Sebab-sebab Lapangnya Hati

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Dalam tulisan kami sebelumnya berjudul, “Nikmat Lapangnya Hati”, kami membahas salah satu nikmat nan besar, ialah nikmat kelapangan hati. Hati nan lapang merupakan nikmat Allah Ta’ala yang sangat besar bagi kehidupan seorang hamba. Dalam tulisan kali ini, kami sebutkan sejumlah karena dan sarana nan bisa mendatangkan kelapangan hati tersebut.

Sebab pertama, tauhid dan tulus dalam menjalankan agama.

Tauhid dan tulus merupakan karena nan paling krusial dalam memperoleh kelapangan hati dan sebagai sebuah tujuan ketika Allah menciptakan makhluk. Sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan saya tidak menciptakan hantu dan manusia melainkan agar mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Semakin besar nilai tauhid nan diwujudkan oleh seorang hamba dalam hidupnya, maka bakal semakin sempurna pula kelapangan dan ketenangan hati nan bakal dia dapatkan. Selain itu, dia pun semakin berbahagia di bumi dan akhirat.

Sebab kedua, sinar ketaatan nan Allah tanamkan dalam hati seorang hamba.

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ ۚ

“Maka apakah orang-orang nan dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) kepercayaan Islam, lampau dia mendapat sinar dari Tuhannya (sama dengan orang nan membatu hatinya?)” (QS. Az-Zumar: 22)

Makna ayat ini adalah bahwa dia berada di dalam sinar (iman) sebagai kepanjangan dari Allah dan karunia dari-Nya. Hal ini lantaran sinar ketaatan tersebut bakal menyebabkan kelapangan hati dan juga bakal menghadirkan kebahagiaan di dalam hati. Jika sinar ketaatan itu hilang, maka hati bakal sempit, sesak, sedih, dan gelisah. Kadar kelapangan hati nan didapat oleh seorang hamba itu sesuai dengan seberapa terang sinar ketaatan itu bercahaya di dalam hatinya. (Lihat Zaadul Ma’ad, 2: 28)

Sebab ketiga, pengetahuan kepercayaan nan bermanfaat.

Setiap kali pengetahuan kepercayaan seseorang bertambah, ialah pengetahuan nan berasal dari Al-Quran dan sunah Nabi shalllallahu ’alaihi wasallam, maka bakal semakin bertambah pula kelapangan hatinya. Kehidupannya pun bakal semakin baik.

Ilmu kepercayaan tersebut bakal memuliakan dan meninggikan derajat seseorang. Ilmu juga bakal membahagiakan pemiliknya. Kesuksesan nan diimpikan seorang hamba di bumi dan alambaka itu didapat melalui pengetahuan agama. Sebagaimana nan Allah Ta’ala firmankan,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah bakal meninggikan orang-orang nan beragama di antaramu dan orang-orang nan diberi pengetahuan pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Sebab keempat, kembali kepada Allah, menerima dan tunduk terhadap perintah dan larangan-Nya, serta senang (bahagia) ketika melakukan ibadah.

Karena alim kepada Allah dan ibadah kepada-Nya, adalah istirahatnya hati dan dan kebahagiaan di dalam dada.  Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Tidak ada sesuatu apapun nan dapat melapangkan hati melampaui kesadaran untuk selalu alim kepada Allah, menerima perintah dan larangan Allah, dan bernikmat-nikmat dengan ibadah. Hingga ada nan sampai mengatakan, “Jika saya di surga merasakan keadaan seperti itu, itu artinya saya berada dalam hidup nan baik.” (Zaadul Ma’ad, 2: 29)

Salat misalnya, sungguh hati dibuat menjadi sejuk lantaran mendirikan salat, sungguh pikiran menjadi tenang karenanya. Dan sungguh hening hati orang beragama karenanya. Sampai-sampai Nabi shallallahu’ alaihi wasallam bersabda,

قم يا بلال أقم فأرحنا بالصلاة

“Berdirilah, wahai Bilal. Lantunkanlah ikamah, istirahatkanlah kami dengan (mendirikan) salat.” (HR. Abu Dawud no. 4986. Dinilai sahih oleh Al-Albani)

Sebab kelima, merutinkan zikir.

Karena rutin berzikir mengingat Allah Ta’ala adalah karena nan paling besar untuk meraih ketenteraman hati, kelapangan jiwa, dan hilangnya kesedihan dan kegelisahan. Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Orang-orang nan beragama dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Baca juga: Mendeteksi Kesucian Hati

Sebab keenam, melakukan baik (ihsan) kepada sesama.

Allah Ta’ala memerintahkan,

وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Berbuat baiklah, lantaran sesungguhnya Allah menyukai orang-orang nan melakukan baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)

Berbuat ihsan kepada sesama makhluk dapat dilakukan dengan beragam corak tindakan konkrit maupun abstrak. Bisa dengan kedudukan, harta, musyawarah, alias dengan empati kepada sesama. Seseorang nan melakukan ihsan kepada sesama, maka bakal Allah Ta’ala balas dengan kelapangan hati, dimudahkan urusan hidupnya, serta bakal mendapatkan kesuksesan saat ini maupun di masa nan bakal datang.

Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

من نفَّسَ عن مسلمٍ كُربةً مِن كُربِ الدُّنيا نفَّسَ اللَّهُ عنهُ كربةً مِن كُرَبِ يومِ القيامةِ ، ومن يسَّرَ على مُعسرٍ في الدُّنيا يسَّرَ اللَّهُ عليهِ في الدُّنيا والآخرةِ ، ومن سَترَ على مُسلمٍ في الدُّنيا سترَ اللَّهُ علَيهِ في الدُّنيا والآخرةِ ، واللَّهُ في عونِ العَبدِ ، ما كانَ العَبدُ في عونِ أخيهِ

“Siapa saja nan membantu suatu kesulitan bumi nan dialami oleh seorang mukmin, maka Allah bakal menghilangkan darinya satu kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa nan meringankan orang nan kesusahan (dalam hutangnya), niscaya Allah bakal meringankan baginya (urusannya) di bumi dan akhirat. Barangsiapa nan menutupi kejelekan seorang muslim, niscaya Allah bakal menutupi aibnya di bumi dan akhirat. Dan Allah bakal senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut mau menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)

Sebab ketujuh, menjauh dari penyakit-penyakit hati.

Hati, sebagaimana badan, berpotensi menderita banyak penyakit. Bahkan penyakit hati tersebut dapat berakibat besar terhadap diri seseorang. Penyakit hati itu seperti hasad, dendam, benci, dan nan lainnya. Penyakit ini bakal menyebabkan sesak dan sempitnya hati seseorang, serta dapat mengakibatkan hari-harinya jelek dan gelap. Sehingga sebaliknya, orang nan selamat dari penyakit hati, maka dia bakal merasakan kelapangan, ketentraman, dan ketenangan hati.

Sebab kedelapan, meninggalkan aktivitas-aktivitas nan tidak bermanfaat.

Salah satu karena kelapangan hati adalah menjaga lisan, telinga, dan mata dari berbicara, mendengar, dan memandang hal-hal nan tidak baik dan tidak bermanfaat. Jika seseorang menyibukkan diri dengan aktivitas nan tidak bermanfaat, maka perihal itu bakal membuatnya abai terhadap aktivitas nan krusial dan bermanfaat, baik di kehidupan bumi ataupun akhiratnya. Menyibukkan diri dalam perihal nan tidak berfaedah bakal membikin hidup terasa sempit, selalu mengeluh, dan susah.

Oleh lantaran itu, seorang mukmin kudu berjuang membersihkan hati dan menghiasnya dengan akhlak-akhlak nan baik, memberikan perhatian terhadap etika, selalu waspada menjaga hati dari penyakit-penyakitnya dan menjauh dari apa saja nan dapat membahayakan hati.

Sebab kesembilan, mengikuti sunah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam dengan baik.

Mengikuti sunah dan petunjuk Nabi shallallahu ’alaihi wasallam adalah karena nan paling potensial untuk memperoleh kelapangan hati, apalagi merupakan kunci pembuka seluruh karena kelapangan hati lainnya. Hal ini lantaran dengan mengikuti sunah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, seseorang telah mengikuti manusia nan paling lapang hatinya dan paling baik akhlaknya.

Allah Ta’ala berfirman,

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?” (QS. As-Syarh: 1)

Kelapangan dada nan Allah Ta’ala berikan kepada Nabi shallallahu ’alaihi wasallam berupa terkumpulnya seluruh sifat nan baik dan etika-etika (akhlak) nan luhur. Oleh lantaran itu, semakin banyak upaya seseorang mengikuti sunah-sunah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, maka bakal semakin lapang hatinya, semakin tenang pikirannya, dan semakin tentram jiwanya.

Ya Allah, lapangkanlah hati kami, mudahkan seluruh urusan hidup kami, dan tolonglah kami dalam meniti jalan nan lurus, ialah jalan orang-orang nan Engkau berikan nikmat kepada mereka, ialah para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh.

Baca juga: Obat bagi Hati nan Gelisah

***

@Kantor Pogung, 15 Ramadan 1445/ 26 Maret 2024

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ahaadits Ishlaahil Quluub, bab 61; karya Syekh ‘Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah