<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" version="2.0"> <channel> <title>Kincai Media</title> <description>Portal Berita Seputar Kesehatan, Pendidikan, Teknologi, Gadget, Game, Keuangan, Bisnis, Crypto, Hiburan, Traveling, Budaya, Kuliner, Sastra, Islami, dan Informasi Umum.</description> <image> <title>Kincai Media - Portal Media Online Indonesia</title> <url>https://portal.kincaimedia.net/favicon.ico</url> <link>https://portal.kincaimedia.net/</link> </image> <category>Technology, Finance, Business, Entertainment, Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/</link> <atom:link href="https://portal.kincaimedia.net/rss.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/> <atom:link href="https://portal.kincaimedia.net/" rel="alternate" type="text/html"/> <pubDate>Tue, 18 Aug 2026 22:00:12 +0700</pubDate> <lastBuildDate>Tue, 18 Aug 2026 22:00:12 +0700</lastBuildDate> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <managingEditor>support@kincaimedia.net (Adi Gunawan)</managingEditor> <webMaster>support@kincaimedia.net (Adi Gunawan)</webMaster> <language>id-ID</language> <copyright>Kincai Media</copyright> <generator>Kincai Media</generator> <item> <title>Kisah Anak Kecil, Penyihir, Dan Rahib Sekaligus 30 Hikmah Penting Yang Patut Direnungkan</title> <description>Kisah Anak Kecil, Penyihir, Dan Rahib Sekaligus 30 Hikmah Penting Yang Patut Direnungkan. Kincai Media, JAKARTA— Pada suatu masa, seorang raja mempunyai seorang penyihir. Ketika penyihir itu telah lanjut usia, dia berbicara kepada sang raja, “Aku suda...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/ilustrasi-padang-pasir-_190422200116-580.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/kisah-anak-kecil-penyihir-dan-rahib-sekaligus-30-hikmah-penting-yang-patut-direnungkan-166890.html</link> <content:encoded><![CDATA[
        <p>Kincai Media,&nbsp;JAKARTA&mdash; Pada suatu masa, seorang raja mempunyai seorang penyihir. Ketika penyihir itu telah lanjut usia, dia berbicara kepada sang raja, &ldquo;Aku sudah tua. Karena itu, kirimkan kepadaku seorang anak muda agar saya mengajarinya pengetahuan sihir.&rdquo;</p><p>Raja pun mengirimkan seorang anak kepadanya untuk belajar sihir. Dalam perjalanan menuju tempat sang penyihir, anak itu berjumpa dengan seorang rahib. Ia duduk di hadapan rahib tersebut dan mendengarkan perkataannya. Ia pun tertarik dengan apa yang disampaikan sang rahib.</p> <p>Sejak saat itu, setiap kali hendak pergi kepada penyihir, anak tersebut terlebih dulu singgah menemui rahib dan duduk bersamanya. Ketika datang terlambat kepada penyihir, dia dipukul. Anak itu kemudian mengadukan perihal tersebut kepada rahib.</p><p>Sang rahib berbicara kepadanya, &ldquo;Jika Anda takut kepada penyihir, katakanlah, &lsquo;Aku terlambat lantaran keluargaku menahanku.&rsquo; Jika Anda takut kepada keluargamu, katakanlah, &lsquo;Aku terlambat lantaran penyihir menahanku.&rsquo;&rdquo;</p> <p>Suatu ketika, dalam perjalanannya, anak itu memandang seekor hewan besar yang menghalangi jalan dan membikin orang-orang tidak dapat melintas. Ia berbicara dalam hati, &ldquo;Hari ini saya bakal mengetahui, apakah aliran penyihir yang lebih baik alias aliran rahib yang lebih baik?&rdquo;</p><p>Ia kemudian mengambil sebuah batu dan berdoa, &ldquo;Ya Allah, jika aliran rahib lebih Engkau cintai daripada aliran penyihir, maka bunuhlah hewan ini agar orang-orang dapat melanjutkan perjalanan.&rdquo;</p><p>Anak itu melemparkan batu tersebut hingga hewan itu mati, dan orang-orang pun dapat melanjutkan perjalanan.</p><p>Anak itu kemudian mendatangi rahib dan menceritakan apa yang terjadi. Rahib berbicara kepadanya, &ldquo;Wahai anakku, hari ini Anda lebih baik dariku. Aku memandang bahwa urusanmu telah mencapai apa yang saya saksikan. Sesungguhnya Anda bakal diuji. Jika Anda mendapat ujian, jangan sekali-kali menunjukkan keberadaanku.&rdquo;</p><p>   Setelah itu, anak tersebut diberi keahlian untuk mengobati orang yang buta sejak lahir, penderita kusta, dan beragam macam penyakit. Berita tentang kemampuannya pun tersebar.</p>       
          
                  
        
        		
	 
		
		
	        
      
]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/kisah-anak-kecil-penyihir-dan-rahib-sekaligus-30-hikmah-penting-yang-patut-direnungkan-166890.html</guid> <pubDate>Tue, 18 Aug 2026 22:00:12 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Nashih Nashrullah)</author> </item> <item> <title>8 Pesan Berharga Di Zaman Merebaknya Fitnah Kekacauan Akhir Zaman </title> <description>8 Pesan Berharga Di Zaman Merebaknya Fitnah Kekacauan Akhir Zaman . Kincai Media, JAKARTA—Zaman dimana kita sekarang hidup dan berada adalah adalah masa ketika beragam macam tuduhan semakin merebak. Beragam ujian, kekacauan, ...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/049421400-1720412792-830-556.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/8-pesan-berharga-di-zaman-merebaknya-fitnah-kekacauan-akhir-zaman-166889.html</link> <content:encoded><![CDATA[<p><span>         Ilustrasi Kiamat.
      </span> </p><div data-sticky-container> <p>Kincai Media,&nbsp;JAKARTA&mdash;Zaman dimana kita sekarang hidup dan berada adalah adalah masa ketika beragam macam<a href="https://republika.co.id/tag/fitnah"> tuduhan </a>semakin merebak. Beragam ujian, kekacauan, perselisihan, dan perkara yang dapat mengguncang keagamaan muncul silih berganti.</p><p>Kondisi seperti ini menjadi peringatan bagi setiap Muslim agar semakin berhati-hati dalam menjaga kepercayaan dan tidak mudah terseret arus fitnah.</p> <p>Rasulullah SAW telah mengingatkan umatnya tentang dahsyatnya fitnah. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:</p><p>&#1576;&#1575;&#1583;&#1585;&#1608;&#1575; &#1576;&#1575;&#1604;&#1571;&#1593;&#1605;&#1575;&#1604; &#1601;&#1616;&#1578;&#1606;&#1611;&#1575; &#1603;&#1602;&#1591;&#1593; &#1575;&#1604;&#1604;&#1610;&#1604; &#1575;&#1604;&#1605;&#1592;&#1604;&#1605;&#1548; &#1610;&#1615;&#1589;&#1576;&#1581;&#1615; &#1575;&#1604;&#1585;&#1580;&#1604;&#1615; &#1605;&#1572;&#1605;&#1606;&#1611;&#1575;&#1548; &#1608;&#1610;&#1615;&#1605;&#1587;&#1610; &#1603;&#1575;&#1601;&#1585;&#1611;&#1575;&#1548; &#1608;&#1610;&#1615;&#1605;&#1587;&#1610; &#1605;&#1572;&#1605;&#1606;&#1611;&#1575; &#1608;&#1610;&#1589;&#1576;&#1581; &#1603;&#1575;&#1601;&#1585;&#1611;&#1575;&#1548; &#1610;&#1576;&#1610;&#1593;&#1615; &#1583;&#1610;&#1606;&#1614;&#1607; &#1576;&#1593;&#1585;&#1590;&#1613; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1583;&#1606;&#1610;&#1575;</p> <p>&ldquo;Bersegeralah melakukan amal-amal saleh sebelum datang beragam tuduhan yang ibaratkan potongan malam yang gelap gulita. Seseorang pada pagi hari tetap dalam keadaan beriman, tetapi pada sore harinya menjadi kafir. Pada sore hari dia tetap beriman, tetapi pada pagi harinya menjadi kafir. Ia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.&rdquo; (HR Muslim).</p><p>Hadis ini menggambarkan sungguh cepatnya tuduhan dapat memengaruhi manusia. Karena itu, seorang Muslim tidak boleh merasa kondusif dari ujian.</p><p>Ketika tuduhan merebak, ada sejumlah pesan krusial yang perlu dipegang agar tetap berada di jalan Allah SWT ialah sebagai berikut:</p><h2>Pertama, berlindung kepada Allah dari beragam fitnah</h2> <p>Langkah pertama adalah senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Nabi SAW bersabda:</p> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/8-pesan-berharga-di-zaman-merebaknya-fitnah-kekacauan-akhir-zaman-166889.html</guid> <pubDate>Tue, 18 Aug 2026 21:00:12 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Nashih Nashrullah)</author> </item> <item> <title>Situs Bongal Bikin Rontok Teori Orientalis Belanda, Islam Masuk Nusantara Dari Arab Bukan India</title> <description>Situs Bongal Bikin Rontok Teori Orientalis Belanda, Islam Masuk Nusantara Dari Arab Bukan India. Kincai Media,  Temuan sejumlah artefak mata duit antik beraksara Arab dan Persia dari Situs Bongal, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, berpot...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/temuan-temuan-dari-situs-bongal-kabupaten-tapanuli_260818153059-864.png"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/situs-bongal-bikin-rontok-teori-orientalis-belanda-islam-masuk-nusantara-dari-arab-bukan-india-166888.html</link> <content:encoded><![CDATA[
        <p>Kincai Media, &nbsp;Temuan sejumlah artefak mata duit antik beraksara Arab dan Persia dari Situs Bongal, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, berpotensi menulis ulang sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia. Karena untuk pertama kalinya, ada bukti artefaktual yang mengindikasikan hubungan langsung antara jazirah Arab dengan Nusantara di sekitar abad ke-7 masehi.</p><p>Artefak ini sudah sangat ditunggu-tunggu oleh para arkeolog dan sejarawan yang meneliti perkembangan Islam di Indonesia. Karena sampai saat ini, merujuk pada bukti arkeologis yang ada, ialah nisan antik di Pasai, Aceh, dan di Gresik, maka indikasi Islam sudah ada di Nusantara menjadi jauh lebih muda, ialah di abad ke-12 dan ke-13.</p> <p>Yang lebih mendalam lagi, para peneliti asing di abad ke 19 dan abad ke-20, dari temuan arkeologis yang terbatas itu, mematok bahwa Islam datang di Nusantara tidak dari sumbernya langsung, Arab Saudi, tapi pantai barat<a href="https://republika.co.id/tag/india"> India </a>maupun pantai timur India. Ini bagi sebagian ustadz Indonesia, dianggap 'merendahkan', merujuk apa yang<a href="https://republika.co.id/tag/buya-hamka"> Buya Hamka </a>sampaikan di satu seminar.</p><p>Genealogi teori masuknya Islam ke Indonesia via jalur India dibahas secara mendalam oleh<a href="https://republika.co.id/tag/gwj-drewes"> GWJ Drewes </a>dalam makalahnya 'New Light on the Coming of Islam to Indonesia?' dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 124 (1968), No. 4, Leiden, hlm. 433&ndash;459. Naskah ini merupakan terjemahan makalah yang dibacakan Drewes pada pertemuan Oosters Genootschap di Leiden, 27 Maret 1968.</p> <p>Drewes menggarisbawahi, sebelum berbincang soal teori, ada baiknya menyadari satu perihal sederhana yang jarang disebut: Sejarawan Asia Tenggara bekerja nyaris tanpa temuan fisik.</p><p>Drewes mengutip Paul Wheatley, yang dalam bukunya tentang Semenanjung Melayu menyesalkan daya rusak suasana tropis &mdash; curah hujan, serangga, jamur, dan laju pengendapan aluvial yang begitu cepat. Gabungan semuanya melenyapkan jejak kegiatan manusia begitu manusia pergi. Karena itu Wheatley terpaksa menyusun bukunya dari sumber tertulis: Yunani, India, Arab-Persia, dan Cina.</p><p>Kondisi yang sama menghantui kajian Islamisasi. "Persediaan informasi aktual kita mengenai periode paling awal Islam di Hindia Timur banget miskin," tulis Snouck Hurgronje membuka bagian pidato pengukuhannya di Leiden, 23 Januari 1907. Enam dasawarsa kemudian Drewes mengakui informasi baru memang bertambah, tetapi kelangkaannya belum teratasi.</p><p>Yang tersisa adalah benda-benda yang tidak mudah lapuk &mdash; terutama batu nisan. Menurut Drewes, nisan memberi keterangan yang terbatas tetapi dapat dipercaya, dan lebih dapat dipercaya daripada historiografi lokal, di mana ingatan tentang kehadiran Islam telah dikaburkan legenda sedemikian rupa sehingga sifatnya lebih membangun jiwa daripada merekam peristiwa.</p><p>Namun nisan pun bukan jaminan. Drewes menunjuk laporan Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan, 17&ndash;20 Maret 1963, sebagai contoh sungguh rapuhnya "data baru" jika tidak ditangani secara kritis. Pada satu nisan di Pase, Cowan sudah membaca nomor tahun 823 H (1420 M) pada 1940, sementara H M Zainuddin membacanya 622 H (1225 M). Pada nisan Putri Siti Hawa di Kuala Daya, Ismail Jakub membaca 11 Muharam 460 H (1067 M), Veltman membaca 11 Muharam 962 H (1554 M). Selisihnya berabad-abad, dan reproduksi inskripsinya tidak disertakan.</p>       
          
                  
        
        		
	 
		
		
	        
      
]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/situs-bongal-bikin-rontok-teori-orientalis-belanda-islam-masuk-nusantara-dari-arab-bukan-india-166888.html</guid> <pubDate>Tue, 18 Aug 2026 20:00:11 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Stevy maradona)</author> </item> <item> <title>Sholat Hajat Menurut Imam Al Ghazali, Apa Saja Surah Yang Dibaca?</title> <description>Sholat Hajat Menurut Imam Al Ghazali, Apa Saja Surah Yang Dibaca?. Kincai Media, Sholat rencana merupakan salah satu ibadah sunah yang dilakukan umat Islam ketika menghadapi kebutuhan, kesulitan, alias persoalan yang membutuhka...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/ilustrasi-pria-sedang-melakukan-tasyahud-akhir-dalam_251007114428-672.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/sholat-hajat-menurut-imam-al-ghazali-apa-saja-surah-yang-dibaca-166887.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div data-sticky-container> <p>Kincai Media,&nbsp;Sholat rencana merupakan salah satu ibadah sunah yang dilakukan umat Islam ketika menghadapi kebutuhan, kesulitan, alias persoalan yang memerlukan pertolongan Allah SWT.</p><p>Imam Al-Ghazali dalam <em>Ihya Ulumuddin</em> menjelaskan, sholat rencana bisa dilakukan sebanyak 12 rakaat, sementara sejumlah ustadz dari ajaran lain beranggapan dua alias empat rakaat.</p> <p><span>Dalam Ihya Ulumuddin, ustadz berjulukan komplit Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali tersebut mengungkapkan, &nbsp;sholat sunah rencana diperuntukkan bagi siapa saja yang tengah terhimpit beban atas suatu urusan alias terdesak oleh suatu kebutuhan dalam kemaslahatan kepercayaan maupun dunianya.</span><span></span></p><p> <span>Menurut Imam Al-Ghazal, sholat sunah ini terdiri dari 12 rakaat. Dalam setiap rakaatnya dianjurkan membaca surah Al-Fatihah, yang dilanjutkan dengan membaca ayat Kursi dan surah Al-Ikhlash. </span></p> <p><span>Seusai sholat, hendaknya bermohon dengan rencana (kebutuhan) yang dikehendaki.</span><span></span></p><p> <span>Mengenai hadist yang dijadikan rujukan sholat hajat, salah satunya hadits yang diriwayatkan Abu Abdillah Muhammad ibn Yazid ibn Majah al-Rab&#699;i al-Qazwini yang berkawan disebut Ibnu Majah.</span><span></span></p><p> <span>Usman bin Hunaif meriwayatkan bahwasannya ada seorang laki-laki buta datang kepada Nabi Muhammad SAW dan berkata, "Doakanlah saya agar Allah menyembuhkanku."</span><span></span></p><p> <span>Nabi Muhammad SAW bersabda, "Jika Anda mau, maka saya tangguhkan bagimu dan itu lebih baik, dan jika Anda mau, maka saya bakal doakan kamu."</span><span></span></p><div><video poster="https://static.republika.co.id/uploads/images/headline_slide/melaksanakan-sholat_231221171046-862.jpeg" preload="metadata" loop="loop" controls="controls" width="300" height="150" data-mce-fragment="1"><source src="https://static.republika.co.id/uploads/video/melaksanakan-sholat_231221171047-346.mp4" type="video/mp4"></source></video> <p>Melaksanakan sholat. (ilustrasi)</p> </div> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/sholat-hajat-menurut-imam-al-ghazali-apa-saja-surah-yang-dibaca-166887.html</guid> <pubDate>Tue, 18 Aug 2026 14:30:15 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (A.Syalaby Ichsan)</author> </item> <item> <title>Teguran Allah Untuk Nabi Ibrahim Usai Menolak Bantu Pemeluk Majusi</title> <description>Teguran Allah Untuk Nabi Ibrahim Usai Menolak Bantu Pemeluk Majusi. Kincai Media, KH Ahmad Bahauddin Nursalim alias Gus Baha mengisahkan sebuah riwayat yang menggambarkan luasnya kasih sayang Allah SWT kepada seluruh makhluk-N...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/reruntuhan-ur-kasdim-kota-ur-irak-kini-yang-diyakini_260526191606-140.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/teguran-allah-untuk-nabi-ibrahim-usai-menolak-bantu-pemeluk-majusi-166886.html</link> <content:encoded><![CDATA[<p><span>         Reruntuhan Ur Kasdim (Kota Ur, Irak kini) yang diyakini sebagai daerah tempat kelahiran Nabi Ibrahim AS.
      </span> </p><div data-sticky-container> <p>Kincai Media,&nbsp;<span>KH Ahmad Bahauddin Nursalim alias Gus Baha mengisahkan sebuah riwayat yang menggambarkan luasnya kasih sayang Allah SWT kepada seluruh makhluk-Nya. Dalam kisah tersebut, Nabi Ibrahim Alaihissalam pernah mendapat teguran dari Allah SWT setelah enggan memberi support alias makan seorang majusi yang datang meminta pertolongan.</span></p><p> <span>Dalam potongan video di media sosial, Gus Baha mengisahkan, banyak riwayat dari para sufi yang mengisahkan<a href="https://republika.co.id/tag/nabi-ibrahim"> Nabi Ibrahim </a>diminta tolong orang non Islam yang berakidah majusi.</span></p> <p> <span>Dikisahkan Gus Baha, Nabi Ibrahim pernah berjumpa orang majusi. Orang majusi tersebut berbicara kepada Nabi Ibrahmi, "Engkau sering memberi makan kepada orang-orang, bisakah engkau memberi makan saya sehari saja?"</span></p><p> <span>Nabi Ibrahim berbicara kepada orang majuisi itu, "Bisa saya beri makan tapi Anda kudu memeluk Islam."&nbsp;</span><span>Menurut Gus Baha, Nabi Ibrahim ketika itu berpandangan bahwa jika dia menolong orang Majusi artinya sama saja dengan menolong orang kafir.</span></p> <p> <span>Kemudian, orang Majusi itu meninggalkan Nabi Ibrahim yang tidak mau memberinya pertolongan berupa memberi makanan.</span></p> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/teguran-allah-untuk-nabi-ibrahim-usai-menolak-bantu-pemeluk-majusi-166886.html</guid> <pubDate>Tue, 18 Aug 2026 12:00:12 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (A.Syalaby Ichsan)</author> </item> <item> <title>Menjadi Seorang Muslim Yang Visioner</title> <description>Menjadi Seorang Muslim Yang Visioner. “Impulsif”, sebuah kata yang maknanya sederhana: tindakan tiba-tiba tanpa dipikir panjang. Dalam keseharian, kita mengenalnya sebagai keputusan yang diambil saa...</description> <media:thumbnail url="https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2026/08/Muslim-Visioner-1.webp"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/menjadi-seorang-muslim-yang-visioner-166885.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div><p><strong>&ldquo;Impulsif&rdquo;,</strong> sebuah kata yang maknanya sederhana: tindakan tiba-tiba tanpa dipikir panjang. Dalam keseharian, kita mengenalnya sebagai keputusan yang diambil saat emosi memuncak&mdash;marah, kecewa, alias sekadar kesal&mdash;tanpa sempat menimbang dampaknya. Orang yang impulsif biasanya hanya merespons, bukan merencanakan. Ia bergerak lantaran pancingan, bukan lantaran tujuan. Dan di era yang serba sigap ini, di mana segala sesuatu berebut menarik perhatian kita, sikap impulsif menjadi jebakan yang kian susah dihindari. Padahal, Islam sangat memuliakan ketenangan, perencanaan, dan sikap tidak tergesa-gesa. Allah <em>Ta&rsquo;ala</em> apalagi menyifati pembuatan langit dan bumi dengan penuh perhitungan, bukan dengan ketergesaan. Maka, seorang mukmin semestinya meneladani prinsip ini dalam setiap masalah, sekecil apa pun.</p><p>Coba renungkan sejenak: berapa banyak penyesalan yang lahir dari keputusan yang kita ambil tanpa pikir panjang? Kata-kata yang terlepas dari lisan saat marah, janji yang diucapkan tanpa perhitungan, alias pilihan-pilihan mini yang rupanya membawa akibat besar. Rasulullah &#65018; mengingatkan,</p><p><span>&#1575;&#1604;&#1578;&#1614;&#1617;&#1571;&#1614;&#1606;&#1616;&#1617;&#1610; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1614;&#1617;&#1607;&#1616; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1614;&#1580;&#1614;&#1604;&#1614;&#1577;&#1615; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1588;&#1614;&#1617;&#1610;&#1618;&#1591;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;</span></p><p>&ldquo;Ketenangan dan tidak tergesa-gesa itu dari Allah, sedangkan tergesa-gesa itu dari setan.&rdquo; (HR. Abu Ya&rsquo;la no. 4256 dan Al-Baihaqi dalam <em>As-Sunan Al-Kubra</em> no. 20270, dinilai <em>hasan</em> oleh <a href="https://muslim.or.id/27562-biografi-asy-syaikh-al-muhaddits-muhammad-nashiruddin-al-albani-1.html">Al-Albani</a> dalam <em>Silsilah Ash-Shahihah</em> no. 1795)</p><p>Jika ketenangan itu berasal dari Allah, maka perencanaan adalah salah satu corak ikhtiar untuk meraih ketenangan itu. Orang yang merencanakan urusannya sedang berupaya menyerupai hikmah <em>ilahi</em> dalam mengatur segala sesuatu. Tentu, perencanaan manusia tidak bisa sempurna, dan di atas segalanya, Allah-lah sebaik-baik perencana. Namun, sebagai hamba, kita diperintahkan untuk melakukan secara <em>ihsan</em> (profesional dan sebaik mungkin), termasuk dalam mengelola waktu dan keputusan. Allah <em>Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1608;&#1614;&#1571;&#1614;&#1581;&#1618;&#1587;&#1616;&#1606;&#1615;&#1608;&#1575; &#1755; &#1573;&#1616;&#1606;&#1614;&#1617; &#1575;&#1604;&#1604;&#1614;&#1617;&#1607;&#1614; &#1610;&#1615;&#1581;&#1616;&#1576;&#1615;&#1617; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1581;&#1618;&#1587;&#1616;&#1606;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614;</span></p><p>&ldquo;Dan melakukan baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang melakukan baik.&rdquo; (QS. Al-Baqarah [2]: 195).</p><p>Maka, menulis rencana bukan sekadar kebiasaan produktif ala <em>self-help,</em> tetapi menjadi gambaran dari sikap <em>ihsan</em> seorang muslim terhadap waktu dan amanah hidupnya.</p><h2><span id="Mengapa_kita_merindukan_waktu_luang_tetapi_menyia-nyiakannya_saat_ia_datang"></span><strong><b>Mengapa kita merindukan waktu luang, tetapi menyia-nyiakannya saat dia datang?</b></strong><span></span></h2><p>Ada kejadian yang cukup umum kita alami: saat disibukkan oleh pekerjaan alias tugas, kita mengeluh kelelahan dan merindukan waktu luang. Dalam lamunan, kita membayangkan bakal melakukan banyak perihal produktif saat libur tiba&mdash;membaca Al-Qur&rsquo;an, berzikir, membaca kitab yang lama tertunda, menulis, belajar keahlian baru, alias sekadar membersihkan hati dengan ibadah yang lebih khusyuk. Tapi, anehnya, ketika waktu senggang itu betul-betul hadir, kita justru kebingungan. &ldquo;Mau ngapain, ya?&rdquo; gumam kita di pagi hari sembari memandangi langit-langit kamar. Lalu, tanpa sadar, tangan meraih gawai, notifikasi satu per satu dibuka, dan tanpa terasa tiga jam berlalu hanya untuk <em>scrolling</em> tanpa tujuan.</p><p>Mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya sederhana: lantaran kita tidak punya rencana. Waktu senggang yang tidak direncanakan bakal dengan mudah diisi oleh hal-hal yang tidak bernilai. Setan sangat piawai mengisi kekosongan; bukan hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam aspek manajemen waktu. Dalam kekosongan rencana, dia bisikkan kemalasan. Ia hiasi kesia-siaan dengan tampilan yang menghibur. Akhirnya, waktu yang mulia berubah menjadi penyesalan. Rasulullah &#65018;&nbsp;bersabda,</p><p><span>&#1606;&#1616;&#1593;&#1618;&#1605;&#1614;&#1578;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;&nbsp;&#1605;&#1614;&#1594;&#1618;&#1576;&#1615;&#1608;&#1606;&#1612;&nbsp;&#1601;&#1616;&#1610;&#1607;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575;&nbsp;&#1603;&#1614;&#1579;&#1616;&#1610;&#1585;&#1612;&nbsp;&#1605;&#1616;&#1606;&#1614;&nbsp;&#1575;&#1604;&#1606;&#1614;&#1617;&#1575;&#1587;&#1616;: &#1575;&#1604;&#1589;&#1616;&#1617;&#1581;&#1614;&#1617;&#1577;&#1615;&nbsp;&#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1601;&#1614;&#1585;&#1614;&#1575;&#1594;&#1615;</span></p><p>&ldquo;Dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu (rugi) di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.&rdquo; (HR.<a href="https://muslim.or.id/640-mengenal-imam-bukhari.html"> Al-Bukhari</a> no. 6412)</p><p>Hadis ini begitu populer, tetapi seringkali kita hanya menghafalnya tanpa meresapi. Waktu senggang adalah nikmat yang kelak bakal dimintai pertanggungjawaban. Waktu senggang itu bukan untuk dibunuh, melainkan untuk dihidupi dengan rencana yang bermanfaat. Dan rencana itu tidak bakal muncul begitu saja; kudu ditulis, dipikirkan, dan disengaja.</p><h2><span id="Kiat_sederhana_melawan_distraksi"></span><strong><b>Kiat sederhana melawan distraksi</b></strong><strong><b><br> </b></strong><span></span></h2><p>Pernahkah Anda mengalaminya? Malam hari, sebelum tidur, tekad sudah bulat: besok pagi bakal menulis rencana, membikin target, alias sekadar membereskan catatan-catatan yang berceceran di kepala. Namun, begitu pagi datang dan jemari baru saja membuka aplikasi catatan di ponsel, tiba-tiba sebuah notifikasi mampir. Grup <em>WhatsApp</em> ramai membahas sesuatu, media sosial menawarkan video pendek yang &ldquo;menarik&rdquo;, alias <em>marketplace</em> mengirimkan potongan nilai yang susah diabaikan. Dan tanpa terasa, tiga jam lenyap begitu saja. Rencana yang semula terang benderang di pikiran, tiba-tiba redup, lampau padam. Menjelang malam, penyesalan datang. Tapi keesokan harinya, siklus yang sama terulang lagi. Inilah potret kita hari ini: selalu beriktikad baik, tetapi kalah oleh algoritma yang memang dirancang untuk mencuri fokus.</p><p>Di sinilah saya mau menyampaikan saran yang sangat sederhana: miliki sebuah kitab notes mini dan pulpen. Ya, manual. Bukan digital. Bukan aplikasi canggih yang katanya bisa menyinkronkan segalanya. Sebab, kita semua maklum, perangkat yang sama yang kita gunakan untuk &ldquo;produktif&rdquo; adalah perangkat yang sama yang membuka ribuan pintu distraksi. Godaan itu nyata, dan dia dikemas sedemikian rupa agar kita lengah. Maka, sebelum menyesali waktu yang lenyap sia-sia, lebih baik kita mundur sejenak dari layar. Kita kembali kepada barang yang sunyi: kertas dan tinta. Tak mempunyai notifikasi. Tidak pula mengirimkan peringatan diskon. Ia hanya diam, menunggu tuannya mencurahkan isi kepala dan hatinya.</p><p>Duduklah berbareng kitab mini itu dalam keheningan. Momen ini adalah salah satu corak <em>khalwah</em> yang dianjurkan; bukan menyendiri untuk melakukan maksiat, tetapi menyendiri untuk menata jiwa dan pikiran. Para ustadz kita terdahulu banget berkawan dengan kebiasaan ini. <em>Al-Imam</em> Al-Khaththabi <em>rahimahullah</em> (w. 388 H) menuturkan dalam kitabnya, <em>Al-&lsquo;Uzlah,</em></p><p><span>&#1605;&#1614;&#1575; &#1585;&#1614;&#1571;&#1614;&#1610;&#1618;&#1578;&#1615; &#1588;&#1614;&#1610;&#1618;&#1574;&#1611;&#1575; &#1571;&#1614;&#1588;&#1614;&#1583;&#1614;&#1617; &#1578;&#1614;&#1579;&#1618;&#1576;&#1616;&#1610;&#1578;&#1611;&#1575; &#1604;&#1616;&#1604;&#1618;&#1573;&#1616;&#1610;&#1605;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;&#1548; &#1608;&#1614;&#1571;&#1614;&#1606;&#1618;&#1601;&#1614;&#1609; &#1604;&#1616;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;&#1593;&#1618;&#1589;&#1616;&#1610;&#1614;&#1577;&#1616;&#1548; &#1608;&#1614;&#1571;&#1614;&#1581;&#1618;&#1610;&#1614;&#1575; &#1604;&#1616;&#1604;&#1618;&#1602;&#1614;&#1604;&#1618;&#1576;&#1616; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1615;&#1586;&#1618;&#1604;&#1614;&#1577;&#1616; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1578;&#1614;&#1617;&#1601;&#1614;&#1603;&#1615;&#1617;&#1585;&#1616;</span></p><p>&ldquo;Aku tidak pernah memandang sesuatu yang lebih mengokohkan iman, lebih meniadakan kemaksiatan, dan lebih menghidupkan hati, melampaui <em>&lsquo;uzlah</em> (menyendiri) dan tafakur.&rdquo; (Al-Khaththabi, <em>Al-&lsquo;Uzlah,</em> hal. 44)</p><p>Dalam sunyi berbareng kitab catatan, otak kita dipaksa kembali bekerja, merangkai kata, mengurai masalah, dan merumuskan rencana. Tidak seperti mengetik di gawai yang seringkali otomatis dan sigap berlalu, menulis dengan tangan melibatkan proses kognitif yang lebih dalam. Ini adalah latihan bagi pikiran yang selama ini mungkin terlalu sering dimanjakan oleh kepintaran buatan.</p><p>Dengan kitab itu, tuliskan apa saja. Besok bakal mengerjakan apa. Pekan ini sasaran apa yang kudu dicapai. Kegelisahan apa yang mengganjal. Pengalaman baik yang baru saja terjadi. Atau, kesalahan yang kudu segera diperbaiki. Luapkan. Jangan pedulikan apakah tulisan itu rapi, indah, alias layak dipublikasikan. Tulisan yang jujur&mdash;yang lahir murni dari hati&mdash;memang tidak selalu rapi. Ia punya cela, punya luka. Dan di situlah letak autentisitasnya. Sebab, jika kita hanya menginginkan tulisan yang sempurna, AI bisa melakukannya dalam hitungan detik. Tetapi, bisakah mesin menggantikan kepuasan jiwa saat kita menuangkan isi jiwa sendiri di atas kertas? Tentu tidak. Karena yang kita butuhkan bukan sekadar deretan kata yang tersusun apik, melainkan jejak kejujuran yang bisa kita baca kembali suatu hari nanti&mdash;sebagai pengingat bahwa kita pernah berjuang, pernah lemah, dan pernah bangkit lagi. Allah <em>Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575; &#1578;&#1614;&#1603;&#1615;&#1608;&#1606;&#1615;&#1608;&#1575; &#1603;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614;&#1617;&#1584;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614; &#1606;&#1614;&#1587;&#1615;&#1608;&#1575; &#1575;&#1604;&#1604;&#1614;&#1617;&#1607;&#1614; &#1601;&#1614;&#1571;&#1614;&#1606;&#1618;&#1587;&#1614;&#1575;&#1607;&#1615;&#1605;&#1618; &#1571;&#1614;&#1606;&#1618;&#1601;&#1615;&#1587;&#1614;&#1607;&#1615;&#1605;&#1618;</span></p><p>&ldquo;Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.&rdquo; (QS. Al-Hasyr [59]: 19)</p><p>Orang yang terlalu sibuk menatap layar&mdash;hingga melupakan dirinya sendiri&mdash;sedang berada dalam bahaya. Buku mini dan pulpen ini adalah perangkat sederhana untuk kembali mengingat: siapa kita, apa tujuan kita, dan ke mana langkah kaki ini hendak menuju.</p><h2><span id="Biasakan_merencanakan_biasakan_menyelesaikan"></span><strong><b>Biasakan merencanakan, biasakan menyelesaikan</b></strong><span></span></h2><p>Kebiasaan merencanakan dan menulis ini mungkin bakal terasa canggung di awal. Tapi, percayalah, jika sudah menjadi kebiasaan, hidup Anda bakal terasa jauh lebih teratur. Saya berbincang dari pengalaman. Banyak dari kita menjalani hari-hari secara reaktif: ada masalah, bereaksi; ada ajakan, ikut; ada peluang, menyambar. Tanpa rencana, kita menjadi seperti kapal tanpa kemudi&mdash;bergerak, tetapi tidak menuju ke mana-mana. Padahal, seorang mukmin sejati adalah orang yang mempunyai visi. Ia tahu ke mana dia berjalan, lantaran dia sadar bahwa hidup ini adalah perjalanan menuju Allah. Setiap langkah, setiap keputusan, dan setiap pilihan bakal dihisab. Maka, dia tidak bakal membiarkan hari-harinya berlalu tanpa isi yang berarti.</p><p>Setelah merencanakan, langkah berikutnya adalah mengeksekusi. Di sinilah letak tantangannya. Banyak orang pandai membikin rencana, tetapi hanya sedikit yang bisa menyelesaikannya. Di sinilah kitab mini itu kembali berperan. Ketika Anda mencoret item demi item yang telah sukses dikerjakan, ada rasa puas dan lega yang susah digambarkan. Coretan itu adalah bukti bahwa Anda maju. Bahwa Anda bukan sekadar pemimpi, tetapi pelaku. Rasulullah &#65018; bersabda,</p><p><span>&#1575;&#1581;&#1618;&#1585;&#1616;&#1589;&#1618; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609; &#1605;&#1614;&#1575; &#1610;&#1614;&#1606;&#1618;&#1601;&#1614;&#1593;&#1615;&#1603;&#1614;&#1548; &#1608;&#1614;&#1575;&#1587;&#1618;&#1578;&#1614;&#1593;&#1616;&#1606;&#1618; &#1576;&#1616;&#1575;&#1604;&#1604;&#1614;&#1617;&#1607;&#1616; &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575; &#1578;&#1614;&#1593;&#1618;&#1580;&#1616;&#1586;&#1618;</span></p><p>&ldquo;Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang berfaedah bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah Anda merasa lemah.&rdquo; (HR. <a href="https://muslim.or.id/3984-mengenal-imam-muslim.html">Muslim</a> no. 2664).</p><p>Perhatikan tiga kata kunci dalam sabda ini: <em>ihrish</em> (bersungguh-sungguh),<em> ista&rsquo;in billah</em> (minta tolong kepada Allah), dan <em>la ta&rsquo;jiz</em> (jangan lemah). Merencanakan adalah bagian dari <em>ihrish.</em> Berdoa agar rencana dimudahkan adalah <em>ista&rsquo;in billah.</em> Dan mengeksekusi rencana hingga selesai tanpa menyerah di tengah jalan adalah corak menjauhi <em>&lsquo;ajz</em> (kelemahan). Betapa padunya ruh produktivitas Islami yang diajarkan oleh Nabi kita &#65018;.</p><p>Akhirnya, marilah kita mulai dari sekarang. Jangan menunggu tahun baru, jangan menunggu awal bulan, jangan menunggu hari Senin. Ambillah selembar kertas, alias kitab mini yang mungkin sudah lama terlupakan di laci. Tuliskan rencana Anda untuk besok, alias apalagi untuk satu jam ke depan. Coret apa yang sudah selesai. Tulis pula apa yang berkecamuk di hati. Biarkan dia menjadi saksi bahwa Anda pernah berjuang untuk menjadi hamba yang lebih tertib, lebih terencana, dan lebih siap menghadapi hari esok&mdash;baik hari besok di dunia, maupun hari besok di alambaka yang abadi.</p><p><em>Wallahu a&rsquo;lam bish-shawab.</em></p><p><em><strong>Baca juga: </strong></em><a href="https://muslim.or.id/37903-memanfaatkan-waktu-luang-untuk-hal-hal-yang-bermanfaat.html"><em><strong>Memanfaatkan Waktu Luang untuk Hal-Hal yang Bermanfaat</strong></em></a></p><p><strong>***</strong></p><p><strong>Penulis: <span>Fauzan Hidayat</span></strong></p><p><strong>Artikel <span>Kincai Media</span></strong></p></div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/menjadi-seorang-muslim-yang-visioner-166885.html</guid> <pubDate>Tue, 18 Aug 2026 11:00:16 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Fauzan Hidayat)</author> </item> <item> <title>Etika Bermedia Sosial: Ketika Lisan Dan Jari Menentukan Arah</title> <description>Etika Bermedia Sosial: Ketika Lisan Dan Jari Menentukan Arah. BincangSyariah.com– Perkembangan peradaban manusia dewasa ini ditandai oleh paradoks yang kian tajam. Di satu sisi, teknologi komunikasi dan media sosial telah ...</description> <media:thumbnail url="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/2150208242.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/etika-bermedia-sosial-ketika-lisan-dan-jari-menentukan-arah-166884.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div> <div><figure><a href="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/2150208242.jpg" data-caption=" Ketika Lisan dan Jari Menentukan Arah"><img width="696" height="539" src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/2150208242.jpg" srcset="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/2150208242-696x539.jpg 696w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/2150208242-640x496.jpg 640w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/2150208242-768x595.jpg 768w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/2150208242-542x420.jpg 542w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/2150208242.jpg 1000w" sizes=" 696px) 100vw, 696px" alt=" Ketika Lisan dan Jari Menentukan Arah" title=" Ketika Lisan dan Jari Menentukan Arah"></a>Etika Bermedia Sosial: Ketika Lisan dan Jari Menentukan Arah</figure></div> <p><a href="https://bincangsyariah.com">BincangSyariah.com</a>&ndash; Perkembangan peradaban manusia <a href="https://bincangsyariah.com/tag/buku-dewasa/" data-type="post_tag" data-id="15040">dewasa </a>ini ditandai oleh paradoks yang kian tajam. Di satu sisi, teknologi komunikasi dan media sosial telah meruntuhkan batas-batas geografis, mendekatkan yang jauh, serta membuka akses info tanpa batas. </p> <p>Di sisi lain, ruang-ruang digital ini sering kali berubah menjadi arena pertarungan ego, panggung penghakiman massal, dan ladang subur bagi lahirnya kekerasan simbolik.</p> <p>Manusia modern hidup dalam keterhubungan yang masif, namun ironisnya kian terasing secara batin. Di tengah lanskap sosial yang semakin rentan ini, ujian hidup yang dihadapi perseorangan (baik berupa kegagalan ekonomi, krisis mental, maupun penderitaan personal) tidak lagi sekadar urusan privat. Sering kali, penderitaan tersebut diekspos ke ruang publik, mengundang perhatian, empati, tetapi tak jarang pula memancing cercaan.</p> <p>Fenomena ini melahirkan sebuah pertanyaan <a href="https://bincangmuslimah.com/" data-type="link" data-id="https://bincangmuslimah.com/">filosofis</a> dan etis yang mendasar: <em>bagaimana semestinya manusia bersikap terhadap penderitaan sesamanya di era ketika setiap orang mempunyai kuasa untuk berbincang dan berkomentar? </em>Adagium sederhana namun sarat makna, <em>&ldquo;Kalau tak bisa membantu jangan jadi penambah luka&rdquo;, </em>bukan sekadar ungkapan normatif belaka.</p> <p>Kalimat ini menyimpan kedalaman reflektif mengenai orientasi moral eksistensi manusia di hadapan sesamanya. Ketika seseorang tengah berada dalam tubir kehancuran alias ujian berat, kehadiran pihak lain di sekitarnya menentukan apakah mereka bakal menemukan jalan kebangkitan alias justru semakin terjerumus ke dalam lembah keputusasaan.</p> <p>Sebagai makhluk sosial yang terikat oleh jalinan empati, manusia memikul tanggung jawab moral yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Ruang publik digital semestinya tidak menjadi tempat bagi matinya nurani, melainkan wadah di mana kemanusiaan diuji dan dibuktikan.</p> <p>Mari kita kupas-tuntas secara kritis dan filosofis gimana etika lisan, tanggung jawab eksistensial, serta keistimewaan adab memegang peran sentral dalam merawat kewarasan dan martabat manusia di tengah gelombang penderitaan global.</p> <p><strong>Dekonstruksi Ruang Digital: Dari Empati Menuju Industri Penghakiman</strong></p> <p>Media sosial pada hakikatnya diciptakan sebagai perangkat penunjang konektivitas dan pertukaran pendapat yang demokratis. Namun, dalam praktiknya, ruang digital kerap mengalami distorsi fungsional. Algoritma <em>platform</em> dirancang untuk memicu keterlibatan emosional, yang dalam banyak kasus justru mengeksploitasi sisi gelap ilmu jiwa manusia: kemarahan, kebencian, dan moralisme instan.</p> <p>Dalam ekosistem seperti ini, empati mengalami reduksi drastis. Seseorang yang sedang mengalami musibah tidak lagi dilihat sebagai subjek yang utuh dengan segala kerentanan psikologisnya, melainkan direduksi menjadi objek tontonan, bahan kajian kilat, alias sasaran lembek untuk melampiaskan superioritas moral semu.</p> <p>Secara filosofis, kejadian ini dapat dijelaskan melalui konsep <em>panoptikon digital.</em> Jika dalam pandangan Michel Foucault <em>panoptikon</em> <em>arsitektural</em> mendisiplinkan tubuh melalui pengawasan yang konstan, maka <em>panoptikon digital</em> bekerja dengan langkah yang lebih merusak: setiap perseorangan merasa berkuasa mengawasi, menilai, dan menjatuhkan vonis terhadap kehidupan orang lain. Komentar-komentar yang dilontarkan di kolom komentar bukan lagi corak dialog, melainkan monumen ego yang dibangun di atas reruntuhan psikologis orang lain.</p> <p>Ketika seseorang tertimpa musibah, respon spontan yang lahir dari jemari netizen seringkali diwarnai oleh bias konfirmasi dan ketiadaan jarak reflektif. Jarak bentuk dan anonimitas yang ditawarkan oleh layar gawai memberikan ilusi kebebasan mutlak: sebuah kebebasan tanpa tanggung jawab etis.</p> <p>Akibatnya, alih-alih menghadirkan kelegaan, komentar-komentar pedas, sinis, alias apalagi yang berbalut nasihat sarkastik justru menjadi beban tambahan yang menghancurkan sisa-sisa ketahanan mental korban. Di sinilah teknologi kandas menjalankan fungsinya sebagai instrumen humanisasi, dan justru berubah menjadi instrumen alienasi serta destruksi psikologis.</p> <p><strong>Dimensi Filosofis Penderitaan dan Tanggung Jawab Eksistensial</strong></p> <p>Penderitaan <em>(suffering)</em> adalah bagian inheren dari kondisi manusia <em>(human condition).</em> Sejak era kuno, para ahli filsafat dari beragam tradisi filosofis telah mencoba memetakan makna di kembali penderitaan.</p> <p>Dalam pandangan eksistensialisme, penderitaan sering kali memaksa perseorangan untuk menghadapi absurditas eksistensi dan pemisah dari keahlian rasionalnya. Ketika seseorang diuji oleh kesulitan, struktur psikologis dan sosialnya mengalami guncangan hebat. Pada titik inilah kehadiran &ldquo;Yang Liyan&rdquo; <em>(The Other)</em> menjadi sangat krusial.</p> <p>Filsuf moral Levinas mengajarkan bahwa etika mendahului ontologi. Tanggung jawab terhadap Yang Liyan bukanlah sesuatu yang dipilih secara sukarela, melainkan sebuah tanggungjawab esensial yang lahir seketika kita menatap wajah sesama manusia yang rapuh.</p> <p>Wajah orang yang menderita menuntut kita untuk tidak tinggal diam, menuntut agar kita tidak menambah beban penderitaan tersebut. Levinas menegaskan bahwa subjek yang etis adalah subjek yang menempatkan dirinya sebagai penjaga bagi saudaranya, bukan sebagai pengeksekusi yang memperparah keadaan.</p> <p>Oleh lantaran itu, ketika seseorang tidak mempunyai kapabilitas material (baik harta, jabatan, maupun tenaga) untuk meringankan beban bentuk orang lain, bukan berfaedah dia kehilangan signifikansi moralnya. Ada ranah eksistensial lain yang sepenuhnya berada dalam kendali otonomi individu, ialah lisan dan pikiran.</p> <p>Dengan kata lain, memilih untuk tidak menyakiti, memilih untuk menahan diri dari komentar destruktif, adalah corak manifestasi tertinggi dari kebebasan yang bertanggung jawab. Tanggung jawab eksistensial menuntut kesadaran bahwa setiap kata yang dilepaskan ke ruang publik mempunyai berat ontologis; dia dapat menjadi daya yang menghidupkan alias racun yang mematikan.</p> <p><strong>Bait Hikmah Penyair: Estetika Etika dan Kekuatan Bahasa yang Menyembuhkan</strong></p> <p>Tradisi intelektual Islam dan sastra klasik Arab kaya bakal kearifan mengenai etika berbincang dan pentingnya menjaga keselarasan jiwa sesama manusia. Bait-bait syair yang dinukilkan memberikan pedoman moral yang sangat relevan untuk direfleksikan dalam konteks modern. Dikatakan:</p> <p>&#1582;&#1601;&#1601; &#1593;&#1606; &#1575;&#1604;&#1606;&#1575;&#1587; &#1604;&#1605;&#1575; &#1610;&#1604;&#1602;&#1608;&#1606; &#1605;&#1606; &#1571;&#1604;&#1571;&#1604;&#1605; # &#1601;&#1575;&#1606; &#1575;&#1604;&#1593;&#1580;&#1586;&#1578; &#1601;&#1571;&#1582;&#1585;&#1580; &#1591;&#1610;&#1576; &#1575;&#1604;&#1603;&#1604;&#1605;</p> <p>&#1608;&#1575;&#1606;&#1587;&#1580; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1601;&#1571;&#1604; &#1571;&#1579;&#1608;&#1575;&#1576;&#1611;&#1575; &#1604;&#1578;&#1601;&#1585;&#1581;&#1607;&#1605; # &#1608;&#1603;&#1606; &#1603;&#1606;&#1608;&#1585; &#1604;&#1607;&#1605; &#1601;&#1610; &#1571;&#1581;&#1604;&#1603; &#1575;&#1604;&#1592;&#1604;&#1605;</p> <p>&#1604;&#1575; &#1610;&#1615;&#1587;&#1593;&#1583; &#1575;&#1604;&#1606;&#1575;&#1587; &#1601;&#1610; &#1602;&#1608;&#1604; &#1608;&#1601;&#1610; &#1593;&#1605;&#1604; # &#1573;&#1604;&#1575; &#1575;&#1605;&#1585;&#1572; &#1591;&#1610;&#1576; &#1575;&#1604;&#1571;&#1582;&#1604;&#1575;&#1602; &#1608;&#1575;&#1604;&#1588;&#1614;&#1617;&#1610;&#1605;</p> <p>Artinya: <em>&ldquo;Ringankanlah beban yang dirasakan manusia. Jika engkau tidak bisa melakukannya secara nyata, maka keluarkanlah kata-kata yang baik. Rajutlah angan agar mereka kembali bahagia. Jadilah sinar bagi mereka di saat-saat paling gelap. Tidak ada yang bisa membahagiakan manusia, baik melalui ucapan maupun perbuatan, selain orang yang mempunyai adab dan perangai yang mulia.&rdquo;</em></p> <p>Secara filosofis, bahasa dalam pandangan sastra religius bukanlah sekadar rangkaian simbol linguistik yang netral. Bahasa adalah wahana teologis dan humanis. Kata-kata yang baik <em>(thayyib kalim)</em> disetarakan dengan infak lantaran dia mempunyai daya transformatif yang bisa mengubah keputusasaan menjadi optimisme. Ketika seseorang berada dalam kegelapan ujian hidup, kata-kata penyemangat berfaedah sebagai mercusuar penunjuk jalan.</p> <p>Sebaliknya, pengabaian terhadap etika berkata mencerminkan kemiskinan adab <em>(syama&rsquo;il).</em> Estetika etika menuntut agar manusia tidak hanya memikirkan kebenaran objektif dari apa yang diucapkan, tetapi juga mempertimbangkan akibat psikologis dan spiritual dari ucapan tersebut terhadap penerimanya. </p> <p>Sebuah kebenaran yang disampaikan tanpa empati bukanlah corak kejujuran, melainkan corak kebiadaban moral yang dibungkus dengan rasionalisasi.</p> <p><strong>Otonomi Lisan dan Kedaulatan Jiwa: Menjaga Batas Antara Kritik dan Destruksi</strong></p> <p>Di era kebebasan berpendapat, sering terjadi kerancuan antara kewenangan untuk mengkritik dan tanggungjawab untuk menjaga kehormatan kemanusiaan. Kritik yang konstruktif tentu mempunyai tempat dalam diskursus sosial guna mendorong perbaikan. </p> <p>Namun, pemisah antara kritik yang mencerahkan dan komentar destruktif yang mematikan karakter seringkali sangat tipis, dan pemisah itu ditentukan oleh motif serta kehalusan budi pekerti pelakunya.</p> <p>Orang yang bijak memahami bahwa tidak setiap ruang memerlukan suaranya. Ada keheningan yang jauh lebih berbobot daripada ribuan komentar yang lahir dari dorongan reaktif belaka. Ketika seseorang memilih untuk menahan diri dari melontarkan komentar negatif, dia sedang menjalankan kedaulatan atas jiwanya sendiri <em>(self-mastery).</em> Pengendalian diri ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti ketangguhan spiritual.</p> <p>Dalam perspektif ilmu jiwa humanistik, perseorangan yang matang secara emosional menyadari bahwa pengesahan diri tidak perlu dicapai dengan langkah merendahkan alias menimpakan beban tambahan kepada mereka yang sedang jatuh. Justru, ukuran kemuliaan seseorang diuji pada gimana dia memperlakukan orang lain ketika orang tersebut berada dalam posisi paling lemah dan tidak berdaya.</p> <p>Harta dan kedudukan berkarakter fana dan parsial, tidak semua orang dianugerahi kapabilitas untuk menolong secara finansial. Namun, adab yang mulia dan lisan yang terjaga adalah modal universal yang dapat dimiliki oleh siapa saja, tanpa memandang status sosial.</p> <p><strong>Konklusi: Menuju Peradaban Empati dan Kemanusiaan yang Utuh</strong></p> <p>Merawat kemanusiaan di tengah dinamika era yang kian egoistis dan hiper-konektif memerlukan kesadaran radikal bakal kerapuhan bersama. Adagium <em>&ldquo;Kalau tak bisa membantu jangan jadi penambah luka&rdquo;</em> mengajarkan kita untuk kembali pada prinsip paling dasar dari eksistensi sosial: bahwa kehadiran kita di tengah sesama semestinya menjadi berkah, bukan kutukan.</p> <p>Penderitaan di bumi ini sudah terlalu banyak untuk ditambah dengan kebencian, sinisme, dan penghakiman digital yang tidak berdasar. Ketika kita dihadapkan pada ujian orang lain, pilihan moral yang tersedia sangatlah jelas: ulurkan tangan jika mampu, sebarkan kebaikan jika ada kesempatan, alias setidaknya, jika pertolongan material di luar jangkauan, tutuplah mulut dan tenangkan jemari dari melukai.</p> <p>Kemuliaan sejati bukanlah terletak pada seberapa tajam lidah kita dalam menganalisis kesalahan orang lain, melainkan pada seberapa besar ketenangan yang kita hadirkan melalui kelembutan akhlak.</p> <p>Dengan merawat lisan, menenun harapan, dan menghadirkan sinar di tengah kegelapan sesama, kita tidak hanya menyelamatkan orang lain dari keterpurukan, tetapi pada saat yang sama, kita sedang menyelamatkan prinsip kemanusiaan kita sendiri dari jerat kebejatan moral modern. <em>Wallahu a&rsquo;lam bishawab.</em></p> <p>&mdash;&mdash;&mdash;&mdash;&mdash;&mdash;&mdash;&mdash;&mdash;-</p> <p><em>*) Alumni PP Salafiyah Syafi&rsquo;iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.</em></p> <div> <p><a href="https://bit.ly/SertifikasiHalalGratisEBI" target="_blank" rel="noopener noreferrer"> <img src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-15-at-20.44.10.jpeg" alt="Sertifikasi Halal"> </a> </p> </div> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/etika-bermedia-sosial-ketika-lisan-dan-jari-menentukan-arah-166884.html</guid> <pubDate>Tue, 18 Aug 2026 11:00:13 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Salman Akif Faylasuf)</author> </item> <item> <title>Hidup Di Dunia Hanya Sementara, Ini Pesan Nabi Muhammad</title> <description>Hidup Di Dunia Hanya Sementara, Ini Pesan Nabi Muhammad. Kincai Media,  Manusia hidup di bumi hanya sementara. Setelah meninggal, manusia bakal dibangkitkan dan pergi ke alambaka untuk kekal di sana. Oleh k...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/043118400-1785231389-830-556.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/hidup-di-dunia-hanya-sementara-ini-pesan-nabi-muhammad-166883.html</link> <content:encoded><![CDATA[<p><span>         Hidup di Dunia Hanya Sementara, Ini Pesan Nabi Muhammad. Pedagang beraktivitas di area letak bimbingan (Lokbin) pasar tradisional Pasar Minggu, Jakarta, Selasa (28/9/2027). 
      </span> </p><div data-sticky-container> <p>Kincai Media,&nbsp;&nbsp;Manusia hidup di bumi hanya sementara. Setelah meninggal, manusia bakal dibangkitkan dan pergi ke<a href="https://republika.co.id/tag/akhirat"> alambaka </a>untuk kekal di sana.</p><p>Oleh lantaran itu, jangan sia-siakan waktu selama hidup di bumi. Manfaatkan setiap waktu untuk beramal dan melakukan perihal baik seperti yang Rasulullah lakukan.<span aria-hidden="true"></span></p> <p data-start="370" data-end="521">Abdullah bin Umar meriwayatkan, Rasulullah memegang pundaknya dan bersabda, &ldquo;Jadilah engkau di bumi seperti orang asing alias pengembara.&rdquo; (HR Bukhari)</p><h3 data-section-id="yzntat" data-start="523" data-end="547">Sarana Menuju Tujuan</h3> <p data-start="549" data-end="804">Dunia ini merupakan sarana untuk mencapai tujuan manusia, ialah akhirat. Terkadang, hidup di bumi terasa begitu sigap sehingga seseorang bakal memandang kembali kehidupannya dan berpikir bahwa waktu yang telah berlalu hanya seperti beberapa jam alias sehari.</p> <p data-start="806" data-end="1030">Dilansir di <em>About Islam</em>, Allah menciptakan bumi ini dengan maksud untuk memenuhi kemauan manusia. Nabi menyuruh umatnya untuk melewatinya tanpa merasa terganggu. Seperti orang asing alias pengembara, manusia hidup di bumi dengan tujuan yang jelas.</p> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/hidup-di-dunia-hanya-sementara-ini-pesan-nabi-muhammad-166883.html</guid> <pubDate>Tue, 18 Aug 2026 09:30:12 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Ani Nursalikah)</author> </item> <item> <title>Jejak Abbasiyah Di Tapanuli: Temuan Koin Dirham Dan Korespondensi Sriwijaya Dengan Khalifah Muawiyah</title> <description>Jejak Abbasiyah Di Tapanuli: Temuan Koin Dirham Dan Korespondensi Sriwijaya Dengan Khalifah Muawiyah. Kincai Media, JAKARTA — Sejarah masuknya Islam ke Nusantara kembali mendapatkan sorotan krusial seiring ditemukannya bukti-bukti arkeologis terbaru di pesisi...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/temuan-situs_260813093748-503.png"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/jejak-abbasiyah-di-tapanuli-temuan-koin-dirham-dan-korespondensi-sriwijaya-dengan-khalifah-muawiyah-166882.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div data-sticky-container> <p>Kincai Media,&nbsp;<span></span><span>JAKARTA &mdash; Sejarah masuknya Islam ke Nusantara kembali mendapatkan sorotan krusial seiring ditemukannya bukti-bukti arkeologis terbaru di pesisir Sumatra Utara. Temuan ini berpotensi mengubah narasi arus utama (<em>mainstream</em>) yang selama ini menyebut bahwa Islam baru masuk dan berkembang di Kepulauan Nusantara pada abad ke-12 alias ke-13 Masehi.</span></p><p>Ery Soedewo dan Nur Ahmad dalam tulisan ilmiahnya berjudul <em>Abbasid Coins in North Sumatra: Evidence of Interactions With Islamic Civilization in The 8th-9th Century AD</em> yang dimuat di Amerta (Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi) mengungkapkan,&nbsp;<span>sejumlah sarjana Barat seperti Pijnapel, Snouck Hurgronje, hingga J.P. Moquette mengungkap teori bahwa Islam di Nusantara berasal dari Gujarat dan Malabar, India. </span></p> <p><span>Pendapat tersebut didasarkan pada penanggalan batu nisan antik di Pasai dan Gresik dari abad ke-15 Masehi. Meski demikian, teori tersebut mengabaikan catatan-catatan awal hubungan langsung antara daerah Asia Barat (Timur Tengah) dan Nusantara.</span></p><p><span>Guru Besar Sejarah Islam, Prof Azyumardi Azra (almarhum), dalam karya-karyanya pernah mengulas arsip antik yang mencatat hubungan diplomatik awal tersebut. Salah satunya adalah catatan Kitab <em>al-Hayawan</em> karya al-Jahizh (783&ndash;869 M) dan <em>al-&lsquo;Iqd al-Farid</em> karya Ibn &lsquo;Abd al-Rabbih (860&ndash;940 M).</span></p> <p><span>Dokumen tersebut merekam adanya surat-menyurat antara Maharaja Hind&mdash;yang menguasai daerah kaya kapur barus dan rempah-rempah&mdash;dengan Khalifah Mu'awiyah bin Abu Sufyan serta Khalifah 'Umar bin 'Abd al-'Aziz (717&ndash;720 M). Pada rentang abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, satu-satunya penguasa Nusantara yang menyandang gelar Maharaja tidak lain adalah Penguasa Kerajaan Sriwijaya.</span></p><p><span>Hubungan diplomatik dan perdagangan pada era Dinasti Umayyah dan Abbasiyah ini dikuatkan oleh catatan petualang Buzurg ibn Syahriar al-Ramhurmuzi dalam<em> 'Ajaib al-Hind</em> (sekitar 1000 M), yang melaporkan keberadaan organisasi Muslim di daerah kekuasaan Kerajaan Zabaj/Zabag (Sriwijaya). Catatan Yijing (I-Tsing) pada abad ke-7 Masehi juga merekam keberadaan kapal-kapal pedagang Ta-shi (Arab/Parsi) yang melayari rute Guangzhou hingga Sumatra.</span></p><p><span>Bukti kearsipan dan literatur klasik tersebut sekarang menemukan pembuktian lapangannya melalui penemuan mata duit dirham Abbasiyah dan artefak Timur Tengah di Situs Bongal, Tapanuli Tengah. Penemuan ini memperjelas peta historiografi Islam Nusantara: bahwa hubungan dan kontak kebudayaan dengan pusat peradaban Islam di Timur Tengah telah terjalin erat sejak masa-masa awal Hijriyah.</span></p> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/jejak-abbasiyah-di-tapanuli-temuan-koin-dirham-dan-korespondensi-sriwijaya-dengan-khalifah-muawiyah-166882.html</guid> <pubDate>Tue, 18 Aug 2026 09:00:13 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (A.Syalaby Ichsan)</author> </item> <item> <title>Hijrah Nabi Dan Cinta Tanah Air: Pelajaran Berharga Bagi Setiap Muslim</title> <description>Hijrah Nabi Dan Cinta Tanah Air: Pelajaran Berharga Bagi Setiap Muslim. Peristiwa hijrah ke Madinah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat merupakan peristiwa berhistoris yang di dalamnya terd...</description> <media:thumbnail url="https://portal.kincaimedia.net/site/assets/img/logo/401XDGroupIndonesia.png"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/hijrah-nabi-dan-cinta-tanah-air-pelajaran-berharga-bagi-setiap-muslim-166881.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div> <p>Proudly powered by LiteSpeed Web Server</p><p>Please be advised that LiteSpeed Technologies Inc. is not a web hosting company and, as such, has no control over content found on this site.</p></div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/hijrah-nabi-dan-cinta-tanah-air-pelajaran-berharga-bagi-setiap-muslim-166881.html</guid> <pubDate>Mon, 17 Aug 2026 21:30:19 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Firdian Ikhwansyah)</author> </item> <item> <title>Transformasi Kesalehan: Rekonstruksi Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Di Era Digital</title> <description>Transformasi Kesalehan: Rekonstruksi Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Di Era Digital. Kincai Media– Setiap peradaban lahir dengan fondasi nilai yang menjadi identitas utamanya. Bagi umat Islam, keagungan identitas tersebut tidak hanya berak...</description> <media:thumbnail url="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-2.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/transformasi-kesalehan-rekonstruksi-amar-ma-ruf-nahi-mungkar-di-era-digital-166878.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div> <p><a href="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-2.jpg" data-caption=""><img width="696" height="367" src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-2.jpg" srcset="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-2-696x367.jpg 696w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-2-640x337.jpg 640w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-2-768x405.jpg 768w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-2-797x420.jpg 797w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-2.jpg 1000w" sizes=" 696px) 100vw, 696px" alt=" Rekonstruksi Amar Ma’ruf Nahi Mungkar di Era Digital" title=" Rekonstruksi Amar Ma’ruf Nahi Mungkar di Era Digital"></a></p> <p><strong>Kincai Media</strong>&ndash; Setiap peradaban lahir dengan fondasi nilai yang menjadi identitas utamanya. Bagi umat Islam, keagungan identitas tersebut tidak hanya berakar pada aspek keagamaan dogmatis semata, melainkan juga pada predikat spiritual dan kualitatif yang dianugerahkan langsung oleh Sang Pencipta. Umat Nabi Muhammad SAW dianugerahi beragam kekhususan alias khashais yang membedakan mereka secara esensial dari umat-umat terdahulu. </p> <p>Di antara sekian banyak <em>khashais</em> tersebut, salah satu keistimewaan yang paling menonjol dan memegang peranan pivotal adalah komitmen kolektif terhadap prinsip <em>al-amru bil ma&rsquo;ruf wa an-nahyu anil munkar, </em>memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.</p> <p>Secara komparatif, jika kita melayangkan pandangan historis dan metodologis terhadap beragam doktrin keagamaan di bumi saat ini, Islam menampilkan sebuah karakter yang sangat kontras. <a href="https://bincangsyariah.com/tag/agama-islam/" data-type="post_tag" data-id="4485">Islam</a> tidak membiarkan nilai kebaikan terisolasi di dalam ruang-ruang privat pemeluknya. </p> <p>Agama ini memberikan penekanan yang begitu mendalam, tegas, dan bersistem pada imperatif <em>amar ma&rsquo;ruf nahi mungkar. </em>Prinsip ini bukan sekadar imbauan moral pasif, melainkan sebuah aksioma keumatan yang bergerak dan transformatif.</p> <p>Legitimasi Ilahi atas keistimewaan ini ditegaskan secara definitif dalam Al-Qur&rsquo;an <em>Surah <a href="https://bincangmuslimah.com/" data-type="link" data-id="https://bincangmuslimah.com/">Ali Imran</a> </em>ayat 110. Allah SWT berfirman:</p> <p>&#1603;&#1615;&#1606;&#1618;&#1578;&#1615;&#1605;&#1618; &#1582;&#1614;&#1610;&#1618;&#1585;&#1614; &#1575;&#1615;&#1605;&#1614;&#1617;&#1577;&#1613; &#1575;&#1615;&#1582;&#1618;&#1585;&#1616;&#1580;&#1614;&#1578;&#1618; &#1604;&#1616;&#1604;&#1606;&#1614;&#1617;&#1575;&#1587;&#1616; &#1578;&#1614;&#1571;&#1618;&#1605;&#1615;&#1585;&#1615;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614; &#1576;&#1616;&#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;&#1593;&#1618;&#1585;&#1615;&#1608;&#1618;&#1601;&#1616; &#1608;&#1614;&#1578;&#1614;&#1606;&#1618;&#1607;&#1614;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614; &#1593;&#1614;&#1606;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1606;&#1618;&#1603;&#1614;&#1585;&#1616; &#1608;&#1614;&#1578;&#1615;&#1572;&#1618;&#1605;&#1616;&#1606;&#1615;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614; &#1576;&#1616;&#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1648;&#1607;&#1616;&#8239;&#1751;&thinsp;&#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1608;&#1618; &#1575;&#1648;&#1605;&#1614;&#1606;&#1614; &#1575;&#1614;&#1607;&#1618;&#1604;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1603;&#1616;&#1578;&#1648;&#1576;&#1616; &#1604;&#1614;&#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614; &#1582;&#1614;&#1610;&#1618;&#1585;&#1611;&#1575; &#1604;&#1614;&#1617;&#1607;&#1615;&#1605;&#1618;&#8239;&#1751;&thinsp;&#1605;&#1616;&#1606;&#1618;&#1607;&#1615;&#1605;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1572;&#1618;&#1605;&#1616;&#1606;&#1615;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614; &#1608;&#1614;&#1575;&#1614;&#1603;&#1618;&#1579;&#1614;&#1585;&#1615;&#1607;&#1615;&#1605;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1601;&#1648;&#1587;&#1616;&#1602;&#1615;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614;</p> <p>Artinya: <em>&ldquo;Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beragama kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.&rdquo; (QS. Ali Imran [3]: 110).</em></p> <p>Deklarasi Ilahi ini menegaskan sebuah hubungan kausalitas yang sangat jernih: predikat <em>&ldquo;khairu ummah&rdquo; </em>(umat terbaik) tidak didapatkan secara cuma-cuma melalui klaim genealogis alias ketaatan ritualistik yang tertutup, melainkan disyaratkan oleh adanya kepedulian sosial yang aktif melalui amar ma&rsquo;ruf dan nahi mungkar.</p> <p><strong>Dikotomi Kesalehan: Dari Kesalehan Individual Menuju Kesalehan Transformatif</strong></p> <p>Dalam realitas kehidupan beragama, kita sering mendapati dikotomi eksistensial dalam diri umat Islam. Secara garis besar, jenis manusia dapat terbagi menjadi dua kategori utama. Kategori pertama adalah manusia yang saleh secara perseorangan <em>(shalih fi nafsihi).</em> Ia adalah pribadi yang alim beribadah, menjauhi dosa-dosa besar, dan menjaga integritas moral pribadinya. </p> <p>Namun, kebaikan tersebut berakhir pada batas-batas bentuk dirinya. Kesalehan semacam ini berkarakter egosentris-spiritual; tidak memberikan akibat bagi dinamika sosial di sekitarnya dan tidak sanggup merubah realitas destruktif yang terjadi di lingkungannya.</p> <p>Kategori kedua adalah manusia yang tidak hanya saleh bagi dirinya sendiri, tetapi juga sanggup mentransformasi lingkungannya <em>(muslih li ghairihi). </em>Orang dengan kualifikasi ini mempunyai derajat spiritual dan sosial yang jauh lebih tinggi di hadapan Allah SWT. </p> <p>Kebaikannya tidak terbatas pada ruang privat, melainkan meluap menjadi gelombang perbaikan yang mencerahkan masyarakat. Islam secara mendasar diturunkan bukan hanya untuk mencetak pribadi-pribadi yang saleh secara pasif, melainkan untuk melahirkan agen-agen perubahan <em>(muslihun) </em>yang bisa menular-nyebarkan nilai kebaikan.</p> <p>Karakteristik utama dari mukmin yang sejati adalah hadirnya rasa kegelisahan eksistensial ketika menyaksikan ketidakbaikan alias kemungkaran merajalela. Hati seorang yang beragama tidak bakal pernah tenang jika kebaikan hanya menjadi konsumsi pribadi sementara lingkungannya terjerumus dalam kemaksiatan. </p> <p>Kegelisahan moral inilah yang memicu timbulnya kesalehan transformatif: sebuah dorongan internal untuk bertindak aktif, terencana, dan penuh empati dalam menyebarkan nilai-nilai <em>ma&rsquo;ruf </em>kepada lingkungan sekitar.</p> <p><strong>Dialektika Pendahuluan </strong><strong><em>Amar Ma&rsquo;ruf </em></strong><strong>atas</strong><strong><em> Nahi Mungkar</em></strong></p> <p>Jika kita menelaah secara mendalam redaksi firman Allah dalam <em>Surah Ali Imran</em> ayat 110, terdapat susunan jenjang kata yang sangat esensial untuk direnungkan. Allah SWT mendahulukan frasa <em>&ldquo;ta&rsquo;muruna bil ma&rsquo;ruf&rdquo; </em>(memerintahkan kebaikan) sebelum <em>&ldquo;tanhauna anil munkar&rdquo;</em> (mencegah kemungkaran). </p> <p>Pendahuluan redaksional ini tentu menyimpan hikmah metodologis dan edukatif yang sangat luas. Mengapa <em>amar ma&rsquo;ruf </em>diprioritaskan di atas <em>nahi mungkar?</em></p> <p>Secara aktual dan psikologis, mencegah kemungkaran (<em>nahi mungkar)</em> mempunyai tingkat kompleksitas, potensi konflik, dan akibat sosial yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan menyeru kepada kebaikan<em> (amar ma&rsquo;ruf).</em> Ketika seseorang diajak untuk melakukan kebaikan (seperti bersedekah, salat, alias jujur) pada umumnya tidak ada ego individual yang merasa terancam alias tersinggung. </p> <p>Sebaliknya, ketika seseorang dihentikan dari perbuatan mungkar alias maksiat, dorongan resistensi dan sifat melindungi bakal muncul secara intuitif. Maksiat sering kali berikatan erat dengan hawa nafsu dan kepentingan pragmatis; mencabut seseorang dari kebiasaan jelek secara mendadak alias represif nyaris dipastikan memicu Perlawanan dan bentrok terbuka.</p> <p>Bahkan dalam lingkup personal, teguran terhadap sebuah kekhilafan kerap kali ditanggapi dengan rasa tersinggung jika tidak disampaikan dengan kehati-hatian tingkat tinggi. Kompiksitas inilah yang mendorong para ustadz muktabar untuk menyusun izin adab, mekanisme, dan etika yang sangat ketat dalam penyelenggaraan nahi mungkar. </p> <p>Apabila nahi mungkar dilakukan secara amatiran, tanpa hikmah, dan tanpa memperhatikan <em>&ldquo;al-mauizhah al-hasanah&rdquo;, </em>tindakan tersebut bukannya menghilangkan kejahatan, malah berpotensi melahirkan kemungkaran baru yang jauh lebih besar dan destruktif.</p> <p><strong>Fikih </strong><strong><em>Nahi Mungkar:</em></strong><strong> Batasan Epistemologis dan Perlindungan Ruang Privat</strong></p> <p>Kompleksitas penyelenggaraan nahi mungkar dibedah secara konprehensif oleh <em>Hujjatul Islam</em> Imam Al-Ghazali dalam karya monumentalnya, &ldquo;<em>Ihya&rsquo; Ulumuddin&rdquo;. </em>Beliau mengalokasikan bab yang cukup panjang untuk membahas batas-batas normatif dan operasional <em>amar ma&rsquo;ruf nahi mungkar</em> agar tidak tergelincir menjadi tindakan anarki.</p> <p>Salah satu norma esensial yang digariskan oleh Imam Al-Ghazali adalah bahwa nahi mungkar hanya boleh ditujukan pada perbuatan yang status kemungkarannya telah disepakati secara konsensus <em>(ijma&rsquo;)</em> oleh seluruh ulama. </p> <p>Tindakan-tindakan maksiat yang tegas diharamkan dalam nas seperti meminum <em>khamr, </em>perzinahan, perjudian, dan pencurian adalah ranah objektif <em>nahi mungkar. </em>Namun, terhadap masalah-masalah yang tetap menjadi ranah perselisihan pandangan <em>(khilafiyah)</em> di antara para ustadz mazhab, seseorang tidak diperkenankan melakukan nahi mungkar secara represif. </p> <p>Dalam situasi <em>khilafiyah,</em> seseorang kudu menghormati keragaman ijtihad dan tidak boleh memaksakan satu pendapat ajaran tertentu kepada orang lain yang mengikuti ajaran berbeda.</p> <p>Prinsip esensial kedua dalam etika <em>nahi mungkar </em>adalah larangan keras terhadap perbuatan tajassus (memata-matai alias mencari-cari kesalahan orang lain). Agama menegaskan pelindungan terhadap ruang privat setiap individu. </p> <p>Dalam konteks modern dan bumi digital saat ini, <em>tajassus </em>manifestasi<em> </em>dalam corak tindakan peretasan, <em>doxing,</em> alias pembongkaran rahasia pribadi seseorang di media sosial dengan dalih <em>&ldquo;nahi mungkar&rdquo;.</em> Tindakan mengumbar keburukan privat seseorang demi dalih <em>amar ma&rsquo;ruf</em> adalah sebuah paradoks moral yang dilarang tegas oleh syariat.</p> <p>Pelajaran berbobot mengenai pelindungan ruang privat ini tertuang dalam kisah keteladanan Khalifah Umar bin Khattab RA. Suatu malam, lantaran kecurigaan yang mendalam, Sayyidina Umar memanjat genting rumah seorang penduduk Madinah dan mendapati pemilik rumah sedang melakukan perbuatan maksiat secara tersembunyi. Ketika Umar hendak menghukumnya, sang pemilik rumah dengan pandai mengusulkan koreksi mendasar: </p> <p><em>&ldquo;Wahai Amirul Mukminin, jika saya melakukan satu kesalahan berupa maksiat kepada Allah, maka engkau telah melakukan tiga pelanggaran hukum sekaligus. Pertama, engkau melanggar larangan tajassus (wala tajassasu dalam Surah Al-Hujurat). Kedua, engkau memasuki rumah tidak melalui pintunya. Ketiga, engkau masuk tanpa mengucapkan salam.&rdquo;</em></p> <p>Mendengar argumentasi norma tersebut, Sayyidina Umar RA dengan penuh kesadaran spiritual mengakui kekhilafannya dan membatalkan hukuman. Bahkan ketika masalah ini dikonsultasikan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA, beliau menyarankan agar sang khalifah tidak memberikan hukuman <em>takzir</em>. </p> <p>Mengapa? Karena maksiat tersebut dilakukan di area privat dan tertutup, bukan sebuah kejahatan demonstratif yang ditontonkan secara terbuka di ruang publik. Isyarat norma ini menunjukkan sungguh Islam sangat menjunjung tinggi privasi serta melarang keras tindakan kehakiman sendiri melalui cara-cara yang melanggar <em>adab syar&rsquo;i.</em></p> <p><strong>Rekonstruksi </strong><strong><em>Amar Ma&rsquo;ruf Nahi Mungkar</em></strong><strong> di Era Digital</strong></p> <p>Saat ini, kita hidup dalam era disrupsi info yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi digital. Dalam kacamata iman, lompatan teknologi ini bukanlah ancaman, melainkan sebuah nikmat Ilahi yang sangat besar sekaligus instrumen dakwah yang sangat potensial. </p> <p>Dunia digital menyajikan ruang tanpa pemisah yang kudu dioptimalkan secara positif oleh umat Islam untuk menebarkan pesan-pesan kebaikan secara sistematis dan masif.</p> <p>Dalam merespons dinamika era digital, strategi penyelenggaraan nahi mungkar perlu direkonstruksi. Sering kali, strategi <em>nahi mungkar </em>yang paling efektif bukanlah melalui tindakan konfrontatif mendobrak kejahatan secara langsung, melainkan dengan langkah membanjiri ruang publik melalui <em>amar ma&rsquo;ruf: </em>memperbanyak narasi positif, edukatif, dan penuh kasih sayang. </p> <p>Ketika sinar kebaikan diproduksi secara melimpah dan konsisten, secara otomatis kegelapan kemungkaran bakal terdesak dan memudar dengan sendirinya.</p> <p>Pendekatan edukatif dan persuasif ini tercermin dalam sebuah kisah inspiratif dari seorang ustad di Jawa Tengah (mohon maaf saya tidak mau menyebut namanya). Suatu ketika, seorang preman yang dikenal doyan meminum minuman keras beriktikad untuk ikut mengaji di pesantren ustad tersebut, dengan syarat tidak boleh dilarang melakukan hobinya. </p> <p>Pada pertemuan-pertemuan awal, preman tersebut datang di tengah-tengah majelis pengetahuan sembari membawa botol minuman keras secara terbuka. Sang ustad yang mempunyai kedalaman hikmah tidak langsung menegurnya secara konfrontatif alias mengusirnya dari majelis. Beliau menyambutnya dengan lapang dada, membiarkan sang preman menyerap sinar kebaikan dan aliran kepercayaan secara bertahap.</p> <p>Hasil dari kesabaran dan pendekatan berbasis <em>amar ma&rsquo;ruf </em>tersebut sungguh luar biasa. Pada pertemuan ketiga dan seterusnya, botol minuman keras itu menghilang dengan sendirinya. </p> <p>Kesadaran spiritual sang preman tumbuh secara alami dari dalam jiwa, hingga akhirnya dia bertobat secara total. Pendekatan persuasif dan empatik ini membuktikan bahwa menyemai kebaikan sering kali jauh lebih berkekuatan ubah daripada memukul keburukan secara frontal.</p> <p>Syahdan. <em>Amar ma&rsquo;ruf </em>dan<em> nahi mungkar</em> merupakan mahkota keistimewaan umat Nabi Muhammad SAW yang kudu terus dijaga keberlangsungannya. Namun, pelaksanaannya kudu sentiasa dipandu oleh kedalaman ilmu, ketelitian adab, serta keluhuran adab sebagaimana yang dicontohkan oleh para ustadz terdahulu. </p> <p><em>Nahi mungkar</em> tanpa etika hanya bakal melahirkan kekacauan sosial, sedangkan <em>amar ma&rsquo;ruf </em>yang dilakukan dengan <em>al-mauizhah al-hasanah </em>akan menyinari jiwa manusia secara mendalam.</p> <p>Di tengah lanskap modernitas dan kemajuan teknologi digital saat ini, marilah kita beralih bentuk dari sekadar pribadi yang saleh secara perseorangan menjadi pribadi yang saleh secara sosial dan transformatif. Mari kita banjiri jagat digital dan realitas sosial kita dengan narasi kebaikan, keelokan Islam, dan kesantunan beragama. </p> <p>Dengan langkah itulah kita betul-betul layak menyandang predikat mulia sebagai <em>&ldquo;khairu ummah&rdquo;,</em> umat terbaik yang dihadirkan untuk membawa rahmat bagi seluruh alam. <em>Wallahu a&rsquo;lam bisshawab.</em></p> <p><em>*) Alumni PP Salafiyah Syafi&rsquo;iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.</em></p> <div> <p><a href="https://bit.ly/SertifikasiHalalGratisEBI" target="_blank" rel="noopener noreferrer"> <img src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-15-at-20.44.10.jpeg" alt="Sertifikasi Halal"> </a> </p> </div> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/transformasi-kesalehan-rekonstruksi-amar-ma-ruf-nahi-mungkar-di-era-digital-166878.html</guid> <pubDate>Mon, 17 Aug 2026 21:00:21 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Salman Akif Faylasuf)</author> </item> <item> <title>Ragam Bacaan Dzikir Yang Bisa Dibaca Ketika I’tidal</title> <description>Ragam Bacaan Dzikir Yang Bisa Dibaca Ketika I’tidal. Kincai Media – Ketika berdiri dari ruku’ untuk i’tidal, biasanya kita bakal membaca sami’allahu liman hamidah. Dan ketika i’tidal, kita juga biasa membaca ...</description> <media:thumbnail url="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2023/01/man-praying-floor-indoors-1.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/ragam-bacaan-dzikir-yang-bisa-dibaca-ketika-i-tidal-166879.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div> <div><figure><a href="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2023/01/man-praying-floor-indoors-1.jpg" data-caption="Ragam Bacaan Dzikir yang Bisa Dibaca Ketika I&#039;tidal"><img width="696" height="464" src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2023/01/man-praying-floor-indoors-1.jpg" srcset="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2023/01/man-praying-floor-indoors-1-696x464.jpg 696w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2023/01/man-praying-floor-indoors-1-640x427.jpg 640w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2023/01/man-praying-floor-indoors-1-1024x683.jpg 1024w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2023/01/man-praying-floor-indoors-1-768x512.jpg 768w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2023/01/man-praying-floor-indoors-1-1068x712.jpg 1068w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2023/01/man-praying-floor-indoors-1-630x420.jpg 630w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2023/01/man-praying-floor-indoors-1.jpg 1500w" sizes=" 696px) 100vw, 696px" alt="Ragam Bacaan Dzikir yang Bisa Dibaca Ketika I&#039;tidal" title="Ragam Bacaan Dzikir yang Bisa Dibaca Ketika I&#039;tidal"></a>Ragam Bacaan Dzikir yang Bisa Dibaca Ketika I'tidal</figure></div> <p><strong>Kincai Media &ndash; </strong>Ketika berdiri dari <a href="https://bincangsyariah.com/zikir-dan-doa/doa-rasulullah-saat-rukuk-dan-sujud/">ruku&rsquo;</a> untuk i&rsquo;tidal, biasanya kita bakal membaca sami&rsquo;allahu liman hamidah. Dan ketika i&rsquo;tidal, kita juga biasa membaca referensi i&rsquo;tidal;&rdquo;<em>rabbana</em> lakal hamdu mil ussamaawaati wal ardla wamil ulardli wamil umaasyi&rsquo;ta min syain ba&rsquo;du.</p> <p>Imam Nawawi di dalam kitab <a href="http://waqfeya.com/book.php?bid=6406">Al-Adzkar</a> menjelaskan ragam referensi dzikir dan referensi yang bisa dibaca saat i&rsquo;tidal. Apa sajakah itu? Berikut ulasannya.</p> <p>Imam Nawawi mengatakan bahwa ketika berdiri dari ruku&rsquo; sunnahnya adalah mengatakan sami&rsquo;Allahu liman hamidah (Allah mendengar orang yang memujiNya) dan boleh mengatakan man hamidallaha sami&rsquo;a lahu (Siapa yang memuji Allah, maka Dia mendengarnya).</p> <h6>Ragam Bacaan &nbsp;I&rsquo;tidal</h6> <p>Adapun ketika i&rsquo;tidal ragam bacaannya adalah sebagai berikut.</p> <p><strong>Bacaan Pertama. </strong><em>Rabbanaa lakal hamdu/rabbanaa walakal hamdu</em></p> <p>&#1593;&#1606; &#1571;&#1576;&#1610; &#1607;&#1585;&#1610;&#1585;&#1577; &#1585;&#1590;&#1610; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1606;&#1607; &#1571;&#1606;&#1607; &#1602;&#1575;&#1604;: &#1603;&#1575;&#1606; &#1585;&#1587;&#1608;&#1604; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1589;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607; &#1608;&#1587;&#1604;&#1605; &#1610;&#1602;&#1608;&#1604;: &rdquo; &#1587;&#1614;&#1605;&#1616;&#1593;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615; &#1604;&#1616;&#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1581;&#1614;&#1605;&#1616;&#1583;&#1614;&#1607;&#1615; &ldquo;&#1581;&#1610;&#1606; &#1610;&#1585;&#1601;&#1593; &#1589;&#1604;&#1576;&#1607; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1585;&#1603;&#1608;&#1593;&#1548; &#1579;&#1605; &#1610;&#1602;&#1608;&#1604; &#1608;&#1607;&#1608; &#1602;&#1575;&#1574;&#1605;: &ldquo;&#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575; &#1604;&#1614;&#1603;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1605;&#1618;&#1583;&#1615;&rdquo; . (&#1585;&#1608;&#1575;&#1607; &#1575;&#1604;&#1576;&#1582;&#1575;&#1585;&#1610; &#1608;&#1605;&#1587;&#1604;&#1605;)</p> <p>Dari Abu Hurairah r.a., bahwasannya dia berkata, Rasulullah saw. mengucapkan &ldquo;Sami&rsquo;Allahu liman hamidah&rdquo; ketika punggungnya naik dari posisi ruku&rsquo;, lampau beliau mengucapkan ketika berdiri &ldquo;Rabbanaa lakal hamd (Ya Tuhan kami Segala puji bagi Mu).&rdquo; (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p> <p>Imam Nawawi menjelaskan bahwa redaksi di dalam riwayat-riwayat lainnya dengan menggunakan wawu sebagai berikut.</p> <p>&ldquo;&#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575; &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1603;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1605;&#1618;&#1583;&#1615;&rdquo;</p> <p>Rabbanaa walakal hamdu (Ya Tuhan kami, Dan segala puji bagi Mu). Menurut pemimpin Nawawi keduanya baik untuk diamalkan.</p> <p><strong>Kedua. </strong><em>Rabbana lakal hamdu mil ussamaawaati wal ardla wamil ulardli wamil umaasyi&rsquo;ta min syain ba&rsquo;du</em></p> <p>&#1593;&#1606; &#1593;&#1604;&#1610; &#1608;&#1575;&#1576;&#1606; &#1571;&#1576;&#1610; &#1571;&#1608;&#1601;&#1609; &#1585;&#1590;&#1610; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1606;&#1607;&#1605;: &#1571;&#1606; &#1585;&#1587;&#1608;&#1604; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1589;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607; &#1608;&#1587;&#1604;&#1605; &#1603;&#1575;&#1606; &#1573;&#1584;&#1575; &#1585;&#1601;&#1593; &#1585;&#1571;&#1587;&#1607; &#1602;&#1575;&#1604;: &ldquo;&#1587;&#1614;&#1605;&#1616;&#1593;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615; &#1604;&#1616;&#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1581;&#1614;&#1605;&#1616;&#1583;&#1614;&#1607;&#1615; &#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575; &#1604;&#1614;&#1603;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1605;&#1618;&#1583;&#1615; &#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1614;&#1605;&#1648;&#1608;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616; &#1608;&#1614;&#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1571;&#1614;&#1585;&#1618;&#1590;&#1616; &#1608;&#1614;&#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575; &#1588;&#1616;&#1574;&#1618;&#1578;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1588;&#1614;&#1610;&#1618;&#1569;&#1613; &#1576;&#1614;&#1593;&#1618;&#1583;&#1615;&rdquo; .(&#1585;&#1608;&#1575;&#1607; &#1605;&#1587;&#1604;&#1605;)</p> <p>Dari Ali dan Ibnu Abi Aufa r.a., bahwasannya Rasulullah saw. ketika mengangkat kepalanya (dari ruku&rsquo;) mengucapkan, &ldquo;Sami&rsquo;Allahu liman hamidah, Rabbana lakal hamdu mil assamaawaati wamil alardli wamil amaasyi&rsquo;ta min syain ba&rsquo;du. (Allah mendengar terhadap orang yang memujinya, Ya Tuhan kami. Segala puji bagiMu sepenuh langit, sepenuhnya bumi, dan sepenuh apa yang Engkau inginkan darinya setelah itu.&rdquo; (HR. Muslim)</p> <p><strong>Ketiga. </strong><em>Allahumma rabbanaa lakal hamdu mil&rsquo;as samaawaati wamil al-ardli wa mil a maa syi&rsquo;ta min syai in ba&rsquo;du ahlats tsanaa&rsquo;i wal majdi ahaqqu ma qaalal &lsquo;abdu wa kullunaa laka &lsquo;abdun. Allahumma laa maani&rsquo;a limaa a&rsquo;thaita walaa mu&rsquo;thia limaa mana&rsquo;ta walaa yanfa&rsquo;u dzal jaddi minkal jaddu</em></p> <p>&#1593;&#1606; &#1571;&#1576;&#1610; &#1587;&#1593;&#1610;&#1583; &#1575;&#1604;&#1582;&#1583;&#1585;&#1610; &#1585;&#1590;&#1610; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1606;&#1607;: &#1571;&#1606; &#1585;&#1587;&#1608;&#1604; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1589;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607; &#1608;&#1587;&#1604;&#1605; &#1603;&#1575;&#1606; &#1573;&#1584;&#1575; &#1585;&#1601;&#1593; &#1585;&#1571;&#1587;&#1607; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1585;&#1603;&#1608;&#1593; &#1602;&#1575;&#1604;: &ldquo;&#1575;&#1614;&#1604;&#1604;&#1617;&#1648;&#1607;&#1615;&#1605;&#1617;&#1614; &#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575; &#1604;&#1614;&#1603;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1605;&#1618;&#1583;&#1615; &#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1614;&#1605;&#1648;&#1608;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616; &#1608;&#1614;&#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1571;&#1614;&#1585;&#1618;&#1590;&#1616; &#1608;&#1614;&#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575; &#1588;&#1616;&#1574;&#1618;&#1578;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1588;&#1614;&#1610;&#1618;&#1569;&#1613; &#1576;&#1614;&#1593;&#1618;&#1583;&#1615; &#1576;&#1614;&#1593;&#1618;&#1583;&#1615; &#1571;&#1614;&#1607;&#1618;&#1604;&#1614; &#1575;&#1604;&#1579;&#1617;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575;&#1569;&#1616; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;&#1580;&#1618;&#1583;&#1616; &#1571;&#1614;&#1581;&#1614;&#1602;&#1617;&#1615; &#1605;&#1614;&#1575; &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1614;&#1576;&#1618;&#1583;&#1615; &#1608;&#1614;&#1603;&#1615;&#1604;&#1617;&#1615;&#1606;&#1614;&#1575; &#1604;&#1614;&#1603;&#1614; &#1593;&#1614;&#1576;&#1618;&#1583;&#1612; &#1575;&#1614;&#1604;&#1604;&#1617;&#1648;&#1607;&#1615;&#1605;&#1617;&#1614; &#1604;&#1575;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;&#1593;&#1614; &#1604;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575; &#1571;&#1614;&#1593;&#1618;&#1591;&#1614;&#1610;&#1618;&#1578;&#1614; &#1608;&#1614;&#1604;&#1575;&#1614; &#1605;&#1615;&#1593;&#1618;&#1591;&#1616;&#1610;&#1614; &#1604;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575; &#1605;&#1614;&#1606;&#1614;&#1593;&#1618;&#1578;&#1614; &#1608;&#1614;&#1604;&#1575;&#1614; &#1610;&#1614;&#1606;&#1618;&#1601;&#1614;&#1593;&#1615; &#1584;&#1614;&#1575; &#1575;&#1604;&#1618;&#1580;&#1614;&#1583;&#1617;&#1616; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618;&#1603;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1580;&#1614;&#1583;&#1617;&#1615;. (&#1585;&#1608;&#1575;&#1607; &#1605;&#1587;&#1604;&#1605;)</p> <p>Dari Abi Sai&rsquo;d Al-Khudri r.a., bahwasannya Rasulullah saw. ketika mengangkat kepalanya dari ruku&rsquo;, beliau membaca, &ldquo;Allahumma rabbanaa lakal hamdu mil&rsquo;as samaawaati wamil al-ardli wa mil a maa syi&rsquo;ta min syai in ba&rsquo;du ahlats tsanaa&rsquo;i wal majdi ahaqqu ma qaalal &lsquo;abdu wa kullunaa laka &lsquo;abdun. Allahumma laa maani&rsquo;a limaa a&rsquo;thaita walaa mu&rsquo;thia limaa mana&rsquo;ta walaa yanfa&rsquo;u dzal jaddi minkal jaddu. (HR. Muslim)</p> <p><strong>Keempat. </strong><em>Rabbanaa lakal hamdu mil&rsquo;as samaawaati wamil al-ardli wa mil a maa bainahumaa wa mil a maa syi&rsquo;ta min syai in ba&rsquo;du</em></p> <p>&#1593;&#1614;&#1606;&#1616; &#1575;&#1576;&#1618;&#1606;&#1616; &#1593;&#1614;&#1576;&#1617;&#1614;&#1575;&#1587;&#1613; &#1585;&#1614;&#1590;&#1616;&#1610;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615; &#1593;&#1614;&#1606;&#1618;&#1607;&#1615;&#1605;&#1614;&#1575; &#1571;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614; &#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1576;&#1616;&#1609;&#1617;&#1614; -&#1589;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607; &#1608;&#1587;&#1604;&#1605;- &#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614; &#1573;&#1616;&#1584;&#1614;&#1575; &#1585;&#1614;&#1601;&#1614;&#1593;&#1614; &#1585;&#1614;&#1571;&#1618;&#1587;&#1614;&#1607;&#1615; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1585;&#1617;&#1615;&#1603;&#1615;&#1608;&#1593;&#1616; &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614;: &rdquo; &#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575; &#1604;&#1614;&#1603;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1605;&#1618;&#1583;&#1615; &#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1614;&#1605;&#1648;&#1608;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616; &#1608;&#1614;&#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1575;&#1614;&#1585;&#1618;&#1590;&#1616; &#1608;&#1614;&#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575; &#1576;&#1614;&#1610;&#1618;&#1606;&#1614;&#1607;&#1615;&#1605;&#1614;&#1575; &#1608;&#1614;&#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575; &#1588;&#1616;&#1574;&#1618;&#1578;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1588;&#1614;&#1610;&#1618;&#1569;&#1613; &#1576;&#1614;&#1593;&#1618;&#1583;&#1615;. (&#1585;&#1608;&#1575;&#1607; &#1605;&#1587;&#1604;&#1605;)</p> <p>Dari Ibnu Abbas r.a., bahwasannya Nabi saw. ketika mengangkat kepalanya dari ruku&rsquo; beliau mengucapkan, &ldquo;Rabbanaa lakal hamdu mil&rsquo;as samaawaati wamil al-ardli wa mil a maa bainahumaa wa mil a maa syi&rsquo;ta min syai in ba&rsquo;du.&rdquo; (HR. Muslim)</p> <p><strong>Kelima. </strong><em>Rabbanaa walakal hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fihi</em></p> <p>&#1593;&#1606; &#1585;&#1601;&#1575;&#1593;&#1577; &#1576;&#1606; &#1585;&#1575;&#1601;&#1593; &#1575;&#1604;&#1586;&#1585;&#1602;&#1610; &#1585;&#1590;&#1610; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1606;&#1607; &#1602;&#1575;&#1604;: &#1603;&#1606;&#1575; &#1610;&#1608;&#1605;&#1575; &#1606;&#1589;&#1604;&#1610; &#1608;&#1585;&#1575;&#1569; &#1575;&#1604;&#1606;&#1576;&#1610; &#1589;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607; &#1608;&#1587;&#1604;&#1605;&#1548; &#1601;&#1604;&#1605;&#1575; &#1585;&#1601;&#1593; &#1585;&#1571;&#1587;&#1607; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1585;&#1603;&#1593;&#1577; &#1602;&#1575;&#1604;: &ldquo;&#1587;&#1605;&#1593; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1604;&#1605;&#1606; &#1581;&#1605;&#1583;&#1607; &rdquo; &#1548; &#1601;&#1602;&#1575;&#1604; &#1585;&#1580;&#1604; &#1608;&#1585;&#1575;&#1569;&#1607;: &#1585;&#1576;&#1606;&#1575; &#1608;&#1604;&#1603; &#1575;&#1604;&#1581;&#1605;&#1583; &#1581;&#1605;&#1583;&#1575; &#1603;&#1579;&#1610;&#1585;&#1575; &#1591;&#1610;&#1576;&#1575; &#1605;&#1576;&#1575;&#1585;&#1603;&#1575; &#1601;&#1610;&#1607;&#1548; &#1601;&#1604;&#1605;&#1575; &#1575;&#1606;&#1589;&#1585;&#1601; &#1602;&#1575;&#1604;: &ldquo;&#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1605;&#1578;&#1603;&#1604;&#1605;&#1567;&rdquo; &#1602;&#1575;&#1604;: &#1571;&#1606;&#1575;&#1548; &#1602;&#1575;&#1604;: &ldquo;&#1585;&#1571;&#1610;&#1578; &#1576;&#1590;&#1593;&#1577; &#1608;&#1579;&#1604;&#1575;&#1579;&#1610;&#1606; &#1605;&#1604;&#1603;&#1575; &#1610;&#1576;&#1578;&#1583;&#1585;&#1608;&#1606;&#1607;&#1575; &#1571;&#1610;&#1607;&#1605; &#1610;&#1603;&#1578;&#1576;&#1607;&#1575; &#1571;&#1608;&#1604;&rdquo; (&#1585;&#1608;&#1575;&#1607; &#1575;&#1604;&#1576;&#1582;&#1575;&#1585;&#1610;)</p> <p>Dari Rifa&rsquo;ah bin Rafi&rsquo; Az-Zarqi r.a., dia berkata, &ldquo;Suatu hari, kami shalat di belakang Nabi saw. lampau ketika beliau mengangkat kepalanya dari ruku&rsquo;, beliau mengucapkan, &ldquo;Sami&rsquo;Allahu liman Hamidah. Lalu ada seorang laki-laki yang berada di belakangnya mengucapkan, &ldquo;<em>Rabbanaa walakal hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi</em>.&rdquo; Ketika (hendak) pergi, beliau bertanya, &ldquo;Siapa yang mengucapkan tadi?&rdquo; laki-laki itu menjawab, &ldquo;Saya.&rdquo; Beliau bersabda, &ldquo;Aku memandang 30 lebih malaikat yang berebutan pertama kali menulis amalnya.&rdquo; (HR. Al-Bukhari)</p> <p><strong>Keenam. &lt;/strong&amp;amp;gt;<em>Baca</em>a&lt;/em&gt;n i&rsquo;tidal Imam Syafii</strong></p> <p>Imam Nawawi menukil pendapat pemimpin Syafii di dalam kitab <em>Al-Umm</em> yang mengatakan bahwa jika seseorang hendak berdiri dari ruku&rsquo; menuju i&rsquo;tidak dan melaksanakan &rsquo;tidal, maka dia mengucapkan</p> <p>&#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575; &#1604;&#1614;&#1603;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1605;&#1618;&#1583;&#1615; &#1581;&#1614;&#1605;&#1618;&#1583;&#1611;&#1575; &#1603;&#1614;&#1579;&#1616;&#1610;&#1618;&#1585;&#1611;&#1575; &#1591;&#1614;&#1610;&#1617;&#1616;&#1576;&#1611;&#1575; &#1605;&#1615;&#1576;&#1614;&#1575;&#1585;&#1614;&#1603;&#1611;&#1575; &#1601;&#1616;&#1610;&#1618;&#1607;&#1616; &#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1614;&#1605;&#1648;&#1608;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616; &#1608;&#1614;&#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1575;&#1614;&#1585;&#1618;&#1590;&#1616; &#1608;&#1614;&#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575; &#1576;&#1614;&#1610;&#1618;&#1606;&#1614;&#1607;&#1615;&#1605;&#1614;&#1575; &#1608;&#1614;&#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575; &#1588;&#1616;&#1574;&#1618;&#1578;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1588;&#1614;&#1610;&#1618;&#1569;&#1613; &#1576;&#1614;&#1593;&#1618;&#1583;&#1615; &#1571;&#1614;&#1607;&#1618;&#1604;&#1614; &#1575;&#1604;&#1579;&#1617;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575;&#1569;&#1616; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;&#1580;&#1618;&#1583;&#1616; &#1571;&#1614;&#1581;&#1614;&#1602;&#1617;&#1615; &#1605;&#1614;&#1575; &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1614;&#1576;&#1618;&#1583;&#1615; &#1608;&#1614;&#1603;&#1615;&#1604;&#1617;&#1615;&#1606;&#1614;&#1575; &#1604;&#1614;&#1603;&#1614; &#1593;&#1614;&#1576;&#1618;&#1583;&#1612; &#1604;&#1575;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;&#1593;&#1614; &#1604;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575; &#1571;&#1614;&#1593;&#1618;&#1591;&#1614;&#1610;&#1618;&#1578;&#1614; &#1608;&#1614;&#1604;&#1575;&#1614; &#1605;&#1615;&#1593;&#1618;&#1591;&#1616;&#1610;&#1614; &#1604;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575; &#1605;&#1614;&#1606;&#1614;&#1593;&#1618;&#1578;&#1614; &#1608;&#1614;&#1604;&#1575;&#1614; &#1610;&#1614;&#1606;&#1618;&#1601;&#1614;&#1593;&#1615; &#1584;&#1614;&#1575; &#1575;&#1604;&#1618;&#1580;&#1614;&#1583;&#1617;&#1616; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618;&#1603;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1580;&#1614;&#1583;&#1617;&#1615;.</p> <p><em>Rabbanaa lakal hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi mil&rsquo;as samaawaati wamil al-ardli wa mil a maa syi&rsquo;ta min syai in ba&rsquo;du ahlats tsanaa&rsquo;i wal majdi ahaqqu ma qaalal &lsquo;abdu wa kullunaa laka &lsquo;abdun laa maani&rsquo;a limaa a&rsquo;thaita walaa mu&rsquo;thia limaa mana&rsquo;ta walaa yanfa&rsquo;u dzal jaddi minkal jaddu.</em></p> <p>Ya Tuhan kami, hanyalah kepada Mu segala puji pujian yang banyak, baik, yang diberkahi di dalamnya sepenuh langit, sepenuhnya bumi, sepenuh keduanya, dan sepenuh apa yang Engkau inginkan darinya setelah itu. Dzat yang berkuasa mendapatkan pujian dan kemuliaan sebagaimana yang diucapkan oleh hambaNya.</p> <p>Dan kita semua adalah hamba bagiMu. Tidak ada yang dapat menghalangi terhadap apa yang telah Engkau berikan, dan Tidak ada yang dapat memberi terhadap apa yang telah Engkau cegah. Dan kemuliaan itu tidak ada gunanya dariMu Dzat yang mempunyai kemuliaan.</p> <p>Bacaan pemimpin Syafii tersebut merupakan campuran dari semua referensi yang diajarkan Rasulullah saw. dan sahabanya di dalam hadis-hadisnya.</p> <p>Imam Nawawi memberikan konklusi bahwa disunnahkan (jika mampu) membaca seluruh dari referensi dzikir-dzikir tersebut ketika ruku&rsquo; (sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Syafii). Jika mau meringkasnya maka cukup membaca &ldquo;Sami&rsquo;Allahu liman hamidah.&rdquo; &ldquo;Rabbanalakal hamdu mil&rsquo;as samaawaati wamil al ardli wa mil a maa syi&rsquo;ta min syain ba&rsquo;du.&rdquo; Dan jika mau meringkasnya lagi maka cukup mengatakan &ldquo;Sami&rsquo;a Allahu liman hamidah.&rdquo; &ldquo;Rabbanaa walakal hamd.&rdquo; Dan tidak ada referensi yang lebih ringkas dari itu.&lt;/p&gt;</p> <p>Terakhir pemimpin Nawawi mengatakan ragam referensi dzikir yang bisa dibaca saat i&rsquo;tidal tersebut semuanya sunnah dilakukan baik bagi imam, makmum, maupun orang yang shalat sendirian. Kecuali bagi imam, tidak boleh membaca semua dzikir tersebut selain dia mengetahui bahwa makmumnya juga memperbolehkan dia shalat dengan referensi yang panjang.</p> <p>Hal ini disebabkan lantaran kondisi pemimpin yang berbeda-beda, ada yang tua, sibuk, dan lain sebagainya. Sehingga dikhawatirkan jika pemimpin membaca terlalu panjang dan lama, maka makmumnya bakal merasa resah. Wa Allahu A&rsquo;lam bis Shawab.</p> <div> <p><a href="https://bit.ly/SertifikasiHalalGratisEBI" target="_blank" rel="noopener noreferrer"> <img src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-15-at-20.44.10.jpeg" alt="Sertifikasi Halal"> </a> </p> </div> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/ragam-bacaan-dzikir-yang-bisa-dibaca-ketika-i-tidal-166879.html</guid> <pubDate>Mon, 17 Aug 2026 21:00:21 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Zainuddin Lubis)</author> </item> <item> <title>Ragu Jumlah Rakaat Shalat? Ini Solusinya</title> <description>Ragu Jumlah Rakaat Shalat? Ini Solusinya. Kincai Media– Di antara sekian banyak gangguan dalam shalat, ragu jumlah rakaat, barangkali adalah yang paling sering dialami umat Islam. Bayangkan: seseo...</description> <media:thumbnail url="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2025/10/15132.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/ragu-jumlah-rakaat-shalat-ini-solusinya-166880.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div> <div><figure><a href="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2025/10/15132.jpg" data-caption="Ragu Jumlah Rakaat Saat Shalat? Ini Solusinya"><img width="696" height="464" src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2025/10/15132.jpg" srcset="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2025/10/15132-696x464.jpg 696w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2025/10/15132-640x427.jpg 640w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2025/10/15132-1024x683.jpg 1024w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2025/10/15132-768x512.jpg 768w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2025/10/15132-630x420.jpg 630w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2025/10/15132-1068x712.jpg 1068w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2025/10/15132.jpg 1500w" sizes=" 696px) 100vw, 696px" alt="Ragu Jumlah Rakaat Saat Shalat? Ini Solusinya" title="Ragu Jumlah Rakaat Saat Shalat? Ini Solusinya"></a>Ragu Jumlah Rakaat Saat Shalat? Ini Solusinya</figure></div> <p><strong>Kincai Media</strong>&ndash; Di antara sekian banyak gangguan dalam shalat, ragu jumlah rakaat, barangkali adalah yang paling sering dialami umat Islam. Bayangkan: seseorang sedang <a href="https://bincangsyariah.com/tag/batasan-khusyuk/">khusyuk</a> dalam rakaat ketiga, tiba-tiba pikirannya melayang &mdash; &ldquo;Tadi ini rakaat keempat alias baru ketiga?&rdquo; Dalam momen seperti itu, ketenangan ibadah pun berubah menjadi kebingungan.</p> <p>Lantas gimana jika seorang <a href="https://bincangmuslimah.com/">Muslim</a> tak percaya &nbsp;atau ragu berapa rakaat shalat yang telah dia tunaikan? Haruskah dia menebak dengan perasaan? Atau gimana pedoman fiqh dalam masalah ragu dalam bilangan shalat?</p> <p>Imam an-Nawawi, dalam kitab <em>Raudhatut Thalibin</em> menjelaskan bahwa jika seseorang sedang shalat lampau merasa ragu, misalnya tidak percaya apakah sudah tiga rakaat alias empat, maka yang kudu diambil adalah jumlah yang paling sedikit, ialah tiga rakaat. Setelah itu, dia melanjutkan kekurangannya hingga shalatnya lengkap, lampau melakukan sujud sahwi (dua kali sujud lantaran lupa alias ragu).</p> <p>Alasannya, dalam Islam kita diajarkan untuk berpegang pada perihal yang percaya dan meninggalkan yang tetap diragukan. Dalam contoh ini, yang pasti adalah tiga rakaat (karena tiga sudah dilakukan dengan yakin), sedangkan empat tetap ragu. Simak penjelasan Imam An-Nawawi berikut;</p> <p>&#1608;&#1604;&#1608; &#1588;&#1603;&#1614;&#1617; &#1607;&#1604; &#1589;&#1604;&#1614;&#1617;&#1609; &#1579;&#1604;&#1575;&#1579;&#1611;&#1575; &#1571;&#1605; &#1571;&#1585;&#1576;&#1593;&#1611;&#1575;&#1567; &#1571;&#1582;&#1584; &#1576;&#1575;&#1604;&#1571;&#1602;&#1604;&#1616;&#1617;&#1548; &#1608;&#1571;&#1578;&#1609; &#1576;&#1575;&#1604;&#1576;&#1575;&#1602;&#1610;&#1548; &#1608;&#1587;&#1580;&#1583; &#1604;&#1604;&#1587;&#1607;&#1608;&#1563; &#1608;&#1604;&#1575; &#1610;&#1606;&#1601;&#1593;&#1607; &#1575;&#1604;&#1592;&#1606;&#1548; &#1608;&#1604;&#1575; &#1571;&#1579;&#1585; &#1604;&#1604;&#1575;&#1580;&#1578;&#1607;&#1575;&#1583; &#1601;&#1610; &#1607;&#1584;&#1575; &#1575;&#1604;&#1576;&#1575;&#1576;</p> <p>Artinya; Jika seseorang ragu apakah dia telah shalat tiga rakaat alias empat rakaat, maka dia kudu mengambil jumlah yang lebih sedikit (yaitu tiga rakaat), kemudian menyempurnakan kekurangannya, dan setelah itu melakukan sujud sahwi. Dalam perihal ini, dugaan alias perkiraannya tidak dianggap benar, dan ijtihad (upaya menebak dengan kepercayaan pribadi) juga tidak bertindak dalam masalah seperti ini. (Imam An-Nawawi, <em>Raudhatut Thalibin</em>, Jilid I, laman 308)</p> <p><strong>Melakukan Sujud Sahwi di Akhir Shalat</strong></p> <p>Pun, Imam al-Mardawi, menjelaskan perihal yang sama, jika seseorang ragu jumlah rakaat shalatnya, maka dia kudu berpegang pada yang paling yakin, ialah jumlah yang lebih sedikit. Misalnya, jika seseorang tidak percaya apakah dia sudah shalat dua alias tiga rakaat, maka dia kudu menghitungnya dua rakaat saja, lantaran itu yang pasti. Setelah itu, dia menyempurnakan kekurangannya dan melakukan sujud sahwi di akhir shalat.</p> <p>&#1608;&#1571;&#1605;&#1614;&#1617;&#1575; &#1575;&#1604;&#1588;&#1614;&#1617;&#1603;&#1615;&#1617;&#1548; &#1601;&#1605;&#1578;&#1609; &#1588;&#1603;&#1614;&#1617; &#1601;&#1610; &#1593;&#1583;&#1583; &#1575;&#1604;&#1585;&#1603;&#1593;&#1575;&#1578; &#1576;&#1614;&#1606;&#1614;&#1609; &#1593;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1610;&#1602;&#1610;&#1606;&#1548; &#1607;&#1584;&#1575; &#1575;&#1604;&#1605;&#1584;&#1607;&#1576; &#1605;&#1591;&#1604;&#1602;&#1611;&#1575;&#1548; &#1608;&#1593;&#1604;&#1610;&#1607; &#1580;&#1605;&#1575;&#1607;&#1610;&#1585; &#1575;&#1604;&#1571;&#1589;&#1581;&#1575;&#1576;</p> <p>Artinya; Adapun keraguan dalam jumlah rakaat, maka andaikan seseorang ragu berapa rakaat yang telah dia kerjakan, dia kudu berpegang pada yang lebih percaya (jumlah yang lebih sedikit). Inilah pendapat ajaran (Syafi&lsquo;i) secara umum, dan menjadi pegangan kebanyakan ustadz dalam ajaran tersebut. (Imam Mardhawi, <em>Al-Inshaf,</em> Jilid II, laman 146)</p> <p>Pada sisi lain, dalam sabda riwayat Abu Daud, dijelaskan bahwa Nabi Muhammad mengajarkan, ketika seseorang ragu dalam shalat; apakah sudah tiga rakaat alias empat, maka seyogianya ikutilah yang paling yakin, ialah jumlah rakaat yang lebih sedikit. Setelah itu, sebelum salam di akhir, sempurnakan kekurangannya dan tutup shalat dengan dua sujud sahwi.</p> <p>&#1573;&#1616;&#1584;&#1614;&#1575; &#1588;&#1614;&#1603;&#1614;&#1617; &#1571;&#1614;&#1581;&#1614;&#1583;&#1615;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618; &#1601;&#1616;&#1610; &#1589;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616;&#1607;&#1616; &#1601;&#1614;&#1604;&#1618;&#1610;&#1615;&#1604;&#1618;&#1602;&#1616; &#1575;&#1604;&#1588;&#1614;&#1617;&#1603;&#1614;&#1617; &#1608;&#1614;&#1604;&#1618;&#1610;&#1614;&#1576;&#1618;&#1606;&#1616; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609; &#1575;&#1604;&#1618;&#1610;&#1614;&#1602;&#1616;&#1610;&#1606;&#1616; &#1601;&#1614;&#1573;&#1616;&#1584;&#1614;&#1575; &#1575;&#1587;&#1618;&#1578;&#1614;&#1610;&#1618;&#1602;&#1614;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1578;&#1614;&#1617;&#1605;&#1614;&#1575;&#1605;&#1614; &#1587;&#1614;&#1580;&#1614;&#1583;&#1614; &#1587;&#1614;&#1580;&#1618;&#1583;&#1614;&#1578;&#1614;&#1610;&#1618;&#1606;&#1616; &#1601;&#1614;&#1573;&#1616;&#1606;&#1618; &#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614;&#1578;&#1618; &#1589;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575;&#1578;&#1615;&#1607;&#1615; &#1578;&#1614;&#1575;&#1605;&#1614;&#1617;&#1577;&#1611; &#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614;&#1578;&#1618; &#1575;&#1604;&#1585;&#1614;&#1617;&#1603;&#1618;&#1593;&#1614;&#1577;&#1615; &#1606;&#1614;&#1575;&#1601;&#1616;&#1604;&#1614;&#1577;&#1611; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1587;&#1614;&#1617;&#1580;&#1618;&#1583;&#1614;&#1578;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616; &#1608;&#1614;&#1573;&#1616;&#1606;&#1618; &#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614;&#1578;&#1618; &#1606;&#1614;&#1575;&#1602;&#1616;&#1589;&#1614;&#1577;&#1611; &#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614;&#1578;&#1618; &#1575;&#1604;&#1585;&#1614;&#1617;&#1603;&#1618;&#1593;&#1614;&#1577;&#1615; &#1578;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575;&#1605;&#1611;&#1575; &#1604;&#1616;&#1589;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616;&#1607;&#1616; &#1608;&#1614;&#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614;&#1578;&#1618; &#1575;&#1604;&#1587;&#1614;&#1617;&#1580;&#1618;&#1583;&#1614;&#1578;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616; &#1605;&#1615;&#1585;&#1618;&#1594;&#1616;&#1605;&#1614;&#1578;&#1614;&#1610;&#1618; &#1575;&#1604;&#1588;&#1614;&#1617;&#1610;&#1618;&#1591;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;</p> <p>Artinya; Apabila salah seorang di antara kalian ragu dalam shalatnya, maka buanglah keraguannya dan berpeganglah pada yang lebih yakin. Jika kemudian dia menyadari bahwa shalatnya telah sempurna, maka rakaat tambahan itu menjadi kebaikan sunnah baginya, dan dua sujud (sujud sahwi) juga menjadi tambahan pahala. Namun jika rupanya shalatnya tetap kurang, maka rakaat tambahan itu menjadi penyempurna shalatnya, dan dua sujud tersebut bakal membikin setan terhina. (HR. Imam Abu Daud).</p> <p>Muhammad Syamsu Haq &lsquo;Ubadi, <em>&lsquo;</em><a href="https://www.islamweb.net/ar/library/content/55/1710/%D8%A8%D8%A7%D8%A8-%D8%A5%D8%B0%D8%A7-%D8%B4%D9%83-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%AB%D9%86%D8%AA%D9%8A%D9%86-%D9%88%D8%A7%D9%84%D8%AB%D9%84%D8%A7%D8%AB-%D9%85%D9%86-%D9%82%D8%A7%D9%84-%D9%8A%D9%84%D9%82%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%B4%D9%83"><em>Aunul Ma&rsquo;bud</em>,</a> juha menjelaskan ketika seseorang mengalami keraguan dalam shalat, maka dia kudu berpegang pada perihal yang paling yakin, ialah jumlah rakaat yang lebih sedikit. Setelah itu, dia menyempurnakan kekurangannya dan melakukan sujud sahwi di akhir shalat.</p> <p>. ( &#1575;&#1604;&#1588;&#1603; ) &#1608;&#1610;&#1604;&#1586;&#1605;&#1607; &#1575;&#1604;&#1576;&#1606;&#1575;&#1569; &#1593;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1610;&#1602;&#1610;&#1606; &#1608;&#1607;&#1608; &#1575;&#1604;&#1571;&#1602;&#1604; &#1601;&#1610;&#1571;&#1578;&#1610; &#1576;&#1605;&#1575; &#1576;&#1602;&#1610; &#1608;&#1610;&#1587;&#1580;&#1583; &#1604;&#1604;&#1587;&#1607;&#1608; &#1601;&#1605;&#1606; &#1588;&#1603; &#1607;&#1604; &#1589;&#1604;&#1609; &#1579;&#1604;&#1575;&#1579;&#1575; &#1571;&#1605; &#1571;&#1585;&#1576;&#1593;&#1575; &#1605;&#1579;&#1604;&#1575; &#1610;&#1576;&#1606;&#1610; &#1593;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1571;&#1602;&#1604; &#1608;&#1607;&#1608; &#1575;&#1604;&#1579;&#1604;&#1575;&#1579; &#1608;&#1605;&#1606; &#1588;&#1603; &#1607;&#1604; &#1589;&#1604;&#1609; &#1579;&#1604;&#1575;&#1579;&#1575; &#1571;&#1608; &#1575;&#1579;&#1606;&#1578;&#1610;&#1606; &#1610;&#1576;&#1606;&#1610; &#1593;&#1604;&#1609; &#1575;&#1579;&#1606;&#1578;&#1610;&#1606; . &#1608;&#1571;&#1589;&#1585;&#1581; &#1601;&#1610; &#1575;&#1604;&#1605;&#1585;&#1575;&#1583; &#1581;&#1583;&#1610;&#1579; &#1593;&#1576;&#1583; &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606; &#1576;&#1606; &#1593;&#1608;&#1601; &#1603;&#1605;&#1575; &#1587;&#1610;&#1571;&#1578;&#1610; . &#1602;&#1575;&#1604; &#1575;&#1604;&#1606;&#1608;&#1608;&#1610; : &#1608;&#1607;&#1608; &#1605;&#1584;&#1607;&#1576; &#1575;&#1604;&#1588;&#1575;&#1601;&#1593;&#1610; &#1608;&#1575;&#1604;&#1580;&#1605;&#1607;&#1608;&#1585; &#1601;&#1573;&#1606;&#1607;&#1605; &#1602;&#1575;&#1604;&#1608;&#1575; &#1601;&#1610; &#1608;&#1580;&#1608;&#1576; &#1575;&#1604;&#1576;&#1606;&#1575;&#1569; &#1593;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1610;&#1602;&#1610;&#1606; &#1548; &#1608;&#1581;&#1605;&#1604;&#1608;&#1575; &#1575;&#1604;&#1578;&#1581;&#1585;&#1610; &#1601;&#1610; &#1581;&#1583;&#1610;&#1579; &#1575;&#1576;&#1606; &#1605;&#1587;&#1593;&#1608;&#1583; &#1593;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1571;&#1582;&#1584; &#1576;&#1575;&#1604;&#1610;&#1602;&#1610;&#1606; &#1548; &#1602;&#1575;&#1604;&#1608;&#1575; &#1608;&#1575;&#1604;&#1578;&#1581;&#1585;&#1610; &#1607;&#1608; &#1575;&#1604;&#1602;&#1589;&#1583; &#1548; &#1608;&#1605;&#1606;&#1607; &#1602;&#1608;&#1604;&#1607; &#1578;&#1593;&#1575;&#1604;&#1609; &#1578;&#1581;&#1585;&#1608;&#1575; &#1585;&#1588;&#1583;&#1575; &#1601;&#1610; &#1581;&#1583;&#1610;&#1579; &#1571;&#1576;&#1610; &#1587;&#1593;&#1610;&#1583; &#1608;&#1594;&#1610;&#1585;&#1607; . &#1575;&#1606;&#1578;&#1607;&#1609; &#1548; &#1608;&#1587;&#1610;&#1580;&#1610;&#1569; &#1578;&#1608;&#1590;&#1610;&#1581;&#1607; &#1605;&#1606; &#1603;&#1604;&#1575;&#1605; &#1575;&#1604;&#1582;&#1591;&#1575;&#1576;&#1610; &#1608;&#1587;&#1604;&#1601; &#1570;&#1606;&#1601;&#1575; &#1603;&#1604;&#1575;&#1605; &#1575;&#1604;&#1576;&#1610;&#1607;&#1602;&#1610; &#1601;&#1610;&#1607; &#1608;&#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1571;&#1593;&#1604;&#1605;</p> <p>Artinya; Ketika keraguan (dalam shalat) terjadi, maka diharuskan untuk dibangun di atas keyakinan, ialah pada jumlah rakaat yang lebih sedikit. Setelah itu, sisa rakaat disempurnakan dan dilakukan sujud sahwi.</p> <p>Maka jika keraguan antara tiga alias empat rakaat muncul, tiga rakaat dijadikan patokan. Dan jika ragu antara dua alias tiga rakaat, maka dua rakaat yang dijadikan dasar. Hal ini diperjelas dalam sabda Abdurrahman bin &lsquo;Auf, sebagaimana bakal disebutkan kemudian.</p> <p>Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa pendapat ini adalah ajaran Imam Syafi&lsquo;i dan jumhur (mayoritas ulama). Mereka beranggapan bahwa shalat kudu dibangun di atas keyakinan, dan kata &ldquo;taharr&#299;&rdquo; dalam sabda Ibnu Mas&lsquo;ud dipahami sebagai berpegang pada keyakinan.</p> <p>Mereka berbicara bahwa &ldquo;taharr&#299;&rdquo; berfaedah niat dan maksud yang benar, sebagaimana firman Allah Ta&lsquo;ala: &ldquo;Taharrau rusydan&rdquo; &mdash; bertujuannya kepada jalan yang benar. Penjelasan tentang perihal ini juga bakal disebutkan dari perkataan al-Khaththabi, dan sebelumnya telah disebut penjelasan al-Baihaqi tentang perihal tersebut. Allah Maha Mengetahui. (Muhammad Syamsu Haq &lsquo;Ubadi, <em>&lsquo;Aunul Ma&rsquo;bud</em>, (Beirut: Darul Fikr, 1995 M) Juz III, laman 244).</p> <p>Dengan demikian, ketika seseorang ragu terhadap jumlah rakaat dalam shalat, langkah pertama yang kudu dilakukan adalah berpegang pada jumlah yang paling sedikit, lantaran itulah yang lebih meyakinkan. Misalnya, dalam shalat Isya seseorang ragu apakah sudah melaksanakan tiga alias empat rakaat, maka yang diambil adalah tiga rakaat. Setelah itu, dia menyempurnakan kekurangannya dan menutup shalat dengan dua sujud sahwi.</p> <div> <p><a href="https://bit.ly/SertifikasiHalalGratisEBI" target="_blank" rel="noopener noreferrer"> <img src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-15-at-20.44.10.jpeg" alt="Sertifikasi Halal"> </a> </p> </div> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/ragu-jumlah-rakaat-shalat-ini-solusinya-166880.html</guid> <pubDate>Mon, 17 Aug 2026 21:00:21 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Zainuddin Lubis)</author> </item> <item> <title>Dari Tanah Suci, Para Haji Membawa Pulang Semangat Melawan Penjajahan Dan Kolonialisme</title> <description>Dari Tanah Suci, Para Haji Membawa Pulang Semangat Melawan Penjajahan Dan Kolonialisme. Kincai Media, Ibadah haji bagi umat Islam Nusantara pada masa kolonial tidak berakhir sebagai perjalanan spiritual untuk menunaikan rukun Islam. Pe...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/suasana-makkah-di-masa-puncak-musim-haji-tempo-dulu-_170819091451-634.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/dari-tanah-suci-para-haji-membawa-pulang-semangat-melawan-penjajahan-dan-kolonialisme-166876.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div data-sticky-container> <p>Kincai Media, Ibadah<a href="https://republika.co.id/tag/haji"> haji </a>bagi umat Islam Nusantara pada masa kolonial tidak berakhir sebagai perjalanan spiritual untuk menunaikan rukun Islam. Perjalanan menuju Tanah Suci juga menjadi ruang perjumpaan, pertukaran pengetahuan dan gagasan, serta tumbuhnya kesadaran berbareng tentang kondisi umat Islam di beragam bagian dunia. Dari Makkah, sebagian jamaah haji Nusantara membawa pulang semangat pembaruan dan kesadaran untuk melawan kolonialisme dan kolonialisme yang kemudian turut mempengaruhi aktivitas perlawanan terhadap kolonialis di Tanah Air.</p><div> <p dir="ltr">Ibadah haji bukan hanya persoalan ritual tanggungjawab kepercayaan Islam, bukan pula hanya aspek ekonomi, jalinan keilmuan antara Nusantara dan Timur Tengah. Ibadah haji juga sebagai media transmisi aktivitas pembaharuan dan konsolidasi aktivitas perlawanan kepada pemerintah kolonial Belanda di bumi Nusantara. Selain dari itu semua, ibadah haji juga sangat jelas menunjukkan kegunaan transformasi masyarakat.</p> <p dir="ltr">Aktifitas perjalanan haji telah ada sejak masa-masa awal masuknya Islam di Nusantara. Artinya, sejarah haji di Nusantara berumur setua sejarah Islam sendiri lantaran begitu seseorang masuk Islam, dia dihadapkan pada lima tanggungjawab dasar yang kudu dipenuhi yang disebut rukun Islam (arkan al-Islam), menunaikan haji ke Makkah adalah salah satu dari rukun Islam. &nbsp;</p><p dir="ltr">Di antara banyak kegunaan transformatif ibadah haji, satu di antaranya<a href="https://republika.co.id/tag/ibadah-haji"> ibadah haji </a>sebagai pemersatu kesadaran nasional di bumi Nusantara. Kesadaran nasional tidak hanya terbentuk di Indonesia, tapi juga tumbuh di luar negeri terutama di Makkah dalam suasana ibadah haji lantaran jamaah dari beragam daerah di Indonesia berdatangan setiap musim haji.</p> <p dir="ltr">Bagi yang sudah mukim di Makkah mereka bebas melakukan pertemuan.</p><p dir="ltr">Di Makkah, jauh sebelum Sumpah Pemuda, bahasa Melayu sudah berfaedah sebagai ikatan pemersatu orang Nusantara. Bayangkan, di Makkah orang dari Jawa, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi Selatan, Kalimantan, Semenanjung Malaya, Minangkabau dan Aceh selama lima bulan bebas bergaul, tukar pengalaman dan pikiran.</p><p dir="ltr">Snouck Hurgronje mencatat gimana orang dari seluruh Nusantara ikut membicarakan perlawanan Aceh terhadap Belanda, dan gimana mata mereka dibuka mengenai kolonialisme Belanda maupun Inggris dan Prancis atas bangsa-bangsa Islam. Di Makkah, jauh sebelum Sumpah Pemuda, bahasa Melayu sudah berfaedah sebagai ikatan pemersatu orang Nusantara.</p></div> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/dari-tanah-suci-para-haji-membawa-pulang-semangat-melawan-penjajahan-dan-kolonialisme-166876.html</guid> <pubDate>Mon, 17 Aug 2026 15:30:12 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Muhammad Hafil)</author> </item> <item> <title>Sultan Alauddin Melawan Monopoli Voc: Jangan Ambil Nasi Dari Mulut Orang Lain</title> <description>Sultan Alauddin Melawan Monopoli Voc: Jangan Ambil Nasi Dari Mulut Orang Lain. Kincai Media, Upaya Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) alias Perusahaan Hindia Timur Belanda memaksakan monopoli perdagangan di Indonesia Timur...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/potongan-surat-sultan-aceh-alauddin-kepada-sultan-suleiman-kanuni_250212104012-813.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/sultan-alauddin-melawan-monopoli-voc-jangan-ambil-nasi-dari-mulut-orang-lain-166875.html</link> <content:encoded><![CDATA[<p><span>         Potongan surat Sultan Aceh Alauddin kepada Sultan Suleiman Kanuni pada 1566.
      </span> </p><div data-sticky-container> <p>Kincai Media, Upaya Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) alias Perusahaan Hindia Timur Belanda memaksakan monopoli perdagangan di Indonesia Timur mendapat perlawanan keras dari Kerajaan Gowa. Di bawah<a href="https://republika.co.id/tag/sultan-alauddin"> Sultan Alauddin </a>raja Gowa ke-14, kerajaan tersebut menolak tekanan VOC yang hendak membatasi kebebasan orang-orang Makassar berbisnis hingga ke Maluku dan Banda. Sikap tegas Sultan Alauddin apalagi tercermin dalam pernyataannya bahwa larangan berbisnis sama saja dengan &ldquo;mengambil nasi dari mulut orang lain.&rdquo;</p><div> <p dir="ltr">Dalam catatan sejarah, upaya Belanda alias VOC untuk mengadakan hubungan jual beli dengan Gowa sudah dimulai tahun 1601 dan disusul tahun 1607, tetapi selalu ditolak oleh raja Gowa. Dengan beragam cara, VOC tetap berupaya untuk menjalankan kewenangan monopoli dagangnya, termasuk di area Indonesia Timur.</p> <p dir="ltr">Sejak VOC terbentuk tahun 1602, beberapa tahun kemudian sudah diadakan hubungan jual beli di Indonesia Barat, khususnya di Jawa. Tetapi di Indonesia Timur barulah Maluku, sedangkan Kerajaan Gowa tetap susah untuk dihadapi.</p><p dir="ltr">Tahun 1615, semasa pemerintahan Sultan Alauddin, Belanda alias VOC mengulangi lagi usahanya untuk mengadakan kontak dengan Gowa. Kapal jual beli Belanda Enkhuysen berlabuh di bandar Sombaopu. Seorang Belanda berjulukan Abraham Sterck tidak mendapat perlakuan layak dari orang Makassar, dia kembali ke kapal melaporkan perihal tersebut kepada kapten kapal, ialah Dirck de Vries.</p> <p dir="ltr"><strong>Tipu Muslihat VOC</strong></p><p dir="ltr">Merespon peristiwa tersebut, pihak Belanda alias VOC mengadakan tipu muslihat dengan mengundang beberapa orang bangsawan dan pembesar Kerajaan Gowa untuk beramah-tamah dengan Belanda di atas kapal.</p><p dir="ltr">Ternyata setelah berada di atas kapal, orang-orang Gowa tersebut dilucuti senjatanya. Mereka tidak mau menyerah begitu saja, sehingga terjadilah perkelahian yang membawa korban bagi kedua belah pihak.</p><p dir="ltr">Karena kekuatan yang tidak seimbang, perlawanan orang Gowa di kapal Belanda dapat dipatahkan dan beberapa di antaranya dibawa ke Jawa sebagai tawanan VOC.</p></div> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/sultan-alauddin-melawan-monopoli-voc-jangan-ambil-nasi-dari-mulut-orang-lain-166875.html</guid> <pubDate>Mon, 17 Aug 2026 15:00:13 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Muhammad Hafil)</author> </item> <item> <title>Promo Spesial Kemerdekaan Free Fire Hadir Di Unipin, Diskon Hingga Rp25.000!</title> <description>Promo Spesial Kemerdekaan Free Fire Hadir Di Unipin, Diskon Hingga Rp25.000!. Hai, Sahabat UniPin! Semangat kemerdekaan Indonesia datang di medan pertempuran Free Fire! Dalam rangka merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia, UniPin menghadirkan...</description> <media:thumbnail url="https://blog.unipin.com/wp-content/uploads/2026/08/Promo-Spesial-Kemerdekaan-Free-Fire-Hadir-di-UniPin-Diskon-hingga-Rp25.000.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/promo-spesial-kemerdekaan-free-fire-hadir-di-unipin-diskon-hingga-rp25-000-166872.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div data-td-block-uid="tdi_68"> <div><p>Hai, Sahabat UniPin!</p> <p>Semangat kemerdekaan Indonesia datang di medan pertempuran Free Fire! Dalam rangka merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia, UniPin menghadirkan Promo Spesial Kemerdekaan untuk para pemain Free Fire.</p> <p>Kamu bisa menikmati potongan nilai hingga Rp20.000 saat <a href="https://www.unipin.com/ID/garena/free-fire">top up Free Fire</a> menggunakan E-Wallet. Bukan hanya top up lebih hemat, Anda juga berkesempatan mendapatkan Captain of Courage Bundle, bundle spesial mulai dari 9 diamonds yang siap melengkapi style Anda di arena.</p> <p>Jangan sampai kelewatan kesempatan untuk merayakan kemerdekaan sembari memperkuat persiapanmu di Free Fire!</p> <h3>Syarat dan ketentuan:</h3> <ol> <li>Login ke akun UniPin &amp; top up minimal 50.000 untuk mendapatkan potongan nilai 10% hingga 25.000. Belum punya akun? <a href="https://www.unipin.com/register">Yuk daftar disini</a></li> <li>Periode promo: 17 &ndash; 23 August 2026.</li> <li>Promo bertindak untuk top up produk Free Fire di UniPin minimum Rp50.000 dengan metode pembayaran e-Wallet</li> <li>Setiap user hanya bisa mendapatkan potongan nilai 1x selama periode promo.</li> <li>UniPin berkuasa sewaktu-waktu mengubah syarat dan ketentuan promo tanpa pemberitahuan terlebih dulu andaikan diduga terjadi tindakan kecurangan dari pengguna yang merugikan UniPin.</li> <li>UniPin berkuasa sewaktu-waktu membatalkan hadiah/promo, membatalkan transaksi alias membekukan akun jika diperlukan, andaikan ditemukan indikasi penyalahgunaan oleh pengguna yang merugikan UniPin.</li> <li>User mendapatkan promo selama kuota tetap tersedia</li> </ol> <p>Happy Gaming, Sahabat UniPin!</p> <p>Top up angsuran game termurah dan tercepat hanya di&#8239;UniPin!</p> </div></div><div data-td-block-uid="tdi_75"> <div><p><a href="https://blog.unipin.com/author/upadm/" title="UniPin"><img alt="UniPin" src="https://secure.gravatar.com/avatar/e81933e4cf99546783ed5a40b99455f0e4d2123927656be6124561fbc41abd21?s=234&amp;r=g" srcset="https://secure.gravatar.com/avatar/e81933e4cf99546783ed5a40b99455f0e4d2123927656be6124561fbc41abd21?s=234&amp;r=g 2x" height="117" width="117" loading="lazy" decoding="async"></a></p><div><p><a href="https://blog.unipin.com/author/upadm/">UniPin</a></p><p>UniPin Blog Menyediakan Artikel Promo, Events dan Updates Seputar Games, Kamu Juga Bisa Mendapatkan Panduan dan Tips Bermain Games Disini.</p></div></div></div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/promo-spesial-kemerdekaan-free-fire-hadir-di-unipin-diskon-hingga-rp25-000-166872.html</guid> <pubDate>Mon, 17 Aug 2026 00:30:21 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (UniPin)</author> </item> <item> <title>Bundle Pahlawan Kemerdekaan Telah Datang! Top Up Sekarang Dan Nikmati Diskon 25.000*!</title> <description>Bundle Pahlawan Kemerdekaan Telah Datang! Top Up Sekarang Dan Nikmati Diskon 25.000*!. Hi Sahabat UniPin, Semangat kemerdekaan makin terasa dengan kehadiran Captain of Courage Bundle di Free Fire! Saatnya tampil beda di medan pertempuran dengan ta...</description> <media:thumbnail url="https://blog.unipin.com/wp-content/uploads/2026/08/Bundle-Pahlawan-Kemerdekaan-Telah-Datang-Top-Up-Sekarang-dan-Nikmati-Diskon-25.000.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/bundle-pahlawan-kemerdekaan-telah-datang-top-up-sekarang-dan-nikmati-diskon-25-000-166873.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div data-td-block-uid="tdi_68"> <div><p>Hi Sahabat UniPin,</p> <p>Semangat kemerdekaan makin terasa dengan kehadiran Captain of Courage Bundle di Free Fire! Saatnya tampil beda di medan pertempuran dengan tampilan gagah berani yang siap membakar semangat juangmu.</p> <p>Biar top up makin hemat, UniPin punya promo spesial buat kamu! <a href="https://www.unipin.com/id/garena/free-fire">Top up Diamond Free Fire</a> mulai dari QRIS dan nikmati potongan nilai hingga Rp25.000* untuk setiap transaksi yang memenuhi syarat.</p> <p>Jangan lewatkan kesempatan untuk mendapatkan Captain of Courage Bundle dengan nilai lebih murah. Yuk, top up Free Fire sekarang di UniPin dan rayakan kemerdekaan dengan style pahlawan sejati!</p> <h3><strong>Syarat dan Ketentuan:&#8239;&#8239;</strong></h3> <ol> <li>Periode Promo: 17&ndash;23 Agustus 2026.</li> <li>Kunjungi website UniPin dan log in ke akun UniPin sebelum melakukan redeem di Free Fire.</li> <li>Promo potongan nilai 10% hingga Rp 25.000 dengan metode pembayaran QRIS, dengan min. Transaksi Rp50.000.</li> <li>Promo hanya bertindak untuk pengguna yang login sebelum menyelesaikan transaksi. Belum punya akun UniPin?&#8239;<a href="https://www.unipin.com/register">Registrasi di sini</a>!</li> <li>Kuota promo terbatas.</li> <li>Setiap pengguna hanya bisa mendapatkan 1x potongan nilai per hari selama periode promo.</li> <li>UniPin berkuasa sewaktu-waktu mengubah syarat dan ketentuan promo tanpa pemberitahuan terlebih dulu andaikan diduga terjadi tindakan kecurangan oleh pengguna yang merugikan UniPin.</li> <li>UniPin berkuasa sewaktu-waktu membatalkan hadiah/promo, membatalkan transaksi alias membekukan akun jika diperlukan, andaikan ditemukan indikasi penyalahgunaan oleh pengguna yang merugikan UniPin.</li> <li>Keputusan pemilihan pemenang oleh UniPin berkarakter final dan tidak dapat diganggu gugat.</li> </ol> <p>Happy gaming, Sahabat UniPin!</p> <p>Top up game angsuran tercepat dan termurah hanya di&#8239;UniPin!</p> <p>Nantikan beragam promo menarik lainnya dengan follow akun social media UniPin dan YouTube:&#8239;UniPin Gaming</p> </div></div><div data-td-block-uid="tdi_75"> <div><p><a href="https://blog.unipin.com/author/upadm/" title="UniPin"><img alt="UniPin" src="https://secure.gravatar.com/avatar/e81933e4cf99546783ed5a40b99455f0e4d2123927656be6124561fbc41abd21?s=234&amp;r=g" srcset="https://secure.gravatar.com/avatar/e81933e4cf99546783ed5a40b99455f0e4d2123927656be6124561fbc41abd21?s=234&amp;r=g 2x" height="117" width="117" loading="lazy" decoding="async"></a></p><div><p><a href="https://blog.unipin.com/author/upadm/">UniPin</a></p><p>UniPin Blog Menyediakan Artikel Promo, Events dan Updates Seputar Games, Kamu Juga Bisa Mendapatkan Panduan dan Tips Bermain Games Disini.</p></div></div></div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/bundle-pahlawan-kemerdekaan-telah-datang-top-up-sekarang-dan-nikmati-diskon-25-000-166873.html</guid> <pubDate>Mon, 17 Aug 2026 00:30:21 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (UniPin)</author> </item> <item> <title>Ruginya Orang Yang Tidak Bergerak Ke Masjid Untuk Sholat Jumat</title> <description>Ruginya Orang Yang Tidak Bergerak Ke Masjid Untuk Sholat Jumat. Kincai Media, TANGERANG--Sangat dianjurkan bagi umat Islam agar datang lebih awal menjelang penyelenggaraan sholat Jumat di Masjid. Karena, akibat dari tidak ber...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/083571500-1740976173-830-556.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/ruginya-orang-yang-tidak-bergerak-ke-masjid-untuk-sholat-jumat-166871.html</link> <content:encoded><![CDATA[
        <p>Kincai Media, TANGERANG--Sangat dianjurkan bagi umat<a href="https://republika.co.id/tag/islam"> Islam </a>agar datang lebih awal menjelang pelaksanaan<a href="https://republika.co.id/tag/sholat-jumat"> sholat Jumat </a>di Masjid. Karena, akibat dari tidak bersegera ke masjid, berakibat pada terlambatnya kehadiran mereka untuk sholat Jumat. Bahkan, bisa sampai meninggalkan sholat Jumat.</p><p>Dalam sebuah hadits disebutkan:</p> <p>&#1604;&#1614;&#1610;&#1614;&#1606;&#1618;&#1578;&#1614;&#1607;&#1616;&#1610;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614; &#1571;&#1614;&#1602;&#1618;&#1608;&#1614;&#1575;&#1605;&#1612; &#1593;&#1614;&#1606;&#1618; &#1608;&#1614;&#1583;&#1618;&#1593;&#1616;&#1607;&#1616;&#1605;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1580;&#1615;&#1605;&#1615;&#1593;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616; &#1571;&#1614;&#1608;&#1618; &#1604;&#1614;&#1610;&#1614;&#1582;&#1618;&#1578;&#1616;&#1605;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1615; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609; &#1602;&#1615;&#1604;&#1615;&#1608;&#1576;&#1616;&#1607;&#1616;&#1605;&#1618; &#1579;&#1615;&#1605;&#1617;&#1614; &#1604;&#1614;&#1610;&#1614;&#1603;&#1615;&#1608;&#1606;&#1615;&#1606;&#1617;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1594;&#1614;&#1575;&#1601;&#1616;&#1604;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614;</p><p>&ldquo;Hendaklah orang yang suka meninggalkan sholat jumat menghentikan perbuatannya. Atau jika tidak Allah bakal menutup hati-hati mereka, kemudian mereka betul-betul bakal tergolong ke dalam orang-orang yang lalai.&rdquo; (HR. Muslim)</p> <p>Dalam hadits lain disebutkan,</p><p>&#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1578;&#1614;&#1585;&#1614;&#1603;&#1614; &#1579;&#1614;&#1604;&#1575;&#1614;&#1579;&#1614; &#1580;&#1615;&#1605;&#1614;&#1593;&#1613; &#1578;&#1614;&#1607;&#1614;&#1575;&#1608;&#1615;&#1606;&#1611;&#1575; &#1576;&#1616;&#1607;&#1614;&#1575; &#1591;&#1614;&#1576;&#1614;&#1593;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1615; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609; &#1602;&#1614;&#1604;&#1618;&#1576;&#1616;&#1607;&#1616;</p><p>&ldquo;Barangsiapa meninggalkan sholat Jum&rsquo;at sebanyak tiga kali lantaran lalai terhadap sholat tersebut, Allah bakal tutupi hatinya.&rdquo; (HR Abu Daud)</p><p>Syekh Muhammad Shiddiq Al Minsyawi dalam bukunya yang berjudul<em> Rajin Shalat tapi Masih Keliru</em> menuliskan, terlambat datang di masjid pada hari Jumat sekarang ini telah menjadi kebiasaan sebagian orang. Bahkan, ada juga yang baru datang ketika pemimpin telah naik mimbar. Ada juga yang datang saat iqamah telah dikumandangkan.</p><p>Padahal, bersegera ke masjid merupakan kebiasaan para ustadz salaf. Karena perihal ini mendatangkan banyak keistimewaan dan pahala.</p><p>&laquo; &#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1575;&#1594;&#1618;&#1578;&#1614;&#1587;&#1614;&#1604;&#1614; &#1610;&#1614;&#1608;&#1618;&#1605;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1580;&#1615;&#1605;&#1615;&#1593;&#1614;&#1577;&#1616; &#1608;&#1614;&#1594;&#1614;&#1587;&#1614;&#1617;&#1604;&#1614; &#1608;&#1614;&#1576;&#1614;&#1603;&#1614;&#1617;&#1585;&#1614; &#1608;&#1614;&#1575;&#1576;&#1618;&#1578;&#1614;&#1603;&#1614;&#1585;&#1614; &#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1588;&#1614;&#1609; &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1605;&#1618; &#1610;&#1614;&#1585;&#1618;&#1603;&#1614;&#1576;&#1618; &#1608;&#1614;&#1583;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1573;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575;&#1605;&#1616; &#1601;&#1614;&#1575;&#1587;&#1618;&#1578;&#1614;&#1605;&#1614;&#1593;&#1614; &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1605;&#1618; &#1610;&#1614;&#1604;&#1618;&#1594;&#1615; &#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614; &#1604;&#1614;&#1607;&#1615; &#1576;&#1616;&#1603;&#1615;&#1604;&#1616;&#1617; &#1582;&#1615;&#1591;&#1618;&#1608;&#1614;&#1577;&#1613; &#1593;&#1614;&#1605;&#1614;&#1604;&#1615; &#1587;&#1614;&#1606;&#1614;&#1577;&#1613; &#1589;&#1616;&#1610;&#1614;&#1575;&#1605;&#1615;&#1607;&#1614;&#1575; &#1608;&#1614;&#1602;&#1616;&#1610;&#1614;&#1575;&#1605;&#1615;&#1607;&#1614;&#1575; &raquo;</p><p>"Barang siapa yang mandi pada hari Jumat dan memandikan (membersihkan badannya), dia bersegera dan berangkat lebih awal (ke masjid), melangkah kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam, mendengarkan khutbah, dan tidak berbincang (bermain-main), maka setiap langkahnya bakal mendapatkan pahala seperti kebaikan setahun, baik puasa maupun sholatnya." (HR. Tirmidzi)</p><p>Hadits lainnya:</p><p>&#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1585;&#1614;&#1575;&#1581;&#1614; &#1573;&#1616;&#1604;&#1614;&#1609; &#1575;&#1604;&#1618;&#1580;&#1615;&#1605;&#1615;&#1593;&#1614;&#1577;&#1616; &#1601;&#1616;&#1610; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1614;&#1575;&#1593;&#1614;&#1577;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1571;&#1615;&#1608;&#1618;&#1604;&#1614;&#1609; &#1601;&#1614;&#1603;&#1614;&#1571;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1602;&#1614;&#1585;&#1617;&#1614;&#1576;&#1614; &#1576;&#1614;&#1583;&#1618;&#1606;&#1614;&#1577;&#1611; &#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1606;&#1614; &#1585;&#1614;&#1575;&#1581;&#1614; &#1601;&#1616;&#1610; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1614;&#1575;&#1593;&#1614;&#1577;&#1616; &#1575;&#1604;&#1579;&#1617;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;&#1610;&#1614;&#1577;&#1616; &#1601;&#1614;&#1603;&#1614;&#1571;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1602;&#1614;&#1585;&#1617;&#1614;&#1576;&#1614; &#1576;&#1614;&#1602;&#1614;&#1585;&#1614;&#1577;&#1611; &#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1585;&#1614;&#1575;&#1581;&#1614; &#1601;&#1616;&#1610; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1614;&#1575;&#1593;&#1614;&#1577;&#1616; &#1575;&#1604;&#1579;&#1617;&#1614;&#1575;&#1604;&#1616;&#1579;&#1614;&#1577;&#1616; &#1601;&#1614;&#1603;&#1614;&#1571;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1602;&#1614;&#1585;&#1617;&#1614;&#1576;&#1614; &#1603;&#1616;&#1576;&#1614;&#1588;&#1611;&#1575; &#1571;&#1614;&#1602;&#1618;&#1585;&#1614;&#1606;&#1614; &#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1585;&#1614;&#1575;&#1581;&#1614; &#1601;&#1616;&#1610; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1614;&#1575;&#1593;&#1614;&#1577;&#1616; &#1575;&#1604;&#1585;&#1617;&#1614;&#1575;&#1576;&#1616;&#1593;&#1614;&#1577;&#1616; &#1601;&#1614;&#1603;&#1614;&#1571;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1571;&#1614;&#1607;&#1618;&#1583;&#1614;&#1609; &#1583;&#1614;&#1580;&#1614;&#1575;&#1580;&#1614;&#1577;&#1611; &#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1585;&#1614;&#1575;&#1581;&#1614; &#1601;&#1616;&#1610; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1614;&#1575;&#1593;&#1614;&#1577;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1582;&#1614;&#1575;&#1605;&#1616;&#1587;&#1614;&#1577;&#1616; &#1601;&#1614;&#1603;&#1614;&#1571;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1571;&#1614;&#1607;&#1618;&#1583;&#1614;&#1609; &#1576;&#1614;&#1610;&#1618;&#1590;&#1614;&#1577;&#1611; &#1601;&#1614;&#1573;&#1616;&#1584;&#1614;&#1575; &#1582;&#1614;&#1585;&#1614;&#1580;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1573;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575;&#1605;&#1614; &#1591;&#1615;&#1608;&#1616;&#1610;&#1614;&#1578;&#1616; &#1575;&#1604;&#1589;&#1617;&#1615;&#1581;&#1615;&#1601;&#1615; &#1608;&#1614;&#1585;&#1615;&#1601;&#1616;&#1593;&#1614;&#1578;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1571;&#1614;&#1602;&#1618;&#1604;&#1614;&#1575;&#1605;&#1615; &#1608;&#1614;&#1575;&#1580;&#1618;&#1578;&#1614;&#1605;&#1614;&#1593;&#1614;&#1578;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575;&#1574;&#1616;&#1603;&#1614;&#1577;&#1615; &#1593;&#1616;&#1606;&#1618;&#1583;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1616;&#1606;&#1618;&#1576;&#1614;&#1585;&#1616; &#1610;&#1614;&#1587;&#1618;&#1578;&#1614;&#1605;&#1616;&#1593;&#1615;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1584;&#1617;&#1616;&#1603;&#1618;&#1585;&#1614; &#1601;&#1614;&#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1580;&#1614;&#1575;&#1569;&#1614; &#1576;&#1614;&#1593;&#1618;&#1583;&#1614; &#1584;&#1614;&#1604;&#1616;&#1603;&#1614; &#1601;&#1614;&#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1580;&#1614;&#1575;&#1569;&#1614; &#1604;&#1616;&#1581;&#1614;&#1602;&#1617;&#1616; &#1575;&#1604;&#1589;&#1617;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575;&#1577;&#1616; &#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1587;&#1614; &#1604;&#1614;&#1607;&#1615; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1601;&#1614;&#1590;&#1618;&#1604;&#1616; &#1588;&#1614;&#1610;&#1618;&#1569;&#1612;</p><p>&ldquo;Siapa saja yang berangkat sholat Jumat pada jam pertama, seakan-akan berkurban dengan seekor unta. Siapa saja yang berangkat pada jam kedua, seakan-akan berkurban dengan seekor sapi. Siapa saja yang berangkat pada jam ketiga, seakan-akan berkurban dengan kambing bertanduk. Siapa saja yang berangkat pada jam keempat, seakan-akan menghadiahkan seekor ayam jantan. Siapa saja yang berangkat pada jam kelima, maka seakan-akan menghadiahkan sebutir telur. Setelah pemimpin keluar, maka catatan kebaikan sudah ditutup, qalam pencatat sudah dianggat, dan para malaikat berkumpul di minbar untuk mendengarklan zikir. Siapa saja yang datang setelah itu, maka dia datang hanya untuk memenuhi kewenangan shalat dan tidak mendapatkan keistimewaan apa-apa, (HR. al-Bukhari dan Muslim).</p><p>Jumhur ustadz berkata, "Dianjurkan bersegera menghadiri sholat Jumat pada awal siang. Hal ini dikatakan oleh Imam Syafii dan Ibnu Habib Al Maliki."</p>               
        
        		
	 
		
		
	        
      
]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/ruginya-orang-yang-tidak-bergerak-ke-masjid-untuk-sholat-jumat-166871.html</guid> <pubDate>Sun, 16 Aug 2026 12:00:22 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Muhammad Hafil)</author> </item> <item> <title>Apakah Kaum Muslimin Mungkin Bersatu Meskipun Mereka Memiliki Perbedaan Dalam Akidah Dan Manhaj?</title> <description>Apakah Kaum Muslimin Mungkin Bersatu Meskipun Mereka Memiliki Perbedaan Dalam Akidah Dan Manhaj?. Perbedaan di antara manusia merupakan sunnatullah Adanya perbedaan di antara manusia dalam masalah iktikad dan manhaj merupakan sesuatu yang berkarakter sunnatullah...</description> <media:thumbnail url="https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2026/08/Bersatu-Meskipun-Berbeda-Akidah.webp"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/apakah-kaum-muslimin-mungkin-bersatu-meskipun-mereka-memiliki-perbedaan-dalam-akidah-dan-manhaj-166870.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div><h2><span id="Perbedaan_di_antara_manusia_merupakan_sunnatullah"></span><strong><b>Perbedaan di antara manusia merupakan </b></strong><strong><em><b><i>sunnatullah</i></b></em></strong><span></span></h2><p>Adanya perbedaan di antara manusia dalam masalah iktikad dan manhaj merupakan sesuatu yang berkarakter <em><i>sunnatullah</i></em>&nbsp;(ketetapan Allah pada alam semesta). Allah <em>Ta&rsquo;ala</em> telah mengabarkan kepada kita bahwa perihal itu memang bakal terjadi di tengah-tengah manusia. Allah juga mengabarkan bahwa Dia Mahakuasa untuk menjadikan seluruh manusia berada di atas satu agama. Akan tetapi, terdapat hikmah yang sangat agung ketika perihal itu tidak terjadi. Hal itu agar Allah memberikan pahala kepada orang-orang yang alim dan mentauhidkan-Nya, serta mengazab orang-orang yang bermaksiat dan mempersekutukan-Nya.</p><p>Seandainya Allah <em>Ta&rsquo;ala</em> menjadikan seluruh manusia sebagai satu umat, tentu tidak bakal tampak keistimewaan tauhid dan para pelakunya, serta tidak bakal tampak pula buruknya kesyirikan dan para pelakunya. Allah mempunyai kebijaksanaan yang menghendaki adanya perbedaan-perbedaan tersebut, sehingga melalui nama-nama dan sifat-sifat Allah tampak nyata pada makhluk-Nya.</p><p>Allah <em>Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1608;&#1618; &#1588;&#1614;&#1575;&#1619;&#1569;&#1614; &#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1615;&#1603;&#1614; &#1604;&#1614;&#1580;&#1614;&#1593;&#1614;&#1604;&#1614; &#1649;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575;&#1587;&#1614; &#1571;&#1615;&#1605;&#1617;&#1614;&#1577;&#1611;&#1773; &#1608;&#1614;&#1648;&#1581;&#1616;&#1583;&#1614;&#1577;&#1611;&#1773; &#1750; &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575; &#1610;&#1614;&#1586;&#1614;&#1575;&#1604;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614; &#1605;&#1615;&#1582;&#1618;&#1578;&#1614;&#1604;&#1616;&#1601;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614;</span></p><p><span>&#1573;&#1616;&#1604;&#1617;&#1614;&#1575; &#1605;&#1614;&#1606; &#1585;&#1617;&#1614;&#1581;&#1616;&#1605;&#1614; &#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1615;&#1603;&#1614; &#1754; &#1608;&#1614;&#1604;&#1616;&#1584;&#1614;&#1648;&#1604;&#1616;&#1603;&#1614; &#1582;&#1614;&#1604;&#1614;&#1602;&#1614;&#1607;&#1615;&#1605;&#1618; &#1751; &#1608;&#1614;&#1578;&#1614;&#1605;&#1617;&#1614;&#1578;&#1618; &#1603;&#1614;&#1604;&#1616;&#1605;&#1614;&#1577;&#1615; &#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1616;&#1603;&#1614; &#1604;&#1614;&#1571;&#1614;&#1605;&#1618;&#1604;&#1614;&#1571;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614; &#1580;&#1614;&#1607;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1649;&#1604;&#1618;&#1580;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614;&#1577;&#1616; &#1608;&#1614;&#1649;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575;&#1587;&#1616; &#1571;&#1614;&#1580;&#1618;&#1605;&#1614;&#1593;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614;</span></p><p><em>&ldquo;Seandainya Rabb-mu menghendaki, niscaya Dia jadikan umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih, selain orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabb-mu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Rabb-mu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku bakal memenuhi neraka Jahanam dengan hantu dan manusia (yang durhaka) semuanya.&rdquo; </em>(QS. Hud: 118-119)</p><p>Ibnu Jarir at-Tabari <em><i>rahimahullah </i></em>berkata, &ldquo;Jika Rabb-mu berkehendak, wahai Muhammad, Dia bakal jadikan seluruh manusia menjadi satu golongan yang mengikuti satu jalan dan satu agama.&rdquo; <strong><b>[1]</b></strong></p><p><em>Al-Hafiz</em> Ibnu Katsir <em><i>rahimahullah</i></em> berkata, &ldquo;Allah <em>Ta&rsquo;ala</em> dalam ayat ini mengabarkan bahwa Dia Mahakuasa untuk menjadikan seluruh manusia sebagai satu umat, baik seluruhnya beragama maupun seluruhnya kafir. Sebagaimana firman-Nya,</p><p><span>&#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1608;&#1618; &#1588;&#1614;&#1575;&#1619;&#1569;&#1614; &#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1615;&#1603;&#1614; &#1604;&#1614;&#1600;&#1620;&#1614;&#1575;&#1605;&#1614;&#1606;&#1614; &#1605;&#1614;&#1606; &#1601;&#1616;&#1609; &#1649;&#1604;&#1618;&#1571;&#1614;&#1585;&#1618;&#1590;&#1616; &#1603;&#1615;&#1604;&#1617;&#1615;&#1607;&#1615;&#1605;&#1618; &#1580;&#1614;&#1605;&#1616;&#1610;&#1593;&#1611;&#1575; &#1754; &#1571;&#1614;&#1601;&#1614;&#1571;&#1614;&#1606;&#1578;&#1614; &#1578;&#1615;&#1603;&#1618;&#1585;&#1616;&#1607;&#1615; &#1649;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575;&#1587;&#1614; &#1581;&#1614;&#1578;&#1617;&#1614;&#1609;&#1648; &#1610;&#1614;&#1603;&#1615;&#1608;&#1606;&#1615;&#1608;&#1575;&#1759; &#1605;&#1615;&#1572;&#1618;&#1605;&#1616;&#1606;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614;</span></p><p><em><i>&ldquo;Dan sekiranya Rabbmu menghendaki, tentulah semua orang yang ada di bumi bakal beragama seluruhnya.</i></em>&nbsp;<em><i>Apakah Anda kemudian bakal memaksa orang untuk menjadi orang beriman?&rdquo;</i></em> (QS. Yunus: 99)</p><p>Dan firman-Nya pada surah Hud ayat 119-119.</p><p>Maksudnya, manusia bakal terus-menerus berbeda dalam kepercayaan mereka, dalam iktikad yang mereka yakini, dalam beragam <em>firqah</em> (golongan), mazhab, dan pandangan yang mereka anut.&rdquo; <strong><b>[2]</b></strong></p><p>Syekh Abdurrahman As-Sa&rsquo;di <em><i>rahimahullah </i></em>berkata, &ldquo;Dalam ayat ini, Allah <em>Ta&rsquo;ala</em> mengabarkan bahwa seandainya Dia menghendaki, niscaya Dia bakal menjadikan seluruh manusia sebagai satu umat yang mengikuti kepercayaan Islam. Hal itu sama sekali tidak susah bagi-Nya, lantaran tidak ada sesuatu pun yang berada di luar kehendak dan kekuasaan-Nya.</p><p>Akan tetapi, hikmah-Nya menghendaki agar manusia tetap berbeda dan menyimpang dari jalan yang lurus, menempuh beragam jalan yang mengantarkan ke neraka. Masing-masing mengira bahwa jalan yang ditempuhnya adalah jalan yang benar, sedangkan kesesatan menurutnya berada pada jalan yang ditempuh oleh orang lain.</p><p><strong><em><b><i>&ldquo;Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu&rdquo;</i></b></em></strong><strong><b> (QS. Hud: 119),</b></strong>&nbsp;yakni orang-orang yang Allah beri taufik untuk mengenal kebenaran, kemudian mengamalkannya, serta berasosiasi di atasnya. Mereka itulah orang-orang yang ditetapkan memperoleh kebahagiaan, yang mendapatkan perhatian, pertolongan, dan rahmat Allah.</p><p>Adapun selain mereka, maka Allah membiarkan mereka dengan pilihan mereka sendiri dan tidak memberikan taufik kepada mereka.</p><p>Firman-Nya, <strong><em><b><i>&ldquo;Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka&rdquo; </i></b></em></strong><strong><b>(QS. Hud: 119),</b></strong>&nbsp;maksudnya, hikmah Allah menghendaki pembuatan manusia dalam keadaan demikian, sehingga di antara mereka ada orang-orang yang berbahagia (penghuni surga) dan ada orang-orang yang celaka (penghuni neraka), ada yang berasosiasi di atas kebenaran dan ada yang berselisih, ada golongan yang mendapat petunjuk dari Allah dan ada pula golongan yang layak mendapatkan kesesatan.</p><p>Semua itu agar keadilan dan hikmah Allah tampak nyata di hadapan hamba-hamba-Nya, serta agar terlihat apa yang tersembunyi dalam diri manusia berupa kebaikan dan keburukan. Dengan demikian, terwujudlah beragam keadaan yang menuntut adanya jihad di jalan Allah dan beragam corak ibadah yang tidak bakal sempurna pelaksanaannya selain melalui ujian dan cobaan.&rdquo; <strong><b>[3]</b></strong></p><h2><span id="Bagaimana_mungkin_kaum_Muslimin_dapat_bersatu_dalam_perkara_apa_pun_jika_bukan_di_atas_tauhid_dan_akidah_yang_benar"></span><strong><b>Bagaimana mungkin kaum Muslimin dapat berasosiasi dalam perkara apa pun jika bukan di atas tauhid dan iktikad yang benar?</b></strong><span></span></h2><p>Barang siapa mencermati kondisi kaum Muslimin, niscaya dia bakal mendapati bahwa mereka telah terpecah menjadi beragam ajaran pemikiran, kelompok, golongan, dan ideologi. Masing-masing merasa puas dengan langkah mereka sendiri dalam memahami dalil-dalil Al-Qur&rsquo;an dan As-Sunah serta metode yang mereka tempuh dalam mendakwahkan Islam.</p><p>Oleh lantaran itu, terjadilah perbedaan, perpecahan, dan tercerai-berainya umat. Seandainya mereka semua berpegang teguh pada satu jalan, satu manhaj, dan satu akidah, niscaya mereka bakal berasosiasi dan menjadi satu umat.</p><p>Akan tetapi, kebanyakan mereka, terutama para pemimpin golongan dan golongan, tidak memandang bahwa iktikad yang betul merupakan jalan untuk mempersatukan umat. Bahkan mereka beranggapan bahwa pembahasan iktikad justru menjadi penyebab perpecahan di tengah kaum Muslimin, sebagaimana dinyatakan oleh sebagian tokoh mereka.</p><p>Pandangan semacam ini merupakan pandangan yang keliru dan tercela. Selama di tengah kaum Muslimin tetap ada orang-orang yang meyakini pemikiran seperti itu, maka persatuan yang asasi tidak bakal pernah terwujud.</p><p>Nabi Muhammad <em><i>shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam</i></em>&nbsp;diutus kepada manusia ketika mereka berada dalam keadaan tercerai-berai menjadi beragam golongan, kelompok, bangsa, ideologi, dan agama. Di antara mereka ada yang berkulit hitam dan ada yang berkulit putih, ada laki-laki dan perempuan, ada yang buta huruf dan berilmu, ada yang kaya dan miskin, ada pula orang-orang terpandang dan orang-orang biasa.</p><p>Beliau tidak berupaya mempersatukan mereka di atas dasar bahasa, tanah air, alias pemikiran manusia. Akan tetapi, beliau mempersatukan mereka di atas sesuatu yang <em><i>ma&lsquo;shum</i></em>&nbsp;(terpelihara dari kesalahan), yang tidak bakal dapat didatangi kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, ialah Al-Qur&rsquo;an dan tauhid.</p><p>Inilah satu-satunya jalan untuk mempersatukan seluruh manusia, meskipun mereka berbeda dalam langkah berpikir, identitas, bahasa, dan negeri tempat tinggal mereka. Manusia tidak bakal pernah menemukan sesuatu yang lebih baik daripada landasan ini untuk mempersatukan, menghimpun, dan menumbuhkan persaudaraan di antara mereka.</p><p>Adapun jika tujuan mempersatukan manusia dibangun di atas pemikiran manusia yang dapat dibantah, ditolak, diubah, dan dikurangi, maka perihal itu tidak bakal pernah menjadi sarana untuk mewujudkan persatuan kaum Muslimin.</p><p>Demikian pula jika persatuan dibangun di atas suatu rumor politik, maka perihal itu tidak bakal bisa menyatukan manusia, lantaran mereka mempunyai pemahaman dan pandangan yang berbeda-beda mengenai persoalan tersebut.</p><p>Begitu juga, tanah air alias kebangsaan tidak dapat menjadi dasar pemersatu kaum Muslimin, lantaran setiap orang secara fitrah mempunyai keterikatan dengan negeri dan tanah air tempat dia berada.</p><p>Oleh lantaran itu, kaum Muslimin tidak mempunyai pilihan dan tidak mempunyai jalan untuk meraih persatuan selain dengan berpegang teguh kepada iktikad yang benar, yang landasannya adalah <em>nash-nash</em> wahyu yang <em>ma&lsquo;shum.</em> Karena keadaan generasi akhir umat ini tidak bakal menjadi baik selain dengan sesuatu yang dulu telah memperbaiki keadaan generasi awal umat ini.</p><h2><span id="Sebab_pokok_perpecahan_kaum_muslimin"></span><strong><b>Sebab pokok perpecahan kaum muslimin</b></strong><span></span></h2><p>Selama faktor-faktor yang menjadi penyebab perpecahan kaum Muslimin tetap tetap ada, maka perpecahan bakal senantiasa menjadi akibat alias akibat yang tidak dapat dihindari.</p><p>Para ustadz telah menjelaskan beragam karena yang melatarbelakangi perpecahan tersebut. Imam Asy-Syathibi <em><i>rahimahullah</i></em>&nbsp;merangkum semuanya ke dalam tiga karena pokok, yaitu: <strong><b>kebodohan (</b></strong><strong><em><b><i>al-jahl</i></b></em></strong><strong><b>)</b></strong>, <strong><b>mengikuti hawa nafsu (</b></strong><strong><em><b><i>al-hawa</i></b></em></strong><strong><b>), dan taklid buta kepada nenek moyang dan para tokoh (</b></strong><strong><em><b><i>at-taqlid al-a&rsquo;ma</i></b></em></strong><strong><b>).</b></strong></p><p>Asy-Syathibi <em><i>rahimahullah </i></em>mengatakan, &ldquo;Setiap pendapat yang menyelisihi jalan yang telah disebutkan sebelumnya, yang muncul setelah itu, pada hakikatnya berakar pada tiga sebab. Terkadang ketiga karena itu berkumpul sekaligus, dan terkadang hanya sebagian darinya.&rdquo;</p><h3><span id="Pertama_Kebodohan_al-jahl"></span><strong><b>Pertama: Kebodohan (</b></strong><strong><em><b><i>al-jahl</i></b></em></strong><strong><b>)</b></strong><span></span></h3><p>Seseorang mengira, alias orang lain menganggap, bahwa dirinya telah menjadi seorang berilmu yang layak berbincang dan berijtihad dalam beragam persoalan agama, padahal dia belum mencapai derajat pengetahuan yang memungkinkannya untuk itu. Akibatnya, dia berbincang seolah-olah seorang ulama, menganggap pendapatnya benar, dan memandang pendapat yang menyelisihinya sebagai kesalahan.</p><p>Terkadang dia berbincang mengenai persoalan-persoalan bagian agama, dan terkadang dia berbincang mengenai perkara-perkara pokok Islam, baik yang berangkaian dengan iktikad maupun prinsip-prinsip ibadah dan fikih.</p><p>Bahkan, tidak jarang dia menjadikan sebagian persoalan bagian sebagai argumen untuk meruntuhkan prinsip-prinsip besar dalam agama, hingga prinsip tersebut berubah sesuai dengan pemahamannya sendiri, padahal dia belum betul-betul memahami makna dan tujuan syariat.</p><p>Inilah keadaan seorang pelaku <em>bid&rsquo;ah.</em> Tentang orang semacam ini, Nabi <em><i>shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam</i></em> bersabda,</p><p><span>&#65159;&#1616;&#65253;&#1617;&#1614; &#65165;&#65247;&#65248;&#65258; &#65275; &#65267;&#1614;&#65240;&#1618;&#65170;&#1616;&#65214;&#1615; &#65165;&#65247;&#65228;&#1616;&#65248;&#1618;&#65250;&#1614; &#65165;&#65255;&#1618;&#65176;&#1616;&#65200;&#1614;&#65165;&#65227;&#1614;&#65166;&#1611; &#65267;&#1614;&#65256;&#1618;&#65176;&#1614;&#65200;&#1616;&#65227;&#1615;&#65258;&#1615; &#65251;&#65254; &#65165;&#65247;&#65228;&#1616;&#65170;&#65166;&#65193;&#1616; &#65261;&#65247;&#1614;&#65244;&#1616;&#65254;&#1618; &#65267;&#1614;&#65240;&#1618;&#65170;&#1616;&#65214;&#1615; &#65165;&#65247;&#65228;&#1616;&#65248;&#1618;&#65250;&#1614; &#65169;&#1616;&#65240;&#1614;&#65170;&#1618;&#65214;&#1616; &#65165;&#65247;&#65228;&#1615;&#65248;&#1614;&#65252;&#1614;&#65166;&#65152;&#1616; &#65187;&#65176;&#1617;&#1614;&#65264; &#65159;&#65195;&#65165; &#65247;&#1614;&#65250;&#1618; &#65267;&#1615;&#65170;&#1618;&#65238;&#1616; &#65227;&#1614;&#65166;&#65247;&#1616;&#65250;&#1612; &#65165;&#65175;&#1617;&#1614;&#65192;&#1614;&#65196;&#1614; &#65165;&#65247;&#65256;&#65166;&#65201; &#65197;&#65157;&#65203;&#1614;&#65166;&#1611; &#65183;&#1615;&#65260;&#1617;&#1614;&#65166;&#65275;&#1611; &#1548; &#65235;&#1614;&#65204;&#1615;&#65164;&#1616;&#65248;&#65262;&#65165; &#65235;&#1614;&#65156;&#1614;&#65235;&#1618;&#65176;&#1614;&#65262;&#1618;&#65165; &#65169;&#1616;&#65232;&#1614;&#65268;&#1618;&#65198;&#1616; &#65227;&#1616;&#65248;&#1618;&#65250;&#1613; &#65235;&#1614;&#65216;&#1614;&#65248;&#1617;&#1615;&#65262;&#65165; &#65261;&#1614;&#65155;&#1614;&#65215;&#1614;&#65248;&#1617;&#1615;&#65262;&#65165;</span></p><p>&ldquo;Sesungguhnya Allah tidak mencabut pengetahuan dengan mencabutnya langsung dari dada manusia. Akan tetapi, Allah mencabut pengetahuan dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak ada lagi seorang alim, manusia mengangkat orang-orang tolol sebagai pemimpin. Mereka ditanya, lampau berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya, mereka sesat dan menyesatkan orang lain.&rdquo; (<em><i>Muttafaqun alaihi</i></em>) <strong><b>[4]</b></strong></p><h3><span id="Kedua_Mengikuti_hawa_nafsu_al-hawa"></span><strong><b>Kedua: Mengikuti hawa nafsu (</b></strong><strong><em><b><i>al-hawa</i></b></em></strong><strong><b>)</b></strong><span></span></h3><p>Sebab lain yang melahirkan perpecahan adalah mengikuti hawa nafsu. Oleh lantaran itu, para pelaku <em>bid&rsquo;ah</em> sering disebut sebagai <em><i>ahlul ahwa&rsquo;</i></em>&nbsp;(pengikut hawa nafsu), lantaran mereka mengikuti kemauan mereka tanpa merujuk kepada dalil-dalil hukum sebagaimana mestinya.</p><p>Mereka tidak memandang bahwa pendapat mereka kudu dibangun di atas dalil syariat. Sebaliknya, mereka lebih mengutamakan hawa nafsu dan pendapat pribadi, kemudian baru mencari-cari dalil untuk mendukung apa yang telah mereka yakini sebelumnya.</p><p>Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang menjadikan logika semata sebagai ukuran betul dan salah, para pengagum filsafat, dan orang-orang yang mengikuti jalan serupa.</p><p>Termasuk dalam golongan ini adalah orang-orang yang mencari kedudukan di sisi para penguasa, mengharapkan untung bumi dari mereka, alias mau diakui sebagai pemimpin. Oleh lantaran itu, mereka mengikuti kemauan manusia dan mencari beragam celah agar dapat memberikan fatwa yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Para ustadz telah banyak meriwayatkan kisah-kisah tentang orang-orang yang berbaur dengan para penguasa demi kepentingan dunia.</p><p>Kelompok pertama, yang lebih mengutamakan logika daripada wahyu, menolak banyak sabda sahih hanya lantaran bertentangan dengan logika mereka. Mereka juga berburuk sangka terhadap sebagian riwayat yang sahih dari Nabi <em><i>shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam</i></em>, lampau lebih memilih pendapat mereka sendiri yang dibangun di atas argumentasi yang rusak.</p><p>Bahkan mereka mengingkari banyak perkara gaib yang berangkaian dengan akhirat, seperti <em><i>shirath</i></em>, <em><i>mizan</i></em>, kebangkitan jasad, nikmat dan balasan secara nyata, serta mengingkari bahwa kaum mukminin bakal memandang Rabb mereka pada hari kiamat, dan beragam persoalan lainnya.</p><p>Pada hakikatnya, mereka menjadikan logika sebagai sumber penetapan hukum. Mereka beranggapan bahwa norma dan perundang-undangan dapat disusun hanya berasas akal, baik ada hukum maupun tidak. Kalaupun mereka menemukan dalil hukum yang sesuai dengan konklusi mereka, maka dalil itu hanya dianggap sebagai penguat terhadap pendapat yang telah mereka tetapkan sebelumnya. Selain itu, mereka juga mempunyai beragam penyimpangan lainnya.</p><h3><span id="Ketiga_Taklid_buta_kepada_tradisi_dan_para_pendahulu_at-taqlid_al-ama"></span><strong><b>Ketiga: Taklid buta kepada tradisi dan para pendahulu (</b></strong><strong><em><b><i>at-taqlid al-a&rsquo;ma</i></b></em></strong><strong><b>)</b></strong><span></span></h3><p>Sebab ketiga yang melahirkan perpecahan adalah ekstrem terhadap budaya istiadat dan tradisi, sekalipun tradisi tersebut jelek alias bertentangan dengan kebenaran. Bentuknya adalah mengikuti jejak nenek moyang, para tokoh, dan orang-orang terdahulu tanpa dasar ilmu.</p><p>Inilah <strong><b>taklid yang tercela</b></strong>, yang telah Allah cela dalam Al-Qur&rsquo;an. Allah <em>Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1576;&#1614;&#1604;&#1618; &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1615;&#1608;&#1619;&#1575;&#1759; &#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575; &#1608;&#1614;&#1580;&#1614;&#1583;&#1618;&#1606;&#1614;&#1575;&#1619; &#1569;&#1614;&#1575;&#1576;&#1614;&#1575;&#1619;&#1569;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609;&#1648;&#1619; &#1571;&#1615;&#1605;&#1617;&#1614;&#1577;&#1613;&#1762; &#1608;&#1614;&#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609;&#1648;&#1619; &#1569;&#1614;&#1575;&#1579;&#1614;&#1600;&#1648;&#1585;&#1616;&#1607;&#1616;&#1605; &#1605;&#1617;&#1615;&#1607;&#1618;&#1578;&#1614;&#1583;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;</span></p><p><em><i>&ldquo;Bahkan mereka berkata, &lsquo;Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami hanya mengikuti jejak mereka.'&rdquo;</i></em> (QS. Az-Zukhruf: 22)</p><p>Kemudian Allah berfirman,</p><p><span>&#1602;&#1614;&#1600;&#1648;&#1604;&#1614; &#1571;&#1614;&#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1608;&#1618; &#1580;&#1616;&#1574;&#1618;&#1578;&#1615;&#1603;&#1615;&#1605; &#1576;&#1616;&#1571;&#1614;&#1607;&#1618;&#1583;&#1614;&#1609;&#1648; &#1605;&#1616;&#1605;&#1617;&#1614;&#1575; &#1608;&#1614;&#1580;&#1614;&#1583;&#1578;&#1617;&#1615;&#1605;&#1618; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1607;&#1616; &#1569;&#1614;&#1575;&#1576;&#1614;&#1575;&#1619;&#1569;&#1614;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618; &#1750; &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1615;&#1608;&#1619;&#1575;&#1759; &#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575; &#1576;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575;&#1619; &#1571;&#1615;&#1585;&#1618;&#1587;&#1616;&#1604;&#1618;&#1578;&#1615;&#1605; &#1576;&#1616;&#1607;&#1616;&#1766; &#1603;&#1614;&#1600;&#1648;&#1601;&#1616;&#1585;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;</span></p><p><em><i>&ldquo;(Pemberi peringatan itu) berkata, &lsquo;Apakah (kalian tetap mengikutinya) sekalipun saya membawa petunjuk yang lebih betul daripada apa yang kalian dapati pada nenek moyang kalian?&rsquo; Mereka menjawab, &lsquo;Sesungguhnya kami mengingkari apa yang engkau diutus untuk membawanya.'&rdquo;</i></em> (QS. Az-Zukhruf: 24)</p><p>Allah <em>Ta&rsquo;ala</em> juga berfirman tentang Nabi Ibrahim <em><i>&lsquo;alaihis salam</i></em>,</p><p><span>&#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614; &#1607;&#1614;&#1604;&#1618; &#1610;&#1614;&#1587;&#1618;&#1605;&#1614;&#1593;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618; &#1573;&#1616;&#1584;&#1618; &#1578;&#1614;&#1583;&#1618;&#1593;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614; &#1639;&#1634; &#1571;&#1614;&#1608;&#1618; &#1610;&#1614;&#1606;&#1601;&#1614;&#1593;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618; &#1571;&#1614;&#1608;&#1618; &#1610;&#1614;&#1590;&#1615;&#1585;&#1617;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;</span></p><p><em><i>&ldquo;Ibrahim berkata, &lsquo;Apakah berhala-berhala itu mendengar ketika kalian bermohon kepadanya? Atau dapatkah mereka memberi faedah alias mendatangkan mudarat kepada kalian?'&rdquo;</i></em> (QS. Asy-Syu&rsquo;ara&rsquo;: 72&ndash;73)</p><p>Nabi Ibrahim telah menjelaskan kepada mereka agar mengikuti bukti yang nyata. Akan tetapi, mereka tetap bersikeras bertaklid kepada nenek moyang mereka seraya berkata,</p><p><span>&#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1615;&#1608;&#1575;&#1759; &#1576;&#1614;&#1604;&#1618; &#1608;&#1614;&#1580;&#1614;&#1583;&#1618;&#1606;&#1614;&#1575;&#1619; &#1569;&#1614;&#1575;&#1576;&#1614;&#1575;&#1619;&#1569;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575; &#1603;&#1614;&#1584;&#1614;&#1648;&#1604;&#1616;&#1603;&#1614; &#1610;&#1614;&#1601;&#1618;&#1593;&#1614;&#1604;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;</span></p><p><em><i>&ldquo;Tidak, tetapi kami hanya mendapati nenek moyang kami melakukan demikian.&rdquo;</i></em> (QS. Asy-Syu&rsquo;ara&rsquo;: 74)</p><p>Makna inilah yang juga ditunjukkan oleh sabda Nabi <em><i>shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam</i></em> yang telah disebutkan sebelumnya, &ldquo;&hellip; lampau manusia mengangkat orang-orang tolol sebagai pemimpin &hellip;&rdquo; menunjukkan ancaman mengikuti pendapat manusia secara membabi buta tanpa landasan pengetahuan dan dalil. <strong><b>[5]</b></strong></p><p>Berdasarkan penjelasan di atas, <strong><b>tidak mungkin kaum Muslimin dapat berasosiasi dan bermufakat selain di atas tauhid dan iktikad yang benar</b></strong>.</p><p>Dalam Islam, terdapat banyak syiar dan simbol persatuan yang tidak dimiliki oleh agama-agama lain. Di antaranya adalah <strong><b>satu kiblat</b></strong>, <strong><b>satu Al-Qur&rsquo;an</b></strong>, <strong><b>ibadah haji</b></strong>, serta syiar-syiar Islam lainnya yang menjadi pemersatu kaum Muslimin.</p><p>Oleh lantaran itu, kita berambisi kaum Muslimin dapat berasosiasi di atas <strong><b>satu akidah</b></strong>&nbsp;dan <strong><b>satu manhaj</b></strong> dalam memahami Al-Qur&rsquo;an dan As-Sunah. Adapun perbedaan pendapat yang mungkin muncul setelah itu, maka perihal tersebut termasuk perkara yang dapat ditoleransi dan tidak sampai merusak persatuan umat.</p><p>Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan <em><i>hafizhahullah</i></em> pernah ditanya, <em><i>&ldquo;</i></em>Apa saja perkara yang diperbolehkan untuk diperselisihkan? Dan perkara apa saja yang tidak boleh diperselisihkan? Apa yang wajib dilakukan oleh kaum Muslimin agar mereka tetap berpegang teguh pada kepercayaan mereka?&rdquo;</p><p>Beliau menjawab,</p><p>&ldquo;Perbedaan pendapat terbagi menjadi dua macam:</p><p><strong><b>Pertama, perbedaan dalam masalah akidah.</b></strong>&nbsp;Perbedaan dalam masalah ini <strong><b>tidak diperbolehkan</b></strong>, lantaran yang wajib bagi kaum Muslimin adalah menjadikan Al-Qur&rsquo;an dan As-Sunnah sebagai landasan iktikad mereka. Akidah tidak boleh dibangun di atas akal, logika, alias pendapat pribadi. Akidah hanya boleh berasal dari Al-Qur&rsquo;an dan As-Sunah, sehingga tidak ada ruang bagi pendapat-pendapat pribadi maupun perselisihan dalam perkara tersebut.</p><p><strong><b>Kedua, perbedaan dalam masalah fikih yang didasarkan pada ijtihad dalam memahami dalil-dalil syariat.</b></strong>&nbsp;Perbedaan semacam ini merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari, lantaran keahlian manusia dalam memahami dalil tidaklah sama. Namun demikian, yang wajib adalah mengikuti pendapat yang didukung oleh dalil yang paling kuat. Inilah sikap yang kudu ditempuh ketika terdapat perbedaan pendapat.</p><p>Seorang Muslim hendaknya memberikan perhatian besar terhadap urusan agamanya, melaksanakan apa yang Allah wajibkan kepadanya, serta menjauhi apa yang Allah haramkan baginya. Ia juga kudu berupaya menghiasi dirinya dengan adab yang mulia terhadap saudara-saudaranya sesama Muslim, bersikap jujur dalam muamalah, menunaikan amanah, serta menjadi teladan yang baik bagi orang lain.</p><p>Kaum Muslimin juga wajib mendidik diri mereka agar senantiasa berpegang teguh kepada agama, menghiasi diri dengan adab dan etika yang mulia, serta menjauhi adab yang jelek dan teman-teman yang jelek. Mereka hendaknya memperhatikan segala sesuatu yang berfaedah bagi urusan kepercayaan maupun bumi mereka, serta menjadi pembela kepercayaan Islam dan kaum Muslimin.&rdquo; <strong><b>[6]</b></strong></p><p><em>Wallahu a&rsquo;lam</em>.</p><p><strong>***</strong></p><p><strong><b>Penulis:</b></strong>&nbsp;<span><strong>Luqman Hasan Nahari</strong></span></p><p><strong>Artikel <span>Kincai Media</span></strong></p><p><strong><b>Sumber: </b></strong>Diterjemahkan dari islamqa.info pada pertanyaan No. 108581.</p><p><strong><b>Catatan kaki:</b></strong></p><p><strong>[1] </strong><em><i>Tafsir at-Thabari, </i></em>15: 531.</p><p><strong>[2] </strong><em><i>Tafsir Ibnu Katsir, </i></em>4: 361.</p><p><strong>[3] </strong><em><i>Tafsir as-Sa&rsquo;di, </i></em>hal. 392.</p><p><strong>[4] </strong>Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 100) dan Muslim (no. 2673).</p><p><strong>[5] </strong><em><i>Al-I&rsquo;tisham, </i></em>1: 421-423.</p><p><strong>[6] </strong><em><i>Al-Muntaqa min Fatawa al-Fawzan, </i></em>1: 407, 408, pertanyaan no. 241.</p></div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/apakah-kaum-muslimin-mungkin-bersatu-meskipun-mereka-memiliki-perbedaan-dalam-akidah-dan-manhaj-166870.html</guid> <pubDate>Sun, 16 Aug 2026 11:30:19 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Luqman Hasan Nahari)</author> </item> <item> <title>Ruginya Orang Yang Tidak Bergera Ke Masjid Untuk Sholat Jumat</title> <description>Ruginya Orang Yang Tidak Bergera Ke Masjid Untuk Sholat Jumat. Kincai Media, TANGERANG--Sangat dianjurkan bagi umat Islam agar datang lebih awal menjelang penyelenggaraan sholat Jumat di Masjid. Karena, akibat dari tidak ber...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/083571500-1740976173-830-556.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/ruginya-orang-yang-tidak-bergera-ke-masjid-untuk-sholat-jumat-166869.html</link> <content:encoded><![CDATA[
        <p>Kincai Media, TANGERANG--Sangat dianjurkan bagi umat<a href="https://republika.co.id/tag/islam"> Islam </a>agar datang lebih awal menjelang pelaksanaan<a href="https://republika.co.id/tag/sholat-jumat"> sholat Jumat </a>di Masjid. Karena, akibat dari tidak bersegera ke masjid, berakibat pada terlambatnya kehadiran mereka untuk sholat Jumat. Bahkan, bisa sampai meninggalkan sholat Jumat.</p><p>Dalam sebuah hadits disebutkan:</p> <p>&#1604;&#1614;&#1610;&#1614;&#1606;&#1618;&#1578;&#1614;&#1607;&#1616;&#1610;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614; &#1571;&#1614;&#1602;&#1618;&#1608;&#1614;&#1575;&#1605;&#1612; &#1593;&#1614;&#1606;&#1618; &#1608;&#1614;&#1583;&#1618;&#1593;&#1616;&#1607;&#1616;&#1605;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1580;&#1615;&#1605;&#1615;&#1593;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616; &#1571;&#1614;&#1608;&#1618; &#1604;&#1614;&#1610;&#1614;&#1582;&#1618;&#1578;&#1616;&#1605;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1615; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609; &#1602;&#1615;&#1604;&#1615;&#1608;&#1576;&#1616;&#1607;&#1616;&#1605;&#1618; &#1579;&#1615;&#1605;&#1617;&#1614; &#1604;&#1614;&#1610;&#1614;&#1603;&#1615;&#1608;&#1606;&#1615;&#1606;&#1617;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1594;&#1614;&#1575;&#1601;&#1616;&#1604;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614;</p><p>&ldquo;Hendaklah orang yang suka meninggalkan sholat<a href="https://republika.co.id/tag/jumat"> jumat </a>menghentikan perbuatannya. Atau jika tidak Allah bakal menutup hati-hati mereka, kemudian mereka betul-betul bakal tergolong ke dalam orang-orang yang lalai.&rdquo; (HR. Muslim)</p> <p>Dalam hadits lain disebutkan,</p><p>&#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1578;&#1614;&#1585;&#1614;&#1603;&#1614; &#1579;&#1614;&#1604;&#1575;&#1614;&#1579;&#1614; &#1580;&#1615;&#1605;&#1614;&#1593;&#1613; &#1578;&#1614;&#1607;&#1614;&#1575;&#1608;&#1615;&#1606;&#1611;&#1575; &#1576;&#1616;&#1607;&#1614;&#1575; &#1591;&#1614;&#1576;&#1614;&#1593;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1615; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609; &#1602;&#1614;&#1604;&#1618;&#1576;&#1616;&#1607;&#1616;</p><p>&ldquo;Barangsiapa meninggalkan sholat Jum&rsquo;at sebanyak tiga kali lantaran lalai terhadap sholat tersebut, Allah bakal tutupi hatinya.&rdquo; (HR Abu Daud)</p><p>Syekh Muhammad Shiddiq Al Minsyawi dalam bukunya yang berjudul<em> Rajin Shalat tapi Masih Keliru</em> menuliskan, terlambat datang di masjid pada hari Jumat sekarang ini telah menjadi kebiasaan sebagian orang. Bahkan, ada juga yang baru datang ketika pemimpin telah naik mimbar. Ada juga yang datang saat iqamah telah dikumandangkan.</p><p>Padahal, bersegera ke masjid merupakan kebiasaan para ustadz salaf. Karena perihal ini mendatangkan banyak keistimewaan dan pahala.</p><p>&laquo; &#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1575;&#1594;&#1618;&#1578;&#1614;&#1587;&#1614;&#1604;&#1614; &#1610;&#1614;&#1608;&#1618;&#1605;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1580;&#1615;&#1605;&#1615;&#1593;&#1614;&#1577;&#1616; &#1608;&#1614;&#1594;&#1614;&#1587;&#1614;&#1617;&#1604;&#1614; &#1608;&#1614;&#1576;&#1614;&#1603;&#1614;&#1617;&#1585;&#1614; &#1608;&#1614;&#1575;&#1576;&#1618;&#1578;&#1614;&#1603;&#1614;&#1585;&#1614; &#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1588;&#1614;&#1609; &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1605;&#1618; &#1610;&#1614;&#1585;&#1618;&#1603;&#1614;&#1576;&#1618; &#1608;&#1614;&#1583;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1573;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575;&#1605;&#1616; &#1601;&#1614;&#1575;&#1587;&#1618;&#1578;&#1614;&#1605;&#1614;&#1593;&#1614; &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1605;&#1618; &#1610;&#1614;&#1604;&#1618;&#1594;&#1615; &#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614; &#1604;&#1614;&#1607;&#1615; &#1576;&#1616;&#1603;&#1615;&#1604;&#1616;&#1617; &#1582;&#1615;&#1591;&#1618;&#1608;&#1614;&#1577;&#1613; &#1593;&#1614;&#1605;&#1614;&#1604;&#1615; &#1587;&#1614;&#1606;&#1614;&#1577;&#1613; &#1589;&#1616;&#1610;&#1614;&#1575;&#1605;&#1615;&#1607;&#1614;&#1575; &#1608;&#1614;&#1602;&#1616;&#1610;&#1614;&#1575;&#1605;&#1615;&#1607;&#1614;&#1575; &raquo;</p><p>"Barang siapa yang mandi pada hari Jumat dan memandikan (membersihkan badannya), dia bersegera dan berangkat lebih awal (ke masjid), melangkah kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam, mendengarkan khutbah, dan tidak berbincang (bermain-main), maka setiap langkahnya bakal mendapatkan pahala seperti kebaikan setahun, baik puasa maupun sholatnya." (HR. Tirmidzi)</p><p>Hadits lainnya:</p><p>&#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1585;&#1614;&#1575;&#1581;&#1614; &#1573;&#1616;&#1604;&#1614;&#1609; &#1575;&#1604;&#1618;&#1580;&#1615;&#1605;&#1615;&#1593;&#1614;&#1577;&#1616; &#1601;&#1616;&#1610; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1614;&#1575;&#1593;&#1614;&#1577;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1571;&#1615;&#1608;&#1618;&#1604;&#1614;&#1609; &#1601;&#1614;&#1603;&#1614;&#1571;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1602;&#1614;&#1585;&#1617;&#1614;&#1576;&#1614; &#1576;&#1614;&#1583;&#1618;&#1606;&#1614;&#1577;&#1611; &#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1606;&#1614; &#1585;&#1614;&#1575;&#1581;&#1614; &#1601;&#1616;&#1610; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1614;&#1575;&#1593;&#1614;&#1577;&#1616; &#1575;&#1604;&#1579;&#1617;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;&#1610;&#1614;&#1577;&#1616; &#1601;&#1614;&#1603;&#1614;&#1571;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1602;&#1614;&#1585;&#1617;&#1614;&#1576;&#1614; &#1576;&#1614;&#1602;&#1614;&#1585;&#1614;&#1577;&#1611; &#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1585;&#1614;&#1575;&#1581;&#1614; &#1601;&#1616;&#1610; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1614;&#1575;&#1593;&#1614;&#1577;&#1616; &#1575;&#1604;&#1579;&#1617;&#1614;&#1575;&#1604;&#1616;&#1579;&#1614;&#1577;&#1616; &#1601;&#1614;&#1603;&#1614;&#1571;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1602;&#1614;&#1585;&#1617;&#1614;&#1576;&#1614; &#1603;&#1616;&#1576;&#1614;&#1588;&#1611;&#1575; &#1571;&#1614;&#1602;&#1618;&#1585;&#1614;&#1606;&#1614; &#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1585;&#1614;&#1575;&#1581;&#1614; &#1601;&#1616;&#1610; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1614;&#1575;&#1593;&#1614;&#1577;&#1616; &#1575;&#1604;&#1585;&#1617;&#1614;&#1575;&#1576;&#1616;&#1593;&#1614;&#1577;&#1616; &#1601;&#1614;&#1603;&#1614;&#1571;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1571;&#1614;&#1607;&#1618;&#1583;&#1614;&#1609; &#1583;&#1614;&#1580;&#1614;&#1575;&#1580;&#1614;&#1577;&#1611; &#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1585;&#1614;&#1575;&#1581;&#1614; &#1601;&#1616;&#1610; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1614;&#1575;&#1593;&#1614;&#1577;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1582;&#1614;&#1575;&#1605;&#1616;&#1587;&#1614;&#1577;&#1616; &#1601;&#1614;&#1603;&#1614;&#1571;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1571;&#1614;&#1607;&#1618;&#1583;&#1614;&#1609; &#1576;&#1614;&#1610;&#1618;&#1590;&#1614;&#1577;&#1611; &#1601;&#1614;&#1573;&#1616;&#1584;&#1614;&#1575; &#1582;&#1614;&#1585;&#1614;&#1580;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1573;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575;&#1605;&#1614; &#1591;&#1615;&#1608;&#1616;&#1610;&#1614;&#1578;&#1616; &#1575;&#1604;&#1589;&#1617;&#1615;&#1581;&#1615;&#1601;&#1615; &#1608;&#1614;&#1585;&#1615;&#1601;&#1616;&#1593;&#1614;&#1578;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1571;&#1614;&#1602;&#1618;&#1604;&#1614;&#1575;&#1605;&#1615; &#1608;&#1614;&#1575;&#1580;&#1618;&#1578;&#1614;&#1605;&#1614;&#1593;&#1614;&#1578;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575;&#1574;&#1616;&#1603;&#1614;&#1577;&#1615; &#1593;&#1616;&#1606;&#1618;&#1583;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1616;&#1606;&#1618;&#1576;&#1614;&#1585;&#1616; &#1610;&#1614;&#1587;&#1618;&#1578;&#1614;&#1605;&#1616;&#1593;&#1615;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1584;&#1617;&#1616;&#1603;&#1618;&#1585;&#1614; &#1601;&#1614;&#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1580;&#1614;&#1575;&#1569;&#1614; &#1576;&#1614;&#1593;&#1618;&#1583;&#1614; &#1584;&#1614;&#1604;&#1616;&#1603;&#1614; &#1601;&#1614;&#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1580;&#1614;&#1575;&#1569;&#1614; &#1604;&#1616;&#1581;&#1614;&#1602;&#1617;&#1616; &#1575;&#1604;&#1589;&#1617;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575;&#1577;&#1616; &#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1587;&#1614; &#1604;&#1614;&#1607;&#1615; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1601;&#1614;&#1590;&#1618;&#1604;&#1616; &#1588;&#1614;&#1610;&#1618;&#1569;&#1612;</p><p>&ldquo;Siapa saja yang berangkat sholat Jumat pada jam pertama, seakan-akan berkurban dengan seekor unta. Siapa saja yang berangkat pada jam kedua, seakan-akan berkurban dengan seekor sapi. Siapa saja yang berangkat pada jam ketiga, seakan-akan berkurban dengan kambing bertanduk. Siapa saja yang berangkat pada jam keempat, seakan-akan menghadiahkan seekor ayam jantan. Siapa saja yang berangkat pada jam kelima, maka seakan-akan menghadiahkan sebutir telur. Setelah pemimpin keluar, maka catatan kebaikan sudah ditutup, qalam pencatat sudah dianggat, dan para malaikat berkumpul di minbar untuk mendengarklan zikir. Siapa saja yang datang setelah itu, maka dia datang hanya untuk memenuhi kewenangan shalat dan tidak mendapatkan keistimewaan apa-apa, (HR. al-Bukhari dan Muslim).</p><p>Jumhur ustadz berkata, "Dianjurkan bersegera menghadiri sholat Jumat pada awal siang. Hal ini dikatakan oleh Imam Syafii dan Ibnu Habib Al Maliki."</p>               
        
        		
	 
		
		
	        
      
]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/ruginya-orang-yang-tidak-bergera-ke-masjid-untuk-sholat-jumat-166869.html</guid> <pubDate>Sun, 16 Aug 2026 11:30:13 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Muhammad Hafil)</author> </item> <item> <title>Yudi Latif: Indonesia Merdeka Karena Gotong Royong</title> <description>Yudi Latif: Indonesia Merdeka Karena Gotong Royong. Kincai Media, Cendekiawan sekaligus Pembina Dompet Dhuafa, Prof Yudi Latif, menegaskan bahwa kekuatan utama yang melahirkan dan menjaga Indonesia h...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/079276100-1782386153-830-556.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/yudi-latif-indonesia-merdeka-karena-gotong-royong-166868.html</link> <content:encoded><![CDATA[<p>Kincai Media, Cendekiawan sekaligus Pembina Dompet Dhuafa, Prof Yudi Latif, menegaskan bahwa kekuatan utama yang melahirkan dan menjaga Indonesia hingga sekarang bukan semata aspek politik, melainkan budaya gotong royong yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Nusantara.</p><div> <p dir="ltr">Yudi menjelaskan, pada masa kolonial, daerah Nusantara terdiri atas ratusan kerajaan dan kesultanan yang mempunyai sejarah panjang perlawanan terhadap penjajahan. Namun, perlawanan tersebut tetap berkarakter lokal dan sporadis lantaran belum mempunyai titik jumpa yang bisa menyatukan seluruh kekuatan bangsa.</p> <p dir="ltr">"Kerajaan-kerajaan dan kesultanan di Nusantara itu jumlahnya antara 250 sampai 390. Mereka melakukan perlawanan, mulai dari Maluku, Jawa, Sumatra hingga Sulawesi. Tetapi lantaran masyarakatnya majemuk, terlalu mudah diadu domba dan perlawanannya tetap berkarakter lokal," ujar Prof Yudi Hal itu disampaikan Yudi dalam kegiatan Dialog Kebangsaan bertema "Pancasila Sebagai Nilai-Nilai Dasar Bernegara" di Gedung Filantropi Dompet Dhuafa, Jakarta Selatan, Jumat (14/8/2026).</p><p dir="ltr">Menurut dia, lahirnya Indonesia sebagai bangsa berasal dari ditemukannya "penyebut bersama" yang bisa menyatukan keragaman suku, agama, etnis, dan ideologi.</p> <p dir="ltr">Yudi mengibaratkan kondisi bangsa seperti pecahan dalam matematika yang tidak dapat dijumlahkan tanpa mempunyai penyebut yang sama.</p><p dir="ltr">"Dalam matematika, pecahan-pecahan tidak bisa dijumlahkan selain penyebutnya disamakan. Indonesia datang sebagai penyebut berbareng yang menyatukan beragam perbedaan itu," ucapnya.</p><p dir="ltr">Ia menjelaskan, istilah Indonesia awalnya merupakan istilah etnologi dan pengetahuan permukaan bumi yang kemudian dipakai para pendiri bangsa sebagai pengganti nama Hindia Belanda. Pilihan tersebut menjadi corak perlawanan simbolik terhadap identitas yang diwariskan kolonialisme.</p><p dir="ltr">Namun, menurut Yudi, nama Indonesia saja tidak cukup. Bangsa ini memerlukan nilai berbareng yang menjadi perekat kebangsaan. Nilai itulah yang kemudian dirumuskan dalam Pancasila.</p><p dir="ltr">Meski terdiri atas lima sila, Yudi mengutip pandangan Presiden pertama RI Soekarno yang menyebut inti Pancasila sesungguhnya adalah gotong royong.</p><p dir="ltr">"Kalau kata Bung Karno, inti Pancasila itu gotong royong. Ketika beragam pecahan itu berasosiasi dan bekerja sama, di situlah lahir kekuatan bangsa," ujarnya.</p><p dir="ltr">Yudi menilai gotong royong bukan sekadar slogan, melainkan budaya yang telah teruji sepanjang sejarah Nusantara. Ia mengutip pandangan mahir manajemen dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Edgar Schein, yang mendefinisikan budaya sebagai langkah bekerja dan bekerja sama yang terus diulang lantaran terbukti berhasil.</p><p dir="ltr">"Itulah budaya kita. Gotong royong adalah kekuatan yang telah teruji dalam sejarah bangsa ini," katanya.</p><p dir="ltr">Ia mencontohkan pengalaman Indonesia saat menghadapi pandemi Covid-19. Menurut Yudi, keterlibatan masyarakat sipil, organisasi sosial, golongan pengajian, PKK, kampus, hingga organisasi menjadi aspek krusial dalam mempercepat penanganan pandemi.</p><p dir="ltr">"Ketika ibu-ibu pengajian, PKK, kampus, dan masyarakat ikut bergotong royong, persoalan yang susah bisa diselesaikan bersama," ujarnya.</p><p dir="ltr">Yudi juga menyinggung predikat Indonesia sebagai salah satu negara paling murah hati di dunia. Menurut dia, perihal itu menunjukkan bahwa kekuatan budaya dan solidaritas sosial menjadi modal utama bangsa.</p><p dir="ltr">Dalam kesempatan tersebut, Yudi menilai kerjasama antara<a href="https://republika.co.id/tag/dompet-dhuafa"> Dompet Dhuafa </a>dan PARFI '56 menjadi contoh nyata praktik gotong royong dalam kehidupan modern.</p><p dir="ltr">"Ada PARFI, ada Dompet Dhuafa, ada banyak unsur yang berkolaborasi. Kalau kita gotong royong, hal-hal yang susah bisa diselesaikan," katanya.</p><p dir="ltr">Yudi menegaskan, peran seniman dan seniman juga mempunyai posisi krusial dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia. Menurut dia, kekuatan kebudayaan sering kali lebih memperkuat lama dalam ingatan masyarakat dibanding peristiwa politik.</p><p dir="ltr">"Peristiwa politik bisa dilupakan orang, tetapi memori kebudayaan dan seni mengendap lebih lama dalam ingatan bangsa," ujarnya.</p><p dir="ltr">Karena itu, pada usia kemerdekaan ke-81 RI, Yudi berambisi kebudayaan kembali menjadi kekuatan pemersatu bangsa di tengah beragam perbedaan dan tantangan zaman.</p><p dir="ltr">"Kekuatan budaya kudu memainkan peran besar untuk mengembalikan bangsa ini kepada jati dirinya. Indonesia dibangun oleh gotong royong," kata Yudi.</p></div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/yudi-latif-indonesia-merdeka-karena-gotong-royong-166868.html</guid> <pubDate>Sun, 16 Aug 2026 06:30:16 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Muhammad Hafil)</author> </item> <item> <title>Gempa Guncang Ntt, Pernahkah Gempa Terjadi Pada Zaman Nabi?</title> <description>Gempa Guncang Ntt, Pernahkah Gempa Terjadi Pada Zaman Nabi?. Kincai Media, Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang daerah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi. Gempa yang berpu...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/gempa-bumi-ilustrasi-_140125141723-862.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/gempa-guncang-ntt-pernahkah-gempa-terjadi-pada-zaman-nabi-166867.html</link> <content:encoded><![CDATA[<p>Kincai Media, Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang daerah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi. Gempa yang berpusat sekitar 30 kilometer laut Mbay-Nagekeo tersebut memicu peringatan awal tsunami di sejumlah daerah pesisir NTT dan beberapa daerah di Sulawesi serta Nusa Tenggara Barat.</p><div> <p dir="ltr">Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat<a href="https://republika.co.id/tag/gempa"> gempa </a>terjadi pada pukul 04.58.24 WIB dengan kedalaman 15 kilometer. Kepala Stasiun Geofisika Kupang Arief Tyastama mengatakan, pusat gempa berada pada koordinat 8,41 derajat lintang selatan dan 121,39 derajat bujur timur.</p> <p dir="ltr">BMKG kemudian mengeluarkan Peringatan Dini Tsunami 2. Sejumlah daerah di NTT masuk status Siaga, antara lain Manggarai bagian utara, Ngada bagian utara, Manggarai Barat bagian utara, Ende bagian utara, dan Sikka bagian utara.</p><p dir="ltr">Tsunami juga terdeteksi di sejumlah wilayah. Berdasarkan pemantauan muka air laut BMKG hingga pukul 07.05 WIB, tinggi tsunami terbesar tercatat 0,94 meter di Maurole, Ende. Gelombang tsunami juga terdeteksi di Alor, Dompu, Sikka, Flores Timur, Labuan Bajo, Baubau, Bulukumba, dan Kolaka.</p> <p dir="ltr">Peristiwa tersebut mengingatkan kembali bahwa<a href="https://republika.co.id/tag/gempa-bumi"> gempa bumi </a>merupakan kejadian alam yang telah dikenal manusia sejak masa lampau. Lantas, apakah gempa bumi pernah terjadi pada zaman<a href="https://republika.co.id/tag/nabi-muhammad"> Nabi Muhammad </a>SAW?</p><p dir="ltr">Dalam sejarah Islam, terdapat riwayat yang menyebut bahwa gempa pernah terjadi pada masa<a href="https://republika.co.id/tag/rasulullah"> Rasulullah </a>SAW. Peristiwa tersebut antara lain dijelaskan dalam kitab <em>Ad-Daa wad Dawaa</em> karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.</p><p dir="ltr">Dalam riwayat yang disebutkan Ibnu Abid Dun-ya dan diriwayatkan secara bersambung oleh al-Hakim melalui jalur Baqiyyah, dari Yazid al-Juhani, dari Anas, disebutkan bahwa ketika gempa terjadi, para sahabat merasa takut.</p><p dir="ltr">Rasulullah SAW kemudian meletakkan tangannya di atas bumi seraya bersabda:</p><p dir="ltr">Artinya: &ldquo;Tenanglah, lantaran waktumu belum tiba.&rdquo;</p><p dir="ltr">Setelah itu, Nabi SAW beralih kepada para sahabat dan bersabda:</p><p dir="ltr">Artinya: &ldquo;Sesungguhnya Rabb kalian betul-betul sedang menegur kalian, maka perhatikanlah teguran-Nya.&rdquo;</p><p dir="ltr">Riwayat tersebut menggambarkan gimana umat Islam diarahkan untuk memaknai kejadian gempa bukan hanya sebagai peristiwa alam, tetapi juga sebagai momentum untuk mengingat kebesaran Allah SWT.</p><p dir="ltr">Meski demikian, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ustadz mengenai apakah gempa betul-betul pernah terjadi pada masa Rasulullah SAW.</p><p dir="ltr">Imam Ibnu Abdil Barr, misalnya, menyatakan tidak terdapat sabda sahih yang menyebut terjadinya gempa pada masa Nabi SAW. Ia mengatakan, &ldquo;Tidak ada hadits shahih dari Nabi yang menyebut bahwa pernah terjadi gempa pada era beliau dan tidak ada juga sunnah yang shahih tentangnya.&rdquo; (At-Tamhid 3/318).</p><p dir="ltr">Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai riwayat tersebut, Rasulullah SAW telah mengabarkan bahwa gempa bumi bakal menjadi salah satu kejadian yang semakin banyak terjadi menjelang Hari Kiamat.</p><p dir="ltr">Hal itu berasas sabda Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda:</p><p dir="ltr">&#1604;&#1575;&#1614; &#1578;&#1614;&#1602;&#1615;&#1608;&#1605;&#1615; &#1575;&#1604;&#1587;&#1614;&#1617;&#1575;&#1593;&#1614;&#1577;&#1615; &#1581;&#1614;&#1578;&#1614;&#1617;&#1609; &#1578;&#1614;&#1603;&#1618;&#1579;&#1615;&#1585;&#1614; &#1575;&#1604;&#1586;&#1614;&#1617;&#1604;&#1575;&#1614;&#1586;&#1616;&#1604;&#1615;</p><p dir="ltr">Artinya: &ldquo;Tidak bakal tiba hari Kiamat hingga banyak terjadi gempa bumi.&rdquo;</p><p dir="ltr">Hadis tersebut menjadi pengingat bagi umat Islam agar tidak hanya memandang gempa dari sisi kejadian alam, tetapi juga menjadikannya sebagai momentum untuk melakukan introspeksi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.</p><p dir="ltr">Ketika musibah terjadi, Islam tidak mengajarkan kepanikan. Umat dianjurkan untuk tetap tenang, memperbanyak istighfar dan taubat, meningkatkan kebaikan saleh, serta menyadari keterbatasan manusia di hadapan kekuasaan Allah SWT.</p><p dir="ltr">Gempa NTT yang diikuti terdeteksinya tsunami menjadi pengingat bahwa manusia mempunyai keterbatasan dalam menghadapi kekuatan alam. Di tengah upaya mitigasi dan pengamanan yang dilakukan, umat Islam juga dapat mengambil pelajaran spiritual dengan memperbanyak angan dan memohon perlindungan kepada Allah SWT.</p><p dir="ltr">Dengan demikian, menyikapi gempa tidak berfaedah mengabaikan penjelasan ilmiah mengenai kegiatan tektonik. Sebaliknya, ikhtiar melalui pengetahuan pengetahuan, kewaspadaan, dan mitigasi musibah dapat melangkah beriringan dengan sikap tawakal, taubat, dan memperbanyak kebaikan saleh.</p></div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/gempa-guncang-ntt-pernahkah-gempa-terjadi-pada-zaman-nabi-166867.html</guid> <pubDate>Sun, 16 Aug 2026 06:00:13 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Muhammad Hafil)</author> </item> <item> <title>Doa Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus: Arab, Latin, Dan Terjemahannya</title> <description>Doa Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus: Arab, Latin, Dan Terjemahannya. Kincai Media– Doa untuk Indonesia di Hari Kemerdekaan 17 Agustus dapat menjadi salah satu corak ungkapan syukur atas nikmat kemerdekaan yang telah dianug...</description> <media:thumbnail url="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-1.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/doa-kemerdekaan-indonesia-17-agustus-arab-latin-dan-terjemahannya-166866.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div> <div><figure><a href="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-1.jpg" data-caption=" Arab, Latin, dan Terjemahannya"><img width="696" height="367" src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-1.jpg" srcset="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-1-696x367.jpg 696w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-1-640x337.jpg 640w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-1-768x405.jpg 768w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-1-797x420.jpg 797w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-1.jpg 1000w" sizes=" 696px) 100vw, 696px" alt=" Arab, Latin, dan Terjemahannya" title=" Arab, Latin, dan Terjemahannya"></a>Doa Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus: Arab, Latin, dan Terjemahannya</figure></div> <p><strong><b>Kincai Media</b></strong>&ndash; Doa untuk Indonesia di Hari Kemerdekaan 17 Agustus dapat menjadi salah satu corak ungkapan syukur atas nikmat kemerdekaan yang telah dianugerahkan kepada bangsa <a href="https://bincangsyariah.com/tag/indonesia/" data-type="post_tag" data-id="54">Indonesia</a>. Selain sebagai corak rasa syukur, angan juga menjadi sarana untuk memohon keberkahan, persatuan, kedamaian, serta keselamatan bagi bangsa dan negara.</p> <p>Salah satu angan kemerdekaan yang pernah dipanjatkan oleh KH. Maimoen Zubair adalah angan yang disampaikan dalam kegiatan Dzikir Kebangsaan di Istana Merdeka pada 1 Agustus 2017. Doa tersebut berisi ungkapan syukur atas kemerdekaan Indonesia sekaligus permohonan agar bangsa Indonesia senantiasa diberi persatuan, keberkahan, dan kehidupan yang baik.</p> <p>Berikut teks angan tersebut komplit dengan tulisan Arab, harakat, transliterasi, dan terjemahannya.</p> <p><em>&ldquo;Ya Allah, Syukran laka yaa Ilaahanaa &lsquo;alaa maa tafadldlolta &lsquo;alaina min ni&rsquo;matil istiqlaal, min ni&rsquo;matil hurriyyah, hurriyyati Indonesia. Yaa Dzasy syahril &lsquo;adziim, syahri Agustus. Syahril mu&rsquo;adzdzom &lsquo;indanaa wa &lsquo;indaKa haitsu ba&rsquo;asTa nabiyyaKa Muhammad SAW fii syahri Agustus kamaa a&rsquo;thoitanaa hurriyyatanaa.</em></p> <p><em>Alladzii yuwaafiqu Ramadhaan, kadzaalika fi syahri Ramadhaan Anta tanzilu fiihil qur`aan. Yaa Robbanaa anzil &lsquo;alainaa ni&rsquo;mataka, ni&rsquo;matal a&rsquo;dzom, ni&rsquo;matal hurriyyah. Waj&rsquo;alnaa ummatan waahidatan laa tafriiqotan wa in kunnaa syu&rsquo;uuban wa qobaaila, walaakin li ta&rsquo;aarofuu kamaa qulta. Waj&rsquo;al baldatanaa baldatun thoyyibatun wa Robbun ghofuur.&rdquo;</em></p> <p>&ldquo;Ya Allah, syukur bagimu wahai Tuhan kami yang telah menganugerahi kami nikmat kedaulatan dan nikmat kemerdekaan, kemerdekaan Indonesia. Wahai Pemilik bulan yang agung, <a href="https://bincangmuslimah.com/" data-type="link" data-id="https://bincangmuslimah.com/">bulan Agustus</a>. </p> <p>Bulan yang diagungkan oleh kami dan oleh-Mu, dimana Kau utus Nabi Muhammad SAW (sebagai Rasul) di bulan Agustus sebagaimana kau anugerahi kemerdekaan kami. Yang menepati bulan Ramadhan sebagaimana di bulan Ramadhan engkau menurunkan Alquran di dalamnya. </p> <p>Wahai Tuhan kami, turunkanlah bagi kami nikmatmu yang paling agung, nikmat kemerdekaan. Dan jadikan kami sebagai bangsa yang satu, yang tidak terpecah-belah. Meskipun kami bersuku-suku dan berkabilah-kabilah namun untuk saling mengenal sebagaimana yang Kau perintahkan. Dan jadikanlah negeri kami negeri yang baik dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Pengampun&rdquo;.</p> <p>Selain angan kemerdekaan tersebut, terdapat pula rangkaian angan yang berisi permohonan ampun, persatuan, petunjuk, keberkahan, serta keselamatan bagi bangsa Indonesia. Doa ini pernah ditulis Gus Mus dalam status Instagrammnya. Berikut doanya;</p> <p>&#1575;&#1604;&#1604;&#1614;&#1617;&#1607;&#1615;&#1605;&#1614;&#1617; &#1575;&#1594;&#1618;&#1601;&#1616;&#1585;&#1618; &#1604;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575; &#1608;&#1614;&#1604;&#1616;&#1573;&#1616;&#1582;&#1618;&#1608;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;&#1606;&#1614;&#1575; &#1575;&#1604;&#1614;&#1617;&#1584;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614; &#1587;&#1614;&#1576;&#1614;&#1602;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;&#1575; &#1576;&#1616;&#1575;&#1604;&#1618;&#1573;&#1616;&#1610;&#1605;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;&#1548; &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575; &#1578;&#1614;&#1580;&#1618;&#1593;&#1614;&#1604;&#1618; &#1601;&#1616;&#1610; &#1602;&#1615;&#1604;&#1615;&#1608;&#1576;&#1616;&#1606;&#1614;&#1575; &#1594;&#1616;&#1604;&#1611;&#1617;&#1575; &#1604;&#1616;&#1604;&#1614;&#1617;&#1584;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614; &#1570;&#1605;&#1614;&#1606;&#1615;&#1608;&#1575;&#1548; &#1585;&#1614;&#1576;&#1614;&#1617;&#1606;&#1614;&#1575; &#1573;&#1616;&#1606;&#1614;&#1617;&#1603;&#1614; &#1585;&#1614;&#1572;&#1615;&#1608;&#1601;&#1612; &#1585;&#1614;&#1581;&#1616;&#1610;&#1605;&#1612;.</p> <p><em>All&#257;humma-ghfir lan&#257; wa li-ikhw&#257;ninalladz&#299;na sabaq&#363;n&#257; bil-&#299;m&#257;n, wa l&#257; taj&lsquo;al f&#299; qul&#363;bin&#257; ghillan lilladz&#299;na &#257;man&#363;. Rabban&#257; innaka ra&rsquo;&#363;fur-ra&#7717;&#299;m.</em></p> <p>&ldquo;Ya Allah, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dulu beriman. Janganlah Engkau menjadikan dalam hati kami rasa tidak suka terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.&rdquo;</p> <p><strong>Doa untuk Pemimpin dan Keselamatan Indonesia</strong></p> <p>Doa ini dikutip dari dalam facebook Dar Ifta Mesir, angan ini memuatkan keselamatan untuk negeri. Berikut doanya;</p> <p>&#1575;&#1604;&#1604;&#1614;&#1617;&#1607;&#1615;&#1605;&#1614;&#1617; &#1608;&#1614;&#1601;&#1616;&#1617;&#1602;&#1618; &#1608;&#1615;&#1604;&#1614;&#1575;&#1577;&#1614; &#1571;&#1615;&#1605;&#1615;&#1608;&#1585;&#1616;&#1606;&#1614;&#1575; &#1604;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575; &#1578;&#1615;&#1581;&#1616;&#1576;&#1615;&#1617; &#1608;&#1614;&#1578;&#1614;&#1585;&#1618;&#1590;&#1614;&#1609;&#1548; &#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1601;&#1616;&#1610;&#1607;&#1616; &#1582;&#1614;&#1610;&#1618;&#1585;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1576;&#1616;&#1604;&#1614;&#1575;&#1583;&#1616; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1616;&#1576;&#1614;&#1575;&#1583;&#1616;&#1548; &#1608;&#1614;&#1575;&#1585;&#1618;&#1586;&#1615;&#1602;&#1618;&#1607;&#1615;&#1605;&#1615; &#1575;&#1604;&#1604;&#1614;&#1617;&#1607;&#1615;&#1605;&#1614;&#1617; &#1575;&#1604;&#1618;&#1576;&#1616;&#1591;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614;&#1577;&#1614; &#1575;&#1604;&#1589;&#1614;&#1617;&#1575;&#1604;&#1616;&#1581;&#1614;&#1577;&#1614;&#1548; &#1608;&#1614;&#1575;&#1581;&#1618;&#1601;&#1614;&#1592;&#1616; &#1575;&#1604;&#1604;&#1614;&#1617;&#1607;&#1615;&#1605;&#1614;&#1617; )&#1573;&#1616;&#1606;&#1618;&#1583;&#1615;&#1608;&#1606;&#1616;&#1610;&#1587;&#1616;&#1610;&#1614;&#1575;( &#1608;&#1614;&#1571;&#1614;&#1607;&#1618;&#1604;&#1614;&#1607;&#1614;&#1575; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1601;&#1616;&#1578;&#1614;&#1606;&#1616; &#1605;&#1614;&#1575; &#1592;&#1614;&#1607;&#1614;&#1585;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618;&#1607;&#1614;&#1575; &#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1576;&#1614;&#1591;&#1614;&#1606;&#1614;&#1548; &#1608;&#1614;&#1571;&#1614;&#1583;&#1616;&#1605;&#1618; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1606;&#1614;&#1575; &#1606;&#1616;&#1593;&#1618;&#1605;&#1614;&#1578;&#1614;&#1610;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1571;&#1614;&#1605;&#1618;&#1606;&#1616; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1571;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;.</p> <p><em>All&#257;humma waffiq wul&#257;ta um&#363;rin&#257; lim&#257; tu&#7717;ibbu wa tar&#7693;&#257;, wa m&#257; f&#299;hi khairul-bil&#257;di wal-&lsquo;ib&#257;d, warzuqhumull&#257;humal-bi&#7789;&#257;nata&#7779;-&#7779;&#257;li&#7717;ah. Wa&#7717;fa&#7827;ill&#257;humma Ind&#363;n&#299;siy&#257; wa ahlah&#257; minal-fitan, m&#257; &#7827;ahara minh&#257; wa m&#257; ba&#7789;an. Wa adim &lsquo;alain&#257; ni&lsquo;matayil-amni wal-am&#257;n.</em></p> <p>Artinya;&ldquo;Ya Allah, berilah taufik kepada para pemimpin kami untuk melakukan segala sesuatu yang Engkau cintai dan Engkau ridai serta yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi negeri dan seluruh hamba-Mu. Ya Allah, karuniakanlah kepada mereka pendamping-pendamping yang baik.</p> <p>Ya Allah, jagalah Indonesia dan seluruh rakyatnya dari beragam fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Limpahkanlah kepada kami nikmat keamanan dan ketenteraman secara berkelanjutan.&rdquo;</p> <p>Hari Kemerdekaan Indonesia bukan hanya menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi juga menjadi waktu yang tepat untuk memanjatkan angan bagi masa depan bangsa.</p> <p>Semoga Indonesia senantiasa diberikan keberkahan, persatuan, keamanan, dan kedamaian. Semoga para pemimpin diberikan petunjuk dalam menjalankan amanah, sementara seluruh masyarakat Indonesia senantiasa diberi kehidupan yang tenteram, adil, dan sejahtera.</p> <p>Dirgahayu Republik Indonesia. Semoga Indonesia semakin maju, bersatu, dan senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT.</p> <div> <p><a href="https://bit.ly/SertifikasiHalalGratisEBI" target="_blank" rel="noopener noreferrer"> <img src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-15-at-20.44.10.jpeg" alt="Sertifikasi Halal"> </a> </p> </div> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/doa-kemerdekaan-indonesia-17-agustus-arab-latin-dan-terjemahannya-166866.html</guid> <pubDate>Sat, 15 Aug 2026 20:00:20 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Admin)</author> </item> <item> <title>Hukum Mengikuti Lomba 17 Agustus Dengan Biaya Pendaftaran</title> <description>Hukum Mengikuti Lomba 17 Agustus Dengan Biaya Pendaftaran. Tanya Ustadz Assalamu’alaikum. Ustaz, setiap menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus, biasanya masyarakat mengadakan beragam m...</description> <media:thumbnail url="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/18003.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/hukum-mengikuti-lomba-17-agustus-dengan-biaya-pendaftaran-166865.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div> <div><figure><a href="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/18003.jpg" data-caption="Hukum Lomba 17 Agustus dengan Biaya Pendaftaran"><img width="696" height="465" src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/18003.jpg" srcset="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/18003-696x465.jpg 696w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/18003-640x428.jpg 640w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/18003-768x513.jpg 768w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/18003-629x420.jpg 629w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/18003.jpg 1000w" sizes=" 696px) 100vw, 696px" alt="Hukum Lomba 17 Agustus dengan Biaya Pendaftaran" title="Hukum Lomba 17 Agustus dengan Biaya Pendaftaran"></a>Hukum Lomba 17 Agustus dengan Biaya Pendaftaran</figure></div> <p><strong>Tanya Ustadz</strong></p> <p><em>Assalamu&rsquo;alaikum. Ustaz, setiap menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus, biasanya masyarakat mengadakan beragam macam perlombaan, seperti lomba balap karung, makan kerupuk, memasukkan pensil ke dalam botol, panjat pinang, dan perlombaan lainnya.</em></p> <p><em>Dalam beberapa kegiatan tersebut, peserta terkadang dikenakan biaya pendaftaran. Biaya tersebut digunakan untuk kebutuhan penyelenggaraan lomba, seperti membeli perlengkapan, konsumsi panitia, alias apalagi untuk menyediakan bingkisan bagi para pemenang.</em></p> <p><em>Yang menjadi pertanyaan, gimana norma mengikuti lomba 17 Agustus yang peserta diwajibkan bayar biaya pendaftaran? Apakah biaya pendaftaran tersebut termasuk taruhan yang menyebabkan perlombaan menjadi judi?</em></p> <p>Jawaban</p> <p><em>Wa&rsquo;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh</em>. Terima kasih sudah bertanya pada redaksi Tanya Ustadz. Pada dasarnya, mengadakan dan mengikuti perlombaan hukumnya boleh (<a href="https://bincangsyariah.com/tag/mubah/" data-type="post_tag" data-id="5163">mubah</a>) selama perlombaan tersebut tidak mengandung unsur yang diharamkan, seperti perjudian, taruhan, penipuan, alias hal-hal lain yang dilarang syariat.</p> <p>Dalam literatur fikih disebutkan bahwa para ustadz sepakat mengenai kebolehan perlombaan secara umum. Dalam <em><a href="https://books.google.co.id/books?id=dnpJCwAAQBAJ&amp;pg=PT78&amp;dq=%D9%88%D9%8E%D8%A3%D9%8E%D8%AC%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%B9%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%B3%D9%92%D9%84%D9%90%D9%85%D9%8F%D9%88%D9%86%D9%8E+%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%89+%D8%AC%D9%8E%D9%88%D9%8E%D8%A7%D8%B2%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%B3%D9%8E%D8%A7%D8%A8%D9%8E%D9%82%D9%8E%D8%A9%D9%90+%D9%81%D9%90%D9%8A+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AC%D9%8F%D9%85%D9%92%D9%84%D9%8E%D8%A9%D9%90&amp;hl=en&amp;newbks=1&amp;newbks_redir=1&amp;sa=X&amp;ved=2ahUKEwjF49TSyaKWAxWC4jgGHdZPCXkQ6AF6BAgHEAM" data-type="link" data-id="https://books.google.co.id/books?id=dnpJCwAAQBAJ&amp;pg=PT78&amp;dq=%D9%88%D9%8E%D8%A3%D9%8E%D8%AC%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%B9%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%B3%D9%92%D9%84%D9%90%D9%85%D9%8F%D9%88%D9%86%D9%8E+%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%89+%D8%AC%D9%8E%D9%88%D9%8E%D8%A7%D8%B2%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%B3%D9%8E%D8%A7%D8%A8%D9%8E%D9%82%D9%8E%D8%A9%D9%90+%D9%81%D9%90%D9%8A+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AC%D9%8F%D9%85%D9%92%D9%84%D9%8E%D8%A9%D9%90&amp;hl=en&amp;newbks=1&amp;newbks_redir=1&amp;sa=X&amp;ved=2ahUKEwjF49TSyaKWAxWC4jgGHdZPCXkQ6AF6BAgHEAM">Al-Mausu&rsquo;ah Al-Fiqhiyah</a></em> disebutkan:</p> <p>&#1608;&#1614;&#1571;&#1614;&#1580;&#1618;&#1605;&#1614;&#1593;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1587;&#1618;&#1604;&#1616;&#1605;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609; &#1580;&#1614;&#1608;&#1614;&#1575;&#1586;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1587;&#1614;&#1575;&#1576;&#1614;&#1602;&#1614;&#1577;&#1616; &#1601;&#1616;&#1610; &#1575;&#1604;&#1618;&#1580;&#1615;&#1605;&#1618;&#1604;&#1614;&#1577;&#1616;</p> <p>Artinya: &ldquo;Kaum Muslimin sepakat mengenai kebolehan perlombaan secara keseluruhan.&rdquo;</p> <p>Demikian pula dalam kitab <em>Minhaj al-Thalibin</em> &nbsp;juz 4, hlm. 311.</p> <p>karya Imam al-Nawawi disebutkan:</p> <p>&#1603;&#1616;&#1578;&#1614;&#1575;&#1576;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1587;&#1614;&#1575;&#1576;&#1614;&#1602;&#1614;&#1577;&#1616; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1606;&#1614;&#1575;&#1590;&#1614;&#1604;&#1614;&#1577;&#1616; &#1607;&#1615;&#1605;&#1614;&#1575; &#1587;&#1615;&#1606;&#1614;&#1617;&#1577;&#1612; &#1608;&#1614;&#1610;&#1614;&#1581;&#1616;&#1604;&#1615;&#1617; &#1571;&#1614;&#1582;&#1618;&#1584;&#1615; &#1593;&#1616;&#1608;&#1614;&#1590;&#1613; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1607;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575;&#1548; &#1608;&#1614;&#1578;&#1614;&#1589;&#1616;&#1581;&#1615;&#1617; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1606;&#1614;&#1575;&#1590;&#1614;&#1604;&#1614;&#1577;&#1615; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609; &#1587;&#1616;&#1607;&#1614;&#1575;&#1605;&#1613; &#1608;&#1614;&#1603;&#1614;&#1584;&#1614;&#1575; &#1605;&#1614;&#1586;&#1614;&#1575;&#1585;&#1616;&#1610;&#1602;&#1615; &#1608;&#1614;&#1585;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575;&#1581;&#1612; &#1608;&#1614;&#1585;&#1614;&#1605;&#1618;&#1610;&#1612; &#1576;&#1616;&#1571;&#1614;&#1581;&#1618;&#1580;&#1614;&#1575;&#1585;&#1613; &#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1606;&#1618;&#1580;&#1614;&#1606;&#1616;&#1610;&#1618;&#1602;&#1613; &#1608;&#1614;&#1603;&#1615;&#1604;&#1615;&#1617; &#1606;&#1614;&#1575;&#1601;&#1616;&#1593;&#1613; &#1601;&#1616;&#1610; &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1585;&#1618;&#1576;&#1616; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;&#1584;&#1618;&#1607;&#1614;&#1576;&#1616;</p> <p>Artinya: &ldquo;Kitab tentang perlombaan dan pertandingan memanah. Keduanya disunnahkan dan boleh mengambil bingkisan dari keduanya. Perlombaan memanah sah dilakukan dengan panah, demikian pula dengan tombak pendek, tombak, melempar dengan batu, manjaniq (alat perang untuk melempar batu pada era dahulu), dan segala sesuatu yang berfaedah dalam peperangan menurut pendapat mazhab.&rdquo;</p> <p>Dari keterangan tersebut dapat dipahami bahwa perlombaan pada dasarnya bukan merupakan sesuatu yang dilarang. Karena itu, lomba-lomba dalam rangka memeriahkan 17 Agustus pada prinsipnya juga diperbolehkan selama tidak mengandung unsur yang diharamkan.</p> <p>Bagaimana jika peserta dikenakan biaya pendaftaran?</p> <p>Lantas, gimana jika setiap peserta diwajibkan bayar biaya pendaftaran, misalnya Rp10.000 alias Rp20.000? Apakah pembayaran tersebut otomatis menjadikan lomba sebagai perjudian?</p> <p>Tidak setiap biaya pendaftaran dalam perlombaan otomatis dihukumi sebagai perjudian. Yang perlu diperhatikan adalah untuk apa duit pendaftaran tersebut digunakan dan dari mana bingkisan perlombaan berasal.</p> <p>Jika duit pendaftaran peserta dikumpulkan kemudian sebagian alias seluruhnya digunakan sebagai bingkisan bagi peserta yang menang, sementara peserta yang kalah kehilangan duit pendaftarannya, maka praktik semacam ini dapat mengandung unsur qimar (perjudian).</p> <p>Dalam kitab <em>Is&rsquo;ad al-Rafiq Syarh Sulam al-Taufiq</em> juz 2, hlm. 102 dijelaskan:</p> <p>(&#1603;&#1615;&#1604;&#1615;&#1617; &#1605;&#1614;&#1575; &#1601;&#1616;&#1610;&#1618;&#1607;&#1616; &#1602;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575;&#1585;&#1612;) &#1608;&#1614;&#1589;&#1615;&#1608;&#1618;&#1585;&#1614;&#1578;&#1615;&#1607;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1580;&#1618;&#1605;&#1614;&#1593;&#1615; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1607;&#1614;&#1575; &#1571;&#1614;&#1606;&#1618; &#1610;&#1614;&#1582;&#1618;&#1585;&#1615;&#1580;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1616;&#1608;&#1614;&#1590;&#1615; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1580;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;&#1576;&#1614;&#1610;&#1618;&#1606;&#1616; &#1605;&#1614;&#1593;&#1614; &#1578;&#1614;&#1603;&#1614;&#1575;&#1601;&#1615;&#1574;&#1616;&#1607;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575; &#1608;&#1614;&#1607;&#1615;&#1608;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1585;&#1614;&#1575;&#1583;&#1615; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;&#1610;&#1618;&#1587;&#1616;&#1585;&#1616; &#1601;&#1616;&#1610; &#1575;&#1604;&#1618;&#1570;&#1610;&#1614;&#1577;&#1616;. &#1608;&#1614;&#1608;&#1614;&#1580;&#1618;&#1607;&#1615; &#1581;&#1615;&#1585;&#1618;&#1605;&#1614;&#1578;&#1616;&#1607;&#1616; &#1571;&#1614;&#1606;&#1614;&#1617; &#1603;&#1615;&#1604;&#1614;&#1617; &#1608;&#1614;&#1575;&#1581;&#1616;&#1583;&#1613; &#1605;&#1615;&#1578;&#1614;&#1585;&#1614;&#1583;&#1616;&#1617;&#1583;&#1612; &#1576;&#1614;&#1610;&#1618;&#1606;&#1614; &#1571;&#1614;&#1606;&#1618; &#1610;&#1614;&#1594;&#1618;&#1604;&#1616;&#1576;&#1614; &#1589;&#1614;&#1575;&#1581;&#1616;&#1576;&#1614;&#1607;&#1615; &#1601;&#1614;&#1610;&#1614;&#1594;&#1618;&#1606;&#1614;&#1605;&#1614;&#1548; &#1601;&#1614;&#1573;&#1616;&#1606;&#1618; &#1610;&#1614;&#1606;&#1618;&#1601;&#1614;&#1585;&#1616;&#1583;&#1618; &#1571;&#1614;&#1581;&#1614;&#1583;&#1615; &#1575;&#1604;&#1604;&#1614;&#1617;&#1575;&#1593;&#1616;&#1576;&#1614;&#1610;&#1618;&#1606;&#1616; &#1576;&#1616;&#1573;&#1616;&#1582;&#1618;&#1585;&#1614;&#1575;&#1580;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1616;&#1608;&#1614;&#1590;&#1616; &#1604;&#1616;&#1610;&#1614;&#1571;&#1618;&#1582;&#1615;&#1584;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618;&#1607;&#1615; &#1573;&#1616;&#1606;&#1618; &#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614; &#1605;&#1614;&#1594;&#1618;&#1604;&#1615;&#1608;&#1576;&#1611;&#1575; &#1608;&#1614;&#1593;&#1614;&#1603;&#1618;&#1587;&#1615;&#1607;&#1615; &#1573;&#1616;&#1606;&#1618; &#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614; &#1594;&#1614;&#1575;&#1604;&#1616;&#1576;&#1611;&#1575; &#1601;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1571;&#1614;&#1589;&#1614;&#1581;&#1615;&#1617; &#1581;&#1615;&#1585;&#1618;&#1605;&#1614;&#1578;&#1615;&#1607;&#1615; &#1571;&#1614;&#1610;&#1618;&#1590;&#1611;&#1575;</p> <p>Artinya: &ldquo;Setiap sesuatu yang mengandung perjudian. Bentuk pertaruhan yang disepakati adalah ketika hadiah berasal dari kedua belah pihak disertai kesetaraan keduanya. Hal tersebut merupakan maksud dari maisir dalam ayat Al-Qur&rsquo;an. </p> <p>Alasan keharamannya adalah masing-masing pihak berada di antara kemungkinan mengalahkan lawannya sehingga mendapatkan untung alias dikalahkan sehingga mengalami kerugian. Jika salah satu dari dua pemain mengeluarkan hadiah untuk diambil darinya andaikan dia kalah, dan sebaliknya andaikan dia menang, maka menurut pendapat yang lebih sahih hukumnya juga haram.&rdquo;</p> <p>Dengan demikian, andaikan sistem lomba dibuat sedemikian rupa sehingga duit peserta dipertaruhkan untuk mendapatkan duit peserta lainnya, maka perihal tersebut tidak diperbolehkan lantaran mengandung unsur perjudian.</p> <p>Bagaimana jika biaya pendaftaran hanya untuk biaya operasional?</p> <p>Bagaimana jika duit pendaftaran tidak digunakan untuk hadiah, tetapi hanya untuk membiayai kebutuhan lomba, seperti membeli perangkat perlombaan, konsumsi, sewa tempat, administrasi, alias kebutuhan panitia lainnya?</p> <p>Jika biaya pendaftaran tersebut memang digunakan untuk biaya manajemen dan operasional penyelenggaraan, bukan sebagai taruhan alias sumber bingkisan bagi pemenang, maka pada dasarnya tidak termasuk perjudian.</p> <p>Misalnya, panitia menetapkan biaya pendaftaran Rp20.000 per peserta. Uang tersebut digunakan untuk membeli perlengkapan lomba, konsumsi, mencetak nomor peserta, sewa tempat, dan kebutuhan penyelenggaraan lainnya. </p> <p>Adapun bingkisan pemenang berasal dari biaya panitia, donatur, sponsor, alias sumber biaya lain yang tidak berasal dari duit yang dipertaruhkan oleh para peserta.</p> <p>Model seperti ini pada dasarnya diperbolehkan. Hal ini dapat dianalogikan dengan keterangan dalam <em>Hasyiyah al-Bajuri &lsquo;ala Fath al-Qarib , juz 2, hlm. 309.</em></p> <p>&#1608;&#1614;&#1610;&#1614;&#1580;&#1615;&#1608;&#1586;&#1615; &#1588;&#1614;&#1585;&#1618;&#1591;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1616;&#1608;&#1614;&#1590;&#1616; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1594;&#1614;&#1610;&#1618;&#1585;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1578;&#1614;&#1587;&#1614;&#1575;&#1576;&#1616;&#1602;&#1614;&#1610;&#1618;&#1606;&#1616; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1573;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575;&#1605;&#1616; &#1571;&#1614;&#1608;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1571;&#1614;&#1580;&#1618;&#1606;&#1614;&#1576;&#1616;&#1610;&#1616;&#1617; &#1603;&#1614;&#1571;&#1614;&#1606;&#1618; &#1610;&#1614;&#1602;&#1615;&#1608;&#1604;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1573;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575;&#1605;&#1615; &#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1587;&#1614;&#1576;&#1614;&#1602;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618;&#1603;&#1615;&#1605;&#1614;&#1575; &#1601;&#1614;&#1604;&#1614;&#1607;&#1615; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1614;&#1617; &#1603;&#1614;&#1584;&#1614;&#1575; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1605;&#1614;&#1575;&#1604;&#1616;&#1610;&#1548; &#1571;&#1614;&#1608;&#1618; &#1601;&#1614;&#1604;&#1614;&#1607;&#1615; &#1601;&#1616;&#1610; &#1576;&#1614;&#1610;&#1618;&#1578;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;&#1575;&#1604;&#1616; &#1603;&#1614;&#1584;&#1614;&#1575;&#1548; &#1608;&#1614;&#1603;&#1614;&#1571;&#1614;&#1606;&#1618; &#1610;&#1614;&#1602;&#1615;&#1608;&#1604;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1571;&#1614;&#1580;&#1618;&#1606;&#1614;&#1576;&#1616;&#1610;&#1615;&#1617;: &#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1587;&#1614;&#1576;&#1614;&#1602;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618;&#1603;&#1615;&#1605;&#1614;&#1575; &#1601;&#1614;&#1604;&#1614;&#1607;&#1615; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1614;&#1617; &#1603;&#1614;&#1584;&#1614;&#1575;&#1548; &#1604;&#1616;&#1571;&#1614;&#1606;&#1614;&#1617;&#1607;&#1615; &#1576;&#1614;&#1584;&#1618;&#1604;&#1615; &#1605;&#1614;&#1575;&#1604;&#1613; &#1601;&#1616;&#1610; &#1591;&#1614;&#1575;&#1593;&#1614;&#1577;&#1613;</p> <p>Artinya: &ldquo;Boleh memberikan bingkisan dari selain dua peserta perlombaan, baik dari penguasa maupun pihak lain. Misalnya, penguasa berkata, &lsquo;Siapa di antara kalian berdua yang menang, maka dia mendapatkan sekian dari hartaku,&rsquo; alias mendapatkan sekian dari baitulmal. </p> <p>Demikian pula andaikan pihak lain berkata, &lsquo;Siapa di antara kalian berdua yang menang, maka dia mendapatkan sekian dariku.&rsquo; Hal itu lantaran merupakan pemberian kekayaan dalam ketaatan.&rdquo;</p> <p>Kesimpulannya, biaya pendaftaran tidak otomatis menjadikan lomba sebagai perjudian. Hukum lomba berjuntai pada sistem penggunaan duit tersebut.</p> <p>Pertama, andaikan biaya pendaftaran digunakan sebagai taruhan alias sumber hadiah, sehingga duit peserta yang kalah pada hakikatnya menjadi untung bagi peserta yang menang, maka lomba tersebut mengandung unsur qimar alias pertaruhan dan hukumnya haram.</p> <p>Kedua, andaikan biaya pendaftaran digunakan untuk keperluan operasional lomba, seperti membeli perlengkapan, konsumsi, administrasi, sewa tempat, dan kebutuhan lainnya, sedangkan bingkisan berasal dari sponsor, donatur, panitia, alias sumber biaya lain yang bukan merupakan duit taruhan peserta, maka lomba tersebut diperbolehkan.</p> <p>Oleh lantaran itu, dalam penyelenggaraan lomba 17 Agustus, panitia hendaknya menjelaskan sejak awal penggunaan duit pendaftaran kepada peserta. Hal ini krusial agar tidak terjadi kesalahpahaman dan agar penyelenggaraan perlombaan betul-betul terbebas dari unsur perjudian.</p> <p>Dengan demikian, yang menjadi persoalan dalam biaya pendaftaran bukan semata-mata ada alias tidak adanya duit pendaftaran, tetapi kegunaan dan sistem penggunaan duit tersebut. </p> <p>Jika dia menjadi taruhan yang dipertaruhkan antarpeserta, maka bermasalah secara syariat. Namun jika dia merupakan biaya jasa alias operasional penyelenggaraan dan bingkisan berasal dari sumber biaya lain, maka pada dasarnya diperbolehkan.</p> <div> <p><a href="https://bit.ly/SertifikasiHalalGratisEBI" target="_blank" rel="noopener noreferrer"> <img src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-15-at-20.44.10.jpeg" alt="Sertifikasi Halal"> </a> </p> </div> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/hukum-mengikuti-lomba-17-agustus-dengan-biaya-pendaftaran-166865.html</guid> <pubDate>Sat, 15 Aug 2026 19:00:21 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Admin)</author> </item> <item> <title>Enam Dosa Yang Dianggap Biasa Saat Perayaan Kemerdekaan</title> <description>Enam Dosa Yang Dianggap Biasa Saat Perayaan Kemerdekaan. Setiap tanggal 17 Agustus, negeri ini dipenuhi warna dan kegembiraan. Warna merah putih menghiasi jalanan. Lomba-lomba digelar. Panggung intermezo berdiri. Tawa d...</description> <media:thumbnail url="https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2026/08/Dosa-saat-perayaan-kemerdekaan.webp"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/enam-dosa-yang-dianggap-biasa-saat-perayaan-kemerdekaan-166864.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div><p>Setiap tanggal 17 Agustus, negeri ini dipenuhi warna dan kegembiraan. Warna merah putih menghiasi jalanan. Lomba-lomba digelar. Panggung intermezo berdiri. Tawa dan sorak sorai terdengar di beragam perspektif kampung dan kota.</p><p>Tidak ada yang salah dengan bergembira. Islam bukan kepercayaan yang mematikan rasa cinta tanah air alias melarang kegembiraan. Namun, kegembiraan dalam Islam mempunyai adab. Ia tidak boleh melampaui batas. Ia tidak boleh menjelma menjadi kelalaian. Ia tidak boleh menjadi pintu kemaksiatan. Dan di sinilah ujian itu muncul: ketika kegembiraan berubah menjadi kelalaian, ketika nasionalisme menggeser ketaatan, ketika seremoni menjadi pembenaran atas kemaksiatan.</p><p>Masalahnya bukan pada perayaannya. Masalahnya adalah ketika pemisah hukum dihapus atas nama budaya. Ketika dosa dinormalisasi lantaran &ldquo;ini kan hanya setahun sekali&rdquo;. Ketika pelanggaran dianggap mini lantaran dilakukan bersama-sama.</p><p>Rasulullah <em>shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam</em> telah memperingatkan,</p><p><span>&#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1614;&#1576;&#1618;&#1583;&#1614; &#1604;&#1614;&#1610;&#1614;&#1578;&#1614;&#1603;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614;&#1605;&#1615; &#1576;&#1616;&#1575;&#1604;&#1618;&#1603;&#1614;&#1604;&#1616;&#1605;&#1614;&#1577;&#1616; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1587;&#1614;&#1582;&#1614;&#1591;&#1616; &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1616;&#1548; &#1604;&#1614;&#1575; &#1610;&#1615;&#1604;&#1618;&#1602;&#1616;&#1610; &#1604;&#1614;&#1607;&#1614;&#1575; &#1576;&#1614;&#1575;&#1604;&#1611;&#1575;&#1548; &#1610;&#1614;&#1607;&#1618;&#1608;&#1616;&#1610; &#1576;&#1616;&#1607;&#1614;&#1575; &#1601;&#1616;&#1610; &#1580;&#1614;&#1607;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;</span></p><p>&ldquo;Sesungguhnya seseorang mengucapkan satu kata yang dimurkai Allah, dia tidak menganggapnya penting, namun dengannya dia terjerumus ke dalam neraka.&rdquo; (HR. <a href="https://muslim.or.id/640-mengenal-imam-bukhari.html">Bukhari</a> dan <a href="https://muslim.or.id/3984-mengenal-imam-muslim.html">Muslim</a>)</p><p>Hadis ini menunjukkan bahwa dosa sering kali datang dari perihal yang dianggap sepele. Dalam konteks seremoni kemerdekaan, ada beberapa corak pelanggaran yang kerap dinormalisasi, apalagi dianggap bagian dari budaya.</p><p>Berikut ini adalah dosa-dosa yang kerap terjadi saat seremoni kemerdekaan dan sayangnya, dianggap wajar.</p><h2><span id="Campur_baur_laki-laki_dan_perempuan_ikhtilat_tanpa_batas"></span><strong>Campur baur laki-laki dan wanita (ikhtilat) tanpa batas</strong><span></span></h2><p>Dalam banyak kegiatan 17-an, kita menyaksikan lomba dan intermezo yang mempertemukan laki-laki dan perempuan. Lomba-lomba dilakukan bercampur&nbsp;baur. Penonton saling berdesakan. Aurat terbuka. Pandangan tidak terjaga.&nbsp;Canda dan tawa menjadi tanpa batas.</p><p>Padahal Allah <em>Azza wa Jalla</em> telah memerintahkan dengan sangat jelas,</p><p><span>&#1602;&#1615;&#1604;&#1618; &#1604;&#1616;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1572;&#1618;&#1605;&#1616;&#1606;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614; &#1610;&#1614;&#1594;&#1615;&#1590;&#1617;&#1615;&#1608;&#1575; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1571;&#1614;&#1576;&#1618;&#1589;&#1614;&#1575;&#1585;&#1616;&#1607;&#1616;&#1605;&#1618; &#1608;&#1614;&#1610;&#1614;&#1581;&#1618;&#1601;&#1614;&#1592;&#1615;&#1608;&#1575; &#1601;&#1615;&#1585;&#1615;&#1608;&#1580;&#1614;&#1607;&#1615;&#1605;&#1618;</span></p><p>&ldquo;Katakanlah kepada laki-laki yang beragama agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka.&rdquo;&nbsp;(QS. An-Nur: 30)</p><p>Dan kepada para wanita,</p><p><span>&#1608;&#1614;&#1602;&#1615;&#1604;&#1618; &#1604;&#1616;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1572;&#1618;&#1605;&#1616;&#1606;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616; &#1610;&#1614;&#1594;&#1618;&#1590;&#1615;&#1590;&#1618;&#1606;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1571;&#1614;&#1576;&#1618;&#1589;&#1614;&#1575;&#1585;&#1616;&#1607;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614; &#1608;&#1614;&#1610;&#1614;&#1581;&#1618;&#1601;&#1614;&#1592;&#1618;&#1606;&#1614; &#1601;&#1615;&#1585;&#1615;&#1608;&#1580;&#1614;&#1607;&#1615;&#1606;&#1617;&#1614;</span></p><p>&ldquo;Katakanlah kepada wanita yang beriman, &lsquo;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya&hellip;&rsquo;&rdquo; (QS. An-Nur: 31)</p><p>Ikhtilat membuka pintu fitnah. Fitnah membuka pintu zina. Dan zina tidak selalu dimulai dengan perbuatan, tetapi dengan pandangan. Allah <em>Azza wa Jalla</em> berfirman,</p><p><span>&#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575; &#1578;&#1614;&#1602;&#1618;&#1585;&#1614;&#1576;&#1615;&#1608;&#1575; &#1575;&#1604;&#1586;&#1616;&#1617;&#1606;&#1614;&#1609;&#1648;</span></p><p>&ldquo;Janganlah kalian mendekati zina.&rdquo;&nbsp;(QS. Al-Isra: 32)</p><p>Allah tidak berbicara &ldquo;jangan berzina&rdquo;, tetapi &ldquo;jangan mendekati&rdquo;. Dan percampuran bebas adalah salah satu jalannya. Nabi <em>shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p><p><span>&#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1648;&#1600;&#1607;&#1614; &#1603;&#1614;&#1600;&#1578;&#1614;&#1576;&#1614; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609; &#1575;&#1576;&#1618;&#1606;&#1616; &#1570;&#1583;&#1614;&#1605;&#1614; &#1581;&#1614;&#1592;&#1617;&#1614;&#1607;&#1615; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1586;&#1617;&#1616;&#1606;&#1614;&#1575; &#1548; &#1571;&#1614;&#1583;&#1618;&#1585;&#1614;&#1603;&#1614; &#1584;&#1614;&#1604;&#1616;&#1603;&#1614; &#1604;&#1614;&#1575; &#1605;&#1614;&#1600;&#1581;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614;&#1600;&#1577;&#1614;: &#1601;&#1614;&#1586;&#1616;&#1606;&#1614;&#1575; &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1614;&#1610;&#1600;&#1618;&#1606;&#1616;: &#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1592;&#1614;&#1585;&#1615; &#1548; &#1608;&#1614;&#1586;&#1616;&#1606;&#1614;&#1575; &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1600;&#1616;&#1587;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;: &#1575;&#1604;&#1618;&#1600;&#1605;&#1614;&#1606;&#1618;&#1591;&#1616;&#1600;&#1602;&#1615; &#1548; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1600;&#1601;&#1618;&#1587;&#1615; &#1578;&#1614;&#1600;&#1605;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614;&#1609; &#1608;&#1614;&#1578;&#1614;&#1588;&#1618;&#1578;&#1614;&#1607;&#1616;&#1610;&#1618; &#1548; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1601;&#1614;&#1600;&#1585;&#1618;&#1580;&#1615; &#1610;&#1615;&#1589;&#1614;&#1583;&#1617;&#1616;&#1602;&#1615; &#1584;&#1604;&#1616;&#1603;&#1614; &#1603;&#1615;&#1604;&#1617;&#1614;&#1600;&#1607;&#1615; &#1608;&#1614;&#1610;&#1615;&#1600;&#1603;&#1614;&#1584;&#1617;&#1616;&#1576;&#1615;&#1600;&#1607;&#1615;</span></p><p>&ldquo;Allah telah menulis atas anak Adam bagiannya dari zina, maka pasti dia menemuinya. Zina kedua matanya adalah memandang, zina lisannya adalah perkataan, zina hatinya adalah berambisi dan berangan-angan. Dan itu semua dibenarkan dan didustakan oleh kemaluannya.&rdquo; (<em>Muttafaqun &lsquo;alaihi</em>)</p><p>Nabi Muhammad <em>shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam</em> bersabda</p><p><span>&#1605;&#1614;&#1575; &#1578;&#1614;&#1585;&#1614;&#1603;&#1618;&#1578;&#1615; &#1576;&#1614;&#1593;&#1618;&#1583;&#1616;&#1610; &#1601;&#1616;&#1578;&#1618;&#1606;&#1614;&#1577;&#1611; &#1571;&#1614;&#1590;&#1614;&#1585;&#1614;&#1617; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609; &#1575;&#1604;&#1585;&#1616;&#1617;&#1580;&#1614;&#1575;&#1604;&#1616; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1606;&#1616;&#1617;&#1587;&#1614;&#1575;&#1569;&#1616;</span></p><p>&ldquo;Aku tidak meninggalkan tuduhan yang lebih rawan bagi laki-laki setelahku selain wanita.&rdquo;&nbsp;(HR. Bukhari dan Muslim)</p><p>Apakah layak kita rayakan kemerdekaan dengan membuka pintu fitnah?</p><h2><span id="Musik_dan_hiburan_yang_melalaikan"></span><strong>Musik dan intermezo yang melalaikan</strong><span></span></h2><p>Tidak sedikit seremoni kemerdekaan diisi dengan konser, dangdut malam, joget massal, hingga pesta yang jauh dari nilai norma dan kesopanan. Rasulullah <em>shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam </em>bersabda,</p><p><span>&#1604;&#1614;&#1610;&#1614;&#1603;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1571;&#1615;&#1605;&#1617;&#1614;&#1578;&#1616;&#1610; &#1571;&#1614;&#1602;&#1618;&#1608;&#1614;&#1575;&#1605;&#1612; &#1610;&#1614;&#1587;&#1618;&#1578;&#1614;&#1581;&#1616;&#1604;&#1617;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1616;&#1585;&#1614; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1585;&#1616;&#1610;&#1585;&#1614; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1582;&#1614;&#1605;&#1618;&#1585;&#1614; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;&#1593;&#1614;&#1575;&#1586;&#1616;&#1601;&#1614;</span></p><p>&ldquo;Akan ada dari umatku orang-orang yang menghalalkan zina, sutra (bagi laki-laki), <em>khamr,</em> dan perangkat musik.&rdquo;&nbsp;(HR. Bukhari)</p><p>Allah<em> Azza wa Jalla</em> juga berfirman,</p><p><span>&#1608;&#1614;&#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575;&#1587;&#1616; &#1605;&#1614;&#1606; &#1610;&#1614;&#1588;&#1618;&#1578;&#1614;&#1585;&#1616;&#1610; &#1604;&#1614;&#1607;&#1618;&#1608;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1583;&#1616;&#1610;&#1579;&#1616; &#1604;&#1616;&#1610;&#1615;&#1590;&#1616;&#1604;&#1617;&#1614; &#1593;&#1614;&#1606; &#1587;&#1614;&#1576;&#1616;&#1610;&#1604;&#1616; &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1616;</span></p><p>&ldquo;Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang melalaikan untuk menyesatkan dari jalan Allah.&rdquo;&nbsp;(QS. Luqman: 6)</p><p>Hiburan yang melalaikan menjauhkan hati dari zikir. Padahal, Allah <em>Subhanahu wa Ta&rsquo;ala</em> memperingatkan,</p><p><span>&#1610;&#1614;&#1648;&#1619;&#1571;&#1614;&#1610;&#1617;&#1615;&#1607;&#1614;&#1575; &#1649;&#1604;&#1617;&#1614;&#1584;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614; &#1569;&#1614;&#1575;&#1605;&#1614;&#1606;&#1615;&#1608;&#1575;&#1759; &#1604;&#1614;&#1575; &#1578;&#1615;&#1604;&#1618;&#1607;&#1616;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618; &#1571;&#1614;&#1605;&#1618;&#1608;&#1614;&#1648;&#1604;&#1615;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618; &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575;&#1619; &#1571;&#1614;&#1608;&#1618;&#1604;&#1614;&#1648;&#1583;&#1615;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618; &#1593;&#1614;&#1606; &#1584;&#1616;&#1603;&#1618;&#1585;&#1616; &#1649;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1616; &#1754; &#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1606; &#1610;&#1614;&#1601;&#1618;&#1593;&#1614;&#1604;&#1618; &#1584;&#1614;&#1648;&#1604;&#1616;&#1603;&#1614; &#1601;&#1614;&#1571;&#1615;&#1608;&#1759;&#1604;&#1614;&#1648;&#1619;&#1574;&#1616;&#1603;&#1614; &#1607;&#1615;&#1605;&#1615; &#1649;&#1604;&#1618;&#1582;&#1614;&#1648;&#1587;&#1616;&#1585;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;</span></p><p>&ldquo;Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan Anda dari mengingat Allah. Barangsiapa yang melakukan demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.&rdquo; (QS. Al-Munafiqun: 9)</p><p>Jika kekayaan dan anak saja bisa melalaikan, apalagi intermezo yang memang dirancang untuk membikin lupa. Sejatinya, musik menjauhkan hati dari zikir. Padahal, Allah <em>Subhanahu wa Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1649;&#1604;&#1617;&#1614;&#1584;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614; &#1569;&#1614;&#1575;&#1605;&#1614;&#1606;&#1615;&#1608;&#1575;&#1759; &#1608;&#1614;&#1578;&#1614;&#1591;&#1618;&#1605;&#1614;&#1574;&#1616;&#1606;&#1617;&#1615; &#1602;&#1615;&#1604;&#1615;&#1608;&#1576;&#1615;&#1607;&#1615;&#1605; &#1576;&#1616;&#1584;&#1616;&#1603;&#1618;&#1585;&#1616; &#1649;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1616; &#1751; &#1571;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575; &#1576;&#1616;&#1584;&#1616;&#1603;&#1618;&#1585;&#1616; &#1649;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1616; &#1578;&#1614;&#1591;&#1618;&#1605;&#1614;&#1574;&#1616;&#1606;&#1617;&#1615; &#1649;&#1604;&#1618;&#1602;&#1615;&#1604;&#1615;&#1608;&#1576;&#1615;</span></p><p>&ldquo;(Yaitu) orang-orang yang beragama dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.&rdquo; (QS. Ar-Ra&rsquo;d: 28)</p><p>Apakah hati bakal tenang dengan kebisingan yang menjauhkan dari Allah?</p><h2><span id="Melupakan_syukur_kepada_Allah"></span><strong>Melupakan syukur kepada Allah</strong><span></span></h2><p>Nikmat kemerdekaan adalah karunia besar dari Allah. Namun, sering kali dia dirayakan tanpa sedikit pun rasa syukur. Allah<em> Azza wa Jalla</em> berfirman,</p><p><span>&#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1576;&#1616;&#1603;&#1615;&#1605; &#1605;&#1616;&#1617;&#1606; &#1606;&#1616;&#1617;&#1593;&#1618;&#1605;&#1614;&#1577;&#1613; &#1601;&#1614;&#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1616;</span></p><p>&ldquo;Segala nikmat yang ada pada kalian berasal dari Allah.&rdquo;&nbsp;(QS. An-Nahl: 53)</p><p>Dan Allah <em>Azza wa Jalla</em> memperingatkan,</p><p><span>&#1608;&#1614;&#1573;&#1616;&#1584;&#1618; &#1578;&#1614;&#1571;&#1614;&#1584;&#1617;&#1614;&#1606;&#1614; &#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1615;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618; &#1604;&#1614;&#1574;&#1616;&#1606; &#1588;&#1614;&#1603;&#1614;&#1585;&#1618;&#1578;&#1615;&#1605;&#1618; &#1604;&#1614;&#1571;&#1614;&#1586;&#1616;&#1610;&#1583;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618; &#1750; &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1574;&#1616;&#1606; &#1603;&#1614;&#1601;&#1614;&#1585;&#1618;&#1578;&#1615;&#1605;&#1618; &#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614; &#1593;&#1614;&#1584;&#1614;&#1575;&#1576;&#1616;&#1609; &#1604;&#1614;&#1588;&#1614;&#1583;&#1616;&#1610;&#1583;&#1612;</span></p><p>&ldquo;Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, &ldquo;Sesungguhnya jika Anda bersyukur, pasti Kami bakal menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika Anda mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.&rdquo; (QS. Ibrahim: 7)</p><p>Syukur bukan hanya ucapan &ldquo;Alhamdulillah&rdquo;. Syukur adalah menggunakan nikmat dalam ketaatan.</p><p>Bagaimana mungkin kita berterima kasih atas kemerdekaan jika dia digunakan untuk melanggar perintah Allah?</p><h2><span id="Menyerupai_lawan_jenis_tasyabbuh"></span><strong>Menyerupai musuh jenis (<em>tasyabbuh</em>)</strong><span></span></h2><p>Dalam beberapa lomba alias panggung hiburan, sering kali laki-laki berdandan seperti perempuan, memakai busana wanita, bersuara lembut menirukan wanita, alias sebaliknya, wanita menyerupai laki-laki. Semua dianggap kocak dan menghibur.</p><p>Padahal Rasulullah <em>shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p><p><span>&#1604;&#1614;&#1593;&#1614;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1615; &#1575;&#1604;&#1585;&#1617;&#1616;&#1580;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1578;&#1614;&#1588;&#1614;&#1576;&#1617;&#1616;&#1607;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614; &#1576;&#1616;&#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1616;&#1587;&#1614;&#1575;&#1569;&#1616; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1616;&#1587;&#1614;&#1575;&#1569;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1578;&#1614;&#1588;&#1614;&#1576;&#1617;&#1616;&#1607;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616; &#1576;&#1616;&#1575;&#1604;&#1585;&#1617;&#1616;&#1580;&#1614;&#1575;&#1604;&#1616;</span></p><p>&ldquo;Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.&rdquo;&nbsp;(HR. Bukhari)</p><p>Allah <em>Ta&rsquo;ala</em> juga berfirman,</p><p><span>&#1601;&#1614;&#1575;&#1614;&#1602;&#1616;&#1605;&#1618; &#1608;&#1614;&#1580;&#1618;&#1607;&#1614;&#1603;&#1614; &#1604;&#1616;&#1604;&#1583;&#1617;&#1616;&#1610;&#1618;&#1606;&#1616; &#1581;&#1614;&#1606;&#1616;&#1610;&#1618;&#1601;&#1611;&#1575;&#1751; &#1601;&#1616;&#1591;&#1618;&#1585;&#1614;&#1578;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1648;&#1607;&#1616; &#1575;&#1604;&#1617;&#1614;&#1578;&#1616;&#1610;&#1618; &#1601;&#1614;&#1591;&#1614;&#1585;&#1614; &#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575;&#1587;&#1614; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1607;&#1614;&#1575;&#1751; &#1604;&#1614;&#1575; &#1578;&#1614;&#1576;&#1618;&#1583;&#1616;&#1610;&#1618;&#1604;&#1614; &#1604;&#1616;&#1582;&#1614;&#1604;&#1618;&#1602;&#1616; &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1648;&#1607;&#1616; &#1751;&#1584;&#1648;&#1604;&#1616;&#1603;&#1614; &#1575;&#1604;&#1583;&#1617;&#1616;&#1610;&#1618;&#1606;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1614;&#1610;&#1617;&#1616;&#1605;&#1615;&#1753; &#1608;&#1614;&#1604;&#1648;&#1603;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614; &#1575;&#1614;&#1603;&#1618;&#1579;&#1614;&#1585;&#1614; &#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575;&#1587;&#1616; &#1604;&#1614;&#1575; &#1610;&#1614;&#1593;&#1618;&#1604;&#1614;&#1605;&#1615;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614;&#1753;</span></p><p>&ldquo;<em><i>Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada kepercayaan (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada buatan Allah. (Itulah) kepercayaan yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui</i></em><em><i>.</i></em>&rdquo;&nbsp;(QS. Ar-Rum: 30)</p><p>Menyerupai musuh jenis adalah corak penyimpangan dari fitrah. Dan ketika dia dinormalisasi dalam perayaan, generasi muda bakal menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.&nbsp;Merayakan kemerdekaan dengan merusak fitrah bukanlah kebebasan. Itu adalah penyimpangan.</p><h2><span id="Tabarruj_dan_membuka_aurat"></span><strong><em>Tabarruj</em> dan membuka aurat</strong><span></span></h2><p>Perayaan sering menjadi arena berdandan berlebihan. Pakaian ketat. Aurat terbuka. Riasan mencolok. Semua dianggap bagian dari kemeriahan. Padahal Allah <em>Subhanhu wa Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575; &#1578;&#1614;&#1576;&#1614;&#1585;&#1617;&#1614;&#1580;&#1618;&#1606;&#1614; &#1578;&#1614;&#1576;&#1614;&#1585;&#1617;&#1615;&#1580;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1580;&#1614;&#1575;&#1607;&#1616;&#1604;&#1616;&#1610;&#1617;&#1614;&#1577;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1571;&#1615;&#1608;&#1604;&#1614;&#1609;&#1648;</span></p><p>&ldquo;Janganlah kalian ber-<em>tabarruj</em> seperti <em>tabarruj</em> jahiliyah dahulu.&rdquo; (QS. Al-Ahzab: 33)</p><p><span>&#1593;&#1614;&#1606;&#1618; &#1571;&#1614;&#1576;&#1616;&#1610;&#1618; &#1607;&#1615;&#1585;&#1614;&#1610;&#1618;&#1585;&#1614;&#1577;&#1614;&nbsp;&#1585;&#1614;&#1590;&#1616;&#1610;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615; &#1593;&#1614;&#1606;&#1618;&#1607;&#1615;&nbsp;&#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614;: &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614; &#1585;&#1614;&#1587;&#1615;&#1608;&#1618;&#1604;&#1615; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1616;&nbsp;&#1589;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1607;&#1616; &#1608;&#1614;&#1587;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;&nbsp;: &#1589;&#1616;&#1606;&#1618;&#1601;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1571;&#1614;&#1607;&#1618;&#1604;&#1616; &#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575;&#1585;&#1616; &#1604;&#1614;&#1605;&#1618; &#1571;&#1614;&#1585;&#1614;&#1607;&#1615;&#1605;&#1614;&#1575;: &#1602;&#1614;&#1608;&#1618;&#1605;&#1612; &#1605;&#1614;&#1593;&#1614;&#1607;&#1615;&#1605;&#1618; &#1587;&#1616;&#1610;&#1614;&#1575;&#1591;&#1612; &#1603;&#1614;&#1571;&#1614;&#1584;&#1618;&#1606;&#1614;&#1575;&#1576;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1576;&#1614;&#1602;&#1614;&#1585;&#1616; &#1610;&#1614;&#1590;&#1618;&#1585;&#1616;&#1576;&#1615;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614; &#1576;&#1616;&#1607;&#1614;&#1575; &#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575;&#1587;&#1614;&#1548; &#1608;&#1614;&#1606;&#1616;&#1587;&#1614;&#1575;&#1569;&#1612; &#1603;&#1614;&#1575;&#1587;&#1616;&#1610;&#1614;&#1575;&#1578;&#1612; &#1593;&#1614;&#1575;&#1585;&#1616;&#1610;&#1614;&#1575;&#1578;&#1612; &#1605;&#1615;&#1605;&#1616;&#1610;&#1618;&#1604;&#1614;&#1575;&#1578;&#1612; &#1605;&#1614;&#1575;&#1574;&#1616;&#1604;&#1614;&#1575;&#1578;&#1612;&#1548; &#1585;&#1615;&#1572;&#1615;&#1608;&#1618;&#1587;&#1615;&#1607;&#1615;&#1606;&#1617;&#1614; &#1603;&#1614;&#1571;&#1614;&#1587;&#1618;&#1606;&#1616;&#1605;&#1614;&#1577;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1576;&#1615;&#1582;&#1618;&#1578;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;&#1575;&#1574;&#1616;&#1604;&#1614;&#1577;&#1616;&#1548; &#1604;&#1614;&#1575; &#1610;&#1614;&#1583;&#1618;&#1582;&#1615;&#1604;&#1618;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1580;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614;&#1577;&#1614; &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575; &#1610;&#1614;&#1580;&#1616;&#1583;&#1618;&#1606;&#1614; &#1585;&#1616;&#1610;&#1618;&#1581;&#1614;&#1607;&#1614;&#1575;&#1548; &#1608;&#1614;&#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614; &#1585;&#1616;&#1610;&#1618;&#1581;&#1614;&#1607;&#1614;&#1575; &#1604;&#1614;&#1610;&#1615;&#1608;&#1618;&#1580;&#1614;&#1583;&#1615; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1605;&#1614;&#1587;&#1616;&#1610;&#1618;&#1585;&#1614;&#1577;&#1616; &#1603;&#1614;&#1584;&#1614;&#1575; &#1608;&#1614;&#1603;&#1614;&#1584;&#1614;&#1575;</span></p><p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu &lsquo;anhu,</em> dia berkata, &ldquo;Rasulullah <em>shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam</em> bersabda, &lsquo;Ada dua golongan penunggu neraka, yang belum pernah saya lihat, ialah suatu kaum yang memegang cemeti seperti ekor sapi. Mereka mencambuk manusia dengannya. Dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, dia melangkah berlenggak-lenggok menggoyangkan (bahu dan punggungnya) dan rambutnya (disasak) seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak bakal masuk surga dan tidak bakal mencium aroma surga, padahal sesungguhnya aroma surga itu tercium sejauh perjalanan sekian dan sekian.&rsquo;&rdquo; (HR. Muslim)</p><p>Kemerdekaan tidak pernah berfaedah bebas membuka aurat.</p><p>Kebebasan tidak pernah berfaedah bebas melanggar perintah Allah.</p><h2><span id="Melalaikan_salat"></span><strong>Melalaikan salat</strong><span></span></h2><p>Banyak kegiatan berjalan hingga magrib dan isya terlewat. Salat ditunda. Bahkan ada yang sengaja tidak berjemaah demi mengikuti lomba. Padahal, Allah <em>Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1601;&#1614;&#1608;&#1614;&#1610;&#1618;&#1604;&#1612; &#1604;&#1617;&#1616;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1589;&#1614;&#1604;&#1617;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1617;&#1614;&#1584;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614; &#1607;&#1615;&#1605;&#1618; &#1593;&#1614;&#1606; &#1589;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616;&#1607;&#1616;&#1605;&#1618; &#1587;&#1614;&#1575;&#1607;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;</span></p><p>&rdquo;Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya.&rdquo; (QS. Al-Ma&rsquo;un: 4&ndash;5)</p><p>Dan Rasulullah <em>shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p><p><span>&#1575;&#1604;&#1593;&#1607;&#1583;&#1615; &#1575;&#1604;&#1584;&#1610; &#1576;&#1610;&#1606;&#1614;&#1606;&#1575; &#1608;&#1576;&#1610;&#1606;&#1614;&#1607;&#1605; &#1575;&#1604;&#1589;&#1604;&#1575;&#1577;&#1615;&#1548; &#1601;&#1605;&#1614;&#1606; &#1578;&#1585;&#1603;&#1614;&#1607;&#1575; &#1601;&#1602;&#1583; &#1603;&#1601;&#1585;&#1614;</span></p><p>&ldquo;Perjanjian antara kami dan mereka adalah salat. Barang siapa meninggalkannya, maka dia telah kafir.&rdquo; (HR. Tirmidzi, An-Nasa&rsquo;i, dan Ibnu Majah)</p><p>Apakah layak kemerdekaan dirayakan dengan mengabaikan perintah paling agung dalam Islam?</p><h2><span id="Kemerdekaan_yang_hakiki"></span><strong>Kemerdekaan yang hakiki</strong><span></span></h2><p>Kemerdekaan sejati bukan bebas melakukan apa saja. Kemerdekaan sejati adalah ketika hati bebas dari perbudakan hawa nafsu. Allah <em>Azza wa Jalla</em> berfirman,</p><p><span>&#1571;&#1614;&#1601;&#1614;&#1585;&#1614;&#1569;&#1614;&#1610;&#1618;&#1578;&#1614; &#1605;&#1614;&#1606;&#1616; &#1649;&#1578;&#1617;&#1614;&#1582;&#1614;&#1584;&#1614; &#1573;&#1616;&#1604;&#1614;&#1648;&#1607;&#1614;&#1607;&#1615;&#1765; &#1607;&#1614;&#1608;&#1614;&#1609;&#1648;&#1607;&#1615; &#1608;&#1614;&#1571;&#1614;&#1590;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1615; &#1649;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1615; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609;&#1648; &#1593;&#1616;&#1604;&#1618;&#1605;&#1613; &#1608;&#1614;&#1582;&#1614;&#1578;&#1614;&#1605;&#1614; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609;&#1648; &#1587;&#1614;&#1605;&#1618;&#1593;&#1616;&#1607;&#1616;&#1766; &#1608;&#1614;&#1602;&#1614;&#1604;&#1618;&#1576;&#1616;&#1607;&#1616;&#1766; &#1608;&#1614;&#1580;&#1614;&#1593;&#1614;&#1604;&#1614; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609;&#1648; &#1576;&#1614;&#1589;&#1614;&#1585;&#1616;&#1607;&#1616;&#1766; &#1594;&#1616;&#1588;&#1614;&#1648;&#1608;&#1614;&#1577;&#1611; &#1601;&#1614;&#1605;&#1614;&#1606; &#1610;&#1614;&#1607;&#1618;&#1583;&#1616;&#1610;&#1607;&#1616; &#1605;&#1616;&#1606;&#1762; &#1576;&#1614;&#1593;&#1618;&#1583;&#1616; &#1649;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1616; &#1754; &#1571;&#1614;&#1601;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575; &#1578;&#1614;&#1584;&#1614;&#1603;&#1617;&#1614;&#1585;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;</span></p><p>&ldquo;Maka pernahkah Anda memandang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berasas ilmu-Nya dan Allah telah mengunci meninggal pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang bakal memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka kenapa Anda tidak mengambil pelajaran?&rdquo;&nbsp;(QS. Al-Jatsiyah: 23)</p><p>Rasulullah <em>shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p><p><span>&#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1580;&#1614;&#1575;&#1607;&#1616;&#1583;&#1615; &#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1580;&#1614;&#1575;&#1607;&#1614;&#1583;&#1614; &#1606;&#1614;&#1601;&#1618;&#1587;&#1614;&#1607;&#1615; &#1601;&#1616;&#1610; &#1591;&#1614;&#1575;&#1593;&#1614;&#1577;&#1616; &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1616;<br> </span></p><p>&ldquo;Mujahid adalah orang yang berjihad melawan dirinya dalam ketaatan kepada Allah.&rdquo; (HR. Tirmidzi)</p><p>Maka, jika kita betul-betul mau merdeka, merdekalah dari dosa&nbsp;terutama kesyirikan.</p><p>Merdekalah dari kelalaian.</p><p>Merdekalah dari budaya yang bertentangan dengan syariat.</p><p>Rayakan kemerdekaan dengan doa.</p><p>Dengan syukur dan sedekah.</p><p>Dengan menjaga adab.</p><p>Dengan menanamkan iman.</p><p>Karena pada akhirnya, kemerdekaan terbesar adalah ketika kita berdiri di hadapan Allah dalam keadaan selamat.</p><p><em>Wall&#257;hu Ta&lsquo;ala a&lsquo;lam.</em></p><p><strong>***</strong></p><p><strong>Penulis: <span>Gazzeta Raka Putra Setyawan</span></strong></p><p><strong>Artikel <span><b>Kincai Media</b></span></strong></p></div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/enam-dosa-yang-dianggap-biasa-saat-perayaan-kemerdekaan-166864.html</guid> <pubDate>Sat, 15 Aug 2026 11:30:18 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Gazzeta Raka Putra Setyawan)</author> </item> </channel> </rss>