Sering Ucap Tidak Ke Anak Bisa Bikin Si Kecil Jadi Pembangkang, Ini Kata Riset

Oct 19, 2025 05:00 PM - 5 bulan yang lalu 180475

Jakarta -

Bunda pernah merasa susah untuk mengatakan "iya" pada permintaan Si Kecil? Ternyata, terlalu sering mengatakan "tidak" bisa berakibat pada perkembangan mereka.

Dilansir dari laman Times of India, penelitian terbaru menunjukkan anak-anak yang dibatasi secara terus-menerus condong untuk mencoba melawan patokan dari orang tua.

Hal ini bukan soal mereka bandel Bunda, tapi sebagai reaksi alami dari anak terhadap patokan yang terlalu ketat. Kadang, perihal ini juga membikin mereka susah untuk mengekspresikan dirinya.

Lebih lanjut, sering mengatakan "tidak" bisa bikin Si Kecil merasa tidak dipercaya untuk membikin pilihannya sendiri. Akibatnya, anak bisa frustrasi secara emosional.

Memberikan batas tetap perlu, Bunda, tetapi krusial juga menyesuaikan patokan dengan kebebasan agar anak tetap merasa kondusif sekaligus belajar mandiri.

Riset ungkap akibat terlalu sering mengatakan "tidak" pada anak

Anak-anak yang terlalu sering dibantah alias diberi jawaban "tidak" bisa merasa terkekang dan kehilangan kebebasan, Bunda. Hal ini bisa jadi pemicu perilaku memberontak dari anak. 

Sebuah studi tahun 2025 di PLOS ONE menemukan hubungan antara orang tua yang terlalu protektif dan depresi pada remaja. Anak yang kerap dikontrol alias sering mendengar "tidak" condong merasa tidak berdaya.

Selain itu, penelitian Harvard Graduate School of Education menyoroti, bahwa terlalu sering mengatakan "tidak" dapat melemahkan motivasi anak sekaligus menghalang perkembangannya.

Kontrol berlebihan bisa memengaruhi kesehatan mental anak

Terlalu sering mengontrol anak secara berlebihan bisa berakibat serius pada kesehatan mental mereka. Dikutip dari Times of India, sebuah laporan dari University of California, Los Angeles, menemukan hubungan antara kontrol psikologis berlebih dan kecemasan.

Selain terlalu sering mengatakan "tidak", kontrol yang berlebihan juga bisa melemahkan tekad dan rasa percaya diri Si Kecil. Anak yang terus dibatasi condong tidak bisa dalam mengambil keputusannya sendiri, Bunda.

Lebih lanjut, kebiasaan terlalu mengatur anak juga dapat melemahkan hubungan mereka dengan Ayah Bunda. Dampaknya, Si Kecil bisa mengalami tekanan emosional yang berkelanjutan.

Bagaimana agar anak tidak jadi pembangkang?

Daripada Bunda terus berbicara 'tidak' pada Si Kecil, lebih baik ajarkan mereka langkah membikin keputusannya sendiri. Para master perkembangan dari Harvard menekankan pentingnya pengasuhan yang seimbang.

Lantas, gimana caranya? Menjawab perihal ini, Bunda bisa memberikan pengarahan sembari tetap membiarkan anak mencoba hal-hal baru sesuai dengan usia mereka.

Selain itu, Bunda juga bisa mendorong anak berpikir berdikari dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Pendekatan seperti ini membikin anak merasa dihargai dan lebih terbuka dengan orang tuanya.

Menilik studi dalam Journal of Pediatric and Family Care, terlalu banyak kombinasi tangan orang tua bisa membatasi kemandirian Si Kecil. Sebaliknya, anak yang diberi ruang untuk berkembang condong lebih alim dan perilaku pembangkangan pun berkurang.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Selengkapnya