Sejarah Munculnya Bacaan Bilal Tarawih

Sedang Trending 4 minggu yang lalu

Kincaimedia- Artikel berikut bakal menjelaskan tentang sejarah munculnya referensi bilal tarawih. Shalat tarawih adalah ibadah nan hanya dilakukan pada bulan Ramadhan. Kata tarawih sendiri adalah corak plural dari kata tarwihatun yang berfaedah istirahat. Diberi nama demikian lantaran Rasulullah saw. berbareng sahabat melakukan ibadah tersebut diselingi dengan rehat setiap selesai melakukan shalat dua rakaat. 

Di era itu, tidak ada bilal unik nan bekerja memandu jalannya shalat tarawih dari awal sampai selesai. Akan tetapi, di setiap waktu rehat sahabat memperbanyak zikir, membaca al-Quran, alias melakukan aktivitas lainnya sampai Rasulullah kembali datang untuk salat. Imam Khotib Syirbini dalam kitab Mughni al-Muhtaj menjelaskan:

ويسن أن ‌ينتقل ‌للنفل أو الفرض من موضع فرضه أو نفله لتكثر مواضع السجود فإنها تشهد له، فإن لم ينتقل فليفصل بكلام إنسان.

Artinya; “Disunnahkan untuk beranjak tempat dari melaksanakan salat fardu alias sunah agar memperbanyak tempat bersujud, lantaran tempat-tempat itu bakal bersaksi untuknya di hari akhirat, dan jika tidak melakukan perpindahan tempat, hendaknya memisah shalat dengan berbincang dengan orang lain.”

Penjelasan tersebut dikuatkan dengan hadits marfu’ nan diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya: 

أَنَّ مُعَاوِيَةَ قَالَ: إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنَا بِذلِكَ، أَنْ لَا تُوْصَلَ صَلَاةٌ بِصَلَاةٍ حَتَّى نَتَكَلَّمَ أَوْ نَخْرُجَ.

Artinya; “Sahabat Muawiyah berbicara “Sesungguhnya Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk melakukan perihal itu, ialah agar tidak menyambung shalat dengan shalat nan lain sampai kita berbincang alias keluar dari barisan (pindah tempat).”

Dari keterangan inilah kemudian ulama’ berinisiatif untuk mengadakan bilal nan bekerja memimpin berjalannya shalat tarawih dari awal hingga selesai.

Bacaan bilal di Indonesia sendiri, antara satu tempat dengan tempat nan lain terkadang bervariasi dan tidak sama. Ada referensi nan hanya mencukupkan dengan referensi selawat, dan ada juga referensi nan dilengkapi dengan menyebut empat nama Khulafa’ Rasyidun dan mendoakan ridlo untuk mereka. Dimulai dari khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar ibn Khattab, Utsman ibn Affan, dan Ali ibn Abi Thalib.

Namun demikian, ada saja beberapa golongan umat Islam nan mempertantangkan tentang keabsahannya lantaran praktik nan demikian tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. maupun sahabat. Untuk menjawab perihal ini, Dr. Zain ibn Muhammad ibn Husein Al’idrus menjelaskan dalam kitab Ittihaful Anam Fii Ahkamis Shiyam: 

إن الترضي عن الخلفاء الأربعة في صلاة التراويح رتبه علماء حضرموت لأغراض دينية، وجعلوه من السياسة الشرعية؛ لأن حضرموت مرت بفترة حكمها فيها بعض أهل الفرق الذين ينتقصون بعض الصحابة.

Artinya; “Perkara membacakan angan ridho untuk 4 khalifah di sela-sela shalat tarawih  adalah praktik nan pertama kali dilakukan oleh ulama’ Hadramaut Yaman. Mereka melakukan perihal itu demi tujuan memihak agama, ialah berupa siasat untuk menjunjung aliran Islam nan benar. Pada waktu itu, kota Hadramaut didominasi oleh beberapa golongan menyimpang nan suka mencaci para sahabat dan merendahkan martabat mereka,”. 

Lalu ustadz Hadramaut nan mempunyai aqidah lurus berinisiatif untuk menyebut semua nama Khulafa’ Rasyidun di sela-sela salat tarawih sebagai bentuk pembelaan agar umat Islam tidak terpengaruh oleh ajaran-ajaran menyimpang. 

Praktik ini kemudian menyebar ke beberapa penjuru negara termasuk Nusantara. Banyak dari kalangan pelajar Indonesia nan menimba pengetahuan di negeri Yaman lampau pulang kembali ke negara tempat lahir dengan membawa tradisi tersebut. Tentu saja Islam tidaklah pertentangan terhadap tradisi selama praktik nan ada dalam tradisi itu tidak menentang terhadap norma-norma agama.

Lebih lanjut, Dr. Zain ibn Muhammad menjelaskan:

وهو فعل حسن وليس هو بدعة ضلالة ولا أنه سنة، فمن فعل فقد أحسن، ومن ترك فلا إثم عليه، والترضي عن الصحابة دعاء يثاب عليه.

Artinya; “Praktek melakukan ungkapan ridho untuk para khalifah adalah perbuatan nan bagus. Pada hakikatnya perihal itu bukanlah bid’ah nan sesat dan tidak pula sunnah Nabi. Akan tetapi barangsiapa nan mengerjakan perihal tersebut, maka sungguh dia telah melakukan kebaikan, dan barangsiapa nan meninggalkan perihal tersebut maka dia tidak mendapatkan dosa,”.

Jika kita meninjaunya dari sisi nan lain, sesungguhnya memanjatkan ridho untuk para sahabat adalah bentuk doa. Barangsiapa nan mendoakan ridho untuk para sahabat, maka dia bakal dibalas dengan pahala.

Kesimpulannya, melakukan praktik membacakan angan ridho untuk para sahabat Nabi adalah perbuatan nan baik, dan bukanlah merupakan suatu bid’ah nan kudu dihindari. Bahkan jika melakukannya dengan niat memihak para sahabat nan mulia, perihal ini bakal berbobot pahala.

Demikian penjelasan mengenai sejarah munculnya referensi Bilal Tarawih. Semoga bermanfaat. [Baca juga: Hukum Bacaan Bilal Shalat Tarawih dan Witir]

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah