akhirnya Abdul Muthalib menguatkan mereka bahwa sikap pasrah sembari menunggu kematian dalam kondisi seperti sekarang bukanlah perihal nan tepat. Pasrah pada kehausan lampau meninggal tanpa berupaya mencari air terlebih dulu tidaklah dibenarkan.

Lantas Abdul Muthalib membujuk kaumnya untuk terus melangkah dan segera menjauh dari tempat semula. Jauh berjalan, mereka belum juga mendapatkan air pelepas dahaga. Hingga akhirnya beliau bermohon agar diberikan jalan keluar.

Sehingga baru saja hewan tunggangannya melangkah, keluarlah air tawar dari bawah injakan hewan-hewan tersebut. Melihat keajaiban itu, maka bertakbirlah Abdul Muthalib dan ramai-ramai dari mereka meminumnya. Melihat itu, kaum Quraisy akhirnya mengakui kemuliaan beliau dan menyerahkan sumur Zamzam kepadanya. Mereka semua akhirnya kembali ke Makkah tanpa sempat berjumpa dengan dukun tersebut.

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam