Sediakan Waktu Untuk Muhasabah An-nafs (introspeksi Dan Evaluasi Diri)

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Di antara ibadah nan agung adalah muhasabah an-nafs, yaitu seorang hamba senantiasa menghisab jiwa, mengintrospeksi, mengoreksi, dan mengevaluasi dirinya tentang apa nan telah dia perbuat dalam keseharian sebagai persiapan untuk hari besok di akhirat. Karena kita menyadari bahwa bumi nan kita tinggali ini hanya berkarakter sementara, kita pasti bakal mati, kemudian mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita di akhirat.

Kita kudu menyadari bahwa saat ini, kita hidup di suatu era nan sangat memungkinkan kita melakukan maksiat setiap harinya. Ketika kita membuka media sosial, semacam facebook, instagram, X (twiter), alias menonton youtube, sadar alias tidak sadar kita telah mengumbar pandangan. Keseharian kita mungkin dipenuhi dengan ghibah dan namimah, membicarakan dan mengorek kejelekan si fulan dan si fulan.

Oleh lantaran itu, di era ini kita sangat butuh muhasabah an-nafs. Caranya, kita berupaya menyisihkan menyisihkan waktu untuk menghisab dan mengevaluasi diri kita. Karena jika tidak, kita bakal lepas kontrol dan semakin jauh terperosok ke dalam kubangan maksiat. Lalu tanpa sadar, tiba-tiba kita dipanggil oleh Allah Ta’ala. Ini nan hendaknya selalu kita khawatirkan atas diri kita sendiri.

Dalil pokok dalam perihal ini adalah firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ. وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ. لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۚ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Hai orang-orang nan beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa nan telah diperbuatnya untuk hari besok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa nan Anda kerjakan. Dan janganlah Anda seperti orang-orang nan lupa kepada Allah, lampau Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang nan fasik. Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga. Penghuni-penghuni surga, itulah orang-orang nan beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 18-20)

Ketika menjelaskan ayat ini, Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa ayat mulia ini merupakan dalil agar seorang hamba melakukan introspeksi diri, sehingga hendaknya dia senantiasa mengoreksi dan mengevaluasi jiwanya. Apabila terdapat kesalahan, maka dia kemudian memperbaiki dengan meninggalkan kesalahan tersebut, lampau bertobat dengan sungguh-sungguh, serta beralih dari beragam karena nan bisa mendorongnya untuk melakukan kesalahan nan sama.

Apabila rupanya dia melalaikan salah satu perintah Allah Ta’ala, maka dia berupaya keras dan memohon pertolongan Allah Ta’ala untuk menyempurnakannya. Dia bandingkan antara kebaikan dan kenikmatan nan diperolehnya dengan kelalaian nan telah dilakukannya. Karena tanpa diragukan lagi, perihal itu bakal melahirkan rasa malu kepada Allah Ta’ala.

Sungguh suatu kerugian nan teramat nyata, ketika seorang hamba lalai dan tidak berinstropeksi diri, sehingga dia pun serupa dengan golongan nan lupa kepada Allah, lalai dari berdzikir kepada-Nya, dan menunaikan hak-Nya. Mereka justru lebih mendahulukan kepentingan jiwa dan syahwatnya. Mereka itu hanya bakal memperoleh kesia-siaan. Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala bakal membikin mereka lupa terhadap segala sesuatu nan membawa faedah bagi jiwa mereka. Dengan begitu, urusan mereka pun menjadi berantakan. Mereka mengalami kegagalan nan tidak mungkin lagi diperbaiki. Karena mereka orang-orang fasik, nan mengeluarkan diri mereka sendiri dari rel ketaatan, lampau menjerumuskan diri ke dalam lembah kemaksiatan.

Apakah orang nan senantiasa menjaga diri dalam bingkai ketakwaan dan memperhatikan akibat dari apa nan telah diperbuatnya di hari besok bakal sama kedudukannya dengan orang nan lalai mengingat Allah dan melupakan hak-Nya? Tentu orang nan pertama berkuasa memperoleh kenikmatan surga dan kehidupan nan tenteram berbareng para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Sedangkan orang nan kedua justru bakal celaka di bumi dan berkuasa memperoleh siksa di akhirat. Orang nan pertama adalah orang nan sukses, sedangkan orang nan kedua adalah orang nan gagal. (Lihat Taisir Karimir Rahman dalam penjelasan beliau terhadap ayat ini)

Sederhananya, jika dalam urusan bumi kita senantiasa melakukan pertimbangan agar aktivitas alias aktivitas selanjutnya bisa lebih baik, kenapa perihal nan sama tidak kita lakukan untuk urusan akhirat? nan bisa melakukan muhasabah an-nafs adalah diri kita sendiri, bukan orang lain, lantaran orang lain tidak tahu apa nan kita lakukan saat kita bersendirian dan apa nan terbesit dalam hati kita. Sehingga nan paling tahu kondisi kita, setelah Allah Ta’ala, adalah diri kita sendiri.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah menuturkan,

الْمُؤْمِنُ قَوَّامٌ عَلَى نَفْسِهِ يُحَاسِبُ نَفْسَهُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَإِنَّمَا خَفَّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى قَوْمٍ حَاسَبُوا أَنْفُسَهُمْ فِي الدُّنْيَا، وَإِنَّمَا شَقَّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى قَوْمٍ أَخَذُوا هَذَا الْأَمْرَ مِنْ غَيْرِ مُحَاسَبَةٍ، إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَفْجَأَهُ الشَّيْءُ وَيُعْجِبُهُ، فَيَقُولُ وَاللَّهِ أَنِّي لَأَشْتَهِيكَ وَإِنَّكَ لَمِنْ حَاجَتِي، وَلَكِنْ وَاللَّهِ، مَا صِلَةٌ إِلَيْكَ هَيْهَاتَ، حِيلَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ وَيُفْرَطُ مِنْهُ الشَّيْءُ فَيَرْجِعُ إِلَى نَفْسِهِ فَيَقُولُ: هَيْهَاتَ مَا أَرَدْتُ إِلَى هَذَا وَمَا لِي وَلِهَذَا وَاللَّهِ مَا أُعْذَرُ بِهَذَا وَاللَّهِ لَا أَعُودُ إِلَى هَذَا أَبَدًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَمَالِي وَلِهَذَا، وَاللَّهِ مَا أُعْذَرُ بِهَذَا وَاللَّهِ لَا أَعُودُ إِلَى هَذَا أَبَدًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ، إِنَّ الْمُؤْمِنِينَ قَوْمٌ أَوْقَفَهُمُ الْقُرْآنُ وَحَالَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ هَلَكَتِهِمْ أَنَّ الْمُؤْمِنَ أَسِيرٌ فِي الدُّنْيَا يَسْعَى فِي فِكَاكِ رَقَبَتِهِ لَا يَأْمَنُ شَيْئًا حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ يَعْلَمُ أَنَّهُ مَأْخُوذٌ عَلَيْهِ فِي سَمْعِهِ، وَفِي بَصَرِهِ، وَفِي لِسَانِهِ، وَفِي جَوَارِحِهِ، مَأْخُوذٌ عَلَيْهِ فِي ذَلِكَ كُلِّهِ

“Orang beragama itu pemimpin bagi jiwanya. Dia mengevaluasi jiwa lantaran Allah ‘Azza wa Jalla. Evaluasi (hisab) di hari hariakhir bakal lebih ringan bagi mereka nan mengevaluasi jiwa ketika di dunia. Sebaliknya, pertimbangan di hari hariakhir bakal lebih berat bagi mereka nan memeluk kepercayaan ini dan tidak mengevaluasi jiwa ketika di dunia. Ketika suatu maksiat menggoda dan membujuk orang beriman, dia pun berbicara kepada jiwanya. ‘Demi Allah, sungguh saya menginginkanmu dan membutuhkanmu. Akan tetapi, demi Allah, tidak ada hubungan denganmu nan bisa menghalangi diriku denganmu.’ Kemudian dia kembali berbicara kepada jiwanya, “Betapa jauh dari kebenaran. Saya tidak mau melakukannya. Apa urusanku dengan kemaksiatan tersebut? Demi Allah, saya tidak bakal dimaafkan jika melakukannya. Demi Allah, saya tidak bakal kembali melakukan kemaksiatan itu selamanya, insya Allah. Apa urusanku dengan kemaksiatan tersebut? Sungguh, orang beragama adalah golongan nan dihentikan dan dihalangi oleh Al-Quran dari kemaksiatan nan membinasakannya. Sungguh, orang beragama adalah tawanan di bumi nan berupaya untuk melepaskan kekangannya dan merasa cemas jika dia menjumpai Allah Ta’ala dalam kondisi disiksa pendengaran, penglihatan, lisan, dan personil tubuhnya. Semua itu disiksa akibat kemaksiatan nan dilakukannya.” (Diriwayatkan Ibnu al-Mubarak dalam Az-Zuhd wa Ar-Raqaiq no. 307)

Hal utama nan bisa membantu seorang hamba melakukan muhasabah an-nafs adalah merenungkan apa nan bakal dia panen di hari hariakhir kelak, hari ketika dia berdiri di hadapan Allah Ta’ala. Ketika itu, Allah bakal mengevaluasi segala nan dilakukannya selama hidup di bumi ini. Dengan muhasabah an-nafs, dia bisa membentengi diri dari bisikan nafsu nan buruk. Apabila jiwa mengajaknya untuk melakukan sesuatu nan berpotensi mengundang kemurkaan Allah Ta’ala, maka dia pun mengingatkan jiwanya bahwa dia bakal berdiri di hadapan Allah Ta’ala. Sehingga jiwanya pun berakhir membujuk untuk melakukan kemaksiatan dan dosa.

Muhasabah an-nafs juga bisa dilakukan sebelum melakukan suatu kebaikan alias perbuatan. Misalnya, ketika kita mau posting sesuatu di media sosial, kita muhasabah jiwa kita, apakah ada manfaatnya? Apakah niat kita sudah benar? Apabila rupanya menimbulkan keburukan, kita batalkan niat kita untuk posting di media sosial tersebut.

Oleh lantaran itu, sangat krusial bagi kita untuk mengevalusi diri kita setiap harinya. Apakah hari ini kita menyempatkan untuk berdzikir pagi-petang? Atau, apakah hari ini kita salat lima waktu berjamaah di masjid? Atau, pada waktu antara azan dan ikamah, apakah kita memanfaatkannya untuk bermohon kepada Allah, alias kita hanya ngobrol dengan orang lain? Demikianlah seterusnya untuk perkara-perkara nan lainnya. Wallahu Ta’ala a’lam.

***

“Menulis adalah nasihat untuk diri sendiri.”

@BA, 1 Dzulqa’dah 1445/ 10 Mei 2024

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah