Syekh Nawawi Al Bantani Disebut Sebagai Transmitter

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin menyebut sosok Syekh Nawawi Al-Bantani sebagai transmitter, ialah penyambung maksud dan pemahaman para ustadz agar tidak terjadi kesalahpahaman.

"Beliau juga adalah menurut saya seorang transmitter. Transmitter itu penyambung dari ulama-ulama terdahulu kepada ustadz berikutnya. Beliau (berperan) sebagai penyambung sehingga tidak terjadi kesalahpahaman alias juga bisa memahami secara salah apa nan diucapkan oleh para ustadz terdahulu itu melalui syarah-syarah beliau itu," kata Wapres pada aktivitas Haul ke-131 Syekh Nawawi Al-Bantani di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara, Kabupaten Serang, Banten belum lama ini.

Syekh Nawawi Al-Bantani, pemilik nama komplit Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi bin Ali bin Jamad bin Janta bin Masbuqil Al-Bantani Al-Jawi merupakan salah satu ustadz ternama di tanah air nan lahir di sebuah desa mini di Kecamatan Tirtayasa (sekarang Kecamatan Tanara), Kabupaten Serang pada 1230 Hijriah alias 1815 Masehi.

Wapres pun menganalogikan seorang transmitter, ialah transmisi nan menjadi penyambung arus listrik sebelum akhirnya sampai pada gardu listrik. Tanpa keberadaan transmisi, arus listrik nan tidak teratur dapat menyebabkan kebakaran di gardu listrik. Analogi tersebut selaras dengan peran Syekh Nawawi sebagai penyambung pemahaman para ulama.

“Ilmu-ilmu besar para ustadz jika tidak ditransmisi, itu kelak bisa salah paham. Karena itu, banyak orang tidak memahami apa nan disampaikan oleh para ustadz terdahulu sehingga kadang-kadang menghujat ustadz terdahulu lantaran tidak paham," ujar Wapres.

Salah satu corak upaya menyambung pemahaman para ustadz nan dilakukan oleh Syekh Nawawi, ungkap Wapres, ialah menerangkan isyarat penyerahan diri dalam pengetahuan tasawuf. Penyerahan nan dimaksud bukan penyerahan secara lahir, melainkan penyerahan diri secara batin.

"Syekh Nawawi mengatakan nan dimaksud bukan penyerahan secara lahir sehingga tidak melakukan apa-apa. nan dimaksud oleh para tasawuf itu penyerahan secara batinnya, sehingga tidak menimbulkan dia menjadi orang nan tidak mengerjakan apa-apa kemudian menyerah saja. Secara lahir dia ikhtiar, tetapi secara jiwa dia pasrah kepada Allah SWT," tuturnya.

Wapres juga menyebut peran transmitter Syekh Nawawi lainnya, ialah mengenai ayat Al-Quran nan mengimbau orang-orang untuk bersiap-siap menghadapi perang.

Syekh Nawawi menafsirkan perang sebagai ancaman sehingga apa pun nan dinilai sebagai ancaman perlu diwaspadai, seperti halnya ancaman kesehatan dari pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu.

"Ayat ini juga menunjukkan wajibnya kita bersiap diri, berantisipasi terhadap setiap ancaman nan diduga bakal datang," katanya.

Diketahui, Syekh Nawawi dikenal sebagai sosok ustadz nan kaya bakal pengetahuan pengetahuan dan bisa menuangkan pemahamannya ke dalam beragam karya. Hal itu nan juga menjadikannya tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga di beragam negara, terutama di negara-negara Timur Tengah.

Selain itu, banyak dari karyanya nan sampai saat ini tetap dijadikan sebagai sumber rujukan, bahan penelitian, dan lain sebagainya.

"Dan karangannya ada nan dijadikan bahan-bahan tesis. Artinya, itu untuk mendapatkan gelar sarjana S2, salah seorang anak kita membikin tesis S2 di Kanada mengomentari tentang pemahaman tasawuf Syekh Nawawi," ungkap Wapres.

Turut datang para aktivitas haul Syekh Nawawi, ialah Pj. Gubernur Banten Al Muktabar, Kepala Kejaksaan Tinggi Banten Didik Farkhan Alisyahdi, dan ustadz muda dari Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur K.H. Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar (Gus Kautsar).

Sementara, Wapres didampingi Wury Ma'ruf Amin, Kepala Sekretariat Wakil Presiden Ahmad Erani Yustika, Deputi Bidang Administrasi Sapto Harjono W. S., Staf Khusus Wapres Masduki Baidlowi dan Imam Azis serta Tim Ahli Wapres Farhat Brachma.

sumber : Antara

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam