Secukupnya Saja Mencintai Harta

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Dalam bahasa Arab, kekayaan (mal) mempunyai akar kata nan sama dengan muyul, nan berfaedah 'kecenderungan.' Hal itu tak mengherankan. Sebab, tabiat manusia pada umumnya condong pada kekayaan benda.

Allah SWT pun menegaskan kebenaran tersebut. "Dijadikan terasa bagus dalam pandangan manusia cinta terhadap apa nan diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, kekayaan barang nan bertumpuk dalam corak emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali nan baik" (QS Ali Imran: 14).

Kita tidak perlu heran jika orang-orang bakal mendekat kepada mereka nan memiliki kekayaan melimpah. Adapun golongan nan tak punya sepeser kekayaan bakal condong dijauhi alias dikucilkan.

Kita mungkin menangis saat kehilangan harta. Sebaliknya, kita bakal melonjak riang begitu memperoleh harta.

Padahal, kita semestinya menelisik sebab-sebab kegembiraan kala mendapatkan harta. Kita juga kudu memeriksa kesedihan kita saat berpisah dengan harta.

Apakah kegembiraan kala memperoleh kekayaan disebabkan hanya pada jumlahnya nan bertambah? Ataukah kita senang lantaran memang memperoleh kekayaan tersebut melalui jalan nan halal?

Jika menyadari bahwa kekayaan nan diperoleh berasal dari jalan nan tidak benar, dan tetap saja bergembira, kita semestinya bertanya pada diri sendiri: kegembiraan ini untuk apa?

Yang semestinya adalah kita berduka hati. Sebab, bertambahnya kekayaan itu akibat diperoleh dari jalan nan Allah murkai.

Jika kita melonjak senang saat mendapat jutaan kekayaan lantaran korupsi, misalnya,maka sifat kecenderungan terhadap kekayaan itu sudah bergeser. Berubah menjadi kecondongan pada hal-hal nan haram.

Begitu pula saat kita kehilangan harta. Jika berkurangnya kekayaan lantaran kewajiban-kewajiban sebagai seorang Muslim, seperti bayar amal alias melunasi utang, semestinya kita bersyukur. Begitu pula jika berkurangnya kekayaan itu lantaran amalan-amalan sunah, semisal sedekah, infak, alias wakaf. Sejatinya, nan lenyap dibelanjakan di jalan Allah tidaklah betul-betul habis.

Justru kekayaan tersebut tetap utuh dan abadi. Sebabnya, kekayaan nan dibelanjakan di jalan Allah bakal menjadi saksi nan memperingan kita di alambaka kelak.

Sebaliknya, kekayaan nan kita tahan-tahan untuk bersedekah dan melakukan amal lainnya itulah nan sesungguhnya ludes. Sebab, kekayaan itu tidak bakal menjadi pemberat kebaikan saat pengadilan Allah digelar di Hari Akhir.

Pernah suatu ketika, Nabi Muhammad SAW bertanya kepada ummul mukminin 'Aisyah tentang seekor kambing nan disembelih, "Apakah ada nan tersisa darinya?"

'Aisyah menjawab, "Tidak ada nan tersisa selain bagian bahunya."

Rasulullah SAW bersabda, "Tersisa seluruhnya selain bagian bahunya" (HR Muslim).

Maknanya, bagian nan disedekahkan justru adalah nan tetap utuh. Adapun nan tetap tersisa di rumah itu bakal dihabiskan dan tak bersisa lagi.

Harta bukanlah tujuan, melainkan sarana. Jika kita mencintainya, maka gunakanlah dia sebagai perangkat melakukan kebaikan.

Harta di tangan orang baik, maka peruntukannya bakal mendatangkan faedah nan banget besar. Saad bin Abi Waqash pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya, Allah mencintai seorang hamba nan bertakwa, kaya, dan menyibukkan diri dengan beragama kepada Allah Ta'ala" (HR Muslim).

Dalam Islam, tidak ada larangan untuk menjadi orang kaya. Namun, jadilah kaya dengan jalan nan halal. Lantas, pergunakanlah kekayaan itu untuk kebaikan, bukannya maksiat.

Semakin kaya, maka semakin besar tanggungjawab mengeluarkan zakat. Artinya, semakin banyak orang nan bisa terbantu dengan perantaraan kekayaan si Muslim nan kaya.

Di bumi ini, kita sejatinya hanyalah pengembara. Mengumpulkan bekal nan secukupnya untuk menempuh perjalanan pulang ke kampung akhirat.

Abdullah bin Umar pernah bercerita soal ini. Suatu ketika, Rasulullah SAW memegang pundaknya, lampau berkata, "Di bumi ini, jadilah seperti orang asing alias nan tengah lewat di jalanan."

Ibnu Umar menerangkan maksud Rasulullah SAW, "Jika memasuki malam, maka jangan menunggu datangnya pagi. Jika masuk pagi, jangan menunggu datangnya malam. Carilah bekal di masa sehatmu untuk masa sakitmu, di masa hidupmu (untuk bekal) matimu" (HR Bukhari).

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam