Saat Eropa Berebut Timur: Napoleon Manfaatkan Pembenci Islam Untuk Invasi Mesir

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA,JAKARTA -- Paruh kedua abad ke-18 menyaksikan likuidasi hegemoni Eropa atas Amerika, Utara dan Selatan, nan menunjukkan perubahan besar dalam geopolitik dunia nan nyaris stabil sejak abad ke-16.

Pada saat itu, Dunia Lama (Asia dan Afrika) tertutup dan jauh dari pengaruh kuat Revolusi Industri. Kemudian negara-negara Eropa memutuskan untuk memberikan perhatian lebih terhadap bumi tersebut. Tujuannya untuk mengeksploitasi dan mengendalikannya, serta menyalurkan kelebihan peralatan nan diproduksi melalui pasar komersialnya.

Sebelum militer Eropa berangkat ke negara tersebut, nan sedang mengalami saat-saat paling damai, pelayaran penjelajahan Eropa nan tak terhitung jumlahnya dimulai. Sejalan dengan perjalanan tersebut, pengetahuan sistematis Eropa tentang Timur mulai meningkat.

Hal itu selaras dengan berkembangnya karya sastra nan ditulis oleh para penyair dan novelis Eropa nan jatuh cinta pada Timur, tanpa pernah menginjakkan kaki di dalamnya. Hingga akhirnya, pengetahuan tentang Timur berkembang pada akhir abad ke-18. Ini berkontribusi secara langsung maupun tidak langsung, dalam membuka jalan berlangsungnya kolonialisme.

Misalnya, hanya lima tahun sebelum invasi Perancis ke Mesir, dekrit revolusioner Perancis menyetujui pendirian sekolah umum di Perpustakaan Nasional untuk mengajarkan beragam bahasa di wilayah-wilayah Timur Tengah. Di antaranya bahasa Arab, Turki, dan Persia. Dengan tujuan meletakkan dasar-dasar pengetahuan tentang Islam dan dunianya.

Pemikir dan kritikus Edward Said menjelaskan perincian ini dengan sangat teliti dalam bukunya Orientalism: Western Concepts of the East. Dalam kitab ini, dia mengungkap apa nan disembunyikan Barat, dengan menggunakan kedok budaya dan studi ilmiah. Ini sejatinya hanyalah posisi politik untuk mencapai tujuan mereka dan mencapai ambisi materialistis kolonial murni berasas keserakahan.

Sementara itu, Napoleon Bonaparte memanfaatkan temuan Count Guy Volney. Dia adalah seorang penjelajah Prancis yang sangat memusuhi Islam, sampai-sampai dia percaya bahwa ambisi Prancis pada akhirnya bisa terwujud di Timur.

Dalam bukunya, A Journey in Egypt and Syria, nan diterbitkan dalam dua volume pada tahun 1787, Volney memberikan info berharga. Info ini kemudian dimanfaatkan oleh Napoleon. Informasi ini berisi sejumlah halangan nan bakal dihadapi setiap kampanye Prancis di negeri asing tersebut. Hambatan tersebut adalah Inggris, Sublime Porte, dan umat Islam sendiri.

Karena itu, Napoleon sangat mau menyembunyikan kampanyenya melawan Mesir dan merahasiakannya, untuk mengantisipasi serangan armada Inggris. Begitu dia menginjakkan kaki di Alexandria, dia mengirim duta besar ke Sublime Porte untuk menghindari permusuhan Ottoman.

Satu hari setelah menetap di Kairo, dia merampas senjata pribadi dari umat Islam. Perlu diketahui, saat itu melepaskan senjata pribadi dipandang sebagai menghilangkan kejantanan seseorang.

Napoleon juga menghancurkan gerbang-gerbang lingkungan setempat, sesuai dengan saran Volney. Ini menunjukkan bahwa umat Islam adalah musuh alami dari setiap kampanye Prancis.

Dari rahim kampanye Prancis inilah, lahir pengalaman Barat modern di Timur, nan meluncurkan periode kemajuan luar biasa dalam lembaga orientalisme, nan bertepatan dengan periode emas ekspansi Eropa antara tahun 1815 dan 1914.

Ketika cakupan kendali langsung kolonial Eropa diperluas dari 35 persen menjadi 85 persen dalam satu abad, sebagian besar wilayah di Timur berada di tangan Inggris dan Prancis.

Meskipun terdapat persaingan di banyak bidang, kedua negara, baik Prancis dan Inggris, berbagi bumi Islam, nan sebagian besar berada di bawah kendali mereka. Baik nan berangkaian dengan kehadiran militer, otoritas intelektual atas Timur (yaitu Orientalisme), alias sistem pendapat nan menjelaskan perilaku orang-orang Timur dan menganggap mereka mempunyai mentalitas dan atmosfer khusus.

Ada perihal lain nan paling penting, ialah langkah nan diambil Prancis dan Inggris telah membentuk sebuah perbedaan mendasar antara superioritas Barat dan inferioritas Timur.

Dalam konteks ini, orientalisme Perancis-Inggris berbeda secara kuantitatif dan kualitatif, dalam perihal studi Eropa mengenai Timur. Kedua negara mencapai posisi krusial dalam studi orientalis, berkah dua jaringan kolonial terbesar pada abad ke-19. Keduanya mencapai kemajuan besar dalam orientalisme, jauh lebih besar dibandingkan kontribusi Spanyol, Portugal, Jerman, Italia, dan Rusia.

Adapun orientalisme Jerman tidak mengenai dengan aktivitas kolonial mana pun, lantaran berkurangnya kehadiran Jerman di Timur. Jerman terisolasi dan tidak mendapat untung kolonial. Sehingga, orientalisme Jerman mempertahankan karakter ilmiahnya dan mengembangkan teknik penelitian ilmiah serta menerapkannya pada teks-teks Timur.

Aliran Orientalisme Jerman juga dibedakan oleh fokusnya pada warisan Arab-Islam. Orientalisme Jerman berbeda dengan aliran Perancis dan Inggris. Sebagian besar upaya orientalisme Jerman terfokus pada realitas Arab-Islam, nan sangat berfaedah bagi penguasa kolonial, nan mau memahami sifat pembentukan kepribadian mereka nan mau menduduki tanah mereka dan realitas sosial mereka.

Meski demikian, Orientalisme Jerman sama dengan rekan-rekannya di Perancis dan Inggris dalam menikmati otoritas intelektual atas Timur. Ini adalah karakter nan menjadi karakter upaya Barat untuk mempelajari Timur dan membikin penilaian mengenainya.

Orientalisme membikin peneliti mendeskripsikan Timur, berbincang atas nama Timur, dan menjelaskan rahasianya kepada rekan-rekannya, penduduk negara dan pemerintah. Kemudian menghubungkan penelitiannya dengan karya-karya Orientalis lainnya dan kepada banyak pembaca nan mau mengetahuinya lebih banyak.

Sumber:

https://arabicpost.shorthandstories.com/Dangerous-orientalists/index.html

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam