Kincai Media– Ada satu titik dalam kehidupan spiritual manusia di mana dia lupa bahwa dirinya hanyalah peminjam, bukan pemilik. Ia lupa bahwa napas yang dihirupnya, logika yang dipakainya untuk berpikir, apalagi kesadaran yang membuatnya bisa berbicara “aku”, semuanya adalah titipan yang sewaktu-waktu bisa ditarik kembali oleh Sang Pemberi.
Dalam kealpaan semacam inilah tumbuh bibit kesombongan: manusia mulai menyatakan apa yang bukan haknya, apalagi berani menisbatkan kepada dirinya sendiri sifat-sifat yang semata-mata milik Allah.
Syaikh Ibnu Atha’illah as-Sakandari, dalam kitab “Al-Hikam” yang disyarahkan oleh Syaikh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati, menyentuh persoalan ini dengan satu kalimat yang tampak sederhana namun menyimpan kedalaman metafisik yang luar biasa:
مَنَعَكَ أَنْ تَدَّعِيَ مَا لَيْسَ لَكَ بِمَا لِلْمَخْلُوقِيْنَ، أَفَيُبِيحُ لَكَ أَنْ تَدَّعِيَ وَصْفَهُ وَهُوَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟
Artinya: “Allah telah mencegahmu untuk menyatakan sesuatu yang bukan milikmu, sekalipun itu hanya berangkaian dengan hak-hak sesama makhluk. Maka mungkinkah Dia kemudian membiarkanmu menyatakan salah satu sifat-Nya, sedangkan Dia adalah Tuhan Pemelihara seluruh alam semesta?”
Kalimat ini bukan sekadar larangan moral biasa. Ia adalah pintu masuk menuju kesadaran tauhid yang paling dasar: bahwa eksistensi manusia, betapapun megah dia rasakan, tetap berada dalam kerangka ketergantungan absolut kepada Yang Maha Ada.
Logika Bertingkat: Dari Larangan Kecil Menuju Larangan Besar
Ibnu Atha’illah menyusun argumennya dengan logika bertingkat yang unik para sufi: dia mulai dari perihal yang paling mudah dipahami akal, lampau menariknya menuju konklusi yang jauh lebih besar. Ia mengingatkan bahwa menyatakan harta, jabatan, alias kehormatan milik sesama manusia saja sudah merupakan pelanggaran serius. Dalam bahasa syarah, tindakan ini disebut sebagai udwan, ialah sikap melampaui pemisah dan sekaligus kezaliman terhadap kewenangan orang lain.
Jika mengambil alih kewenangan sesama makhluk (yang sama-sama fana, sama-sama lemah, sama-sama membutuhkan) sudah dianggap pelanggaran serius, gimana mungkin logika yang sama tidak bertindak ketika seorang hamba berani menyatakan sifat-sifat Allah, Tuhan yang menciptakan dan memelihara seluruh alam?
Di sinilah letak kekuatan argumentasi Ibnu Atha’illah: dia menggunakan metode qiyas awla, afinitas yang lebih utama. Jika larangan mengambil kewenangan makhluk saja begitu tegas, maka larangan menyatakan sifat Sang Pencipta jauh lebih tegas dan konsekuensinya lebih berat.
Wajah-Wajah Klaim yang Tersamar
Dalam kehidupan sehari-hari, klaim atas sifat ketuhanan jarang muncul dalam corak yang vulgar. Tidak banyak orang yang secara terang-terangan berkata, “Akulah yang menciptakan,” alias “Akulah pemberi rezeki.”
Klaim semacam itu justru menyusup melalui celah-celah mini kesadaran: ketika seseorang merasa kaya lampau memandang rendah yang miskin, ketika seseorang merasa berkuasa lampau lupa bahwa kekuasaan itu titipan, ketika seseorang merasa terhormat lampau menuntut penghormatan sebagai kewenangan mutlak, ketika seseorang merasa kuat lampau meremehkan yang lemah, alias ketika seseorang merasa berilmu lampau memandang orang lain sebagai bodoh.
Semua sifat itu (kaya, berkuasa, terhormat, kuat, dan alim) pada hakikatnya adalah sifat-sifat rububiyah, sifat yang menunjukkan otoritas dan kesempurnaan yang absolut hanya layak disandarkan kepada Allah.
Manusia boleh saja mempunyai kekayaan, kekuasaan, alias ilmu, tetapi ketika dia menjadikan kepemilikan itu sebagai identitas absolut dirinya, seolah-olah sifat itu melekat secara asasi pada dirinya sendiri dan bukan sekadar pinjaman sementara, di situlah dia telah melangkah masuk ke daerah klaim ketuhanan yang paling halus.
Para arifin, ialah mereka yang telah mencapai makrifat yang mendalam, memandang persoalan ini bukan sebagai dosa biasa, melainkan sebagai corak syirik yang tersembunyi di dalam hati. Ini yang dalam tradisi tasawuf sering disebut syirik khafi: syirik yang tidak tampak dalam ritual penyembahan berhala, tetapi hidup dalam struktur ego yang menempatkan diri sendiri sebagai pusat, sebagai sekutu tersembunyi bagi Allah dalam ruang jiwa manusia.
Ego sebagai Berhala yang Paling Halus
Filsafat sufi memandang ego, alias yang biasa disebut nafs alias ananiyah (keakuan), sebagai berhala paling canggih yang pernah diciptakan oleh alam bawah sadar manusia. Berhala dari batu bisa dihancurkan dengan kapak, tetapi berhala keakuan tidak bisa dihancurkan selain dengan penyaksian yang terus-menerus bahwa segala sifat baik yang ada pada diri manusia sesungguhnya adalah pancaran dari sifat Allah, bukan milik pribadi yang berdiri sendiri.
Ketika seseorang berbicara dalam hatinya, “Aku kuat,” dia sedang lupa bahwa kekuatannya hanyalah pinjaman dari Yang Maha Kuat. Ketika dia berkata, “Aku berilmu,” dia sedang lupa bahwa pengetahuan yang dimilikinya hanyalah percikan mini dari samudra pengetahuan Allah yang tak bertepi.
Kesombongan, dalam pandangan ini, bukanlah sekadar sifat jelek yang berdiri sendiri, melainkan indikasi dari sebuah penyakit metafisik yang lebih dalam: lupa bakal posisi diri sebagai makhluk yang serba bergantung.
Inilah yang membikin penyair-filosof sufi sering menyebut jalan tasawuf sebagai jalan fana: peleburan diri, penghancuran ego, agar yang tersisa hanyalah kesadaran bakal Yang Maha Ada. Bukan berfaedah manusia kudu menghilangkan dirinya secara fisik, tetapi dia kudu menghancurkan ilusi bahwa dirinya adalah pusat dari segala sifat baik yang dia miliki.
Kibriya’ dan Azhamah: Dua Selendang yang Tak Boleh Dipinjam
Untuk mempertegas peringatan ini, Ibnu Atha’illah mengutip sebuah sabda qudsi yang menjadi salah satu teks paling menggetarkan dalam khazanah tasawuf:
الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ
Artinya: “Kesombongan adalah selendang-Ku dan kebesaran adalah sarung-Ku. Barangsiapa yang berani menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, niscaya bakal Kulemparkan dia ke dalam neraka.”
Metafora “selendang” dan “sarung” dalam sabda ini sangat kaya makna filosofis. Pakaian adalah sesuatu yang melekat pada diri seseorang, menjadi identitas visual yang membedakannya dari yang lain.
Ketika Allah menyebut kesombongan dan kebesaran sebagai pakaian-Nya, itu berfaedah kedua sifat tersebut adalah identitas eksklusif Allah yang tidak dapat dipinjam, ditiru, apalagi direbut oleh siapa pun, termasuk oleh makhluk paling mulia sekalipun.
Kata kunci dalam sabda ini adalah naza’a, yang berfaedah “menyaingi” alias “menandingi”. Para ustadz syarah menjelaskan bahwa makna menandingi di sini bukanlah dalam pengertian bentuk alias kekuatan material, melainkan dalam pengertian batin: melalui kepercayaan hati dan pengakuan lisan.
Seseorang yang di dalam hatinya meyakini bahwa kebesaran alias kesombongannya adalah miliknya sendiri, alias seseorang yang dengan lisannya menegaskan keagungan dirinya sebagai sesuatu yang berdiri sendiri tanpa sandaran kepada Allah, dia telah (secara metafisik) mencoba menandingi Sang Pemilik Sejati kedua sifat tersebut.
Kritik atas Antroposentrisme Spiritual
Jika direnungkan lebih jauh, pesan Ibnu Atha’illah ini sesungguhnya adalah kritik tajam terhadap kecenderungan antroposentrisme spiritual: mengerti yang menempatkan manusia dan pencapaiannya sebagai pusat nilai tertinggi, tanpa mengembalikannya kepada sumber yang lebih transenden.
Dunia modern, dengan segala pemujaannya terhadap pencapaian individu, kesuksesan pribadi, dan aktualisasi diri, sesungguhnya rentan menumbuhkan corak klaim ketuhanan yang sama, hanya dengan bungkusan yang berbeda.
Budaya kontemporer sering mengajarkan bahwa manusia adalah “pencipta nasibnya sendiri”, bahwa kesuksesan adalah murni hasil kerja keras pribadi tanpa keterlibatan aspek apa pun di luar diri.
Narasi semacam ini, meskipun tampak memotivasi, sesungguhnya menyimpan potensi ancaman spiritual yang sama seperti yang dikritik Ibnu Atha’illah delapan abad yang lalu: manusia mulai memandang dirinya sebagai sumber dari kekuatan, kekayaan, dan kecerdasannya sendiri, bukan sebagai penerima yang berutang budi kepada Yang Maha Memberi.
Kritik tasawuf terhadap kejadian ini bukanlah rayuan untuk pasif alias menafikan upaya manusia. Sebaliknya, dia adalah rayuan untuk meletakkan upaya manusia dalam kerangka yang benar: bahwa segala daya, upaya, kecerdasan, dan keberhasilan adalah hidayah yang dipinjamkan, bukan kewenangan milik yang berdiri sendiri secara ontologis.
Jalan Menuju Kesadaran Hakiki: Antara Rasa Syukur dan Peniadaan Diri
Lantas, gimana manusia bisa keluar dari jerat klaim lembut ini? Tasawuf menawarkan jalan yang disebut sebagai tahaqquq bi al-ubudiyyah, ialah perwujudan diri secara total sebagai hamba. Ini bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan penghayatan mendalam bahwa setiap sifat baik yang dimiliki manusia adalah pancaran, bukan sumber.
Ada perbedaan mendasar antara mempunyai kekayaan dan merasa mempunyai kekayaan sebagai kewenangan absolut. Ada perbedaan antara mempunyai pengetahuan dan merasa bahwa pengetahuan itu menjadikan diri lebih tinggi dari yang lain secara hakiki. Kesadaran sufi mengajarkan bahwa segala kepemilikan duniawi hanyalah amanah sementara yang kudu disyukuri, bukan dibanggakan sebagai identitas permanen.
Dalam konteks ini, rasa syukur menjadi penawar bagi racun kesombongan. Ketika seseorang bersyukur, dia mengakui bahwa apa yang dimilikinya datang dari luar dirinya. Sebaliknya, ketika seseorang sombong, dia menyatakan bahwa apa yang dimilikinya adalah hasil murni dari dirinya sendiri, terlepas dari kombinasi tangan Yang Maha Memberi.
Merunduk di Hadapan Yang Maha Besar
Hikmah yang disampaikan Ibnu Atha’illah ini pada akhirnya mengantarkan manusia pada satu kesadaran fundamental: bahwa kebesaran sejati hanya layak disandarkan kepada Allah, dan manusia, betapapun tinggi pencapaiannya, tetaplah makhluk yang fana dan bergantung.
Mengklaim sifat-sifat ketuhanan, baik secara terang-terangan maupun secara lembut melalui kesombongan batin, adalah corak pelanggaran paling mendasar terhadap tatanan kosmis yang telah ditetapkan sejak azali.
Pesan ini relevan bukan hanya bagi mereka yang menempuh jalan spiritual formal, tetapi bagi setiap manusia yang hidup dalam bujukan untuk merasa besar, merasa berkuasa, alias merasa berkuasa atas pengakuan mutlak. Di titik inilah tasawuf menawarkan penawar yang paling sederhana namun paling susah dijalankan: merunduk.
Merunduk bukan sebagai tanda kelemahan, melainkan sebagai pengakuan jujur bahwa segala kebesaran yang tampak pada diri manusia hanyalah gambaran tipis dari Kebesaran yang sesungguhnya, yang tidak pernah, dan tidak bakal pernah, bisa dipinjam oleh siapa pun selain Pemiliknya yang hakiki. Wallahi a’lam bisshawab.
*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.