Teks Khotbah Jumat: 5 Bukti Kecintaan Kepada Nabi Muhammad

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Khotbah pertama

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

أَمَّا بَعْدُ:

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat nan dimuliakan Allah Ta’ala.

Pertama-tama, khatib beramanat kepada diri khatib pribadi dan kepada para jemaah sekalian, marilah senantiasa menjaga kualitas ketakwaan kita dan family kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan senantiasa menjalankan apa-apa nan diperintahkan oleh Allah Ta’ala, ataupun dengan meninggalkan perkara-perkara nan dapat mengantarkan kita ke dalam api neraka. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang nan beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka nan bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat nan kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa nan diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa nan diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Jemaah nan dimuliakan Allah Ta’ala, Sungguh, kita diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk mencintai Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi siapa pun nan ada di bumi ini. Allah Ta’ala berfirman menakut-nakuti siapa pun nan menjadikan selain Nabi Muhammad sebagai sesuatu nan paling dicintainya,

قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, kekayaan kekayaan nan Anda usahakan, perniagaan nan Anda khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal nan Anda sukai, kesemuanya itu lebih Anda cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang nan fasik.” (QS. At-Taubah: 24)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka nan bakal menimpa kalian.”

Ancaman keras ini menunjukkan kepada kita bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melampaui kecintaan kita kepada makhluk lainnya hukumnya adalah wajib. Di ayat nan lain, Allah Ta’ala juga menegaskan bahwa mencintai Nabi juga kudu didahulukan dan diutamakan dari mencintai diri sendiri. Allah Ta’ala berfirman,

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. Al Ahzab: 6)

Hanya saja, wahai jemaah nan semoga senantiasa mendapatkan rahmat Allah Ta’ala,

Di dalam mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kita tidak boleh asal-asalan dan serampangan. Agama kita adalah kepercayaan nan berdiri di atas dalil dan petunjuk Allah serta Rasul-Nya. Bahkan, di dalam perihal mencintai sekalipun, semuanya sudah ada petunjuk dan dalil nan mengaturnya. Seorang muslim dituntut untuk berpatokan dengan dalil dan petunjuk tersebut di dalam mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Berikut ini wahai jemaah sekalian, lima bukti kuat nan andaikan terdapat di dalam diri seorang muslim, maka dia layak untuk dikatakan mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sebenar-benarnya.

Yang pertama adalah senantiasa mengikuti aliran beliau dan menghidupkan sunah-sunah nan telah beliau ajarkan.

Mencintai Nabi nan betul mempunyai konskuensi ketaatan penuh kepada perintah dan wahyu nan telah diturunkan kepada beliau, begitu pula kesadaran penuh dari diri kita untuk meninggalkan apa-apa nan beliau larang. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika Anda (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’” (QS. Ali Imran: 31)

Tidaklah mungkin seorang mukmin mengaku-ngaku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun tetap banyak sekali perintah kepercayaan nan tidak dia kerjakan, tetap banyak sekali larangan hukum nan dia lakukan dan dia langgar, dan dirinya sama sekali tidak berdandan dengan adab-adab nan telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kedua, Memperbanyak penyebutan beliau.

Yaitu, dengan memperbanyak selawat serta salam kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang nan beriman, berselawatlah Anda untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Mereka nan tidak berselawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala nama beliau disebut, oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dicap sebagai orang nan pelit. Beliau bersabda,

الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

“Orang nan bakhil dan pelit itu adalah orang nan jika namaku disebut di dekatnya, namun dia tidak berselawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi no. 3546, Ahmad no. 1736, dan An-Nasa’i no. 8100)

Di antara corak banyak menyebut beliau nan lain adalah dengan menyebut keutamaan-keutamaan nan beliau miliki, menceritakan juga sifat dan adab beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga, kaum muslimin menjadi semangat di dalam berupaya untuk meniru beliau serta menjalankan sunah-sunah nan telah beliau ajarkan.

Ketiga, Mencintai orang-orang nan dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Di antara iktikad mahir sunah wal jamaah adalah mencintai ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, menyayangi mereka, dan menjaga wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mereka di mana beliau bersabda,

أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي

“Aku ingatkan kepada kalian semua agar berpatokan kepada norma Allah dalam memperlakukan keluargaku.” (Beliau ucapkan sebanyak tiga kali).” (HR. Muslim no. 2408)

Hal ini juga telah dipraktikkan oleh para sahabat dulu kala. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَرَابَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ أَصِلَ مِنْ قَرَابَتِي

“Demi Zat nan jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih saya sukai untuk saya sambung (silaturahmi) daripada kerabatku sendiri.” (HR. Bukhari no. 3711 dan Muslim no. 1759)

Hanya saja nan perlu kita garis bawahi, wahai saudaraku, bahwa kemuliaan nasab tidaklah identik dengan kemuliaan seseorang di sisi Allah Ta’ala dan bahwasanya tidak ada nan dapat meninggikan kedudukan seorang hamba di sisi Allah, selain ketakwaannya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُم

“Sesungguhnya orang nan paling mulia di antara Anda di sisi Allah adalah orang nan paling bertakwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Di dalam sebuah sabda nan sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُه

“Barangsiapa nan lambat amalnya, maka tingginya garis keturunan tidak bisa mempercepat amalnya.” (HR. Muslim no. 2699)

Oleh lantaran itu, kemuliaan nasab keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ahlu bait-nya juga berangkaian erat dengan kesalehan dan kebaikan ibadah mereka. Siapa saja dari ahlu bait nan menjaga amalnya dan kesalehannya, mereka itulah nan layak mendapatkan kemuliaan. Dan siapa saja nan mengaku-ngaku alias berbesar hati diri dengan nasabnya tersebut, namun tidak dibarengi kesalehan dan kebaikan ibadahnya, maka nasabnya tersebut tidaklah berbobot apa-apa.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Baca juga: Inilah Gambaran Cinta Nabi Dahulu dan Sekarang

Khotbah kedua

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ

Jemaah salat Jumat nan dirahmati Allah Ta’ala.

Bukti keempat dari kejujuran cinta seorang muslim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah besarnya angan untuk memandang beliau dan kerinduan untuk berjumpa dengannya. Bahkan, perihal itu bakal dia lakukan, meskipun kudu dengan pengorbanan kekayaan dan keluarga.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا: نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي، يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ

“Di antara umatku nan sangat mencintaiku adalah orang-orang sepeninggalku. Salah seorang di antara mereka mau melihatku dengan (mengorbankan) keluarganya dan hartanya.” (HR. Muslim no. 2832)

Yang kelima dan terakhir, wahai saudaraku, adalah menghindarkan diri dari perkara nan diada-adakan dalam kepercayaan dan segala macam corak ke-bid’ah-an.

Sebagian orang mengira bahwa dirinya boleh menggambarkan dan mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan segala langkah nan dia inginkan, tanpa perlu memperhatikan sama sekali petunjuk dan kaidah-kaidah hukum nan berlaku. Mereka turuti kemauan hawa nafsu mereka dengan dalih kecintaan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal, Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ

“Dan siapakah nan lebih sesat daripada orang nan mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun.” (QS. Al-Qasas: 50)

Mereka membikin ritual-ritual dan perayaan-perayaan nan sejatinya tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum sepeninggal beliau. Sebagian dari mereka berlebih-lebihan di dalam memuji sampai pada tahapan menyamakan kedudukan beliau dengan Tuhan. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita agar tidak jatuh ke dalam ke-bid’ah-an. Beliau bersabda,

إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Waspadalah terhadap perkara-perkara baru (dalam ibadah). Sesungguhnya setiap perihal nan baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607, Ahmad no. 17145, dan At-Tirmidzi no. 2676)

Ketahuilah, wahai saudaraku, pengakuan cinta saja tidaklah cukup. nan terpenting nan kudu kita jaga adalah keselarasan kebaikan ibadah dan gerak-gerik kita dengan apa nan telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya nan betul-betul mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, menjadikan kita salah satu umatnya nan mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. Ya Allah kumpulkanlah kami dan pertemukanlah kami dengan kekasih-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di surga-Mu nan penuh kenikmatan dan kerinduan.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

اللَّهُمَّ انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنَِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ

وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Baca juga: Jika Anda Mencintai Allah, Ikuti Tuntunan Rasulullah

***

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

Artikel: Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah