Tak Semua Dusta Menimbukan Dosa

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Seorang sahabat pernah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Mungkinkah seorang Muslim itu pembohong?” Rasulullah SAW menjawab, “Tidak!” Sayyid Sabiq dalam sebuah kitabnya menjelaskan perihal sabda tersebut. Menurutnya, jawaban Nabi SAW itu menegaskan, ketaatan dan kebiasaan mendusta tidak bisa berkumpul dalam hati seorang Muslim.

Sebab, Islam tidak bakal tumbuh dan kokoh dalam pribadi nan tidak jujur. Rasul SAW juga pernah bersabda, “Jauhilah kebohongan. Sungguh, ketidakejujuran mengantarkan kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan kepada neraka. Seseorang nan biasa berbohong, maka dia bakal ditulis di sisi Allah sebagai pembohong” (HR Bukhari-Muslim).

Akan tetapi, ada beberapa situasi nan di dalamnya seorang Muslim ditoleransi jika sampai berdusta. Sebab, ketidakejujuran nan dilakukannya boleh jadi menimbulkan maslahat. Berikut ini adalah tiga konteks nan dimaksud, sebagaimana dinukil dari sebuah hadis.

Siasat dalam perang

Dalam sabda nan diriwayatkan Ibnu Syihab, disebutkan bahwa Rasulullah SAW menoleransi ketidakejujuran yang dilakukan Muslimin dalam perang. Maksudnya, pertempuran nan di dalamnya umat Islam berjuang memihak kepercayaan Allah SWT. Dalam situasi demikian, mereka diperbolehkan berbohong untuk mengelabui musuh. Termasuk dalam perihal ini, penerapan strategi alias siasat perang nan dapat memperdaya musuh di medan pertempuran.

Tentunya, ketidakejujuran ini tidak sama dengan pelanggaran terhadap suatu perjanjian tenteram nan telah dibuat antara Muslimin dan musuh. Adapun contoh bohong yang dibolehkan itu ialah, mengecat rambut para prajurit Muslim nan sudah tua. Dengan begitu, rambut putih pada kepala mereka bakal tersamarkan. Dan, musuh bakal mengira mereka sebagai pasukan muda.

Upaya mendamaikan

Dalam sabda nan diriwayatkan Ummu Kultsum binti Uqbah Abi Mu’ith, Nabi SAW diketahui pernah berfirman tentang sebuah ketidakejujuran nan ditoleransi. Dusta tersebut adalah nan dilakukan untuk mendamaikan dua orang alias kubu Muslimin nan sedang bertikai. Cara itu bisa ditempuh andaikan sudah tidak ada jalan lain lagi untuk mendamaikan mereka.

Sebagai contoh, seorang penengah dapat mengatakan kepada seseorang bahwa fulan telah berbicara sangat baik tentang dirinya. Kemudian, dia menjumpai si fulan dan menyampaikan bahwa orang tadi sebenarnya memandang pada dan mengagumi sifat-sifat baiknya. Berkata baik dan melebih-lebihkan kebaikan itu, walaupun berbohong, diperbolehkan untuk menyambung kembali silaturahim nan terputus.

Interaksi suami-istri

Dalam sabda nan sama, Rasul SAW juga menoleransi perkataan bohong dari seorang suami kepada istrinya. Begitu pula sebaliknya. Seorang istri boleh mendusta kepada sang suami. Itu selama tujuannya maslahat.

Sebagai contoh, ketika seorang suami mencicipi masakan buatan istrinya. Sang suami tetap memuji-muji masakan itu walaupun, pada faktanya, sajian itu tidaklah enak. Atau, seorang istri menyanjung penampilan suaminya meskipun busana nan dikenakannya tidak bagus.

Kebolehan mendusta itu menjadi haram jika berangkaian dengan tunainya kewenangan dan tanggungjawab serta kegunaan suami dan istri dalam rumah tangga. Misal, tidak boleh suami berbohong dengan mengatakan kepada istri dan anaknya, “Saya tidak punya uang.” Padahal, dia hanya mau menggunakan semua uangnya untuk maksiat.

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam