Sumber Kebahagiaan Abadi

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Semua manusia pasti mengharapkan kebahagiaan. Berbagai langkah mereka upayakan untuk mewujudkan kebahagiaannya. Ada nan bekerja siang dan malam untuk meraih kekayaan nan dianggapnya sebagai kebahagian. Ada juga nan menempuh segala langkah untuk mendapatkan kedudukan nan diinginkannya. Mereka tidak sadar bahwa apa nan mereka impikan dan mereka usahakan sejatinya hanyalah kebahagiaan semu. Kebahagiaan nan andaikan tidak diiringi dengan rasa syukur dan diperoleh dengan langkah nan tidak Allah ridai, seringkali justru bakal menimbulkan malapetaka bagi dirinya.

Harta nan mereka kumpulkan dengan langkah nan tidak berkah. Jabatan nan mereka raih dengan susah payah. Ketenaran nan mereka bangun dengan begitu banyak pengorbanan. Kesemuanya itu adalah kebahagiaan semu. Kebahagiaan nan bakal lenyap dan tak bakal dibawa meninggal oleh pemiliknya. Allah Ta’ala berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan bumi ini hanyalah permainan dan suatu nan melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu, serta berbangga-bangga tentang banyaknya kekayaan dan anak. Seperti hujan nan tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering, dan Anda lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di alambaka (nanti) ada balasan nan keras dan pembebasan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan bumi ini tidak lain hanyalah kesenangan nan menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

Tak jarang hal-hal nan seringkali dianggap sebagai sumber kebahagiaan oleh seseorang, di alambaka kelak justru bakal menjadi karena seseorang mendapatkan balasan Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan nasihat kepada salah satu sahabatnya,

يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya daging badan nan tumbuh berkembang dari sesuatu nan haram bakal berkuasa dibakar dalam api neraka.” (HR. Tirmidzi no. 614)

Mengenal Allah Ta’ala adalah sumber kebahagiaan abadi

Ketahuilah, wahai saudaraku, kebahagiaan sejati ada pada sejauh mana pengenalan kita kepada Allah Ta’ala, Rabb nan Mahamampu atas segala sesuatu, Rabb nan Mahakaya. Rabb nan Menentukan kebahagiaan dan kesengsaraan bagi seorang hamba.

Mengenal Allah Ta’ala adalah pintu menuju pengetahuan dan pengetahuan lainnya. Siapa saja nan mengenal Allah Ta’ala, maka dia bakal mengenal selainnya, memahami apapun nan mau dia ketahui, dan apa nan perlu dia ketahui. Adapun mereka nan tidak peduli dan tolol tentang Rabbnya, niscaya dia bakal lebih tolol lagi terhadap nan lainnya.

Mengenal Allah bakal menjadikan seseorang memprioritaskan kehidupan akhiratnya dari kehidupan dunianya. Sehingga, dia bakal lebih dekat dengan kebahagiaan hakiki. Karena konsentrasi dan prioritasnya adalah surga Allah Ta’ala yang kekal lagi penuh kenikmatan dan kebahagiaan. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Manusia nan paling sempurna ibadahnya adalah seorang nan beragama kepada Allah dengan semua nama dan sifat-sifat Allah nan diketahui oleh manusia.”

Beliau rahimahullah juga berkata,

“Yang jelas, bahwa pengetahuan tentang Allah adalah pangkal segala pengetahuan dan sebagai pokok pengetahuan seorang hamba bakal kebahagiaan, kesempurnaan, dan kemaslahatannya di bumi dan di akhirat.” (Miftah Daris Sa’adah)

Mengenal Allah Ta’ala maksudnya adalah mengenal nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-Nya. Sehingga, kita percaya bahwa diri-Nya adalah satu-satunya Tuhan nan berkuasa kita sembah, kepada-Nya semua angan dan ibadah kita berikan, dan kepada-Nyalah juga kita meminta dan memohon. Karena Dialah Tuhan nan memelihara seluruh alam ini. Allah Ta’ala berfirman,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji hanya milik Allah, Tuhan Pemelihara semesta alam.” (QS. Al-Fatihah: 1)

Dengan apa, kita mengenal Allah Ta’ala?

Jika ada nan bertanya, gimana caranya mengenal Allah Ta’ala?

Maka kita jawab, “Melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan melalui ciptaan-Nya. Lihatlah gimana siang dan malam datang silih berganti. Lihatlah gimana bulan dan mentari dapat menerangi kita. Lihatlah pula tujuh langit dan tujuh bumi beserta segala makhluk nan ada di dalamnya.”

Sebagaimana perihal ini telah Allah Ta’ala perintahkan dan Allah sebutkan di dalam Al-Qur’an. Ia berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam dan siang, mentari dan bulan. Janganlah Anda bersujud kepada mentari dan janganlah (pula Anda bersujud) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah nan menciptakannya jika Anda betul-betul hanya kepada-Nya beribadah.” (QS. Fushshilat: 37)

Ia juga berfirman,

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah nan telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia berdomisili di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang, senantiasa mengikutinya dengan cepat. Dan Dia (ciptakan pula) mentari dan bulan serta bintang-bintang (semuanya) tunduk kepada perintah-Nya. Ketahuilah, hanya kewenangan Allah mencipta dan memerintah itu. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)

Dan tentunya, semuanya kudu dengan petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya. Tidaklah kita berupaya mengenal Allah Ta’ala, selain dengan cara-cara nan telah diajarkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, bukan dengan menyendiri, bertapa, alias dengan cara-cara lainnya nan tidak pernah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Baca juga: Kebahagiaan di Balik Ahli Quran

Tidak bakal merugi bagi siapa pun nan mengenal Allah Ta’ala dengan benar

Mengenal Allah Ta’ala bakal membuahkan banyak sekali keistimewaan dan faedah bagi seorang hamba. nan paling utama adalah mengenal Allah bakal memberikan kekuatan dan keteguhan pada iktikad dan kepercayaan kita. Seorang hamba nan mengenal Allah Ta’ala tidak bakal pernah berjuntai kepada selain-Nya. Tidak takut, selain kepada-Nya. Tidak cemas bakal rezekinya dan tidak memasrahkan urusannya, selain kepada-Nya.

Dengan begitu, dia bakal menjadi hamba nan paling bahagia. Hamba nan tidak tertekan lantaran hal-hal nan semestinya tidak perlu dia takutkan ataupun dia khawatirkan. Allah Ta’ala juga mengabarkan kepada kita bahwa pintu dari iktikad nan kuat, iktikad nan membuahkan rasa takut kepada-Nya adalah dengan mengenal-Nya. Ia berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟ ۗ

“Sesungguhnya nan takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama.” (QS. Fatir: 28)

Tidaklah seseorang mencapai derajat ulama, selain dia pasti telah mengenal Allah Ta’ala terlebih dulu sebelum nan lainnya. Oleh lantaran itu, mereka disebut sebagai hamba-hamba Allah nan paling takut kepada-Nya.

Saudaraku, tidak bakal merugi seseorang nan bertauhid dan mengenal Allah Ta’ala dengan sebenar-benarnya. Karena dia bakal mendapatkan agunan kebahagiaan, baik di bumi ini maupun di alam alambaka nanti. Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa nan mengerjakan kebaikan saleh, baik laki-laki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka pasti bakal Kami berikan kepadanya kehidupan nan baik dan bakal Kami beri jawaban kepada mereka dengan pahala nan lebih baik dari apa nan telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ.

“Barangsiapa nan meninggal dan dia mengetahui bahwa tidak ada ilah (sesembahan) nan berkuasa diibadahi dengan betul melainkan Allah, maka dia masuk surga.” (HR. Muslim no. 26)

Di sabda nan lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,

يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ، ثُمَّ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَخْرِجُوْا مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ، فَيُخْرَجُوْنَ مِنْهَا قَد ِاسْوَدُّوا فَيُلْقَوْنَ فِي نَهْرِ الْحَيَاءِ -أَوِ الْحَيَاةِ، شَكَّ مَالِكٌ- فَيَنْبُتُوْنَ كَمَا تَنْبُتُ الْحَبَّةُ فِي جَانِبِ السَّيْلِ، أَلَمْ تَرَ أَنَّهَا تَخْرُجُ صَفْرَاءَ مُلْتَوِيَةً؟

“Setelah penunggu surga masuk ke surga, dan penunggu neraka masuk ke neraka, maka setelah itu Allah ‘Azza Wajalla pun berfirman, ‘Keluarkan (dari neraka) orang-orang nan di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi keimanan!’ Maka, mereka pun dikeluarkan dari neraka. Hanya saja, tubuh mereka sudah hitam legam (bagaikan arang). Lalu, mereka dimasukkan ke sungai kehidupan, maka tubuh mereka tumbuh (berubah) sebagaimana tumbuhnya bibit nan berada di pinggiran sungai. Tidakkah engkau perhatikan bahwa bibit itu tumbuh berwarna kuning dan berlipat-lipat?” (HR. Bukhari no. 6560 dan Muslim no. 184)

Mereka nan mempunyai keagamaan sekecil biji sawi saja bakal Allah Ta’ala selamatkan dari neraka lantaran keimanannya tersebut. Bagaimana dengan mereka nan mengenal Allah dengan sebenar-benarnya dan beragama kepada Allah dengan sepenuh jiwa dan raganya, tentu mereka bakal mendapatkan jawaban nan lebih besar dan lebih utama.

Saudaraku, luangkanlah dan korbankanlah sebagian waktumu untuk lebih mengenal Tuhanmu Allah Ta’ala. Milikilah waktu unik untuk mempelajari nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Tadaburilah semua keajaiban ciptaan-Nya, niscaya bakal engkau dapati kebahagiaan kekal mengikutimu. Semoga kita semua dimampukan oleh Allah Ta’ala untuk lebih mengenal diri-Nya.

Baca juga: Sumber Kebahagiaan Duniawi

***

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

Artikel: Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah