Shalat Qadha, Termasuk Jahriyyah Atau Sirriyah?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia – Berikut keterangan tentang shalat qadha, apakah termasuk jahriyah [nyaring] atay sirriyah [lirih]? Sejatinya, shalat terbagi menjadi dua kategori, ialah shalat sirriyah dan shalat jahriyyah. Shalat sirriyah merupakan sholat nan dilakukan dengan melirihkan referensi al-Qur’an, sehingga hanya didengar oleh diri orang nan shalat. Sholat Dzuhur dan ashar masuk dalam kategori ini. 

Sedangkan shalat jahriyyah merupakan sholat nan dilakukan dengan mengeraskan referensi al-Qur’an, sehingga dapat didengar orang-orang disekitarnya, seperti sholat Subuh, Maghrib, dan Isya’.

Adanya referensi shalat sirriyah dan jahriyyah ini sebagaimana nan dijelaskan dalam hadits nan diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:

فِي كُلِّ صَلاَةٍ يقْرَأُ ، فَمَا أَسْمَعَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْمَعْنَاكُمْ ، وَمَا أَخْفَى عَنَّا أَخْفَيْنَا عَنْكُمْ

“Setiap shalat ada referensi nan dibaca. Apa nan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam perdengarkan kepada kami (mengeraskan bacaan) maka kami perdengarkan kepada kalian. Apa nan beliau samarkan kepada kami (melirihkan bacaan)maka kami samarkan pula kepada kalian.” (HR. Bukhari no. 772 dan Muslim no. 396).

Membaca pelan dan keras dalam referensi sholat ini hukumnya sunnah. Sehingga diperbolehkan tidak mengikuti ketentuan ini, meskipun berfaedah dia telah melakukan kemakruhan karena tidak melakukan kesunnahan. Kesunnahan ini tidak hanya bertindak pada pemimpin saja, namun juga bertindak bagi orang nan melakukan sholat dalam keadaan sendirian (munfarid). 

Hal ini sebagaimana nan terdapat dalam kitab al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab:

فالسنة الجهر في ركعتي الصبح والمغرب والعشاء وفى صلاة الجمعة والاسرار في الظهر والعصر وثالثة المغرب والثالة والرابعة من العشاء وهذا كله باجماع المسلمين مع الاحاديث الصحيحة المتظاهرة علي ذلك هذا حكم الامام وأما المنفرد فيسن له الجهر عندنا وعند الجمهور 

“Disunnahkan membaca dengan bunyi keras pada dua rakaatnya shalat subuh, maghrib, isya’ dan shalat Jumat. Dan disunnahkan membaca pelan pada shalat zuhur dan ashar serta rakaat ketiga dan keempat pada shalat maghrib dan isya’. Semua ketentuan ini sesuai dengan kesepakatan para ustadz seiring adanya hadits-hadits sahih nan menjelaskan tentang perihal ini. Keseluruhan norma di atas bertindak bagi imam.

Adapun bagi orang nan melaksanakan shalat sendirian, tetap disunnahkan baginya mengeraskan referensi menurut ajaran kita (Syafi’i) dan kebanyakan ustadz dalam ajaran lain” (Syekh Abu Zakaria Yahya an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, juz 3, hal. 389).

Merujuk dalam kitab tersebut, maka diketahui bahwa para ustadz sepakat untuk mengeraskan referensi salat dalam dua rakaatnya salat Subuh, Maghrib, dan Isya, dan melirihkan referensi sholat dalam sholat dhuhur dan ashar serta rakaat ketiga dan keempat pada shalat maghrib dan Isya’. Namun gimana jika sholat tersebut adalah sholat qodho’? sedangkan kebanyakan orang melaksanakan sholat qodho’ tidak pada waktunya.

Shalat qadha’ merupakan sholat nan dilaksanakan diluar waktu nan ditetapkan. Pelaksanaan shalat qadha’ dikerjakan pada saat seseorang ingat alias sadar bahwa dia telah melewatkan sholat fardhu dari waktunya. mengenai kesunnahan dalam mengeraskan alias melirihkan referensi al-Qur’an dalam shalat qadha’ ini, disebutkan dalam kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain:

)تنبيه( يسن الجهر بالقراءة لغير مأموم في صبح وأوليي العشاءين وجمعة وفيما يقضي بين غروب  الشمس وطلوعها

“Disunnahkan untuk mengeraskan referensi bagi selain makmum didalam shalat subuh, dua rakat awal shalat isya’, shalat jum’at, shalat nan di qadha’ di antara waktu tenggelam dan terbitnya matahari” (Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari, Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratil ‘Ain, hal. 108).

Maka kesunnahan membaca keras juga bertindak dalam shalat qadha’ nan dilaksanakan di waktu antara tenggelamnya mentari sampai terbitnya matahari, begitu juga sebaliknya. Hal ini lantaran nan menjadi pedoman kesunnahan membaca keras ataupun lirih adalah pada saat waktu penyelenggaraan shalat qadha’ tersebut dilakukan, bukan waktu asal waktu sholat tersebut ketika ada’.

Seperti contoh ketika seseorang mempunyai qadha’ sholat ashar, kemudian melaksanakan sholatnya ketika mentari tenggelam, maka sholat ashar nan asalnya sirriyah (sunnah dibaca lirih) menjadi jahriyah (sunnah dibaca keras). Karena seseorang tersebut melaksanakan sholat qadha’ di waktu sholat nan disunnahkan dibaca keras, ialah diantara tenggelamnya mentari sampai terbitnya matahari. Tetapi ketentuan ini mengecualikan sholat dua hari raya. Dalam shalat dua hari raya, maka tetap dibaca jahr (keras) secara mutlak. Hal ini sebagaimana dalam kitab Hayiah I’anah al-Thalibin:

وأما فيما يقتضي بعد طلوع الشمس فيسر فيه، ولو كانت جهرية .وذلك لأن العبرة بوقت القضاء لا الأداء على المعتمد .إلا في صلاة العيدين فإنه يجهر بها مطلقا عملا بأصل أن القضاء يحكى الأداء، ولأن الشرع ورد بالجهر فيها في محل الإسرار، فيستصحب.

“Adapun sholat nan diqadha’ setelah terbit matahari, maka disunnahkan untuk membaca lirih didalamnya, meskipun shalatnya termasuk jahriyah.Yang demikian lantaran menurut Qaul Mu’tamad, nan menjadi patokan adalah pada waktu qadha’ bukan waktu ada’. Kecuali dalam sholat dua hari raya maka tetap disunahkan untuk mengeraskan bunyi secara mutlak, karena mengamalkan norma asal nan mengatakan bahwa norma qadha’ mengikuti norma ada’. Selain itu, syari’at telah menetapkan norma jahr (sunnah dibaca keras) dalam dua sholat hari raya nan dilaksanakan pada tempat kesunnahan dibaca lirih, maka kesunnahan ini juga bertindak pada waktu qadha’”. (Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha ad Dimyathi, Hasyiah I’anah al-Thalibin, Juz 1, hal. 179).

Wallahu a’lam bisshawab

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah