Sengketa Pemilu, Belajar Dari Kecerdikan Umar Bin Khattab Selesaikan Masalah

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA — Sejumlah pihak nan merasa dirugikan dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 tengah mengusulkan protes ke Mahkamah Konstitusi. 

Hal ini lantaran hanya di MK penyelesaian sengketa Pemilu dilakukan. Dan keputusan MK nantinya bakal mengikat.

Penyelesaian sengketa dalam beragam aspek memang selalu terjadi dari masa ke masa. Rasulullah SAW banyak sekali menyelesaikan beragam sengketa nan terjadi di masyarakat baik itu persoalan besar ataupun kecil. 

Rasulullah SAW sebagai pemimpin kepercayaan dan negara penyelesaiannya dapat diterima oleh masyarakat waktu itu.

Ada banyak kisah tentang penyelesaian sengketa nan terjadi masa Islam terdahulu. Dalam proses penyelesaian sengketa itu pengadil adalah penentu agar putusan melangkah adil. Dengan begitu siapapun kedudukannya sama di mata hukum.

Sebagaimana kisah Umar bin Khathab bertikai dengan seorang Baduwi dihimpun dari catatan Kincaimedia. Ketika itu Umar hendak membeli seekor kuda darinya. Namun ketika dicoba, kuda tersebut tidak mau melangkah dan didapati cacat. Umar pun komplain dan mengembalikan kudanya. 

Si Baduwi menolaknya dan bersikeras kuda nan dijualnya sehat dan tidak cacat. Meskipun Umar seorang khalifah, dia tetap diputus salah. Syurah bin Al Harist selaku qadi memutuskan ada dua pilihan, ambil kuda itu apa adanya alias Umar kudu mengganti kuda serupa dalam kondisi sehat. 

Umat bib Khattab pun pernah menyelesaikan sengkata lahan nan dialami laki-laki Yahudi dengan Gubernur Mesir Amr Ibn al-Ash. Amr mau gubuk milik laki-laki Yahudi nan berada di lahan kosong nan luas di depan istananya digusur untuk dibangun masjid. Namun, laki-laki itu enggan gubuknya digusur meskipun bakal diberikan tukar rugi berlipat-lipat.

Meskipun mendapatkan penolakan dari laki-laki Yahudi itu, Amr tetap merobohkan gubuknya untuk dibangun masjid. Lelaki Yahudi itu kemudian pergi menemui Khalifah Umar di Madinah untuk mengadukan nasibnya. Khalifah Umar merupakan pemimpin Amr.

Mendengar cerita dari laki-laki Yahudi itu, Umar marah dan menitipkan sepotong tulang nan diambil dari sampah tak jauh dari Umar dan laki-laki Yahudi itu berbincang kepada Amr. Umar menggariskan huruf Alif di tulang tersebut. 

Pergilah laki-laki Yahudi tua kembali ke Mesir dengan emosi bingung dengan tulang titipan Umar. Tetapi tulang tersebut rupanya membikin Amr gemetar dan memerintahkan agar masjid nan baru siap itu dibongkar. Amr berbicara kepada laki-laki Yahudi itu bahwa tulang tersebut adalah ancaman dari Khalifah Umar.

Khalifah Umar seolah-olah berkata, "Hai Amr ibn al-Ash! Ingatlah, siapa pun Anda sekarang dan sungguh tinggi pangkat dan kekuasaanmu, suatu saat kelak Anda pasti berubah menjadi tulang nan busuk, lantaran itu bertindaklah setara seperti huruf alif nan lurus, setara ke atas dan setara ke bawah. Sebab jika Anda tidak bertindak demikian pedangku nan bakal bertindak dan memenggal lehermu!”

Keputusan bagus para sahabat dalam menyelesaikan sengketa alias persoalan lainnya tak lepas dari peran Rasulullah SAW. 

Rasulullah SAW adalah pembimbing dari masyarakatnya saat itu. Rasulullah merupakan sosok nan setara dalam memutuskan suatu perkara. Seperti cerita Rasulullah SAW saat sukses menyelesaikan perselisihan tentang seeokor unta betina milik Al-Baraa 'ibn' Aazib nan memasuki taman milik seseorang nan menyebabkan kerusakan sebagaimana riwayat Haram Ibn Muhayyisa atas otoritas ayahnya. Rasulullah pun turun menangani perselisihan itu.

Dan Rasulullah SAW menilai perlindungan atas kebun merupakan tanggung jawab pemiliknya di siang hari. Adapun pemilik ternak kudu menjaga kebun itu pada malam hari. Penyelesaian itu berasas hadits riwayat Ahmad.   

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam