<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" version="2.0"> <channel> <title>Kincai Media</title> <description>Portal Berita Seputar Kesehatan, Pendidikan, Teknologi, Gadget, Game, Keuangan, Bisnis, Crypto, Hiburan, Traveling, Budaya, Kuliner, Sastra, Islami, dan Informasi Umum.</description> <image> <title>Kincai Media - Portal Media Online Indonesia</title> <url>https://portal.kincaimedia.net/favicon.ico</url> <link>https://portal.kincaimedia.net/</link> </image> <category>Technology, Finance, Business, Entertainment, Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/</link> <atom:link href="https://portal.kincaimedia.net/rss.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/> <atom:link href="https://portal.kincaimedia.net/" rel="alternate" type="text/html"/> <pubDate>Wed, 19 Aug 2026 19:00:11 +0700</pubDate> <lastBuildDate>Wed, 19 Aug 2026 19:00:11 +0700</lastBuildDate> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <managingEditor>support@kincaimedia.net (Adi Gunawan)</managingEditor> <webMaster>support@kincaimedia.net (Adi Gunawan)</webMaster> <language>id-ID</language> <copyright>Kincai Media</copyright> <generator>Kincai Media</generator> <item> <title>Mengapa Lisan Dianggap Gerbang Utama Setan Menuju Hati Manusia?</title> <description>Mengapa Lisan Dianggap Gerbang Utama Setan Menuju Hati Manusia?. Kincai Media, JAKARTA— Lisan adalah salah satu pintu paling mudah yang digunakan setan untuk menyusup ke dalam hati bahkan, lisan merupakan pintu yang paling...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/bahaya-lidah-dan-ucapan_240326091519-133.png"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/mengapa-lisan-dianggap-gerbang-utama-setan-menuju-hati-manusia-166900.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div data-sticky-container> <p>Kincai Media, JAKARTA&mdash; Lisan adalah salah satu pintu paling mudah yang digunakan setan untuk menyusup ke dalam hati bahkan, lisan merupakan pintu yang paling sering didatangi setan setiap hari.</p><p>Sebab, lisan adalah personil tubuh yang paling banyak bekerja, paling mudah digunakan, dan paling sedikit memerlukan tenaga ketika digunakan.</p> <p>Karena itu, siapa pun yang lalai menjaga lisannya, berfaedah dia telah membuka jalan bagi setan untuk masuk ke dalam hatinya, menguasai dirinya, lampau menyeretnya hingga berada di tepi lembah kehancuran.</p><p>Rasulullah SAW bersabda:</p> <p>&#1575;&#1604;&#1605;&#1587;&#1604;&#1605; &#1605;&#1606; &#1587;&#1604;&#1605; &#1575;&#1604;&#1605;&#1587;&#1604;&#1605;&#1608;&#1606; &#1610;&#1583;&#1607; &#1608;&#1604;&#1587;&#1575;&#1606;&#1607;</p><p>&ldquo;Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan tangan dan lisannya.&rdquo; (HR Muslim)</p><p>Maksudnya, itulah gambaran seorang Muslim yang sempurna dan Muslim yang benar.</p><p>Suatu ketika, Mu&rsquo;adz bin Jabal RA merasa heran ketika mengetahui bahwa seseorang bakal dimintai pertanggungjawaban atas apa yang diucapkannya. Ia bertanya kepada Rasulullah SAW, Wahai Rasulullah, apakah kami bakal dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kami ucapkan?&rdquo;</p><p>Rasulullah SAW kemudian bersabda:</p><p>&#1579;&#1603;&#1604;&#1578;&#1603; &#1571;&#1605;&#1603; &#1610;&#1575; &#1605;&#1593;&#1575;&#1584;! &#1608;&#1607;&#1604; &#1610;&#1603;&#1576; &#1575;&#1604;&#1606;&#1575;&#1587; &#1601;&#1610; &#1575;&#1604;&#1606;&#1575;&#1585; &#1593;&#1604;&#1609; &#1608;&#1580;&#1608;&#1607;&#1607;&#1605;&#1548; &#1571;&#1608; &#1602;&#1575;&#1604; &#1593;&#1604;&#1609; &#1605;&#1606;&#1575;&#1582;&#1585;&#1607;&#1605; &#1573;&#1604;&#1575; &#1581;&#1589;&#1575;&#1574;&#1583; &#1571;&#1604;&#1587;&#1606;&#1578;&#1607;&#1605;</p><p>&ldquo;Celaka engkau, wahai Mu&rsquo;adz! Bukankah yang paling banyak menyebabkan manusia tersungkur di dalam neraka dengan wajah mereka&mdash;atau beliau bersabda, dengan hidung mereka&mdash;adalah akibat dari apa yang dipanen oleh<a href="https://republika.co.id/tag/lisan"> lisan </a>mereka?&rdquo;</p><p>Hadis ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa salah satu penyebab terbesar manusia masuk neraka adalah lisan.</p> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/mengapa-lisan-dianggap-gerbang-utama-setan-menuju-hati-manusia-166900.html</guid> <pubDate>Wed, 19 Aug 2026 19:00:11 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Nashih Nashrullah)</author> </item> <item> <title>Gempa Ntt, Kemenhaj Pastikan Layanan Jamaah Haji Tetap Berjalan</title> <description>Gempa Ntt, Kemenhaj Pastikan Layanan Jamaah Haji Tetap Berjalan. Kincai Media, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) terus memantau perkembangan akibat gempa bumi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Di ten...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/002032200-1787060622-830-556.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/gempa-ntt-kemenhaj-pastikan-layanan-jamaah-haji-tetap-berjalan-166901.html</link> <content:encoded><![CDATA[<p><span>         Kendaraan melintas di jalan yang retak akibat gempa bumi di area Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). Manggarai Timur menjadi salah satu daerah yang paling terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026, dengan sekitar 7.480 rumah dan lebih dari 40 tempat ibadah tercatat mengalami kerusakan. 
      </span> </p><div data-sticky-container> <p>Kincai Media,<a href="https://nr.republika.co.id/newsroom/index2.html"></a> Kementerian<a href="https://republika.co.id/tag/haji"> Haji </a>dan Umrah (Kemenhaj) terus memantau perkembangan akibat gempa bumi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tengah kondisi tersebut, Kemenhaj memastikan jasa kepada jamaah haji tetap berjalan dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan masyarakat di daerah terdampak.</p><div> <p dir="ltr">Kepala Biro Umum Kementerian Haji dan Umrah, Slamet mengatakan, keberlangsungan pelayanan kepada jamaah menjadi perhatian Kemenhaj, termasuk ketika terjadi kondisi kedaruratan di daerah. Kemenhaj terus melakukan pemantauan dan koordinasi untuk memastikan jasa publik tetap dapat diberikan secara optimal.</p> <p dir="ltr">&ldquo;Kami memastikan jasa kepada jamaah haji tetap berlangsung. Pada saat yang sama, kami terus memantau perkembangan kondisi akibat gempa di<a href="https://republika.co.id/tag/ntt"> NTT </a>dan berkoordinasi dengan pihak mengenai untuk memastikan pelayanan dapat melangkah dengan baik sesuai situasi di lapangan,&rdquo; kata Slamet di Jakarta, Rabu (19/8/2026).</p><p dir="ltr">Menurut Slamet, aspek keselamatan dan kondisi masyarakat menjadi pertimbangan utama dalam penyelenggaraan pelayanan. Apabila kondisi di suatu daerah memerlukan penyesuaian teknis terhadap layanan, Kemenhaj bakal mengambil langkah sesuai perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan lembaga terkait.</p> <p dir="ltr">&ldquo;Kami memahami bahwa masyarakat di daerah terdampak saat ini menghadapi situasi yang tidak mudah. Karena itu, pelayanan kudu tetap melangkah dengan mempertimbangkan kondisi lapangan, keselamatan petugas maupun masyarakat, serta kebutuhan jasa yang paling mendesak,&rdquo; ujarnya.</p><p dir="ltr">Slamet juga menyoroti kondisi dua satuan kerja daerah yang terdampak paling parah akibat guncangan gempa, ialah Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kankemenhaj) Kabupaten Manggarai dan Kankemenhaj Kota Ende. Kemenhaj memberikan perhatian unik serta menyiapkan langkah mitigasi operasional bagi kedua daerah tersebut.</p><p dir="ltr">&ldquo;Berdasarkan laporan dan pemantauan kami di lapangan, Kankemenhaj Kabupaten Manggarai dan Kankemenhaj Kota Ende merupakan dua titik yang mengalami akibat paling parah. Kami memastikan keselamatan para petugas dan jamaah di kedua daerah tersebut menjadi prioritas utama. Untuk itu, kami tengah menyiapkan skema penyesuaian jasa agar kebutuhan jamaah di Manggarai dan Ende tetap tertangani dengan baik dan aman,&rdquo; ujar Slamet.</p><p dir="ltr">Dalam memastikan keberlangsungan layanan, Kemenhaj terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan lembaga mengenai untuk memperoleh info perkembangan kondisi di lapangan. Koordinasi tersebut diperlukan agar langkah pelayanan dapat dilakukan secara tepat dan responsif sesuai kebutuhan masyarakat.</p><p dir="ltr">Slamet mengimbau jamaah haji dan masyarakat di daerah terdampak untuk tetap tenang serta mengikuti info yang disampaikan melalui kanal resmi pemerintah. Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai maupun menyebarluaskan info yang belum terverifikasi.</p><p dir="ltr">&ldquo;Jika terdapat perubahan alias penyesuaian jasa akibat kondisi di lapangan, info bakal disampaikan melalui kanal resmi Kemenhaj. Kami membujuk masyarakat untuk tetap mengikuti info resmi dan tidak terpengaruh oleh info yang belum dapat dipastikan kebenarannya,&rdquo; ujar Slamet.</p><p dir="ltr">Kemenhaj memastikan pemantauan terhadap kondisi di daerah terdampak bakal terus dilakukan. Keberlangsungan jasa kepada jamaah tetap menjadi bagian dari komitmen<a href="https://republika.co.id/tag/kemenhaj"> Kemenhaj </a>dalam memberikan pelayanan publik yang responsif, aman, dan berorientasi pada kebutuhan jamaah dan masyarakat.</p></div> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/gempa-ntt-kemenhaj-pastikan-layanan-jamaah-haji-tetap-berjalan-166901.html</guid> <pubDate>Wed, 19 Aug 2026 19:00:11 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Muhammad Hafil)</author> </item> <item> <title>Baznas Buka Dapur Umum Penuhi Kebutuhan Pangan Pengungsi Gempa Ntt</title> <description>Baznas Buka Dapur Umum Penuhi Kebutuhan Pangan Pengungsi Gempa Ntt. Kincai Media, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI melalui Tim Baznas Tanggap Bencana (BTB) mendirikan dapur umum di daerah terdampak musibah gem...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/005830900-1787060618-830-556.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/baznas-buka-dapur-umum-penuhi-kebutuhan-pangan-pengungsi-gempa-ntt-166898.html</link> <content:encoded><![CDATA[<p><span>         Warga melangkah di dekat gedung Masjid Al-Istiqomah Ronting yang rusak akibat gempa bumi di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). Manggarai Timur menjadi salah satu daerah yang paling terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026, dengan sekitar 7.480 rumah dan lebih dari 40 tempat ibadah tercatat mengalami kerusakan. 
      </span> </p><div data-sticky-container> <p>Kincai Media, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI melalui Tim<a href="https://republika.co.id/tag/baznas"> Baznas </a>Tanggap Bencana (BTB) mendirikan dapur umum di daerah terdampak musibah gempa bumi di Ponpes Pancasila, Desa Mata Air, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memastikan kebutuhan makanan para pengungsi terpenuhi.</p><div> <p dir="ltr">Pimpinan Baznas RI Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan, Idy Muzayyad menyampaikan, pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk pangan masyarakat menjadi salah satu prioritas Baznas dalam penanganan musibah gempa bumi di NTT.</p> <p dir="ltr">"Dapur umum sudah mulai beraksi untuk segera memproduksi sejumlah makanan dengan dibantu oleh sejumlah relawan dan penduduk setempat untuk menyediakan makanan siap saji bagi masyarakat di pengungsian," kata Idy melalui pesan tertulis yang diterima <em>Republika</em>, Rabu (19/8/2026).</p><p dir="ltr">Idy mengatakan, keterlibatan masyarakat diharapkan dapat mempercepat proses pelayanan sekaligus memperkuat koordinasi dalam penyaluran support kepada para pengungsi. Jumlah makanan yang diproduksi melalui dapur umum bakal terus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.</p> </div> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/baznas-buka-dapur-umum-penuhi-kebutuhan-pangan-pengungsi-gempa-ntt-166898.html</guid> <pubDate>Wed, 19 Aug 2026 15:00:12 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Muhammad Hafil)</author> </item> <item> <title>Surat Ini Ungkap Permintaan Maharaja Sriwijaya Untuk Khalifah Umar Bin Abdul Aziz</title> <description>Surat Ini Ungkap Permintaan Maharaja Sriwijaya Untuk Khalifah Umar Bin Abdul Aziz. Kincai Media, Hubungan Sriwijaya dengan bumi Islam rupanya tidak hanya berjalan melalui perdagangan dan diplomasi. Isi surat yang dikirim Maharaja Sriwi...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/khalifah-umar-bin-abdul-aziz_211116061820-744.jpeg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/surat-ini-ungkap-permintaan-maharaja-sriwijaya-untuk-khalifah-umar-bin-abdul-aziz-166899.html</link> <content:encoded><![CDATA[
        <p>Kincai Media,&nbsp;Hubungan Sriwijaya dengan bumi Islam rupanya tidak hanya berjalan melalui perdagangan dan diplomasi. Isi surat yang dikirim<a href="https://republika.co.id/tag/maharaja-sriwijaya"> Maharaja Sriwijaya </a>kepada Khalifah<a href="https://republika.co.id/tag/umar-bin-abdul-aziz"> Umar bin Abdul Aziz </a>pada awal abad ke-8 Masehi mengungkap adanya permintaan agar khalifah mengirim seseorang (ulama) yang dapat mengajarkan Islam dan menjelaskan hukum-hukumnya.</p><p><span>Surat pertama alias lebih tepatnya bagian pembukaan surat, dikutip oleh al-Jahizh (Amr al-Bahr, 163&ndash;255 H/783&ndash;869 M) dalam karya terkenalnya Kitab <em>al-Hayawan</em>, berasas tiga isnad yang dinilai tepercaya. Al-Jahizh memperoleh info mengenai surat Maharaja yang ditujukan kepada Khalifah Muawiyah (41 H/661 M) dari al-Haytsam bin Adi (114&ndash;207 H/732&ndash;822 M). Al-Haytsam mendengarnya dari Abu Ya'qub al-Tsaqafi, yang selanjutnya memperoleh info tersebut dari Abd al-Malik bin Umayr (33&ndash;136 H/653&ndash;753 M). Abd al-Malik mengaku pernah memandang surat itu di diwan (sekretariat) Muawiyah setelah khalifah tersebut wafat.</span></p> <p><span>Prof Azyumardi Azra dalam kitab <em>Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-VXIII </em>menjelaskan, sayangnya al-Jahizh hanya mengutip bagian pembukaan surat itu sehingga isi komplit surat tersebut tidak diketahui. Meski demikian, pembukaan surat tersebut mempunyai style yang unik sebagaimana lazim ditemukan dalam surat-surat resmi para penguasa Nusantara.</span></p><p>Setelah memaparkan rangkaian isnad tersebut, al-Jahizh kemudian meriwayatkan bagian pembukaan surat itu:</p> <p><span>"(Dari Raja al-Hind-atau tepatnya Kepulauan India) yang kendang binatangnya berisikan seribu gajah, (dan) yang istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani seribu putri raja-raja, dan yang mempunyai dua sungai besar (Batanghari dan Musi), yang mengairi pohon gaharu (aloes), kepada Mu'awiyah . . . ."</span></p><h3><span><strong>Surat Kedua Umar bin Abdul Aziz </strong></span></h3> <p><span>Surat kedua mempunyai corak dan style yang serupa, tetapi isinya jauh lebih lengkap. Baik bagian pembukaan maupun isi surat tersebut sukses dipertahankan oleh Ibn Abd al-Rabbih (246&ndash;329 H/ 860&ndash;940 M) dalam karyanya Al-Iqd al-Farid. Surat yang ditujukan kepada Khalifah Umar bin Abd al-Aziz (99&ndash;102 H/ 717&ndash;720 M) itu menggambarkan kebesaran Maharaja beserta kemegahan kerajaan yang dipimpinnya.</span></p><p><span>"Nu'aym bin Hammad menulis: "Raja al-Hind (kepulauan) mengirim sepucuk surat kepada Umar bin Abd al-Aziz, yang bersuara sebagai berikut: Dari Raja Diraja (Malik al-Malik = maharaja) yang adalah keturunan seribu raja, yang istrinya juga adalah anak cucu seribu raja, yang dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah, yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wewangiannya sampai menjangkau jarak 12 mil, kepada Raja Arab (Umar bin Abd al-Aziz) yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan bingkisan yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan, dan saya mau Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya, dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya (atau di dalam jenis lain, yang bakal mengajarkan Islam dan menjelaskannya kepada saya)."</span></p>       
          
                  
        
        		
	 
		
		
	        
      
]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/surat-ini-ungkap-permintaan-maharaja-sriwijaya-untuk-khalifah-umar-bin-abdul-aziz-166899.html</guid> <pubDate>Wed, 19 Aug 2026 15:00:12 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (A.Syalaby Ichsan)</author> </item> <item> <title>Alasan Pedagang Arab Dan Persia Makin Aktif Sebarkan Islam Di Nusantara Abad Ke-12</title> <description>Alasan Pedagang Arab Dan Persia Makin Aktif Sebarkan Islam Di Nusantara Abad Ke-12. Kincai Media, Pedagang Muslim dari Arab dan Persia pada awalnya lebih banyak beraktivitas dalam perdagangan di Nusantara. Namun, memasuki penghujun...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/makam-fatimah-binti-maimun-wafat-1028-m-di-leran-_180530064328-458.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/alasan-pedagang-arab-dan-persia-makin-aktif-sebarkan-islam-di-nusantara-abad-ke-12-166897.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div data-sticky-container> <p>Kincai Media,<a href="https://nr.republika.co.id/newsroom/index2.html"></a> Pedagang Muslim dari Arab dan Persia pada awalnya lebih banyak beraktivitas dalam perdagangan di Nusantara. Namun, memasuki penghujung abad ke-12, kegiatan mereka mulai berkembang. Selain berdagang, mereka semakin aktif menyebarkan Islam sekaligus membangun hubungan religio-kultural yang kelak mempererat keterkaitan antara Nusantara dan Timur Tengah.</p><p dir="ltr">Menurut kitab Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-VXIII yang ditulis Prof. Azyumardi Azra, kebangkitan beberapa kerajaan Muslim di Nusantara sejak abad ke-13 menciptakan momentum baru bagi hubungan politik dan kepercayaan antara Timur Tengah dengan Nusantara.</p> <p dir="ltr">Dalam catatan sejarah, Muslim telah sampai ke Nusantara dan China sekitar abad ke-7. Seiring berjalannya waktu, semakin meningkatnya kehadiran para penyiar kepercayaan Islam, khususnya yang berasal dari Arab, yang menyebarkan Islam kepada masyarakat pribumi Nusantara.</p><p dir="ltr">Perkembangan di akhir abad ke-12 ini menunjukkan kontras dengan kejadian sebelumnya. Pada masa sebelumnya Muslim Arab dan Persia memusatkan kegiatan mereka pada perdagangan, sebaliknya sejak menjelang akhir abad ke-12 mereka mulai memberikan perhatian unik pada usaha-usaha penyebaran Islam di Nusantara.</p> <p dir="ltr">Pergeseran-pergeseran dalam kegiatan-kegiatan ini tidak hanya disebabkan perubahan-perubahan politik kepercayaan di Timur Tengah sendiri, tetapi juga oleh kemerosotan perdagangan di Nusantara sebagai akibat kemunduran kekuasaan Sriwijaya, khususnya sejak menjelang akhir abad ke-12. Selain itu, kemunduran Sriwijaya, di samping disebabkan faktor-faktor internal, juga berangkaian dengan kebangkitan kerajaan-kerajaan baru di Jawa, seperti Kerajaan Kediri.</p><p dir="ltr">Terlepas dari faktor-faktor penyebabnya, akibat kemunduran Sriwijaya terhadap perdagangan di Nusantara sangat besar. Dalam upaya meningkatkan kembali pendapatan negara yang terus merosot, para penguasa Sriwijaya menempuh kebijakan ekonomi dan perdagangan yang monopolistik, mengenakan bea yang besar terhadap kapal-kapal asing, dan memaksa para pedagang asing bayar denda yang berat jika mereka berupaya berbisnis di pelabuhan-pelabuhan lain di Nusantara. Sebagai konsekuensinya, para pedagang asing, khususnya pedagang-pedagang Muslim Arab dan Persia, sekarang menghadapi kesulitan dan gangguan berat dalam perdagangan mereka.</p> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/alasan-pedagang-arab-dan-persia-makin-aktif-sebarkan-islam-di-nusantara-abad-ke-12-166897.html</guid> <pubDate>Wed, 19 Aug 2026 14:30:12 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Muhammad Hafil)</author> </item> <item> <title>Fatwa Nu: Hukum Gaji Dari Hasil Suap, Apakah Haram?</title> <description>Fatwa Nu: Hukum Gaji Dari Hasil Suap, Apakah Haram?. Kincai Media– Persoalan suap untuk memperoleh kedudukan bukan sekadar masalah etika dalam kehidupan sosial dan pemerintahan. Dalam perspektif Islam, praktik...</description> <media:thumbnail url="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/189-1.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/fatwa-nu-hukum-gaji-dari-hasil-suap-apakah-haram-166896.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div> <div><figure><a href="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/189-1.jpg" data-caption=" Hukum Gaji dari Hasil Suap, Apakah Haram? "><img width="696" height="464" src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/189-1.jpg" srcset="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/189-1-696x464.jpg 696w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/189-1-640x427.jpg 640w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/189-1-1024x683.jpg 1024w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/189-1-768x512.jpg 768w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/189-1-630x420.jpg 630w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/189-1-1068x712.jpg 1068w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/189-1.jpg 1500w" sizes=" 696px) 100vw, 696px" alt=" Hukum Gaji dari Hasil Suap, Apakah Haram?" title=" Hukum Gaji dari Hasil Suap, Apakah Haram?"></a>Fatwa NU: Hukum Gaji dari Hasil Suap, Apakah Haram? </figure></div> <p><strong>Kincai Media</strong>&ndash; Persoalan suap untuk memperoleh kedudukan bukan sekadar masalah etika dalam kehidupan sosial dan pemerintahan. Dalam perspektif Islam, praktik tersebut juga menyentuh persoalan norma yang serius lantaran berangkaian dengan <em><a href="https://bincangsyariah.com/tag/suap/" data-type="post_tag" data-id="3837">risywah</a></em>, ialah pemberian sesuatu dengan tujuan memperoleh untung alias kedudukan yang semestinya tidak diperoleh melalui langkah tersebut. Lantas gimana norma penghasilan dari hasil suap? </p> <p>Namun, persoalan menjadi lebih kompleks ketika seseorang yang mendapatkan kedudukan melalui proses yang disertai suap kemudian menjalankan pekerjaannya dan menerima penghasilan secara rutin. Apakah penghasilan yang diterimanya juga dihukumi haram? Ataukah keharaman hanya bertindak pada praktik suapnya, sementara penghasilan yang diterima sebagai hadiah atas pekerjaan tetap dihukumi halal?</p> <p>Persoalan inilah yang dibahas dalam <a href="https://archive.org/download/SOLUSIPROBLEMATIKAAKTUALHUKUMISLAM/SOLUSI%20PROBLEMATIKA%20-%20AKTUAL-%20HUKUM%20ISLAM.pdf">Keputusan Muktamar XXXI Nahdlatul Ulama Nomor VI/MNU-31/XII/2004 tentang Bahtsul Masail Al-Diniyyah Al-Waqi&rsquo;iyyah tentang norma penghasilan dari hasil suap.</a></p> <p>Dalam pembahasan tersebut, para muktamirin menemukan dua pendapat mengenai norma penghasilan pegawai negeri yang proses pengangkatannya dilakukan melalui risywah (suap). Pendapat pertama mengharamkan penghasilan tersebut, sementara pendapat kedua menghukuminya halal.</p> <p><strong>Ketika Suap Menjadi Jalan Memperoleh Jabatan</strong></p> <p>Dalam kehidupan sehari-hari, kedudukan sering kali dipandang sebagai amanah. Seseorang yang memperoleh kedudukan bukan hanya mendapatkan kedudukan, tetapi juga memperoleh tanggung jawab untuk menjalankan tugas tertentu.</p> <p>Karena itu, ketika kedudukan diperoleh melalui suap, persoalan yang muncul tidak berakhir pada transaksi pemberian duit alias sesuatu kepada pihak tertentu. Ada persoalan mengenai proses pengangkatan, kepantasan orang yang diangkat, hingga hak-hak yang kemudian diterima setelah menduduki kedudukan tersebut.</p> <p>Pendapat pertama dalam Muktamar XXXI NU memandang bahwa penghasilan yang diterima dalam kondisi demikian hukumnya haram. Setidaknya terdapat tiga argumen yang menjadi dasar pendapat ini.</p> <p><em>Pertama,</em> terdapat keterkaitan karena dan akibat antara <em>risywah</em> dan gaji. Seseorang memperoleh kedudukan lantaran memberikan suap. Jabatan tersebut kemudian menjadi dasar baginya untuk mendapatkan gaji. Dengan demikian, penghasilan dianggap mempunyai keterkaitan dengan proses pengangkatan yang dilakukan melalui langkah yang haram.</p> <p><em>Kedua,</em> penghasilan dalam persoalan ini tidak semata-mata ditempatkan sebagai ujrah alias bayaran atas pekerjaan. Ia dapat dipandang sebagai irzaq, ihsan, alias musamahah, ialah pemberian, tunjangan, alias corak kebijakan tertentu dari pemerintah.</p> <p>Penjelasan mengenai norma penghasilan dari hasil suap dapat ditemukan dalam kitab <em>Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj</em> karya<a href="https://sites.google.com/site/pustakapejaten/manaqibbiografi/7-masyaikh/syihabbudin-al-ramli-al-anshari" data-type="link" data-id="https://sites.google.com/site/pustakapejaten/manaqibbiografi/7-masyaikh/syihabbudin-al-ramli-al-anshari"> Muhammad bin Syihabuddin al-Ramli</a>:</p> <p>&#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1580;&#1614;&#1585;&#1614;&#1578;&#1618; &#1576;&#1616;&#1607;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1614;&#1575;&#1583;&#1614;&#1577;&#1615; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1580;&#1614;&#1575;&#1605;&#1614;&#1603;&#1616;&#1610;&#1614;&#1617;&#1577;&#1613; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609; &#1584;&#1614;&#1604;&#1616;&#1603;&#1614; &#1601;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1587;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1576;&#1614;&#1575;&#1576;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1573;&#1616;&#1580;&#1614;&#1575;&#1585;&#1614;&#1577;&#1616; &#1608;&#1614;&#1573;&#1616;&#1606;&#1614;&#1617;&#1605;&#1614;&#1575; &#1607;&#1615;&#1608;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1576;&#1614;&#1575;&#1576;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1573;&#1616;&#1585;&#1618;&#1586;&#1614;&#1575;&#1602;&#1616; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1573;&#1616;&#1581;&#1618;&#1587;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1587;&#1614;&#1575;&#1574;&#1616;&#1581;&#1614;&#1577;&#1616; &#1576;&#1616;&#1582;&#1616;&#1604;&#1614;&#1575;&#1601;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1573;&#1616;&#1580;&#1614;&#1575;&#1585;&#1614;&#1577;&#1616; &#1601;&#1614;&#1573;&#1616;&#1606;&#1614;&#1617;&#1607;&#1614;&#1575; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1576;&#1614;&#1575;&#1576;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1593;&#1614;&#1575;&#1608;&#1614;&#1590;&#1614;&#1577;&#1616;.</p> <p><em>Artinya; Tradisi yang bertindak pada pemberian pemerintah kepada untuk orang yang menjadi pemimpin shalat jamaah itu bukan termasuk sebagai ijarah (upah pekerjaan), tetapi merupakan irzaq, ihsan alias musamahah (tunjangan, insentif, alias kebijakan). Berbeda dengan ijarah yang merupakan mu&rsquo;awadhah (transaksi pertukaran).</em></p> <p>Dengan dasar tersebut, penghasilan tidak selalu dipandang hanya sebagai pembayaran atas pekerjaan yang dilakukan. Ada keadaan tertentu ketika pemberian tersebut berangkaian dengan kedudukan alias pengangkatan seseorang. Jika pengangkatan itu sendiri diperoleh melalui suap, maka status pemberian yang mengikuti pengangkatan tersebut ikut menjadi persoalan.</p> <p>Ketiga, pengangkatan yang diperoleh melalui suap dianggap tidak sah alias batil. Jika fondasi pengangkatannya bermasalah, maka sesuatu yang diperoleh sebagai akibat dari pengangkatan tersebut juga dipandang bermasalah.</p> <p>Persoalan keabsahan suatu keputusan alias pengangkatan ini mempunyai landasan dalam pembahasan fikih. Dalam kitab <em><a href="https://www.islamweb.net/ar/library/content/15/7197/%D9%85%D8%B3%D8%A3%D9%84%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%AD%D8%A7%D9%83%D9%85-%D8%A5%D8%B0%D8%A7-%D8%B1%D9%81%D8%B9%D8%AA-%D8%A5%D9%84%D9%8A%D9%87-%D9%82%D8%B6%D9%8A%D8%A9-%D9%82%D8%AF-%D9%82%D8%B6%D9%89-%D8%A8%D9%87%D8%A7-%D8%AD%D8%A7%D9%83%D9%85-%D8%B3%D9%88%D8%A7%D9%87" data-type="link" data-id="https://www.islamweb.net/ar/library/content/15/7197/%D9%85%D8%B3%D8%A3%D9%84%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%AD%D8%A7%D9%83%D9%85-%D8%A5%D8%B0%D8%A7-%D8%B1%D9%81%D8%B9%D8%AA-%D8%A5%D9%84%D9%8A%D9%87-%D9%82%D8%B6%D9%8A%D8%A9-%D9%82%D8%AF-%D9%82%D8%B6%D9%89-%D8%A8%D9%87%D8%A7-%D8%AD%D8%A7%D9%83%D9%85-%D8%B3%D9%88%D8%A7%D9%87">Al-Asybah wa al-Nazha&rsquo;ir</a></em> disebutkan:</p> <p>(&#1582;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616;&#1605;&#1614;&#1577;&#1612;) &#1610;&#1614;&#1606;&#1618;&#1602;&#1615;&#1590;&#1615; &#1602;&#1614;&#1590;&#1614;&#1575;&#1569;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1614;&#1575;&#1590;&#1616;&#1610; &#1573;&#1616;&#1584;&#1614;&#1575; &#1582;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614;&#1601;&#1614; &#1606;&#1614;&#1590;&#1611;&#1575; &#1571;&#1614;&#1608;&#1618; &#1573;&#1616;&#1580;&#1618;&#1605;&#1614;&#1575;&#1593;&#1611;&#1575; &#1571;&#1614;&#1608;&#1618; &#1602;&#1616;&#1610;&#1614;&#1575;&#1587;&#1611;&#1575; &#1580;&#1614;&#1604;&#1616;&#1610;&#1611;&#1617;&#1575;. &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1614;&#1585;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;&#1610;&#1615;&#1617;: &#1571;&#1614;&#1608;&#1618; &#1582;&#1575;&#1604;&#1601; &#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1614;&#1608;&#1614;&#1575;&#1593;&#1616;&#1583;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1603;&#1614;&#1604;&#1616;&#1610;&#1614;&#1617;&#1577;&#1614;. &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1606;&#1614;&#1601;&#1616;&#1610;&#1614;&#1617;&#1577;&#1615;: &#1571;&#1614;&#1608;&#1618; &#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614; &#1581;&#1615;&#1603;&#1618;&#1605;&#1611;&#1575; &#1604;&#1614;&#1575; &#1583;&#1614;&#1604;&#1616;&#1610;&#1618;&#1604;&#1614; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1607;&#1616;.</p> <p><em>Artinya; (Penutup) Putusan norma seorang pengadil bisa dibatalkan, jika bertentangan dengan nash (al-Qur&rsquo;an dan hadits), ijma&rsquo; alias qiyas jali (jelas). Al-Qarafi berpendapat: &ldquo;Atau jika menyalahi norma umum.&rdquo; Dan ustadz madzhab Hanafi berpendapat: &ldquo;Atau berupa norma yang tidak berasas dalil sama sekali.</em></p> <p>Dari sini dapat dipahami bahwa dalam fikih, persoalan keabsahan suatu keputusan tidak hanya dilihat dari keberadaan keputusan itu sendiri, tetapi juga dari kesesuaiannya dengan prinsip dan dalil yang menjadi landasannya.</p> <p><strong>Gaji Tidak Otomatis Haram Menurut Pendapat Kedua</strong></p> <p>Di sisi lain, Muktamar XXXI NU juga mencatat pendapat kedua yang menyatakan bahwa penghasilan tersebut halal.</p> <p>Pendapat ini membangun argumentasi dengan membedakan antara keharaman proses memperoleh kedudukan dan status penghasilan yang diterima setelah seseorang menjalankan pekerjaannya.</p> <p>Menurut pendapat ini, tidak terdapat hubungan norma secara otomatis antara <em>risywah</em> dan gaji. Suap merupakan perbuatan <a href="https://bincangsyariah.com/tag/haram/" data-type="post_tag" data-id="3774">haram</a>, tetapi pekerjaan yang dilakukan setelah seseorang menduduki kedudukan tidak dengan sendirinya menjadi haram hanya lantaran sebelumnya terdapat praktik suap dalam proses pengangkatannya.</p> <p>Untuk menjelaskan perihal tersebut, digunakan afinitas antara pencurian sajadah dan shalat di atas sajadah curian. Perbuatan mencuri sajadah merupakan perbuatan haram. Akan tetapi, keharaman mencuri tidak otomatis menyebabkan shalat yang dilakukan di atas sajadah tersebut menjadi tidak sah.</p> <p>Dengan logika serupa, suap dalam proses memperoleh kedudukan tetap merupakan perbuatan haram. Namun, jika pengangkatan sebagai PNS dianggap sah dan orang tersebut betul-betul menjalankan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, maka penghasilan yang diterimanya dapat dihukumi halal.</p> <p>Dengan demikian, menurut pendapat kedua, kudu ada pembedaan antara norma perbuatan suap dan norma pekerjaan serta penghasilan yang diterima setelahnya.</p> <p><strong>Jabatan dan Persoalan Kelayakan</strong></p> <p>Pembahasan mengenai kedudukan juga tidak dapat dilepaskan dari persoalan kepantasan seseorang untuk mendudukinya. Dalam tradisi fikih, kedudukan bukanlah sekadar kedudukan administratif, tetapi amanah yang menuntut keahlian dan kecakapan.</p> <p>Dalam <em>Al-Mubdi&rsquo; fi Syarh al-Muqni&rsquo;</em> disebutkan:</p> <p>&#1601;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575; &#1610;&#1614;&#1580;&#1615;&#1608;&#1586;&#1615; &#1578;&#1614;&#1608;&#1618;&#1604;&#1616;&#1610;&#1614;&#1578;&#1615;&#1607;&#1615; &#1605;&#1614;&#1593;&#1614; &#1593;&#1614;&#1583;&#1614;&#1605;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1616;&#1604;&#1618;&#1605;&#1616; &#1576;&#1616;&#1584;&#1614;&#1604;&#1616;&#1603;&#1614; &#1603;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1604;&#1614;&#1575; &#1610;&#1614;&#1580;&#1615;&#1608;&#1586;&#1615; &#1578;&#1614;&#1608;&#1618;&#1604;&#1616;&#1610;&#1614;&#1578;&#1615;&#1607;&#1615; &#1605;&#1614;&#1593;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1616;&#1604;&#1618;&#1605;&#1616; &#1576;&#1616;&#1593;&#1614;&#1583;&#1614;&#1605;&#1616; &#1589;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575;&#1581;&#1616;&#1610;&#1614;&#1617;&#1578;&#1616;&#1607;&#1616; &#1608;&#1614;&#1610;&#1615;&#1593;&#1614;&#1610;&#1616;&#1617;&#1606;&#1615; &#1605;&#1614;&#1575; &#1610;&#1615;&#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1607;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1615;&#1603;&#1618;&#1605;&#1614; &#1601;&#1616;&#1610;&#1607;&#1616; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1571;&#1614;&#1593;&#1618;&#1605;&#1614;&#1575;&#1604;&#1616; &#1603;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1603;&#1615;&#1608;&#1601;&#1614;&#1577;&#1616; &#1608;&#1614;&#1606;&#1614;&#1608;&#1614;&#1575;&#1581;&#1616;&#1610;&#1618;&#1607;&#1614;&#1575; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1576;&#1615;&#1604;&#1618;&#1583;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616; &#1603;&#1614;&#1576;&#1614;&#1594;&#1618;&#1583;&#1614;&#1575;&#1583;&#1614; &#1608;&#1614;&#1606;&#1614;&#1581;&#1618;&#1608;&#1616;&#1607;&#1614;&#1575; &#1604;&#1616;&#1610;&#1614;&#1593;&#1618;&#1604;&#1614;&#1605;&#1614; &#1578;&#1614;&#1581;&#1614;&#1604;&#1614;&#1617; &#1608;&#1616;&#1604;&#1575;&#1610;&#1614;&#1578;&#1616;&#1607;&#1616; &#1601;&#1614;&#1610;&#1614;&#1581;&#1618;&#1603;&#1615;&#1605;&#1615; &#1601;&#1616;&#1610;&#1618;&#1607;&#1616; &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575; &#1610;&#1614;&#1581;&#1618;&#1603;&#1615;&#1605;&#1615; &#1601;&#1616;&#1610; &#1594;&#1614;&#1610;&#1618;&#1585;&#1616;&#1607;&#1616;</p> <p><em>Artinya: Karenanya tidak boleh mengangkat seseorang untuk menjabat sebagai Qadhi ketika tidak besertaan ketidaktahuan atas keahliannya memutuskan hukum, seperti halnya tidak boleh mengangkatnya menjadi Qadhi besertaan mengetahui ketidaklayakannya. </em></p> <p><em>Dan penguasa menentukan daerah hukumnya, semisal Kufah dan sekitarnya, alias daerah semisal Baghdad dan sekitarnya, agar dia mengetahui daerah kerjanya sehingga memutuskan norma daerah tersebut dan tidak memutuskan norma di luar wilayahnya.</em></p> <p>Keterangan tersebut memperlihatkan bahwa kepantasan merupakan unsur krusial dalam pengangkatan seseorang untuk menduduki jabatan. Seseorang tidak semestinya mendapatkan amanah andaikan dia tidak mempunyai kompetensi untuk menjalankannya.</p> <p>Dalam konteks suap, persoalannya menjadi semakin serius andaikan duit alias pemberian tersebut digunakan untuk menggeser seseorang yang lebih layak, alias untuk mendapatkan kedudukan yang sebenarnya tidak menjadi haknya.</p> <p>Perbedaan pendapat dalam Muktamar XXXI NU mengenai penghasilan yang diperoleh setelah proses pengangkatan melalui suap menunjukkan keluasan khazanah fikih dalam membaca sebuah persoalan.</p> <p>Pendapat pertama memandang adanya keterkaitan antara suap, pengangkatan, dan gaji. Karena pengangkatan diperoleh melalui langkah yang batil, maka penghasilan yang lahir dari pengangkatan tersebut juga dipandang bermasalah.</p> <p>Sementara pendapat kedua memisahkan antara dosa dalam proses memperoleh kedudukan dengan status pekerjaan dan penghasilan setelah seseorang betul-betul menjalankan tugasnya. Dalam pandangan ini, haramnya suap tidak otomatis menjadikan penghasilan haram andaikan pekerjaan dan pengangkatannya sendiri dianggap sah.</p> <p>Perbedaan tersebut bukan berfaedah praktik suap mendapatkan pembenaran. Sebaliknya, kedua pendapat tersebut tetap menempatkan risywah sebagai persoalan yang kudu dihindari. Yang diperdebatkan adalah status penghasilan setelah terjadinya proses pengangkatan yang mengandung suap, bukan kehalalan praktik suap itu sendiri.</p> <p>Karena itu, pembahasan ini krusial ditempatkan secara proporsional. Jangan sampai perbedaan pendapat mengenai status penghasilan justru dipahami sebagai pembenaran untuk melakukan suap demi memperoleh pekerjaan alias jabatan.</p> <p>Pada akhirnya, kedudukan dalam Islam adalah amanah. Ketika amanah diperoleh melalui jalan yang tidak semestinya, persoalannya tidak hanya menyangkut hubungan seseorang dengan hukum, tetapi juga menyangkut integritas, keadilan, dan tanggung jawab moral kepada masyarakat.</p> <p>Keputusan <a href="https://core.ac.uk/download/pdf/296473953.pdf" data-type="link" data-id="https://core.ac.uk/download/pdf/296473953.pdf">Muktamar XXXI Nahdlatul Ulama Nomor VI/MNU-31/XII/2004 </a>mencatat adanya dua pendapat mengenai norma penghasilan PNS yang proses pengangkatannya melalui hasil <em>risywah</em> alias suap.</p> <p>Pendapat pertama menghukumi penghasilan tersebut haram dengan mempertimbangkan keterkaitan antara suap dan pengangkatan serta pandangan bahwa pemberian penghasilan dalam konteks tersebut bukan semata-mata ujrah. </p> <p>Sementara pendapat kedua menghukumi penghasilan legal dengan argumen bahwa keharaman suap tidak otomatis menjadikan pekerjaan dan penghasilan yang diterima setelahnya haram, selama pengangkatan tersebut dianggap sah.</p> <p>Perbedaan pendapat ini memperlihatkan bahwa fikih tidak selalu memberikan jawaban dengan langkah yang sederhana. Sebuah persoalan dapat mempunyai beberapa lapisan norma yang perlu dipisahkan secara cermat.</p> <p>Namun satu perihal tetap jelas: suap tidak boleh dijadikan jalan untuk memperoleh kedudukan alias kewenangan yang semestinya diperoleh melalui langkah yang benar. Adapun mengenai status penghasilan setelahnya, Muktamar XXXI NU mencatat adanya dua pandangan sebagaimana uraian di atas. <em>Wallahu &lsquo;alam.</em></p> <div> <p><a href="https://bit.ly/SertifikasiHalalGratisEBI" target="_blank" rel="noopener noreferrer"> <img src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-15-at-20.44.10.jpeg" alt="Sertifikasi Halal"> </a> </p> </div> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/fatwa-nu-hukum-gaji-dari-hasil-suap-apakah-haram-166896.html</guid> <pubDate>Wed, 19 Aug 2026 13:00:15 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Zainuddin Lubis)</author> </item> <item> <title>Jejak Koin Dinasti Umayyah Di Tapanuli: Ada Kisah Doktrin Tauhid Khalifah Melawan Bizantium</title> <description>Jejak Koin Dinasti Umayyah Di Tapanuli: Ada Kisah Doktrin Tauhid Khalifah Melawan Bizantium. Kincai Media, Temuan koin antik dari masa Dinasti Umayyah hingga Abbasiyah di situs Bongal, Tapanuli Tengah, mengungkap sungguh luas syiar Islam yang dilakukan...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/koin-peninggalan-dinasti_260819125058-608.png"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/jejak-koin-dinasti-umayyah-di-tapanuli-ada-kisah-doktrin-tauhid-khalifah-melawan-bizantium-166895.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div data-sticky-container> <p>Kincai Media, Temuan koin antik dari masa Dinasti Umayyah hingga Abbasiyah di situs Bongal, Tapanuli Tengah, mengungkap sungguh luas syiar Islam yang dilakukan setelah akhir masa kenabian.&nbsp;</p><p><span>Ekskavasi arkeologi di Situs Bongal, Desa Jagojago, Kecamatan Badiri, Kabupaten<a href="https://republika.co.id/tag/tapanuli"> Tapanuli </a>Tengah, Sumatra Utara, dinilai sukses menyingkap bukti konkret hubungan perdagangan maritim internasional antara Nusantara dan bumi Islam pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi. Tidak hanya dari Abbasiyah, tetapi pada masa lebih awal ialah Dinasti Umayyah.</span></p> <p>Dalam&nbsp;artikel ilmiah berjudul 'Kontribusi Koin Umayyah Temuan&nbsp;Situs Bongal&nbsp; terhadap Histiografi Islam di Sumatera Utara,' yang diterbitkan Historial Studies Journal Yupa, Vol.6,&nbsp;Ning Arrumdani, Hasan Asari, Nabila Yasmin, mengungkapkan, dinar dan dirham<span>&nbsp;sebagai perangkat transaksi tetap terus digunakan oleh masyarakat Arab ketika aliran Islam sudah hadir. </span></p><p><span>Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah tentang penggunaan <em>dinar </em>dan <em>dirham </em>sebagai perangkat transaksi yang sah. Pada masa Khulafaurrasyiddin ialah pada masa pemerintahan Umar bin Khatab, dimasukkan lambang Islam pada Dinar dan Dirham yang digunakan di kalangan Bangsa Arab. Pada tahun 18 H, mulailah dimasukkan kalimat-kalimat<span>&nbsp;</span></span><span>Islam dalam mata duit tersebut seperti&nbsp;</span><span></span><span>&nbsp;<em>bismillah, Alhamdulillah, bismirobbika, &nbsp;</em></span><span><em>Muhammadurrasulullah</em>. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa Islam sudah mulai berkembang dan mempunyai integritas.</span></p> <p><span></span><span>Penggunaan mata duit <em>dinar </em>dan <em>dirham </em>masih terus bersambung ke pemerintahan Kekhalifahan Umayyah. Pada masa awal pemerintahan Kekhalifahan Umayyah ialah Khalifah Muawiyah bin Abu Sofyan, pencetakan mata duit tetap mengikuti pola Dinasti Sasanid sehingga hanya mencantumkan beberapa kata Islami saja (Syukur, 2020).</span></p><p><span> Pencetakan mata duit beruhkan Islam pertama kali dibuat oleh Khalifah Umayyah kelima ialah Abdul Malik bin Marwan yang memerintah tahun 685-701 M. Koin emas Umayyah pertama kali dicetak tahun 691 M dengan membubuhkan gambar Khalifah dan kalimat <em>syahadat </em>dipinggir koin.<span>&nbsp;</span></span></p><p><span>Hal tersebut menimbulkan perselisihan antara Khalifah Abdul Malik bin Marwan dengan Kaisar Bizantium. Koin Umayyah yang dibuat Abdul Malik bin Marwan menekankan keesaan pada Tuhan untuk melawan doktrin Trinitas Kristen. Kemudian Kaisar<a href="https://republika.co.id/tag/bizantium"> Bizantium </a>Justian II menanggapi koin yang dicetak oleh Abdul Malik bin Marwan dengan menggambarkan kepala Kristus di bagian depan koin dan gambar dirinya yang memegang salib di bagian belakang koin.</span></p> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/jejak-koin-dinasti-umayyah-di-tapanuli-ada-kisah-doktrin-tauhid-khalifah-melawan-bizantium-166895.html</guid> <pubDate>Wed, 19 Aug 2026 13:00:12 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (A.Syalaby Ichsan)</author> </item> <item> <title>Hukum Membaca Kitab Maulid Nabi Di Bulan Rabiul Awal, Bolehkah?</title> <description>Hukum Membaca Kitab Maulid Nabi Di Bulan Rabiul Awal, Bolehkah?. Kincai Media— Bagaimana norma membaca kitab Maulid Nabi Muhammad di bulan Rabiul Awal. Pasalnya, bulan Rabiul Awal selalu menghadirkan suasana unik di ten...</description> <media:thumbnail url="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/maulid-dibai.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/hukum-membaca-kitab-maulid-nabi-di-bulan-rabiul-awal-bolehkah-166894.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div> <div><figure><a href="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/maulid-dibai.jpg" data-caption="Hukum Membaca Kitab Maulid Nabi di Bulan Rabiul Awal, Bolehkah?"><img width="696" height="990" src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/maulid-dibai.jpg" srcset="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/maulid-dibai-696x990.jpg 696w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/maulid-dibai-450x640.jpg 450w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/maulid-dibai-295x420.jpg 295w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/maulid-dibai.jpg 720w" sizes=" 696px) 100vw, 696px" alt="Hukum Membaca Kitab Maulid Nabi di Bulan Rabiul Awal, Bolehkah?" title="Hukum Membaca Kitab Maulid Nabi di Bulan Rabiul Awal, Bolehkah?"></a>Hukum Membaca Kitab Maulid Nabi di Bulan Rabiul Awal, Bolehkah?</figure></div> <p><strong>Kincai Media</strong>&mdash; Bagaimana norma membaca kitab Maulid Nabi Muhammad di bulan Rabiul Awal. Pasalnya, bulan Rabiul Awal selalu menghadirkan suasana unik di tengah umat Islam. </p> <p>Di beragam daerah, masyarakat berkumpul di masjid, musala, pesantren, majelis taklim, dan rumah-rumah untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad. </p> <p>Ada yang mengisinya dengan pembacaan <a href="https://bincangsyariah.com/tag/adab-shalawat/" data-type="post_tag" data-id="1057">shalawat</a>, pengajian, sedekah, pembacaan sirah, hingga membaca kitab-kitab Maulid yang secara unik mengisahkan kelahiran dan perjalanan hidup Rasulullah.</p> <p>Namun, di tengah tradisi tersebut, muncul pertanyaan yang terus berulang: gimana norma membaca kitab Maulid pada hari-hari Rabiul Awal peringatan Maulid Nabi?</p> <p>Pertanyaan serupa pernah diajukan kepada Syekh Prof. Dr. Syauqi Ibrahim &lsquo;Allam, mantan Mufti Republik Mesir, melalui <a href="https://dar-alifta.org/ar/fatwa/details/17602/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D9%82%D8%B1%D8%A7%D8%A1%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%88%D9%84%D8%AF-%D9%81%D9%8A-%D8%A3%D9%8A%D8%A7%D9%85-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%88%D9%84%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%A8%D9%88%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%B4%D8%B1%D9%8A%D9%81-%D9%88%D8%A8%D8%B9%D8%B6-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%A4%D9%84%D9%81%D8%A7%D8%AA-%D9%81%D9%8A-%D8%B0%D9%84%D9%83?" data-type="link" data-id="https://dar-alifta.org/ar/fatwa/details/17602/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D9%82%D8%B1%D8%A7%D8%A1%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%88%D9%84%D8%AF-%D9%81%D9%8A-%D8%A3%D9%8A%D8%A7%D9%85-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%88%D9%84%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%A8%D9%88%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%B4%D8%B1%D9%8A%D9%81-%D9%88%D8%A8%D8%B9%D8%B6-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%A4%D9%84%D9%81%D8%A7%D8%AA-%D9%81%D9%8A-%D8%B0%D9%84%D9%83?"><em>Dar al-Ifta al-Mishriyyah</em></a>. Dalam fatwanya, dia menjelaskan bahwa membaca kitab Maulid merupakan bagian dari tradisi umat Islam dalam menghidupkan peringatan kelahiran Nabi SAW dengan beragam kebaikan kebajikan. Fatwa tersebut diterbitkan Dar al-Ifta pada 1 Desember 2016.</p> <p>Menurut Syekh Syauqi &lsquo;Allam menjelaskan bahwa umat Islam sejak abad keempat dan kelima Hijriah telah terbiasa memperingati Maulid Nabi dengan beragam corak ibadah dan kebaikan kebajikan.</p> <p>Ia menyebut sejumlah kegiatan yang dilakukan masyarakat Muslim pada momentum tersebut, mulai dari memberi makan, berpuasa, melaksanakan ibadah malam, membaca Al-Qur&rsquo;an, berzikir, hingga membaca kitab Maulid dan melantunkan syair-syair pujian kepada Rasulullah.</p> <p>Menurutnya, tradisi tersebut tidak berdiri tanpa akar dalam khazanah keilmuan Islam. Sejumlah ustadz dan sejarawan seperti Ibnu al-Jauzi, Ibnu Dihyah, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar al-&lsquo;Asqalani, dan Imam as-Suyuthi telah mencatat praktik dan pembahasan mengenai Maulid dalam karya-karya mereka.</p> <p>Dengan demikian, membaca kitab Maulid dapat dipahami sebagai salah satu corak majelis yang menghidupkan ingatan umat terhadap Rasulullah. Di dalamnya terdapat pembacaan sejarah kelahiran beliau, pengenalan terhadap sifat dan keistimewaan beliau, serta ungkapan cinta dan penghormatan kepada Nabi Muhammad.</p> <p><strong>Maulid sebagai Ekspresi Cinta kepada Rasulullah</strong></p> <p>Bagi Syekh Syauqi &lsquo;Allam, persoalan Maulid tidak hanya berangkaian dengan corak kegiatan, tetapi juga dengan makna yang hendak diwujudkan di kembali kegiatan tersebut.</p> <p>Dalam fatwa lainnya, beliau menjelaskan bahwa memperingati Maulid Nabi merupakan corak kegembiraan atas kelahiran Rasulullah, sekaligus ungkapan cinta dan penghormatan kepada beliau. </p> <p>Syekh Sauqi Ibrahim dalam <em><a href="https://dar-alifta.org/ar/fatwa/details/17602/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D9%82%D8%B1%D8%A7%D8%A1%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%88%D9%84%D8%AF-%D9%81%D9%8A-%D8%A3%D9%8A%D8%A7%D9%85-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%88%D9%84%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%A8%D9%88%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%B4%D8%B1%D9%8A%D9%81-%D9%88%D8%A8%D8%B9%D8%B6-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%A4%D9%84%D9%81%D8%A7%D8%AA-%D9%81%D9%8A-%D8%B0%D9%84%D9%83?" data-type="link" data-id="https://dar-alifta.org/ar/fatwa/details/17602/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D9%82%D8%B1%D8%A7%D8%A1%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%88%D9%84%D8%AF-%D9%81%D9%8A-%D8%A3%D9%8A%D8%A7%D9%85-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%88%D9%84%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%A8%D9%88%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%B4%D8%B1%D9%8A%D9%81-%D9%88%D8%A8%D8%B9%D8%B6-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%A4%D9%84%D9%81%D8%A7%D8%AA-%D9%81%D9%8A-%D8%B0%D9%84%D9%83?">Dar al-Ifta</a></em> menyebut bahwa peringatan tersebut dapat diisi dengan beragam corak pendekatan diri kepada Allah, seperti zikir, membaca Al-Qur&rsquo;an, membaca sirah Nabi, bershalawat, memberi makan, bersedekah, serta mempererat hubungan dengan family dan tetangga.</p> <p>Karena itu, membaca kitab Maulid sesungguhnya bukan sekadar kegiatan membaca sebuah teks. Ia dapat menjadi sarana untuk menghadirkan kembali sosok Rasulullah di tengah kehidupan umat: mengenang kelahiran beliau, mempelajari perjalanan hidupnya, mengenal akhlaknya, dan kemudian berupaya meneladaninya.</p> <p>Di titik inilah tradisi Maulid memperoleh makna yang lebih mendalam. Kecintaan kepada Nabi SAW tidak berakhir pada ungkapan lisan, tetapi semestinya bersambung menjadi keteladanan dalam kehidupan.</p> <p>Menariknya, tradisi membaca Maulid kemudian melahirkan khazanah literatur yang sangat luas. Para ustadz dari beragam generasi menulis karya yang secara unik mengisahkan kelahiran Nabi Muhammad dan perjalanan hidup beliau.</p> <p>Dalam fatwanya tentang norma membaca Maulid, Syekh Syauqi &lsquo;Allam menyebut sejumlah karya tersebut. Di antaranya adalah <em>at-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir</em> karya al-Hafizh Ibnu Dihyah; <em>ad-Durr al-Munazhzham fi Maulid an-Nabiyy al-Mu&rsquo;azhzham</em> karya al-Hafizh al-&lsquo;Azafi; <em>ad-Durrah as-Saniyyah fi Maulid Khair al-Bariyyah</em> karya Imam al-&lsquo;Ala&rsquo;i; dan <em>al-Mawrid al-Hani fi al-Mawlid as-Sani</em> karya al-Hafizh al-&lsquo;Iraqi.</p> <p>Selain itu, terdapat pula <em>Mawrid ash-Shadi fi Maulid al-Hadi</em> karya al-Hafizh Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi, <em>Kanz ar-Raghibin al-&lsquo;Ufat fi ar-Ramz ila al-Mawlid al-Muhammadi wal-Wafat</em> karya al-Hafizh an-Naji, serta <em>Husn al-Maqshid fi &lsquo;Amal al-Mawlid</em> karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi.</p> <p>Banyaknya karya tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai Maulid bukanlah sesuatu yang asing dalam tradisi intelektual Islam. Sebaliknya, tema kelahiran Rasulullah telah menjadi bagian dari perhatian para ustadz yang dituangkan dalam karya-karya sejarah, sirah, hadis, maupun karya unik tentang Maulid.</p> <p>Lebih jauh, dalam pandangan Syekh Syauqi &lsquo;Allam, substansi peringatan Maulid adalah mengekspresikan kegembiraan dan rasa syukur atas kelahiran Rasulullah dengan beragam kebaikan yang dibenarkan syariat.</p> <p>Dalam fatwanya, beliau juga mengutip sabda tentang puasa hari Senin. Ketika Rasulullah ditanya mengenai puasa pada hari tersebut, beliau menjawab, &ldquo;Itu adalah hari saya dilahirkan.&rdquo; Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah al-Anshari. </p> <p>Dar al-Ifta menjadikannya salah satu landasan untuk menjelaskan bahwa kelahiran Nabi SAW dapat menjadi momentum untuk mengingat nikmat Allah dan mengungkapkan rasa syukur melalui ibadah.</p> <p>Dengan perspektif tersebut, peringatan Maulid tidak semestinya berakhir pada seremonial. Pembacaan kitab Maulid idealnya membawa jamaah untuk lebih mengenal Nabi SAW, memperbanyak shalawat, mempelajari sirah beliau, dan menghidupkan adab yang diajarkan Rasulullah.</p> <p>Sebab, mencintai Nabi bukan hanya dengan menyebut namanya, tetapi juga dengan mengikuti jalan hidupnya.</p> <p><strong>Membaca Kitab Maulid, Sebuah Tradisi Keilmuan</strong></p> <p>Dari penjelasan Syekh Syauqi &lsquo;Allam tersebut dapat dipahami bahwa membaca kitab Maulid pada momentum Maulid Nabi termasuk bagian dari tradisi keagamaan yang telah dikenal luas dalam sejarah umat Islam.</p> <p>Tradisi itu mempunyai corak yang beragam. Ada yang membaca <em>Barzanji</em>, <em>Diba&rsquo;i</em>, <em>Simthud Durar</em>, maupun karya-karya Maulid lainnya. Ada pula yang menggabungkannya dengan pembacaan Al-Qur&rsquo;an, shalawat, pengajian sirah, sedekah, dan pemberian makanan kepada masyarakat.</p> <p>Yang terpenting adalah memastikan bahwa kegiatan tersebut diisi dengan hal-hal yang sesuai dengan tuntunan syariat. <em><a href="https://dar-alifta.org/ar/fatwa/details/17602/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D9%82%D8%B1%D8%A7%D8%A1%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%88%D9%84%D8%AF-%D9%81%D9%8A-%D8%A3%D9%8A%D8%A7%D9%85-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%88%D9%84%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%A8%D9%88%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%B4%D8%B1%D9%8A%D9%81-%D9%88%D8%A8%D8%B9%D8%B6-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%A4%D9%84%D9%81%D8%A7%D8%AA-%D9%81%D9%8A-%D8%B0%D9%84%D9%83?" data-type="link" data-id="https://dar-alifta.org/ar/fatwa/details/17602/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D9%82%D8%B1%D8%A7%D8%A1%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%88%D9%84%D8%AF-%D9%81%D9%8A-%D8%A3%D9%8A%D8%A7%D9%85-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%88%D9%84%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%A8%D9%88%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%B4%D8%B1%D9%8A%D9%81-%D9%88%D8%A8%D8%B9%D8%B6-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%A4%D9%84%D9%81%D8%A7%D8%AA-%D9%81%D9%8A-%D8%B0%D9%84%D9%83?">Dar al-Ifta al-Mishriyyah</a></em> sendiri menjelaskan bahwa peringatan Maulid dapat diwujudkan melalui berkumpul untuk berzikir, bershalawat dan memuji Rasulullah, membaca sirah beliau, bersedekah, memberi makan, serta mempererat silaturahmi.</p> <p>Dengan demikian, membaca kitab Maulid pada hari-hari peringatan kelahiran Nabi dapat menjadi salah satu langkah untuk merawat ingatan kolektif umat terhadap sosok manusia agung yang menjadi teladan bagi seluruh umat manusia.</p> <p>Pada akhirnya, tujuan terbesar dari Maulid bukan sekadar mengetahui kapan Nabi dilahirkan, tetapi agar kita semakin mengenal, mencintai, menghormati, dan meneladani beliau.</p> <p>Sebagaimana ditegaskan dalam beragam penjelasan Dar al-Ifta, kecintaan kepada Rasulullah merupakan bagian krusial dari iman. Karena itu, momentum Maulid dapat menjadi kesempatan untuk memperbarui kecintaan tersebut melalui ilmu, ibadah, shalawat, sedekah, dan keteladanan adab Nabi. <em>Wallahu a&rsquo;lam.</em></p> <div> <p><a href="https://bit.ly/SertifikasiHalalGratisEBI" target="_blank" rel="noopener noreferrer"> <img src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-15-at-20.44.10.jpeg" alt="Sertifikasi Halal"> </a> </p> </div> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/hukum-membaca-kitab-maulid-nabi-di-bulan-rabiul-awal-bolehkah-166894.html</guid> <pubDate>Wed, 19 Aug 2026 12:30:14 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Zainuddin Lubis)</author> </item> <item> <title>Antara Ibnul ‘Arabi Dengan Ibnu ’Arabi (Bag. 1)</title> <description>Antara Ibnul ‘Arabi Dengan Ibnu ’Arabi (Bag. 1). Seringkali dalam mempelajari ilmu, terkhusus pengetahuan agama, kita dihadapkan dengan nama-nama para ustadz yang sangat berjasa terhadap pengetahuan yang kita pelajari, rahim...</description> <media:thumbnail url="https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2026/08/Ibnu-Arabi-dan-Ibnul-Arabi.webp"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/antara-ibnul-arabi-dengan-ibnu-arabi-bag-1-166893.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div><p>Seringkali dalam mempelajari ilmu, terkhusus pengetahuan agama, kita dihadapkan dengan nama-nama para ustadz yang sangat berjasa terhadap pengetahuan yang kita pelajari, <em><i>rahimahumullahu jami&rsquo;an</i></em>.</p><p>Secara tidak langsung, kita diharuskan untuk mengenal nama-nama mereka (para ulama). Menariknya, ada di antara mereka yang namanya sama persis, di antara mereka ada yang namanya sama dengan nama ayahnya, seperti contohnya &rsquo;Abbad bin &rsquo;Abbad; ada yang <em><i>laqab </i></em>(gelar) penyebutannya sama, seperti Ath-Thabari, ada Ath-Thabari mahir tafsir dan ada Ath-Thabari ustadz dari ajaran Syafi&rsquo;i; ada pula yang <em><i>kunyah-</i></em>nya sama; dan seterusnya.</p><p>Hal ini bisa dilihat di dalam kitab-kitab riwayat hidup para ulama, dan kitab-kitab <em><i>rijaalul hadis</i></em> (para perawi hadis), seperti <em><i>Lisaanul Mizan, Taqribut Tahdzib, Mu&rsquo;jam Al-Mufassirin, Siyar A&rsquo;laamin Nubala, </i></em>dan kitab-kitab lainnya. Menjadi semakin menarik tatkala seorang penuntut pengetahuan dapat membedakan antara nama-nama yang ada, yang dapat terbedakan dari jalur nasabnya alias nama ayahnya.</p><h2><span id="Pentingnya_mengetahui_nama-nama_para_ulama"></span><strong><b>Pentingnya mengetahui nama-nama para ulama</b></strong><span></span></h2><p>Dalam pembahasan pengetahuan hadis, terutama yang berangkaian dengan sanad, perbedaan mengenai nama-nama para ustadz sering kali terjadi. Yaitu, seringkali nama-nama para ustadz alias perawi yang lemah dimanipulasi agar tidak terlihat kelemahannya.</p><p>Misalnya, dalam sebuah sanad hanya disebutkan &rdquo;Dari Abu Abdirrahman&rdquo;, sedangkan nama yang menggunakan <em><i>kunyah </i></em>Abu &rsquo;Abdirrahman banyak sekali, ada yang memang orang <em><i>tsiqah </i></em>(terpercaya) dan ada yang lemah riwayatnya, apalagi palsu. Lalu, siapa Abu &rsquo;Abdirrahman yang dimaksud pada sanad tersebut? Maka, sangat krusial untuk mengetahu nama para ustadz yang sebenarnya, agar kebenaran tetap tersampaikan dan keburukan dapat terenyahkan.</p><p>Di antara yang menarik adalah perbedaan nama Ibnul Arabi (dengan <em><i>alif lam</i></em>) dengan Ibnu Arabi (tanpa <em><i>alif lam</i></em>). Karena keduanya mempunyai perbedaan yang sangat jauh sekali. Hal-hal seperti ini, jika tidak diketahui, dikhawatirkan banyak yang terjatuh kepada kesalahan-kesalahan yang dilontarkan oleh salah satu nama yang sama.</p><h2><span id="Ibnul_Arabi_dengan_alif_lam_1"></span><strong><b>Ibnul &rsquo;Arabi (dengan </b></strong><strong><em><b><i>alif lam</i></b></em></strong><strong><b>) [1]</b></strong><span></span></h2><p>Nama beliau adalah Muhammad bin &rsquo;Abdillah bin Muhammad bin &rsquo;Abdillah bin Ahmad Al-Ma&rsquo;arifi Al-Andalusi Al-Isybili. Yang sering dikenal dengan Abu Bakr Ibnul &rsquo;Arabi. Beliau adalah seorang <em><i>qadhi, </i></em>penghafal hadis-hadis Nabi <em><i>shallallahu &rsquo;alaih wa sallam, </i></em>di antara pembesar <em><i>fuqaha </i></em>mazhab Maliki.</p><p>Beliau dilahirkan pada 22 Sya&rsquo;ban 468 H di kota <span>&#1573;&#1588;&#1576;&#1610;&#1604;&#1610;&#1577;</span> (Isybilia) yang dikenal dengan Sevilla di Spanyol. Oleh lantaran itu, beliau dikatakan <span>&#1575;&#1604;&#1573;&#1588;&#1576;&#1610;&#1604;&#1610;</span> (Al-Isybili) lantaran beliau dilahirkan di Sevilla, tepatnya di sebelah selatan Spanyol. Di tempat itulah beliau tumbuh dan berkembang serta mengambil pengetahuan dari para ustadz setempat.</p><p>Pada tahun 485 H, kurang lebih saat beliau berumur tujuh belas tahun, beliau berangkat <em>rihlah</em> ke daerah timur berbareng ayahnya, untuk belajar pengetahuan kepada para ustadz di sana. Beliau mengambil pengetahuan dari para ustadz di Mesir, Syam, Baghdad, dan Hijaz. Al-Imam Adz-Dzahabi <em><i>rahimahullah </i></em>di dalam <em><i>Siyar A&rsquo;lamin Nubala </i></em>menyebutkan nama dari pembimbing beliau di setiap tempat yang Ibnul &rsquo;Arabi kunjungi.</p><p>Beliau kembali pulang ke kampung laman pada tahun 495 H. Di antara argumen beliau pulang, disebutkan oleh Adz Dzahabi adalah lantaran ayahnya wafat. Kemudian beliau mulai mengajar, dan para penuntut pengetahuan berdatangan kepadanya untuk mendengarkan sabda dan juga ilmu. Beliau pernah menjabat sebagai <em><i>Qadhi </i></em>(Hakim) di Sevilla pada tahun 538 H, kemudian diberhentikan dari jabatannya, lampau beliaupun mendedikasikan waktunya untuk menyebarkan pengetahuan dan menulis karya.</p><p>Beliau wafat di dekat Fez (Fas) di daerah Maroko bulan Rabiul akhir 543 H. Beliau meninggalkan beberapa karya tulis, di antaranya,</p><ul><li><i></i><em><i>Ahkaamul Qur&rsquo;an;</i></em></li><li><i></i><em><i>An-Nasikh wal Mansukh fil Qur&rsquo;an;</i></em></li><li><i></i><em><i>Al-&lsquo;Awashim minal Qawashim;</i></em></li><li><i></i><em><i>Qanun At-Ta&rsquo;wil.</i></em></li></ul><p>Dan karya tulis lainnya. <em><i>Rahimahullah Ta&rsquo;ala rahmatan wasi&rsquo;ah</i></em>.</p><h2><span id="Ibnu_%E2%80%98Arabi_tanpa_alif_lam_2"></span><strong><b>Ibnu &lsquo;Arabi (tanpa </b></strong><strong><em><b><i>alif lam</i></b></em></strong><strong><b>) [2]</b></strong><span></span></h2><p>Nama beliau adalah Muhammad bin &rsquo;Ali bin Muhammad bin Ahmad Ath-Tha&rsquo;i Al-Hatimi Al-Mursi. <em>Kunyah</em> beliau adalah Abu Bakr, <em>laqab</em> beliau adalah <em><i>Muhyiddin </i></em>(penghidup agama), <em><i>masyhur-</i></em>nya beliau adalah Ibnu &rsquo;Arabi. Dilahirkan pada tahun 560 H di kota Mursi, Spanyol.</p><p>Disebutkan kenapa gelar beliau adalah <em><i>Ath-Tha&rsquo;i, </i></em>dikarenakan beliau pernah menetap di Yaman dalam beberapa waktu yang cukup lama. Beliau adalah seorang yang berilmu, sufi&nbsp;(<em><i>tasawuf</i></em>) tulen. <em>Al-Imam</em> <a href="https://muslim.or.id/18702-biografi-al-hafizh-adz-dzahabi.html">Adz-Dzahabi</a> <em><i>rahimahullah </i></em>berkata tentangnya,</p><p><span>&#1575;&#1604;&#1593;&#1614;&#1604;&#1575;&#1614;&#1617;&#1605;&#1614;&#1577;&#1615;&#1548; &#1589;&#1614;&#1575;&#1581;&#1616;&#1576;&#1615; &#1575;&#1604;&#1578;&#1614;&#1617;&#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1616;&#1610;&#1601;&#1616; &#1575;&#1604;&#1603;&#1614;&#1579;&#1616;&#1610;&#1618;&#1585;&#1614;&#1577;&#1616;&#1548; &#1605;&#1615;&#1581;&#1618;&#1610;&#1616;&#1610; &#1575;&#1604;&#1583;&#1616;&#1617;&#1610;&#1618;&#1606;&#1616;</span></p><p><em><i>&rdquo;Seorang yang berilmu, pemilik karya tulis yang banyak, penghidup agama.&rdquo; </i></em><strong>[3]</strong></p><p>Kemudian Adz-Dzahabi menuturkan, <em><i>&rdquo;Ibnu &rsquo;Arabi tinggal di Rum (wilayah Bizantium) selama beberapa waktu. Beliau adalah sosok yang pandai dan mempunyai pengetahuan yang luas. Beliau pernah bekerja sebagai penulis resmi untuk sebagian penguasa di daerah Maroko. </i></em><em><i>Kemudian dia memilih hidup zuhud, menyendiri, konsentrasi beribadah, mengasingkan diri, melakukan perjalanan, serta melepaskan diri (dari keterikatan duniawi). Ia menjelajahi daerah Tihamah (dataran rendah) hingga Najd (dataran tinggi). Ia juga sering melakukan khalwat (menyendiri) dan menulis sangat banyak catatan mengenai tasawuf aliran Wihdatul Wujud (kesatuan wujud).&rdquo; </i></em><strong>[3]</strong></p><p><em>Al-Imam</em> Taqiyuddin Al-Farisi <em><i>rahimahullah</i></em> juga menuturkan,&nbsp;<em><i>&ldquo;Beliau juga tinggal di kota Mekah selama beberapa tahun. Di Mekah, beliau menulis karya tulisnya, di antaranya yang beliau namakan dengan &ldquo;Al-Futuhaat Al-Makkiyah&rdquo;. Beliau juga mempunyai karya tulis lainnya, di antaranya, &ldquo;Fusush Al-Hikam&rdquo;, serta banyak sya&rsquo;ir yang sangat bagus dari segi kefasihan bahasanya. Namun sayangnya, beliau telah nodai alias mencoreng kehebatannya itu dengan pernyataannya secara terang-terangan mengenai aliran Wihdatul Wujud yang mutlak. Dan beliau menyatakan perihal tersebut secara tegas di dalam buku-bukunya.&rdquo; </i></em><strong>[4]</strong></p><p>Beliau wafat pada malam Jumat, 24 Rabiul akhir 638 H di Damaskus. Dan dikebumikan di sebuah komplek pemakaman yang terkenal dengan nama <em><i>Turbah Bani Zaki.</i></em>&nbsp;Demikianlah secara ringkas riwayat hidup alias latar belakang dari Ibnu &lsquo;Arabi.</p><p><em>Al-Imam</em> Adz-Dzahabi <em><i>rahimahullah </i></em>menuturkan,</p><p><span>&#1573;&#1616;&#1606;&#1618; &#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614; &#1605;&#1615;&#1581;&#1618;&#1610;&#1616;&#1610; &#1575;&#1604;&#1583;&#1616;&#1617;&#1610;&#1618;&#1606;&#1616; &#1585;&#1614;&#1580;&#1614;&#1593;&#1614; &#1593;&#1614;&#1606;&#1618; &#1605;&#1614;&#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1575;&#1614;&#1578;&#1616;&#1607;&#1616; &#1578;&#1616;&#1604;&#1618;&#1603;&#1614; &#1602;&#1614;&#1576;&#1618;&#1604;&#1614; &#1575;&#1604;&#1605;&#1614;&#1608;&#1618;&#1578;&#1616;&#1548; &#1601;&#1614;&#1602;&#1614;&#1583;&#1618; &#1601;&#1614;&#1575;&#1586;&#1614;&#1548; &#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1584;&#1614;&#1604;&#1616;&#1603;&#1614; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1616; &#1576;&#1616;&#1593;&#1614;&#1586;&#1616;&#1610;&#1618;&#1586;&#1613;</span></p><p><em><i>&ldquo;Jika Muhyiddin (Ibnu &lsquo;Arabi) telah bertobat (menarik kembali) perkataan-perkataan itu sebelum wafatnya, maka sungguh dia telah beruntung, dan perihal itu bukanlah sesuatu yang susah bagi Allah.&rdquo; </i></em><strong>[3]</strong></p><p>Bisa dilihat dari kedua nama, cukup terlihat perbedaan antara Ibnul &lsquo;Arabi dengan Ibnu &lsquo;Arabi. Di antara persamaannya adalah:</p><ul><li>Berasal dari Andalus (Spanyol);</li><li><i></i><em><i>Kunyah-</i></em>nya Abu Bakr;</li><li>Nama aslinya Muhammad;</li><li>Keduanya melalukan safar (perjalanan jauh) untuk menuntut pengetahuan ke daerah timur.</li></ul><p>Dari beberapa kesamaan ini, maka perlu dibedakan. Yaitu dilihat dari <em><i>alif lam-</i></em>nya. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah <em><i>rahimahullah </i></em>membedakan penyebutan keduanya dalam kitabnya <em><i>Majmu&rsquo; Fatawa</i></em>, ialah Ibnul &lsquo;Arabi untuk Muhammad bin Muhammad Al-Isybili (ulama Maliki), dan Ibnu &lsquo;Arabi (tanpa alif lam) untuk Muhammad bin &lsquo;Ali. Yang dilakukan oleh Syekhul Islam tersebut dapat dijadikan sebagai patokan untuk membedakan antara kedua nama tersebut. Sehingga tidak tertukar antara keduanya.</p><p><em><i>Wallahu a&rsquo;lam</i></em>.</p><p><span><strong>[Bersambung]</strong></span></p><p><strong>***</strong></p><p>Depok, 15 Safar 1447/ 29 Juli 2026</p><p><strong>Penulis: <span>Muhammad</span> <span>Zia Abdurrofi</span></strong></p><p><strong>Artikel <span>Kincai Media</span></strong></p><p><strong>Catatan Kaki:</strong></p><p><strong>[1]</strong> <em><i>Siyar A&rsquo;amin Nubala </i></em>dan <em><i>Mu&rsquo;jam Al-Mufassirin, </i></em>hal. 109.</p><p><strong>[2]</strong> <em><i>&lsquo;Aqidatu Ibnu &lsquo;Arabi wa Hayatuhu, </i></em>hal. 9; <em><i>Siyar A&rsquo;lamin Nubala, </i></em>23: 48; <em><i>Mizaanul I&rsquo;tidal, </i></em>3: 659.</p><p><strong>[3]</strong> <em><i>Siyar A&rsquo;lamin Nubala, </i></em>23: 48.</p><p><strong>[4]</strong> <em><i>&lsquo;Aqidatu Ibnu &lsquo;Arabi wa Hayatuhu, </i></em>hal. 11-12.</p><p><strong>Referensi:</strong></p><p>&ndash; Adz-Dzahab&#299;, Syamsudd&#299;n Mu&#7717;ammad ibn A&#7717;mad ibn &#703;Uthm&#257;n. <em><i>Siyar A</i></em><em><i>&#703;</i></em><em><i>l</i></em><em><i>&#257;</i></em><em><i>m an-Nubal</i></em><em><i>&#257;&rsquo;</i></em>. Di-<em>tahqiq</em> oleh Shu&#703;ayb al-Arn&#257;&rsquo;&#363;&#7789;, Bashsh&#257;r &#703;Aww&#257;d Ma&#703;r&#363;f, dkk. Cet. ke-3. 25 jilid. Beirut: Mu&rsquo;assasah ar-Ris&#257;lah, 1405 H/1985 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)</p><p>&ndash; Adz-Dzahab&#299;, Syamsudd&#299;n Mu&#7717;ammad ibn A&#7717;mad ibn &#703;Uthm&#257;n. <em><i>M&#299;z&#257;n al-I</i></em><em><i>&#703;</i></em><em><i>tid</i></em><em><i>&#257;</i></em><em><i>l f</i></em><em><i>&#299;</i></em><em><i>&nbsp;Naqd ar-Rij</i></em><em><i>&#257;</i></em><em><i>l</i></em>. Di-<em>tahqiq</em> oleh &#703;Al&#299; Mu&#7717;ammad al-Bij&#257;w&#299;. Cet. ke-1. 4 jilid. Beirut: D&#257;r al-Ma&#703;rifah, 1382 H/1963 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)</p><p>&ndash; Al-F&#257;s&#299;, Taqiyudd&#299;n Muhammad ibn Ahmad ibn &lsquo;Al&#299;. <em><i>Juz&rsquo;un F&#299;hi &lsquo;Aq&#299;dah Ibn &lsquo;Arab&#299; wa Hay&#257;tuh wa M&#257; Q&#257;lahu al-Mu&rsquo;arrikh&#363;n wa al-&lsquo;Ulam&#257;&rsquo;u F&#299;h</i></em>. Di-<em>tahqiq</em> oleh &lsquo;Al&#299; Hasan &lsquo;Al&#299; &lsquo;Abd al-Ham&#299;d. Cet. ke-1. Damm&#257;m: D&#257;r Ibn al-Jawz&#299;, 1404 H/1984 M.</p><p>&ndash; Al-Q&#257;dh&#299;, Ahmad ibn &lsquo;Abd ar-Rahm&#257;n ibn &lsquo;Uthm&#257;n. <em><i>Da&lsquo;wah at-Taqr&#299;b baina al-Ady&#257;n: Dir&#257;sah Naqdiyyah f&#299; Dhaw&rsquo;i al-&lsquo;Aq&#299;dah al-Isl&#257;miyyah</i></em>. Cet. ke-1. 2 jilid. Damm&#257;m: D&#257;r Ibn al-Jawz&#299;, 1421 H/2000 M.</p><p>&ndash; Nuwaihidh, &lsquo;&#256;dil. <em><i>Mu&lsquo;jam al-Mufassir&#299;n: min Shadr al-Isl&#257;m hatt&#257; al-&lsquo;Ashr al-H&#257;dhir</i></em>. Cet. ke-3. 2 jilid. Beirut: Mu&rsquo;assasah Nuwaihidh at-Tsaq&#257;fiyyah, 1409 H/1988 M.</p></div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/antara-ibnul-arabi-dengan-ibnu-arabi-bag-1-166893.html</guid> <pubDate>Wed, 19 Aug 2026 11:30:16 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Muhammad Zia Abdurrofi)</author> </item> <item> <title>Siapa Yang Pertama Kali Mengadakan Maulid Nabi? Ini Penjelasan Imam As-Suyuthi</title> <description>Siapa Yang Pertama Kali Mengadakan Maulid Nabi? Ini Penjelasan Imam As-Suyuthi. Kincai Media— Siapa yang Pertama Kali Mengadakan Maulid Nabi? Pasalnya, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW telah menjadi salah satu tradisi keagamaan yan...</description> <media:thumbnail url="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/maulid-Nabiii.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/siapa-yang-pertama-kali-mengadakan-maulid-nabi-ini-penjelasan-imam-as-suyuthi-166892.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div> <p><a href="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/maulid-Nabiii.jpg" data-caption=""><img width="696" height="380" src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/maulid-Nabiii.jpg" srcset="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/maulid-Nabiii-696x380.jpg 696w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/maulid-Nabiii-640x349.jpg 640w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/maulid-Nabiii-768x419.jpg 768w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/maulid-Nabiii-769x420.jpg 769w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/maulid-Nabiii.jpg 1024w" sizes=" 696px) 100vw, 696px" alt="Siapa yang Pertama Kali Mengadakan Maulid Nabi? Ini Penjelasan Imam as-Suyuthi" title="maulid Nabiii"></a></p> <p><strong>Kincai Media</strong>&mdash; Siapa yang Pertama Kali Mengadakan Maulid Nabi? Pasalnya, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW telah menjadi salah satu tradisi keagamaan yang hidup di tengah masyarakat Muslim. Di <a href="https://bincangsyariah.com/tag/indonesia/" data-type="post_tag" data-id="54">Indonesia,</a> Maulid Nabi diperingati dengan beragam corak kegiatan, mulai dari pembacaan maulid, shalawat, pengajian, kajian sirah Nabi, hingga pemberian makanan kepada masyarakat.</p> <p>Namun, muncul pertanyaan yang kerap diperbincangkan: siapa orang yang pertama kali mengadakan seremoni Maulid Nabi?</p> <p>Pertanyaan ini perlu dijawab secara hati-hati. Sebab, istilah &ldquo;pertama kali&rdquo; dapat merujuk pada beragam corak peringatan. Dalam kitab <em><a href="https://www.islamweb.net/ar/library/content/130/206/%D8%AD%D8%B3%D9%86-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%82%D8%B5%D8%AF-%D9%81%D9%8A-%D8%B9%D9%85%D9%84-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%88%D9%84%D8%AF" data-type="link" data-id="https://www.islamweb.net/ar/library/content/130/206/%D8%AD%D8%B3%D9%86-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%82%D8%B5%D8%AF-%D9%81%D9%8A-%D8%B9%D9%85%D9%84-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%88%D9%84%D8%AF">Al-Hawi Lil Fatawa</a></em>, Imam Jalaluddin as-Suyuthi menyebut orang yang pertama kali mengadakan seremoni Maulid Nabi adalah penguasa Irbil, al-Malik al-Muzhaffar Abu Sa&rsquo;id Kukburi bin Zainuddin Ali bin Baktakin. Ia mengadakan Maulid dalam corak seremoni besar dan meriah. </p> <p><strong>Mengenal Al-Muzhaffar, Penguasa Irbil yang Mengadakan Maulid</strong></p> <p>Dalam <em>al-Hawi lil Fatawi,</em> Imam as-Suyuthi menulis:</p> <p>&#1608;&#1571;&#1608;&#1604; &#1605;&#1606; &#1571;&#1581;&#1583;&#1579; &#1601;&#1593;&#1604; &#1584;&#1604;&#1603; &#1589;&#1575;&#1581;&#1576; &#1573;&#1585;&#1576;&#1604; &#1575;&#1604;&#1605;&#1604;&#1603; &#1575;&#1604;&#1605;&#1592;&#1601;&#1585; &#1571;&#1576;&#1608; &#1587;&#1593;&#1610;&#1583; &#1603;&#1608;&#1603;&#1576;&#1585;&#1610; &#1576;&#1606; &#1586;&#1610;&#1606; &#1575;&#1604;&#1583;&#1610;&#1606; &#1593;&#1604;&#1610; &#1576;&#1606; &#1576;&#1603;&#1578;&#1603;&#1610;&#1606;&#1548; &#1571;&#1581;&#1583; &#1575;&#1604;&#1605;&#1604;&#1608;&#1603; &#1575;&#1604;&#1571;&#1605;&#1580;&#1575;&#1583; &#1608;&#1575;&#1604;&#1603;&#1576;&#1585;&#1575;&#1569; &#1575;&#1604;&#1571;&#1580;&#1608;&#1575;&#1583;&#1548; &#1608;&#1603;&#1575;&#1606; &#1604;&#1607; &#1570;&#1579;&#1575;&#1585; &#1581;&#1587;&#1606;&#1577;&#1548; &#1608;&#1607;&#1608; &#1575;&#1604;&#1584;&#1610; &#1593;&#1605;&#1585; &#1575;&#1604;&#1580;&#1575;&#1605;&#1593; &#1575;&#1604;&#1605;&#1592;&#1601;&#1585;&#1610; &#1576;&#1587;&#1601;&#1581; &#1602;&#1575;&#1587;&#1610;&#1608;&#1606;</p> <p><em>Artinya; &ldquo;Orang pertama yang mengadakan perihal tersebut adalah penguasa Irbil, al-Malik al-Muzhaffar Abu Sa&rsquo;id Kukburi bin Zainuddin Ali bin Baktakin. Ia merupakan salah seorang raja yang mulia dan pemimpin yang dermawan. Ia mempunyai beragam peninggalan yang baik.&rdquo;</em></p> <p>Al-Muzhaffar merupakan penguasa Irbil, sebuah daerah yang sekarang berada di area Kurdistan Irak. Ia dikenal dalam sejumlah sumber sejarah sebagai penguasa yang memberikan perhatian besar terhadap kegiatan keagamaan dan sosial.</p> <p>Pernyataan Imam as-Suyuthi tersebut krusial dicermati. Yang dimaksud &ldquo;pertama&rdquo; dalam konteks ini adalah tokoh yang pertama kali mengadakan seremoni Maulid dalam corak besar dan terorganisasi sebagaimana yang sedang dibahasnya, bukan berfaedah tidak pernah ada pembicaraan alias corak penghormatan terhadap kelahiran Nabi sebelum masa al-Muzhaffar.</p> <p>Imam as-Suyuthi kemudian mengutip keterangan Ibnu Katsir mengenai seremoni Maulid yang diselenggarakan al-Muzhaffar.</p> <p>&#1603;&#1575;&#1606; &#1610;&#1593;&#1605;&#1604; &#1575;&#1604;&#1605;&#1608;&#1604;&#1583; &#1575;&#1604;&#1588;&#1585;&#1610;&#1601; &#1601;&#1610; &#1585;&#1576;&#1610;&#1593; &#1575;&#1604;&#1571;&#1608;&#1604; &#1608;&#1610;&#1581;&#1578;&#1601;&#1604; &#1576;&#1607; &#1575;&#1581;&#1578;&#1601;&#1575;&#1604;&#1575; &#1607;&#1575;&#1574;&#1604;&#1575;&#1548; &#1608;&#1603;&#1575;&#1606; &#1588;&#1607;&#1605;&#1575; &#1588;&#1580;&#1575;&#1593;&#1575; &#1576;&#1591;&#1604;&#1575; &#1593;&#1575;&#1602;&#1604;&#1575; &#1593;&#1575;&#1604;&#1605;&#1575; &#1593;&#1575;&#1583;&#1604;&#1575;&#1548; &#1585;&#1581;&#1605;&#1607; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1608;&#1571;&#1603;&#1585;&#1605; &#1605;&#1579;&#1608;&#1575;&#1607;</p> <p><em>Artinya; &ldquo;Ia biasa mengadakan Maulid yang mulia pada bulan Rabiulawal dan merayakannya dengan seremoni yang sangat besar. Ia adalah seorang yang berbudi pekerti besar, pemberani, kesatria, berakal, berilmu, dan adil. Semoga Allah merahmatinya dan memuliakan tempat kembalinya.&rdquo;</em></p> <p>Keterangan tersebut menunjukkan bahwa peringatan Maulid pada masa al-Muzhaffar bukan sekadar kegiatan sederhana. Perayaan itu diselenggarakan secara besar-besaran dan melibatkan beragam kalangan, termasuk ustadz dan kaum sufi.</p> <p>Bahkan, seremoni tersebut menjadi bagian dari kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat di bawah pemerintahannya.</p> <p>Masih mengutip keterangan Ibnu Katsir, Imam as-Suyuthi menjelaskan bahwa seorang ustadz berjulukan Abu al-Khattab Ibnu Dihyah menyusun sebuah kitab unik tentang Maulid Nabi untuk al-Muzhaffar.</p> <p>&#1608;&#1602;&#1583; &#1589;&#1606;&#1601; &#1604;&#1607; &#1575;&#1604;&#1588;&#1610;&#1582; &#1571;&#1576;&#1608; &#1575;&#1604;&#1582;&#1591;&#1575;&#1576; &#1575;&#1576;&#1606; &#1583;&#1581;&#1610;&#1577; &#1605;&#1580;&#1604;&#1583;&#1575; &#1601;&#1610; &#1575;&#1604;&#1605;&#1608;&#1604;&#1583; &#1575;&#1604;&#1606;&#1576;&#1608;&#1610; &#1587;&#1605;&#1575;&#1607; (&#1575;&#1604;&#1578;&#1606;&#1608;&#1610;&#1585; &#1601;&#1610; &#1605;&#1608;&#1604;&#1583; &#1575;&#1604;&#1576;&#1588;&#1610;&#1585; &#1575;&#1604;&#1606;&#1584;&#1610;&#1585;)&#1548; &#1601;&#1571;&#1580;&#1575;&#1586;&#1607; &#1593;&#1604;&#1609; &#1584;&#1604;&#1603; &#1576;&#1571;&#1604;&#1601; &#1583;&#1610;&#1606;&#1575;&#1585;</p> <p><em>Artinya; &ldquo;Syekh Abu al-Khattab Ibnu Dihyah kemudian menyusun sebuah kitab unik untuknya mengenai Maulid Nabi, yang diberi titel at-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir. Sebagai penghargaan atas karya tersebut, sang raja memberinya bingkisan sebesar seribu dinar.&rdquo;</em></p> <p>Keterangan ini juga disebutkan oleh Ibnu Khallikan dalam riwayat hidup Abu al-Khattab Ibnu Dihyah. Menurut Ibnu Khallikan, Ibnu Dihyah merupakan salah seorang ustadz terkemuka yang datang dari Maghrib. Dalam perjalanannya, dia melewati Irbil pada 604 H dan mendapati al-Muzhaffar memberikan perhatian besar terhadap peringatan Maulid Nabi.</p> <p>Ibnu Dihyah kemudian menyusun kitab at-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir dan membacakannya di hadapan sang penguasa. Atas karya tersebut, al-Muzhaffar memberikan bingkisan sebesar seribu dinar.</p> <p>Ibnu Khallikan apalagi menyebut bahwa kitab tersebut kemudian dibacakan di hadapan sang sultan dalam enam majelis pada 625 H.</p> <p><strong>Jamuan Maulid al-Muzhaffar</strong></p> <p>Besarnya seremoni Maulid yang diselenggarakan al-Muzhaffar juga digambarkan oleh Sibth Ibnu al-Jauzi dalam Mir&rsquo;at az-Zaman.</p> <p>Ia meriwayatkan kesaksian seseorang yang pernah menghadiri jamuan Maulid sang penguasa. Dalam salah satu perayaan, disebutkan terdapat lima ribu kepala kambing yang dipanggang, sepuluh ribu ekor ayam, seratus ekor kuda, seratus ribu mangkuk, dan tiga puluh ribu piring makanan manis.</p> <p>Tentu angka-angka tersebut menggambarkan sungguh besar skala jamuan yang diselenggarakan.</p> <p>Sibth Ibnu al-Jauzi juga mencatat bahwa pada seremoni tersebut berkumpul para ustadz terkemuka dan kaum sufi. Al-Muzhaffar memberikan busana dan beragam bingkisan kepada mereka.</p> <p>Untuk kaum sufi, dia mengadakan majelis sama&lsquo; yang berjalan sejak siang hingga fajar. Dalam riwayat tersebut disebutkan pula bahwa al-Muzhaffar ikut menari berbareng mereka.</p> <p>Keterangan ini menunjukkan bahwa corak seremoni Maulid pada masa itu mempunyai corak yang unik sesuai dengan budaya keagamaan masyarakat dan lingkungan sosial pada zamannya.</p> <p>Lebih jauh, Sibth Ibnu al-Jauzi juga mencatat sejumlah pengeluaran al-Muzhaffar di luar seremoni Maulid. Disebutkan bahwa dia mengeluarkan 300 ribu dinar setiap tahun untuk seremoni Maulid. Ia juga mempunyai rumah yang digunakan untuk menjamu para pendatang dari beragam daerah, dengan biaya sekitar 100 ribu dinar setiap tahun.</p> <p>Selain itu, dia disebut mengeluarkan 200 ribu dinar setiap tahun untuk menebus tawanan dari pihak Franka. Ia juga mengeluarkan 30 ribu dinar untuk kepentingan dua Tanah Suci dan penyediaan air di sepanjang jalur Hijaz.</p> <p>Di kembali kemegahan seremoni Maulid, terdapat kisah menarik mengenai kehidupan pribadi al-Muzhaffar. Istrinya, Rabi&rsquo;ah Khatun binti Ayyub, saudari Sultan Shalahuddin al-Ayyubi, menceritakan bahwa busana yang dikenakan al-Muzhaffar terbuat dari kain kasar yang nilainya tidak sampai lima dirham.</p> <p>Ketika istrinya menegurnya mengenai busana tersebut, al-Muzhaffar menjawab:</p> <p>&#1604;&#1576;&#1587;&#1610; &#1579;&#1608;&#1576;&#1575; &#1576;&#1582;&#1605;&#1587;&#1577; &#1608;&#1571;&#1578;&#1589;&#1583;&#1602; &#1576;&#1575;&#1604;&#1576;&#1575;&#1602;&#1610; &#1582;&#1610;&#1585; &#1605;&#1606; &#1571;&#1606; &#1571;&#1604;&#1576;&#1587; &#1579;&#1608;&#1576;&#1575; &#1605;&#1579;&#1605;&#1606;&#1575; &#1608;&#1571;&#1583;&#1593; &#1575;&#1604;&#1601;&#1602;&#1610;&#1585; &#1608;&#1575;&#1604;&#1605;&#1587;&#1603;&#1610;&#1606;</p> <p><em>Artinya; &ldquo;Aku memakai busana seharga lima dirham dan menyedekahkan sisanya lebih baik bagiku daripada memakai busana yang mahal sementara saya membiarkan orang fakir dan miskin.&rdquo;</em></p> <p>Kisah ini setidaknya menunjukkan bahwa dalam riwayat yang dinukil para ulama, al-Muzhaffar tidak hanya dikenal lantaran kemegahan seremoni yang diselenggarakannya, tetapi juga lantaran perhatian terhadap masyarakat dan kaum yang membutuhkan.</p> <p><strong>Pandangan Imam as-Suyuthi tentang Maulid</strong></p> <p>Dalam <em>al-Hawi lil Fatawi,</em> Imam as-Suyuthi tidak berakhir pada pencatatan sejarah. Ia juga membahas norma peringatan Maulid Nabi. </p> <p>Menurutnya, andaikan peringatan Maulid diisi dengan membaca Al-Qur&rsquo;an, mempelajari sirah Nabi Muhammad SAW, memperbanyak shalawat, memberikan makanan, dan beragam kebaikan amal lainnya, maka kegiatan tersebut dapat dikategorikan sebagai bid&rsquo;ah hasanah, selama tidak disertai perkara-perkara yang bertentangan dengan syariat.</p> <p>Pandangan ini berangkaian dengan langkah as-Suyuthi memandang Maulid sebagai sebuah wadah yang dapat digunakan untuk mengerjakan beragam kebaikan saleh.</p> <p>Karena itu, yang menjadi perhatian bukan semata-mata nama alias corak seremoni, melainkan isi kegiatan, niat, serta kesesuaiannya dengan ketentuan syariat.</p> <p>Pandangan mengenai Maulid juga dibahas oleh ustadz lain. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, misalnya, memberikan penjelasan dengan mempertimbangkan unsur-unsur yang terdapat dalam penyelenggaraan Maulid. Menurutnya, jika kegiatan tersebut diisi dengan perkara-perkara yang baik dan dijauhkan dari kemungkaran, maka dia dapat memperoleh nilai kebaikan.</p> <div> <p><a href="https://bit.ly/SertifikasiHalalGratisEBI" target="_blank" rel="noopener noreferrer"> <img src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-15-at-20.44.10.jpeg" alt="Sertifikasi Halal"> </a> </p> </div> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/siapa-yang-pertama-kali-mengadakan-maulid-nabi-ini-penjelasan-imam-as-suyuthi-166892.html</guid> <pubDate>Wed, 19 Aug 2026 11:30:13 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Zainuddin Lubis)</author> </item> <item> <title>Anjuran Merayakan Maulid Nabi Menurut Imam Jalaluddin As-Suyuthi</title> <description>Anjuran Merayakan Maulid Nabi Menurut Imam Jalaluddin As-Suyuthi. Kincai Media– Setiap memasuki bulan Rabiul Awal, umat Islam di beragam bagian bumi kembali memperbincangkan dan merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Di ...</description> <media:thumbnail url="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/maulid-Nabi.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/anjuran-merayakan-maulid-nabi-menurut-imam-jalaluddin-as-suyuthi-166891.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div> <div><figure><a href="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/maulid-Nabi.jpg" data-caption="Anjuran Merayakan Maulid Nabi Menurut Imam Jalaluddin as-Suyuthi"><img width="696" height="380" src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/maulid-Nabi.jpg" srcset="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/maulid-Nabi-696x380.jpg 696w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/maulid-Nabi-640x349.jpg 640w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/maulid-Nabi-768x419.jpg 768w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/maulid-Nabi-769x420.jpg 769w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/maulid-Nabi.jpg 1024w" sizes=" 696px) 100vw, 696px" alt="Anjuran Merayakan Maulid Nabi Menurut Imam Jalaluddin as-Suyuthi" title="Anjuran Merayakan Maulid Nabi Menurut Imam Jalaluddin as-Suyuthi"></a>Anjuran Merayakan Maulid Nabi Menurut Imam Jalaluddin as-Suyuthi</figure></div> <p><strong>Kincai Media</strong>&ndash; Setiap memasuki bulan Rabiul Awal, umat Islam di beragam bagian bumi kembali memperbincangkan dan merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Di tengah masyarakat <a href="https://bincangsyariah.com/tag/bekerja-dengan-non-muslim/" data-type="post_tag" data-id="13702">Muslim</a>, khususnya di Indonesia, peringatan merayakan Maulid Nabi biasanya diisi dengan pembacaan Al-Qur&rsquo;an, shalawat, pembacaan sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW, pengajian, serta beragam corak infak dan pemberian makanan.</p> <p>Namun, gimana sebenarnya norma merayakan dan memperingati Maulid Nabi menurut perspektif fikih?</p> <p>Persoalan ini telah dibahas oleh sejumlah ustadz sejak beratus-ratus tahun silam. Salah satu ustadz yang secara unik membahasnya adalah Imam Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi (w. 911 H) dalam kitab <em><a href="https://www.islamweb.net/ar/library/content/130/206/%D8%AD%D8%B3%D9%86-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%82%D8%B5%D8%AF-%D9%81%D9%8A-%D8%B9%D9%85%D9%84-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%88%D9%84%D8%AF" data-type="link" data-id="https://www.islamweb.net/ar/library/content/130/206/%D8%AD%D8%B3%D9%86-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%82%D8%B5%D8%AF-%D9%81%D9%8A-%D8%B9%D9%85%D9%84-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%88%D9%84%D8%AF">al-Hawi lil Fatawi</a></em>, pada pembahasan yang diberi titel <em>Husn al-Maqshid fi &lsquo;Amal al-Maulid (Tujuan yang Baik dalam Pelaksanaan Maulid).</em></p> <p>Menurut Imam as-Suyuthi menilai bahwa penyelenggaraan Maulid dalam corak berkumpul, membaca Al-Qur&rsquo;an, menceritakan sejarah Nabi, kemudian menyajikan makanan, merupakan bid&rsquo;ah hasanah yang pelakunya memperoleh pahala, selama kegiatan tersebut tidak disertai kemaksiatan.</p> <p>Lebih jauh, Imam as-Suyuthi membuka pembahasannya dengan menjelaskan pertanyaan yang diajukan kepadanya mengenai norma Maulid Nabi:</p> <p>&#1575;&#1604;&#1581;&#1605;&#1583; &#1604;&#1604;&#1607; &#1608;&#1587;&#1604;&#1575;&#1605; &#1593;&#1604;&#1609; &#1593;&#1576;&#1575;&#1583;&#1607; &#1575;&#1604;&#1584;&#1610;&#1606; &#1575;&#1589;&#1591;&#1601;&#1609;&#1548; &#1608;&#1576;&#1593;&#1583;&#1548; &#1601;&#1602;&#1583; &#1608;&#1602;&#1593; &#1575;&#1604;&#1587;&#1572;&#1575;&#1604; &#1593;&#1606; &#1593;&#1605;&#1604; &#1575;&#1604;&#1605;&#1608;&#1604;&#1583; &#1575;&#1604;&#1606;&#1576;&#1608;&#1610; &#1601;&#1610; &#1588;&#1607;&#1585; &#1585;&#1576;&#1610;&#1593; &#1575;&#1604;&#1571;&#1608;&#1604;&#1548; &#1605;&#1575; &#1581;&#1603;&#1605;&#1607; &#1605;&#1606; &#1581;&#1610;&#1579; &#1575;&#1604;&#1588;&#1585;&#1593;&#1567; &#1608;&#1607;&#1604; &#1607;&#1608; &#1605;&#1581;&#1605;&#1608;&#1583; &#1571;&#1608; &#1605;&#1584;&#1605;&#1608;&#1605;&#1567; &#1608;&#1607;&#1604; &#1610;&#1579;&#1575;&#1576; &#1601;&#1575;&#1593;&#1604;&#1607; &#1571;&#1608; &#1604;&#1575;&#1567;</p> <p><em>&ldquo;Segala puji bagi Allah dan keselamatan semoga tercurah kepada hamba-hamba-Nya yang telah dipilih-Nya. Amma ba&rsquo;du, telah diajukan pertanyaan mengenai penyelenggaraan Maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal. Bagaimanakah hukumnya menurut syariat? Apakah dia merupakan sesuatu yang terpuji alias tercela? Dan apakah orang yang melaksanakannya memperoleh pahala alias tidak?&rdquo; (Imam Suyuthi, Al-Hawi lil Fatawa, (Beirut: Darul Fikr lit Thaba&rsquo;ah wan Nasyr, 2004), Jilid I, laman 222.)</em></p> <p>Imam as-Suyuthi kemudian memberikan jawaban:</p> <p>&#1575;&#1604;&#1580;&#1608;&#1575;&#1576;: &#1593;&#1606;&#1583;&#1610; &#1571;&#1606; &#1571;&#1589;&#1604; &#1593;&#1605;&#1604; &#1575;&#1604;&#1605;&#1608;&#1604;&#1583; &#1575;&#1604;&#1584;&#1610; &#1607;&#1608; &#1575;&#1580;&#1578;&#1605;&#1575;&#1593; &#1575;&#1604;&#1606;&#1575;&#1587; &#1608;&#1602;&#1585;&#1575;&#1569;&#1577; &#1605;&#1575; &#1578;&#1610;&#1587;&#1585; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1602;&#1585;&#1570;&#1606; &#1608;&#1585;&#1608;&#1575;&#1610;&#1577; &#1575;&#1604;&#1571;&#1582;&#1576;&#1575;&#1585; &#1575;&#1604;&#1608;&#1575;&#1585;&#1583;&#1577; &#1601;&#1610; &#1605;&#1576;&#1583;&#1571; &#1571;&#1605;&#1585; &#1575;&#1604;&#1606;&#1576;&#1610; &#1589;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607; &#1608;&#1587;&#1604;&#1605; &#1608;&#1605;&#1575; &#1608;&#1602;&#1593; &#1601;&#1610; &#1605;&#1608;&#1604;&#1583;&#1607; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1570;&#1610;&#1575;&#1578;&#1548; &#1579;&#1605; &#1610;&#1605;&#1583; &#1604;&#1607;&#1605; &#1587;&#1605;&#1575;&#1591; &#1610;&#1571;&#1603;&#1604;&#1608;&#1606;&#1607; &#1608;&#1610;&#1606;&#1589;&#1585;&#1601;&#1608;&#1606; &#1605;&#1606; &#1594;&#1610;&#1585; &#1586;&#1610;&#1575;&#1583;&#1577; &#1593;&#1604;&#1609; &#1584;&#1604;&#1603;&#1548; &#1607;&#1608; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1576;&#1583;&#1593; &#1575;&#1604;&#1581;&#1587;&#1606;&#1577; &#1575;&#1604;&#1578;&#1610; &#1610;&#1579;&#1575;&#1576; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607;&#1575; &#1589;&#1575;&#1581;&#1576;&#1607;&#1575; &#1604;&#1605;&#1575; &#1601;&#1610;&#1607; &#1605;&#1606; &#1578;&#1593;&#1592;&#1610;&#1605; &#1602;&#1583;&#1585; &#1575;&#1604;&#1606;&#1576;&#1610; &#1589;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607; &#1608;&#1587;&#1604;&#1605; &#1608;&#1573;&#1592;&#1607;&#1575;&#1585; &#1575;&#1604;&#1601;&#1585;&#1581; &#1608;&#1575;&#1604;&#1575;&#1587;&#1578;&#1576;&#1588;&#1575;&#1585; &#1576;&#1605;&#1608;&#1604;&#1583;&#1607; &#1575;&#1604;&#1588;&#1585;&#1610;&#1601;.</p> <p>&ldquo;Jawaban: Menurut pendapat saya, pada dasarnya penyelenggaraan Maulid&mdash;yaitu berkumpulnya orang-orang, membaca ayat-ayat Al-Qur&rsquo;an yang mudah dibaca, meriwayatkan berita-berita tentang permulaan kehidupan Nabi &#65018; dan beragam tanda-tanda yang terjadi ketika kelahiran beliau, kemudian disediakan hidangan untuk mereka makan, lampau mereka pulang tanpa melakukan tambahan apa pun di luar perihal tersebut&mdash;merupakan bid&lsquo;ah yang baik (<em>bid&lsquo;ah hasanah</em>), yang pelakunya mendapatkan pahala. Hal itu lantaran di dalamnya terdapat pengagungan terhadap kedudukan Nabi &#65018;, serta menampakkan kegembiraan dan rasa suka cita atas kelahiran beliau yang mulia.&rdquo; (Imam Suyuthi, <a href="https://www.islamweb.net/ar/library/content/130/206/%D8%AD%D8%B3%D9%86-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%82%D8%B5%D8%AF-%D9%81%D9%8A-%D8%B9%D9%85%D9%84-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%88%D9%84%D8%AF" data-type="link" data-id="https://www.islamweb.net/ar/library/content/130/206/%D8%AD%D8%B3%D9%86-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%82%D8%B5%D8%AF-%D9%81%D9%8A-%D8%B9%D9%85%D9%84-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%88%D9%84%D8%AF"><em>Al-Hawi lil Fatawa</em>,</a> Jilid I, laman 222)</p> <p>Pernyataan tersebut menjadi salah satu dasar krusial bagi ustadz yang membolehkan apalagi menganjurkan peringatan Maulid Nabi. Yang perlu diperhatikan, Imam as-Suyuthi mengatakan bahwa nilai adalah corak kegiatan yang dilakukan dalam peringatan tersebut, seperti membaca Al-Qur&rsquo;an, mempelajari sejarah Nabi, bershalawat, dan memberi makan orang lain.</p> <p>Salah satu argumen Imam as-Suyuthi memandang Maulid sebagai bid&rsquo;ah hasanah adalah lantaran kegiatan tersebut menjadi sarana untuk menampakkan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.</p> <p>Kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu nikmat terbesar bagi umat manusia. Melalui beliau, Allah SWT menyampaikan risalah Islam dan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju sinar tauhid.</p> <p>Allah SWT berfirman:</p> <p>&#1602;&#1615;&#1604;&#1618; &#1576;&#1616;&#1601;&#1614;&#1590;&#1618;&#1604;&#1616; &#1575;&#1604;&#1604;&#1614;&#1617;&#1607;&#1616; &#1608;&#1614;&#1576;&#1616;&#1585;&#1614;&#1581;&#1618;&#1605;&#1614;&#1578;&#1616;&#1607;&#1616; &#1601;&#1614;&#1576;&#1616;&#1584;&#1614;&#1648;&#1604;&#1616;&#1603;&#1614; &#1601;&#1614;&#1604;&#1618;&#1610;&#1614;&#1601;&#1618;&#1585;&#1614;&#1581;&#1615;&#1608;&#1575; &#1607;&#1615;&#1608;&#1614; &#1582;&#1614;&#1610;&#1618;&#1585;&#1612; &#1605;&#1616;&#1605;&#1614;&#1617;&#1575; &#1610;&#1614;&#1580;&#1618;&#1605;&#1614;&#1593;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;</p> <p><em>Artinya; &ldquo;Katakanlah, &lsquo;Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.&rsquo;&rdquo; QS Yunus [10]: 58.</em></p> <p>Para ustadz yang membolehkan Maulid memahami bahwa kelahiran Rasulullah SAW merupakan nikmat yang sangat besar. Karena itu, menampakkan kegembiraan dengan cara-cara yang dibenarkan hukum dapat menjadi corak rasa syukur kepada Allah SWT.</p> <p><strong>Nabi SAW Sendiri Mengingat Hari Kelahirannya</strong></p> <p>Salah satu sabda yang sering dijadikan dasar pembahasan mengenai Maulid adalah sabda tentang puasa hari Senin.</p> <p>Ketika Rasulullah SAW ditanya mengenai puasa pada hari Senin, beliau menjawab:</p> <p>&#1584;&#1614;&#1575;&#1603;&#1614; &#1610;&#1614;&#1608;&#1618;&#1605;&#1612; &#1608;&#1615;&#1604;&#1616;&#1583;&#1618;&#1578;&#1615; &#1601;&#1616;&#1610;&#1607;&#1616;&#1548; &#1608;&#1614;&#1610;&#1614;&#1608;&#1618;&#1605;&#1612; &#1576;&#1615;&#1593;&#1616;&#1579;&#1618;&#1578;&#1615; &#1571;&#1614;&#1608;&#1618; &#1571;&#1615;&#1606;&#1618;&#1586;&#1616;&#1604;&#1614; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1614;&#1617; &#1601;&#1616;&#1610;&#1607;&#1616;</p> <p><em>Artinya; &ldquo;Itu adalah hari ketika saya dilahirkan dan hari ketika saya diutus alias diturunkan wahyu kepadaku.&rdquo;(HR, Imam Muslim)</em></p> <p>Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengaitkan ibadah dengan hari kelahirannya. Dalam konteks itulah sebagian ustadz kemudian melakukan <em>takhrij</em> norma Maulid melalui prinsip syukur atas nikmat Allah. Lebih jauh, Imam Jalaluddin as-Suyuthi juga mengutip pendapat al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani mengenai Maulid.</p> <p>Ibnu Hajar menjelaskan:</p> <p>&#1571;&#1589;&#1604; &#1593;&#1605;&#1604; &#1575;&#1604;&#1605;&#1608;&#1604;&#1583; &#1576;&#1583;&#1593;&#1577; &#1604;&#1605; &#1578;&#1606;&#1602;&#1604; &#1593;&#1606; &#1571;&#1581;&#1583; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1587;&#1604;&#1601; &#1575;&#1604;&#1589;&#1575;&#1604;&#1581; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1602;&#1585;&#1608;&#1606; &#1575;&#1604;&#1579;&#1604;&#1575;&#1579;&#1577;&#1548; &#1608;&#1604;&#1603;&#1606;&#1607;&#1575; &#1605;&#1593; &#1584;&#1604;&#1603; &#1602;&#1583; &#1575;&#1588;&#1578;&#1605;&#1604;&#1578; &#1593;&#1604;&#1609; &#1605;&#1581;&#1575;&#1587;&#1606; &#1608;&#1590;&#1583;&#1607;&#1575;&#1548; &#1601;&#1605;&#1606; &#1578;&#1581;&#1585;&#1609; &#1601;&#1610; &#1593;&#1605;&#1604;&#1607;&#1575; &#1575;&#1604;&#1605;&#1581;&#1575;&#1587;&#1606; &#1608;&#1578;&#1580;&#1606;&#1576; &#1590;&#1583;&#1607;&#1575; &#1603;&#1575;&#1606; &#1576;&#1583;&#1593;&#1577; &#1581;&#1587;&#1606;&#1577; &#1608;&#1573;&#1604;&#1575; &#1601;&#1604;&#1575;.</p> <p><em>Artinya; &ldquo;Pada dasarnya penyelenggaraan Maulid merupakan bid&rsquo;ah yang tidak dinukil dari seorang pun dari kalangan salaf saleh pada tiga generasi pertama. Namun, kegiatan tersebut mengandung beragam kebaikan dan sebaliknya juga dapat mengandung hal-hal yang bertentangan dengan syariat. </em></p> <p><em>Maka, siapa yang berupaya memasukkan hal-hal yang baik dan menghindari hal-hal yang bertentangan dengan syariat, Maulid yang dilakukannya menjadi bid&rsquo;ah hasanah. Jika tidak, maka tidak demikian.&rdquo;</em></p> <p>Ibnu Hajar kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan sabda tentang puasa Asyura. Ketika Nabi SAW datang ke Madinah, beliau mengetahui bahwa orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura sebagai corak syukur lantaran Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan menenggelamkan Fir&rsquo;aun.</p> <p>Dari peristiwa tersebut, Ibnu Hajar memahami adanya prinsip berterima kasih kepada Allah atas suatu nikmat pada hari tertentu, kemudian melakukan corak ibadah yang sesuai sebagai ungkapan syukur.</p> <p>Menurutnya, beragam corak ibadah dapat menjadi ekspresi syukur, seperti membaca Al-Qur&rsquo;an, bersedekah, memberi makan, dan membaca puji-pujian kepada Nabi yang mendorong seseorang melakukan kebaikan.</p> <div> <p><a href="https://bit.ly/SertifikasiHalalGratisEBI" target="_blank" rel="noopener noreferrer"> <img src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-15-at-20.44.10.jpeg" alt="Sertifikasi Halal"> </a> </p> </div> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/anjuran-merayakan-maulid-nabi-menurut-imam-jalaluddin-as-suyuthi-166891.html</guid> <pubDate>Wed, 19 Aug 2026 11:00:23 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Zainuddin Lubis)</author> </item> <item> <title>Kisah Anak Kecil, Penyihir, Dan Rahib Sekaligus 30 Hikmah Penting Yang Patut Direnungkan</title> <description>Kisah Anak Kecil, Penyihir, Dan Rahib Sekaligus 30 Hikmah Penting Yang Patut Direnungkan. Kincai Media, JAKARTA— Pada suatu masa, seorang raja mempunyai seorang penyihir. Ketika penyihir itu telah lanjut usia, dia berbicara kepada sang raja, “Aku suda...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/ilustrasi-padang-pasir-_190422200116-580.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/kisah-anak-kecil-penyihir-dan-rahib-sekaligus-30-hikmah-penting-yang-patut-direnungkan-166890.html</link> <content:encoded><![CDATA[
        <p>Kincai Media,&nbsp;JAKARTA&mdash; Pada suatu masa, seorang raja mempunyai seorang penyihir. Ketika penyihir itu telah lanjut usia, dia berbicara kepada sang raja, &ldquo;Aku sudah tua. Karena itu, kirimkan kepadaku seorang anak muda agar saya mengajarinya pengetahuan sihir.&rdquo;</p><p>Raja pun mengirimkan seorang anak kepadanya untuk belajar sihir. Dalam perjalanan menuju tempat sang penyihir, anak itu berjumpa dengan seorang rahib. Ia duduk di hadapan rahib tersebut dan mendengarkan perkataannya. Ia pun tertarik dengan apa yang disampaikan sang rahib.</p> <p>Sejak saat itu, setiap kali hendak pergi kepada penyihir, anak tersebut terlebih dulu singgah menemui rahib dan duduk bersamanya. Ketika datang terlambat kepada penyihir, dia dipukul. Anak itu kemudian mengadukan perihal tersebut kepada rahib.</p><p>Sang rahib berbicara kepadanya, &ldquo;Jika Anda takut kepada penyihir, katakanlah, &lsquo;Aku terlambat lantaran keluargaku menahanku.&rsquo; Jika Anda takut kepada keluargamu, katakanlah, &lsquo;Aku terlambat lantaran penyihir menahanku.&rsquo;&rdquo;</p> <p>Suatu ketika, dalam perjalanannya, anak itu memandang seekor hewan besar yang menghalangi jalan dan membikin orang-orang tidak dapat melintas. Ia berbicara dalam hati, &ldquo;Hari ini saya bakal mengetahui, apakah aliran penyihir yang lebih baik alias aliran rahib yang lebih baik?&rdquo;</p><p>Ia kemudian mengambil sebuah batu dan berdoa, &ldquo;Ya Allah, jika aliran rahib lebih Engkau cintai daripada aliran penyihir, maka bunuhlah hewan ini agar orang-orang dapat melanjutkan perjalanan.&rdquo;</p><p>Anak itu melemparkan batu tersebut hingga hewan itu mati, dan orang-orang pun dapat melanjutkan perjalanan.</p><p>Anak itu kemudian mendatangi rahib dan menceritakan apa yang terjadi. Rahib berbicara kepadanya, &ldquo;Wahai anakku, hari ini Anda lebih baik dariku. Aku memandang bahwa urusanmu telah mencapai apa yang saya saksikan. Sesungguhnya Anda bakal diuji. Jika Anda mendapat ujian, jangan sekali-kali menunjukkan keberadaanku.&rdquo;</p><p>   Setelah itu, anak tersebut diberi keahlian untuk mengobati orang yang buta sejak lahir, penderita kusta, dan beragam macam penyakit. Berita tentang kemampuannya pun tersebar.</p>       
          
                  
        
        		
	 
		
		
	        
      
]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/kisah-anak-kecil-penyihir-dan-rahib-sekaligus-30-hikmah-penting-yang-patut-direnungkan-166890.html</guid> <pubDate>Tue, 18 Aug 2026 22:00:12 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Nashih Nashrullah)</author> </item> <item> <title>8 Pesan Berharga Di Zaman Merebaknya Fitnah Kekacauan Akhir Zaman </title> <description>8 Pesan Berharga Di Zaman Merebaknya Fitnah Kekacauan Akhir Zaman . Kincai Media, JAKARTA—Zaman dimana kita sekarang hidup dan berada adalah adalah masa ketika beragam macam tuduhan semakin merebak. Beragam ujian, kekacauan, ...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/049421400-1720412792-830-556.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/8-pesan-berharga-di-zaman-merebaknya-fitnah-kekacauan-akhir-zaman-166889.html</link> <content:encoded><![CDATA[<p><span>         Ilustrasi Kiamat.
      </span> </p><div data-sticky-container> <p>Kincai Media,&nbsp;JAKARTA&mdash;Zaman dimana kita sekarang hidup dan berada adalah adalah masa ketika beragam macam<a href="https://republika.co.id/tag/fitnah"> tuduhan </a>semakin merebak. Beragam ujian, kekacauan, perselisihan, dan perkara yang dapat mengguncang keagamaan muncul silih berganti.</p><p>Kondisi seperti ini menjadi peringatan bagi setiap Muslim agar semakin berhati-hati dalam menjaga kepercayaan dan tidak mudah terseret arus fitnah.</p> <p>Rasulullah SAW telah mengingatkan umatnya tentang dahsyatnya fitnah. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:</p><p>&#1576;&#1575;&#1583;&#1585;&#1608;&#1575; &#1576;&#1575;&#1604;&#1571;&#1593;&#1605;&#1575;&#1604; &#1601;&#1616;&#1578;&#1606;&#1611;&#1575; &#1603;&#1602;&#1591;&#1593; &#1575;&#1604;&#1604;&#1610;&#1604; &#1575;&#1604;&#1605;&#1592;&#1604;&#1605;&#1548; &#1610;&#1615;&#1589;&#1576;&#1581;&#1615; &#1575;&#1604;&#1585;&#1580;&#1604;&#1615; &#1605;&#1572;&#1605;&#1606;&#1611;&#1575;&#1548; &#1608;&#1610;&#1615;&#1605;&#1587;&#1610; &#1603;&#1575;&#1601;&#1585;&#1611;&#1575;&#1548; &#1608;&#1610;&#1615;&#1605;&#1587;&#1610; &#1605;&#1572;&#1605;&#1606;&#1611;&#1575; &#1608;&#1610;&#1589;&#1576;&#1581; &#1603;&#1575;&#1601;&#1585;&#1611;&#1575;&#1548; &#1610;&#1576;&#1610;&#1593;&#1615; &#1583;&#1610;&#1606;&#1614;&#1607; &#1576;&#1593;&#1585;&#1590;&#1613; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1583;&#1606;&#1610;&#1575;</p> <p>&ldquo;Bersegeralah melakukan amal-amal saleh sebelum datang beragam tuduhan yang ibaratkan potongan malam yang gelap gulita. Seseorang pada pagi hari tetap dalam keadaan beriman, tetapi pada sore harinya menjadi kafir. Pada sore hari dia tetap beriman, tetapi pada pagi harinya menjadi kafir. Ia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.&rdquo; (HR Muslim).</p><p>Hadis ini menggambarkan sungguh cepatnya tuduhan dapat memengaruhi manusia. Karena itu, seorang Muslim tidak boleh merasa kondusif dari ujian.</p><p>Ketika tuduhan merebak, ada sejumlah pesan krusial yang perlu dipegang agar tetap berada di jalan Allah SWT ialah sebagai berikut:</p><h2>Pertama, berlindung kepada Allah dari beragam fitnah</h2> <p>Langkah pertama adalah senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Nabi SAW bersabda:</p> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/8-pesan-berharga-di-zaman-merebaknya-fitnah-kekacauan-akhir-zaman-166889.html</guid> <pubDate>Tue, 18 Aug 2026 21:00:12 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Nashih Nashrullah)</author> </item> <item> <title>Situs Bongal Bikin Rontok Teori Orientalis Belanda, Islam Masuk Nusantara Dari Arab Bukan India</title> <description>Situs Bongal Bikin Rontok Teori Orientalis Belanda, Islam Masuk Nusantara Dari Arab Bukan India. Kincai Media,  Temuan sejumlah artefak mata duit antik beraksara Arab dan Persia dari Situs Bongal, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, berpot...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/temuan-temuan-dari-situs-bongal-kabupaten-tapanuli_260818153059-864.png"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/situs-bongal-bikin-rontok-teori-orientalis-belanda-islam-masuk-nusantara-dari-arab-bukan-india-166888.html</link> <content:encoded><![CDATA[
        <p>Kincai Media, &nbsp;Temuan sejumlah artefak mata duit antik beraksara Arab dan Persia dari Situs Bongal, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, berpotensi menulis ulang sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia. Karena untuk pertama kalinya, ada bukti artefaktual yang mengindikasikan hubungan langsung antara jazirah Arab dengan Nusantara di sekitar abad ke-7 masehi.</p><p>Artefak ini sudah sangat ditunggu-tunggu oleh para arkeolog dan sejarawan yang meneliti perkembangan Islam di Indonesia. Karena sampai saat ini, merujuk pada bukti arkeologis yang ada, ialah nisan antik di Pasai, Aceh, dan di Gresik, maka indikasi Islam sudah ada di Nusantara menjadi jauh lebih muda, ialah di abad ke-12 dan ke-13.</p> <p>Yang lebih mendalam lagi, para peneliti asing di abad ke 19 dan abad ke-20, dari temuan arkeologis yang terbatas itu, mematok bahwa Islam datang di Nusantara tidak dari sumbernya langsung, Arab Saudi, tapi pantai barat<a href="https://republika.co.id/tag/india"> India </a>maupun pantai timur India. Ini bagi sebagian ustadz Indonesia, dianggap 'merendahkan', merujuk apa yang<a href="https://republika.co.id/tag/buya-hamka"> Buya Hamka </a>sampaikan di satu seminar.</p><p>Genealogi teori masuknya Islam ke Indonesia via jalur India dibahas secara mendalam oleh<a href="https://republika.co.id/tag/gwj-drewes"> GWJ Drewes </a>dalam makalahnya 'New Light on the Coming of Islam to Indonesia?' dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 124 (1968), No. 4, Leiden, hlm. 433&ndash;459. Naskah ini merupakan terjemahan makalah yang dibacakan Drewes pada pertemuan Oosters Genootschap di Leiden, 27 Maret 1968.</p> <p>Drewes menggarisbawahi, sebelum berbincang soal teori, ada baiknya menyadari satu perihal sederhana yang jarang disebut: Sejarawan Asia Tenggara bekerja nyaris tanpa temuan fisik.</p><p>Drewes mengutip Paul Wheatley, yang dalam bukunya tentang Semenanjung Melayu menyesalkan daya rusak suasana tropis &mdash; curah hujan, serangga, jamur, dan laju pengendapan aluvial yang begitu cepat. Gabungan semuanya melenyapkan jejak kegiatan manusia begitu manusia pergi. Karena itu Wheatley terpaksa menyusun bukunya dari sumber tertulis: Yunani, India, Arab-Persia, dan Cina.</p><p>Kondisi yang sama menghantui kajian Islamisasi. "Persediaan informasi aktual kita mengenai periode paling awal Islam di Hindia Timur banget miskin," tulis Snouck Hurgronje membuka bagian pidato pengukuhannya di Leiden, 23 Januari 1907. Enam dasawarsa kemudian Drewes mengakui informasi baru memang bertambah, tetapi kelangkaannya belum teratasi.</p><p>Yang tersisa adalah benda-benda yang tidak mudah lapuk &mdash; terutama batu nisan. Menurut Drewes, nisan memberi keterangan yang terbatas tetapi dapat dipercaya, dan lebih dapat dipercaya daripada historiografi lokal, di mana ingatan tentang kehadiran Islam telah dikaburkan legenda sedemikian rupa sehingga sifatnya lebih membangun jiwa daripada merekam peristiwa.</p><p>Namun nisan pun bukan jaminan. Drewes menunjuk laporan Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan, 17&ndash;20 Maret 1963, sebagai contoh sungguh rapuhnya "data baru" jika tidak ditangani secara kritis. Pada satu nisan di Pase, Cowan sudah membaca nomor tahun 823 H (1420 M) pada 1940, sementara H M Zainuddin membacanya 622 H (1225 M). Pada nisan Putri Siti Hawa di Kuala Daya, Ismail Jakub membaca 11 Muharam 460 H (1067 M), Veltman membaca 11 Muharam 962 H (1554 M). Selisihnya berabad-abad, dan reproduksi inskripsinya tidak disertakan.</p>       
          
                  
        
        		
	 
		
		
	        
      
]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/situs-bongal-bikin-rontok-teori-orientalis-belanda-islam-masuk-nusantara-dari-arab-bukan-india-166888.html</guid> <pubDate>Tue, 18 Aug 2026 20:00:11 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Stevy maradona)</author> </item> <item> <title>Sholat Hajat Menurut Imam Al Ghazali, Apa Saja Surah Yang Dibaca?</title> <description>Sholat Hajat Menurut Imam Al Ghazali, Apa Saja Surah Yang Dibaca?. Kincai Media, Sholat rencana merupakan salah satu ibadah sunah yang dilakukan umat Islam ketika menghadapi kebutuhan, kesulitan, alias persoalan yang membutuhka...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/ilustrasi-pria-sedang-melakukan-tasyahud-akhir-dalam_251007114428-672.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/sholat-hajat-menurut-imam-al-ghazali-apa-saja-surah-yang-dibaca-166887.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div data-sticky-container> <p>Kincai Media,&nbsp;Sholat rencana merupakan salah satu ibadah sunah yang dilakukan umat Islam ketika menghadapi kebutuhan, kesulitan, alias persoalan yang memerlukan pertolongan Allah SWT.</p><p>Imam Al-Ghazali dalam <em>Ihya Ulumuddin</em> menjelaskan, sholat rencana bisa dilakukan sebanyak 12 rakaat, sementara sejumlah ustadz dari ajaran lain beranggapan dua alias empat rakaat.</p> <p><span>Dalam Ihya Ulumuddin, ustadz berjulukan komplit Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali tersebut mengungkapkan, &nbsp;sholat sunah rencana diperuntukkan bagi siapa saja yang tengah terhimpit beban atas suatu urusan alias terdesak oleh suatu kebutuhan dalam kemaslahatan kepercayaan maupun dunianya.</span><span></span></p><p> <span>Menurut Imam Al-Ghazal, sholat sunah ini terdiri dari 12 rakaat. Dalam setiap rakaatnya dianjurkan membaca surah Al-Fatihah, yang dilanjutkan dengan membaca ayat Kursi dan surah Al-Ikhlash. </span></p> <p><span>Seusai sholat, hendaknya bermohon dengan rencana (kebutuhan) yang dikehendaki.</span><span></span></p><p> <span>Mengenai hadist yang dijadikan rujukan sholat hajat, salah satunya hadits yang diriwayatkan Abu Abdillah Muhammad ibn Yazid ibn Majah al-Rab&#699;i al-Qazwini yang berkawan disebut Ibnu Majah.</span><span></span></p><p> <span>Usman bin Hunaif meriwayatkan bahwasannya ada seorang laki-laki buta datang kepada Nabi Muhammad SAW dan berkata, "Doakanlah saya agar Allah menyembuhkanku."</span><span></span></p><p> <span>Nabi Muhammad SAW bersabda, "Jika Anda mau, maka saya tangguhkan bagimu dan itu lebih baik, dan jika Anda mau, maka saya bakal doakan kamu."</span><span></span></p><div><video poster="https://static.republika.co.id/uploads/images/headline_slide/melaksanakan-sholat_231221171046-862.jpeg" preload="metadata" loop="loop" controls="controls" width="300" height="150" data-mce-fragment="1"><source src="https://static.republika.co.id/uploads/video/melaksanakan-sholat_231221171047-346.mp4" type="video/mp4"></source></video> <p>Melaksanakan sholat. (ilustrasi)</p> </div> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/sholat-hajat-menurut-imam-al-ghazali-apa-saja-surah-yang-dibaca-166887.html</guid> <pubDate>Tue, 18 Aug 2026 14:30:15 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (A.Syalaby Ichsan)</author> </item> <item> <title>Teguran Allah Untuk Nabi Ibrahim Usai Menolak Bantu Pemeluk Majusi</title> <description>Teguran Allah Untuk Nabi Ibrahim Usai Menolak Bantu Pemeluk Majusi. Kincai Media, KH Ahmad Bahauddin Nursalim alias Gus Baha mengisahkan sebuah riwayat yang menggambarkan luasnya kasih sayang Allah SWT kepada seluruh makhluk-N...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/reruntuhan-ur-kasdim-kota-ur-irak-kini-yang-diyakini_260526191606-140.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/teguran-allah-untuk-nabi-ibrahim-usai-menolak-bantu-pemeluk-majusi-166886.html</link> <content:encoded><![CDATA[<p><span>         Reruntuhan Ur Kasdim (Kota Ur, Irak kini) yang diyakini sebagai daerah tempat kelahiran Nabi Ibrahim AS.
      </span> </p><div data-sticky-container> <p>Kincai Media,&nbsp;<span>KH Ahmad Bahauddin Nursalim alias Gus Baha mengisahkan sebuah riwayat yang menggambarkan luasnya kasih sayang Allah SWT kepada seluruh makhluk-Nya. Dalam kisah tersebut, Nabi Ibrahim Alaihissalam pernah mendapat teguran dari Allah SWT setelah enggan memberi support alias makan seorang majusi yang datang meminta pertolongan.</span></p><p> <span>Dalam potongan video di media sosial, Gus Baha mengisahkan, banyak riwayat dari para sufi yang mengisahkan<a href="https://republika.co.id/tag/nabi-ibrahim"> Nabi Ibrahim </a>diminta tolong orang non Islam yang berakidah majusi.</span></p> <p> <span>Dikisahkan Gus Baha, Nabi Ibrahim pernah berjumpa orang majusi. Orang majusi tersebut berbicara kepada Nabi Ibrahmi, "Engkau sering memberi makan kepada orang-orang, bisakah engkau memberi makan saya sehari saja?"</span></p><p> <span>Nabi Ibrahim berbicara kepada orang majuisi itu, "Bisa saya beri makan tapi Anda kudu memeluk Islam."&nbsp;</span><span>Menurut Gus Baha, Nabi Ibrahim ketika itu berpandangan bahwa jika dia menolong orang Majusi artinya sama saja dengan menolong orang kafir.</span></p> <p> <span>Kemudian, orang Majusi itu meninggalkan Nabi Ibrahim yang tidak mau memberinya pertolongan berupa memberi makanan.</span></p> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/teguran-allah-untuk-nabi-ibrahim-usai-menolak-bantu-pemeluk-majusi-166886.html</guid> <pubDate>Tue, 18 Aug 2026 12:00:12 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (A.Syalaby Ichsan)</author> </item> <item> <title>Menjadi Seorang Muslim Yang Visioner</title> <description>Menjadi Seorang Muslim Yang Visioner. “Impulsif”, sebuah kata yang maknanya sederhana: tindakan tiba-tiba tanpa dipikir panjang. Dalam keseharian, kita mengenalnya sebagai keputusan yang diambil saa...</description> <media:thumbnail url="https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2026/08/Muslim-Visioner-1.webp"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/menjadi-seorang-muslim-yang-visioner-166885.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div><p><strong>&ldquo;Impulsif&rdquo;,</strong> sebuah kata yang maknanya sederhana: tindakan tiba-tiba tanpa dipikir panjang. Dalam keseharian, kita mengenalnya sebagai keputusan yang diambil saat emosi memuncak&mdash;marah, kecewa, alias sekadar kesal&mdash;tanpa sempat menimbang dampaknya. Orang yang impulsif biasanya hanya merespons, bukan merencanakan. Ia bergerak lantaran pancingan, bukan lantaran tujuan. Dan di era yang serba sigap ini, di mana segala sesuatu berebut menarik perhatian kita, sikap impulsif menjadi jebakan yang kian susah dihindari. Padahal, Islam sangat memuliakan ketenangan, perencanaan, dan sikap tidak tergesa-gesa. Allah <em>Ta&rsquo;ala</em> apalagi menyifati pembuatan langit dan bumi dengan penuh perhitungan, bukan dengan ketergesaan. Maka, seorang mukmin semestinya meneladani prinsip ini dalam setiap masalah, sekecil apa pun.</p><p>Coba renungkan sejenak: berapa banyak penyesalan yang lahir dari keputusan yang kita ambil tanpa pikir panjang? Kata-kata yang terlepas dari lisan saat marah, janji yang diucapkan tanpa perhitungan, alias pilihan-pilihan mini yang rupanya membawa akibat besar. Rasulullah &#65018; mengingatkan,</p><p><span>&#1575;&#1604;&#1578;&#1614;&#1617;&#1571;&#1614;&#1606;&#1616;&#1617;&#1610; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1614;&#1617;&#1607;&#1616; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1614;&#1580;&#1614;&#1604;&#1614;&#1577;&#1615; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1588;&#1614;&#1617;&#1610;&#1618;&#1591;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;</span></p><p>&ldquo;Ketenangan dan tidak tergesa-gesa itu dari Allah, sedangkan tergesa-gesa itu dari setan.&rdquo; (HR. Abu Ya&rsquo;la no. 4256 dan Al-Baihaqi dalam <em>As-Sunan Al-Kubra</em> no. 20270, dinilai <em>hasan</em> oleh <a href="https://muslim.or.id/27562-biografi-asy-syaikh-al-muhaddits-muhammad-nashiruddin-al-albani-1.html">Al-Albani</a> dalam <em>Silsilah Ash-Shahihah</em> no. 1795)</p><p>Jika ketenangan itu berasal dari Allah, maka perencanaan adalah salah satu corak ikhtiar untuk meraih ketenangan itu. Orang yang merencanakan urusannya sedang berupaya menyerupai hikmah <em>ilahi</em> dalam mengatur segala sesuatu. Tentu, perencanaan manusia tidak bisa sempurna, dan di atas segalanya, Allah-lah sebaik-baik perencana. Namun, sebagai hamba, kita diperintahkan untuk melakukan secara <em>ihsan</em> (profesional dan sebaik mungkin), termasuk dalam mengelola waktu dan keputusan. Allah <em>Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1608;&#1614;&#1571;&#1614;&#1581;&#1618;&#1587;&#1616;&#1606;&#1615;&#1608;&#1575; &#1755; &#1573;&#1616;&#1606;&#1614;&#1617; &#1575;&#1604;&#1604;&#1614;&#1617;&#1607;&#1614; &#1610;&#1615;&#1581;&#1616;&#1576;&#1615;&#1617; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1581;&#1618;&#1587;&#1616;&#1606;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614;</span></p><p>&ldquo;Dan melakukan baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang melakukan baik.&rdquo; (QS. Al-Baqarah [2]: 195).</p><p>Maka, menulis rencana bukan sekadar kebiasaan produktif ala <em>self-help,</em> tetapi menjadi gambaran dari sikap <em>ihsan</em> seorang muslim terhadap waktu dan amanah hidupnya.</p><h2><span id="Mengapa_kita_merindukan_waktu_luang_tetapi_menyia-nyiakannya_saat_ia_datang"></span><strong><b>Mengapa kita merindukan waktu luang, tetapi menyia-nyiakannya saat dia datang?</b></strong><span></span></h2><p>Ada kejadian yang cukup umum kita alami: saat disibukkan oleh pekerjaan alias tugas, kita mengeluh kelelahan dan merindukan waktu luang. Dalam lamunan, kita membayangkan bakal melakukan banyak perihal produktif saat libur tiba&mdash;membaca Al-Qur&rsquo;an, berzikir, membaca kitab yang lama tertunda, menulis, belajar keahlian baru, alias sekadar membersihkan hati dengan ibadah yang lebih khusyuk. Tapi, anehnya, ketika waktu senggang itu betul-betul hadir, kita justru kebingungan. &ldquo;Mau ngapain, ya?&rdquo; gumam kita di pagi hari sembari memandangi langit-langit kamar. Lalu, tanpa sadar, tangan meraih gawai, notifikasi satu per satu dibuka, dan tanpa terasa tiga jam berlalu hanya untuk <em>scrolling</em> tanpa tujuan.</p><p>Mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya sederhana: lantaran kita tidak punya rencana. Waktu senggang yang tidak direncanakan bakal dengan mudah diisi oleh hal-hal yang tidak bernilai. Setan sangat piawai mengisi kekosongan; bukan hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam aspek manajemen waktu. Dalam kekosongan rencana, dia bisikkan kemalasan. Ia hiasi kesia-siaan dengan tampilan yang menghibur. Akhirnya, waktu yang mulia berubah menjadi penyesalan. Rasulullah &#65018;&nbsp;bersabda,</p><p><span>&#1606;&#1616;&#1593;&#1618;&#1605;&#1614;&#1578;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;&nbsp;&#1605;&#1614;&#1594;&#1618;&#1576;&#1615;&#1608;&#1606;&#1612;&nbsp;&#1601;&#1616;&#1610;&#1607;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575;&nbsp;&#1603;&#1614;&#1579;&#1616;&#1610;&#1585;&#1612;&nbsp;&#1605;&#1616;&#1606;&#1614;&nbsp;&#1575;&#1604;&#1606;&#1614;&#1617;&#1575;&#1587;&#1616;: &#1575;&#1604;&#1589;&#1616;&#1617;&#1581;&#1614;&#1617;&#1577;&#1615;&nbsp;&#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1601;&#1614;&#1585;&#1614;&#1575;&#1594;&#1615;</span></p><p>&ldquo;Dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu (rugi) di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.&rdquo; (HR.<a href="https://muslim.or.id/640-mengenal-imam-bukhari.html"> Al-Bukhari</a> no. 6412)</p><p>Hadis ini begitu populer, tetapi seringkali kita hanya menghafalnya tanpa meresapi. Waktu senggang adalah nikmat yang kelak bakal dimintai pertanggungjawaban. Waktu senggang itu bukan untuk dibunuh, melainkan untuk dihidupi dengan rencana yang bermanfaat. Dan rencana itu tidak bakal muncul begitu saja; kudu ditulis, dipikirkan, dan disengaja.</p><h2><span id="Kiat_sederhana_melawan_distraksi"></span><strong><b>Kiat sederhana melawan distraksi</b></strong><strong><b><br> </b></strong><span></span></h2><p>Pernahkah Anda mengalaminya? Malam hari, sebelum tidur, tekad sudah bulat: besok pagi bakal menulis rencana, membikin target, alias sekadar membereskan catatan-catatan yang berceceran di kepala. Namun, begitu pagi datang dan jemari baru saja membuka aplikasi catatan di ponsel, tiba-tiba sebuah notifikasi mampir. Grup <em>WhatsApp</em> ramai membahas sesuatu, media sosial menawarkan video pendek yang &ldquo;menarik&rdquo;, alias <em>marketplace</em> mengirimkan potongan nilai yang susah diabaikan. Dan tanpa terasa, tiga jam lenyap begitu saja. Rencana yang semula terang benderang di pikiran, tiba-tiba redup, lampau padam. Menjelang malam, penyesalan datang. Tapi keesokan harinya, siklus yang sama terulang lagi. Inilah potret kita hari ini: selalu beriktikad baik, tetapi kalah oleh algoritma yang memang dirancang untuk mencuri fokus.</p><p>Di sinilah saya mau menyampaikan saran yang sangat sederhana: miliki sebuah kitab notes mini dan pulpen. Ya, manual. Bukan digital. Bukan aplikasi canggih yang katanya bisa menyinkronkan segalanya. Sebab, kita semua maklum, perangkat yang sama yang kita gunakan untuk &ldquo;produktif&rdquo; adalah perangkat yang sama yang membuka ribuan pintu distraksi. Godaan itu nyata, dan dia dikemas sedemikian rupa agar kita lengah. Maka, sebelum menyesali waktu yang lenyap sia-sia, lebih baik kita mundur sejenak dari layar. Kita kembali kepada barang yang sunyi: kertas dan tinta. Tak mempunyai notifikasi. Tidak pula mengirimkan peringatan diskon. Ia hanya diam, menunggu tuannya mencurahkan isi kepala dan hatinya.</p><p>Duduklah berbareng kitab mini itu dalam keheningan. Momen ini adalah salah satu corak <em>khalwah</em> yang dianjurkan; bukan menyendiri untuk melakukan maksiat, tetapi menyendiri untuk menata jiwa dan pikiran. Para ustadz kita terdahulu banget berkawan dengan kebiasaan ini. <em>Al-Imam</em> Al-Khaththabi <em>rahimahullah</em> (w. 388 H) menuturkan dalam kitabnya, <em>Al-&lsquo;Uzlah,</em></p><p><span>&#1605;&#1614;&#1575; &#1585;&#1614;&#1571;&#1614;&#1610;&#1618;&#1578;&#1615; &#1588;&#1614;&#1610;&#1618;&#1574;&#1611;&#1575; &#1571;&#1614;&#1588;&#1614;&#1583;&#1614;&#1617; &#1578;&#1614;&#1579;&#1618;&#1576;&#1616;&#1610;&#1578;&#1611;&#1575; &#1604;&#1616;&#1604;&#1618;&#1573;&#1616;&#1610;&#1605;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;&#1548; &#1608;&#1614;&#1571;&#1614;&#1606;&#1618;&#1601;&#1614;&#1609; &#1604;&#1616;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;&#1593;&#1618;&#1589;&#1616;&#1610;&#1614;&#1577;&#1616;&#1548; &#1608;&#1614;&#1571;&#1614;&#1581;&#1618;&#1610;&#1614;&#1575; &#1604;&#1616;&#1604;&#1618;&#1602;&#1614;&#1604;&#1618;&#1576;&#1616; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1615;&#1586;&#1618;&#1604;&#1614;&#1577;&#1616; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1578;&#1614;&#1617;&#1601;&#1614;&#1603;&#1615;&#1617;&#1585;&#1616;</span></p><p>&ldquo;Aku tidak pernah memandang sesuatu yang lebih mengokohkan iman, lebih meniadakan kemaksiatan, dan lebih menghidupkan hati, melampaui <em>&lsquo;uzlah</em> (menyendiri) dan tafakur.&rdquo; (Al-Khaththabi, <em>Al-&lsquo;Uzlah,</em> hal. 44)</p><p>Dalam sunyi berbareng kitab catatan, otak kita dipaksa kembali bekerja, merangkai kata, mengurai masalah, dan merumuskan rencana. Tidak seperti mengetik di gawai yang seringkali otomatis dan sigap berlalu, menulis dengan tangan melibatkan proses kognitif yang lebih dalam. Ini adalah latihan bagi pikiran yang selama ini mungkin terlalu sering dimanjakan oleh kepintaran buatan.</p><p>Dengan kitab itu, tuliskan apa saja. Besok bakal mengerjakan apa. Pekan ini sasaran apa yang kudu dicapai. Kegelisahan apa yang mengganjal. Pengalaman baik yang baru saja terjadi. Atau, kesalahan yang kudu segera diperbaiki. Luapkan. Jangan pedulikan apakah tulisan itu rapi, indah, alias layak dipublikasikan. Tulisan yang jujur&mdash;yang lahir murni dari hati&mdash;memang tidak selalu rapi. Ia punya cela, punya luka. Dan di situlah letak autentisitasnya. Sebab, jika kita hanya menginginkan tulisan yang sempurna, AI bisa melakukannya dalam hitungan detik. Tetapi, bisakah mesin menggantikan kepuasan jiwa saat kita menuangkan isi jiwa sendiri di atas kertas? Tentu tidak. Karena yang kita butuhkan bukan sekadar deretan kata yang tersusun apik, melainkan jejak kejujuran yang bisa kita baca kembali suatu hari nanti&mdash;sebagai pengingat bahwa kita pernah berjuang, pernah lemah, dan pernah bangkit lagi. Allah <em>Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575; &#1578;&#1614;&#1603;&#1615;&#1608;&#1606;&#1615;&#1608;&#1575; &#1603;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614;&#1617;&#1584;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614; &#1606;&#1614;&#1587;&#1615;&#1608;&#1575; &#1575;&#1604;&#1604;&#1614;&#1617;&#1607;&#1614; &#1601;&#1614;&#1571;&#1614;&#1606;&#1618;&#1587;&#1614;&#1575;&#1607;&#1615;&#1605;&#1618; &#1571;&#1614;&#1606;&#1618;&#1601;&#1615;&#1587;&#1614;&#1607;&#1615;&#1605;&#1618;</span></p><p>&ldquo;Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.&rdquo; (QS. Al-Hasyr [59]: 19)</p><p>Orang yang terlalu sibuk menatap layar&mdash;hingga melupakan dirinya sendiri&mdash;sedang berada dalam bahaya. Buku mini dan pulpen ini adalah perangkat sederhana untuk kembali mengingat: siapa kita, apa tujuan kita, dan ke mana langkah kaki ini hendak menuju.</p><h2><span id="Biasakan_merencanakan_biasakan_menyelesaikan"></span><strong><b>Biasakan merencanakan, biasakan menyelesaikan</b></strong><span></span></h2><p>Kebiasaan merencanakan dan menulis ini mungkin bakal terasa canggung di awal. Tapi, percayalah, jika sudah menjadi kebiasaan, hidup Anda bakal terasa jauh lebih teratur. Saya berbincang dari pengalaman. Banyak dari kita menjalani hari-hari secara reaktif: ada masalah, bereaksi; ada ajakan, ikut; ada peluang, menyambar. Tanpa rencana, kita menjadi seperti kapal tanpa kemudi&mdash;bergerak, tetapi tidak menuju ke mana-mana. Padahal, seorang mukmin sejati adalah orang yang mempunyai visi. Ia tahu ke mana dia berjalan, lantaran dia sadar bahwa hidup ini adalah perjalanan menuju Allah. Setiap langkah, setiap keputusan, dan setiap pilihan bakal dihisab. Maka, dia tidak bakal membiarkan hari-harinya berlalu tanpa isi yang berarti.</p><p>Setelah merencanakan, langkah berikutnya adalah mengeksekusi. Di sinilah letak tantangannya. Banyak orang pandai membikin rencana, tetapi hanya sedikit yang bisa menyelesaikannya. Di sinilah kitab mini itu kembali berperan. Ketika Anda mencoret item demi item yang telah sukses dikerjakan, ada rasa puas dan lega yang susah digambarkan. Coretan itu adalah bukti bahwa Anda maju. Bahwa Anda bukan sekadar pemimpi, tetapi pelaku. Rasulullah &#65018; bersabda,</p><p><span>&#1575;&#1581;&#1618;&#1585;&#1616;&#1589;&#1618; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609; &#1605;&#1614;&#1575; &#1610;&#1614;&#1606;&#1618;&#1601;&#1614;&#1593;&#1615;&#1603;&#1614;&#1548; &#1608;&#1614;&#1575;&#1587;&#1618;&#1578;&#1614;&#1593;&#1616;&#1606;&#1618; &#1576;&#1616;&#1575;&#1604;&#1604;&#1614;&#1617;&#1607;&#1616; &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575; &#1578;&#1614;&#1593;&#1618;&#1580;&#1616;&#1586;&#1618;</span></p><p>&ldquo;Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang berfaedah bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah Anda merasa lemah.&rdquo; (HR. <a href="https://muslim.or.id/3984-mengenal-imam-muslim.html">Muslim</a> no. 2664).</p><p>Perhatikan tiga kata kunci dalam sabda ini: <em>ihrish</em> (bersungguh-sungguh),<em> ista&rsquo;in billah</em> (minta tolong kepada Allah), dan <em>la ta&rsquo;jiz</em> (jangan lemah). Merencanakan adalah bagian dari <em>ihrish.</em> Berdoa agar rencana dimudahkan adalah <em>ista&rsquo;in billah.</em> Dan mengeksekusi rencana hingga selesai tanpa menyerah di tengah jalan adalah corak menjauhi <em>&lsquo;ajz</em> (kelemahan). Betapa padunya ruh produktivitas Islami yang diajarkan oleh Nabi kita &#65018;.</p><p>Akhirnya, marilah kita mulai dari sekarang. Jangan menunggu tahun baru, jangan menunggu awal bulan, jangan menunggu hari Senin. Ambillah selembar kertas, alias kitab mini yang mungkin sudah lama terlupakan di laci. Tuliskan rencana Anda untuk besok, alias apalagi untuk satu jam ke depan. Coret apa yang sudah selesai. Tulis pula apa yang berkecamuk di hati. Biarkan dia menjadi saksi bahwa Anda pernah berjuang untuk menjadi hamba yang lebih tertib, lebih terencana, dan lebih siap menghadapi hari esok&mdash;baik hari besok di dunia, maupun hari besok di alambaka yang abadi.</p><p><em>Wallahu a&rsquo;lam bish-shawab.</em></p><p><em><strong>Baca juga: </strong></em><a href="https://muslim.or.id/37903-memanfaatkan-waktu-luang-untuk-hal-hal-yang-bermanfaat.html"><em><strong>Memanfaatkan Waktu Luang untuk Hal-Hal yang Bermanfaat</strong></em></a></p><p><strong>***</strong></p><p><strong>Penulis: <span>Fauzan Hidayat</span></strong></p><p><strong>Artikel <span>Kincai Media</span></strong></p></div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/menjadi-seorang-muslim-yang-visioner-166885.html</guid> <pubDate>Tue, 18 Aug 2026 11:00:16 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Fauzan Hidayat)</author> </item> <item> <title>Etika Bermedia Sosial: Ketika Lisan Dan Jari Menentukan Arah</title> <description>Etika Bermedia Sosial: Ketika Lisan Dan Jari Menentukan Arah. BincangSyariah.com– Perkembangan peradaban manusia dewasa ini ditandai oleh paradoks yang kian tajam. Di satu sisi, teknologi komunikasi dan media sosial telah ...</description> <media:thumbnail url="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/2150208242.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/etika-bermedia-sosial-ketika-lisan-dan-jari-menentukan-arah-166884.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div> <div><figure><a href="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/2150208242.jpg" data-caption=" Ketika Lisan dan Jari Menentukan Arah"><img width="696" height="539" src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/2150208242.jpg" srcset="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/2150208242-696x539.jpg 696w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/2150208242-640x496.jpg 640w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/2150208242-768x595.jpg 768w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/2150208242-542x420.jpg 542w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/2150208242.jpg 1000w" sizes=" 696px) 100vw, 696px" alt=" Ketika Lisan dan Jari Menentukan Arah" title=" Ketika Lisan dan Jari Menentukan Arah"></a>Etika Bermedia Sosial: Ketika Lisan dan Jari Menentukan Arah</figure></div> <p><a href="https://bincangsyariah.com">BincangSyariah.com</a>&ndash; Perkembangan peradaban manusia <a href="https://bincangsyariah.com/tag/buku-dewasa/" data-type="post_tag" data-id="15040">dewasa </a>ini ditandai oleh paradoks yang kian tajam. Di satu sisi, teknologi komunikasi dan media sosial telah meruntuhkan batas-batas geografis, mendekatkan yang jauh, serta membuka akses info tanpa batas. </p> <p>Di sisi lain, ruang-ruang digital ini sering kali berubah menjadi arena pertarungan ego, panggung penghakiman massal, dan ladang subur bagi lahirnya kekerasan simbolik.</p> <p>Manusia modern hidup dalam keterhubungan yang masif, namun ironisnya kian terasing secara batin. Di tengah lanskap sosial yang semakin rentan ini, ujian hidup yang dihadapi perseorangan (baik berupa kegagalan ekonomi, krisis mental, maupun penderitaan personal) tidak lagi sekadar urusan privat. Sering kali, penderitaan tersebut diekspos ke ruang publik, mengundang perhatian, empati, tetapi tak jarang pula memancing cercaan.</p> <p>Fenomena ini melahirkan sebuah pertanyaan <a href="https://bincangmuslimah.com/" data-type="link" data-id="https://bincangmuslimah.com/">filosofis</a> dan etis yang mendasar: <em>bagaimana semestinya manusia bersikap terhadap penderitaan sesamanya di era ketika setiap orang mempunyai kuasa untuk berbincang dan berkomentar? </em>Adagium sederhana namun sarat makna, <em>&ldquo;Kalau tak bisa membantu jangan jadi penambah luka&rdquo;, </em>bukan sekadar ungkapan normatif belaka.</p> <p>Kalimat ini menyimpan kedalaman reflektif mengenai orientasi moral eksistensi manusia di hadapan sesamanya. Ketika seseorang tengah berada dalam tubir kehancuran alias ujian berat, kehadiran pihak lain di sekitarnya menentukan apakah mereka bakal menemukan jalan kebangkitan alias justru semakin terjerumus ke dalam lembah keputusasaan.</p> <p>Sebagai makhluk sosial yang terikat oleh jalinan empati, manusia memikul tanggung jawab moral yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Ruang publik digital semestinya tidak menjadi tempat bagi matinya nurani, melainkan wadah di mana kemanusiaan diuji dan dibuktikan.</p> <p>Mari kita kupas-tuntas secara kritis dan filosofis gimana etika lisan, tanggung jawab eksistensial, serta keistimewaan adab memegang peran sentral dalam merawat kewarasan dan martabat manusia di tengah gelombang penderitaan global.</p> <p><strong>Dekonstruksi Ruang Digital: Dari Empati Menuju Industri Penghakiman</strong></p> <p>Media sosial pada hakikatnya diciptakan sebagai perangkat penunjang konektivitas dan pertukaran pendapat yang demokratis. Namun, dalam praktiknya, ruang digital kerap mengalami distorsi fungsional. Algoritma <em>platform</em> dirancang untuk memicu keterlibatan emosional, yang dalam banyak kasus justru mengeksploitasi sisi gelap ilmu jiwa manusia: kemarahan, kebencian, dan moralisme instan.</p> <p>Dalam ekosistem seperti ini, empati mengalami reduksi drastis. Seseorang yang sedang mengalami musibah tidak lagi dilihat sebagai subjek yang utuh dengan segala kerentanan psikologisnya, melainkan direduksi menjadi objek tontonan, bahan kajian kilat, alias sasaran lembek untuk melampiaskan superioritas moral semu.</p> <p>Secara filosofis, kejadian ini dapat dijelaskan melalui konsep <em>panoptikon digital.</em> Jika dalam pandangan Michel Foucault <em>panoptikon</em> <em>arsitektural</em> mendisiplinkan tubuh melalui pengawasan yang konstan, maka <em>panoptikon digital</em> bekerja dengan langkah yang lebih merusak: setiap perseorangan merasa berkuasa mengawasi, menilai, dan menjatuhkan vonis terhadap kehidupan orang lain. Komentar-komentar yang dilontarkan di kolom komentar bukan lagi corak dialog, melainkan monumen ego yang dibangun di atas reruntuhan psikologis orang lain.</p> <p>Ketika seseorang tertimpa musibah, respon spontan yang lahir dari jemari netizen seringkali diwarnai oleh bias konfirmasi dan ketiadaan jarak reflektif. Jarak bentuk dan anonimitas yang ditawarkan oleh layar gawai memberikan ilusi kebebasan mutlak: sebuah kebebasan tanpa tanggung jawab etis.</p> <p>Akibatnya, alih-alih menghadirkan kelegaan, komentar-komentar pedas, sinis, alias apalagi yang berbalut nasihat sarkastik justru menjadi beban tambahan yang menghancurkan sisa-sisa ketahanan mental korban. Di sinilah teknologi kandas menjalankan fungsinya sebagai instrumen humanisasi, dan justru berubah menjadi instrumen alienasi serta destruksi psikologis.</p> <p><strong>Dimensi Filosofis Penderitaan dan Tanggung Jawab Eksistensial</strong></p> <p>Penderitaan <em>(suffering)</em> adalah bagian inheren dari kondisi manusia <em>(human condition).</em> Sejak era kuno, para ahli filsafat dari beragam tradisi filosofis telah mencoba memetakan makna di kembali penderitaan.</p> <p>Dalam pandangan eksistensialisme, penderitaan sering kali memaksa perseorangan untuk menghadapi absurditas eksistensi dan pemisah dari keahlian rasionalnya. Ketika seseorang diuji oleh kesulitan, struktur psikologis dan sosialnya mengalami guncangan hebat. Pada titik inilah kehadiran &ldquo;Yang Liyan&rdquo; <em>(The Other)</em> menjadi sangat krusial.</p> <p>Filsuf moral Levinas mengajarkan bahwa etika mendahului ontologi. Tanggung jawab terhadap Yang Liyan bukanlah sesuatu yang dipilih secara sukarela, melainkan sebuah tanggungjawab esensial yang lahir seketika kita menatap wajah sesama manusia yang rapuh.</p> <p>Wajah orang yang menderita menuntut kita untuk tidak tinggal diam, menuntut agar kita tidak menambah beban penderitaan tersebut. Levinas menegaskan bahwa subjek yang etis adalah subjek yang menempatkan dirinya sebagai penjaga bagi saudaranya, bukan sebagai pengeksekusi yang memperparah keadaan.</p> <p>Oleh lantaran itu, ketika seseorang tidak mempunyai kapabilitas material (baik harta, jabatan, maupun tenaga) untuk meringankan beban bentuk orang lain, bukan berfaedah dia kehilangan signifikansi moralnya. Ada ranah eksistensial lain yang sepenuhnya berada dalam kendali otonomi individu, ialah lisan dan pikiran.</p> <p>Dengan kata lain, memilih untuk tidak menyakiti, memilih untuk menahan diri dari komentar destruktif, adalah corak manifestasi tertinggi dari kebebasan yang bertanggung jawab. Tanggung jawab eksistensial menuntut kesadaran bahwa setiap kata yang dilepaskan ke ruang publik mempunyai berat ontologis; dia dapat menjadi daya yang menghidupkan alias racun yang mematikan.</p> <p><strong>Bait Hikmah Penyair: Estetika Etika dan Kekuatan Bahasa yang Menyembuhkan</strong></p> <p>Tradisi intelektual Islam dan sastra klasik Arab kaya bakal kearifan mengenai etika berbincang dan pentingnya menjaga keselarasan jiwa sesama manusia. Bait-bait syair yang dinukilkan memberikan pedoman moral yang sangat relevan untuk direfleksikan dalam konteks modern. Dikatakan:</p> <p>&#1582;&#1601;&#1601; &#1593;&#1606; &#1575;&#1604;&#1606;&#1575;&#1587; &#1604;&#1605;&#1575; &#1610;&#1604;&#1602;&#1608;&#1606; &#1605;&#1606; &#1571;&#1604;&#1571;&#1604;&#1605; # &#1601;&#1575;&#1606; &#1575;&#1604;&#1593;&#1580;&#1586;&#1578; &#1601;&#1571;&#1582;&#1585;&#1580; &#1591;&#1610;&#1576; &#1575;&#1604;&#1603;&#1604;&#1605;</p> <p>&#1608;&#1575;&#1606;&#1587;&#1580; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1601;&#1571;&#1604; &#1571;&#1579;&#1608;&#1575;&#1576;&#1611;&#1575; &#1604;&#1578;&#1601;&#1585;&#1581;&#1607;&#1605; # &#1608;&#1603;&#1606; &#1603;&#1606;&#1608;&#1585; &#1604;&#1607;&#1605; &#1601;&#1610; &#1571;&#1581;&#1604;&#1603; &#1575;&#1604;&#1592;&#1604;&#1605;</p> <p>&#1604;&#1575; &#1610;&#1615;&#1587;&#1593;&#1583; &#1575;&#1604;&#1606;&#1575;&#1587; &#1601;&#1610; &#1602;&#1608;&#1604; &#1608;&#1601;&#1610; &#1593;&#1605;&#1604; # &#1573;&#1604;&#1575; &#1575;&#1605;&#1585;&#1572; &#1591;&#1610;&#1576; &#1575;&#1604;&#1571;&#1582;&#1604;&#1575;&#1602; &#1608;&#1575;&#1604;&#1588;&#1614;&#1617;&#1610;&#1605;</p> <p>Artinya: <em>&ldquo;Ringankanlah beban yang dirasakan manusia. Jika engkau tidak bisa melakukannya secara nyata, maka keluarkanlah kata-kata yang baik. Rajutlah angan agar mereka kembali bahagia. Jadilah sinar bagi mereka di saat-saat paling gelap. Tidak ada yang bisa membahagiakan manusia, baik melalui ucapan maupun perbuatan, selain orang yang mempunyai adab dan perangai yang mulia.&rdquo;</em></p> <p>Secara filosofis, bahasa dalam pandangan sastra religius bukanlah sekadar rangkaian simbol linguistik yang netral. Bahasa adalah wahana teologis dan humanis. Kata-kata yang baik <em>(thayyib kalim)</em> disetarakan dengan infak lantaran dia mempunyai daya transformatif yang bisa mengubah keputusasaan menjadi optimisme. Ketika seseorang berada dalam kegelapan ujian hidup, kata-kata penyemangat berfaedah sebagai mercusuar penunjuk jalan.</p> <p>Sebaliknya, pengabaian terhadap etika berkata mencerminkan kemiskinan adab <em>(syama&rsquo;il).</em> Estetika etika menuntut agar manusia tidak hanya memikirkan kebenaran objektif dari apa yang diucapkan, tetapi juga mempertimbangkan akibat psikologis dan spiritual dari ucapan tersebut terhadap penerimanya. </p> <p>Sebuah kebenaran yang disampaikan tanpa empati bukanlah corak kejujuran, melainkan corak kebiadaban moral yang dibungkus dengan rasionalisasi.</p> <p><strong>Otonomi Lisan dan Kedaulatan Jiwa: Menjaga Batas Antara Kritik dan Destruksi</strong></p> <p>Di era kebebasan berpendapat, sering terjadi kerancuan antara kewenangan untuk mengkritik dan tanggungjawab untuk menjaga kehormatan kemanusiaan. Kritik yang konstruktif tentu mempunyai tempat dalam diskursus sosial guna mendorong perbaikan. </p> <p>Namun, pemisah antara kritik yang mencerahkan dan komentar destruktif yang mematikan karakter seringkali sangat tipis, dan pemisah itu ditentukan oleh motif serta kehalusan budi pekerti pelakunya.</p> <p>Orang yang bijak memahami bahwa tidak setiap ruang memerlukan suaranya. Ada keheningan yang jauh lebih berbobot daripada ribuan komentar yang lahir dari dorongan reaktif belaka. Ketika seseorang memilih untuk menahan diri dari melontarkan komentar negatif, dia sedang menjalankan kedaulatan atas jiwanya sendiri <em>(self-mastery).</em> Pengendalian diri ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti ketangguhan spiritual.</p> <p>Dalam perspektif ilmu jiwa humanistik, perseorangan yang matang secara emosional menyadari bahwa pengesahan diri tidak perlu dicapai dengan langkah merendahkan alias menimpakan beban tambahan kepada mereka yang sedang jatuh. Justru, ukuran kemuliaan seseorang diuji pada gimana dia memperlakukan orang lain ketika orang tersebut berada dalam posisi paling lemah dan tidak berdaya.</p> <p>Harta dan kedudukan berkarakter fana dan parsial, tidak semua orang dianugerahi kapabilitas untuk menolong secara finansial. Namun, adab yang mulia dan lisan yang terjaga adalah modal universal yang dapat dimiliki oleh siapa saja, tanpa memandang status sosial.</p> <p><strong>Konklusi: Menuju Peradaban Empati dan Kemanusiaan yang Utuh</strong></p> <p>Merawat kemanusiaan di tengah dinamika era yang kian egoistis dan hiper-konektif memerlukan kesadaran radikal bakal kerapuhan bersama. Adagium <em>&ldquo;Kalau tak bisa membantu jangan jadi penambah luka&rdquo;</em> mengajarkan kita untuk kembali pada prinsip paling dasar dari eksistensi sosial: bahwa kehadiran kita di tengah sesama semestinya menjadi berkah, bukan kutukan.</p> <p>Penderitaan di bumi ini sudah terlalu banyak untuk ditambah dengan kebencian, sinisme, dan penghakiman digital yang tidak berdasar. Ketika kita dihadapkan pada ujian orang lain, pilihan moral yang tersedia sangatlah jelas: ulurkan tangan jika mampu, sebarkan kebaikan jika ada kesempatan, alias setidaknya, jika pertolongan material di luar jangkauan, tutuplah mulut dan tenangkan jemari dari melukai.</p> <p>Kemuliaan sejati bukanlah terletak pada seberapa tajam lidah kita dalam menganalisis kesalahan orang lain, melainkan pada seberapa besar ketenangan yang kita hadirkan melalui kelembutan akhlak.</p> <p>Dengan merawat lisan, menenun harapan, dan menghadirkan sinar di tengah kegelapan sesama, kita tidak hanya menyelamatkan orang lain dari keterpurukan, tetapi pada saat yang sama, kita sedang menyelamatkan prinsip kemanusiaan kita sendiri dari jerat kebejatan moral modern. <em>Wallahu a&rsquo;lam bishawab.</em></p> <p>&mdash;&mdash;&mdash;&mdash;&mdash;&mdash;&mdash;&mdash;&mdash;-</p> <p><em>*) Alumni PP Salafiyah Syafi&rsquo;iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.</em></p> <div> <p><a href="https://bit.ly/SertifikasiHalalGratisEBI" target="_blank" rel="noopener noreferrer"> <img src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-15-at-20.44.10.jpeg" alt="Sertifikasi Halal"> </a> </p> </div> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/etika-bermedia-sosial-ketika-lisan-dan-jari-menentukan-arah-166884.html</guid> <pubDate>Tue, 18 Aug 2026 11:00:13 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Salman Akif Faylasuf)</author> </item> <item> <title>Hidup Di Dunia Hanya Sementara, Ini Pesan Nabi Muhammad</title> <description>Hidup Di Dunia Hanya Sementara, Ini Pesan Nabi Muhammad. Kincai Media,  Manusia hidup di bumi hanya sementara. Setelah meninggal, manusia bakal dibangkitkan dan pergi ke alambaka untuk kekal di sana. Oleh k...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/043118400-1785231389-830-556.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/hidup-di-dunia-hanya-sementara-ini-pesan-nabi-muhammad-166883.html</link> <content:encoded><![CDATA[<p><span>         Hidup di Dunia Hanya Sementara, Ini Pesan Nabi Muhammad. Pedagang beraktivitas di area letak bimbingan (Lokbin) pasar tradisional Pasar Minggu, Jakarta, Selasa (28/9/2027). 
      </span> </p><div data-sticky-container> <p>Kincai Media,&nbsp;&nbsp;Manusia hidup di bumi hanya sementara. Setelah meninggal, manusia bakal dibangkitkan dan pergi ke<a href="https://republika.co.id/tag/akhirat"> alambaka </a>untuk kekal di sana.</p><p>Oleh lantaran itu, jangan sia-siakan waktu selama hidup di bumi. Manfaatkan setiap waktu untuk beramal dan melakukan perihal baik seperti yang Rasulullah lakukan.<span aria-hidden="true"></span></p> <p data-start="370" data-end="521">Abdullah bin Umar meriwayatkan, Rasulullah memegang pundaknya dan bersabda, &ldquo;Jadilah engkau di bumi seperti orang asing alias pengembara.&rdquo; (HR Bukhari)</p><h3 data-section-id="yzntat" data-start="523" data-end="547">Sarana Menuju Tujuan</h3> <p data-start="549" data-end="804">Dunia ini merupakan sarana untuk mencapai tujuan manusia, ialah akhirat. Terkadang, hidup di bumi terasa begitu sigap sehingga seseorang bakal memandang kembali kehidupannya dan berpikir bahwa waktu yang telah berlalu hanya seperti beberapa jam alias sehari.</p> <p data-start="806" data-end="1030">Dilansir di <em>About Islam</em>, Allah menciptakan bumi ini dengan maksud untuk memenuhi kemauan manusia. Nabi menyuruh umatnya untuk melewatinya tanpa merasa terganggu. Seperti orang asing alias pengembara, manusia hidup di bumi dengan tujuan yang jelas.</p> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/hidup-di-dunia-hanya-sementara-ini-pesan-nabi-muhammad-166883.html</guid> <pubDate>Tue, 18 Aug 2026 09:30:12 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Ani Nursalikah)</author> </item> <item> <title>Jejak Abbasiyah Di Tapanuli: Temuan Koin Dirham Dan Korespondensi Sriwijaya Dengan Khalifah Muawiyah</title> <description>Jejak Abbasiyah Di Tapanuli: Temuan Koin Dirham Dan Korespondensi Sriwijaya Dengan Khalifah Muawiyah. Kincai Media, JAKARTA — Sejarah masuknya Islam ke Nusantara kembali mendapatkan sorotan krusial seiring ditemukannya bukti-bukti arkeologis terbaru di pesisi...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/temuan-situs_260813093748-503.png"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/jejak-abbasiyah-di-tapanuli-temuan-koin-dirham-dan-korespondensi-sriwijaya-dengan-khalifah-muawiyah-166882.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div data-sticky-container> <p>Kincai Media,&nbsp;<span></span><span>JAKARTA &mdash; Sejarah masuknya Islam ke Nusantara kembali mendapatkan sorotan krusial seiring ditemukannya bukti-bukti arkeologis terbaru di pesisir Sumatra Utara. Temuan ini berpotensi mengubah narasi arus utama (<em>mainstream</em>) yang selama ini menyebut bahwa Islam baru masuk dan berkembang di Kepulauan Nusantara pada abad ke-12 alias ke-13 Masehi.</span></p><p>Ery Soedewo dan Nur Ahmad dalam tulisan ilmiahnya berjudul <em>Abbasid Coins in North Sumatra: Evidence of Interactions With Islamic Civilization in The 8th-9th Century AD</em> yang dimuat di Amerta (Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi) mengungkapkan,&nbsp;<span>sejumlah sarjana Barat seperti Pijnapel, Snouck Hurgronje, hingga J.P. Moquette mengungkap teori bahwa Islam di Nusantara berasal dari Gujarat dan Malabar, India. </span></p> <p><span>Pendapat tersebut didasarkan pada penanggalan batu nisan antik di Pasai dan Gresik dari abad ke-15 Masehi. Meski demikian, teori tersebut mengabaikan catatan-catatan awal hubungan langsung antara daerah Asia Barat (Timur Tengah) dan Nusantara.</span></p><p><span>Guru Besar Sejarah Islam, Prof Azyumardi Azra (almarhum), dalam karya-karyanya pernah mengulas arsip antik yang mencatat hubungan diplomatik awal tersebut. Salah satunya adalah catatan Kitab <em>al-Hayawan</em> karya al-Jahizh (783&ndash;869 M) dan <em>al-&lsquo;Iqd al-Farid</em> karya Ibn &lsquo;Abd al-Rabbih (860&ndash;940 M).</span></p> <p><span>Dokumen tersebut merekam adanya surat-menyurat antara Maharaja Hind&mdash;yang menguasai daerah kaya kapur barus dan rempah-rempah&mdash;dengan Khalifah Mu'awiyah bin Abu Sufyan serta Khalifah 'Umar bin 'Abd al-'Aziz (717&ndash;720 M). Pada rentang abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, satu-satunya penguasa Nusantara yang menyandang gelar Maharaja tidak lain adalah Penguasa Kerajaan Sriwijaya.</span></p><p><span>Hubungan diplomatik dan perdagangan pada era Dinasti Umayyah dan Abbasiyah ini dikuatkan oleh catatan petualang Buzurg ibn Syahriar al-Ramhurmuzi dalam<em> 'Ajaib al-Hind</em> (sekitar 1000 M), yang melaporkan keberadaan organisasi Muslim di daerah kekuasaan Kerajaan Zabaj/Zabag (Sriwijaya). Catatan Yijing (I-Tsing) pada abad ke-7 Masehi juga merekam keberadaan kapal-kapal pedagang Ta-shi (Arab/Parsi) yang melayari rute Guangzhou hingga Sumatra.</span></p><p><span>Bukti kearsipan dan literatur klasik tersebut sekarang menemukan pembuktian lapangannya melalui penemuan mata duit dirham Abbasiyah dan artefak Timur Tengah di Situs Bongal, Tapanuli Tengah. Penemuan ini memperjelas peta historiografi Islam Nusantara: bahwa hubungan dan kontak kebudayaan dengan pusat peradaban Islam di Timur Tengah telah terjalin erat sejak masa-masa awal Hijriyah.</span></p> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/jejak-abbasiyah-di-tapanuli-temuan-koin-dirham-dan-korespondensi-sriwijaya-dengan-khalifah-muawiyah-166882.html</guid> <pubDate>Tue, 18 Aug 2026 09:00:13 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (A.Syalaby Ichsan)</author> </item> <item> <title>Hijrah Nabi Dan Cinta Tanah Air: Pelajaran Berharga Bagi Setiap Muslim</title> <description>Hijrah Nabi Dan Cinta Tanah Air: Pelajaran Berharga Bagi Setiap Muslim. Peristiwa hijrah ke Madinah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat merupakan peristiwa berhistoris yang di dalamnya terd...</description> <media:thumbnail url="https://portal.kincaimedia.net/site/assets/img/logo/401XDGroupIndonesia.png"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/hijrah-nabi-dan-cinta-tanah-air-pelajaran-berharga-bagi-setiap-muslim-166881.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div> <p>Proudly powered by LiteSpeed Web Server</p><p>Please be advised that LiteSpeed Technologies Inc. is not a web hosting company and, as such, has no control over content found on this site.</p></div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/hijrah-nabi-dan-cinta-tanah-air-pelajaran-berharga-bagi-setiap-muslim-166881.html</guid> <pubDate>Mon, 17 Aug 2026 21:30:19 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Firdian Ikhwansyah)</author> </item> <item> <title>Transformasi Kesalehan: Rekonstruksi Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Di Era Digital</title> <description>Transformasi Kesalehan: Rekonstruksi Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Di Era Digital. Kincai Media– Setiap peradaban lahir dengan fondasi nilai yang menjadi identitas utamanya. Bagi umat Islam, keagungan identitas tersebut tidak hanya berak...</description> <media:thumbnail url="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-2.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/transformasi-kesalehan-rekonstruksi-amar-ma-ruf-nahi-mungkar-di-era-digital-166878.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div> <p><a href="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-2.jpg" data-caption=""><img width="696" height="367" src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-2.jpg" srcset="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-2-696x367.jpg 696w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-2-640x337.jpg 640w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-2-768x405.jpg 768w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-2-797x420.jpg 797w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/08/568098-2.jpg 1000w" sizes=" 696px) 100vw, 696px" alt=" Rekonstruksi Amar Ma’ruf Nahi Mungkar di Era Digital" title=" Rekonstruksi Amar Ma’ruf Nahi Mungkar di Era Digital"></a></p> <p><strong>Kincai Media</strong>&ndash; Setiap peradaban lahir dengan fondasi nilai yang menjadi identitas utamanya. Bagi umat Islam, keagungan identitas tersebut tidak hanya berakar pada aspek keagamaan dogmatis semata, melainkan juga pada predikat spiritual dan kualitatif yang dianugerahkan langsung oleh Sang Pencipta. Umat Nabi Muhammad SAW dianugerahi beragam kekhususan alias khashais yang membedakan mereka secara esensial dari umat-umat terdahulu. </p> <p>Di antara sekian banyak <em>khashais</em> tersebut, salah satu keistimewaan yang paling menonjol dan memegang peranan pivotal adalah komitmen kolektif terhadap prinsip <em>al-amru bil ma&rsquo;ruf wa an-nahyu anil munkar, </em>memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.</p> <p>Secara komparatif, jika kita melayangkan pandangan historis dan metodologis terhadap beragam doktrin keagamaan di bumi saat ini, Islam menampilkan sebuah karakter yang sangat kontras. <a href="https://bincangsyariah.com/tag/agama-islam/" data-type="post_tag" data-id="4485">Islam</a> tidak membiarkan nilai kebaikan terisolasi di dalam ruang-ruang privat pemeluknya. </p> <p>Agama ini memberikan penekanan yang begitu mendalam, tegas, dan bersistem pada imperatif <em>amar ma&rsquo;ruf nahi mungkar. </em>Prinsip ini bukan sekadar imbauan moral pasif, melainkan sebuah aksioma keumatan yang bergerak dan transformatif.</p> <p>Legitimasi Ilahi atas keistimewaan ini ditegaskan secara definitif dalam Al-Qur&rsquo;an <em>Surah <a href="https://bincangmuslimah.com/" data-type="link" data-id="https://bincangmuslimah.com/">Ali Imran</a> </em>ayat 110. Allah SWT berfirman:</p> <p>&#1603;&#1615;&#1606;&#1618;&#1578;&#1615;&#1605;&#1618; &#1582;&#1614;&#1610;&#1618;&#1585;&#1614; &#1575;&#1615;&#1605;&#1614;&#1617;&#1577;&#1613; &#1575;&#1615;&#1582;&#1618;&#1585;&#1616;&#1580;&#1614;&#1578;&#1618; &#1604;&#1616;&#1604;&#1606;&#1614;&#1617;&#1575;&#1587;&#1616; &#1578;&#1614;&#1571;&#1618;&#1605;&#1615;&#1585;&#1615;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614; &#1576;&#1616;&#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;&#1593;&#1618;&#1585;&#1615;&#1608;&#1618;&#1601;&#1616; &#1608;&#1614;&#1578;&#1614;&#1606;&#1618;&#1607;&#1614;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614; &#1593;&#1614;&#1606;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1606;&#1618;&#1603;&#1614;&#1585;&#1616; &#1608;&#1614;&#1578;&#1615;&#1572;&#1618;&#1605;&#1616;&#1606;&#1615;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614; &#1576;&#1616;&#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1648;&#1607;&#1616;&#8239;&#1751;&thinsp;&#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1608;&#1618; &#1575;&#1648;&#1605;&#1614;&#1606;&#1614; &#1575;&#1614;&#1607;&#1618;&#1604;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1603;&#1616;&#1578;&#1648;&#1576;&#1616; &#1604;&#1614;&#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614; &#1582;&#1614;&#1610;&#1618;&#1585;&#1611;&#1575; &#1604;&#1614;&#1617;&#1607;&#1615;&#1605;&#1618;&#8239;&#1751;&thinsp;&#1605;&#1616;&#1606;&#1618;&#1607;&#1615;&#1605;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1572;&#1618;&#1605;&#1616;&#1606;&#1615;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614; &#1608;&#1614;&#1575;&#1614;&#1603;&#1618;&#1579;&#1614;&#1585;&#1615;&#1607;&#1615;&#1605;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1601;&#1648;&#1587;&#1616;&#1602;&#1615;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614;</p> <p>Artinya: <em>&ldquo;Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beragama kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.&rdquo; (QS. Ali Imran [3]: 110).</em></p> <p>Deklarasi Ilahi ini menegaskan sebuah hubungan kausalitas yang sangat jernih: predikat <em>&ldquo;khairu ummah&rdquo; </em>(umat terbaik) tidak didapatkan secara cuma-cuma melalui klaim genealogis alias ketaatan ritualistik yang tertutup, melainkan disyaratkan oleh adanya kepedulian sosial yang aktif melalui amar ma&rsquo;ruf dan nahi mungkar.</p> <p><strong>Dikotomi Kesalehan: Dari Kesalehan Individual Menuju Kesalehan Transformatif</strong></p> <p>Dalam realitas kehidupan beragama, kita sering mendapati dikotomi eksistensial dalam diri umat Islam. Secara garis besar, jenis manusia dapat terbagi menjadi dua kategori utama. Kategori pertama adalah manusia yang saleh secara perseorangan <em>(shalih fi nafsihi).</em> Ia adalah pribadi yang alim beribadah, menjauhi dosa-dosa besar, dan menjaga integritas moral pribadinya. </p> <p>Namun, kebaikan tersebut berakhir pada batas-batas bentuk dirinya. Kesalehan semacam ini berkarakter egosentris-spiritual; tidak memberikan akibat bagi dinamika sosial di sekitarnya dan tidak sanggup merubah realitas destruktif yang terjadi di lingkungannya.</p> <p>Kategori kedua adalah manusia yang tidak hanya saleh bagi dirinya sendiri, tetapi juga sanggup mentransformasi lingkungannya <em>(muslih li ghairihi). </em>Orang dengan kualifikasi ini mempunyai derajat spiritual dan sosial yang jauh lebih tinggi di hadapan Allah SWT. </p> <p>Kebaikannya tidak terbatas pada ruang privat, melainkan meluap menjadi gelombang perbaikan yang mencerahkan masyarakat. Islam secara mendasar diturunkan bukan hanya untuk mencetak pribadi-pribadi yang saleh secara pasif, melainkan untuk melahirkan agen-agen perubahan <em>(muslihun) </em>yang bisa menular-nyebarkan nilai kebaikan.</p> <p>Karakteristik utama dari mukmin yang sejati adalah hadirnya rasa kegelisahan eksistensial ketika menyaksikan ketidakbaikan alias kemungkaran merajalela. Hati seorang yang beragama tidak bakal pernah tenang jika kebaikan hanya menjadi konsumsi pribadi sementara lingkungannya terjerumus dalam kemaksiatan. </p> <p>Kegelisahan moral inilah yang memicu timbulnya kesalehan transformatif: sebuah dorongan internal untuk bertindak aktif, terencana, dan penuh empati dalam menyebarkan nilai-nilai <em>ma&rsquo;ruf </em>kepada lingkungan sekitar.</p> <p><strong>Dialektika Pendahuluan </strong><strong><em>Amar Ma&rsquo;ruf </em></strong><strong>atas</strong><strong><em> Nahi Mungkar</em></strong></p> <p>Jika kita menelaah secara mendalam redaksi firman Allah dalam <em>Surah Ali Imran</em> ayat 110, terdapat susunan jenjang kata yang sangat esensial untuk direnungkan. Allah SWT mendahulukan frasa <em>&ldquo;ta&rsquo;muruna bil ma&rsquo;ruf&rdquo; </em>(memerintahkan kebaikan) sebelum <em>&ldquo;tanhauna anil munkar&rdquo;</em> (mencegah kemungkaran). </p> <p>Pendahuluan redaksional ini tentu menyimpan hikmah metodologis dan edukatif yang sangat luas. Mengapa <em>amar ma&rsquo;ruf </em>diprioritaskan di atas <em>nahi mungkar?</em></p> <p>Secara aktual dan psikologis, mencegah kemungkaran (<em>nahi mungkar)</em> mempunyai tingkat kompleksitas, potensi konflik, dan akibat sosial yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan menyeru kepada kebaikan<em> (amar ma&rsquo;ruf).</em> Ketika seseorang diajak untuk melakukan kebaikan (seperti bersedekah, salat, alias jujur) pada umumnya tidak ada ego individual yang merasa terancam alias tersinggung. </p> <p>Sebaliknya, ketika seseorang dihentikan dari perbuatan mungkar alias maksiat, dorongan resistensi dan sifat melindungi bakal muncul secara intuitif. Maksiat sering kali berikatan erat dengan hawa nafsu dan kepentingan pragmatis; mencabut seseorang dari kebiasaan jelek secara mendadak alias represif nyaris dipastikan memicu Perlawanan dan bentrok terbuka.</p> <p>Bahkan dalam lingkup personal, teguran terhadap sebuah kekhilafan kerap kali ditanggapi dengan rasa tersinggung jika tidak disampaikan dengan kehati-hatian tingkat tinggi. Kompiksitas inilah yang mendorong para ustadz muktabar untuk menyusun izin adab, mekanisme, dan etika yang sangat ketat dalam penyelenggaraan nahi mungkar. </p> <p>Apabila nahi mungkar dilakukan secara amatiran, tanpa hikmah, dan tanpa memperhatikan <em>&ldquo;al-mauizhah al-hasanah&rdquo;, </em>tindakan tersebut bukannya menghilangkan kejahatan, malah berpotensi melahirkan kemungkaran baru yang jauh lebih besar dan destruktif.</p> <p><strong>Fikih </strong><strong><em>Nahi Mungkar:</em></strong><strong> Batasan Epistemologis dan Perlindungan Ruang Privat</strong></p> <p>Kompleksitas penyelenggaraan nahi mungkar dibedah secara konprehensif oleh <em>Hujjatul Islam</em> Imam Al-Ghazali dalam karya monumentalnya, &ldquo;<em>Ihya&rsquo; Ulumuddin&rdquo;. </em>Beliau mengalokasikan bab yang cukup panjang untuk membahas batas-batas normatif dan operasional <em>amar ma&rsquo;ruf nahi mungkar</em> agar tidak tergelincir menjadi tindakan anarki.</p> <p>Salah satu norma esensial yang digariskan oleh Imam Al-Ghazali adalah bahwa nahi mungkar hanya boleh ditujukan pada perbuatan yang status kemungkarannya telah disepakati secara konsensus <em>(ijma&rsquo;)</em> oleh seluruh ulama. </p> <p>Tindakan-tindakan maksiat yang tegas diharamkan dalam nas seperti meminum <em>khamr, </em>perzinahan, perjudian, dan pencurian adalah ranah objektif <em>nahi mungkar. </em>Namun, terhadap masalah-masalah yang tetap menjadi ranah perselisihan pandangan <em>(khilafiyah)</em> di antara para ustadz mazhab, seseorang tidak diperkenankan melakukan nahi mungkar secara represif. </p> <p>Dalam situasi <em>khilafiyah,</em> seseorang kudu menghormati keragaman ijtihad dan tidak boleh memaksakan satu pendapat ajaran tertentu kepada orang lain yang mengikuti ajaran berbeda.</p> <p>Prinsip esensial kedua dalam etika <em>nahi mungkar </em>adalah larangan keras terhadap perbuatan tajassus (memata-matai alias mencari-cari kesalahan orang lain). Agama menegaskan pelindungan terhadap ruang privat setiap individu. </p> <p>Dalam konteks modern dan bumi digital saat ini, <em>tajassus </em>manifestasi<em> </em>dalam corak tindakan peretasan, <em>doxing,</em> alias pembongkaran rahasia pribadi seseorang di media sosial dengan dalih <em>&ldquo;nahi mungkar&rdquo;.</em> Tindakan mengumbar keburukan privat seseorang demi dalih <em>amar ma&rsquo;ruf</em> adalah sebuah paradoks moral yang dilarang tegas oleh syariat.</p> <p>Pelajaran berbobot mengenai pelindungan ruang privat ini tertuang dalam kisah keteladanan Khalifah Umar bin Khattab RA. Suatu malam, lantaran kecurigaan yang mendalam, Sayyidina Umar memanjat genting rumah seorang penduduk Madinah dan mendapati pemilik rumah sedang melakukan perbuatan maksiat secara tersembunyi. Ketika Umar hendak menghukumnya, sang pemilik rumah dengan pandai mengusulkan koreksi mendasar: </p> <p><em>&ldquo;Wahai Amirul Mukminin, jika saya melakukan satu kesalahan berupa maksiat kepada Allah, maka engkau telah melakukan tiga pelanggaran hukum sekaligus. Pertama, engkau melanggar larangan tajassus (wala tajassasu dalam Surah Al-Hujurat). Kedua, engkau memasuki rumah tidak melalui pintunya. Ketiga, engkau masuk tanpa mengucapkan salam.&rdquo;</em></p> <p>Mendengar argumentasi norma tersebut, Sayyidina Umar RA dengan penuh kesadaran spiritual mengakui kekhilafannya dan membatalkan hukuman. Bahkan ketika masalah ini dikonsultasikan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA, beliau menyarankan agar sang khalifah tidak memberikan hukuman <em>takzir</em>. </p> <p>Mengapa? Karena maksiat tersebut dilakukan di area privat dan tertutup, bukan sebuah kejahatan demonstratif yang ditontonkan secara terbuka di ruang publik. Isyarat norma ini menunjukkan sungguh Islam sangat menjunjung tinggi privasi serta melarang keras tindakan kehakiman sendiri melalui cara-cara yang melanggar <em>adab syar&rsquo;i.</em></p> <p><strong>Rekonstruksi </strong><strong><em>Amar Ma&rsquo;ruf Nahi Mungkar</em></strong><strong> di Era Digital</strong></p> <p>Saat ini, kita hidup dalam era disrupsi info yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi digital. Dalam kacamata iman, lompatan teknologi ini bukanlah ancaman, melainkan sebuah nikmat Ilahi yang sangat besar sekaligus instrumen dakwah yang sangat potensial. </p> <p>Dunia digital menyajikan ruang tanpa pemisah yang kudu dioptimalkan secara positif oleh umat Islam untuk menebarkan pesan-pesan kebaikan secara sistematis dan masif.</p> <p>Dalam merespons dinamika era digital, strategi penyelenggaraan nahi mungkar perlu direkonstruksi. Sering kali, strategi <em>nahi mungkar </em>yang paling efektif bukanlah melalui tindakan konfrontatif mendobrak kejahatan secara langsung, melainkan dengan langkah membanjiri ruang publik melalui <em>amar ma&rsquo;ruf: </em>memperbanyak narasi positif, edukatif, dan penuh kasih sayang. </p> <p>Ketika sinar kebaikan diproduksi secara melimpah dan konsisten, secara otomatis kegelapan kemungkaran bakal terdesak dan memudar dengan sendirinya.</p> <p>Pendekatan edukatif dan persuasif ini tercermin dalam sebuah kisah inspiratif dari seorang ustad di Jawa Tengah (mohon maaf saya tidak mau menyebut namanya). Suatu ketika, seorang preman yang dikenal doyan meminum minuman keras beriktikad untuk ikut mengaji di pesantren ustad tersebut, dengan syarat tidak boleh dilarang melakukan hobinya. </p> <p>Pada pertemuan-pertemuan awal, preman tersebut datang di tengah-tengah majelis pengetahuan sembari membawa botol minuman keras secara terbuka. Sang ustad yang mempunyai kedalaman hikmah tidak langsung menegurnya secara konfrontatif alias mengusirnya dari majelis. Beliau menyambutnya dengan lapang dada, membiarkan sang preman menyerap sinar kebaikan dan aliran kepercayaan secara bertahap.</p> <p>Hasil dari kesabaran dan pendekatan berbasis <em>amar ma&rsquo;ruf </em>tersebut sungguh luar biasa. Pada pertemuan ketiga dan seterusnya, botol minuman keras itu menghilang dengan sendirinya. </p> <p>Kesadaran spiritual sang preman tumbuh secara alami dari dalam jiwa, hingga akhirnya dia bertobat secara total. Pendekatan persuasif dan empatik ini membuktikan bahwa menyemai kebaikan sering kali jauh lebih berkekuatan ubah daripada memukul keburukan secara frontal.</p> <p>Syahdan. <em>Amar ma&rsquo;ruf </em>dan<em> nahi mungkar</em> merupakan mahkota keistimewaan umat Nabi Muhammad SAW yang kudu terus dijaga keberlangsungannya. Namun, pelaksanaannya kudu sentiasa dipandu oleh kedalaman ilmu, ketelitian adab, serta keluhuran adab sebagaimana yang dicontohkan oleh para ustadz terdahulu. </p> <p><em>Nahi mungkar</em> tanpa etika hanya bakal melahirkan kekacauan sosial, sedangkan <em>amar ma&rsquo;ruf </em>yang dilakukan dengan <em>al-mauizhah al-hasanah </em>akan menyinari jiwa manusia secara mendalam.</p> <p>Di tengah lanskap modernitas dan kemajuan teknologi digital saat ini, marilah kita beralih bentuk dari sekadar pribadi yang saleh secara perseorangan menjadi pribadi yang saleh secara sosial dan transformatif. Mari kita banjiri jagat digital dan realitas sosial kita dengan narasi kebaikan, keelokan Islam, dan kesantunan beragama. </p> <p>Dengan langkah itulah kita betul-betul layak menyandang predikat mulia sebagai <em>&ldquo;khairu ummah&rdquo;,</em> umat terbaik yang dihadirkan untuk membawa rahmat bagi seluruh alam. <em>Wallahu a&rsquo;lam bisshawab.</em></p> <p><em>*) Alumni PP Salafiyah Syafi&rsquo;iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.</em></p> <div> <p><a href="https://bit.ly/SertifikasiHalalGratisEBI" target="_blank" rel="noopener noreferrer"> <img src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-15-at-20.44.10.jpeg" alt="Sertifikasi Halal"> </a> </p> </div> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/transformasi-kesalehan-rekonstruksi-amar-ma-ruf-nahi-mungkar-di-era-digital-166878.html</guid> <pubDate>Mon, 17 Aug 2026 21:00:21 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Salman Akif Faylasuf)</author> </item> <item> <title>Ragam Bacaan Dzikir Yang Bisa Dibaca Ketika I’tidal</title> <description>Ragam Bacaan Dzikir Yang Bisa Dibaca Ketika I’tidal. Kincai Media – Ketika berdiri dari ruku’ untuk i’tidal, biasanya kita bakal membaca sami’allahu liman hamidah. Dan ketika i’tidal, kita juga biasa membaca ...</description> <media:thumbnail url="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2023/01/man-praying-floor-indoors-1.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/ragam-bacaan-dzikir-yang-bisa-dibaca-ketika-i-tidal-166879.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div> <div><figure><a href="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2023/01/man-praying-floor-indoors-1.jpg" data-caption="Ragam Bacaan Dzikir yang Bisa Dibaca Ketika I&#039;tidal"><img width="696" height="464" src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2023/01/man-praying-floor-indoors-1.jpg" srcset="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2023/01/man-praying-floor-indoors-1-696x464.jpg 696w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2023/01/man-praying-floor-indoors-1-640x427.jpg 640w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2023/01/man-praying-floor-indoors-1-1024x683.jpg 1024w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2023/01/man-praying-floor-indoors-1-768x512.jpg 768w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2023/01/man-praying-floor-indoors-1-1068x712.jpg 1068w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2023/01/man-praying-floor-indoors-1-630x420.jpg 630w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2023/01/man-praying-floor-indoors-1.jpg 1500w" sizes=" 696px) 100vw, 696px" alt="Ragam Bacaan Dzikir yang Bisa Dibaca Ketika I&#039;tidal" title="Ragam Bacaan Dzikir yang Bisa Dibaca Ketika I&#039;tidal"></a>Ragam Bacaan Dzikir yang Bisa Dibaca Ketika I'tidal</figure></div> <p><strong>Kincai Media &ndash; </strong>Ketika berdiri dari <a href="https://bincangsyariah.com/zikir-dan-doa/doa-rasulullah-saat-rukuk-dan-sujud/">ruku&rsquo;</a> untuk i&rsquo;tidal, biasanya kita bakal membaca sami&rsquo;allahu liman hamidah. Dan ketika i&rsquo;tidal, kita juga biasa membaca referensi i&rsquo;tidal;&rdquo;<em>rabbana</em> lakal hamdu mil ussamaawaati wal ardla wamil ulardli wamil umaasyi&rsquo;ta min syain ba&rsquo;du.</p> <p>Imam Nawawi di dalam kitab <a href="http://waqfeya.com/book.php?bid=6406">Al-Adzkar</a> menjelaskan ragam referensi dzikir dan referensi yang bisa dibaca saat i&rsquo;tidal. Apa sajakah itu? Berikut ulasannya.</p> <p>Imam Nawawi mengatakan bahwa ketika berdiri dari ruku&rsquo; sunnahnya adalah mengatakan sami&rsquo;Allahu liman hamidah (Allah mendengar orang yang memujiNya) dan boleh mengatakan man hamidallaha sami&rsquo;a lahu (Siapa yang memuji Allah, maka Dia mendengarnya).</p> <h6>Ragam Bacaan &nbsp;I&rsquo;tidal</h6> <p>Adapun ketika i&rsquo;tidal ragam bacaannya adalah sebagai berikut.</p> <p><strong>Bacaan Pertama. </strong><em>Rabbanaa lakal hamdu/rabbanaa walakal hamdu</em></p> <p>&#1593;&#1606; &#1571;&#1576;&#1610; &#1607;&#1585;&#1610;&#1585;&#1577; &#1585;&#1590;&#1610; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1606;&#1607; &#1571;&#1606;&#1607; &#1602;&#1575;&#1604;: &#1603;&#1575;&#1606; &#1585;&#1587;&#1608;&#1604; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1589;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607; &#1608;&#1587;&#1604;&#1605; &#1610;&#1602;&#1608;&#1604;: &rdquo; &#1587;&#1614;&#1605;&#1616;&#1593;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615; &#1604;&#1616;&#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1581;&#1614;&#1605;&#1616;&#1583;&#1614;&#1607;&#1615; &ldquo;&#1581;&#1610;&#1606; &#1610;&#1585;&#1601;&#1593; &#1589;&#1604;&#1576;&#1607; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1585;&#1603;&#1608;&#1593;&#1548; &#1579;&#1605; &#1610;&#1602;&#1608;&#1604; &#1608;&#1607;&#1608; &#1602;&#1575;&#1574;&#1605;: &ldquo;&#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575; &#1604;&#1614;&#1603;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1605;&#1618;&#1583;&#1615;&rdquo; . (&#1585;&#1608;&#1575;&#1607; &#1575;&#1604;&#1576;&#1582;&#1575;&#1585;&#1610; &#1608;&#1605;&#1587;&#1604;&#1605;)</p> <p>Dari Abu Hurairah r.a., bahwasannya dia berkata, Rasulullah saw. mengucapkan &ldquo;Sami&rsquo;Allahu liman hamidah&rdquo; ketika punggungnya naik dari posisi ruku&rsquo;, lampau beliau mengucapkan ketika berdiri &ldquo;Rabbanaa lakal hamd (Ya Tuhan kami Segala puji bagi Mu).&rdquo; (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p> <p>Imam Nawawi menjelaskan bahwa redaksi di dalam riwayat-riwayat lainnya dengan menggunakan wawu sebagai berikut.</p> <p>&ldquo;&#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575; &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1603;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1605;&#1618;&#1583;&#1615;&rdquo;</p> <p>Rabbanaa walakal hamdu (Ya Tuhan kami, Dan segala puji bagi Mu). Menurut pemimpin Nawawi keduanya baik untuk diamalkan.</p> <p><strong>Kedua. </strong><em>Rabbana lakal hamdu mil ussamaawaati wal ardla wamil ulardli wamil umaasyi&rsquo;ta min syain ba&rsquo;du</em></p> <p>&#1593;&#1606; &#1593;&#1604;&#1610; &#1608;&#1575;&#1576;&#1606; &#1571;&#1576;&#1610; &#1571;&#1608;&#1601;&#1609; &#1585;&#1590;&#1610; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1606;&#1607;&#1605;: &#1571;&#1606; &#1585;&#1587;&#1608;&#1604; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1589;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607; &#1608;&#1587;&#1604;&#1605; &#1603;&#1575;&#1606; &#1573;&#1584;&#1575; &#1585;&#1601;&#1593; &#1585;&#1571;&#1587;&#1607; &#1602;&#1575;&#1604;: &ldquo;&#1587;&#1614;&#1605;&#1616;&#1593;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615; &#1604;&#1616;&#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1581;&#1614;&#1605;&#1616;&#1583;&#1614;&#1607;&#1615; &#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575; &#1604;&#1614;&#1603;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1605;&#1618;&#1583;&#1615; &#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1614;&#1605;&#1648;&#1608;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616; &#1608;&#1614;&#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1571;&#1614;&#1585;&#1618;&#1590;&#1616; &#1608;&#1614;&#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575; &#1588;&#1616;&#1574;&#1618;&#1578;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1588;&#1614;&#1610;&#1618;&#1569;&#1613; &#1576;&#1614;&#1593;&#1618;&#1583;&#1615;&rdquo; .(&#1585;&#1608;&#1575;&#1607; &#1605;&#1587;&#1604;&#1605;)</p> <p>Dari Ali dan Ibnu Abi Aufa r.a., bahwasannya Rasulullah saw. ketika mengangkat kepalanya (dari ruku&rsquo;) mengucapkan, &ldquo;Sami&rsquo;Allahu liman hamidah, Rabbana lakal hamdu mil assamaawaati wamil alardli wamil amaasyi&rsquo;ta min syain ba&rsquo;du. (Allah mendengar terhadap orang yang memujinya, Ya Tuhan kami. Segala puji bagiMu sepenuh langit, sepenuhnya bumi, dan sepenuh apa yang Engkau inginkan darinya setelah itu.&rdquo; (HR. Muslim)</p> <p><strong>Ketiga. </strong><em>Allahumma rabbanaa lakal hamdu mil&rsquo;as samaawaati wamil al-ardli wa mil a maa syi&rsquo;ta min syai in ba&rsquo;du ahlats tsanaa&rsquo;i wal majdi ahaqqu ma qaalal &lsquo;abdu wa kullunaa laka &lsquo;abdun. Allahumma laa maani&rsquo;a limaa a&rsquo;thaita walaa mu&rsquo;thia limaa mana&rsquo;ta walaa yanfa&rsquo;u dzal jaddi minkal jaddu</em></p> <p>&#1593;&#1606; &#1571;&#1576;&#1610; &#1587;&#1593;&#1610;&#1583; &#1575;&#1604;&#1582;&#1583;&#1585;&#1610; &#1585;&#1590;&#1610; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1606;&#1607;: &#1571;&#1606; &#1585;&#1587;&#1608;&#1604; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1589;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607; &#1608;&#1587;&#1604;&#1605; &#1603;&#1575;&#1606; &#1573;&#1584;&#1575; &#1585;&#1601;&#1593; &#1585;&#1571;&#1587;&#1607; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1585;&#1603;&#1608;&#1593; &#1602;&#1575;&#1604;: &ldquo;&#1575;&#1614;&#1604;&#1604;&#1617;&#1648;&#1607;&#1615;&#1605;&#1617;&#1614; &#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575; &#1604;&#1614;&#1603;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1605;&#1618;&#1583;&#1615; &#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1614;&#1605;&#1648;&#1608;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616; &#1608;&#1614;&#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1571;&#1614;&#1585;&#1618;&#1590;&#1616; &#1608;&#1614;&#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575; &#1588;&#1616;&#1574;&#1618;&#1578;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1588;&#1614;&#1610;&#1618;&#1569;&#1613; &#1576;&#1614;&#1593;&#1618;&#1583;&#1615; &#1576;&#1614;&#1593;&#1618;&#1583;&#1615; &#1571;&#1614;&#1607;&#1618;&#1604;&#1614; &#1575;&#1604;&#1579;&#1617;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575;&#1569;&#1616; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;&#1580;&#1618;&#1583;&#1616; &#1571;&#1614;&#1581;&#1614;&#1602;&#1617;&#1615; &#1605;&#1614;&#1575; &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1614;&#1576;&#1618;&#1583;&#1615; &#1608;&#1614;&#1603;&#1615;&#1604;&#1617;&#1615;&#1606;&#1614;&#1575; &#1604;&#1614;&#1603;&#1614; &#1593;&#1614;&#1576;&#1618;&#1583;&#1612; &#1575;&#1614;&#1604;&#1604;&#1617;&#1648;&#1607;&#1615;&#1605;&#1617;&#1614; &#1604;&#1575;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;&#1593;&#1614; &#1604;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575; &#1571;&#1614;&#1593;&#1618;&#1591;&#1614;&#1610;&#1618;&#1578;&#1614; &#1608;&#1614;&#1604;&#1575;&#1614; &#1605;&#1615;&#1593;&#1618;&#1591;&#1616;&#1610;&#1614; &#1604;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575; &#1605;&#1614;&#1606;&#1614;&#1593;&#1618;&#1578;&#1614; &#1608;&#1614;&#1604;&#1575;&#1614; &#1610;&#1614;&#1606;&#1618;&#1601;&#1614;&#1593;&#1615; &#1584;&#1614;&#1575; &#1575;&#1604;&#1618;&#1580;&#1614;&#1583;&#1617;&#1616; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618;&#1603;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1580;&#1614;&#1583;&#1617;&#1615;. (&#1585;&#1608;&#1575;&#1607; &#1605;&#1587;&#1604;&#1605;)</p> <p>Dari Abi Sai&rsquo;d Al-Khudri r.a., bahwasannya Rasulullah saw. ketika mengangkat kepalanya dari ruku&rsquo;, beliau membaca, &ldquo;Allahumma rabbanaa lakal hamdu mil&rsquo;as samaawaati wamil al-ardli wa mil a maa syi&rsquo;ta min syai in ba&rsquo;du ahlats tsanaa&rsquo;i wal majdi ahaqqu ma qaalal &lsquo;abdu wa kullunaa laka &lsquo;abdun. Allahumma laa maani&rsquo;a limaa a&rsquo;thaita walaa mu&rsquo;thia limaa mana&rsquo;ta walaa yanfa&rsquo;u dzal jaddi minkal jaddu. (HR. Muslim)</p> <p><strong>Keempat. </strong><em>Rabbanaa lakal hamdu mil&rsquo;as samaawaati wamil al-ardli wa mil a maa bainahumaa wa mil a maa syi&rsquo;ta min syai in ba&rsquo;du</em></p> <p>&#1593;&#1614;&#1606;&#1616; &#1575;&#1576;&#1618;&#1606;&#1616; &#1593;&#1614;&#1576;&#1617;&#1614;&#1575;&#1587;&#1613; &#1585;&#1614;&#1590;&#1616;&#1610;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615; &#1593;&#1614;&#1606;&#1618;&#1607;&#1615;&#1605;&#1614;&#1575; &#1571;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614; &#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1576;&#1616;&#1609;&#1617;&#1614; -&#1589;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607; &#1608;&#1587;&#1604;&#1605;- &#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614; &#1573;&#1616;&#1584;&#1614;&#1575; &#1585;&#1614;&#1601;&#1614;&#1593;&#1614; &#1585;&#1614;&#1571;&#1618;&#1587;&#1614;&#1607;&#1615; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1585;&#1617;&#1615;&#1603;&#1615;&#1608;&#1593;&#1616; &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614;: &rdquo; &#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575; &#1604;&#1614;&#1603;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1605;&#1618;&#1583;&#1615; &#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1614;&#1605;&#1648;&#1608;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616; &#1608;&#1614;&#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1575;&#1614;&#1585;&#1618;&#1590;&#1616; &#1608;&#1614;&#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575; &#1576;&#1614;&#1610;&#1618;&#1606;&#1614;&#1607;&#1615;&#1605;&#1614;&#1575; &#1608;&#1614;&#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575; &#1588;&#1616;&#1574;&#1618;&#1578;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1588;&#1614;&#1610;&#1618;&#1569;&#1613; &#1576;&#1614;&#1593;&#1618;&#1583;&#1615;. (&#1585;&#1608;&#1575;&#1607; &#1605;&#1587;&#1604;&#1605;)</p> <p>Dari Ibnu Abbas r.a., bahwasannya Nabi saw. ketika mengangkat kepalanya dari ruku&rsquo; beliau mengucapkan, &ldquo;Rabbanaa lakal hamdu mil&rsquo;as samaawaati wamil al-ardli wa mil a maa bainahumaa wa mil a maa syi&rsquo;ta min syai in ba&rsquo;du.&rdquo; (HR. Muslim)</p> <p><strong>Kelima. </strong><em>Rabbanaa walakal hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fihi</em></p> <p>&#1593;&#1606; &#1585;&#1601;&#1575;&#1593;&#1577; &#1576;&#1606; &#1585;&#1575;&#1601;&#1593; &#1575;&#1604;&#1586;&#1585;&#1602;&#1610; &#1585;&#1590;&#1610; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1606;&#1607; &#1602;&#1575;&#1604;: &#1603;&#1606;&#1575; &#1610;&#1608;&#1605;&#1575; &#1606;&#1589;&#1604;&#1610; &#1608;&#1585;&#1575;&#1569; &#1575;&#1604;&#1606;&#1576;&#1610; &#1589;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607; &#1608;&#1587;&#1604;&#1605;&#1548; &#1601;&#1604;&#1605;&#1575; &#1585;&#1601;&#1593; &#1585;&#1571;&#1587;&#1607; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1585;&#1603;&#1593;&#1577; &#1602;&#1575;&#1604;: &ldquo;&#1587;&#1605;&#1593; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1604;&#1605;&#1606; &#1581;&#1605;&#1583;&#1607; &rdquo; &#1548; &#1601;&#1602;&#1575;&#1604; &#1585;&#1580;&#1604; &#1608;&#1585;&#1575;&#1569;&#1607;: &#1585;&#1576;&#1606;&#1575; &#1608;&#1604;&#1603; &#1575;&#1604;&#1581;&#1605;&#1583; &#1581;&#1605;&#1583;&#1575; &#1603;&#1579;&#1610;&#1585;&#1575; &#1591;&#1610;&#1576;&#1575; &#1605;&#1576;&#1575;&#1585;&#1603;&#1575; &#1601;&#1610;&#1607;&#1548; &#1601;&#1604;&#1605;&#1575; &#1575;&#1606;&#1589;&#1585;&#1601; &#1602;&#1575;&#1604;: &ldquo;&#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1605;&#1578;&#1603;&#1604;&#1605;&#1567;&rdquo; &#1602;&#1575;&#1604;: &#1571;&#1606;&#1575;&#1548; &#1602;&#1575;&#1604;: &ldquo;&#1585;&#1571;&#1610;&#1578; &#1576;&#1590;&#1593;&#1577; &#1608;&#1579;&#1604;&#1575;&#1579;&#1610;&#1606; &#1605;&#1604;&#1603;&#1575; &#1610;&#1576;&#1578;&#1583;&#1585;&#1608;&#1606;&#1607;&#1575; &#1571;&#1610;&#1607;&#1605; &#1610;&#1603;&#1578;&#1576;&#1607;&#1575; &#1571;&#1608;&#1604;&rdquo; (&#1585;&#1608;&#1575;&#1607; &#1575;&#1604;&#1576;&#1582;&#1575;&#1585;&#1610;)</p> <p>Dari Rifa&rsquo;ah bin Rafi&rsquo; Az-Zarqi r.a., dia berkata, &ldquo;Suatu hari, kami shalat di belakang Nabi saw. lampau ketika beliau mengangkat kepalanya dari ruku&rsquo;, beliau mengucapkan, &ldquo;Sami&rsquo;Allahu liman Hamidah. Lalu ada seorang laki-laki yang berada di belakangnya mengucapkan, &ldquo;<em>Rabbanaa walakal hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi</em>.&rdquo; Ketika (hendak) pergi, beliau bertanya, &ldquo;Siapa yang mengucapkan tadi?&rdquo; laki-laki itu menjawab, &ldquo;Saya.&rdquo; Beliau bersabda, &ldquo;Aku memandang 30 lebih malaikat yang berebutan pertama kali menulis amalnya.&rdquo; (HR. Al-Bukhari)</p> <p><strong>Keenam. &lt;/strong&amp;amp;gt;<em>Baca</em>a&lt;/em&gt;n i&rsquo;tidal Imam Syafii</strong></p> <p>Imam Nawawi menukil pendapat pemimpin Syafii di dalam kitab <em>Al-Umm</em> yang mengatakan bahwa jika seseorang hendak berdiri dari ruku&rsquo; menuju i&rsquo;tidak dan melaksanakan &rsquo;tidal, maka dia mengucapkan</p> <p>&#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575; &#1604;&#1614;&#1603;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1605;&#1618;&#1583;&#1615; &#1581;&#1614;&#1605;&#1618;&#1583;&#1611;&#1575; &#1603;&#1614;&#1579;&#1616;&#1610;&#1618;&#1585;&#1611;&#1575; &#1591;&#1614;&#1610;&#1617;&#1616;&#1576;&#1611;&#1575; &#1605;&#1615;&#1576;&#1614;&#1575;&#1585;&#1614;&#1603;&#1611;&#1575; &#1601;&#1616;&#1610;&#1618;&#1607;&#1616; &#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1614;&#1605;&#1648;&#1608;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616; &#1608;&#1614;&#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1575;&#1614;&#1585;&#1618;&#1590;&#1616; &#1608;&#1614;&#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575; &#1576;&#1614;&#1610;&#1618;&#1606;&#1614;&#1607;&#1615;&#1605;&#1614;&#1575; &#1608;&#1614;&#1605;&#1616;&#1604;&#1618;&#1569;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575; &#1588;&#1616;&#1574;&#1618;&#1578;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1588;&#1614;&#1610;&#1618;&#1569;&#1613; &#1576;&#1614;&#1593;&#1618;&#1583;&#1615; &#1571;&#1614;&#1607;&#1618;&#1604;&#1614; &#1575;&#1604;&#1579;&#1617;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575;&#1569;&#1616; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;&#1580;&#1618;&#1583;&#1616; &#1571;&#1614;&#1581;&#1614;&#1602;&#1617;&#1615; &#1605;&#1614;&#1575; &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1614;&#1576;&#1618;&#1583;&#1615; &#1608;&#1614;&#1603;&#1615;&#1604;&#1617;&#1615;&#1606;&#1614;&#1575; &#1604;&#1614;&#1603;&#1614; &#1593;&#1614;&#1576;&#1618;&#1583;&#1612; &#1604;&#1575;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;&#1593;&#1614; &#1604;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575; &#1571;&#1614;&#1593;&#1618;&#1591;&#1614;&#1610;&#1618;&#1578;&#1614; &#1608;&#1614;&#1604;&#1575;&#1614; &#1605;&#1615;&#1593;&#1618;&#1591;&#1616;&#1610;&#1614; &#1604;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575; &#1605;&#1614;&#1606;&#1614;&#1593;&#1618;&#1578;&#1614; &#1608;&#1614;&#1604;&#1575;&#1614; &#1610;&#1614;&#1606;&#1618;&#1601;&#1614;&#1593;&#1615; &#1584;&#1614;&#1575; &#1575;&#1604;&#1618;&#1580;&#1614;&#1583;&#1617;&#1616; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618;&#1603;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1580;&#1614;&#1583;&#1617;&#1615;.</p> <p><em>Rabbanaa lakal hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi mil&rsquo;as samaawaati wamil al-ardli wa mil a maa syi&rsquo;ta min syai in ba&rsquo;du ahlats tsanaa&rsquo;i wal majdi ahaqqu ma qaalal &lsquo;abdu wa kullunaa laka &lsquo;abdun laa maani&rsquo;a limaa a&rsquo;thaita walaa mu&rsquo;thia limaa mana&rsquo;ta walaa yanfa&rsquo;u dzal jaddi minkal jaddu.</em></p> <p>Ya Tuhan kami, hanyalah kepada Mu segala puji pujian yang banyak, baik, yang diberkahi di dalamnya sepenuh langit, sepenuhnya bumi, sepenuh keduanya, dan sepenuh apa yang Engkau inginkan darinya setelah itu. Dzat yang berkuasa mendapatkan pujian dan kemuliaan sebagaimana yang diucapkan oleh hambaNya.</p> <p>Dan kita semua adalah hamba bagiMu. Tidak ada yang dapat menghalangi terhadap apa yang telah Engkau berikan, dan Tidak ada yang dapat memberi terhadap apa yang telah Engkau cegah. Dan kemuliaan itu tidak ada gunanya dariMu Dzat yang mempunyai kemuliaan.</p> <p>Bacaan pemimpin Syafii tersebut merupakan campuran dari semua referensi yang diajarkan Rasulullah saw. dan sahabanya di dalam hadis-hadisnya.</p> <p>Imam Nawawi memberikan konklusi bahwa disunnahkan (jika mampu) membaca seluruh dari referensi dzikir-dzikir tersebut ketika ruku&rsquo; (sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Syafii). Jika mau meringkasnya maka cukup membaca &ldquo;Sami&rsquo;Allahu liman hamidah.&rdquo; &ldquo;Rabbanalakal hamdu mil&rsquo;as samaawaati wamil al ardli wa mil a maa syi&rsquo;ta min syain ba&rsquo;du.&rdquo; Dan jika mau meringkasnya lagi maka cukup mengatakan &ldquo;Sami&rsquo;a Allahu liman hamidah.&rdquo; &ldquo;Rabbanaa walakal hamd.&rdquo; Dan tidak ada referensi yang lebih ringkas dari itu.&lt;/p&gt;</p> <p>Terakhir pemimpin Nawawi mengatakan ragam referensi dzikir yang bisa dibaca saat i&rsquo;tidal tersebut semuanya sunnah dilakukan baik bagi imam, makmum, maupun orang yang shalat sendirian. Kecuali bagi imam, tidak boleh membaca semua dzikir tersebut selain dia mengetahui bahwa makmumnya juga memperbolehkan dia shalat dengan referensi yang panjang.</p> <p>Hal ini disebabkan lantaran kondisi pemimpin yang berbeda-beda, ada yang tua, sibuk, dan lain sebagainya. Sehingga dikhawatirkan jika pemimpin membaca terlalu panjang dan lama, maka makmumnya bakal merasa resah. Wa Allahu A&rsquo;lam bis Shawab.</p> <div> <p><a href="https://bit.ly/SertifikasiHalalGratisEBI" target="_blank" rel="noopener noreferrer"> <img src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-15-at-20.44.10.jpeg" alt="Sertifikasi Halal"> </a> </p> </div> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/ragam-bacaan-dzikir-yang-bisa-dibaca-ketika-i-tidal-166879.html</guid> <pubDate>Mon, 17 Aug 2026 21:00:21 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Zainuddin Lubis)</author> </item> <item> <title>Ragu Jumlah Rakaat Shalat? Ini Solusinya</title> <description>Ragu Jumlah Rakaat Shalat? Ini Solusinya. Kincai Media– Di antara sekian banyak gangguan dalam shalat, ragu jumlah rakaat, barangkali adalah yang paling sering dialami umat Islam. Bayangkan: seseo...</description> <media:thumbnail url="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2025/10/15132.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/ragu-jumlah-rakaat-shalat-ini-solusinya-166880.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div> <div><figure><a href="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2025/10/15132.jpg" data-caption="Ragu Jumlah Rakaat Saat Shalat? Ini Solusinya"><img width="696" height="464" src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2025/10/15132.jpg" srcset="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2025/10/15132-696x464.jpg 696w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2025/10/15132-640x427.jpg 640w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2025/10/15132-1024x683.jpg 1024w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2025/10/15132-768x512.jpg 768w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2025/10/15132-630x420.jpg 630w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2025/10/15132-1068x712.jpg 1068w, https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2025/10/15132.jpg 1500w" sizes=" 696px) 100vw, 696px" alt="Ragu Jumlah Rakaat Saat Shalat? Ini Solusinya" title="Ragu Jumlah Rakaat Saat Shalat? Ini Solusinya"></a>Ragu Jumlah Rakaat Saat Shalat? Ini Solusinya</figure></div> <p><strong>Kincai Media</strong>&ndash; Di antara sekian banyak gangguan dalam shalat, ragu jumlah rakaat, barangkali adalah yang paling sering dialami umat Islam. Bayangkan: seseorang sedang <a href="https://bincangsyariah.com/tag/batasan-khusyuk/">khusyuk</a> dalam rakaat ketiga, tiba-tiba pikirannya melayang &mdash; &ldquo;Tadi ini rakaat keempat alias baru ketiga?&rdquo; Dalam momen seperti itu, ketenangan ibadah pun berubah menjadi kebingungan.</p> <p>Lantas gimana jika seorang <a href="https://bincangmuslimah.com/">Muslim</a> tak percaya &nbsp;atau ragu berapa rakaat shalat yang telah dia tunaikan? Haruskah dia menebak dengan perasaan? Atau gimana pedoman fiqh dalam masalah ragu dalam bilangan shalat?</p> <p>Imam an-Nawawi, dalam kitab <em>Raudhatut Thalibin</em> menjelaskan bahwa jika seseorang sedang shalat lampau merasa ragu, misalnya tidak percaya apakah sudah tiga rakaat alias empat, maka yang kudu diambil adalah jumlah yang paling sedikit, ialah tiga rakaat. Setelah itu, dia melanjutkan kekurangannya hingga shalatnya lengkap, lampau melakukan sujud sahwi (dua kali sujud lantaran lupa alias ragu).</p> <p>Alasannya, dalam Islam kita diajarkan untuk berpegang pada perihal yang percaya dan meninggalkan yang tetap diragukan. Dalam contoh ini, yang pasti adalah tiga rakaat (karena tiga sudah dilakukan dengan yakin), sedangkan empat tetap ragu. Simak penjelasan Imam An-Nawawi berikut;</p> <p>&#1608;&#1604;&#1608; &#1588;&#1603;&#1614;&#1617; &#1607;&#1604; &#1589;&#1604;&#1614;&#1617;&#1609; &#1579;&#1604;&#1575;&#1579;&#1611;&#1575; &#1571;&#1605; &#1571;&#1585;&#1576;&#1593;&#1611;&#1575;&#1567; &#1571;&#1582;&#1584; &#1576;&#1575;&#1604;&#1571;&#1602;&#1604;&#1616;&#1617;&#1548; &#1608;&#1571;&#1578;&#1609; &#1576;&#1575;&#1604;&#1576;&#1575;&#1602;&#1610;&#1548; &#1608;&#1587;&#1580;&#1583; &#1604;&#1604;&#1587;&#1607;&#1608;&#1563; &#1608;&#1604;&#1575; &#1610;&#1606;&#1601;&#1593;&#1607; &#1575;&#1604;&#1592;&#1606;&#1548; &#1608;&#1604;&#1575; &#1571;&#1579;&#1585; &#1604;&#1604;&#1575;&#1580;&#1578;&#1607;&#1575;&#1583; &#1601;&#1610; &#1607;&#1584;&#1575; &#1575;&#1604;&#1576;&#1575;&#1576;</p> <p>Artinya; Jika seseorang ragu apakah dia telah shalat tiga rakaat alias empat rakaat, maka dia kudu mengambil jumlah yang lebih sedikit (yaitu tiga rakaat), kemudian menyempurnakan kekurangannya, dan setelah itu melakukan sujud sahwi. Dalam perihal ini, dugaan alias perkiraannya tidak dianggap benar, dan ijtihad (upaya menebak dengan kepercayaan pribadi) juga tidak bertindak dalam masalah seperti ini. (Imam An-Nawawi, <em>Raudhatut Thalibin</em>, Jilid I, laman 308)</p> <p><strong>Melakukan Sujud Sahwi di Akhir Shalat</strong></p> <p>Pun, Imam al-Mardawi, menjelaskan perihal yang sama, jika seseorang ragu jumlah rakaat shalatnya, maka dia kudu berpegang pada yang paling yakin, ialah jumlah yang lebih sedikit. Misalnya, jika seseorang tidak percaya apakah dia sudah shalat dua alias tiga rakaat, maka dia kudu menghitungnya dua rakaat saja, lantaran itu yang pasti. Setelah itu, dia menyempurnakan kekurangannya dan melakukan sujud sahwi di akhir shalat.</p> <p>&#1608;&#1571;&#1605;&#1614;&#1617;&#1575; &#1575;&#1604;&#1588;&#1614;&#1617;&#1603;&#1615;&#1617;&#1548; &#1601;&#1605;&#1578;&#1609; &#1588;&#1603;&#1614;&#1617; &#1601;&#1610; &#1593;&#1583;&#1583; &#1575;&#1604;&#1585;&#1603;&#1593;&#1575;&#1578; &#1576;&#1614;&#1606;&#1614;&#1609; &#1593;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1610;&#1602;&#1610;&#1606;&#1548; &#1607;&#1584;&#1575; &#1575;&#1604;&#1605;&#1584;&#1607;&#1576; &#1605;&#1591;&#1604;&#1602;&#1611;&#1575;&#1548; &#1608;&#1593;&#1604;&#1610;&#1607; &#1580;&#1605;&#1575;&#1607;&#1610;&#1585; &#1575;&#1604;&#1571;&#1589;&#1581;&#1575;&#1576;</p> <p>Artinya; Adapun keraguan dalam jumlah rakaat, maka andaikan seseorang ragu berapa rakaat yang telah dia kerjakan, dia kudu berpegang pada yang lebih percaya (jumlah yang lebih sedikit). Inilah pendapat ajaran (Syafi&lsquo;i) secara umum, dan menjadi pegangan kebanyakan ustadz dalam ajaran tersebut. (Imam Mardhawi, <em>Al-Inshaf,</em> Jilid II, laman 146)</p> <p>Pada sisi lain, dalam sabda riwayat Abu Daud, dijelaskan bahwa Nabi Muhammad mengajarkan, ketika seseorang ragu dalam shalat; apakah sudah tiga rakaat alias empat, maka seyogianya ikutilah yang paling yakin, ialah jumlah rakaat yang lebih sedikit. Setelah itu, sebelum salam di akhir, sempurnakan kekurangannya dan tutup shalat dengan dua sujud sahwi.</p> <p>&#1573;&#1616;&#1584;&#1614;&#1575; &#1588;&#1614;&#1603;&#1614;&#1617; &#1571;&#1614;&#1581;&#1614;&#1583;&#1615;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618; &#1601;&#1616;&#1610; &#1589;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616;&#1607;&#1616; &#1601;&#1614;&#1604;&#1618;&#1610;&#1615;&#1604;&#1618;&#1602;&#1616; &#1575;&#1604;&#1588;&#1614;&#1617;&#1603;&#1614;&#1617; &#1608;&#1614;&#1604;&#1618;&#1610;&#1614;&#1576;&#1618;&#1606;&#1616; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609; &#1575;&#1604;&#1618;&#1610;&#1614;&#1602;&#1616;&#1610;&#1606;&#1616; &#1601;&#1614;&#1573;&#1616;&#1584;&#1614;&#1575; &#1575;&#1587;&#1618;&#1578;&#1614;&#1610;&#1618;&#1602;&#1614;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1578;&#1614;&#1617;&#1605;&#1614;&#1575;&#1605;&#1614; &#1587;&#1614;&#1580;&#1614;&#1583;&#1614; &#1587;&#1614;&#1580;&#1618;&#1583;&#1614;&#1578;&#1614;&#1610;&#1618;&#1606;&#1616; &#1601;&#1614;&#1573;&#1616;&#1606;&#1618; &#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614;&#1578;&#1618; &#1589;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575;&#1578;&#1615;&#1607;&#1615; &#1578;&#1614;&#1575;&#1605;&#1614;&#1617;&#1577;&#1611; &#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614;&#1578;&#1618; &#1575;&#1604;&#1585;&#1614;&#1617;&#1603;&#1618;&#1593;&#1614;&#1577;&#1615; &#1606;&#1614;&#1575;&#1601;&#1616;&#1604;&#1614;&#1577;&#1611; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1587;&#1614;&#1617;&#1580;&#1618;&#1583;&#1614;&#1578;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616; &#1608;&#1614;&#1573;&#1616;&#1606;&#1618; &#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614;&#1578;&#1618; &#1606;&#1614;&#1575;&#1602;&#1616;&#1589;&#1614;&#1577;&#1611; &#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614;&#1578;&#1618; &#1575;&#1604;&#1585;&#1614;&#1617;&#1603;&#1618;&#1593;&#1614;&#1577;&#1615; &#1578;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575;&#1605;&#1611;&#1575; &#1604;&#1616;&#1589;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616;&#1607;&#1616; &#1608;&#1614;&#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614;&#1578;&#1618; &#1575;&#1604;&#1587;&#1614;&#1617;&#1580;&#1618;&#1583;&#1614;&#1578;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616; &#1605;&#1615;&#1585;&#1618;&#1594;&#1616;&#1605;&#1614;&#1578;&#1614;&#1610;&#1618; &#1575;&#1604;&#1588;&#1614;&#1617;&#1610;&#1618;&#1591;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;</p> <p>Artinya; Apabila salah seorang di antara kalian ragu dalam shalatnya, maka buanglah keraguannya dan berpeganglah pada yang lebih yakin. Jika kemudian dia menyadari bahwa shalatnya telah sempurna, maka rakaat tambahan itu menjadi kebaikan sunnah baginya, dan dua sujud (sujud sahwi) juga menjadi tambahan pahala. Namun jika rupanya shalatnya tetap kurang, maka rakaat tambahan itu menjadi penyempurna shalatnya, dan dua sujud tersebut bakal membikin setan terhina. (HR. Imam Abu Daud).</p> <p>Muhammad Syamsu Haq &lsquo;Ubadi, <em>&lsquo;</em><a href="https://www.islamweb.net/ar/library/content/55/1710/%D8%A8%D8%A7%D8%A8-%D8%A5%D8%B0%D8%A7-%D8%B4%D9%83-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%AB%D9%86%D8%AA%D9%8A%D9%86-%D9%88%D8%A7%D9%84%D8%AB%D9%84%D8%A7%D8%AB-%D9%85%D9%86-%D9%82%D8%A7%D9%84-%D9%8A%D9%84%D9%82%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%B4%D9%83"><em>Aunul Ma&rsquo;bud</em>,</a> juha menjelaskan ketika seseorang mengalami keraguan dalam shalat, maka dia kudu berpegang pada perihal yang paling yakin, ialah jumlah rakaat yang lebih sedikit. Setelah itu, dia menyempurnakan kekurangannya dan melakukan sujud sahwi di akhir shalat.</p> <p>. ( &#1575;&#1604;&#1588;&#1603; ) &#1608;&#1610;&#1604;&#1586;&#1605;&#1607; &#1575;&#1604;&#1576;&#1606;&#1575;&#1569; &#1593;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1610;&#1602;&#1610;&#1606; &#1608;&#1607;&#1608; &#1575;&#1604;&#1571;&#1602;&#1604; &#1601;&#1610;&#1571;&#1578;&#1610; &#1576;&#1605;&#1575; &#1576;&#1602;&#1610; &#1608;&#1610;&#1587;&#1580;&#1583; &#1604;&#1604;&#1587;&#1607;&#1608; &#1601;&#1605;&#1606; &#1588;&#1603; &#1607;&#1604; &#1589;&#1604;&#1609; &#1579;&#1604;&#1575;&#1579;&#1575; &#1571;&#1605; &#1571;&#1585;&#1576;&#1593;&#1575; &#1605;&#1579;&#1604;&#1575; &#1610;&#1576;&#1606;&#1610; &#1593;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1571;&#1602;&#1604; &#1608;&#1607;&#1608; &#1575;&#1604;&#1579;&#1604;&#1575;&#1579; &#1608;&#1605;&#1606; &#1588;&#1603; &#1607;&#1604; &#1589;&#1604;&#1609; &#1579;&#1604;&#1575;&#1579;&#1575; &#1571;&#1608; &#1575;&#1579;&#1606;&#1578;&#1610;&#1606; &#1610;&#1576;&#1606;&#1610; &#1593;&#1604;&#1609; &#1575;&#1579;&#1606;&#1578;&#1610;&#1606; . &#1608;&#1571;&#1589;&#1585;&#1581; &#1601;&#1610; &#1575;&#1604;&#1605;&#1585;&#1575;&#1583; &#1581;&#1583;&#1610;&#1579; &#1593;&#1576;&#1583; &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606; &#1576;&#1606; &#1593;&#1608;&#1601; &#1603;&#1605;&#1575; &#1587;&#1610;&#1571;&#1578;&#1610; . &#1602;&#1575;&#1604; &#1575;&#1604;&#1606;&#1608;&#1608;&#1610; : &#1608;&#1607;&#1608; &#1605;&#1584;&#1607;&#1576; &#1575;&#1604;&#1588;&#1575;&#1601;&#1593;&#1610; &#1608;&#1575;&#1604;&#1580;&#1605;&#1607;&#1608;&#1585; &#1601;&#1573;&#1606;&#1607;&#1605; &#1602;&#1575;&#1604;&#1608;&#1575; &#1601;&#1610; &#1608;&#1580;&#1608;&#1576; &#1575;&#1604;&#1576;&#1606;&#1575;&#1569; &#1593;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1610;&#1602;&#1610;&#1606; &#1548; &#1608;&#1581;&#1605;&#1604;&#1608;&#1575; &#1575;&#1604;&#1578;&#1581;&#1585;&#1610; &#1601;&#1610; &#1581;&#1583;&#1610;&#1579; &#1575;&#1576;&#1606; &#1605;&#1587;&#1593;&#1608;&#1583; &#1593;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1571;&#1582;&#1584; &#1576;&#1575;&#1604;&#1610;&#1602;&#1610;&#1606; &#1548; &#1602;&#1575;&#1604;&#1608;&#1575; &#1608;&#1575;&#1604;&#1578;&#1581;&#1585;&#1610; &#1607;&#1608; &#1575;&#1604;&#1602;&#1589;&#1583; &#1548; &#1608;&#1605;&#1606;&#1607; &#1602;&#1608;&#1604;&#1607; &#1578;&#1593;&#1575;&#1604;&#1609; &#1578;&#1581;&#1585;&#1608;&#1575; &#1585;&#1588;&#1583;&#1575; &#1601;&#1610; &#1581;&#1583;&#1610;&#1579; &#1571;&#1576;&#1610; &#1587;&#1593;&#1610;&#1583; &#1608;&#1594;&#1610;&#1585;&#1607; . &#1575;&#1606;&#1578;&#1607;&#1609; &#1548; &#1608;&#1587;&#1610;&#1580;&#1610;&#1569; &#1578;&#1608;&#1590;&#1610;&#1581;&#1607; &#1605;&#1606; &#1603;&#1604;&#1575;&#1605; &#1575;&#1604;&#1582;&#1591;&#1575;&#1576;&#1610; &#1608;&#1587;&#1604;&#1601; &#1570;&#1606;&#1601;&#1575; &#1603;&#1604;&#1575;&#1605; &#1575;&#1604;&#1576;&#1610;&#1607;&#1602;&#1610; &#1601;&#1610;&#1607; &#1608;&#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1571;&#1593;&#1604;&#1605;</p> <p>Artinya; Ketika keraguan (dalam shalat) terjadi, maka diharuskan untuk dibangun di atas keyakinan, ialah pada jumlah rakaat yang lebih sedikit. Setelah itu, sisa rakaat disempurnakan dan dilakukan sujud sahwi.</p> <p>Maka jika keraguan antara tiga alias empat rakaat muncul, tiga rakaat dijadikan patokan. Dan jika ragu antara dua alias tiga rakaat, maka dua rakaat yang dijadikan dasar. Hal ini diperjelas dalam sabda Abdurrahman bin &lsquo;Auf, sebagaimana bakal disebutkan kemudian.</p> <p>Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa pendapat ini adalah ajaran Imam Syafi&lsquo;i dan jumhur (mayoritas ulama). Mereka beranggapan bahwa shalat kudu dibangun di atas keyakinan, dan kata &ldquo;taharr&#299;&rdquo; dalam sabda Ibnu Mas&lsquo;ud dipahami sebagai berpegang pada keyakinan.</p> <p>Mereka berbicara bahwa &ldquo;taharr&#299;&rdquo; berfaedah niat dan maksud yang benar, sebagaimana firman Allah Ta&lsquo;ala: &ldquo;Taharrau rusydan&rdquo; &mdash; bertujuannya kepada jalan yang benar. Penjelasan tentang perihal ini juga bakal disebutkan dari perkataan al-Khaththabi, dan sebelumnya telah disebut penjelasan al-Baihaqi tentang perihal tersebut. Allah Maha Mengetahui. (Muhammad Syamsu Haq &lsquo;Ubadi, <em>&lsquo;Aunul Ma&rsquo;bud</em>, (Beirut: Darul Fikr, 1995 M) Juz III, laman 244).</p> <p>Dengan demikian, ketika seseorang ragu terhadap jumlah rakaat dalam shalat, langkah pertama yang kudu dilakukan adalah berpegang pada jumlah yang paling sedikit, lantaran itulah yang lebih meyakinkan. Misalnya, dalam shalat Isya seseorang ragu apakah sudah melaksanakan tiga alias empat rakaat, maka yang diambil adalah tiga rakaat. Setelah itu, dia menyempurnakan kekurangannya dan menutup shalat dengan dua sujud sahwi.</p> <div> <p><a href="https://bit.ly/SertifikasiHalalGratisEBI" target="_blank" rel="noopener noreferrer"> <img src="https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-15-at-20.44.10.jpeg" alt="Sertifikasi Halal"> </a> </p> </div> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/ragu-jumlah-rakaat-shalat-ini-solusinya-166880.html</guid> <pubDate>Mon, 17 Aug 2026 21:00:21 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Zainuddin Lubis)</author> </item> <item> <title>Dari Tanah Suci, Para Haji Membawa Pulang Semangat Melawan Penjajahan Dan Kolonialisme</title> <description>Dari Tanah Suci, Para Haji Membawa Pulang Semangat Melawan Penjajahan Dan Kolonialisme. Kincai Media, Ibadah haji bagi umat Islam Nusantara pada masa kolonial tidak berakhir sebagai perjalanan spiritual untuk menunaikan rukun Islam. Pe...</description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/suasana-makkah-di-masa-puncak-musim-haji-tempo-dulu-_170819091451-634.jpg"/> <category>Technology</category> <category>Finance</category> <category>Business</category> <category>Entertainment</category> <category>Health</category> <link>https://portal.kincaimedia.net/dari-tanah-suci-para-haji-membawa-pulang-semangat-melawan-penjajahan-dan-kolonialisme-166876.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div data-sticky-container> <p>Kincai Media, Ibadah<a href="https://republika.co.id/tag/haji"> haji </a>bagi umat Islam Nusantara pada masa kolonial tidak berakhir sebagai perjalanan spiritual untuk menunaikan rukun Islam. Perjalanan menuju Tanah Suci juga menjadi ruang perjumpaan, pertukaran pengetahuan dan gagasan, serta tumbuhnya kesadaran berbareng tentang kondisi umat Islam di beragam bagian dunia. Dari Makkah, sebagian jamaah haji Nusantara membawa pulang semangat pembaruan dan kesadaran untuk melawan kolonialisme dan kolonialisme yang kemudian turut mempengaruhi aktivitas perlawanan terhadap kolonialis di Tanah Air.</p><div> <p dir="ltr">Ibadah haji bukan hanya persoalan ritual tanggungjawab kepercayaan Islam, bukan pula hanya aspek ekonomi, jalinan keilmuan antara Nusantara dan Timur Tengah. Ibadah haji juga sebagai media transmisi aktivitas pembaharuan dan konsolidasi aktivitas perlawanan kepada pemerintah kolonial Belanda di bumi Nusantara. Selain dari itu semua, ibadah haji juga sangat jelas menunjukkan kegunaan transformasi masyarakat.</p> <p dir="ltr">Aktifitas perjalanan haji telah ada sejak masa-masa awal masuknya Islam di Nusantara. Artinya, sejarah haji di Nusantara berumur setua sejarah Islam sendiri lantaran begitu seseorang masuk Islam, dia dihadapkan pada lima tanggungjawab dasar yang kudu dipenuhi yang disebut rukun Islam (arkan al-Islam), menunaikan haji ke Makkah adalah salah satu dari rukun Islam. &nbsp;</p><p dir="ltr">Di antara banyak kegunaan transformatif ibadah haji, satu di antaranya<a href="https://republika.co.id/tag/ibadah-haji"> ibadah haji </a>sebagai pemersatu kesadaran nasional di bumi Nusantara. Kesadaran nasional tidak hanya terbentuk di Indonesia, tapi juga tumbuh di luar negeri terutama di Makkah dalam suasana ibadah haji lantaran jamaah dari beragam daerah di Indonesia berdatangan setiap musim haji.</p> <p dir="ltr">Bagi yang sudah mukim di Makkah mereka bebas melakukan pertemuan.</p><p dir="ltr">Di Makkah, jauh sebelum Sumpah Pemuda, bahasa Melayu sudah berfaedah sebagai ikatan pemersatu orang Nusantara. Bayangkan, di Makkah orang dari Jawa, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi Selatan, Kalimantan, Semenanjung Malaya, Minangkabau dan Aceh selama lima bulan bebas bergaul, tukar pengalaman dan pikiran.</p><p dir="ltr">Snouck Hurgronje mencatat gimana orang dari seluruh Nusantara ikut membicarakan perlawanan Aceh terhadap Belanda, dan gimana mata mereka dibuka mengenai kolonialisme Belanda maupun Inggris dan Prancis atas bangsa-bangsa Islam. Di Makkah, jauh sebelum Sumpah Pemuda, bahasa Melayu sudah berfaedah sebagai ikatan pemersatu orang Nusantara.</p></div> </div> ]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/dari-tanah-suci-para-haji-membawa-pulang-semangat-melawan-penjajahan-dan-kolonialisme-166876.html</guid> <pubDate>Mon, 17 Aug 2026 15:30:12 +0700</pubDate> <author>support@kincaimedia.net (Muhammad Hafil)</author> </item> </channel> </rss>