<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" version="2.0"> <channel> <title><![CDATA[Islami]]></title> <description><![CDATA[Postingan, berita, dan pembaruan terbaru dari kategori Islami. Temukan lebih banyak konten Islami di sini.]]></description> <image> <title><![CDATA[Islami - Portal Media Online Indonesia]]></title> <url>https://portal.kincaimedia.net/favicon.ico</url> <link>https://portal.kincaimedia.net/</link> </image> <category><![CDATA[Technology, Finance, Business, Entertainment, Health]]></category> <link>https://portal.kincaimedia.net/</link> <atom:link href="https://portal.kincaimedia.net/rss.xml?category=1" rel="self" type="application/rss+xml"/> <atom:link href="https://portal.kincaimedia.net/rss.xml" rel="alternate" type="application/rss+xml"/> <atom:link href="https://portal.kincaimedia.net/" rel="alternate" type="text/html"/> <pubDate>Mon, 31 Aug 2026 05:00:55 +0700</pubDate> <lastBuildDate>Mon, 31 Aug 2026 05:00:55 +0700</lastBuildDate> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <managingEditor>support@kincaimedia.net (Adi Gunawan)</managingEditor> <webMaster>support@kincaimedia.net (Adi Gunawan)</webMaster> <language>id-ID</language> <copyright>Kincai Media</copyright> <generator>Kincai Media</generator> <item> <title><![CDATA[Ketika Fitnah Mengguncang Madinah]]></title> <description><![CDATA[Ketika Fitnah Mengguncang Madinah. Kisah ini bermulai dari seorang wanita mulia, ialah Ummul Mukminin ‘Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anha, putri dari sahabat terbaik Rasulullah ...]]></description> <media:thumbnail url="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2026/08/Fitnah-Madinah.webp"/> <category><![CDATA[Islami]]></category> <link>https://portal.kincaimedia.net/ketika-fitnah-mengguncang-madinah-168791.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div><p>Kisah ini bermulai dari seorang wanita mulia, ialah Ummul Mukminin &lsquo;Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq <em><i>radhiyallahu &lsquo;anha,</i></em>&nbsp;putri dari sahabat terbaik Rasulullah &#65018;&nbsp;dan khalifah pertama setelah beliau. Ia adalah sosok yang dikenal dengan kesucian, kecerdasan, dan kedudukannya yang tinggi di sisi Rasulullah &#65018;.</p><p>Namun, kemuliaan itu tidak membuatnya terlepas dari ujian. &lsquo;Aisyah <em><i>radhiyallahu &lsquo;anha</i></em>&nbsp;pernah mendapatkan ujian yang sangat berat ketika sebagian orang menuduhnya melakukan perbuatan biadab berbareng seorang sahabat yang saleh, ialah Shafwan bin Al-Mu&lsquo;aththal <em><i>radhiyallahu &lsquo;anhu.</i></em>&nbsp;Tuduhan tersebut merupakan sebuah tuduhan besar yang mengguncang family Rasulullah &#65018;&nbsp;dan kaum muslimin pada saat itu. Peristiwa ini dikenal dengan nama <em><i>Haaditsatul Ifki</i></em>, ialah kisah tersebarnya buletin bohong yang mencemarkan kehormatan &lsquo;Aisyah <em><i>radhiyallahu &lsquo;anha.</i></em></p><p>Kisah ini diriwayatkan oleh para mahir hadis, di antaranya Imam Al-Bukhari dan lainnya. &lsquo;Aisyah <em><i>radhiyallahu &lsquo;anha </i></em>menceritakan,</p><p>&ldquo;Apabila Rasulullah &#65018;&nbsp;hendak melakukan perjalanan, beliau mengundi di antara istri-istrinya. Siapa pun yang keluar namanya dalam undian tersebut, maka dia bakal ikut berbareng Rasulullah &#65018;.</p><p>Pada suatu perjalanan, namaku keluar dalam undian. Ketika itu saya ikut berbareng Rasulullah &nbsp;&#65018;. Untuk menemani beliau dalam <em><i>Ghazwah Al-Muraisi.</i></em>&nbsp;Setelah Ghazwah selesai, kami kembali ke Madinah. Saat perjalanan pulang, kami berakhir di sebuah tempat untuk beristirahat, kemudian saya keluar dari tandu <em><i>(haudaj)</i></em>&nbsp;untuk buang hajat. Ketika kembali, saya menyadari bahwa kalungku hilang, kemudian saya memutuskan untuk mencarinya. Ketika saya kembali, rupanya rombongan telah berangkat lantaran para pembawa tandu mengira saya tetap berada di dalam <em><i>haudaj,</i></em>&nbsp;sebab saat itu tubuhku tetap sangat ringan.</p><div><p><a href="https://kotakinfaq.com/campaign/donasi-dakwah-digital/" aria-label="Visit advertisement link" target="_blank" rel="nofollow noopener external noreferrer" data-wpel-link="external"> <img fetchpriority="high" width="1080" height="1080" src="https://muslimah.or.id/wp-content/themes/jnews/assets/img/jeg-empty.png" data-src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2025/03/Donasi-Muslimahorid-3.webp" alt="Donasi Kincai Media" data-pin-no-hover="true"> </a></p></div><p>Aku kemudian tetap berada di tempat tersebut sembari berambisi rombongan bakal menyadari bahwa saya tertinggal. Tidak lama kemudian, datanglah seorang sahabat berjulukan Shafwan bin Al-Mu&lsquo;aththal <em><i>radhiyallahu &lsquo;anhu,</i></em>&nbsp;yang bekerja melangkah di belakang pasukan untuk memeriksa jika ada sesuatu yang tertinggal.&nbsp;Ketika melihatku, Shafwan mengenaliku lantaran pernah melihatku sebelum turunnya tanggungjawab hijab. Ia kemudian berkata,</p><p><em><i>&ldquo;Inn&#257; lill&#257;hi wa inn&#257; ilaihi r&#257;ji&lsquo;&#363;n,</i></em>&nbsp;istri Rasulullah &#65018;&nbsp;tertinggal.&rdquo;</p><p>Shafwan hanya mengatakan demikian, kemudian Shafwan menundukkan untanya agar saya dapat menaikinya, dan dia melangkah menuntun unta tersebut hingga memasuki Madinah.&rdquo;</p><p>Lantas apa yang terjadi di saat `Aisyah memasuki Madinah?</p><p>`Aisyah dan Shafwan memasuki Madinah di siang hari. Di saat itu, <em><i>Rais Munafiqiin</i></em>&nbsp;(pemimpin orang munafik) &ndash;Abdullah bin Ubay bin Salul- memandang kehadiran `Aisyah dan Shafwan, dan seketika itu terbesit rencana jahat dan kesempatan untuk memfitnah `Aisyah dan menyebarkan keburukan tentangnya.</p><p>Dia pun sontak berkata, <em><i>&ldquo;Wallahi, maa roaitu hadza, illa naala min hadzihi&rdquo;,</i></em>&nbsp;maksudnya adalah <em><i>kinayah</i></em>&nbsp;(kalimat kiasan) bahwa Shafwan bercabul dengan `Aisyah. Dan lantaran perkataannya ini, tersebarlah berita bahwa `Aisyah telah berzina. `Aisyah tidak mengetahui bahwa masyarakat Madinah membicarakan dirinya, dan sesampainya di Madinah, `Aisyah jatuh sakit. Karena buletin ini, `Aisyah merasakan ada perubahan pada sikap Rasulullah &#65018;&nbsp;pada dirinya, namun dia tidak mengetahui apa penyebabnya. Rasulullah &#65018;&nbsp;sebenarnya tidak mempercayai perihal tersebut, namun wahyu yang ditunggu untuk membersihkan nama `Aisyah tetap belum turun.</p><p>Dengan hati yang sesak, logika yang penuh pertanyaan, dan tubuhnya yang menahan sakit, `Aisyah pun meminta untuk pulang ke rumah orangtuanya. Ketika `Aisyah berbareng salah seorang <em><i>sahabiyyah, </i></em>dia pun mengabarkan `Aisyah apa yang terjadi, dan `Aisyah sangat terkejut tentang tuduhan besar yang menimpa dirinya.</p><p>Kemudian Rasulullah &#65018;&nbsp;mendatanginya dan berkata,</p><p>&lsquo;Wahai &lsquo;Aisyah, telah sampai kepadaku buletin tentang dirimu begini dan begitu. Jika engkau memang tidak bersalah, maka Allah bakal membebaskanmu dari tuduhan itu. Namun, jika engkau telah melakukan suatu kesalahan, maka mohonlah maaf kepada Allah dan bertobatlah kepada-Nya. Karena seorang hamba yang mengakui kesalahannya lampau bertobat, maka Allah bakal menerima tobatnya.&rsquo;</p><p>Mendengar perkataan Rasulullah &#65018;, air matanya berakhir mengalir hingga dia tidak merasakan satu tetes pun. Hatinya terasa begitu berat. Dia berbicara kepada ayahnya, Abu Bakar,</p><p>&lsquo;Jawablah Rasulullah &#65018;&nbsp;untukku.&rsquo;</p><p>Namun Abu Bakar menjawab,</p><p>&lsquo;Demi Allah, saya tidak tahu apa yang kudu saya katakan kepada Rasulullah &#65018;.&rsquo;</p><p>Kemudian dia meminta ibunya untuk menjawab, tetapi ibunya pun berkata,</p><p>&lsquo;Demi Allah, saya tidak tahu apa yang kudu saya katakan kepada Rasulullah &#65018;.&rsquo;</p><p>Saat itu, dia tetap seorang gadis muda yang belum banyak membaca Al-Qur&rsquo;an. Dia pun berkata,</p><p>&lsquo;Demi Allah, saya mengetahui bahwa kalian telah mendengar buletin ini hingga hati kalian terpengaruh dan kalian membenarkannya. Jika saya mengatakan bahwa saya tidak bersalah, kalian mungkin tidak bakal mempercayaiku. Namun, jika saya mengakui sesuatu yang sebenarnya Allah mengetahui bahwa saya tidak melakukannya, kalian pasti bakal mempercayaiku.</p><p>Demi Allah, saya tidak menemukan perumpamaan antara saya dan kalian selain seperti perkataan ayahnya Yusuf, ketika menghadapi ujian besar,</p><p><span>&nbsp;&#1601;&#1614;&#1589;&#1614;&#1576;&#1618;&#1585;&#1612; &#1580;&#1614;&#1605;&#1616;&#1610;&#1618;&#1604;&#1612; &#1751;&#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1648;&#1607;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1587;&#1618;&#1578;&#1614;&#1593;&#1614;&#1575;&#1606;&#1615; &#1593;&#1614;&#1604;&#1648;&#1609; &#1605;&#1614;&#1575; &#1578;&#1614;&#1589;&#1616;&#1601;&#1615;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614;&nbsp;&nbsp;</span></p><p>&ldquo;Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan hanya kepada Allah saya memohon pertolongan terhadap apa yang kalian ceritakan.&rdquo; (QS. Yusuf: 18)</p><p>Setelah itu, saya beralih dan berebahan di tempat tidurku. Saat itu, saya betul-betul percaya bahwa Allah mengetahui saya tidak bersalah dan Allah pasti bakal membebaskanku dari tuduhan tersebut.</p><p>Namun, demi Allah, saya tidak pernah menyangka bahwa Allah bakal menurunkan wahyu yang dibaca sepanjang masa untuk menjelaskan keadaanku. Aku merasa diriku terlalu mini untuk dibicarakan langsung oleh Allah melalui wahyu. Aku hanya berambisi Rasulullah &#65018;&nbsp;mendapatkan mimpi yang menjadi tanda dari Allah bahwa saya terbebas dari tuduhan itu.</p><p>Tetapi belum lama Rasulullah &#65018;&nbsp;duduk di tempatnya dan belum seorang pun dari keluargaku yang keluar, tiba-tiba wahyu turun kepada beliau. Keadaan Rasulullah &#65018;&nbsp;saat menerima wahyu sangatlah berat. Keringat berceceran dari tubuh beliau seperti butiran mutiara, meskipun saat itu hari sangat dingin. Hal itu menunjukkan beratnya wahyu yang Allah turunkan kepada beliau.</p><p>Setelah keadaan Rasulullah &#65018;&nbsp;kembali tenang, beliau tersenyum. Kalimat pertama yang beliau ucapkan adalah, &lsquo;Wahai &lsquo;Aisyah, sungguh demi Allah, Allah telah membebaskanmu.&rsquo;</p><p>Ibuku kemudian berbicara kepadaku, &lsquo;Berdirilah dan temui Rasulullah &#65018;.&rsquo;</p><p>Namun saya menjawab, &lsquo;Demi Allah, saya tidak bakal berdiri kepadanya. Aku hanya memuji Allah Yang Maha Agung.&rsquo;</p><p>Kemudian Allah menurunkan ayat,</p><p><span>&nbsp;&#1575;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614; &#1575;&#1604;&#1617;&#1614;&#1584;&#1616;&#1610;&#1618;&#1606;&#1614; &#1580;&#1614;&#1575;&#1764;&#1569;&#1615;&#1608;&#1618; &#1576;&#1616;&#1575;&#1604;&#1618;&#1575;&#1616;&#1601;&#1618;&#1603;&#1616; &#1593;&#1615;&#1589;&#1618;&#1576;&#1614;&#1577;&#1612; &#1605;&#1617;&#1616;&#1606;&#1618;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618;&#1751;&nbsp; &nbsp;</span></p><p>&ldquo;Sesungguhnya orang-orang yang membawa buletin bohong itu adalah dari golongan &nbsp;kamu juga.&rdquo; (QS. An-Nur: 11)</p><p>Ayat-ayat tersebut turun untuk menyatakan kesucian &lsquo;Aisyah <em><i>radhiyallahu &lsquo;anha</i></em>&nbsp;dan membersihkan namanya dari segala tuduhan.</p><p>Setelah turun ayat yang menyatakan kesucian dan terbebasnya &lsquo;Aisyah <em><i>radhiyallahu &lsquo;anha</i></em>&nbsp;dari tuduhan tersebut, Nabi &#65018;&nbsp;menyampaikan buletin itu kepada kaum muslimin. Beliau membacakan ayat-ayat Al-Qur&rsquo;an dari surah An-Nur, yang diturunkan untuk membebaskan &lsquo;Aisyah dan juga awal mula disyariatkannya <strong><em><b><i>haddu al-qadzaf</i></b></em></strong>&nbsp;(hukuman <em><i>had</i></em>&nbsp;yang berupa cambukan sebanyak 80 kali cemeti untuk orang yang menuduh orang lain bercabul dan tidak bisa membawa empat orang saksi).</p><p>Kemudian Rasulullah &#65018;&nbsp;turun dari mimbar dan didatangkanlah dua orang laki-laki yang ikut menyebarkan tuduhan tersebut secara terang-terangan, ialah Hassan bin Tsabit dan Mistah bin Utsatsah, serta seorang wanita, ialah Hamnah binti Jahsy. Rasulullah &#65018;&nbsp;kemudian menegakkan balasan <em><i>had qadzaf</i></em>&nbsp;kepada mereka, lantaran telah terbukti bahwa tuduhan yang mereka sebarkan adalah sebuah kebohongan. Sedangkan yang pertama mengompori tuduhan ini tidak mendapatkan <em><i>had qodzaf</i></em>, disebabkan dia tidak menyampaikannya secara langsung, tetapi secara <em><i>kinayah,</i></em>&nbsp;dan azabnya ditunda sampai di hadapan Allah <em><i>Ta&rsquo;ala</i></em>. <em><i>Wallahu a`lam bis showwab</i></em>.</p><p>Peristiwa <em><i>Haditsul Ifki</i></em>&nbsp;merupakan ujian yang sangat berat bagi &lsquo;Aisyah <em><i>radhiyallahu &lsquo;anha.</i></em>&nbsp;Namun, dari kisah ini terlihat gimana Allah menjaga kehormatan hamba-Nya yang bersih, memenangkan kebenaran atas kebatilan, serta mengajarkan pentingnya <em><i>tabayyun </i></em>(mencari kebenaran saat mendapatkan berita, apalagi jika buletin tersebut berasal dari orang-orang fasik), menjaga lisan, dan tidak mudah mempercayai buletin tanpa bukti.</p><p>Kisah ini juga menunjukkan perhatian Islam dalam menjaga kehormatan manusia melalui penerapan <em><i>&#7717;add al-qadzaf.</i></em>&nbsp;Hal ini menjadi pelajaran bahwa Islam melarang keras penyebaran tuduhan dan mengajarkan umatnya untuk berhati-hati dalam menyampaikan berita. Dan menjaga kehormatan manusia adalah salah satu <em><i>maqoshid syari`ah</i></em>&nbsp;(tujuan syariat).</p><p><strong><b>***</b></strong></p><p><strong><b>Penulis: </b></strong><span><strong><b>Hamna Khairatunnisa</b></strong></span></p><p><strong><b>Artikel </b></strong><span><strong><b>Kincai Media</b></strong></span></p><p><strong><b>Referensi:</b></strong></p><p>Kitab <em><i>Taudiihu Al-Ahkaam min Buluughi Al-Maraam</i></em>&nbsp;jilid keenam, karya Syekh Abdullah bin Abdirrahman Al-Bassam.</p></div>]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/ketika-fitnah-mengguncang-madinah-168791.html</guid> <pubDate>Mon, 31 Aug 2026 05:00:55 +0700</pubDate> <author><![CDATA[support@kincaimedia.net (Redaksi Muslimah.or.id)]]></author> </item> <item> <title><![CDATA[Tafsir Surah Al-Infitar (Bag. 2): Amalmu Tercatat dan Engkau Harus Bertanggungjawab]]></title> <description><![CDATA[Tafsir Surah Al-Infitar (Bag. 2): Amalmu Tercatat dan Engkau Harus Bertanggungjawab. Sebelumnya, kita telah ber-tadabbur tentang hal-hal luar biasa yang terjadi pada hari kiamat. Setelah itu, manusia bakal ingat segala kebaikan yang telah dikerjakan ...]]></description> <media:thumbnail url="https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2026/08/Tafsir-surah-Al-Infithar-2.webp"/> <category><![CDATA[Islami]]></category> <link>https://portal.kincaimedia.net/tafsir-surah-al-infitar-bag-2-amalmu-tercatat-dan-engkau-harus-bertanggungjawab-168788.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div><p>Sebelumnya, kita telah ber-<em>tadabbur</em> tentang hal-hal luar biasa yang terjadi pada hari kiamat. Setelah itu, manusia bakal ingat segala kebaikan yang telah dikerjakan di dunia, mereka ingat dan ketakutan lantaran kudu mempertanggungjawabkan kebaikan tersebut di akhirat. Allah juga mencela manusia-manusia yang durhaka kepada-Nya, padahal Allah telah memberikan banyak sekali kenikmatan yang tidak dapat dihitung jumlahnya oleh manusia.</p><p>Sekarang, kita memasuki <em>tadabbur</em> terhadap penggalan kedua dari surah ini. Allah memulai dengan menyebut apa argumen manusia bisa durhaka kepada-Nya. Allah jelaskan pula bahwa kedurhakaan dan ketaatan, semuanya tercatat dalam catatan malaikat, hingga semua catatan tersebut kudu dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Serta surah ini ditutup dengan keadaan manusia yang alim dan yang durhaka. Maka, mari kita simak <em>tadabbur</em> kedua dari surah ini.</p><p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1603;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614;&#1575; &#1576;&#1614;&#1604;&#1618; &#1578;&#1615;&#1603;&#1614;&#1584;&#1617;&#1616;&#1576;&#1615;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614; &#1576;&#1616;&#1575;&#1604;&#1583;&#1617;&#1616;&#1610;&#1618;&#1606;&#1616;&#1753;</span></p><p>&ldquo;Jangan sekali-kali begitu! Bahkan, Anda mendustakan hari pembalasan.&rdquo; (QS. Al-Infi&#7789;&#257;r: 9)</p><p>Pada penggalan sebelum ayat ini, Allah jelaskan bahwa manusia banyak yang durhaka kepada-Nya. Allah mencela mereka dengan kalimat tanya, &ldquo;Apa yang menyebabkan engkau durhaka kepada Allah, Rabb yang Maha mulia dan Maha dermawan?&rdquo; Padahal, Allah telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya.</p><p>Maka, argumen dan karena durhaka manusia, Allah jelaskan dalam ayat kesembilan ini, ialah lantaran mereka mendustakan dan tidak percaya dengan adanya hari pembalasan, ialah hari kiamat. Mereka tidak percaya bahwa setelah meninggal bakal dibangkitkan. Mereka tidak percaya bakal bertanggungjawab dengan kebaikan mereka nanti.</p><p>Oleh lantaran itu, mereka merasa bebas melakukan kezaliman apapun di dunia; yang kuat mengalahkan dan membunuh yang lemah, yang kaya memperbudak yang miskin. Mereka merasa kudu menikmati bumi sebanyak-banyaknya, dengan langkah apapun, dengan menzalimi orang lain tidak apa-apa, <em>toh</em> setelah meninggal selesai, tidak ada kehidupan lagi, tidak ada pertanggungjawaban. Itu yang keluar dari mulut-mulut kotor mereka, keluar lantaran kegoblokan mereka.</p><p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1608;&#1614;&#1575;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618; &#1604;&#1614;&#1581;&#1648;&#1601;&#1616;&#1592;&#1616;&#1610;&#1618;&#1606;&#1614;&#1753;</span></p><p>&ldquo;Sesungguhnya bagi Anda ada (malaikat-malaikat) pengawas.&rdquo; (QS. Al-Infi&#7789;&#257;r: 10)</p><p>Allah kemudian mempertegas bahwa manusia betul-betul bakal dibangkitkan, serta tidak ada satupun dari kebaikan mereka yang luput diawasi dan dicatat oleh malaikat. Penegasan ini untuk mengikis kesombongan dan pendustaan mereka terhadap hari kiamat, mereka dibuat semakin takut bahwa setiap gerak-gerik, apalagi ucapan hati mereka, ada malaikat pengawas yang siap mencatat dan tidak bakal pernah berbohong.</p><p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1603;&#1616;&#1585;&#1614;&#1575;&#1605;&#1611;&#1575; &#1603;&#1648;&#1578;&#1616;&#1576;&#1616;&#1610;&#1618;&#1606;&#1614;&#1753;</span></p><p>&ldquo;Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (amal perbuatanmu).&rdquo; (QS. Al-Infi&#7789;&#257;r: 11)</p><p>Sifat lain yang Allah sebutkan dari malaikat yang bekerja mencatat kebaikan manusia, mereka adalah malaikat yang mulia di sisi Allah <em><i>Ta&rsquo;ala</i></em>. Mulia lantaran mempunyai sifat-sifat yang mulia, seperti senantiasa alim atas perintah Allah, ahli tidak pernah luput dan salah dalam mencatat amal, tidak bisa disogok agar menjadikan catatan maksiat menjadi catatan taat, serta tidak pernah mendusta atas apa yang mereka catat. Bukan hanya mulia di sisi manusia dan makhluk lain, bakal tetapi mulia di sisi Allah.</p><p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1610;&#1614;&#1593;&#1618;&#1604;&#1614;&#1605;&#1615;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575; &#1578;&#1614;&#1601;&#1618;&#1593;&#1614;&#1604;&#1615;&#1608;&#1618;&#1606;&#1614;</span></p><p>&ldquo;Mereka mengetahui apa yang Anda kerjakan.&rdquo; (QS. Al-Infi&#7789;&#257;r: 12)</p><p>Mereka diberikan keahlian untuk mengawasi manusia di manapun dan kapanpun, mencatat semua kebaikan tersebut.</p><p>Berkaitan dengan malaikat pencatat kebaikan ini, terdapat berita dari Nabi <em>shallallahu &lsquo;alaihi wasallam </em>tentang mereka. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Mujahid dengan sanad <em>mursal,</em> Nabi <em>shallallahu &lsquo;alaihi wasallam </em>pernah bersabda,</p><p><span>&#1571;&#1603;&#1585;&#1605;&#1608;&#1575; &#1575;&#1604;&#1603;&#1585;&#1575;&#1605; &#1575;&#1604;&#1603;&#1575;&#1578;&#1576;&#1610;&#1606; &#1575;&#1604;&#1584;&#1610;&#1606; &#1604;&#1575; &#1610;&#1601;&#1575;&#1585;&#1602;&#1608;&#1606;&#1603;&#1605; &#1573;&#1604;&#1575; &#1593;&#1606;&#1583; &#1573;&#1581;&#1583;&#1609; &#1581;&#1575;&#1604;&#1578;&#1610;&#1606;: &#1575;&#1604;&#1580;&#1606;&#1575;&#1576;&#1577; &#1608;&#1575;&#1604;&#1594;&#1575;&#1574;&#1591;. &#1601;&#1573;&#1584;&#1575; &#1575;&#1594;&#1578;&#1587;&#1604; &#1571;&#1581;&#1583;&#1603;&#1605; &#1601;&#1604;&#1610;&#1587;&#1578;&#1578;&#1585; &#1576;&#1580;&#1585;&#1605; &#1581;&#1575;&#1574;&#1591;&#1548; &#1571;&#1608; &#1576;&#1576;&#1593;&#1610;&#1585;&#1607;&#1548; &#1571;&#1608; &#1604;&#1610;&#1587;&#1578;&#1585;&#1607; &#1571;&#1582;&#1608;&#1607;</span></p><p>&ldquo;Muliakanlah para malaikat pencatat kebaikan yang mulia, di mana mereka tidak pernah berpisah dari kalian selain pada dua keadaan: ketika junub dan ketika buang hajat. Oleh lantaran itu, andaikan salah seorang dari kalian mandi, hendaklah dia menutup diri di kembali dinding, alias di kembali untanya, alias ditutupi oleh saudaranya.&rdquo;</p><p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1575;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1575;&#1614;&#1576;&#1618;&#1585;&#1614;&#1575;&#1585;&#1614; &#1604;&#1614;&#1601;&#1616;&#1610;&#1618; &#1606;&#1614;&#1593;&#1616;&#1610;&#1618;&#1605;&#1613;&#1753;</span></p><p>&ldquo;Sesungguhnya orang-orang yang berkhidmat betul-betul berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan.&rdquo; (QS. Al-Infi&#7789;&#257;r: 13)</p><p>Setelah Allah jelaskan bahwa catatan kebaikan malaikat itu kondusif dan amanah, catatan ibadah tersebut bakal menjadi bukti dalam persidangan manusia kelak di hari kiamat. Dengan dilakukannya persidangan, maka manusia terbagi menjadi dua golongan besar, ialah golongan yang selamat dan golongan yang sengsara.</p><p>Pertama, manusia yang beragama dan bertakwa kepada Allah ketika menjalani kehidupan dunia. Mereka berada dalam kenikmatan yang tiada batasanya di surga kelak. Bermain-main di taman-taman surga yang sangat indah; keelokan ini adalah keelokan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, apalagi tidak pernah terlewat (terbersit) di hati manusia manapun, kekal bersenang-senang di dalamnya.</p><p>Meskipun demikian, Allah tetap menyifati dan menceritakan surga dengan perihal bagus di bumi yang dapat dirasakan oeh panca indra dan dimengerti oleh logika manusia. Hal ini agar manusia mempunyai gambaran tentang surga, meskipun dengan gambaran yang berbeda-beda antar manusia. Mereka semua sepakat pasti surga adalah tempat yang penuh keindahan, lantaran digambarkan dengan beragam perihal bagus yang mereka saksikan di dunia. Ini adalah salah satu corak kemukjizatan visualisasi dari Al-Qur&rsquo;an, membikin manusia bisa membayangkan, kemudian berharap, kemudian beramal untuk meraihnya.</p><p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1608;&#1617;&#1614;&#1575;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1601;&#1615;&#1580;&#1617;&#1614;&#1575;&#1585;&#1614; &#1604;&#1614;&#1601;&#1616;&#1610;&#1618; &#1580;&#1614;&#1581;&#1616;&#1610;&#1618;&#1605;&#1613;</span></p><p>&ldquo;Sesungguhnya orang-orang yang durhaka betul-betul berada dalam (neraka) Jahim.&rdquo; (QS. Al-Infi&#7789;&#257;r: 14)</p><p>Orang-orang kafir lagi durhaka, senang melakukan kezaliman, baik kezaliman pada diri sendiri, kepada makhluk lain, serta kepada Allah, maka mereka bakal dibakar di neraka Jahim selama-lamanya.</p><p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1607;&#1615;&#1605;&#1618; &#1593;&#1614;&#1606;&#1618;&#1607;&#1614;&#1575; &#1576;&#1616;&#1594;&#1614;&#1575;&#1764;&#1609;&#1621;&#1616;&#1576;&#1616;&#1610;&#1618;&#1606;&#1614;&#1751;</span></p><p>&ldquo;Mereka tidak mungkin keluar dari (neraka) itu.&rdquo; (QS. Al-Infi&#7789;&#257;r: 16)</p><p>Orang-orang kafir berada di neraka selama-lamanya, mereka tidak bisa melarikan diri dari neraka, tidak bisa mendapatkan tempat sembunyi untuk sekedar menarik nafas. Sedetik pun tidak pernah malaikat <em>zabaniyah</em> luput dari menyiksa mereka, membakar mereka, memukuli mereka, menyanyat-nyayat mereka. Setiap kali kulit dan daging mereka gosong lantaran dibakar, maka bakal Allah tumbuhkan kembali, agar saraf-saraf rasa sakit mereka ada lagi, sehingga tetap merasakan sakitnya balasan neraka yang mengerikan.</p><p>Suatu gambaran siksaan yang sangat mengerikan. Ketiga ayat ini semestinya sudah sangat cukup bagi kita menjadi motivasi memperbanyak dan memperbaiki kebaikan kita, menjadikan kebaikan kita lebih ikhlas, serta semakin berambisi agar Allah menyelamatkan kita dengan rahmat-Nya.</p><p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575;&#1619; &#1575;&#1614;&#1583;&#1618;&#1585;&#1648;&#1609;&#1603;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575; &#1610;&#1614;&#1608;&#1618;&#1605;&#1615; &#1575;&#1604;&#1583;&#1617;&#1616;&#1610;&#1618;&#1606;&#1616;&#1753; , &#1579;&#1615;&#1605;&#1617;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575;&#1619; &#1575;&#1614;&#1583;&#1618;&#1585;&#1648;&#1609;&#1603;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575; &#1610;&#1614;&#1608;&#1618;&#1605;&#1615; &#1575;&#1604;&#1583;&#1617;&#1616;&#1610;&#1618;&#1606;&#1616;&#1751;</span></p><p>&ldquo;Tahukah engkau apakah hari pembalasan itu? Kemudian, tahukah engkau apakah hari pembalasan itu?&rdquo; (QS.&nbsp;Al-Infi&#7789;&#257;r: 17-18)</p><p>Allah memberikan corak pertanyaan kepada manusia tentang apakah mereka mengetahui apa itu hari pembalasan. Pertanyaan ini diulang dengan maksud untuk menggetarkan jiwa bahwa hari hariakhir adalah perkara yang sangat agung, agar manusia mengerti sungguh mengerikannya hari itu, agar hati tersentak, kemudian berhenti, dan merenungi apa yang selama ini telah dilakukannya di dunia.</p><p>Seandainya, dan <em>duh</em> betul-betul seandainya manusia mengerti gimana kengerian hari ini sebagaimana Rasulullah mengerti, maka mereka tak bakal mau lepas dari ketaatan kepada Allah meski sekejap mata, tidak bakal ada hati yang berani punya niat mendekat meski sesaat saja dengan kemaksiatan. Akan tetapi realitanya, manusia penuh dengan ketidaktahuan, jadilah mereka lalai dan terperdaya dengan bumi yang fana ini dan segala isinya.</p><p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1610;&#1614;&#1608;&#1618;&#1605;&#1614; &#1604;&#1614;&#1575; &#1578;&#1614;&#1605;&#1618;&#1604;&#1616;&#1603;&#1615; &#1606;&#1614;&#1601;&#1618;&#1587;&#1612; &#1604;&#1617;&#1616;&#1606;&#1614;&#1601;&#1618;&#1587;&#1613; &#1588;&#1614;&#1610;&#1618;&#1600;&#1620;&#1611;&#1575; &#1751;&#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1575;&#1614;&#1605;&#1618;&#1585;&#1615; &#1610;&#1614;&#1608;&#1618;&#1605;&#1614;&#1609;&#1621;&#1616;&#1584;&#1613; &#1604;&#1617;&#1616;&#1604;&#1617;&#1648;&#1607;&#1616;&nbsp;&#2262;</span></p><p>&ldquo;(Itulah) hari (ketika) seseorang tidak berkekuatan (menolong) orang lain sedikit pun. Segala urusan pada hari itu adalah milik Allah.&rdquo; (QS. Al-Infi&#7789;&#257;r: 19)</p><p>Allah sendiri yang menjawab tentang hari itu, dengan jawaban yang menggetarkan hati. Hari itu adalah hari dimana tidak ada satupun jiwa yang bisa menolong jiwa yang lain, betapun tingginya kedudukan jiwa tersebut, selain jika Allah izinkan. Rasulullah <em>shallallahu &lsquo;alaihi wasallam</em> apalagi mewanti-wanti keluarganya untuk bertakwa kepada Allah, agar mereka bisa menyelamatkan diri mereka masing-masing di hari itu. Nabi <em>shallallahu &lsquo;alaihi wasallam </em>mengatakan,</p><p><span>&#1610;&#1575; &#1576;&#1606;&#1610; &#1607;&#1575;&#1588;&#1605;&#1548; &#1571;&#1606;&#1602;&#1584;&#1608;&#1575; &#1571;&#1606;&#1601;&#1587;&#1603;&#1605; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1606;&#1575;&#1585;&#1548; &#1604;&#1575; &#1571;&#1605;&#1604;&#1603; &#1604;&#1603;&#1605; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1588;&#1610;&#1574;&#1575;</span></p><p>&ldquo;Wahai bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian masing-masing dari neraka. Sungguh saya tidak mempunyai kuasa sedikitpun di angan Allah (untuk menyelamatkan kalian).&rdquo;</p><p>Seseorang baru bisa selamat serta menyelamatkan orang lain, jika dirinya sudah mendapatkan rahmat dan izin dari Allah <em>Ta&rsquo;ala.</em> Semua syafaat adalah milik Allah semata, maka kita hanya memintanya dari Allah. Adapun ketika Allah memberikan izin bagi person tertentu untuk memberi syafaat, maka statusnya adalah corak pemuliaan bagi person tersebut, bukan lantaran person tersebut mempunyai kewenangan syafaat yang independen.</p><p>Akhir kata, hari itu adalah milik Allah, segala urusan kembali kepada-Nya, Allah yang bakal menetapkan norma dengan keadilan dan hikmah, tidak ada satupun makhluk yang bakal dizalimi dan dikurangi haknya. Maka, mari kita banyak beramal saleh dan banyak berambisi semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita.</p><p><span><strong>[Selesai]</strong></span></p><p><a href="https://muslim.or.id/115940-tafsir-surah-al-infitar-bag-1.html">KEMBALI KE BAGIAN 1</a></p><p><strong>***</strong></p><p><strong>Penulis: <span>Dany Indra Permana</span></strong></p><p><strong>Artikel <span>Kincai Media</span></strong></p><p><strong>Catatan kaki: </strong></p><p>Mayoritas cetakan dan laman referensi adalah dari app turath <a href="https://app.turath.io/">https://app.turath.io/</a>&nbsp;dan <a href="https://tafsir.app/">https://tafsir.app/</a></p></div>]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/tafsir-surah-al-infitar-bag-2-amalmu-tercatat-dan-engkau-harus-bertanggungjawab-168788.html</guid> <pubDate>Mon, 31 Aug 2026 05:00:35 +0700</pubDate> <author><![CDATA[support@kincaimedia.net (Dany Indra Permana, S.si., M.h.)]]></author> </item> <item> <title><![CDATA[Tafsir Surah Al-Infitar (Bag. 1): Wahai Manusia, Apa yang Membuat Kalian Durhaka kepada Allah?]]></title> <description><![CDATA[Tafsir Surah Al-Infitar (Bag. 1): Wahai Manusia, Apa yang Membuat Kalian Durhaka kepada Allah?. Surah Al-Infithar adalah surah Makiyah yang teletak setelah surah At-Takwir. Dinamakan dengan surah Al-Infitar alias “sesuatu yang terbelah” lantaran dibuka dengan...]]></description> <media:thumbnail url="https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2026/08/Tafsir-surah-Al-Infithar.webp"/> <category><![CDATA[Islami]]></category> <link>https://portal.kincaimedia.net/tafsir-surah-al-infitar-bag-1-wahai-manusia-apa-yang-membuat-kalian-durhaka-kepada-allah-168705.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div><p>Surah Al-Infithar adalah surah Makiyah yang teletak setelah surah At-Takwir. Dinamakan dengan surah Al-Infitar alias <em>&ldquo;sesuatu yang terbelah&rdquo;</em> lantaran dibuka dengan ayat pertama yang menyebut langit yang terbelah pada hari kiamat. Surah ini adalah surah nomor 82 dalam urutan <em>mushaf. </em>Adapun dalam urutan turunnya, maka surah ini turun sebelum surah An-Naziat dan setelah surah Al-Insyiqaq.</p><p>Surah ini dimulai dengan pembicaraan tentang kejadian-kejadian luar biasa nan mengerikan yang terjadi di langit dan bumi pada hari kiamat. Setelah itu, Allah menjelaskan tentang kedurhakaan dan kekufuran manusia kepada nikmat yang telah Allah anugerahkan. Kemudian Allah jelaskan tentang karena kenapa manusia menentang Rabb mereka, ialah lantaran mengingkari adanya hari pembalasan.</p><p>Allah juga menjelaskan bahwa catatan kebaikan manusia senantiasa terjaga oleh malaikat sampai pada hari dilaksanakannya persidangan, ialah hari kiamat. Kemudian Allah berbincang tentang manusia yang terbagi menjadi dua golongan pada hari kiamat, ialah yang selamat dan yang binasa. Terakhir, Allah menutup surah ini dengan peringatan atas datangnya kiamat, serta manusia bakal dihisab satu persatu, sendiri-sendiri di hadapan Allah <em>Ta&rsquo;ala</em>.</p><p>Di antara keistimewaan surah Al-Infithar adalah Nabi pernah menjelaskan bahwa barangsiapa mau memandang gambaran hariakhir seakan-akan perihal itu terjadi di depan matanya, maka bacalah surah ini. Keutamaan yang lain adalah surah ini menjadi salah satu surah yang Nabi ajarkan kepada sahabat Mu&rsquo;adz bin Jabal untuk dibaca saat salat Isya jika mau memanjangkan berdirinya.</p><p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1575;&#1616;&#1584;&#1614;&#1575; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575;&#1764;&#1569;&#1615; &#1575;&#1606;&#1618;&#1601;&#1614;&#1591;&#1614;&#1585;&#1614;&#1578;&#1618;&#1753;</span></p><p>&ldquo;Apabila langit terbelah.&rdquo; (QS. Al-Infi&#7789;&#257;r: 1)</p><p>Allah memulai surah ini dengan menjelaskan apa yang terjadi pada langit ketika hari hariakhir tiba. Pada hari itu, hari hariakhir yang hanya Allah yang tahu kapan terjadinya, langit bakal hancur dan terbelah. Terbelahnya langit ini agar para malaikat bisa turun menuju bumi, sebagaimana dalam surah Al-Furqan ayat 25,</p><p><span>&#1608;&#1614;&#1610;&#1614;&#1608;&#1618;&#1605;&#1614; &#1578;&#1614;&#1588;&#1614;&#1602;&#1617;&#1614;&#1602;&#1615; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575;&#1764;&#1569;&#1615; &#1576;&#1616;&#1575;&#1604;&#1618;&#1594;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575;&#1605;&#1616; &#1608;&#1614;&#1606;&#1615;&#1586;&#1617;&#1616;&#1604;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;&#1604;&#1648;&#1764;&#1609;&#1621;&#1616;&#1603;&#1614;&#1577;&#1615; &#1578;&#1614;&#1606;&#1618;&#1586;&#1616;&#1610;&#1618;&#1604;&#1611;&#1575;</span></p><p><em><i>&ldquo;(Ingatlah) hari (ketika) langit pecah mengeluarkan kabut putih dan malaikat diturunkan (secara) bergelombang.&rdquo;</i></em></p><p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1608;&#1614;&#1575;&#1616;&#1584;&#1614;&#1575; &#1575;&#1604;&#1618;&#1603;&#1614;&#1608;&#1614;&#1575;&#1603;&#1616;&#1576;&#1615; &#1575;&#1606;&#1618;&#1578;&#1614;&#1579;&#1614;&#1585;&#1614;&#1578;&#1618;&#1753;</span></p><p>&ldquo;Apabila bintang-bintang jatuh berserakan.&rdquo; (QS. Al-Infi&#7789;&#257;r: 2)</p><p>Pada hari kiamat, bintang-bintang yang berada di langit jatuh berserakan, saling berjatuhan, satu saling menabrak yang lain, berhamburan, semua lantaran Allah telah mencabut garis edarnya yang stabil selama jutaan tahun. Mereka lepas dari garis edarnya kemudian berjatuhan.</p><p>Pada ayat ini, terdapat style bahasa<em><i>&nbsp;isti&rsquo;arah makniyyah</i></em>&nbsp;<span>(&#1575;&#1587;&#1578;&#1593;&#1575;&#1585;&#1577; &#1605;&#1603;&#1606;&#1610;&#1577;)</span>, ialah corak metafora yang tersirat. Di sini, lafal <em><i>al-kawakib</i></em> alias bintang-bintang diserupakan dengan kalung permata yang untaian benangnya putus sehingga rontok tercerai-berai dan berceceran ke beragam arah. Akan tetapi, obyek penyerupaan -yaitu kalung mutiara- dihapus dari redaksi kalimat, hanya disisakan <em>qarinah</em> alias suatu sifat intrinsik yang hanya dapat melekat pada kalung mutiara, ialah <span>&#1575;&#1606;&#1618;&#1578;&#1614;&#1579;&#1614;&#1585;&#1614;&#1578;&#1618;&#1753;</span> alias berserakan.</p><p>Maka, bintang-bintang yang kita lihat berada dengan sangat rapi pada garis edar dan gugusannya, bakal bertumbangan tercerai-berai kemudian berserakan, seperti berserakannya kalung mutiara yang ditarik kemudian putuslah benangnya.</p><p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1608;&#1614;&#1575;&#1616;&#1584;&#1614;&#1575; &#1575;&#1604;&#1618;&#1576;&#1616;&#1581;&#1614;&#1575;&#1585;&#1615; &#1601;&#1615;&#1580;&#1617;&#1616;&#1585;&#1614;&#1578;&#1618;&#1753;</span></p><p>&ldquo;Apabila lautan diluapkan.&rdquo; (QS. Al-Infi&#7789;&#257;r: 3)</p><p>Kejadian mengerikan juga terjadi di bumi ketika hariakhir datang, di antaranya adalah lautan diluapkan. Artinya, satu laut digabungkan dengan laut yang lain, serta air tawar digabungkan dengan air asin, sehingga melebur dan jadilah hanya ada satu lautan besar. Setelah lautan bersatu, kemudian dinyalakan api dari dalam, sehingga berkobar, meluap-luap, mendidih, seakan hamparan api yang menghanguskan.</p><p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1608;&#1614;&#1575;&#1616;&#1584;&#1614;&#1575; &#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1615;&#1576;&#1615;&#1608;&#1618;&#1585;&#1615; &#1576;&#1615;&#1593;&#1618;&#1579;&#1616;&#1585;&#1614;&#1578;&#1618;&#1753;</span></p><p>&ldquo;Dan andaikan kuburan-kuburan dibongkar.&rdquo; (QS. Al-Infi&#7789;&#257;r: 4)</p><p>Pada hari itu, Allah membalikkan tanah yang ada di bumi, bagian atasnya menjadi bagian bawah, bagian bawahnya menjadi bagian atas. Setelah itu, dikeluarkanlah jenazah dari kubur mereka, lampau dimasukkan kembali ruh pada jasadnya agar bisa dilakukan pertanggungjawaban amal.</p><p>Kemudian setelah disebutkan empat perihal yang terjadi di hari hariakhir dengan corak <em><i>syarat </i></em>atau dengan redaksi &ldquo;apabila terjadi perihal ini dan perihal itu&rdquo;<em><i>, </i></em>maka setelah ini Allah memberikan keterangan tentang apa yang bakal terjadi setelahnya.</p><p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1593;&#1614;&#1604;&#1616;&#1605;&#1614;&#1578;&#1618; &#1606;&#1614;&#1601;&#1618;&#1587;&#1612; &#1605;&#1617;&#1614;&#1575; &#1602;&#1614;&#1583;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;&#1578;&#1618; &#1608;&#1614;&#1575;&#1614;&#1582;&#1617;&#1614;&#1585;&#1614;&#1578;&#1618;&#1751;</span></p><p>&ldquo;Setiap jiwa bakal mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikan(-nya).&rdquo; (QS. Al-Infi&#7789;&#257;r: 5)</p><p>Pada hari itu manusia tesadar, teringat, dan mengakui segala perihal yang telah dilakukannya di dunia. Dirinya ingat perbuatan dan kebaikan yang dilakukan semasa di dunia, baik amal-amal yang dirinya bersegera melakukannya, alias terlambat dia kerjakan lantaran malas, alias apalagi yang lengah (lalai) sehingga tidak dia kerjakan. Semua itu bakal dimintai pertanggungjawabannya.</p><p>Momen manusia mengetahui kebaikan apa yang telah dia kerjakan dan telah dia lalaikan adalah ketika lembaran catatan kebaikan dibagikan dan dibuka oleh masing-masing orang. Pada saat ini, seorang hamba mengetahui dengan pengetahuan yang rinci atas semua amalnya. Adapun pengetahuannya secara dunia alias garis besar apakah dia selamat alias tidak, sebenarnya sudah didapatkannya sejak masa pembangkitan dari kubur. Sebab pada masa ini, manusia yang saleh telah mendapatkan tanda-tanda kebahagiaan, sedangkan manusia yang jelek amalnya telah memandang tanda-tanda kesengsaraannya. Akan tetapi, pengetahuan terperinci tentang amalnya baru bakal dia peroleh ketika catatan kebaikan dibagikan.</p><p>Pendapat dalam tafsir yang lain mengatakan bahwa makna <span>&#1602;&#1614;&#1583;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;&#1578;&#1618;</span>&nbsp;adalah amal-amal yang membuatnya maju menuju surga berupa amal-amal ketaatan, dan makna <span>&#1608;&#1614;&#1575;&#1614;&#1582;&#1617;&#1614;&#1585;&#1614;&#1578;&#1618;&#1751;</span> adalah amal-amal yang membuatnya mundur dari surga menuju neraka, berupa amal-amal maksiat. Karena sejatinya, manusia sedang melangkah pulang; jika dirinya beramal saleh, maka dirinya sedang melangkah maju ke surga, lantaran memang itu adalah kampung laman kita. Adapun jika dirinya beramal maksiat, maka dia bakal mundur menuju neraka.</p><p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1610;&#1648;&#1619;&#1575;&#1614;&#1610;&#1617;&#1615;&#1607;&#1614;&#1575; &#1575;&#1604;&#1618;&#1575;&#1616;&#1606;&#1618;&#1587;&#1614;&#1575;&#1606;&#1615; &#1605;&#1614;&#1575; &#1594;&#1614;&#1585;&#1617;&#1614;&#1603;&#1614; &#1576;&#1616;&#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1616;&#1603;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1603;&#1614;&#1585;&#1616;&#1610;&#1618;&#1605;&#1616;&#1753;</span></p><p>&ldquo;Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Mulia.&rdquo; (QS. Al-Infi&#7789;&#257;r: 6)</p><p>Setelah manusia dibangkitkan dari kubu mereka, serta mereka telah mengetahui gimana catatan kebaikan mereka, tanda-tanda kebahagiaan alias kesengsaraan juga telah jelas terlihat, maka pada ayat ini Allah mencela orang-orang yang durhaka kepada-Nya, lalai dari alim kepada-Nya, tidak berterima kasih atas nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Rabb semesta alam.</p><p>Pendapat yang kuat menyatakan bahwa ayat ini tidak tertuju unik kepada orang-orang yang kafir dan musyrik saja, bakal tetapi apalagi tertuju kepada semua orang yang melakukan maksiat, baik itu seorang muslim yang tidak menjalankan ketaatan dengan baik alias menerjang larangannya lantaran menuruti hawa nafsu.</p><p>Bentuk kalimat pertanyaan di sini bukanlah corak kalimat yang memerlukan jawaban, bakal tetapi corak <em><i>tahdid</i></em>&nbsp;atau ancaman. Fudhail bin Iyadh <em><i>rahimahullah</i></em> memberikan perenungan, &ldquo;Bayangkan, jika Allah menghadirkan hari hariakhir tepat di depan wajahmu, kemudian bertanya apa yang menyebabkan engkau durhaka kepada Rabb yang Maha mulia? Maka, apa yang bakal engkau jawab?&rdquo;</p><p>Dalam ayat yang bagus sekaligus mencekam ini, Allah mendahulukan penyebutan namanya, ialah <em>Ar-Rabb,</em> kemudian baru disusulkan dengan nama <em>Al-Karim</em> (Yang Maha mulia). Lalu, apa rahasianya?</p><p>Allah pertama menyebut kata <em><i>Rabb,</i></em> yang artinya tuhan alias pembuat dan pengatur alam raya untuk mengingatkan manusia bahwa mereka hanyalah makhluk yang diciptakan dan dimulai dari ketiadaan. Hal ini menunjukkan makna pembuatan dan penjagaan manusia. Kemudian disusul dengan <em>Al-Karim</em> (Yang Maha mulia dan Maha dermawan), sebagai corak pengingat terhadap beragam nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia, yang seyogyanya manusia mensyukurinya dengan corak kepatuhan yang tulus kepada Allah, bukan malah menggunakan nikmat tersebut untuk durhaka kepada-Nya.</p><p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1575;&#1604;&#1617;&#1614;&#1584;&#1616;&#1610;&#1618; &#1582;&#1614;&#1604;&#1614;&#1602;&#1614;&#1603;&#1614; &#1601;&#1614;&#1587;&#1614;&#1608;&#1617;&#1648;&#1609;&#1603;&#1614; &#1601;&#1614;&#1593;&#1614;&#1583;&#1614;&#1604;&#1614;&#1603;&#1614;&#1753;</span></p><p>&ldquo;Yang telah menciptakanmu, lampau menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)-mu seimbang?&rdquo; (QS. Al-Infi&#7789;&#257;r: 7)</p><p>Allah <em>Ta&rsquo;ala</em> kemudian menyebut beberapa kenikmatan yang semestinya disadari oleh manusia. Allah telah menciptakan manusia dari ketiadaan, lampau menjadikan mereka sebagai makhluk yang sempurna serta proporsional, yang mempunyai personil tubuh yang sehat dan berfaedah baik, sehingga manusia dapat mendengar, melihat, serta berpikir.</p><p>Allah&nbsp;<em>Ta&rsquo;ala</em> juga membikin manusia berkembang dan hidup dalam corak yang seimbang, mempunyai postur tubuh terbaik dan terindah dari semua makhluk. Manusia hidup dengan tegak, seimbang, simetris, tidak berat alias panjang sebelah, serta mempunyai kegunaan tubuh paling ideal untuk menjadi khalifah dan pengelola muka bumi ini.</p><p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1601;&#1616;&#1610;&#1618;&#1619; &#1575;&#1614;&#1610;&#1617;&#1616; &#1589;&#1615;&#1608;&#1618;&#1585;&#1614;&#1577;&#1613; &#1605;&#1617;&#1614;&#1575; &#1588;&#1614;&#1575;&#1764;&#1569;&#1614; &#1585;&#1614;&#1603;&#1617;&#1614;&#1576;&#1614;&#1603;&#1614;&#1751;</span></p><p>&ldquo;Dalam corak apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun (tubuh)-mu.&rdquo; (QS. Al-Infi&#7789;&#257;r: 8)</p><p>Allah membentuk manusia dan menyusun anatomi tubuh mereka sesuai dengan kehendak-Nya, berupa susunan tubuh yang bagus dan mengangumkan, kompleks dan berfaedah dengan sempurna. Sampai sebagian cerdas pandai mengatakan bahwa manusia adalah semesta mikroskopis lantaran sangat kompleksnya anatomi serta kegunaan tubuh mereka. Allah juga tidak membikin manusia berbentuk seperti hewan dengan melangkah menggunakan empat kaki alias apalagi melata seperti ular.</p><p>Seandainya manusia mau merenungi nikmat yang luar biasa ini, kemudian sadar sungguh besar kasih sayang Allah kepada mereka, pastilah manusia bakal mengerahkan semua daya dan upayanya untuk tunduk patuh, bersyukur, menyembah kepada-Nya, Rabb semesta alam.</p><p><span><strong>[Bersambung]</strong></span></p><p><a href="https://muslim.or.id/115944-tafsir-surah-al-infitar-bag-2.html">LANJUT KE BAGIAN 2</a></p><p><strong>***</strong></p><p><strong>Penulis: <span>Dany Indra Permana</span></strong></p><p><strong>Artikel <span>Kincai Media</span></strong></p><p><strong>Catatan kaki: </strong></p><p>Mayoritas cetakan dan laman referensi adalah dari app turath <a href="https://app.turath.io/">https://app.turath.io/</a>&nbsp;dan <a href="https://tafsir.app/">https://tafsir.app/</a></p></div>]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/tafsir-surah-al-infitar-bag-1-wahai-manusia-apa-yang-membuat-kalian-durhaka-kepada-allah-168705.html</guid> <pubDate>Sun, 30 Aug 2026 05:00:13 +0700</pubDate> <author><![CDATA[support@kincaimedia.net (Dany Indra Permana, S.si., M.h.)]]></author> </item> <item> <title><![CDATA[Wabup Sumedang Bantah Lakukan Dugaan Pelecehan Seksual ke Sekpri, Bakal]]></title> <description><![CDATA[Wabup Sumedang Bantah Lakukan Dugaan Pelecehan Seksual ke Sekpri, Bakal. Kincai Media, BANDUNG-- Wakil Bupati Sumedang Fajar Aldila membantah melakukan dugaan pelecehan seksual kepada sekretaris pribadinya (sekpri) berinisial R. I...]]></description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/wakil-bupati-sumedang-fajar-aldila-mengunjungi-pasar-tanjungsari-dan_250326141138-105.jpeg"/> <category><![CDATA[Islami]]></category> <link>https://portal.kincaimedia.net/wabup-sumedang-bantah-lakukan-dugaan-pelecehan-seksual-ke-sekpri-bakal-168629.html</link> <content:encoded><![CDATA[<p><span> Wakil Bupati Sumedang Fajar Aldila mengunjungi Pasar Tanjungsari dan menegaskan bakal merancang pasar ini menjadi pasar pariwisata yang lebih nyaman dan menarik. </span> </p><div data-sticky-container> <p>Kincai Media,&nbsp;BANDUNG-- Wakil Bupati<a href="https://republika.co.id/tag/sumedang"> Sumedang </a>Fajar Aldila membantah melakukan dugaan pelecehan seksual kepada sekretaris pribadinya (sekpri) berinisial R. Ia mengaku tengah menelusuri pihak-pihak yang menyebarkan rumor dan tuduhan tersebut serta berpikir untuk melakukan tindakan hukum.</p><div> <p dir="ltr">"Menghadapi rumor itu, saya tidak ambil pusing rekan rekan, gosip-gosip yang tidak berdasarkan sumber. Saya daripada sibuk penjelasan a, penjelasan b mending kerja saja konsentrasi kerja kerja kerja," ucap dia kepada wartawan belum lama ini.</p> <p dir="ltr">Ia mengaku bakal mendalami rumor dan tuduhan yang menerpanya tersebut apakah bermuatan politik alias seperti apa. Wabup Sumedang mengingatkan masyarakat dan media agar tidak termakan narasi alias penggiringan opini tanpa sumber yang jelas.</p><p dir="ltr">"Tuduhan rumor ini saya mau dalami, apa maksud dan tujuannya politik alias tujuannya seperti apa. Itu yang sedang didalami. Saya hanya mengingatkan kepada masyarakat jangan mudah termakan narasi penggiringan opini tidak jelas apalagi sumber ya tidak jelas," kata dia.</p> <p dir="ltr">Ia membujuk masyarakat agar lebih pandai dalam memilah informasi. Wabup Sumedang pun mengaku bakal memandang situasi apakah bakal melakukan tindakan norma kepada pihak-pihak yang menyebarkan tuduhan dan rumor itu.</p><p dir="ltr">"Pada prinsipnya saya tidak mau ambil pusing. Kalau memang terbukti di sini ada pencemaran nama baik, langkah yang bakal dilakukan langkah norma bakal kita ambil," kata dia.</p><p dir="ltr">Ia pun menegaskan sekali lagi bahwa tidak pernah ada peristiwa dugaan pelecehan terhadap sekprinya. Bahkan dia mempersilahkan media untuk bertanya langsung kepada yang bersangkutan.</p><p dir="ltr">"Itu saya bilang tidak ada (peristiwa itu), gosip. Biarkan saya cari tahu dulu dalami. Bisa dikomunikasikan ke orang itu (sekpri)," ungkap dia.</p><p dir="ltr">Sebelumnya, beredar di media sosial R diduga menjadi korban Penganiayaan dan Penyekapan Wabup Sumedang. Dugaan penganiayaan tersebut diduga melibatkan banyak pihak. Bahkan informasinya korban sudah melapor ke Polda Jawa Barat.</p></div> </div>]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/wabup-sumedang-bantah-lakukan-dugaan-pelecehan-seksual-ke-sekpri-bakal-168629.html</guid> <pubDate>Sat, 29 Aug 2026 09:26:40 +0700</pubDate> <author><![CDATA[support@kincaimedia.net (Muhammad Hafil)]]></author> </item> <item> <title><![CDATA[4 Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir Meski Pelakunya Sudah Meninggal Dunia]]></title> <description><![CDATA[4 Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir Meski Pelakunya Sudah Meninggal Dunia. Kincai Media, JAKARTA— Sesungguhnya kebaikan seseorang bakal terputus dengan kematiannya. Demikian pula aliran pahala yang terus diperbarui untuknya bakal terhenti...]]></description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/050267500-1779846100-830-556.jpg"/> <category><![CDATA[Islami]]></category> <link>https://portal.kincaimedia.net/4-amalan-yang-pahalanya-terus-mengalir-meski-pelakunya-sudah-meninggal-dunia-168630.html</link> <content:encoded><![CDATA[<p><span> Ilustrasi anak saleh. </span> </p><div data-sticky-container> <p>Kincai Media,&nbsp;<span></span>JAKARTA&mdash; Sesungguhnya kebaikan seseorang bakal terputus dengan kematiannya. Demikian pula aliran pahala yang terus diperbarui untuknya bakal terhenti, selain dalam beberapa perkara.</p><p>Hal itu lantaran orang yang telah meninggal tersebut menjadi karena lahirnya amal-amal itu. Anak yang saleh merupakan bagian dari hasil didikannya.</p> <p>Demikian pula pengetahuan yang dia tinggalkan melalui pengajaran maupun karya tulis. Begitu juga perjuangan menjaga kaum Muslimin di jalan Allah dan infak jariyah, ialah wakaf.</p><p>Berikut penjelasan mengenai amal-amal tersebut.</p> <p>1. Meninggal dalam keadaan berjaga perang di Jalan Allah SWT</p><p>Ribath adalah menetap di suatu tempat yang menjadi perbatasan antara kaum Muslimin dan pihak yang memusuhi mereka, dengan tujuan menjaga dan melindungi kaum Muslimin.</p><p>Rasulullah SAW bersabda:</p><p>&#1585;&#1616;&#1576;&#1614;&#1575;&#1591;&#1615; &#1610;&#1614;&#1608;&#1618;&#1605;&#1613; &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1604;&#1614;&#1577;&#1613; &#1582;&#1614;&#1610;&#1618;&#1585;&#1612; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1589;&#1616;&#1610;&#1614;&#1575;&#1605;&#1616; &#1588;&#1614;&#1607;&#1618;&#1585;&#1613; &#1608;&#1614;&#1602;&#1616;&#1610;&#1614;&#1575;&#1605;&#1616;&#1607;&#1616;&#1548; &#1608;&#1614;&#1573;&#1616;&#1606;&#1618; &#1605;&#1614;&#1575;&#1578;&#1614; &#1580;&#1614;&#1585;&#1614;&#1609; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1607;&#1616; &#1593;&#1614;&#1605;&#1614;&#1604;&#1615;&#1607;&#1615; &#1575;&#1604;&#1617;&#1614;&#1584;&#1616;&#1610; &#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614; &#1610;&#1614;&#1593;&#1618;&#1605;&#1614;&#1604;&#1615;&#1607;&#1615;&#1548; &#1608;&#1614;&#1571;&#1615;&#1580;&#1618;&#1585;&#1616;&#1610;&#1614; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1607;&#1616; &#1585;&#1616;&#1586;&#1618;&#1602;&#1615;&#1607;&#1615;&#1548; &#1608;&#1614;&#1571;&#1614;&#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1601;&#1614;&#1578;&#1617;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614;</p><p>&ldquo;Berjaga-jaga selama sehari semalam di jalan Allah lebih baik daripada berpuasa dan melaksanakan qiyam selama sebulan. Jika dia meninggal, kebaikan yang biasa dilakukannya bakal terus mengalir pahalanya, rezekinya tetap diberikan kepadanya, dan dia terlindungi dari fitnah.&rdquo; (HR Muslim)</p><p>Dalam riwayat lain disebutkan:</p><p>&#1608;&#1614;&#1576;&#1614;&#1593;&#1614;&#1579;&#1614;&#1607;&#1615; &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1615; &#1610;&#1614;&#1608;&#1618;&#1605;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1616;&#1610;&#1614;&#1575;&#1605;&#1614;&#1577;&#1616; &#1570;&#1605;&#1616;&#1606;&#1611;&#1575; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1601;&#1614;&#1586;&#1614;&#1593;&#1616; &#1575;&#1604;&#1618;&#1571;&#1614;&#1603;&#1618;&#1576;&#1614;&#1585;&#1616;</p><p>&ldquo;Allah bakal membangkitkannya pada hari Kiamat dalam keadaan kondusif dari ketakutan yang paling besar.&rdquo; (HR Ibnu Majah, dinilai sahih)</p> </div>]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/4-amalan-yang-pahalanya-terus-mengalir-meski-pelakunya-sudah-meninggal-dunia-168630.html</guid> <pubDate>Sat, 29 Aug 2026 09:04:26 +0700</pubDate> <author><![CDATA[support@kincaimedia.net (Nashih Nashrullah)]]></author> </item> <item> <title><![CDATA[Bagaimana Menjadikan Anak Hafidz Al-Qur’an?]]></title> <description><![CDATA[Bagaimana Menjadikan Anak Hafidz Al-Qur’an?. Pertumbuhan jumlah Sekolah Islam Terpadu sangatlah masif, terhitung mulai dari periode 2010 hingga saat ini sebagaimana yang dilansir oleh Jaringan Sekolah Isla...]]></description> <media:thumbnail url="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2026/08/Menjadikan-Anak-Hafidz-Al-Quran.webp"/> <category><![CDATA[Islami]]></category> <link>https://portal.kincaimedia.net/bagaimana-menjadikan-anak-hafidz-al-qur-an-168613.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div><p>Pertumbuhan jumlah Sekolah Islam Terpadu sangatlah masif, terhitung mulai dari periode 2010 hingga saat ini sebagaimana yang dilansir oleh Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia. Pada tahun 2013, terdapat 1.926 Sekolah Islam Terpadu, dan pada tahun 2026 naik menjadi 2.890 Sekolah. <strong><b>[1]</b></strong></p><p>Pertumbuhan ini tidak terjadi begitu saja tanpa sebab. Beberapa riset menyebut bahwasannya aspek motivasi terbanyak orang tua memasukkan anaknya ke sekolah Islam adalah program <em><i>tahfidz</i></em>-nya alias pembelajaran Al-Quran di dalamnya.</p><p>Berangkat dari motivasi besar orang tua yang sangat menginginkan anaknya menjadi anak yang senantiasa membersamai Al-Quran, <em><i>hafidz</i></em>&nbsp;Al-Quran, alias berkawan dengan Al-Quran, maka ada beberapa poin yang dapat kita telaah mengenai ini. Hal ini menjadi sangat krusial lantaran banyak sekali orang tua yang meletakkan angan besar hanya pada sekolah saja (sekolah Islam), agar apa yang dia cita-citakan dapat terpenuhi tanpa memandang faktor-faktor lain yang juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap perubahan yang mereka harapkan.</p><p>Lantas, gimana caranya agar angan orang tua tersebut dapat terealisasi? Bagaimana menjadikan anaknya <em><i>hafidz</i></em>&nbsp;Al-Quran?</p><p>Pada pembahasan kali ini, kami bakal memberikan empat tips utama yang mesti dilakukan para orang tua yang menginginkan anaknya menjadi <em><i>hafidz</i></em>&nbsp;Al-Quran sebagaimana para salafus saleh dulu melakukannya terhadap anak mereka.</p><div><p><a href="https://kotakinfaq.com/campaign/donasi-dakwah-digital/" aria-label="Visit advertisement link" target="_blank" rel="nofollow noopener external noreferrer" data-wpel-link="external"> <img fetchpriority="high" width="1080" height="1080" src="https://muslimah.or.id/wp-content/themes/jnews/assets/img/jeg-empty.png" data-src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2025/03/Donasi-Muslimahorid-3.webp" alt="Donasi Kincai Media" data-pin-no-hover="true"> </a></p></div><h2><span id="Jadilah_teladan_pertama_bagi_anak-anak"></span><strong><b>Jadilah teladan pertama bagi anak-anak</b></strong><span></span></h2><p>Poin ini adalah poin terpenting yang banyak orang tua lalai padanya. Mereka beranggapan ketika telah memasukkan ke sekolah Islam terbaik yang program <em><i>tahfidz</i></em>-nya bagus, lantas si anak bakal otomatis baik <em><i>tahfidz</i></em>-nya. Ternyata, yang berpandangan seperti ini banyak sekali yang kecewa. Oleh lantaran itu, sangat krusial sekali menjadi teladan bagi anak-anak di rumah. Jika menginginkan anak lebih mencintai Al-Quran daripada <em><i>gadget</i></em>-nya, maka ciptakanlah lingkungan untuk itu, berikanlah contoh bagi anak.</p><p>Patut diketahui bahwasannya anak-anak salaf mencintai Al-Quran bukan sekadar lantaran diperintah, melainkan lantaran mereka memandang orang tua mereka hidup berbareng Al-Quran setiap hari. Sebagaimana wasiat Utbah bin Abi Sufyan kepada pengajar anaknya,</p><p><span>&#1604;&#1616;&#1610;&#1614;&#1603;&#1615;&#1606;&#1618; &#1571;&#1614;&#1608;&#1614;&#1617;&#1604;&#1614; &#1573;&#1616;&#1589;&#1618;&#1604;&#1614;&#1575;&#1581;&#1616;&#1603;&#1614; &#1604;&#1616;&#1576;&#1614;&#1606;&#1616;&#1610;&#1614;&#1617; &#1573;&#1616;&#1589;&#1618;&#1604;&#1614;&#1575;&#1581;&#1615;&#1603;&#1614; &#1604;&#1616;&#1606;&#1614;&#1601;&#1618;&#1587;&#1616;&#1603;&#1614;&#1548; &#1601;&#1614;&#1573;&#1616;&#1606;&#1614;&#1617; &#1593;&#1615;&#1610;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;&#1607;&#1615;&#1605;&#1618; &#1605;&#1614;&#1593;&#1618;&#1602;&#1615;&#1608;&#1583;&#1614;&#1577;&#1612; &#1576;&#1616;&#1593;&#1614;&#1610;&#1618;&#1606;&#1616;&#1603;&#1614;&#1548; &#1601;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1587;&#1614;&#1606;&#1615; &#1593;&#1616;&#1606;&#1618;&#1583;&#1614;&#1607;&#1615;&#1605;&#1618; &#1605;&#1614;&#1575; &#1589;&#1614;&#1606;&#1614;&#1593;&#1618;&#1578;&#1614;&#1548; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1614;&#1576;&#1616;&#1610;&#1581;&#1615; &#1593;&#1616;&#1606;&#1618;&#1583;&#1614;&#1607;&#1615;&#1605;&#1618; &#1605;&#1614;&#1575; &#1578;&#1614;&#1585;&#1614;&#1603;&#1618;&#1578;&#1614;</span></p><p>&ldquo;Hendaklah langkah pertama yang engkau lakukan dalam memperbaiki anak-anakku adalah memperbaiki dirimu sendiri. Sebab, mata mereka senantiasa tertuju pada matamu. Hal yang baik menurut mereka adalah apa yang engkau kerjakan, dan perihal yang jelek menurut mereka adalah apa yang engkau tinggalkan.&rdquo; <strong><b>[2]</b></strong></p><p>Karena komparasi waktu anak-anak di sekolah dengan di rumah lebih banyak di rumah, maka mata mereka bakal lebih banyak tertuju kepada orang tuannya sebagai contoh. Maka, untuk konteks <em><i>tahfidz qur&rsquo;an,</i></em>&nbsp;akan ada pertanyaan besar, gimana jika rupanya yang menginginkan anaknya menjadi <em><i>hafidz</i></em>&nbsp;Al-Quran adalah orang tua yang apalagi tidak bisa membaca Al-Quran? Pada batas ini, maka wajib hukumnya bagi orang tua tersebut terlebih dulu untuk belajar untuk. Ini sebagaimana firman Allah dalam surah At-Tahrim ayat 6.</p><h2><span id="Memilihkan_pengajar_dan_lingkungan_yang_tepat_sekolah_yang_tepat"></span><strong><b>Memilihkan pengajar dan lingkungan yang tepat (sekolah yang tepat)</b></strong><span></span></h2><p>Bahkan untuk cita-cita besar di atas, seorang ayah alias orang tua tidak boleh sembarangan memilihkan sekolah, yang krusial sekolah Islam. Mengapa demikian, lantaran Al-Quran adalah pedoman seorang muslim, baik membaca, memahami, ataupun men-<em><i>tadabburi</i></em>-nya, tidak boleh sembarangan. Menginginkan seorang anak menjadi <em><i>hafidz qur&rsquo;an</i></em>&nbsp;itu tidak hanya hafal, tetapi yang dihafalnya mestilah betul dan fasih, alias betul dalam <em><i>lafadz</i></em>&nbsp;(sifat dan <em><i>makhraj </i></em>huruf). Sehingga memilih siapa yang bakal mengajarkan dan lingkungan belajar amatlah penting.</p><p>Sebagaimana perkataan Ibnu Sirin, seorang <em><i>tabi&rsquo;in</i></em>&nbsp;dan mahir hadis,</p><p><span>&#1573;&#1616;&#1606;&#1614;&#1617; &#1607;&#1614;&#1584;&#1614;&#1575; &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1616;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614; &#1583;&#1616;&#1610;&#1606;&#1612;&#1548; &#1601;&#1614;&#1575;&#1606;&#1618;&#1592;&#1615;&#1585;&#1615;&#1608;&#1575; &#1593;&#1614;&#1605;&#1614;&#1617;&#1606;&#1618; &#1578;&#1614;&#1571;&#1618;&#1582;&#1615;&#1584;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614; &#1583;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618;</span></p><p>&ldquo;Sesungguhnya pengetahuan (Al-Quran dan As-Sunah) ini adalah bagian dari agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil kepercayaan kalian.&rdquo; <strong><b>[3] </b></strong></p><h2><span id="Menanamkan_akidah_dan_iman_sebelum_mulai_menghafal"></span><strong><b>Menanamkan iktikad dan ketaatan sebelum mulai menghafal</b></strong><span></span></h2><p>Mulailah menanamkan iktikad dan ketaatan kepada anak sebelum mengajarkan Al-Quran kepada anak. Yakni dengan mengenalkan tauhid, keagungan Allah, dan kisah-kisah hikmah agar hati anak terikat sebelum lisannya menghafal.</p><p>Sebagaimana perkataan seorang <em><i>tabi&rsquo;in,</i></em></p><p><span>&#1608;&#1614;&#1593;&#1614;&#1606;&#1618; &#1581;&#1614;&#1605;&#1617;&#1614;&#1575;&#1583;&#1616; &#1576;&#1618;&#1606;&#1616; &#1606;&#1614;&#1580;&#1616;&#1610;&#1581;&#1613;&#1548; &#1593;&#1614;&#1606;&#1618; &#1571;&#1614;&#1576;&#1616;&#1610; &#1593;&#1616;&#1605;&#1618;&#1585;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1580;&#1614;&#1608;&#1618;&#1606;&#1616;&#1610;&#1617;&#1616;&#1548; &#1593;&#1614;&#1606;&#1618; &#1580;&#1615;&#1606;&#1618;&#1583;&#1614;&#1576;&#1613;&#1548; &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614;: &#1603;&#1615;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575; &#1594;&#1616;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;&#1575;&#1606;&#1611;&#1575; &#1581;&#1614;&#1586;&#1614;&#1575;&#1608;&#1616;&#1585;&#1614;&#1577;&#1611;&nbsp;&#1605;&#1614;&#1593;&#1614; &#1585;&#1614;&#1587;&#1615;&#1608;&#1604;&#1616; &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1616; &#65018;&#1548; &#1601;&#1614;&#1578;&#1614;&#1593;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614;&#1605;&#1618;&#1606;&#1614;&#1575; &#1575;&#1604;&#1618;&#1573;&#1616;&#1610;&#1605;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614; &#1602;&#1614;&#1576;&#1618;&#1604;&#1614; &#1571;&#1614;&#1606;&#1618; &#1606;&#1614;&#1578;&#1614;&#1593;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1615;&#1585;&#1618;&#1570;&#1606;&#1614;&#1548; &#1579;&#1615;&#1605;&#1617;&#1614; &#1578;&#1614;&#1593;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614;&#1605;&#1618;&#1606;&#1614;&#1575; &#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1615;&#1585;&#1618;&#1570;&#1606;&#1614;&#1548; &#1601;&#1614;&#1575;&#1586;&#1618;&#1583;&#1614;&#1583;&#1618;&#1606;&#1614;&#1575; &#1576;&#1616;&#1607;&#1616; &#1573;&#1616;&#1610;&#1605;&#1614;&#1575;&#1606;&#1611;&#1575;</span></p><p>Dan dari Hammad bin Najih, dari Abu &lsquo;Imran al-Jauni, dari Jundub (bin Abdullah), dia berkata, <em><i>&ldquo;Dahulu, kami adalah anak-anak muda yang segar (mendekati balig)</i></em>&nbsp;<em><i>bersama Rasulullah </i></em><em><i>&#65018;</i></em><em><i>. Kami mempelajari ketaatan sebelum kami mempelajari Al-Quran. Setelah itu, kami mempelajari Al-Quran, sehingga bertambahlah ketaatan kami dengannya (Al-Quran tersebut).&rdquo;</i></em>&nbsp;<strong><b>[4]</b></strong></p><h2><span id="Bertahap_dan_tidak_memaksakan_anak"></span><strong><b>Bertahap dan tidak memaksakan anak</b></strong><span></span></h2><p>Para salaf dulu mempunyai prinsip dalam pengajaran Al-Quran pada anak adalah berangsur-angsur dengan maksud agar tidak menimbulkan kejenuhan alias beban mental. Dari Abu Al-&lsquo;Aliyah (<em><i>Rufai&rsquo; bin Mihran</i></em>), dia berkata,</p><p><span>&#1578;&#1614;&#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1617;&#1605;&#1615;&#1608;&#1575; &#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1615;&#1585;&#1618;&#1570;&#1606;&#1614; &#1582;&#1614;&#1605;&#1618;&#1587;&#1614; &#1570;&#1610;&#1614;&#1575;&#1578;&#1613; &#1582;&#1614;&#1605;&#1618;&#1587;&#1614; &#1570;&#1610;&#1614;&#1575;&#1578;&#1613;&#1548; &#1601;&#1614;&#1573;&#1616;&#1606;&#1614;&#1617; &#1580;&#1616;&#1576;&#1618;&#1585;&#1616;&#1610;&#1604;&#1614; &#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614; &#1610;&#1614;&#1606;&#1618;&#1586;&#1616;&#1604;&#1615; &#1576;&#1616;&#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1615;&#1585;&#1618;&#1570;&#1606;&#1616; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609; &#1575;&#1604;&#1606;&#1614;&#1617;&#1576;&#1616;&#1610;&#1616;&#1617; &#1589;&#1614;&#1604;&#1614;&#1617;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1614;&#1617;&#1607;&#1615; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1607;&#1616; &#1608;&#1614;&#1587;&#1614;&#1604;&#1614;&#1617;&#1605;&#1614; &#1582;&#1614;&#1605;&#1618;&#1587;&#1611;&#1575; &#1582;&#1614;&#1605;&#1618;&#1587;&#1611;&#1575;</span></p><p><em><i>&ldquo;Pelajarilah Al-Quran lima ayat demi lima ayat, lantaran sesungguhnya Jibril &lsquo;alaihissalam dulu turun membawa Al-Quran kepada Nabi shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam lima (ayat) lima (ayat).&rdquo; </i></em><strong><b>[5]</b></strong></p><h2><span id="Kesimpulan"></span><strong><b>Kesimpulan</b></strong><span></span></h2><p>Kesimpulan dari keempat poin di atas adalah hendaknya bagi orang tua untuk terlebih dulu membekali dirinya dengan ilmu. Bagi calon-calon ayah hendaknya persiapkan diri, visi misi dalam berumah tangga dengan menuntut ilmu. Bagi yang telah terlanjur, maka belum terlambat; pelajarilah kepercayaan ini secara berurut dari yang dasar. Belajar membaca Al-Quran dengan baik sesuai norma tajwid, ilmuilah iktikad dan tauhid yang lurus. Agar kita dapat menciptakan generasi-generasi Islam yang terbaik. Agar cita-cita mempunyai anak <em><i>hafidz qur&rsquo;an,</i></em>&nbsp;saleh dan salehah dapat terwujud. <em><i>Wallahu Ta&rsquo;ala a&rsquo;lam.</i></em></p><p><strong><b>***</b></strong></p><p><strong><b>Penulis: </b></strong><span><strong><b>Haris Kurniawan</b></strong></span></p><p><strong><b>Artikel </b></strong><span><strong><b>Kincai Media</b></strong></span></p><p><strong><b>Catatan kaki:</b></strong></p><p><strong><b>[1] </b></strong>https://anggota.jsit.id/</p><p><strong><b>[2]</b></strong>&nbsp;<em><i>Al-Jami&rsquo; li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami&rsquo;,</i></em>&nbsp;karya Khatib Al-Baghdadi dan <em><i>Al-&lsquo;Aqd al-Farid</i></em>, karya Ibnu Abdi Rabbih.</p><p><strong><b>[3] </b></strong><em><i>Muqaddimah</i></em>&nbsp;<em><i>Shahih Muslim.</i></em></p><p><strong><b>[4] </b></strong><em><i>Siyar A&rsquo;lam an-Nubala&rsquo;,</i></em>&nbsp;karya Adz-Dzahabi, 3: 175.</p><p><strong><b>[5] </b></strong><em><i>Al-Jami&rsquo; li Akhlaq al-Rawi wa Adab al-Sami&rsquo;, </i></em>karya Al-Khatib Al-Baghdadi (No. 1109, Bab <em><i>Akhdz al-Hadith Qalilan Qalilan</i></em>)</p><p><strong><b>Daftar Pustaka</b></strong></p><p>Al-Baghdadi, A.-K. (1983). <em><i>Al-Jami&rsquo; li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami&rsquo;</i></em>&nbsp;(M. A. Al-Tahhan, Ed.; Vol. 1&ndash;2). Maktabah Al-Ma&rsquo;arif.</p><p>Al-Naysaburi, M. I. H. (1955). <em><i>Muqaddimah Shahih Muslim</i></em>&nbsp;(Dalam <em><i>Shahih Muslim</i></em>, Vol. 1, hal. 9&ndash;28; M. F. &lsquo;Abd al-Baqi, Ed.). Dar Ihya&rsquo; al-Turath al-&lsquo;Arabi.</p><p>Apriliani, W., Kholik, A., &amp; Laeli, S. (2025). <em><i>Analisis Faktor yang Mempengaruhi Minat Orang Tua dalam Memilih Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT)</i></em>&nbsp;(Vol. 4).</p><p>Firmansyah, M., &amp; Kholis, N. (2024). <em><i>Islamic Management: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Program Unggulan Tahfidz Al-Qur&rsquo;an: Inovasi Kepala Sekolah Sekolah Dasar Swasta Untuk Mencetak Siswa Hafidz-Hafidzah</i></em>. <a href="https://doi.org/10.30868/im.v7i01.6072" data-wpel-link="external" rel="nofollow external noopener noreferrer">https://doi.org/10.30868/im.v7i01.6072</a></p><p>Ibnu Abdi Rabbih, A. U. (1983). <em><i>Al-&lsquo;Aqd al-farid</i></em>&nbsp;(A. Amin, A. Al-Zayn, &amp; I. Al-Abyari, Ed.; Vol. 1&ndash;8). Dar Al-Kutub Al-&lsquo;Ilmiyyah.</p><p>Jaringan Sekolah Islam Terpadu Indonesia. (n.d.). <em><i>Keanggotaan JSIT Indonesia</i></em>. Diakses pada 25 Juli 2026, dari <a href="https://anggota.jsit.id/" data-wpel-link="external" rel="nofollow external noopener noreferrer">https://anggota.jsit.id/</a></p><p>Saputra, A. (2015). MOTIVASI ORANG TUA MENYEKOLAHKAN ANAK KE SEKOLAH ISLAM TERPADU (Studi Pada SDIT-Al-Madinah Kota Pekanbaru) Oleh. In <em><i>JOM FISIP</i></em>&nbsp;(Vol. 2, Number 2).</p></div>]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/bagaimana-menjadikan-anak-hafidz-al-qur-an-168613.html</guid> <pubDate>Sat, 29 Aug 2026 05:00:53 +0700</pubDate> <author><![CDATA[support@kincaimedia.net (Redaksi Muslimah.or.id)]]></author> </item> <item> <title><![CDATA[Mengenal Akidah Maturidiyyah (Bag. 2): Pokok-Pokok Keyakinan Maturidiyyah dan Bantahan Ahlus Sunnah]]></title> <description><![CDATA[Mengenal Akidah Maturidiyyah (Bag. 2): Pokok-Pokok Keyakinan Maturidiyyah dan Bantahan Ahlus Sunnah. Mempelajari sejarah aliran teologi tidak cukup hanya dengan mengetahui siapa tokoh pendirinya dan di daerah mana ajaran tersebut menyebar. Bagi seorang penuntu...]]></description> <media:thumbnail url="https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2026/08/Keyakinan-Maturidiyah.webp"/> <category><![CDATA[Islami]]></category> <link>https://portal.kincaimedia.net/mengenal-akidah-maturidiyyah-bag-2-pokok-pokok-keyakinan-maturidiyyah-dan-bantahan-ahlus-sunnah-168611.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div><p>Mempelajari sejarah aliran teologi tidak cukup hanya dengan mengetahui siapa tokoh pendirinya dan di daerah mana ajaran tersebut menyebar. Bagi seorang penuntut ilmu, kajian sejarah hanyalah pintu masuk untuk menelaah perihal yang jauh lebih esensial, ialah menimbang pokok-pokok kepercayaan yang dibangun aliran tersebut dengan neraca Al-Qur&rsquo;an, As-Sunah, dan pemahaman generasi salaf.</p><p>Langkah ini sangat diperlukan agar seseorang tidak mudah menyimpulkan bahwa suatu golongan otomatis berada di atas manhaj yang lurus hanya lantaran luasnya jaringan pendidikan alias besarnya jumlah pengikut mereka di bumi Islam. Di antara aliran teologi dalam Islam yang eksis adalah Maturidiyyah.</p><h2><span id="Pokok-pokok_keyakinan_Maturidiyyah_dan_bantahan_Ahlus_sunah"></span><strong><b>Pokok-pokok kepercayaan Maturidiyyah dan sanggahan Ahlus sunah&nbsp;</b></strong><span></span></h2><p>Maturidiyyah lahir dari tekad untuk memihak kepercayaan dari serangan kaum rasionalis Mu&rsquo;tazilah. Akan tetapi, perangkat argumentasi yang digunakan justru meminjam tradisi <em><i>Ilmu</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>Kalam </i></em>yang didasarkan pada logika filosofis. Dampaknya, muncullah sejumlah penyimpangan metodologis dalam penetapan iktikad yang menyelisihi jalan para sahabat dan pemimpin ahlul hadis.</p><h3><span id="Pertama_menjadikan_akal_sebagai_hakim_atas_wahyu"></span><strong><b>Pertama,</b></strong><strong><b> m</b></strong><strong><b>enjadikan</b></strong><strong><b> a</b></strong><strong><b>kal</b></strong><strong><b>&nbsp;</b></strong><strong><b>sebagai</b></strong><strong><b> h</b></strong><strong><b>akim</b></strong><strong><b>&nbsp;</b></strong><strong><b>atas</b></strong><strong><b> w</b></strong><strong><b>ahyu</b></strong><span></span></h3><p>Titik pangkal dari seluruh persoalan teologi Maturidiyyah adalah penempatan logika sebagai sumber utama dalam menetapkan akidah. Abu Manshur al-Maturidi sendiri menegaskan norma ini sejak awal dalam karya babonnya,</p><p><span>&#1573;&#1606; &#1575;&#1604;&#1593;&#1604;&#1605; &#1576;&#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1608;&#1576;&#1571;&#1605;&#1585;&#1607; &#1593;&#1585;&#1590; &#1604;&#1575; &#1610;&#1583;&#1585;&#1603; &#1573;&#1604;&#1575; &#1576;&#1575;&#1604;&#1575;&#1587;&#1578;&#1583;&#1604;&#1575;&#1604;</span></p><p><em>&ldquo;Sesungguhnya pengetahuan tentang Allah dan perintah-Nya adalah &lsquo;ardh yang tidak dapat diketahui selain dengan istidlal (penalaran).&rdquo; </em><strong>[1]</strong></p><p>Penalaran yang dimaksud adalah pembuktian logis yang berpusat pada akal. Dalam pandangan mereka, urusan kepercayaan terbagi menjadi daerah <em>&lsquo;aqliyyat</em> (yang bisa dicapai akal) dan <em>sam&rsquo;iyyat</em> (yang hanya diketahui lewat wahyu). Pada daerah <em>&lsquo;aqliyyat,</em> logika diangkat sebagai pengadil pemutus. Ketika terdapat dalil wahyu yang dianggap tidak sejalan dengan konklusi logika mereka, maka sabda akhirpekan bakal ditolak, sedangkan ayat alias sabda mutawatir bakal ditakwilkan dari makna zahirnya. <strong>[2]</strong></p><p>Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam&rsquo;ani <em>rahimahullah </em>memberikan norma emas untuk membongkar keruntuhan langkah berpikir tersebut. Beliau berkata,</p><p><span>&#1575;&#1593;&#1604;&#1605; &#1571;&#1606; &#1601;&#1589;&#1604; &#1605;&#1575; &#1576;&#1610;&#1606;&#1606;&#1575; &#1608;&#1576;&#1610;&#1606; &#1575;&#1604;&#1605;&#1576;&#1578;&#1583;&#1593;&#1577; &#1607;&#1608; &#1605;&#1587;&#1571;&#1604;&#1577; &#1575;&#1604;&#1593;&#1602;&#1604;&#1563; &#1601;&#1573;&#1606;&#1607;&#1605; &#1571;&#1587;&#1587;&#1608;&#1575; &#1583;&#1610;&#1606;&#1607;&#1605; &#1593;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1605;&#1593;&#1602;&#1608;&#1604; &#1608;&#1580;&#1593;&#1604;&#1608;&#1575; &#1575;&#1604;&#1575;&#1578;&#1576;&#1575;&#1593; &#1608;&#1575;&#1604;&#1605;&#1571;&#1579;&#1608;&#1585; &#1578;&#1576;&#1593;&#1575; &#1604;&#1604;&#1605;&#1593;&#1602;&#1608;&#1604;&#1548; &#1608;&#1571;&#1605;&#1575; &#1571;&#1607;&#1604; &#1575;&#1604;&#1587;&#1606;&#1577; &#1602;&#1575;&#1604;&#1608;&#1575;: &#1575;&#1604;&#1571;&#1589;&#1604; &#1601;&#1610; &#1575;&#1604;&#1583;&#1610;&#1606; &#1575;&#1604;&#1575;&#1578;&#1576;&#1575;&#1593; &#1608;&#1575;&#1604;&#1593;&#1602;&#1608;&#1604; &#1578;&#1576;&#1593;&#1548; &#1608;&#1604;&#1608; &#1603;&#1575;&#1606; &#1571;&#1587;&#1575;&#1587; &#1575;&#1604;&#1583;&#1610;&#1606; &#1593;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1605;&#1593;&#1602;&#1608;&#1604; &#1604;&#1575;&#1587;&#1578;&#1594;&#1606;&#1609; &#1575;&#1604;&#1582;&#1604;&#1602; &#1593;&#1606; &#1575;&#1604;&#1608;&#1581;&#1610; &#1608;&#1593;&#1606; &#1575;&#1604;&#1571;&#1606;&#1576;&#1610;&#1575;&#1569; &#1589;&#1604;&#1608;&#1575;&#1578; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607;&#1605; &#1608;&#1604;&#1576;&#1591;&#1604; &#1605;&#1593;&#1606;&#1609; &#1575;&#1604;&#1571;&#1605;&#1585; &#1608;&#1575;&#1604;&#1606;&#1607;&#1610; &#1608;&#1604;&#1602;&#1575;&#1604; &#1605;&#1606; &#1588;&#1575;&#1569; &#1605;&#1575; &#1588;&#1575;&#1569;</span></p><p><em><i>&ldquo;Ketahuilah bahwa pembeda antara kami </i>dengan</em> <em><i>ahli bid&rsquo;ah adalah masalah akal. Mereka membangun agama</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>mereka</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>di</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>atas</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>akal</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>dan</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>menjadikan</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>ittiba&rsquo;</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>dan</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>atsar</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>sebagai</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>pengikut</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>akal. Adapun Ahlus sunah mengatakan: pokok dalam kepercayaan adalah ittiba&rsquo; (mengikuti dalil, ed.), dan logika adalah pengikut. Seandainya asas kepercayaan adalah </i></em><em><i>akal, niscaya makhluk tidak butuh wahyu dan tidak </i></em><em>butuh para Nabi. Dan batallah makna perintah dan larangan, sehingga siapa saja bisa berbicara sesukanya</em>.&rdquo; <strong>[3]</strong></p><p>Ahlus sunah menegaskan bahwa logika manusia mempunyai pemisah keahlian yang tidak bakal bisa menjangkau prinsip ketuhanan tanpa pengarahan wahyu. Allah <em>Ta&rsquo;ala</em> berfirman,</p><p><span>&#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1571;&#1615;&#1608;&#1578;&#1616;&#1610;&#1578;&#1615;&#1605;&#1618; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1616;&#1604;&#1618;&#1605;&#1616; &#1573;&#1616;&#1604;&#1617;&#1614;&#1575; &#1602;&#1614;&#1604;&#1616;&#1610;&#1604;&#1611;&#1575;</span></p><p>&ldquo;<em>Dan</em><em>&nbsp;</em><em>tidaklah</em><em>&nbsp;</em><em>kamu</em><em>&nbsp;</em><em>diberi</em><em> pengetahuan </em><em>pengetahuan,</em><em>&nbsp;</em><em>melainkan</em><em>&nbsp;</em><em>sedikit</em>.&rdquo;&nbsp;(QS.&nbsp;Al-Isra:&nbsp;85)</p><p>Allah&nbsp;<em>Ta&rsquo;ala</em>&nbsp;juga&nbsp;berfirman,</p><p><span>&#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575; &#1610;&#1615;&#1581;&#1616;&#1610;&#1591;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614; &#1576;&#1616;&#1588;&#1614;&#1610;&#1618;&#1569;&#1613; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1593;&#1616;&#1604;&#1618;&#1605;&#1616;&#1607;&#1616; &#1573;&#1616;&#1604;&#1617;&#1614;&#1575; &#1576;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575; &#1588;&#1614;&#1575;&#1569;&#1614;</span></p><p>&ldquo;Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari pengetahuan Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya.&rdquo; (QS. Al-Baqarah: 255)</p><p>Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam&rsquo;ani melengkapi norma ini dengan mengingatkan prinsip kepatuhan seorang hamba terhadap <em>nash</em> syariat,</p><p><span>&#1608;&#1573;&#1606;&#1605;&#1575; &#1593;&#1604;&#1610;&#1606;&#1575; &#1571;&#1606; &#1606;&#1602;&#1576;&#1604; &#1605;&#1575; &#1593;&#1602;&#1604;&#1606;&#1575;&#1607; &#1573;&#1610;&#1605;&#1575;&#1606;&#1575;&#1611; &#1608;&#1578;&#1589;&#1583;&#1610;&#1602;&#1575;&#1611;&#1548; &#1608;&#1605;&#1575; &#1604;&#1605; &#1606;&#1593;&#1602;&#1604;&#1607; &#1602;&#1576;&#1604;&#1606;&#1575;&#1607; &#1578;&#1587;&#1604;&#1610;&#1605;&#1575;&#1611; &#1608;&#1575;&#1587;&#1578;&#1587;&#1604;&#1575;&#1605;&#1575;&#1611;&#1548; &#1608;&#1607;&#1584;&#1575; &#1605;&#1593;&#1606;&#1609; &#1602;&#1608;&#1604; &#1575;&#1604;&#1602;&#1575;&#1574;&#1604; &#1605;&#1606; &#1571;&#1607;&#1604; &#1575;&#1604;&#1587;&#1606;&#1577;: &#1573;&#1606; &#1575;&#1604;&#1573;&#1587;&#1604;&#1575;&#1605; &#1602;&#1606;&#1591;&#1585;&#1577; &#1604;&#1575; &#1578;&#1593;&#1576;&#1585; &#1573;&#1604;&#1575; &#1576;&#1575;&#1604;&#1578;&#1587;&#1604;&#1610;&#1605;</span></p><p>&ldquo;<em>Sesungguhnya yang wajib atas kita adalah menerima apa yang kita pahami dengan</em><em>&nbsp;</em><em>iman</em><em>&nbsp;</em><em>dan tashdiq (membenarkan dalam hati, ed.), dan yang tidak kita pahami kita terima dengan taslim dan istislam (menerima, tunduk, dan patuh, ed.). Inilah makna perkataan sebagian Ahlus sunah: sesungguhnya Islam adalah jembatan yang tidak bisa diseberangi selain dengan taslim</em>.&rdquo; <strong>[4]</strong></p><h3><span id="Kedua_menolak_hujjah_hadis_ahad_dalam_akidah"></span><strong><b>Kedua,</b></strong><strong><b> m</b></strong><strong><b>enolak</b></strong><em><strong><b> h</b></strong><strong><b>ujjah </b></strong></em><strong><b>hadis a</b></strong><strong><b>had </b></strong><strong><b>dalam</b></strong><strong><b>&nbsp;</b></strong><strong><b>akidah</b></strong><span></span></h3><p>Pengagungan terhadap logika bersambung pada penolakan terhadap sabda akhirpekan dalam masalah iktikad. Maturidiyyah beranggapan bahwa sabda akhirpekan hanya menghasilkan prasangka <em>(zhanni),</em> sedangkan iktikad kudu dibangun di atas kepastian <em>(yushil ilal yaqin).</em> Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam&rsquo;ani menepis argumen yang menyelisihi kesepakatan ustadz salaf ini dengan menerangkan,</p><p><span>&#1602;&#1608;&#1604;&#1607;&#1605;: &#1573;&#1606; &#1571;&#1582;&#1576;&#1575;&#1585; &#1575;&#1604;&#1570;&#1581;&#1575;&#1583; &#1604;&#1575; &#1578;&#1602;&#1576;&#1604; &#1601;&#1610;&#1605;&#1575; &#1591;&#1585;&#1610;&#1602;&#1607; &#1575;&#1604;&#1593;&#1604;&#1605; &#1585;&#1571;&#1610; &#1587;&#1605;&#1593;&#1578; &#1576;&#1607; &#1575;&#1604;&#1605;&#1576;&#1578;&#1583;&#1593;&#1577; &#1601;&#1610; &#1585;&#1583; &#1575;&#1604;&#1571;&#1582;&#1576;&#1575;&#1585;. &#1573;&#1584; &#1571;&#1606; &#1575;&#1604;&#1582;&#1576;&#1585; &#1573;&#1584;&#1575; &#1589;&#1581; &#1608;&#1585;&#1608;&#1575;&#1607; &#1575;&#1604;&#1579;&#1602;&#1575;&#1578; &#1608;&#1575;&#1604;&#1571;&#1574;&#1605;&#1577;&#1548; &#1608;&#1578;&#1604;&#1602;&#1578;&#1607; &#1575;&#1604;&#1571;&#1605;&#1577; &#1576;&#1575;&#1604;&#1602;&#1576;&#1608;&#1604; &#1601;&#1573;&#1606;&#1607; &#1610;&#1608;&#1580;&#1576; &#1575;&#1604;&#1593;&#1604;&#1605;</span></p><p>&ldquo;Perkataan mereka, &lsquo;Sesungguhnya <em>khabar ahad</em> tidak diterima dalam perihal yang jalannya pengetahuan adalah pendapat yang menjadi tempat berpegang mahir bid&rsquo;ah untuk menolak <em>khabar.</em> Padahal, jika <em>khabar</em> itu sahih, diriwayatkan oleh para <em>tsiqah</em> dan para imam, serta diterima oleh umat, maka dia menghasilkan ilmu.&rdquo; <strong>[5]</strong></p><p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah </em>turut menjelaskan bahwa pemisahan antara sabda untuk norma amaliah dan sabda untuk iktikad adalah perkara baru yang tidak pernah dikenal di masa salaf. Beliau menegaskan,</p><p>&#1608;&#1604;&#1605; &#1578;&#1586;&#1604; &#1575;&#1604;&#1589;&#1581;&#1575;&#1576;&#1577; &#1608;&#1575;&#1604;&#1578;&#1575;&#1576;&#1593;&#1608;&#1606; &#1608;&#1578;&#1575;&#1576;&#1593;&#1608;&#1607;&#1605;&#1548; &#1608;&#1571;&#1607;&#1604; &#1575;&#1604;&#1581;&#1583;&#1610;&#1579; &#1608;&#1575;&#1604;&#1587;&#1606;&#1577; &#1610;&#1581;&#1578;&#1580;&#1608;&#1606; &#1576;&#1607;&#1584;&#1607; &#1575;&#1604;&#1571;&#1582;&#1576;&#1575;&#1585; &#1601;&#1610; &#1605;&#1587;&#1575;&#1574;&#1604; &#1575;&#1604;&#1589;&#1601;&#1575;&#1578; &#1608;&#1575;&#1604;&#1602;&#1583;&#1585; &#1608;&#1575;&#1604;&#1571;&#1587;&#1605;&#1575;&#1569; &#1608;&#1575;&#1604;&#1571;&#1581;&#1603;&#1575;&#1605;&#1548; &#1608;&#1604;&#1605; &#1610;&#1606;&#1602;&#1604; &#1593;&#1606; &#1571;&#1581;&#1583; &#1605;&#1606;&#1607;&#1605; &#1575;&#1604;&#1576;&#1578;&#1577; &#1571;&#1606;&#1607; &#1580;&#1608;&#1617;&#1586; &#1575;&#1604;&#1575;&#1581;&#1578;&#1580;&#1575;&#1580; &#1576;&#1607;&#1575; &#1601;&#1610; &#1605;&#1587;&#1575;&#1574;&#1604; &#1575;&#1604;&#1571;&#1581;&#1603;&#1575;&#1605; &#1583;&#1608;&#1606; &#1575;&#1604;&#1573;&#1582;&#1576;&#1575;&#1585; &#1593;&#1606; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1548; &#1608;&#1571;&#1587;&#1605;&#1575;&#1574;&#1607; &#1608;&#1589;&#1601;&#1575;&#1578;&#1607;</p><p><em>&ldquo;Para sahabat, tabi&rsquo;in, tabi&rsquo;ut tabi&rsquo;in, mahir hadis, dan Ahli sunah senantiasa berhujjah dengan khabar-khabar ini dalam masalah sifat, qadar, asma (nama Allah), dan hukum. Dan tidak</em><em>&nbsp;</em><em>dinukil</em><em>&nbsp;</em><em>sama</em><em>&nbsp;</em><em>sekali dari salah seorang di antara mereka bahwa dia membolehkan berhujjah dengannya dalam masalah norma saja tanpa masalah khabar tentang Allah, nama, dan sifat-Nya.&rdquo; </em><strong>[6]</strong></p><p>Bahkan Ibnul Qayyim <em>rahimahullah </em>menegaskan kesaksian sejarah umat Islam,</p><p><span>&#1608;&#1606;&#1581;&#1606; &#1606;&#1588;&#1607;&#1583; &#1576;&#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1608;&#1604;&#1604;&#1607; &#1588;&#1607;&#1575;&#1583;&#1577;&#1611; &#1593;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1576;&#1578; &#1608;&#1575;&#1604;&#1602;&#1591;&#1593; &#1571;&#1606; &#1575;&#1604;&#1589;&#1581;&#1575;&#1576;&#1577; &#1585;&#1590;&#1610; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1606;&#1607;&#1605; &#1603;&#1575;&#1606;&#1608;&#1575; &#1610;&#1580;&#1586;&#1605;&#1608;&#1606; &#1576;&#1605;&#1575; &#1610;&#1581;&#1583;&#1579; &#1576;&#1607; &#1571;&#1581;&#1583;&#1607;&#1605; &#1593;&#1606; &#1585;&#1587;&#1608;&#1604; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1589;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607; &#1608;&#1587;&#1604;&#1605; &#1608;&#1604;&#1605; &#1610;&#1602;&#1604; &#1571;&#1581;&#1583; &#1605;&#1606;&#1607;&#1605; &#1604;&#1605;&#1606; &#1581;&#1583;&#1579;&#1607; &#1593;&#1606; &#1585;&#1587;&#1608;&#1604; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1589;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607; &#1608;&#1587;&#1604;&#1605;: &#1582;&#1576;&#1585;&#1603; &#1582;&#1576;&#1585; &#1608;&#1575;&#1581;&#1583;&#1613; &#1604;&#1575; &#1610;&#1601;&#1610;&#1583; &#1575;&#1604;&#1593;&#1604;&#1605; &#1581;&#1578;&#1609; &#1610;&#1578;&#1608;&#1575;&#1578;&#1585;</span></p><p><em>&ldquo;Kami bersaksi dengan Allah dan untuk Allah, kesaksian yang pasti dan tegas, bahwa para sahabat radhiyallahu &lsquo;anhum betul-betul memastikan apa yang diriwayatkan oleh salah seorang mereka dari Rasulullah shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam. Dan tidak seorang pun dari mereka berbicara kepada orang yang meriwayatkan sabda dari Rasulullah shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam, &lsquo;Khabarmu adalah khabar akhirpekan yang tidak menghasilkan pengetahuan sehingga dia kudu mutawatir.&rsquo;&rdquo; </em><strong>[7]</strong></p><p>Dalil dari sunah Nabi <em>shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam</em> yang menggugurkan klaim Maturidiyyah ini sangatlah banyak. Di antaranya adalah sabda Mu&rsquo;awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, tatkala Rasulullah <em>shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam</em> menguji keagamaan seorang budak wanita dengan pertanyaan akidah,</p><p><span>&#1571;&#1614;&#1610;&#1618;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1615;&#1567; &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614;&#1578;&#1618;: &#1601;&#1616;&#1610; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575;&#1569;&#1616;. &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614;: &#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1571;&#1614;&#1606;&#1614;&#1575;&#1567; &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614;&#1578;&#1618;: &#1571;&#1614;&#1606;&#1618;&#1578;&#1614; &#1585;&#1614;&#1587;&#1615;&#1608;&#1604;&#1615; &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1616;. &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614;: &#1571;&#1614;&#1593;&#1618;&#1578;&#1616;&#1602;&#1618;&#1607;&#1614;&#1575;&#1548; &#1601;&#1614;&#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614;&#1607;&#1614;&#1575; &#1605;&#1615;&#1572;&#1618;&#1605;&#1616;&#1606;&#1614;&#1577;&#1612;</span></p><p>&ldquo;<em>Di mana Allah? Budak wanita itu menjawab: Di atas langit. Beliau bertanya lagi: Siapa aku? Budak itu menjawab: Engkau adalah utusan Allah.</em><em>&nbsp;</em><em>Beliau</em><em>&nbsp;</em><em>pun</em><em>&nbsp;</em><em>bersabda:</em><em>&nbsp;</em><em>Bebaskan</em><em>&nbsp;</em><em>dia,</em><em>&nbsp;</em><em>karena sesungguhnya dia seorang mukminah</em>.&rdquo; (HR. Muslim no. 537)</p><p>Hadis ini merupakan sabda ahad, namun Nabi <em>shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam</em> menjadikannya sebagai standar keabsahan ketaatan dalam masalah yang sangat agung, ialah sifat <span>&#65227;&#65248;&#1608;</span> (ketinggian) Allah di atas makhluk-Nya. Bahkan, Imam Abu Hanifah <em>rahimahullah </em>sendiri beralasan dengan sabda budak wanita ini dalam menetapkan sifat <em>uluww </em>Allah<em> Ta&rsquo;ala</em>. <strong>[8]</strong></p><h3><span id="Ketiga_menafikan_sifat_khabariyyah_dan_sifat_ikhtiyariyyah"></span><strong><b>Ketiga,</b></strong><strong><b> m</b></strong><strong><b>enafikan</b></strong><strong><b> s</b></strong><strong><b>ifat</b></strong><em><strong><b> k</b></strong><strong><b>habariyyah</b></strong></em><strong><b>&nbsp;</b></strong><strong><b>dan</b></strong><strong><b> s</b></strong><strong><b>ifat</b></strong><em><strong><b> i</b></strong><strong><b>khtiyariyyah</b></strong></em><span></span></h3><p>Penyimpangan teologis Maturidiyyah yang cukup berat tampak pada penolakan mereka terhadap sifat-sifat <em>khabariyyah</em> yang ditetapkan dalam Al-Qur&rsquo;an dan As-Sunah (seperti wajah, kedua tangan, alias <em>istiwa&rsquo;</em> di atas Arsy), serta sifat-sifat perbuatan yang mengenai dengan kehendak Allah (<em>shifat ikhtiyariyyah</em> alias <em>fi&rsquo;liyyah lazimah</em>). Mereka mengira penetapan sifat tersebut bakal menyamakan Pencipta dengan makhluk. Syekh Ahmad bin &lsquo;Audhullah al-Harbi merangkum pokok pikiran mereka dalam risalah ilmiahnya,</p><p><span>&#1602;&#1575;&#1604;&#1578; &#1575;&#1604;&#1605;&#1575;&#1578;&#1585;&#1610;&#1583;&#1610;&#1577; &#1576;&#1606;&#1601;&#1610; &#1580;&#1605;&#1610;&#1593; &#1575;&#1604;&#1589;&#1601;&#1575;&#1578; &#1575;&#1604;&#1582;&#1576;&#1585;&#1610;&#1577; &#1575;&#1604;&#1578;&#1610; &#1608;&#1585;&#1583;&#1578; &#1601;&#1610; &#1575;&#1604;&#1603;&#1578;&#1575;&#1576; &#1608;&#1575;&#1604;&#1587;&#1606;&#1577;&#1548; &#1608;&#1584;&#1604;&#1603; &#1604;&#1571;&#1606; &#1605;&#1589;&#1583;&#1585;&#1607;&#1605; &#1601;&#1610; &#1575;&#1604;&#1578;&#1604;&#1602;&#1610; &#1607;&#1608; &#1575;&#1604;&#1593;&#1602;&#1604;&#1548; &#1608;&#1604;&#1575;&#1593;&#1578;&#1602;&#1575;&#1583;&#1607;&#1605; &#1571;&#1606; &#1573;&#1579;&#1576;&#1575;&#1578; &#1607;&#1584;&#1607; &#1575;&#1604;&#1589;&#1601;&#1575;&#1578; &#1593;&#1604;&#1609; &#1581;&#1602;&#1610;&#1602;&#1578;&#1607;&#1575; &#1610;&#1587;&#1578;&#1604;&#1586;&#1605; &#1575;&#1604;&#1578;&#1588;&#1576;&#1610;&#1607; &#1608;&#1575;&#1604;&#1578;&#1580;&#1587;&#1610;&#1605;&#1548; &#1608;&#1575;&#1581;&#1578;&#1580;&#1608;&#1575; &#1604;&#1602;&#1608;&#1604;&#1607;&#1605; &#1607;&#1584;&#1575; &#1576;&#1588;&#1615;&#1576;&#1607; &#1601;&#1575;&#1587;&#1583;&#1577;</span></p><p><em>&ldquo;Maturidiyyah menafikan seluruh sifat khabariyyah yang datang dalam Al-Qur&rsquo;an dan As-Sunah. Ini lantaran sumber talaqqi mereka adalah akal, dan lantaran kepercayaan mereka bahwa menetapkan sifat-sifat ini dalam makna sesungguhnya melazimkan tasybih dan tajsim.</em><em>&nbsp;</em><em>Mereka berhujjah untuk pendapat ini dengan syubhat-syubhat yang batil.&rdquo; </em><strong>[9]</strong></p><p>Beliau&nbsp;juga&nbsp;mencatat&nbsp;penolakan&nbsp;mereka&nbsp;terhadap&nbsp;sifat-sifat&nbsp;perbuatan&nbsp;yang&nbsp;bersifat&nbsp;<em>lazimah,</em></p><p><span>&#1606;&#1601;&#1578; &#1575;&#1604;&#1605;&#1575;&#1578;&#1585;&#1610;&#1583;&#1610;&#1577; &#1575;&#1604;&#1589;&#1601;&#1575;&#1578; &#1575;&#1604;&#1601;&#1593;&#1604;&#1610;&#1577; &#1575;&#1604;&#1604;&#1575;&#1586;&#1605;&#1577;&#1548; &#1608;&#1584;&#1604;&#1603; &#1604;&#1571;&#1606; &#1575;&#1604;&#1571;&#1589;&#1604; &#1601;&#1610; &#1579;&#1576;&#1608;&#1578;&#1607;&#1575; &#1575;&#1604;&#1582;&#1576;&#1585;&#1548; &#1608;&#1604;&#1571;&#1606;&#1607;&#1575; &#1589;&#1601;&#1575;&#1578; &#1575;&#1582;&#1578;&#1610;&#1575;&#1585;&#1610;&#1577;&#1548; &#1608;&#1607;&#1605; &#1610;&#1605;&#1606;&#1593;&#1608;&#1606; &#1571;&#1606; &#1578;&#1602;&#1608;&#1605; &#1576;&#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1589;&#1601;&#1577; &#1575;&#1582;&#1578;&#1610;&#1575;&#1585;&#1610;&#1577; &#1581;&#1584;&#1585;&#1575;&#1611; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1578;&#1588;&#1576;&#1610;&#1607; &#1608;&#1601;&#1585;&#1575;&#1585;&#1575;&#1611; &#1605;&#1606;&#1607;</span></p><p><em>&ldquo;Maturidiyyah menafikan sifat-sifat fi&rsquo;liyyah yang lazimah lantaran asal penetapannya adalah khabar, dan lantaran dia merupakan sifat ikhtiyariyyah. Mereka melarang Allah mempunyai sifat ikhtiyariyyah lantaran cemas dan lari dari tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk, ed.).&rdquo; </em><strong>[10]</strong></p><p>Dr. Syamsuddin Al-Afghani dalam kajian mendalamnya membongkar akar masalah tersebut dengan menunjukkan bahwa mereka keliru dalam memahami batas <em>tasybih</em> dan <em>tanzih</em>. Beliau menulis,</p><p><span>&#1573;&#1606; &#1575;&#1604;&#1605;&#1575;&#1578;&#1585;&#1610;&#1583;&#1610;&#1577; &#1604;&#1605; &#1610;&#1593;&#1585;&#1601;&#1608;&#1575; &#1581;&#1602;&#1610;&#1602;&#1577; &#1575;&#1604;&#1578;&#1588;&#1576;&#1610;&#1607; &#1575;&#1604;&#1584;&#1610; &#1610;&#1580;&#1576; &#1606;&#1601;&#1610;&#1607; &#1593;&#1606; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1578;&#1593;&#1575;&#1604;&#1609;&#1548; &#1601;&#1571;&#1583;&#1582;&#1604;&#1608;&#1575; &#1601;&#1610; &#1605;&#1601;&#1607;&#1608;&#1605; &#1575;&#1604;&#1578;&#1588;&#1576;&#1610;&#1607; &#1603;&#1579;&#1610;&#1585;&#1575;&#1611; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1589;&#1601;&#1575;&#1578; &#1601;&#1606;&#1601;&#1608;&#1607;&#1575;</span></p><p>&ldquo;<em>Sesungguhnya Maturidiyyah tidak mengetahui prinsip tasybih yang wajib dinafikan dari Allah. Maka, </em><em>mereka</em><em>&nbsp;</em><em>memasukkan</em><em>&nbsp;</em><em>banyak</em><em>&nbsp;</em><em>sifat</em><em>&nbsp;</em><em>ke</em><em>&nbsp;</em><em>dalam pengertian tasybih, lampau mereka nafikan sifat-sifat itu</em>.&rdquo; <strong>[11]</strong></p><p>Pada saat yang sama, beliau melanjutkan keterangannya,</p><p><span>&#1603;&#1605;&#1575; &#1571;&#1606;&#1607;&#1605; &#1604;&#1605; &#1610;&#1593;&#1585;&#1601;&#1608;&#1575; &#1581;&#1602;&#1610;&#1602;&#1577; &#1575;&#1604;&#1578;&#1606;&#1586;&#1610;&#1607; &#1575;&#1604;&#1584;&#1610; &#1610;&#1580;&#1576; &#1573;&#1579;&#1576;&#1575;&#1578;&#1607; &#1604;&#1604;&#1607; &#1587;&#1576;&#1581;&#1575;&#1606;&#1607;&#1548; &#1601;&#1571;&#1583;&#1582;&#1604;&#1608;&#1575; &#1601;&#1610; &#1605;&#1601;&#1607;&#1608;&#1605; &#1575;&#1604;&#1578;&#1606;&#1586;&#1610;&#1607; &#1606;&#1601;&#1610; &#1603;&#1579;&#1610;&#1585; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1589;&#1601;&#1575;&#1578; &#1601;&#1593;&#1591;&#1604;&#1608;&#1607;&#1575;</span></p><p><em>&ldquo;Sebagaimana mereka juga tidak mengetahui prinsip tanzih yang wajib ditetapkan bagi Allah. Maka, mereka memasukkan penafian banyak sifat ke dalam pengertian tanzih, lampau mereka</em><em>&nbsp;</em><em>ta&rsquo;thil sifat-sifat itu.</em>&rdquo; <strong>[12]</strong></p><p>Manhaj salaf menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana datangnya tanpa <em>tasybih</em> dan tanpa <em>ta&rsquo;thil,</em> berasas firman Allah <em>Ta&rsquo;ala,</em></p><p><span>&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1587;&#1614; &#1603;&#1614;&#1605;&#1616;&#1579;&#1618;&#1604;&#1616;&#1607;&#1616; &#1588;&#1614;&#1610;&#1618;&#1569;&#1612; &#1608;&#1614;&#1607;&#1615;&#1608;&#1614; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1614;&#1605;&#1616;&#1610;&#1593;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1576;&#1614;&#1589;&#1616;&#1610;&#1585;&#1615;</span></p><p><em>&ldquo;Tidak ada sesuatu pun yang serupa</em><em>&nbsp;</em><em>dengan</em><em>&nbsp;</em><em>Dia,</em><em>&nbsp;</em><em>dan</em><em>&nbsp;</em><em>Dialah</em><em>&nbsp;</em><em>Yang</em><em>&nbsp;</em><em>Maha</em><em>&nbsp;</em><em>Mendengar</em><em>&nbsp;</em><em>lagi</em><em>&nbsp;</em><em>Maha Melihat.&rdquo; </em>(QS. Asy-Syura: 11)</p><p>Ayat ini membantah kaum <em>musyabbihah</em> pada firman-Nya (&ldquo;tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia&rdquo;), sekaligus membantah kaum <em>mu&rsquo;aththilah</em> dan penafsir kalam pada firman-Nya (&ldquo;dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat&rdquo;).</p><h3><span id="Keempat_dilema_antara_tafwidh_dan_takwil_serta_kontradiksi_pembatasan_sifat"></span><strong><b>Keempat,</b></strong><strong><b>&nbsp;</b></strong><strong><b>dilema</b></strong><strong><b>&nbsp;</b></strong><strong><b>antara</b></strong><strong><b>&nbsp;</b></strong><em><strong><b>tafwidh</b></strong></em><strong><b>&nbsp;</b></strong><strong><b>dan&nbsp;<em>takwil&nbsp;</em>serta pertentangan pembatasan sifat</b></strong><span></span></h3><p>Dalam menyikapi ayat-ayat sifat, Maturidiyyah menempuh dua jalan yang sama-sama menyimpang dari jalan salaf, ialah <em>tafwidh</em> (menyerahkan makna kepada Allah) dan <em>takwil</em> (memalingkan dari makna lahirnya). Namun dalam praktiknya, jalan <em>takwil</em> jauh lebih mendominasi literatur mereka. Dr. Syamsuddin al-Afghani memotret realitas madrasah ini dengan perkataan,</p><p><span>&#1604;&#1603;&#1606; &#1602;&#1608;&#1604;&#1607;&#1605; &#1576;&#1575;&#1604;&#1578;&#1601;&#1608;&#1610;&#1590; &#1604;&#1604;&#1578;&#1582;&#1604;&#1589; &#1605;&#1606; &#1606;&#1589;&#1608;&#1589; &#1575;&#1604;&#1587;&#1604;&#1601; &#1575;&#1604;&#1602;&#1575;&#1591;&#1593;&#1577; &#1575;&#1604;&#1589;&#1585;&#1610;&#1581;&#1577; &#1601;&#1610; &#1575;&#1604;&#1573;&#1579;&#1576;&#1575;&#1578; &#1601;&#1602;&#1591;&#1548; &#1608;&#1573;&#1604;&#1575; &#1605;&#1584;&#1607;&#1576;&#1607;&#1605; &#1575;&#1604;&#1584;&#1610; &#1575;&#1587;&#1578;&#1602;&#1585;&#1608;&#1575; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607; &#1608;&#1591;&#1576;&#1602;&#1608;&#1607; &#1593;&#1605;&#1604;&#1610;&#1575;&#1611; &#1607;&#1608; &#1575;&#1604;&#1578;&#1571;&#1608;&#1610;&#1604; &#1575;&#1604;&#1605;&#1576;&#1578;&#1583;&#1593; &#1575;&#1604;&#1584;&#1610; &#1607;&#1608; &#1593;&#1610;&#1606; &#1575;&#1604;&#1578;&#1581;&#1585;&#1610;&#1601; &#1608;&#1575;&#1604;&#1578;&#1593;&#1591;&#1610;&#1604;</span></p><p><em>&ldquo;Perkataan mereka dengan tafwidh sebenarnya hanya untuk lepas dari nash-nash salaf yang qath&rsquo;i dan sharih dalam menetapkan sifat. Adapun ajaran yang mereka pegang teguh dan mereka aplikasikan secara nyata adalah takwil yang bid&rsquo;ah, yang pada hakikatnya adalah tahrif dan ta&rsquo;thil.&rdquo; </em><strong>[13]</strong></p><p>Klaim sebagian tokoh mereka bahwa <em>tafwidh</em> absolut (menyerahkan makna sekaligus <em>kaifiyat</em>) adalah ajaran salaf juga disanggah secara keras oleh para peneliti akidah. Dr. Syamsuddin al-Afghani menegaskan,</p><p><span>&#1575;&#1583;&#1593;&#1578; &#1575;&#1604;&#1605;&#1575;&#1578;&#1585;&#1610;&#1583;&#1610;&#1577; &#1593;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1587;&#1604;&#1601; &#1578;&#1601;&#1608;&#1610;&#1590;&#1575;&#1611; &#1605;&#1591;&#1604;&#1602;&#1575;&#1611; &#1601;&#1610; &#1575;&#1604;&#1603;&#1610;&#1601; &#1608;&#1575;&#1604;&#1605;&#1593;&#1606;&#1609; &#1580;&#1605;&#1610;&#1593;&#1575;&#1611;&#1548; &#1608;&#1607;&#1584;&#1607; &#1575;&#1604;&#1583;&#1593;&#1608;&#1609; &#1576;&#1575;&#1591;&#1604;&#1577; &#1593;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1587;&#1604;&#1601; &#1604;&#1575; &#1581;&#1602;&#1610;&#1602;&#1577; &#1604;&#1607;&#1575;&#1548; &#1608;&#1571;&#1606;&#1607;&#1575; &#1582;&#1591;&#1571; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607;&#1605;&#1548; &#1608;&#1575;&#1601;&#1578;&#1585;&#1575;&#1569; &#1588;&#1606;&#1610;&#1593; &#1608;&#1576;&#1607;&#1578;&#1575;&#1606; &#1601;&#1592;&#1610;&#1593; &#1608;&#1578;&#1602;&#1608;&#1604; &#1608;&#1578;&#1602;&#1608;&#1610;&#1604;</span></p><p>&ldquo;<em>Maturidiyyah mendakwakan atas para salaf tafwidh absolut dalam kaifiyat dan makna</em><em>&nbsp;</em><em>sekaligus. Dakwaan ini batil atas para salaf, tidak mempunyai hakikat, dia merupakan kesalahan atas mereka, iftira&rsquo; yang keji, buhtan (kebohongan) yang dahsyat, dan taqawwul (mengarang-ngarang atas nama mereka).</em>&rdquo; <strong>[14]</strong></p><p>Sisi kelemahan argumen Maturidiyyah terlihat jelas dari ketidakkonsistenan mereka dalam menetapkan sifat.&nbsp;Mereka&nbsp;menetapkan&nbsp;delapan&nbsp;sifat&nbsp;namun&nbsp;menolak&nbsp;sifat-sifat&nbsp;lainnya,&nbsp;padahal argumen logika yang mereka pakai untuk menolak sifat <em>khabariyyah</em> dapat pula diterapkan pada sifat yang mereka tetapkan. Dr. Syamsuddin Al-Afghani membongkar pertentangan tersebut,</p><p><span>&#1575;&#1604;&#1605;&#1575;&#1578;&#1585;&#1610;&#1583;&#1610;&#1577; &#1605;&#1578;&#1606;&#1575;&#1602;&#1590;&#1608;&#1606; &#1601;&#1610; &#1602;&#1590;&#1610;&#1577; &#1575;&#1604;&#1578;&#1571;&#1608;&#1610;&#1604; &#1581;&#1610;&#1579; &#1571;&#1579;&#1576;&#1578;&#1608;&#1575; &#1576;&#1593;&#1590; &#1575;&#1604;&#1589;&#1601;&#1575;&#1578; &#1608;&#1571;&#1608;&#1604;&#1608;&#1575; &#1576;&#1593;&#1590;&#1607;&#1575; &#1601;&#1573;&#1605;&#1575; &#1571;&#1606; &#1610;&#1579;&#1576;&#1578;&#1608;&#1575; &#1580;&#1605;&#1610;&#1593; &#1575;&#1604;&#1589;&#1601;&#1575;&#1578;&#1548; &#1608;&#1573;&#1605;&#1575; &#1571;&#1606; &#1610;&#1572;&#1608;&#1604;&#1608;&#1575; &#1580;&#1605;&#1610;&#1593;&#1607;&#1575;&#1548; &#1604;&#1571;&#1606; &#1575;&#1604;&#1583;&#1575;&#1601;&#1593; &#1604;&#1604;&#1578;&#1571;&#1608;&#1610;&#1604; &#1608;&#1607;&#1608; &#1588;&#1576;&#1607;&#1577; &#1575;&#1604;&#1578;&#1588;&#1576;&#1610;&#1607;&#1548; &#1608;&#1578;&#1581;&#1602;&#1610;&#1602; &#1575;&#1604;&#1578;&#1606;&#1586;&#1610;&#1607; &#1605;&#1608;&#1580;&#1608;&#1583; &#1601;&#1610;&#1605;&#1575; &#1571;&#1579;&#1576;&#1578;&#1608;&#1607; &#1571;&#1610;&#1590;&#1575;&#1611;</span></p><p><em><i>&ldquo;Maturidiyyah kontradiktif dalam masalah takwil. Mereka menetapkan sebagian sifat dan mentakwil sebagian yang lain. Seharusnya, mereka menetapkan seluruh sifat, </i>atau <i>mentakwil semuanya. Karena pendorong takwil, ialah syubhat tasybih dan upaya tanzih, juga ada pada sifat-sifat yang mereka tetapkan.&rdquo; </i></em><strong>[15]</strong></p><p>Pembatasan mereka pada delapan sifat saja ialah <em>qudrah, ilmu, hayat, iradah, sam&rsquo;, bashar, kalam,</em> dan <em>takwin</em> dinilai oleh para ustadz sebagai pembedaan tanpa dasar dalil dari logika maupun <em>nash</em> wahyu (<em>takhshish</em> tanpa <em>mukhashshish</em>). <strong>[16]</strong></p><h3><span id="Kelima_penyimpangan_dalam_bab_kalamullah_dan_iman"></span><strong><b>Kelima,</b></strong><strong><b> p</b></strong><strong><b>enyimpangan</b></strong><strong><b>&nbsp;</b></strong><strong><b>dalam</b></strong><strong><b> b</b></strong><strong><b>ab</b></strong><em><strong><b> k</b></strong><strong><b>alamullah</b></strong></em><strong><b>&nbsp;</b></strong><strong><b>dan</b></strong><strong><b> i</b></strong><strong><b>man</b></strong><span></span></h3><p>Dalam persoalan <em>kalamullah,</em> Maturidiyyah mengangkat konsep <em>kalam nafsi</em> dari Ibn Kullab. Syekh Ahmad al-Harbi merangkum kepercayaan mereka,</p><p><span>&#1602;&#1575;&#1604;&#1578; &#1575;&#1604;&#1605;&#1575;&#1578;&#1585;&#1610;&#1583;&#1610;&#1577; &#1601;&#1610; &#1603;&#1604;&#1575;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;: &#1571;&#1606;&#1607; &#1605;&#1593;&#1606;&#1609;&#1611; &#1608;&#1575;&#1581;&#1583;&#1548; &#1602;&#1583;&#1610;&#1605; &#1571;&#1586;&#1604;&#1610;&#1548; &#1604;&#1610;&#1587; &#1604;&#1607; &#1578;&#1593;&#1604;&#1602; &#1576;&#1605;&#1588;&#1610;&#1574;&#1578;&#1607; &#1578;&#1593;&#1575;&#1604;&#1609; &#1608;&#1602;&#1583;&#1585;&#1578;&#1607;&#1548; &#1608;&#1571;&#1606;&#1607; &#1604;&#1610;&#1587; &#1576;&#1581;&#1585;&#1601; &#1608;&#1604;&#1575; &#1589;&#1608;&#1578;&#1548; &#1608;&#1571;&#1606;&#1607; &#1603;&#1604;&#1575;&#1605; &#1606;&#1601;&#1587;&#1610;&#1548; &#1608;&#1571;&#1606;&#1607; &#1604;&#1575; &#1610;&#1587;&#1605;&#1593; &#1573;&#1606;&#1605;&#1575; &#1610;&#1587;&#1605;&#1593; &#1605;&#1575; &#1607;&#1608; &#1593;&#1576;&#1575;&#1585;&#1577; &#1593;&#1606;&#1607;</span></p><p><em>&ldquo;Maturidiyyah</em><em>&nbsp;</em><em>berpendapat</em><em>&nbsp;</em><em>tentang</em><em>&nbsp;</em><em>kalam</em><em>&nbsp;</em><em>Allah:</em><em>&nbsp;</em><em>bahwa</em><em>&nbsp;</em><em>ia</em><em>&nbsp;</em><em>adalah</em><em>&nbsp;</em><em>satu</em><em>&nbsp;</em><em>makna,</em><em>&nbsp;</em><em>qadim</em><em>&nbsp;</em><em>azali,</em><em>&nbsp;</em><em>tidak berangkaian dengan masyi&rsquo;ah (kehendak) dan qudrah-Nya, tidak berupa huruf dan tidak pula</em><em>&nbsp;</em><em>suara,</em><em>&nbsp;</em><em>ia</em><em>&nbsp;</em><em>adalah kalam nafsi, dan tidak dapat didengar. Yang didengar hanyalah &lsquo;ibarah (ungkapan) tentangnya</em>.&rdquo; <strong>[17]</strong></p><p>Manhaj salaf menetapkan&nbsp;bahwa&nbsp;Allah&nbsp;berbicara&nbsp;dengan&nbsp;huruf&nbsp;dan&nbsp;suara&nbsp;sesuai&nbsp;kehendak-Nya yang didengar oleh siapa yang dikehendaki-Nya, sebagaimana firman Allah <em>Ta&rsquo;ala,</em></p><p><span>&#1608;&#1614;&#1603;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1615; &#1605;&#1615;&#1608;&#1587;&#1614;&#1609; &#1578;&#1614;&#1603;&#1618;&#1604;&#1616;&#1610;&#1605;&#1611;&#1575;</span></p><p>&ldquo;<em>Dan</em><em>&nbsp;</em><em>Allah</em><em>&nbsp;</em><em>telah</em><em>&nbsp;</em><em>berbicara</em><em>&nbsp;</em><em>kepada</em><em>&nbsp;</em><em>Musa</em><em>&nbsp;</em><em>dengan</em><em>&nbsp;</em><em>langsung</em>.&rdquo;&nbsp;(QS.&nbsp;An-Nisa:&nbsp;164)</p><p>Adapun dalam bab iman, Maturidiyyah membatasi ketaatan pada pembenaran hati saja alias pembenaran hati disertai janji lisan tanpa adanya penambahan dan pengurangan. Syekh Ahmad al-Harbi menjelaskan,</p><p><span>&#1584;&#1607;&#1576;&#1578; &#1575;&#1604;&#1605;&#1575;&#1578;&#1585;&#1610;&#1583;&#1610;&#1577; &#1573;&#1604;&#1609; &#1571;&#1606; &#1575;&#1604;&#1573;&#1610;&#1605;&#1575;&#1606; &#1607;&#1608; &#1575;&#1604;&#1578;&#1589;&#1583;&#1610;&#1602; &#1576;&#1575;&#1604;&#1602;&#1604;&#1576; &#1601;&#1602;&#1591;&#1548; &#1608;&#1602;&#1575;&#1604; &#1576;&#1593;&#1590;&#1607;&#1605; &#1576;&#1571;&#1606;&#1607; &#1575;&#1604;&#1578;&#1589;&#1583;&#1610;&#1602; &#1576;&#1575;&#1604;&#1602;&#1604;&#1576; &#1608;&#1575;&#1604;&#1573;&#1602;&#1585;&#1575;&#1585; &#1576;&#1575;&#1604;&#1604;&#1587;&#1575;&#1606;. &#1608;&#1605;&#1606;&#1593;&#1608;&#1575; &#1586;&#1610;&#1575;&#1583;&#1578;&#1607; &#1608;&#1606;&#1602;&#1589;&#1575;&#1606;&#1607;&#1548; &#1608;&#1602;&#1575;&#1604;&#1608;&#1575; &#1576;&#1578;&#1581;&#1585;&#1610;&#1605; &#1575;&#1604;&#1575;&#1587;&#1578;&#1579;&#1606;&#1575;&#1569; &#1601;&#1610;&#1607;</span></p><p><em>&ldquo;Maturidiyyah beranggapan bahwa ketaatan adalah tashdiq dalam hati saja. Sebagian mereka mengatakan bahwa ketaatan adalah tashdiq dalam hati dan iqrar dengan lisan. Mereka menolak bertambah dan berkurangnya iman, serta mengharamkan istitsna&rsquo; dalam iman.&rdquo; </em><strong>[18]</strong></p><p>Mereka juga membolehkan ketaatan orang yang bertaklid (iman <em>muqallid</em>) meskipun dinilai berdosa jika meninggalkan tanggungjawab penalaran akal. Syekh Ahmad al-Harbi menilai asas ini,</p><p><span>&#1571;&#1606; &#1575;&#1604;&#1605;&#1575;&#1578;&#1585;&#1610;&#1583;&#1610;&#1577; &#1602;&#1575;&#1604;&#1578; &#1576;&#1589;&#1581;&#1577; &#1573;&#1610;&#1605;&#1575;&#1606; &#1575;&#1604;&#1605;&#1602;&#1604;&#1583; &#1605;&#1593; &#1575;&#1604;&#1573;&#1579;&#1605; &#1593;&#1604;&#1609; &#1578;&#1585;&#1603; &#1575;&#1604;&#1606;&#1592;&#1585; &#1608;&#1575;&#1604;&#1575;&#1587;&#1578;&#1583;&#1604;&#1575;&#1604; &#1608;&#1602;&#1608;&#1604;&#1607;&#1605; &#1607;&#1584;&#1575; &#1576;&#1575;&#1591;&#1604;&#1563; &#1604;&#1571;&#1606;&#1607; &#1576;&#1606;&#1610; &#1593;&#1604;&#1609; &#1571;&#1589;&#1604;&#1613; &#1576;&#1575;&#1591;&#1604;&#1548; &#1608;&#1607;&#1608; &#1571;&#1606; &#1575;&#1604;&#1606;&#1592;&#1585; &#1608;&#1575;&#1604;&#1575;&#1587;&#1578;&#1583;&#1604;&#1575;&#1604; &#1571;&#1589;&#1604; &#1575;&#1604;&#1583;&#1610;&#1606; &#1608;&#1575;&#1604;&#1573;&#1610;&#1605;&#1575;&#1606;</span></p><p><em>&ldquo;Sesungguhnya Maturidiyyah beranggapan sahnya ketaatan muqallid disertai dosa atas</em><em>&nbsp;</em><em>peninggalan nazhar dan istidlal. Perkataan</em><em>&nbsp;</em><em>mereka</em><em>&nbsp;</em><em>ini</em><em>&nbsp;</em><em>batil</em><em>&nbsp;</em><em>karena</em><em>&nbsp;</em><em>dibangun</em><em>&nbsp;</em><em>di</em><em>&nbsp;</em><em>atas</em><em>&nbsp;</em><em>pokok</em><em>&nbsp;</em><em>yang batil, ialah bahwa nazhar dan istidlal adalah pokok kepercayaan dan keimanan.&rdquo; </em><strong>[19]</strong></p><p>Ahlus Sunah menetapkan bahwa ketaatan adalah kepercayaan dalam hati, ucapan dengan lisan, dan ibadah dengan personil badan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan, sebagaimana firman Allah <em>Ta&rsquo;ala,</em></p><p><span>&#1604;&#1616;&#1610;&#1614;&#1586;&#1618;&#1583;&#1614;&#1575;&#1583;&#1615;&#1608;&#1575; &#1573;&#1616;&#1610;&#1605;&#1614;&#1575;&#1606;&#1611;&#1575; &#1605;&#1614;&#1593;&#1614; &#1573;&#1616;&#1610;&#1605;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;&#1607;&#1616;&#1605;&#1618;</span></p><p><em>&ldquo;Supaya</em><em>&nbsp;</em><em>keimanan</em><em>&nbsp;</em><em>mereka</em><em>&nbsp;</em><em>bertambah</em><em>&nbsp;</em><em>bersama</em><em>&nbsp;</em><em>keimanan</em><em>&nbsp;</em><em>mereka</em><em>&nbsp;</em><em>yang</em><em>&nbsp;</em><em>telah</em><em>&nbsp;</em><em>ada.&rdquo;</em><em>&nbsp;</em>(QS.&nbsp;Al-Fath: 4)</p><h2><span id="Relasi_dan_perbandingan_Maturidiyyah_dengan_Asyariyyah"></span><strong><b>Relasi</b></strong><strong><b>&nbsp;</b></strong><strong><b>dan komparasi Maturidiyyah dengan </b></strong><strong><b>Asy&rsquo;ariyyah</b></strong><span></span></h2><p>Setelah memahami di mana letak persimpangan Maturidiyyah dengan manhaj salaf, kita perlu mendudukkan posisi mereka ketika disandingkan dengan Asy&rsquo;ariyyah. Kedua aliran ini sering disebut beriringan dalam kitab-kitab kalam. Keselarasan di antara keduanya terjadi lantaran keduanya bertumbuh dari akar yang sama, ialah aliran Kullabiyyah. Syekh Ahmad al-Harbi menyimpulkan hubungan kedua madrasah tersebut dalam risalahnya,</p><p><span>&#1571;&#1606; &#1607;&#1606;&#1575;&#1603; &#1578;&#1608;&#1575;&#1601;&#1602;&#1612; &#1603;&#1576;&#1610;&#1585;&#1612; &#1576;&#1610;&#1606; &#1575;&#1604;&#1605;&#1575;&#1578;&#1585;&#1610;&#1583;&#1610;&#1577; &#1608;&#1575;&#1604;&#1571;&#1588;&#1575;&#1593;&#1585;&#1577;&#1548; &#1608;&#1587;&#1585; &#1607;&#1584;&#1575; &#1575;&#1604;&#1578;&#1608;&#1575;&#1601;&#1602; &#1571;&#1606; &#1603;&#1604;&#1578;&#1575; &#1575;&#1604;&#1601;&#1585;&#1602;&#1578;&#1610;&#1606; &#1575;&#1606;&#1576;&#1579;&#1602;&#1578;&#1575; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1603;&#1604;&#1575;&#1576;&#1610;&#1577;. &#1608;&#1605;&#1575; &#1576;&#1610;&#1606;&#1607;&#1605;&#1575; &#1605;&#1606; &#1582;&#1604;&#1575;&#1601; &#1601;&#1573;&#1606;&#1605;&#1575; &#1610;&#1602;&#1593; &#1601;&#1610; &#1605;&#1587;&#1575;&#1574;&#1604; &#1605;&#1593;&#1583;&#1608;&#1583;&#1577;</span></p><p><em>&ldquo;Terdapat kesamaan yang sangat besar antara Maturidiyyah dan Asy&rsquo;ariyyah. Rahasia kesamaan ini adalah bahwa kedua aliran ini sama-sama berasal dari Kullabiyyah. Adapun perbedaan di antara keduanya, itu hanya terjadi pada beberapa masalah yang terbatas.&rdquo; </em><strong>[20]</strong></p><p>Syekh Muhammad al-Khadhr Husain mempertegas relasi tersebut sekaligus menyifati batas perbedaannya dalam risalah beliau,</p><p><span>&#1608;&#1576;&#1610;&#1606; &#1575;&#1604;&#1605;&#1575;&#1578;&#1585;&#1610;&#1583;&#1610;&#1577; &#1608;&#1575;&#1604;&#1571;&#1588;&#1575;&#1593;&#1585;&#1577; &#1582;&#1604;&#1575;&#1601; &#1601;&#1610; &#1605;&#1587;&#1575;&#1574;&#1604; &#1605;&#1593;&#1583;&#1608;&#1583;&#1577; &#1604;&#1575; &#1578;&#1578;&#1580;&#1575;&#1608;&#1586; &#1579;&#1604;&#1575;&#1579; &#1593;&#1588;&#1585;&#1577; &#1605;&#1587;&#1571;&#1604;&#1577;&#1548; &#1605;&#1606;&#1607;&#1575;: &#1575;&#1582;&#1578;&#1604;&#1575;&#1601;&#1607;&#1605; &#1601;&#1610; &#1575;&#1604;&#1587;&#1593;&#1575;&#1583;&#1577; &#1608;&#1575;&#1604;&#1588;&#1602;&#1575;&#1608;&#1577;&#1548; &#1601;&#1607;&#1605;&#1575; &#1593;&#1606;&#1583; &#1575;&#1604;&#1571;&#1588;&#1593;&#1585;&#1610; &#1605;&#1602;&#1583;&#1585;&#1578;&#1575;&#1606; &#1601;&#1610; &#1575;&#1604;&#1571;&#1586;&#1604; &#1604;&#1575; &#1610;&#1578;&#1594;&#1610;&#1585;&#1575;&#1606; &#1608;&#1604;&#1575; &#1610;&#1578;&#1576;&#1583;&#1604;&#1575;&#1606;&#1563; &#1604;&#1571;&#1606; &#1575;&#1604;&#1587;&#1593;&#1575;&#1583;&#1577; &#1607;&#1610; &#1575;&#1604;&#1605;&#1608;&#1578; &#1593;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1573;&#1587;&#1604;&#1575;&#1605;&#1548; &#1608;&#1575;&#1604;&#1588;&#1602;&#1575;&#1608;&#1577; &#1575;&#1604;&#1605;&#1608;&#1578; &#1593;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1603;&#1601;&#1585;</span></p><p><em>&ldquo;Dan antara Maturidiyyah dan Asy&rsquo;ariyyah terdapat perbedaan pada beberapa masalah yang tidak melampaui tiga belas masalah. Di antaranya: perbedaan mereka dalam masalah sa&rsquo;adah (kebahagiaan abadi) dan syaqawah (kecelakaan abadi). Keduanya menurut al-Asy&rsquo;ari telah ditetapkan sejak azal, tidak berubah dan tidak berganti; lantaran sa&rsquo;adah adalah meninggal di atas keislaman, sedangkan syaqawah adalah meninggal di atas kekafiran.</em>&rdquo; <strong>[21]</strong></p><p>Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi dalam kajiannya atas kitab <em>Al-&lsquo;Arsy</em> menjelaskan akar pertemuan kedua madrasah tersebut,</p><p><span>&#1601;&#1575;&#1604;&#1605;&#1575;&#1578;&#1585;&#1610;&#1583;&#1610; &#1604;&#1575; &#1610;&#1576;&#1593;&#1583; &#1603;&#1579;&#1610;&#1585;&#1575;&#1611; &#1593;&#1606; &#1571;&#1576;&#1610; &#1575;&#1604;&#1581;&#1587;&#1606; &#1575;&#1604;&#1571;&#1588;&#1593;&#1585;&#1610; (&#1601;&#1610; &#1591;&#1608;&#1585;&#1607; &#1575;&#1604;&#1579;&#1575;&#1606;&#1610;) &#1601;&#1607;&#1608; &#1582;&#1589;&#1605; &#1604;&#1583;&#1608;&#1583; &#1604;&#1604;&#1605;&#1593;&#1578;&#1586;&#1604;&#1577;&#1548; &#1573;&#1604;&#1575; &#1571;&#1606;&#1607; &#1603;&#1575;&#1606; &#1605;&#1578;&#1571;&#1579;&#1585;&#1575;&#1611; &#1576;&#1575;&#1604;&#1605;&#1606;&#1607;&#1580; &#1575;&#1604;&#1603;&#1604;&#1575;&#1605;&#1610; &#1593;&#1604;&#1609; &#1591;&#1585;&#1610;&#1602;&#1577; &#1575;&#1576;&#1606; &#1603;&#1604;&#1575;&#1576; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1575;&#1593;&#1578;&#1605;&#1575;&#1583; &#1593;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1605;&#1606;&#1575;&#1607;&#1580; &#1575;&#1604;&#1603;&#1604;&#1575;&#1605;&#1610;&#1577; &#1601;&#1610; &#1578;&#1602;&#1585;&#1610;&#1585; &#1575;&#1604;&#1605;&#1587;&#1575;&#1574;&#1604; &#1575;&#1604;&#1575;&#1593;&#1578;&#1602;&#1575;&#1583;&#1610;&#1577; &#1588;&#1571;&#1606;&#1607; &#1601;&#1610; &#1584;&#1604;&#1603; &#1588;&#1571;&#1606; &#1571;&#1576;&#1610; &#1575;&#1604;&#1581;&#1587;&#1606; &#1575;&#1604;&#1571;&#1588;&#1593;&#1585;&#1610;&#1548; &#1601;&#1603;&#1604;&#1575;&#1607;&#1605;&#1575; &#1610;&#1593;&#1578;&#1576;&#1585; &#1575;&#1605;&#1578;&#1583;&#1575;&#1583;&#1575;&#1611; &#1604;&#1605;&#1583;&#1585;&#1587;&#1577; &#1575;&#1576;&#1606; &#1603;&#1604;&#1575;&#1576;</span></p><p><em>&ldquo;Maka al-Maturidi tidak jauh berbeda dari Abu al-Hasan al-Asy&rsquo;ari (pada fase keduanya). Ia adalah musuh bebuyutan Mu&rsquo;tazilah, namun dia tetap terpengaruh oleh metode kalam ala Ibnu Kullab dalam menetapkan </em><em>masalah-masalah</em><em>&nbsp;</em><em>akidah,</em><em>&nbsp;</em><em>sama</em><em>&nbsp;</em><em>halnya</em><em>&nbsp;</em><em>dengan</em><em>&nbsp;</em><em>Abu</em><em>&nbsp;</em><em>al-Hasan al-Asy&rsquo;ari. Keduanya dianggap sebagai kelanjutan dari madrasah Ibn Kullab.&rdquo; </em><strong>[22]</strong></p><p>Adapun perbedaan teknis di antara keduanya, selain masalah <em>sa&rsquo;adah</em> dan <em>syaqawah</em> yang&nbsp;telah disinggung di atas, adalah dalam bab sifat <em>takwin.</em>&nbsp;Maturidiyyah&nbsp;menetapkan&nbsp;bahwa&nbsp;Allah mempunyai sifat <em>takwin</em> (menciptakan) sebagai sifat azali yang berdiri sendiri, terpisah&nbsp;dari&nbsp;<em>qudrah</em> dan <em>iradah</em>. Syekh Ahmad al-Harbi menguraikan pandangan ini,</p><p><span>&#1578;&#1585;&#1609; &#1575;&#1604;&#1605;&#1575;&#1578;&#1585;&#1610;&#1583;&#1610;&#1577; &#1571;&#1606; &#1580;&#1605;&#1610;&#1593; &#1589;&#1601;&#1575;&#1578; &#1575;&#1604;&#1571;&#1601;&#1593;&#1575;&#1604; &#1575;&#1604;&#1605;&#1578;&#1593;&#1583;&#1610;&#1577; &#1578;&#1585;&#1580;&#1593; &#1573;&#1604;&#1609; &#1589;&#1601;&#1577;&#1613; &#1608;&#1575;&#1581;&#1583;&#1577;&#1613; &#1608;&#1607;&#1610; &#1575;&#1604;&#1578;&#1603;&#1608;&#1610;&#1606;. &#1608;&#1602;&#1575;&#1604;&#1608;&#1575; &#1573;&#1606; &#1575;&#1604;&#1578;&#1603;&#1608;&#1610;&#1606; &#1594;&#1610;&#1585; &#1575;&#1604;&#1605;&#1603;&#1608;&#1606;&#1548; &#1608;&#1571;&#1606;&#1607; &#1571;&#1586;&#1604;&#1610; &#1604;&#1575; &#1610;&#1578;&#1580;&#1583;&#1583; &#1608;&#1604;&#1575; &#1578;&#1593;&#1604;&#1602; &#1604;&#1607; &#1576;&#1575;&#1604;&#1605;&#1588;&#1610;&#1574;&#1577; &#1608;&#1575;&#1604;&#1602;&#1583;&#1585;&#1577;</span></p><p><em>&ldquo;Maturidiyyah beranggapan bahwa seluruh sifat perbuatan (fi&rsquo;liyyah) yang muta&rsquo;addi kembali kepada satu sifat, ialah takwin. Mereka mengatakan bahwa takwin berbeda dari mukawwan (yang diciptakan), dan bahwa dia berkarakter azali, tidak baru, serta tidak mengenai dengan masyi&rsquo;ah (kehendak) dan qudrah.</em>&rdquo; <strong>[23]</strong></p><p>Asy&rsquo;ariyyah menolak <em>takwin</em> sebagai sifat yang berdiri sendiri dan mengembalikannya pada akibat sifat kuasa dan kehendak. Rincian komparasi ini memperlihatkan bahwa perdebatan Maturidiyyah dan Asy&rsquo;ariyyah hanyalah berkutat pada persoalan <em>furu&rsquo;</em> dalam tradisi pengetahuan kalam. Secara fondasi asas, keduanya tetap berada pada alur yang sama dalam mendahulukan rasionalisme kalam di atas penyerahan diri kepada <em>nash</em> wahyu.</p><h2><span id="Kedudukan_Maturidiyyah_dalam_timbangan_ulama_salaf"></span><strong><b>Kedudukan</b></strong><strong><b>&nbsp;</b></strong><strong><b>Maturidiyyah</b></strong><strong><b>&nbsp;</b></strong><strong><b>dalam</b></strong><strong><b>&nbsp;</b></strong><strong><b>timbangan</b></strong><strong><b>&nbsp;</b></strong><strong><b>ulama</b></strong><strong><b> s</b></strong><strong><b>alaf</b></strong><span></span></h2><p>Setelah menelaah pokok kepercayaan dan perbandingannya, seorang penuntut pengetahuan perlu&nbsp;bersikap <em>insyaf</em> dan berimbang. Para ustadz Ahlus sunah tidak menafikan jasa ilmiah ustadz Maturidiyyah, namun tetap memberikan pemisah tegas mengenai kelurusan iktikad mereka.</p><p>Dr.&nbsp;Syamsuddin&nbsp;al-Afghani&nbsp;mendudukkan&nbsp;status&nbsp;mereka&nbsp;secara&nbsp;adil&nbsp;dengan&nbsp;perkataan,</p><p><em>&ldquo;Mereka, lantaran banyaknya kebenaran yang ada pada mereka, dianggap sebagai Ahlus sunah dalam pengertian umum, dan bukan Ahlus sunah dalam pengertian yang murni (mahdhah).</em>&rdquo; <strong>[24]</strong></p><p>Penyebutan sebagai bagian dari Ahlus sunah dalam makna umum didasarkan pada besarnya peran ustadz Maturidiyyah dalam membantah aliran-aliran zindik seperti Mu&rsquo;tazilah, Jahmiyyah, dan Rafidhah, serta kontribusi besar mereka dalam memihak hukum Islam di beragam penjuru negeri. Syekh Ahmad Al-Harbi menutup ulasannya dengan memberi nasihat mengenai etika berinteraksi dengan mereka,</p><p><span>&#1601;&#1607;&#1572;&#1604;&#1575;&#1569; &#1604;&#1605;&#1575; &#1593;&#1606;&#1583;&#1607;&#1605; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1581;&#1602; &#1610;&#1593;&#1583;&#1608;&#1606; &#1605;&#1606; &#1571;&#1607;&#1604; &#1575;&#1604;&#1587;&#1606;&#1577; &#1576;&#1575;&#1604;&#1605;&#1593;&#1606;&#1609; &#1575;&#1604;&#1593;&#1575;&#1605;&#1548; &#1608;&#1604;&#1610;&#1587;&#1608;&#1575; &#1605;&#1606; &#1571;&#1607;&#1604; &#1575;&#1604;&#1587;&#1606;&#1577; &#1575;&#1604;&#1605;&#1581;&#1590;&#1577;</span></p><p><em><i>&ldquo;Ahlus Sunnah</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>wal</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>Jama&rsquo;ah</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>bersikap</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>adil</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>terhadap</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>Maturidiyyah</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>dan</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>memberi</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>mereka</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>hak</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>yang wajar. Mereka mengakui kebenaran yang ada pada mujtahid </i>atau</em> <em><i>pencari kebenaran di antara mereka, </i>demikian juga</em> <em><i>mereka mencela orang yang zalim, ta&rsquo;ashub, dan pengikut hawa nafsu.&rdquo; </i></em><strong>[25]</strong></p><h2><span id="Penutup"></span><strong><b>Penutup</b></strong><span></span></h2><p>Memperhatikan bangunan iktikad Maturidiyyah memberikan pelajaran berbobot bahwa tujuan yang baik dalam memihak Islam kudu dipadukan dengan metodologi yang benar. Ketika Abu Manshur al-Maturidi menempuh jalur penalaran kalam ala Kullabiyyah dalam melawan Mu&rsquo;tazilah, aliran yang dibentuknya justru mewarisi beragam keruntuhan metode, mulai dari kekuasaan logika atas wahyu, penolakan <em>hujjah</em> sabda ahad, hingga pertentangan dalam penakwilan sifat Allah.</p><p>Perbedaan teknis antara Maturidiyyah dan Asy&rsquo;ariyyah dalam masalah <em>takwin, kalam nafsi,&nbsp;iman muqallid,</em> maupun <em>sa&rsquo;adah</em> dan <em>syaqawah</em> tidak merubah kebenaran bahwa kedua aliran ini berdiri di atas fondasi rasionalisme yang serupa.</p><p>Sikap terbaik bagi setiap muslim adalah meneladani keadilan ustadz salaf: mengakui kebaikan serta warisan pengetahuan para ustadz dalam bagian fikih dan tafsir, sembari menjaga kemurnian iktikad dari penyimpangan pengetahuan kalam. Sebab, jalan kebenaran dalam mengenal Allah dan sifat-sifat-Nya belumlah pernah berubah, ialah meniti petunjuk Al-Qur&rsquo;an dan As-Sunah sesuai dengan pemahaman para sahabat dan pemimpin ahlul sabda yang senantiasa menundukkan logika di bawah pengarahan wahyu.</p><p><em>Wallahu</em><em>&nbsp;</em><em>a&rsquo;lam</em><em>&nbsp;</em><em>bish-</em><em>shawab.</em></p><p><span><strong>[Selesai]</strong></span></p><p><a href="https://muslim.or.id/115685-mengenal-akidah-maturidiyyah-1.html">KEMBALI KE BAGIAN 1</a></p><p><strong><em>***</em></strong></p><p><strong>Penulis: <span>Muhammad Insan Fathin</span></strong></p><p><strong>Artikel <span>Kincai Media</span></strong></p><p><strong><b>Catatan</b></strong><strong><b> k</b></strong><strong><b>aki:</b></strong></p><p><strong>[1]</strong> Abdul Majid bin Muhammad al-Wa&rsquo;lan, <em>Al-Maaturidiyyah</em>, hal. 11.</p><p><strong>[2]</strong> Syamsuddin as-Salafi al-Afghani, <em>Al-Maaturidiyyah</em><em>&nbsp;</em><em>wa</em><em>&nbsp;</em><em>Mauqifuhum</em><em>&nbsp;</em><em>min</em><em>&nbsp;</em><em>Tauhid</em><em>&nbsp;</em><em>al-Asmaa&rsquo; wash-Shifaat</em>, 1: 537-540.</p><p><strong>[3]</strong> Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam&rsquo;ani, <em>Al-Intishar li Ahli al-Hadits</em>, hal. 182-183; dinukil dalam <em>Al-Maaturidiyyah</em> karya al-Wa&rsquo;lan, hal. 11.</p><p><strong>[4]</strong> Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam&rsquo;ani, <em>Al-Intishar</em><em>&nbsp;</em><em>li</em><em>&nbsp;</em><em>Ahli</em><em>&nbsp;</em><em>al-Hadits,</em> hal. 183.</p><p><strong>[5]</strong> Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam&rsquo;ani, <em>Al-Intisha</em>r;&nbsp;dinukil&nbsp;oleh&nbsp;Ibnul&nbsp;Qayyim&nbsp;dalam&nbsp;<em>Mukhtashar ash-Shawa&rsquo;iq al-Mursalah</em>, 2: 504-508.</p><p><strong>[6]</strong> Ibnul Qayyim, <em>Mukhtashar</em><em>&nbsp;</em><em>ash-Shawa&rsquo;iq</em><em>&nbsp;</em><em>al-Mursalah</em>, 2: 509-510.</p><p><strong>[7]</strong> Ibnul Qayyim, <em>Mukhtashar</em><em>&nbsp;</em><em>ash-Shawa&rsquo;iq</em><em>&nbsp;</em><em>al-Mursalah</em>, 3: 473-475.</p><p><strong>[8]</strong> Dinukil dalam <em>Mausu&rsquo;ah</em><em>&nbsp;</em><em>al-Firaq</em><em>&nbsp;</em><em>al-Muntasibah</em><em>&nbsp;</em><em>lil-Islam</em>, 2: 362.</p><p><strong>[9]</strong> Syekh Ahmad bin &lsquo;Audhullah bin Dakhil al-Harbi, <em>Al-Maaturidiyyah</em><em>&nbsp;</em><em>Diraasatan</em><em>&nbsp;</em><em>wa Taqwiiman, </em>hal. 199.</p><p><strong>[10]</strong> Syekh Ahmad bin &lsquo;Audhullah al-Harbi, A<em>l-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, </em>hal. 200.</p><p><strong>[11]</strong> Syamsuddin al-Afghani, <em>Al-Maaturidiyyah</em><em>&nbsp;</em><em>wa</em><em>&nbsp;</em><em>Mauqifuhum</em>, 1: 484-498; <em>Khathimah,</em> hal. 203.</p><p><strong>[12]</strong> Syamsuddin al-Afghani, <em>Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum</em>, 1: 498-508; <em>Khathimah,</em> hal. 203.</p><p><strong>[13]</strong> Syamsuddin al-Afghani, <em>Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum</em>, 2: 131; <em>Khathimah,</em> hal. 202.</p><p><strong>[14]</strong> Syamsuddin al-Afghani, A<em>l-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum</em>, 2: 127-129; <em>Khathimah,</em> hal. 202.</p><p><strong>[15]</strong> Syamsuddin al-Afghani, <em>Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum</em>, 2: 340-353; <em>Khathimah,</em> hal. 203.</p><p><strong>[16]</strong> Syekh Ahmad bin &lsquo;Audhullah al-Harbi, <em>Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman</em>, <em>Khathimah,</em> hal. 199; lihat pula Dr. Syamsuddin al-Afghani, <em>Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum,</em> 2: 426-433.</p><p><strong>[17]</strong> Syekh Ahmad bin &lsquo;Audhullah al-Harbi, <em>Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, </em>hal. 200.</p><p><strong>[18]</strong> Syekh Ahmad bin &lsquo;Audhullah al-Harbi, <em>Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman</em>, hal. 200-201.</p><p><strong>[19]</strong> Syekh Ahmad bin &lsquo;Audhullah al-Harbi, <em>Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman</em>, hal.</p><p><strong>[20]</strong> Syekh Ahmad bin &lsquo;Audhullah al-Harbi, <em>Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman</em>, hal.</p><p><strong>[21]</strong> Syekh Muhammad al-Khadhr Husain, <em>Mausu&rsquo;ah al-A&rsquo;mal al-Kamilah lil-Imam Muhammad al-Khadhr Husain</em>, 4: 184.</p><p><strong>[22]</strong> Muhammad bin Khalifah at-Tamimi, dalam <em><i>Muqaddimah</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>tahqiq</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>kitab</i></em><em><i>&nbsp;</i></em><em><i>Al-&lsquo;Arsy</i></em><em><i>&nbsp;</i></em>karya Imam Adz-Dzahabi, 1: 69-70 (atau hal. 168-170 cetakan &#1575;&#65247;&#65228;&#65248;&#65251;&#65266; &#1575;&#65247;&#65169;&#65187;&#1579; &#65227;&#65251;&#65166;&#1583;&#1577;).</p><p><strong>[23]</strong> Syekh Ahmad bin &lsquo;Audhullah al-Harbi, <em>Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiima</em>n, hal. 199.</p><p><strong>[24]</strong> Syamsuddin al-Afghani, <em>Al-Maaturidiyyah</em><em>&nbsp;</em><em>wa</em><em>&nbsp;</em><em>Mauqifuhum</em>, 1: 401-406; <em>Khathimah,</em> hal. 202.</p><p><strong>[25]</strong> Syekh Ahmad bin &lsquo;Audhullah al-Harbi, <em>Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman</em>, hal. 201.</p><p><strong>Daftar&nbsp;Pustaka</strong></p><p>Al-Afghani,&nbsp;Syamsuddin&nbsp;as-Salafi.&nbsp;<em>Al-Maaturidiyyah</em><em>&nbsp;</em><em>wa</em><em>&nbsp;</em><em>Mauqifuhum</em><em>&nbsp;</em><em>min</em><em>&nbsp;</em><em>Tauhid</em><em>&nbsp;</em><em>al-Asmaa&rsquo; wash-Shifaat. </em>Cet. ke-1. Thaif: Maktabah ash-Shiddiq, 1413 H.</p><p>Al-Harbi,&nbsp;Ahmad&nbsp;bin&nbsp;&lsquo;Audhullah&nbsp;bin&nbsp;Dakhil.&nbsp;<em>Al-Maaturidiyyah</em><em>&nbsp;</em><em>Diraasatan</em><em>&nbsp;</em><em>wa Taqwiima</em>n.&nbsp;Cet. ke-1. Riyadh: Dar al-&lsquo;Ashimah, 1413 H.</p><p>Al-Khadhr&nbsp;Husain,&nbsp;Muhammad.&nbsp;<em>Mausu&rsquo;ah al-A&rsquo;mal al-Kamilah lil-Imam Muhammad al-Khadhr Husain</em>. Cet. ke-1. Suriah: Dar an-Nawadir, 1431 H.</p><p>Al-Maturidi,&nbsp;Abu&nbsp;Manshur&nbsp;Muhammad&nbsp;bin&nbsp;Muhammad.&nbsp;Kitab&nbsp;at-Tauhid.&nbsp;Kairo:&nbsp;Dar&nbsp;al-Jami&rsquo;at al-Misriyyah, 1970 M.</p><p>As-Sam&rsquo;ani,&nbsp;Abu&nbsp;al-Muzhaffar&nbsp;Manshur&nbsp;bin&nbsp;Muhammad.&nbsp;<em>Al-Intishar</em><em>&nbsp;</em><em>li</em><em>&nbsp;</em><em>Ahli</em><em>&nbsp;</em><em>al-</em><em>Hadits.</em></p><p>&lsquo;Awaji,&nbsp;Ghalib&nbsp;bin&nbsp;&lsquo;Ali.&nbsp;<em>Firaq</em><em>&nbsp;</em><em>Mu&rsquo;ashirah</em><em>&nbsp;</em><em>Tantasib</em><em>&nbsp;</em><em>ila</em><em>&nbsp;</em><em>al-Islam</em><em>&nbsp;</em><em>wa</em><em>&nbsp;</em><em>Bayan</em><em>&nbsp;</em><em>Mauqif</em><em>&nbsp;</em><em>al-Islam</em><em>&nbsp;</em><em>Minha. </em>Cet.&nbsp;ke-4.&nbsp;Jeddah:&nbsp;al-Maktabah&nbsp;al-&lsquo;Ashriyyah&nbsp;adz-Dzahabiyyah,&nbsp;1422&nbsp;H.</p><p>Adz-Dzahabi, Syamsuddin&nbsp;Muhammad&nbsp;bin&nbsp;Ahmad.&nbsp;<em>Al-&lsquo;Arsy</em>.&nbsp;<em>Tahqiq:</em>&nbsp;Dr.&nbsp;Muhammad&nbsp;bin&nbsp;Khalifah at-Tamimi. Cet. ke-2. Madinah: &lsquo;Imadah al-Bahts al-&lsquo;Ilmi bil-Jami&rsquo;ah al-Islamiyyah, 1424 H.</p><p>Ibnul Qayyim&nbsp;al-Jauziyyah,&nbsp;Muhammad&nbsp;bin&nbsp;Abi&nbsp;Bakr.&nbsp;<em>Mukhtashar</em><em>&nbsp;</em><em>ash-Shawa&rsquo;iq</em><em>&nbsp;</em><em>al-Mursalah</em><em>&nbsp;</em><em>&lsquo;ala al-Jahmiyyah wal Mu&rsquo;aththilah. </em>Riyadh: Adwa&rsquo; as-Salaf, 1425 H.</p><p>As-Saqqaf,&nbsp;&lsquo;Alawi&nbsp;bin&nbsp;&lsquo;Abdul&nbsp;Qadir&nbsp;(peny.).&nbsp;<em>Mausu&rsquo;ah</em><em>&nbsp;</em><em>al-Firaq</em><em>&nbsp;</em><em>al-Muntasibah</em><em>&nbsp;</em><em>lil-Islam</em>.&nbsp;Situs Dorar.net.</p><p>Al-Wa&rsquo;lan,&nbsp;Abdul&nbsp;Majid&nbsp;bin&nbsp;Muhammad.&nbsp;<em>Al-Maaturidiyyah</em>.&nbsp;Maktabah&nbsp;Syamilah.</p></div>]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/mengenal-akidah-maturidiyyah-bag-2-pokok-pokok-keyakinan-maturidiyyah-dan-bantahan-ahlus-sunnah-168611.html</guid> <pubDate>Sat, 29 Aug 2026 05:00:13 +0700</pubDate> <author><![CDATA[support@kincaimedia.net (Muhammad Insan Fathin)]]></author> </item> <item> <title><![CDATA[Keutamaan Berdoa dengan Nama Allah yang Teragung]]></title> <description><![CDATA[Keutamaan Berdoa dengan Nama Allah yang Teragung. Kincai Media, Berdoa kepada Allah SWT bukan sekadar menyampaikan permohonan, tetapi juga menjadi corak penghambaan dan pengakuan atas keagungan-Ny...]]></description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/ilustrasi-orang-berdoa-dimalam_250902150134-989.jpg"/> <category><![CDATA[Islami]]></category> <link>https://portal.kincaimedia.net/keutamaan-berdoa-dengan-nama-allah-yang-teragung-168574.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div data-sticky-container> <p>Kincai Media, Berdoa kepada Allah SWT bukan sekadar menyampaikan permohonan, tetapi juga menjadi corak penghambaan dan pengakuan atas keagungan-Nya. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Ad-Da' wa ad-Dawa menjelaskan<a href="https://republika.co.id/tag/doa"> angan </a>yang di dalamnya terdapat nama Allah yang agung. Rasulullah SAW apalagi menyebut, orang yang<a href="https://republika.co.id/tag/berdoa"> bermohon </a>dengan nama-Nya tersebut bakal mendapatkan ijabah dan pemberian dari Allah SWT.</p><p>Di antara angan yang berisi nama Allah yang teragung tersebut adalah yang terdapat pada sabda yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Buraidah dari ayahnya.</p> <p> <div> <div id="news-desc"> <p>Rasulullah SAW pernah mendengar seorang laki-laki berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu, lantaran saya menyaksikan bahwa Engkau adalah Allah, Yang Maha Tunggal, tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tiada seorang pun yang setara dengan-Nya."</p><p> Mendengar angan laki-laki tersebut, Rasulullah SAW bersabda, "Ia telah memohon kepada Allah dengan nama-Nya. Jika seseorang memohon dengan memakai nama tersebut, Allah bakal memberi. Kalau dia berdoa, Allah pasti mengabulkan (memberi ijabah)."</p> <p> Kemudian Rasulullah SAW mengatakan kepada laki-laki tersebut, "Engkau telah meminta kepada Allah dengan nama-Nya yang agung."</p><p> Dalam Sunan dan Shahih karya Ibnu Hibban, Anas bin Malik meriwayatkan, dia dan Rasulullah SAW sedang duduk. Rasulullah SAW memandang seorang laki-laki shalat kemudian bermohon sebagai berikut, "Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu, bahwa segala puji hanyalah bagi-Mu, tiada Tuhan selain Engkau Yang Maha Pemurah, Pencipta langit dan bumi. Ya Allah Pemilik keagungan dan kemuliaan, ya Allah Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri."</p> </div> </div> </p> </div>]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/keutamaan-berdoa-dengan-nama-allah-yang-teragung-168574.html</guid> <pubDate>Fri, 28 Aug 2026 14:59:17 +0700</pubDate> <author><![CDATA[support@kincaimedia.net (Muhammad Hafil)]]></author> </item> <item> <title><![CDATA[Keadilan Ekonomi dalam Ikrar Khalifah Umar: Kelebihan Harta Kaum Kaya Harus Kembali ke Fakir Miskin]]></title> <description><![CDATA[Keadilan Ekonomi dalam Ikrar Khalifah Umar: Kelebihan Harta Kaum Kaya Harus Kembali ke Fakir Miskin. Kincai Media, Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu mewariskan keteladanan tentang gimana seorang pemimpin memandang kekayaan dan kemiskinan. Di pen...]]></description> <media:thumbnail url="https://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_slide/umar-bin_250109201957-721.jpg"/> <category><![CDATA[Islami]]></category> <link>https://portal.kincaimedia.net/keadilan-ekonomi-dalam-ikrar-khalifah-umar-kelebihan-harta-kaum-kaya-harus-kembali-ke-fakir-miskin-168549.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div data-sticky-container> <p>Kincai Media,&nbsp;Khalifah<a href="https://republika.co.id/tag/umar-bin-khattab"> Umar bin Khattab </a>Radhiyallahu anhu mewariskan keteladanan tentang gimana seorang pemimpin memandang kekayaan dan kemiskinan.</p><p>Di pengujung pemerintahannya, Umar berjanji bakal mengambil kelebihan kekayaan dari kaum kaya dan mengembalikannya kepada fakir miskin. Ikrar tersebut menjadi salah satu gambaran kuat tentang tekadnya menjaga keadilan sosial di tengah masyarakat.</p> <p><span>Namun takdir berbicara lain, Khalifah Umar bin Khattab wafat sebagai syahid akibat tikaman pengkhianatan, sebelum sempat menunaikan janjinya itu.</span></p><p><span>Kabar duka itu mengguncang seluruh kaum Muslimin. Di antara yang pilu menangis adalah Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu anhu. Sambil berdiri di hadapan jenazah sang khalifah, Ali berbicara lirih, &ldquo;Sesudah Rasulullah, tak ada orang yang lebih kucintai daripada engkau, wahai Abu Hafs.</span></p> <p><span>Sesungguhnya yang tidak menyukai ketegasan, keketatan, dan kezuhudan<a href="https://republika.co.id/tag/khalifah-umar"> Khalifah Umar </a>bin Khattab bukanlah rakyat, melainkan hanya sekelompok orang yang berambisi memperoleh kekayaan dengan langkah yang tidak sah. Ketika Khalifah Umar wafat, pada umumnya kaum Muslimin menangis. Di bawah pemerintahan Umar, mereka merasa terjamin keamanan dan keselamatannya. Mereka memandangnya sebagai seorang pemimpin sekaligus khalifah yang betul-betul menjunjung tinggi keadilan.</span></p><p>Dikutip dari kitab <em>Imamul Muhtadin</em> yang ditulis HMH Al-Hamid Al-Husaini, sebelum gugur sebagai korban pembunuhan, Khalifah Umar bi Khattab telah bersumpah, bahwa sekiranya dia tetap hidup hingga satu tahun lagi, dia bakal mengambil kelebihan kekayaan kaum kaya untuk dibagikan kepada kaum fakir miskin.</p> </div>]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/keadilan-ekonomi-dalam-ikrar-khalifah-umar-kelebihan-harta-kaum-kaya-harus-kembali-ke-fakir-miskin-168549.html</guid> <pubDate>Fri, 28 Aug 2026 11:27:38 +0700</pubDate> <author><![CDATA[support@kincaimedia.net (A.syalaby Ichsan)]]></author> </item> <item> <title><![CDATA[Memilih Hobi yang Bermanfaat]]></title> <description><![CDATA[Memilih Hobi yang Bermanfaat. Setiap manusia pasti mempunyai waktu luang. Di sela kesibukan belajar, bekerja, alias menjalani beragam kegiatan kehidupan, selalu ada saat-saat ketika seseoran...]]></description> <media:thumbnail url="https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2026/08/Hobi-yang-bermanfaat.webp"/> <category><![CDATA[Islami]]></category> <link>https://portal.kincaimedia.net/memilih-hobi-yang-bermanfaat-168500.html</link> <content:encoded><![CDATA[<div><p>Setiap manusia pasti mempunyai waktu luang. Di sela kesibukan belajar, bekerja, alias menjalani beragam kegiatan kehidupan, selalu ada saat-saat ketika seseorang bebas memilih apa yang mau dia lakukan. Pada waktu itulah manusia biasanya melakukan sesuatu yang dia sukai, yang sering disebut sebagai hobi.</p><p>Bagi sebagian orang, kegemaran dianggap sebagai perihal yang ringan, sekadar intermezo untuk mengisi waktu senggang. Namun bagi seorang Muslim, kegemaran bukanlah sekadar kegiatan pengisi waktu. Ia merupakan bagian dari gimana seseorang menggunakan umur yang Allah amanahkan kepadanya.</p><p>Setiap detik kehidupan manusia sangat berharga. Waktu yang telah berlalu tidak bakal pernah kembali, dan setiap detik itu bakal dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah pada hari kiamat. Rasulullah <em>shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p><p><span>&#1604;&#1575; &#1578;&#1586;&#1608;&#1604; &#1602;&#1583;&#1605;&#1575; &#1593;&#1576;&#1583; &#1610;&#1608;&#1605; &#1575;&#1604;&#1602;&#1610;&#1575;&#1605;&#1577; &#1581;&#1578;&#1609; &#1610;&#1587;&#1571;&#1604; &#1593;&#1606; [&#1571;&#1585;&#1576;&#1593;]: &#1593;&#1605;&#1585;&#1607; &#1601;&#1610;&#1605;&#1614; &#1571;&#1601;&#1606;&#1575;&#1607;&#1567; &#1608;&#1593;&#1606; &#1593;&#1604;&#1605;&#1607; &#1601;&#1610;&#1605;&#1614; &#1601;&#1593;&#1604;&#1567; &#1608;&#1593;&#1606; &#1605;&#1575;&#1604;&#1607; &#1605;&#1606; &#1571;&#1610;&#1606; &#1575;&#1603;&#1578;&#1587;&#1576;&#1607;&#1567; &#1608;&#1601;&#1610;&#1605;&#1614; &#1571;&#1606;&#1601;&#1602;&#1607;&#1567; &#1608;&#1593;&#1606; &#1580;&#1587;&#1605;&#1607; &#1601;&#1610;&#1605;&#1614; &#1571;&#1576;&#1604;&#1575;&#1607;</span></p><p>&ldquo;Kedua kaki seorang hamba tidak bakal bergeser pada hari hariakhir sampai dia ditanya tentang empat perkara: (1) tentang umurnya, untuk apa dia habiskan; (2) tentang ilmunya, gimana dia mengamalkannya; (3) tentang hartanya, dari mana dia memperolehnya dan untuk apa dia membelanjakannya; (4) serta tentang tubuhnya, untuk apa dia gunakan.&rdquo; (HR. Tirmidzi)</p><p>Hadis ini mengingatkan bahwa umur adalah amanah. Maka gimana seseorang mengisi waktu luangnya juga merupakan bagian dari amanah tersebut.</p><h2><span id="Waktu_luang_Nikmat_besar_yang_sering_terlupakan"></span><strong>Waktu luang: Nikmat besar yang sering terlupakan</strong><span></span></h2><p>Di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah kesehatan dan waktu luang. Namun ironisnya, dua nikmat ini justru sering tidak disadari oleh banyak manusia. Rasulullah <em>shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p><p><span>&#1606;&#1616;&#1593;&#1618;&#1605;&#1614;&#1578;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616; &#1605;&#1614;&#1594;&#1618;&#1576;&#1615;&#1608;&#1606;&#1612; &#1601;&#1616;&#1610;&#1607;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575; &#1603;&#1614;&#1579;&#1616;&#1610;&#1585;&#1612; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575;&#1587;&#1616;: &#1575;&#1604;&#1589;&#1617;&#1616;&#1581;&#1617;&#1614;&#1577;&#1615; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1601;&#1614;&#1585;&#1614;&#1575;&#1594;&#1615;</span></p><p>&ldquo;Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.&rdquo;&nbsp;(HR. Bukhari)</p><p>Banyak orang baru menyadari nilai waktu setelah kehilangan kesempatan. Ketika masa muda telah berlalu, ketika kesehatan mulai melemah, alias ketika kesempatan telah hilang, barulah seseorang menyesal lantaran tidak memanfaatkan waktunya dengan baik.</p><p>Allah apalagi berjanji dengan waktu dalam Al-Qur&rsquo;an,</p><p><span>&#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1614;&#1589;&#1618;&#1585;&#1616;&nbsp;&nbsp;&#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1573;&#1616;&#1606;&#1587;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614; &#1604;&#1614;&#1601;&#1616;&#1610; &#1582;&#1615;&#1587;&#1618;&#1585;&#1613;</span></p><p>&ldquo;Demi waktu. Sesungguhnya manusia betul-betul berada dalam kerugian.&rdquo; (QS. Al-&lsquo;Asr: 1&ndash;2)</p><h2><span id="Islam_tidak_melarang_hiburan"></span><strong>Islam tidak melarang hiburan</strong><span></span></h2><p>Sebagian orang beranggapan bahwa kepercayaan melarang kesenangan alias hiburan. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Islam adalah kepercayaan yang sangat&nbsp;memahami dan menjaga fitrah manusia.&nbsp;Allah menciptakan manusia dengan kebutuhan untuk beristirahat, bersantai, dan menikmati kehidupan bumi dalam pemisah yang diperbolehkan.</p><p>Allah berfirman,</p><p><span>&#1602;&#1615;&#1604;&#1618; &#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1581;&#1614;&#1585;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614; &#1586;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614;&#1577;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1616; &#1575;&#1604;&#1617;&#1614;&#1578;&#1616;&#1610; &#1571;&#1614;&#1582;&#1618;&#1585;&#1614;&#1580;&#1614; &#1604;&#1616;&#1593;&#1616;&#1576;&#1614;&#1575;&#1583;&#1616;&#1607;&#1616; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1591;&#1617;&#1614;&#1610;&#1617;&#1616;&#1576;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1585;&#1617;&#1616;&#1586;&#1618;&#1602;&#1616; &nbsp;&#1602;&#1615;&#1604;&#1618; &#1607;&#1616;&#1610;&#1614; &#1604;&#1616;&#1604;&#1617;&#1614;&#1584;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614; &#1570;&#1605;&#1614;&#1606;&#1615;&#1608;&#1575; &#1601;&#1616;&#1610; &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1610;&#1614;&#1575;&#1577;&#1616; &#1575;&#1604;&#1583;&#1617;&#1615;&#1606;&#1618;&#1610;&#1614;&#1575; &#1582;&#1614;&#1575;&#1604;&#1616;&#1589;&#1614;&#1577;&#1611; &#1610;&#1614;&#1608;&#1618;&#1605;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1616;&#1610;&#1614;&#1575;&#1605;&#1614;&#1577;&#1616; &nbsp;&#1603;&#1614;&#1584;&#1614;&#1648;&#1604;&#1616;&#1603;&#1614; &#1606;&#1615;&#1601;&#1614;&#1589;&#1617;&#1616;&#1604;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1570;&#1610;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616; &#1604;&#1616;&#1602;&#1614;&#1608;&#1618;&#1605;&#1613; &#1610;&#1614;&#1593;&#1618;&#1604;&#1614;&#1605;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;</span></p><p>&ldquo;Katakanlah (Muhammad), &lsquo;Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?&rsquo; Katakanlah, &lsquo;Semua itu untuk orang-orang yang beragama dalam kehidupan dunia, dan unik (untuk mereka saja) pada hari kiamat.&rsquo; Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk kaum yang mengetahui.&rdquo; (QS. Al-A&lsquo;raf: 32)</p><p>Ayat ini menunjukkan bahwa pada dasarnya, menikmati hal-hal yang baik adalah sesuatu yang diperbolehkan, selama tidak melanggar pemisah syariat.</p><p>Di antara sabda tentang permainan dan intermezo yang dilakukan pada masa Rasulullah <em>shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam</em> berbareng para sahabat adalah sabda tentang orang-orang Habasyah yang bermain tombak di masjid. Dari Aisyah binti Abu Bakar&nbsp;<em>radhiyallahu &lsquo;anha,</em> beliau berkata,</p><p><span>&#1585;&#1614;&#1571;&#1610;&#1578;&#1615; &#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1576;&#1610;&#1617;&#1614; &#1589;&#1604;&#1617;&#1614;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607; &#1608;&#1587;&#1604;&#1617;&#1614;&#1605; &#1610;&#1614;&#1587;&#1578;&#1615;&#1585;&#1615;&#1606;&#1610; &#1576;&#1585;&#1616;&#1583;&#1575;&#1574;&#1616;&#1607;&#1548; &#1608;&#1571;&#1606;&#1575; &#1571;&#1606;&#1592;&#1615;&#1585;&#1615; &#1573;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1581;&#1614;&#1576;&#1614;&#1588;&#1577;&#1616; &#1610;&#1614;&#1604;&#1593;&#1614;&#1576;&#1608;&#1606;&#1614; &#1601;&#1610; &#1575;&#1604;&#1605;&#1614;&#1587;&#1580;&#1616;&#1583;&#1616;&#1548; &#1581;&#1578;&#1617;&#1614;&#1609; &#1571;&#1603;&#1608;&#1606;&#1614; &#1571;&#1606;&#1575; &#1575;&#1604;&#1578;&#1610; &#1571;&#1587;&#1571;&#1605;&#1615;&#1548; &#1601;&#1575;&#1602;&#1583;&#1615;&#1585;&#1608;&#1575; &#1602;&#1583;&#1585;&#1614; &#1575;&#1604;&#1580;&#1575;&#1585;&#1610;&#1577;&#1616; &#1575;&#1604;&#1581;&#1614;&#1583;&#1610;&#1579;&#1577;&#1616; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1616;&#1606;&#1617;&#1616;&#1548; &#1575;&#1604;&#1581;&#1614;&#1585;&#1610;&#1589;&#1577;&#1616; &#1593;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1608;&#1616;</span></p><p>&ldquo;Aku memandang Nabi <em>shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam</em> menutupiku dengan selendang beliau, sementara saya memandang orang-orang Habasyah bermain di masjid. Beliau membiarkanku memandang hingga saya sendiri yang merasa bosan. Maka pahamilah keadaan seorang gadis muda yang senang terhadap hiburan.&rdquo; (HR. Bukhari dan Muslim)</p><p>Dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka bermain dengan tombak dan perisai sebagai corak latihan ketangkasan.</p><p>Ada pula sabda tentang Rasulullah <em>shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam</em> berkompetisi lari dengan Aisyah binti Abu Bakar <em>radhiyallahu &lsquo;anha,</em></p><p><span>&#1587;&#1575;&#1576;&#1602;&#1578;&#1615; &#1585;&#1587;&#1608;&#1604;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1616; &#1589;&#1604;&#1617;&#1614;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607;&#1616; &#1608;&#1587;&#1604;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614; &#1601;&#1587;&#1576;&#1602;&#1578;&#1615;&#1607;&#1615; &#1548; &#1601;&#1604;&#1605;&#1617;&#1614;&#1575; &#1581;&#1605;&#1604;&#1578;&#1615; &#1575;&#1604;&#1604;&#1581;&#1605;&#1614; &#1587;&#1575;&#1576;&#1602;&#1578;&#1615;&#1607;&#1615; &#1601;&#1587;&#1576;&#1602;&#1606;&#1610; &#1548; &#1601;&#1602;&#1575;&#1604; : &#1607;&#1584;&#1607;&#1616; &#1576;&#1578;&#1616;&#1604;&#1618;&#1603;&#1614;</span></p><p>&ldquo;Aku pernah berkompetisi lari dengan Rasulullah <em>shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam,</em> lampau saya mengalahkannya. Ketika tubuhku mulai berisi, saya berkompetisi lagi dengan beliau. Beliau pun mengalahkanku. Beliau berkata, &lsquo;Kemenangan ini sebagai jawaban kemenangan yang dahulu.&rsquo;&rdquo; (HR. Ath-Thahawi dan Abu Dawud)</p><p>Ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang hiburan, tetapi mengaturnya agar tetap berada dalam pemisah yang benar. Hiburan yang diperbolehkan dapat menjadi sarana untuk menyegarkan jiwa setelah kelelahan menjalani aktivitas. Namun, intermezo tidak boleh menjadi tujuan hidup alias membikin seseorang lalai dari kewajiban.</p><h2><span id="Hobi_yang_mendekatkan_diri_kepada_Allah"></span><strong>Hobi yang mendekatkan diri kepada Allah</strong><span></span></h2><p>Hobi yang paling baik adalah kegemaran yang membantu seseorang menjadi lebih baik dalam kepercayaan maupun dalam kehidupan. Allah <em>Azza wa Jalla</em> berfirman,</p><p><span>&#1608;&#1614;&#1575;&#1576;&#1618;&#1578;&#1614;&#1594;&#1616; &#1601;&#1616;&#1610;&#1605;&#1614;&#1575; &#1570;&#1578;&#1614;&#1575;&#1603;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1615; &#1575;&#1604;&#1583;&#1617;&#1614;&#1575;&#1585;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1570;&#1582;&#1616;&#1585;&#1614;&#1577;&#1614; &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1575; &#1578;&#1614;&#1606;&#1587;&#1614; &#1606;&#1614;&#1589;&#1616;&#1610;&#1576;&#1614;&#1603;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1583;&#1617;&#1615;&#1606;&#1618;&#1610;&#1614;&#1575;</span></p><p>&ldquo;Carilah dengan apa yang Allah berikan kepadamu negeri akhirat, dan janganlah engkau melupakan bagianmu di dunia.&rdquo;&nbsp;(QS. Al-Qashash: 77)</p><p>Ayat ini mengajarkan keseimbangan. Seorang Muslim tidak meninggalkan bumi sepenuhnya, tetapi juga tidak menjadikan bumi sebagai tujuan utama.</p><p>Beberapa contoh kegemaran yang berfaedah antara lain:</p><p>&ndash; Membaca kitab dan menuntut ilmu;</p><p>&ndash; Menghafal Al-Qur&rsquo;an;</p><p>&ndash; Menulis dan berdakwah;</p><p>&ndash; Berolahraga untuk menjaga kesehatan;</p><p>&ndash; Berkebun alias memelihara tanaman;</p><p>&ndash; Belajar keahlian baru yang bermanfaat.</p><p>Aktivitas seperti ini bukan hanya mengisi waktu, tetapi juga memberi nilai positif bagi kehidupan seseorang.</p><h2><span id="Mengubah_hobi_menjadi_ibadah"></span><strong>Mengubah kegemaran menjadi ibadah</strong><span></span></h2><p>Salah satu keelokan aliran Islam adalah bahwa perkara yang mubah bisa berubah menjadi ibadah jika disertai niat yang benar. Rasulullah <em>shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p><p><span>&#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1575;&#1604;&#1571;&#1614;&#1593;&#1618;&#1605;&#1614;&#1575;&#1604;&#1615; &#1576;&#1616;&#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1616;&#1610;&#1617;&#1614;&#1575;&#1578;&#1616;</span></p><p>&ldquo;Sesungguhnya kebaikan itu tergantung pada niatnya.&rdquo;&nbsp;(HR. Bukhari dan Muslim)</p><p>Misalnya:</p><p>&ndash; Olahraga diniatkan untuk menjaga kesehatan agar kuat beribadah;</p><p>&ndash; Menulis diniatkan untuk menyebarkan ilmu;</p><p>&ndash; Berkebun diniatkan untuk memberi faedah bagi keluarga.</p><p>Dengan niat yang benar, kegiatan yang tampaknya sederhana bisa menjadi kebaikan yang berbobot pahala.</p><h2><span id="Hobi_yang_menguatkan_fisik_dan_mental"></span><strong>Hobi yang menguatkan bentuk dan mental</strong><span></span></h2><p>Islam juga mendorong umatnya untuk mempunyai bentuk yang kuat. Rasulullah <em>shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p><p><span>&#1575;&#1604;&#1605;&#1572;&#1605;&#1606;&#1615; &#1575;&#1604;&#1602;&#1608;&#1610;&#1617;&#1615; &#1582;&#1610;&#1585;&#1612; &#1608;&#1571;&#1581;&#1576;&#1617;&#1615; &#1573;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1616; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1605;&#1572;&#1605;&#1606;&#1616; &#1575;&#1604;&#1590;&#1593;&#1610;&#1601;&#1616; &#1608;&#1601;&#1610; &#1603;&#1604;&#1613; &#1582;&#1610;&#1585;&#1612;</span></p><p>&ldquo;Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing ada kebaikan.&rdquo; (HR. Muslim)</p><p>Dalam beberapa riwayat, disebutkan rekomendasi untuk mempelajari keahlian seperti:</p><p>&ndash; Memanah;</p><p>&ndash; Berkuda;</p><p>&ndash; Berenang.</p><p>Aktivitas seperti ini tidak hanya melatih kekuatan fisik, tetapi juga melatih disiplin, kesabaran, dan keberanian.</p><h2><span id="Bahaya_hobi_yang_tidak_terarah"></span><strong>Bahaya kegemaran yang tidak terarah</strong><span></span></h2><p>Sebaliknya, tidak semua kegemaran membawa kebaikan. Sebagian kegemaran justru dapat menghabiskan waktu tanpa manfaat. Allah berfirman,</p><p><span>&#1571;&#1614;&#1601;&#1614;&#1581;&#1614;&#1587;&#1616;&#1576;&#1618;&#1578;&#1615;&#1605;&#1618; &#1571;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1582;&#1614;&#1604;&#1614;&#1602;&#1618;&#1606;&#1614;&#1575;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618; &#1593;&#1614;&#1576;&#1614;&#1579;&#1611;&#1575;</span></p><p>&ldquo;Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian secara sia-sia?&rdquo;&nbsp;(QS. Al-Mu&rsquo;minun: 115)</p><p>Hobi yang tidak terarah dapat menyebabkan beragam akibat negatif, seperti:</p><p>&ndash; Lalai dari ibadah;</p><p>&ndash; Menghabiskan waktu berlebihan;</p><p>&ndash; Menimbulkan kecanduan hiburan;</p><p>&ndash; Mengurangi produktivitas;</p><p>&ndash; Melemahkan semangat menuntut ilmu.</p><p>Padahal, setiap detik waktu adalah bagian dari umur yang tidak bakal kembali.</p><p>Pada akhirnya, kegemaran bukan sekadar kegiatan pengisi waktu luang, tetapi bagian dari gimana seseorang menjalani hidupnya. Seorang Muslim hendaknya memahami bahwa waktu adalah nikmat sekaligus amanah yang bakal dipertanggungjawabkan di hadapan Allah <em>Subhanahu wa Ta&rsquo;ala.</em> Oleh lantaran itu, memilih kegemaran yang berfaedah merupakan corak kepintaran dalam memanfaatkan umur.</p><p>Islam tidak melarang intermezo dan kesenangan, selama tetap berada dalam pemisah yang legal dan tidak melalaikan dari kewajiban. Bahkan, kegemaran dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah andaikan dilakukan dengan niat yang baik dan memberi faedah bagi diri sendiri maupun orang lain.</p><p>Maka hendaknya seorang Muslim memilih kegiatan yang dapat menambah ilmu, menjaga kesehatan, menguatkan mental, serta memperbaiki adab dan produktivitas. Jangan sampai waktu lenyap hanya untuk perihal yang sia-sia, sementara umur terus berkurang setiap harinya.</p><p>Semoga Allah menjadikan waktu-waktu kita penuh keberkahan, memberikan taufik untuk memanfaatkan usia dalam kebaikan, dan menjadikan setiap kegiatan yang kita lakukan berbobot ibadah di sisi-Nya. <em>Aamiin.</em></p><p><em>Wallahu Ta&rsquo;ala a&rsquo;lam.</em></p><p><strong>***</strong></p><p><strong>Penulis: <span>Gazzeta Raka Putra Setyawan</span></strong></p><p><strong>Artikel <span>Kincai Media</span></strong></p></div>]]></content:encoded> <guid isPermaLink="true">https://portal.kincaimedia.net/memilih-hobi-yang-bermanfaat-168500.html</guid> <pubDate>Fri, 28 Aug 2026 05:00:08 +0700</pubDate> <author><![CDATA[support@kincaimedia.net (Gazzeta Raka Putra Setyawan)]]></author> </item> </channel> </rss>