Sayyidina Umar Membaiat Muslimah Di Zaman Nabi Dengan Berjabat Tangan?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia– Kisah Sayyidina Umar bin Khattab bersalaman membaiat Muslimah nan hendak masuk Islam itu terekam dalam kitab Tarikh al-Rusul wal Muluk atau Tarikh al-Thabari.

Dalam al-Thabaqat al-Kubra, Ibn Sa’d meriwayatkan demikian:

وَبَايَعَهُنَّ فَقَالَتْ هِنْدٌ مِنْ بَيْنِهُنَّ: يَا رَسُولَ اللَّهِ نُمَاسِحُكَ؟ فَقَالَ: إِنِّي لا أُصَافِحُ النِّسَاءَ.

Rasulullah membaiat para wanita nan hendak masuk Islam. Di antara wanita itu ada Hindun (binti ‘Utbah) nan bertanya, “Boleh enggak kami salaman dengan Anda, Rasul?” “Saya enggak salaman dengan perempuan,” jawab Rasulullah.

Rasulullah melanjutkan perkataanya agar tidak membikin Hindun tersinggung:

إِنَّ قَوْلِي لِمِائَةِ امْرَأَةٍ مِثْلُ قُولِي لامْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ

“Jawaban saya kepada seratus wanita lain juga sama seperti jawaban saya kepada Anda.” Artinya, Rasulullah memang tidak bersalaman dengan perempuan.
Perkataan ini menurut sebagian ustadz unik untuk beliau saja. Hal ini lantaran dalam Tarikh al-Thabari, sahabat Umar bin Khattab nan menjadi wakil Rasulullah untuk bersalaman dengan wanita nan hendak masuk Islam pada waktu itu.

Dalam riwayat al-Thabari disebutkan demikian:

فَبَايَعَهُنَّ عمر وكان رسول الله ص لا يُصَافِحُ النِّسَاءَ، وَلا يَمَسُّ امْرَأَةً وَلا تَمَسُّهُ إِلا امْرَأَةٌ أَحَلَّهَا اللَّهُ لَهُ، أَوْ ذَاتُ مَحْرَمٍ مِنْهُ.

Umar membaiat para perempuan. Sementara Rasulullah saw. itu tidak bersalaman dengan perempuan. Rasulullah tidak menyentuh wanita selain nan Allah halalkan padanya alias wanita nan tetap mempunyai status mahram dengannya.

Kisah ini menjadi dalil bagi para ustadz nan membolehkan laki-laki Muslim bersalaman dengan perempuan, alias wanita muslimah bersalaman dengan pria, khususnya nan berbeda umur. Misal, laki-laki pria tetap muda kemudian wanita muslimahnya sudah berumur (sudah agak tua), ataupun sebaliknya.

Dalam bahasa fikih, jika musuh jenis berbeda usia terlampau jauh, diperkirakan pada umumnya tidak bakal terjadi kesukaan terhadap musuh jenis (amn min al-fitnah). Fatwa al-Azhar Darul Ifta al-Mishriyyah di antaranya mengutip argumen ini sebagai dalil.

Kapan peristiwa baiat itu terjadi? Peristiwa itu terjadi pada tahun 8 hijriah (630 M). Saat itu usia Sayyidina Umar sekitar 44 tahun, dan Hindun (binti ‘Utbah) sekitar 46 tahun. Usia keduanya tidak terpaut jauh, Hindun lebih tua 2 tahunan dari Umar.

Fyi, Hindun binti ‘Utbah ini wanita nan meminta kepada Wahsyi untuk mengalahkan om Nabi, Hamzah, pas perang Uhud. Saat itu om Nabi gugur di medan perang. Hindun ini juga ibu dari sahabat Nabi Mu’awiyah. Ia masuk Islam pas 8 Hijriah bertepatan dengan pembebasan Mekah (Fathu Makkah).

Demikian penjelasan mengenai Umar bin Khattab bersalaman membaiat Muslimah. Semoga bermanfaat. [Baca juga: Berjabat Tangan dengan Istri Paman, Apakah Wudhu Batal?]

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah