Tak Sempat Puasa Dam Di Makkah? Ini Cara Mengqadhanya!

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

BincangSyariah.com– Dalam Islam, seseorang nan melakukan pelanggaran tanggungjawab haji alias melakukan sesuatu nan diharamkan saat ihram. Maka wajib bayar denda (dam) berupa kambing alias hewan kurban. Bila tidak, maka kudu melakukan puasa sepuluh hari. Tiga hari dilakukan saat tetap di Makkah. Tujuh hari dilaksanakan ketika sudah pulang. Lalu, gimana jika tidak sempat puasa dam di Makkah?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, perihal nan perlu kita pahami bahwa ketentuan untuk bayar dam bagi orang nan haji saat melanggar tanggungjawab haji termaktub dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah [2]: 196).

فَإِذَآ أَمِنتُمْ فَمَن تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ…

“Apabila kalian telah (merasa) aman, maka bagi siapa nan mau mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji/tamattu), (wajiblah dia menyembelih) kurban nan mudah didapat. Tetapi jika dia tidak menemukan (binatang kurban alias tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) andaikan kalian telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) nan sempurna…,” (Surat Al-Baqarah ayat 196).

Ayat tersebut menjelaskan tanggungjawab dam alias denda berikut mekanismenya. Pertama, menyembelih hewan kurban nan mudah dijumpai. Kedua, jika tidak bisa menyembelih hewan kurban, maka wajib berpuasa 10 hari.

Lebih perincian lagi mengenai puasanya, ialah 3 hari dilaksanakan ketika tetap di Makkah (haji). Sementara 7 hari dilakukan jika sudah berada di rumahnya.

Akan tetapi tak sedikit jemaah haji, kadang tidak sempat untuk melakukan puasa 3 hari di Makkah lantaran banyak hal. Antara lain merasa kerepotan dengan ritual-ritual haji nan tersisa, alias tidak kuat lantaran cuaca geografis nan relatif berbeda dengan di Indonesia. 

Teknis Pelaksanaan Puasa Dam nan Dilakukan di Rumah

Oleh karena itu, ustadz fikih mewanti-wanti kasus demikian maka memberikan ketentuan bahwa tetap wajib berpuasa tiga hari meski sudah ada di negaranya. Hanya saja statusnya sebagai puasa qadha’.

Lebih lanjut, Muhammad Ibnu Qāsim al-Ghazī dalam kitab Fathul-Qarīb laman 158 menjelaskan mekanismenya.

ولو لم يصم الثلاثةَ في الحج ورجع لزمه صوم العشرة، وفرَّق بين الثلاثة والسبعة بأربعة أيام ومدة إمكان السير إلى الوطن

“Seandainya seseorang tidak wajib berpuasa 3 hari saat haji dan dia pulang ke negaranya maka wajib atas orang itu berpuasa 10 hari (di negaranya tersebut). Dan di pisah antara 3 hari dengan 7 hari dengan 4 hari dan masa perjalanan pulang ke negaranya”. 

Dari keterangan tersebut bisa kita ketahui bahwa dalam penyelenggaraan puasa itu tetap wajib dipisah 4 hari ditambah masa perjalanan pulang. 

Artinya, seseorang itu puasa 3 hari lampau tidak puasa 4 hari ditambah masa perjalanan pulang, setelah itu baru melanjutkan puasa 7 hari.

Mengapa dipisah 4 hari dan masa perjalanan?

Syekh Khatib Syarbini dalam kitab al-Iqnā’ Fi Halli Alfadzi Abi Syuja’ juz 1 perihal 265 menjelaskan bahwa empat hari sebagai pemisah itu adalah sebagai dugaan 1 hari nahr (idul adha) dan 3 hari tasyriq nan memang tak semestinya berpuasa di hari tersebut. 

Sementara masa perjalanan pulang sebagai pemisah puasa lantaran orang nan berpuasa 3 hari di Makkah dan 7 hari di rumahnya maka pasti dipisah dengan masa perjalanan.

Dalam kitab al-Iqnā’ Fi Halli Alfadi Abi Syuja’ juz 1 perihal 265, Syekh Khatib Syarbini mengatakan:

وَلَو فَاتَتْهُ الثَّلَاثَة فِي الْحَج بِعُذْر أَو غَيره لزمَه قَضَاؤُهَا وَيفرق فِي قَضَائهَا بَينهَا وَبَين السَّبْعَة بِقدر أَرْبَعَة أَيَّام يَوْم النَّحْر وَأَيَّام التَّشْرِيق وَمُدَّة إِمْكَان السّير إِلَى أَهله على الْعَادة الْغَالِبَة كَمَا فِي الْأَدَاء

“Seandainya seseorang tidak sempat berpuasa 3 hari saat haji lantaran satu dan lain perihal maka wajib mengqadha. Dan di pisah antara mengqadha 3 hari dan 7 hari dengan kadar 4 hari: 1 hari nahr dan 3 hari tasyriq serta masa perjalanan pulangnya sesuai budaya nan bertindak sebagaimana ada’”.

Konsekuensi Puasa nan Tidak Dipisah

Konsekuensinya, orang nan berpuasa 10 hari berturut-turut di negaranya maka puasanya hanya sah nan 3 hari sementara 7 harinya tidak sah dan denda (dam) nya tidak gugur sehingga tetap wajib dipenuhi.

Syekh Khatib Syarbini dalam kitab dan laman nan sama menandaskan.

فَلَو صَامَ عشرَة وَلَاء حصلت الثَّلَاثَة وَلَا يعْتد بالبقية لعدم التَّفْرِيق

“Seandainya seseorang berpuasa 10 hari berturut-turut maka nan tercapai hanya 3 hari dan sisanya tidak dianggap lantaran tidak ada pemisahnya”. (al-Iqnā’ Fi Halli Alfadzi Abi Syuja’ juz 1 perihal 265).

Demikianlah penjelasan mengenai sistem puasa dam nan tak sempat dilaksanakan saat haji. Wallahu ‘alam. [Baca juga: Dam Bagi Orang Melanggar Wajib Haji].

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah