Sebab Keselamatan Dari Fitnah Syahwat

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

“Tujuh golongan nan dinaungi Allah dalam naungan-Nya, pada hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya.” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan salah satunya, yaitu,

وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ

“ … seorang laki-laki nan diajak bercabul oleh seorang wanita nan mempunyai kedudukan lagi cantik, lampau dia berkata, ‘Sesungguhnya saya takut kepada Allah’ .. “ (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)

Diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اضْمَنُوا لِي سِنًّا مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَضْمَنْ لَكُمُ الْجَنَّةَ: اصْدُقُوا إِذَا حَدَّثْتُمْ، وَأَوْنُوا إِذَا وَعَدْتُمْ، وَأَدُّوا إِذَا اؤْتُمِثْتُمْ، وَاحْفَظُوا فُرُوجَكُمْ، وَغُضُّوا أَبْصَارَكُمْ، وَكُفُّوا أَيْدِيَكُمْ

“Jaminkanlah enam perkara untukku, maka saya bakal menjaminkan surga untuk kalian: 1) Jujurlah jika berbicara; 2) penuhilah janji-janji kalian; 3) tunaikanlah amanah jika kalian mendapatkan amanah; 4) jagalah kemaluan kalian; 5) tundukkanlah pandangan; dan 6) tahanlah tangan-tangan kalian.” (HR. Ahmad no. 22757. Al-Albani berkata, “Hadis shahih lighairihi” dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 1901)

Hadis ini berisi tentang salah satu corak kesabaran nan paling berat, ialah kesabaran menahan diri dari terjatuh dalam perbuatan biadab nan banget menggiurkan untuk dilakukan, ialah berzina. Allah Ta’ala telah menyebut sebuah kisah nan banget bagus untuk diteladani dan diambil pelajaran, ialah kisah tentang kesabaran Nabi Yusuf ‘alaihi as-salam ketika menghadapi bujukan dan rayuan istri Al-‘Aziz.

Nabi Yusuf bersabar atas bujukan dan rayuan tersebut. Istri Al-‘Aziz menggoda Nabi Yusuf lantaran rasa cinta nan sangat dalam lantaran ketampanan Nabi Yusuf. Hal tersebut kemudian mendorong istri Al-‘Aziz mempercantik dan merias diri untuk menggoda Nabi Yusuf, menutup pintu, dan memanggil Nabi Yusuf. Nabi Yusuf kemudian memohon perlindungan dan keteguhan kepada Allah. Akhirnya, Allah pun menyelamatkan, melindungi, dan, menjaga beliau. Sebagaimana nan Allah ceritakan dalam surah Yusuf ayat 23-35, dan sangat bagus untuk disimak.

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa faktor-faktor pendorong nan mengarah ke zina berada pada puncaknya, namalain tidak terdapat lagi penghalang. Beliau sampai menyebut tiga belas aspek pendorong (Lihat Ad-Daa’ wa Ad–Dawa’, hlm. 208)

Di antaranya adalah bahwa Yusuf tetap muda dan bujangan, tidak mempunyai istri alias budak untuk meredam nafsu syahwatnya. Istri Al-‘Aziz mempunyai kedudukan terhormat sekaligus elok jelita. Dan istri Al-‘Aziz-lah nan meminta, berhasrat, menggoda, dan berupaya sehingga Yusuf tidak perlu lagi meminta dan merendahkan diri. Pihak wanitalah nan berada pada kerendahan. Sedangkan beliau berada pada posisi nan tinggi dan menjadi pihak nan diinginkan.

Meskipun faktor-faktor pendorong zina tadi sangat banyak, Yusuf tetap mengutamakan rida dan takut kepada Allah. Kecintaan kepada Allah membuatnya memilih penjara dibandingkan kudu berzina. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ

“Yusuf berkata, “Wahai Rabbku, penjara lebih saya sukai daripada memenuhi rayuan mereka kepadaku …” (QS. Yusuf: 33)

Fitnah wanita adalah tuduhan terberat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyampaikan bakal perihal ini,

اتقوا الدنيا، واتقوا النساء؛ فإن أول فتنة بني إسرائيل كانت في النساء

“Berhati-hatilah kalian terhadap tuduhan bumi dan tuduhan wanita, sungguh tuduhan pertama nan menimpa bani Israil adalah tuduhan wanita.” (HR. Muslim no. 2742)

Setiap orang, terlebih lagi para pemuda, sangat butuh untuk memahami pembahasan ini. Sehingga perihal tersebut dapat membantunya terhindar dari tuduhan syahwat dan tidak jatuh ke dalamnya. Apalagi kita saksikan di era ini, ketika kita jumpai semakin banyak dan beragamnya aspek pendorong nan memudahkan seseorang untuk terjatuh dalam tuduhan jenis ini.

Baca juga: Mengembangkan Dakwah di Zaman Fitnah

Dengan merenungkan kisah Nabi Yusuf tersebut, kita dapati bahwa karena nan membantu seseorang untuk bisa selamat dari ujian alias tuduhan syahwat ada tujuh sebab, yaitu:

Pertama, memohon perlindungan kepada Allah. Siapa saja nan memohon perlindungan kepada Allah, niscaya Allah bakal melindunginya. Siapa saja nan bertawakal kepada Allah, maka Allah bakal memenuhi urusannya. Nabi Yusufbersegera meminta perlindungan kepada Allah, ketika rayuan itu mendekatinya. Nabi Yusuf berkata,

مَعَاذَ اللّهِ

“Aku berlindung kepada Allah.” (QS. Yusuf: 23)

Kedua, seseorang kudu menyadari bahwa perbuatan ini adalah corak kezaliman. Sedangkan setiap orang tidak bakal mau andaikan corak kezaliman tersebut menimpa keluarganya. Oleh lantaran itu, beliau berkata, mengingatkan perihal tersebut,

إِنَّهُۥ لَا يُفْلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang nan melakukan kejam tidak bakal beruntung.” (QS. Yusuf: 23)

Dalam sebuah sabda nan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam sebuah kisah tentang seorang pemuda nan datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dia berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan saya berzina.” (HR. Ahmad no. 22211, disahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 370)

Para sahabat menegurnya, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendekatinya dan bertanya, “Apakah Anda menyukainya untuk ibumu?” “Apakah Anda menyukainya untuk putrimu?” “Apakah Anda menyukainya untuk kerabat perempuanmu?” “Apakah Anda menyukainya untuk bibimu?”  Dan untuk setiap pertanyaan tersebut pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah, engkau telah menjadikan diriku penebus bagi dirimu sendiri.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman kepadanya, “Demikian pula, manusia tidak bakal menyukainya untuk ibu mereka, putri mereka, kerabat wanita mereka, alias tante mereka”, lantaran itu adalah kezaliman nan keji. Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara kepadanya,

اكْرَهُ لَهُمْ مَا تَكْرَهُ لِنَفْسِكَ وَأَحِبُّ لَهُمْ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ

“Bencilah untuk mereka apa nan Anda tidak suka untuk dirimu sendiri; dan cintai untuk mereka apa nan Anda cintai untuk dirimu sendiri.”

Ketiga, memperbarui dan memperkuat iman. Iman itulah nan bakal melindungi dan menyelamatkan pemiliknya. Renungkanlah firman Allah Ta’ala,

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِمَا لَوْلَا أَن رَّمَا بُرْهَانَ رَبِّهِ

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak memandang tanda (dari) Tuhannya.” (QS. Yusuf: 24)

Makna nan betul tentang bukti (burhan) dari Tuhan-Nya adalah pengetahuan dan ketaatan nan dimilikinya. Iman nan paling berpengaruh untuk menahan dirinya adalah ketaatan kepada Allah, serta kesadaran bahwa Allah memandang setiap hamba-hamba-Nya dalam hal-hal nan tersembunyi dan perihal nan tidak tersembunyi.

Keempat, merealisasikan keikhlasan. Ikhlas bakal menyelamatkan pemiliknya dari tuduhan dan cobaan, serta tulus adalah keamanan dari musibah dan kejahatan. Renungkanlah kisah Yusuf, Allah Ta’ala berfirman,

كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلْفَحْشَآءَ ۚ إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُخْلَصِينَ

“Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami nan terpilih.” (QS. Yusuf: 24)

Dalam referensi (qira’ah) “al–mukhlishin“, artinya orang-orang nan tulus (ikhlas) kepada Allah. Siapa saja nan mengikhlaskan hatinya, maka Allah bakal menyelamatkannya sehingga nafsu syahwat dan kenikmatan nan diharamkan tersebut tidak bakal menemukan jalan untuk masuk ke dalam hatinya.

Kelima, melarikan diri dari tuduhan dan godaan, terutama ketika sebab-sebab dan dorongan untuk melakukan perihal tersebut muncul. Yusuf, dalam menghadapi bujukan susah ini, melarikan diri menuju pintu (QS. Yusuf: 25) untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Demikianlah semestinya seorang hamba Allah nan beriman, dia tidak melangkah menuju fitnah. Demikianlah hendaknya orang beragama ketika diuji dengan sesuatu nan seperti itu. Dia kudu menyelamatkan diri dengan melarikan diri, menjauh darinya, bukan dengan mendekat alias atau menempatkan dirinya pada akibat terjatuh ke dalam fitnah. Namun, dia kudu melarikan diri dari tuduhan untuk mencari keselamatan diri.

Keenam, menahan diri, dan ini merupakan perihal nan sulit. Allah menyebut perihal ini dalam kisah Yusuf ketika dia menolak bujukan dari istri Al-‘Aziz. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ رَٰوَدتُّهُۥ عَن نَّفْسِهِۦ فَٱسْتَعْصَمَ

“Dan sesungguhnya saya telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku), bakal tetapi dia menolak.” (QS. Yusuf: 32)

Menahan diri adalah corak kekuatan dan ketegasan terhadap diri sendiri, serta mengambil langkah-langkah konkrit untuk menyelamatkannya dan menjaganya tetap aman. Ketika menghadapi godaan, orang-orang berada di antara dua kondisi, ialah menahan diri alias menyerah. Orang nan menahan diri bakal selamat; sementara orang nan menyerah pada godaan, maka dia bakal binasa.

Ketujuh, meminta kepada Allah dengan bermohon dan sungguh-sungguh berlindung kepada Allah Ta’ala. Karena siapa saja nan memohon kepada Allah dengan tulus, Allah bakal mengabulkan doanya. Nabi Yusuf ‘alaihi as–salam berlindung kepada Rabb-nya, bersandar kepada Allah, mencari keselamatan dan keamanan dari-Nya, lantaran Allah-lah nan mempunyai kendali penuh atas segala urusan. Yusuf ‘alaihi as–salam berkata,

قَالَ رَبِّ ٱلسِّجْنُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا يَدْعُونَنِىٓ إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّى كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ ٱلْجَٰهِلِينَ

“Wahai Tuhanku, penjara lebih saya sukai daripada memenuhi rayuan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu saya bakal condong untuk (memenuhi kemauan mereka) dan saya tentu termasuk orang-orang nan bodoh.” (QS. Yusuf: 33)

Dengan doa-doanya nan tulus, dia menghadapkan diri kepada Tuhan pemilik langit dan bumi. Allah pun mengabulkan doanya dan mewujudkan permohonannya,

فَٱسْتَجَابَ لَهُۥ رَبُّهُۥ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

“Maka Tuhannya memperkenankan (mengabulkan) angan Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dialah nan Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. Yusuf: 34)

Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar memberikan kepada kita semua pemahaman terhadap agamanya, kebaikan dalam mentadabburi kitab-Nya, keelokan dalam mencintai para nabi-Nya dan orang-orang saleh, serta agar Dia menyatukan kita dengan hamba-hamba-Nya nan saleh.

Baca juga: Wanita Pun Terfitnah oleh Lelaki

***

@Kantor Pogung, 15 Ramadan 1445/ 26 Maret 2024

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ahaadits Ishlaahil Quluub, bab 71; karya Syekh ‘Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah