Survei: Kemampuan Baca Alquran Guru Agama Masih Rendah

Dec 18, 2025 06:44 AM - 5 bulan yang lalu 165795

Kincai Media ,JAKARTA -- Kementerian Agama (Kemenag) dan Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) mengungkap kebenaran serius mengenai keahlian baca Alquran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah umum. Hasil Asesmen Baca Al-Qur’an yang dilakukan di enam provinsi menunjukkan mayoritas pembimbing PAI masih berada pada level dasar alias pratama, sementara yang mencapai kategori mahir jumlahnya relatif kecil.

Temuan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Prof Amin Suyitno dalam kegiatan Ekspos Hasil Asesmen Baca Al-Qur’an di Sekolah yang digelar di Jakarta, Rabu (17/12/2025) malam. Hasil survei ini juga dipaparkan secara lebih rinci oleh pengajar Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) Jakarta, Prof Made Syaikhu dan KH Abdurrahim. 

Suyitno menjelaskan, program ini merupakan amanah strategis dari Bappenas agar Kementerian Agama melakukan pemetaan keahlian baca Alquran. Karena, dari survei yang dilakukan, buta huruf Alquran di kalangan pelajar tetap tinggi dan itu sangat dipengaruhi oleh kualitas gurunya. 

"Dari beberapa hasil survei ditemukan, adanya indikasi tetap banyaknya buta huruf Alquran di lingkungan anak-anak pelajar kita, anak-anak sekolah kita," ujar Suyitno dalam sambutannya. 

Berdasarkan hasil asesmen, DKI Jakarta yang menjadi letak penyelenggaraan pertama menunjukkan hanya 13 persen pembimbing PAI yang berada pada kategori mahir. Dari total 4.129 peserta, sebanyak 2.344 orang alias 57 persen tetap berada pada level pratama, sementara 30 persen berada pada level menengah.

"Itu di nomor 57 persen gimana dia kemudian bisa memegang mata pelajaran kepercayaan dan ini tentu menjadi pertanda bahwa layak saja jika anak-anak lepas sekolah itu butuh atensi khusus," ucap Suyitno.

Kondisi serupa apalagi terlihat di Provinsi Banten. Dari 8.120 peserta, pembimbing PAI yang masuk kategori mahir hanya 12 persen, sementara 60 persen tetap berada di level pratama.

Adapun Jawa Barat mencatatkan hasil paling mengkhawatirkan dari sisi proporsi. Dari 35.225 pembimbing dan pengawas PAI, hanya 9 persen yang masuk kategori mahir, sedangkan 68 persen tetap berada pada level pratama .

Dari enam provinsi yang diuji, Jawa Timur mencatatkan capaian terbaik. Sebanyak 17 persen dari 28.416 peserta sukses mencapai kategori mahir, disusul 30 persen menengah dan 52 persen pratama.

Menurut Suyitno, capaian ini diduga kuat berangkaian dengan latar belakang pembimbing PAI di Jawa Timur yang banyak berasal dari pesantren.

“Saya kira yang terbaik di Jawa Timur ya dengan nomor 17 persen, mungkin ini lantaran rata-rata alumni guru-gurunya dari pondok pesantren,” katanya.

Sementara itu, DI Yogyakarta mencatat 11 persen pembimbing mahir dari 2.995 peserta, dengan 61 persen tetap berada pada level pratama . Jawa Tengah menunjukkan 15 persen mahir, 30 persen menengah, dan 54 persen pratama dari total 28.388 peserta.

Prof Amin menegaskan, hasil asesmen ini bukan semata kritik terhadap pembimbing di lapangan, melainkan juga menjadi bahan pertimbangan serius bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), khususnya Fakultas Tarbiyah.

“Bagaimanapun, pabrik pembimbing PAI itu adalah fakultas tarbiyah. Input yang masuk kudu betul-betul berkualitas, lantaran input bakal sangat menentukan output,” jelasnya.

Hasil asesmen ini bakal menjadi dasar penyelenggaraan training baca Alquran bagi pembimbing dan pengawas PAI. Guru yang telah mengikuti training nantinya bakal mendapatkan sertifikat (syahadah) dan menjadi garda terdepan dalam program Bebas Buta Huruf Alquran di sekolah umum.

Selengkapnya