Sang Pemenang Ramadan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Bismillah.

Bulan Ramadan merupakan sarana untuk menempa semangat juang kaum beriman. Sebab, pada hakikatnya hidup ini penuh dengan perjuangan dan ujian. Allah berfirman,

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia itu mengira mereka ditinggalkan begitu saja mengatakan, ‘Kami telah beriman.’, lantas mereka tidak diberi ujian?” (QS. Al-’Ankabut: 2)

Waktu secara umum adalah wahana pemberian ujian dan ujian bagi segenap insan. Allah berfirman,

وَٱلْعَصْرِ ١ إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَفِى خُسْرٍ ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ ٣

“Demi masa, sesungguhnya manusia betul-betul berada dalam kerugian, selain orang-orang nan beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr: 1-3)

Jam demi jam, hari demi hari, bulan demi bulan adalah rangkaian bagian ujian dan ujian keimanan. Apakah seorang dapat menjadi penakluk hawa nafsu dan pengejar akhirat, ataukah dia justru terlempar ke barisan pemuja bumi dan budak fatamorgana?!

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu berkata, “Jadilah kalian anak-anak akhirat, dan janganlah kalian menjadi anak- anak dunia!” Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya Anda adalah kumpulan perjalanan hari. Setiap hari berlalu, maka lenyaplah bagian dari dirimu.” Demikianlah keadaan manusia. Ada di antara mereka nan berasosiasi dengan pejuang ketaatan dan pembela hidayah, tetapi tidak sedikit di antara mereka nan larut berbareng gempuran tuduhan dan hanyut berbareng arus kehinaan dan kerusakan. Wal ‘iyadzu billah.

Saudaraku nan dirahmati Allah, bulan Ramadan ini menjadi lahan produktif untuk menyemai kebaikan saleh dan memperkuat pondasi ketakwaan. Amal nan murni untuk Allah dan mengikuti pedoman dari rasul terakhir nan diutus di muka bumi. Allah berfirman,

فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًۭا صَـٰلِحًۭا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا 

“Maka, barangsiapa nan mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan kebaikan saleh dan janganlah dia mempersekutukan dalam beragama kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من صَام رمضان إيِمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِر له ما تَقدَّم من ذَنْبِه

“Barangsiapa nan berpuasa Ramadan dalam keadaan beragama dan mengharap pahala, niscaya bakal diampuni dosa-dosanya nan telah berlalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal ini menjadi penanda bagi kita bahwa memanfaatkan bulan Ramadan untuk memperbarui ketaatan dan membersihkan jiwa adalah bagian dari perintah agama. Sebab, manusia penuh dengan kesalahan dan dosa. Ia senantiasa butuh pembersihan dan pemurnian. Sebagaimana halnya ibadah salat lima waktu dalam sehari semalam nan digambarkan seperti mandi 5 kali dalam sehari oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Iman bisa bertambah dan berkurang. Bertambah dan menguat dengan adanya kebaikan saleh dan ketaatan, dan dia melemah serta berkurang akibat dari kelalaian dan maksiat. Di sinilah peran Ramadan menggenjot kebaikan saleh dan memperkuat akar-akar ketaatan. Sebab, di dalam Islam, kebaikan bukan dibangun di atas pemikiran dan perasaan. Akan tetapi, dia berkembang dari pancaran wahyu dan petunjuk Nabi. Allah berfirman,

وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ ٣ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌۭ يُوحَىٰ ٤

“Dan tidaklah dia (Muhammad) itu berbincang dari hawa nafsunya. Tidaklah itu melainkan wahyu nan diwahyukan kepadanya.” (QS. An-Najm: 3-4)

Baca juga: Ramadan Mengajarkanku Keistikamahan

Seperti itulah norma dan prinsip nan selalu ditanamkan oleh para ustadz salaf kepada kita, bahwa kebaikan kudu dibangun dengan petunjuk wahyu. Ia tunduk kepada pengarahan Allah dan pengarahan Nabi. Allah berfirman,

مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ ٱللَّهَ

“Barangsiapa nan alim kepada Rasul, sesungguhnya dia telah alim kepada Allah.” (QS. An-Nisa’: 80)

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Barangsiapa menolak sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia berada di tepi lembah kebinasaan.”

Ibadah puasa Ramadan, qiyam Ramadan, sahur, buka puasa, iktikaf, zakat, dan lain sebagainya adalah corak ibadah-ibadah nan semuanya dibangun di atas pondasi wahyu dan petunjuk Allah. Bukan hasil rekayasa pemikiran manusia. Bukan produk budaya alias kompilasi tradisi bangsa dan suku tertentu di alam dunia. Ia merupakan hukum dari Rabb, Penguasa alam semesta. Inilah pilar tegaknya penghambaan kepada Allah, ialah sikap pasrah dan tunduk kepada Allah.

Para ustadz menjelaskan bahwa Islam adalah kepasrahan kepada Allah dengan bertauhid, tunduk kepada-Nya dengan penuh ketaatan, dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya. Keislaman inilah nan diajarkan para nabi dan rasul kepada umat di sepanjang masa. Allah berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍۢ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَ 

“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul nan menyeru, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36)

Islam tegak di atas tauhid. Karena ibadah kepada Allah tidak diterima tanpanya. Allah berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَـٰسِرِينَ

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, ‘Jika Anda melakukan syirik, pasti lenyap semua amalmu dan betul-betul Anda bakal termasuk golongan orang-orang nan merugi.’” (QS. Az-Zumar: 65)

Ibadah puasa Ramadan bukanlah ibadah nan berdiri sendiri. Akan tetapi, dia tegak di atas nilai-nilai ketaatan dan pondasi akidah. Oleh karena itu, di dalam surah Al-Kahfi ayat 110 di atas, telah disebutkan bahwa kebaikan saleh nan dilakukan itu kudu bebas dari kesyirikan. Begitu pula, ditegaskan dalam surah Az-Zumar ayat 65 bahwa syirik bakal menghancurkan amal-amal kebaikan. Inilah konsep ibadah dan ketaatan di dalam kepercayaan Islam. Ibadah nan dibangun di atas pemurnian kebaikan kepada Allah dan berlepas dari dari syirik. Allah berfirman,

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ

“Dan tidaklah mereka diperintahkan, melainkan agar beragama kepada Allah dengan memurnikan agama/amal untuk-Nya dalam keadaan hanif/bertauhid dan ikhlas….” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ibadah puasa dalam konsep Islam tidak terlepas dari pembinaan adab dan penjagaan hati. Karena itulah, disebutkan dalam sabda bahwa Allah tidak ‘membutuhkan’ ibadah puasa dari orang nan tidak meninggalkan ucapan bohong dan tindakan bodoh. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengatakan bahwa sungguh banyak orang nan berpuasa, tetapi tidak meraih apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga. Ini artinya ibadah puasa hanya bakal membuahkan derajat nan mulia jika dipelihara dari segala perusak dan kotoran nan menodainya.

Ketika seorang muslim menundukkan akalnya untuk menahan haus dan lapar sejak terbit fajar hingga terbenamnya mentari di ufuk barat, maka ini adalah pelajaran tentang kecintaan dan perendahan diri. Bagaimana seorang muslim lebih mendahulukan perintah Rabbnya daripada kemauan hawa nafsu dan logika pikirannya. Bagaimana seorang hamba meninggalkan sesuatu nan disukai oleh hawa nafsu demi mendapatkan keridaan dan kecintaan Allah.

Orang nan lulus dari madrasah Ramadan ini bukanlah mereka nan berhari raya dengan baju baru, menyalakan petasan, alias menggelar pentas musik sembari melalaikan salat berjemaah di masjid. Mereka nan sukses menjadi juara dari madrasah Ramadan ini adalah orang-orang beragama nan tunduk kepada pengarahan Allah. Allah berfirman,

فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَاىَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

“Maka, barangsiapa nan mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak bakal tersesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123)

Mereka nan tampil sebagai pemenang adalah nan menyerap takwa ke dalam sanubari dan membuahkan kebaikan saleh di dalam kehidupannya. Allah berfirman,

١٨٢ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang nan beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Bukanlah ketaatan itu dengan berambisi alias sekadar memperindah penampilan. Akan tetapi, ketaatan adalah apa-apa nan berdomisili di dalam hati dan dibuktikan dengan amal-amal perbuatan.”

Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Takwa adalah Anda melakukan ketaatan kepada Allah di atas sinar dari Allah seraya mengharapkan pahala dari Allah, dan Anda meninggalkan maksiat kepada Allah di atas sinar dari Allah lantaran takut bakal balasan Allah.”

Demikian sedikit catatan dan perenungan, semoga berfaedah bagi kami dan segenap pembaca. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa‘ala alihi wasallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Baca juga: Untukmu Wahai Pencari Kebaikan, Inilah Saatnya di Bulan Ramadan

***

Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.

Artikel: Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah