Telaah Kritis Hadis Dalil Keharaman Musik

Sedang Trending 4 minggu yang lalu

Kincaimedia– Berikut ini artikel akan membahas telaah kritis sabda dalil keharaman musik. Pasalnya, sampai saat ini, perdebatan seputar musik tetap menjadi rumor hangat di tengah masyarakat. Seolah-olah perdebatan ini tidak menemukan ujung terang dan titik temunya. Ada nan bilang musik itu haram dan merupakan cikal bakal kemunafikan.

Pada saat nan sama juga ada nan beranggapan bahwa musik itu boleh-boleh saja, apalagi musik dianjurkan dimainkan saat prosesi pernikahan. Pada umumnya perdebatan ini berakar dari perbedaan pendapat para ustadz dalam menilai dan memahami sabda seputar musik.

Hadis nan sering kali dijadikan landasan atas keharaman musik adalah sabda riwayat Imam al-Bukhari di dalam kitab Sahihnya. Dari sahabat Abu Malik al-Asy’ari ra Rasulullah Saw bersabda:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ ‌يَسْتَحِلُّونَ ‌الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

”Sungguh bakal ada sebagian dari umatku nan menghalalkan zina, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik.”

Meskipun sabda ini termaktub dalam Sahih al-Bukhari, namun sayangnya dia tidak lepas dari perdebatan para ustadz mengenai kualitas kebenarannya berasal dari Nabi Saw. Para ustadz berbeda dalam memastikan berjumpa alias tidaknya Imam al-Bukhari dengan gurunya Hisyam bin Ammar.

Keraguan ini berangkat dari redaksi “قَالَ” nan digunakan Imam al-Bukhari di sanad sabda ini ketika meriwayatkan sabda dari Hisyam bin Ammar. Sehingga menurut Ibnu Hazam sanad sabda ini terputus.

Kritikan Ibnu Hazm ini dijawab oleh Ibnu Qayyim dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan Min Mashaidis Syaithan. Menurutnya Imam al-Bukhari telah berjumpa Hisyam bin Ammar dan telah mendengarkan hadits darinya Maka jika al-Bukhari mengatakan, “Hisyam telah berkata. ” itu berfaedah sama artinya dengan mengatakan, “Dari Hisyam.”

Tanggapan Ibnu Qayyim tersebut didukung dengan beberapa sabda lain nan dia terima dari Hisyam bin Ammar di dalam kitab sahihnya dengan menggunakan redaksi “حدثنا”. Ini menjadi bukti kuat bahwa Imam al-Bukhari berjumpa langsung dengan gurunya Hisyam bin Ammar.

Meskipun jika kita bisa sepakat tentang validitas sabda ini, namun perlu juga dicatat bahwa sabda ini tidak serta merta bisa dijadikan sebagai argumentasi keharaman musik. Berikut beberapa argumen kenapa sabda ini kurang tepat dijadikan dalil keharaman musik:

  1. Keharaman musik disinyalir dari lafaz “يَسْتَحِلُّوْنَ” nan artinya menghalalkan alias menganggap sesuatu itu halal. Artinya lafaz ini digunakan untuk menunjukkan sesuatu nan haram. Dalam konteks sabda ini maka maknanya adalah mereka nan menganggap musik itu legal padahal hukumnya haram.

Akan tetapi, makna lafaz “يَسْتَحِلُّوْنَ”  tidak hanya berkonotasi pada membolehkan sesuatu nan haram alias menghalalkannya. Menurut Abdullah bin Yusuf al-Judai’ dalam kitabnya al-Musiqa wa al-Gina fii Mizani al-Islam, lafaz ini juga digunakan untuk menunjukkan sesuatu nan halal. Hal ini beliau landaskan kepada sabda Nabi Saw nan diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi nan berbunyi:

فَمَا وَجَدْنَا فِيهِ ‌حَلَالًا ‌اسْتَحْلَلْنَاهُ

“Apa nan kami temukan nan legal darinya maka kami menghalalkannya.”

Jadi pemaknaan lafaz “يَسْتَحِلُّوْنَ” ini mempunyai dua konotasi, bisa dimaknai untuk menunjukkan sesuatu nan legal dan juga bisa kepada nan haram.

Abdullah bin Yusuf al-Judai’ melanjutkan bahwa konotasi makna “يَسْتَحِلُّوْنَ” tergantung kepada aspek lain di luar lafaz tersebut. Sehingga tidak boleh disimpulkan bahwa argumen keharaman musik di sabda ini berasas lafaz  “يَسْتَحِلُّوْنَ” tersebut.

  • Alasan nan kedua adalah mengenai sutra.

Alasan ini memperkuat argumentasi nan sebelumnya. Pasalnya, jika memang lafaz “يَسْتَحِلُّوْنَ” itu mutak menunjukkan keharaman sesuatu, maka perihal ini bakal bertentangan dengan sabda nan lain nan membolehkan memakai sutra bagi kaum hawa dan bagi laki-laki jika ada uzur. Alasan ini mempertegas bahwa sabda ini tidak menunjukkan absolut keharaman musik.

  • Penempatan Bab

Jika kita perhatikan posisi sabda ini dalam kitab sahih al-Bukhari, maka bakal kita temukan bahwa sabda ini tidak berada di bab mengharamkan musik. Namun sabda ini berada di bab tentang orang nan menghalalkan khamar dan menamakannya dengan nama nan lain.

Oleh lantaran itu, Syekh Yusuf al-Qardhawi menekankan bahwa sabda ini lebih konsentrasi membidik sifat prilaku peminum khamar, bukan orang nan bermain musik. Mereka memanjakan diri dengan kemewahan, bumi malam, minuman khamar dan perempuan, sedangkan musik hanyalah bagian pelengkap saja.

Atas dasar ini, Syekh Qardhawi cendrung memahami bahwa sabda ini berbincang tentang perilaku seorang peminum khamar, bukan pada persoalan musik. Oleh lantaran itu, lanjut Qardhawi, Imam Ibnu Majah meriwayatan sabda ini dari Abu Malik al-‘Asy’ari dengan menggunakan lafaz:

لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرَ يُسَمُّونَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا يُعْزَفُ عَلَى رُءُوسِهِمْ بِالْمَعَازِفِ وَالْمُغَنِّيَاتِ يَخْسِفُ اللَّهُ بِهِمُ الأَرْضَ وَيَجْعَلُ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ ‏”‏ ‏.

 “Akan ada sekelompok orang dari umatku nan meminum khamar, mereka menamakannya dengan nama nan lain, dimainkan di atas kepada mereka perangkat musik, dan penyanyi-penyanyi wanita. Maka Allah bakal menenggelamkan mereka ke dalam tanah dan menjadikan sebagian mereka monyet dan babi.”

Oleh lantaran itu, istidlal atas keharaman musik berasas sabda ini dipandang lemah oleh para ulama.

  • Kata Ma’azif

Menurut Syekh Ja’far bin Tsa’lab al-Udfuwi kata ma’azif mempunyai makna nan musytarak (satu kata banyak makna), bisa jadi dengan makna alat-alat musik tertentu dan juga bisa dimaknai sebagai perangkat musik secara umum. Dan menurut jumhur mahir ushul fikih pendapat nan dipilih adalah tawaqquf (menangguhkan) pada makna nan musytarak sampai ada dalil nan jelas menunjukkannya. Dengan kata lain, tidak makna nan pasti dari lafaz tersebut.

Terlepas dari perdebatan soal makna dari sabda di atas, di lain hal, justru ditemukan sabda nan lebih sharih (eksplisit) nan menjelaskan kebolehan musik. Hadis ini sangat susah untuk dibantah, mengingat sabda nan berbincang tentang kebolehan musik itu berbobot sahih dan secara konkret menyebut masalah musik. Diantaranya riwayat Aisyah ra berikut:

“Abu Bakr pernah datang ke rumahnya, saat itu dia berbareng dua orang budak wanita Anshar, keduaya menyanyi dengan apa nan diucapkan oleh kaum Anshar saat Hari Bu’as. Aisyah menambahkan bahwa keduanya bukanlah Muganniyat (penyanyi nan membangkitkan nafsu birahi untuk bermaksiat).

Lalu Abu Bakr berkata,”mengapa seruling syetan ada di rumah Rasulullah SAW?” Sedangkan pada saat itu adalah hari raya. Rasulullah SAW pun bersabda, “biarkan mereka wahai Abu Bakr. Sesungguhnya setiap kaum mempunyai hari raya, dan ini adalah hari raya kita.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari sabda ini, secara tegas Rasulullah Saw membantah pernyataan Abu Bakar nan menyamakan musik dengan seruling syetan. Beliau menegaskan bahwa hari itu adalah hari raya nan identik oleh kesenangan dan kegembiraan. Atas dasar ini, pada kesempatan nan lain, Abu Bakar tidak lagi mempersoalkan pagelaran musik tersebut. Fakta ini ditunjukkan oleh sabda riwayat Imam Tirmidzi berikut:

وَعَنْ بُرَيْدَةَ الْأَسْلَمِيِّ رضي الله عنه قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي بَعْضِ مَغَازِيهِ, فَلَمَّا انْصَرَفَ جَاءَتْ جَارِيَةٌ سَوْدَاءُ, فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي كُنْتُ نَذَرْتُ إِنْ رَدَّكَ اللهُ سَالِمًا أَنْ أَضْرِبَ بَيْنَ يَدَيْكَ بِالدُّفِّ وَأَتَغَنَّى, فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنْ كُنْتِ نَذَرْتِ فَاضْرِبِي, وَإِلَّا فلَا, فَجَعَلَتْ تَضْرِبُ, فَدَخَلَ أَبُو بَكْرٍ رضي الله عنه وَهِيَ تَضْرِبُ, ثُمَّ دَخَلَ عَلِيٌّ رضي الله عنه وَهِيَ تَضْرِبُ, ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ رضي الله عنه وَهِيَ تَضْرِبُ, ثُمَّ دَخَلَ عُمَرُ رضي الله عنه فَأَلْقَتْ الدُّفَّ تَحْتَ اسْتِهَا ثُمَّ قَعَدَتْ عَلَيْهِ, فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَخَافُ مِنْكَ يَا عُمَرُ, إِنِّي كُنْتُ جَالِسًا وَهِيَ تَضْرِبُ, فَدَخَلَ أَبُو بَكْرٍ وَهِيَ تَضْرِبُ, ثُمَّ دَخَلَ عَلِيٌّ وَهِيَ تَضْرِبُ, ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ وَهِيَ تَضْرِبُ, فَلَمَّا دَخَلْتَ أَنْتَ يَا عُمَرُ أَلْقَتْ الدُّفَّ

Buraidah al-Aslami ra. berkata: Rasulullah Saw pernah pergi perang. Ketika pulang datanglah gadis berkulit hitam seraya berkata: Wahai Rasulullah, saya nadzar jika engkau pulang dengan selamat, maka bakal saya tabohkan rebana dan menyanyi di hadapanmu. Maka Rasulullah saw. bersabda: Jika Anda telah nadzar, maka tabohlah rebana itu, jika tidak, maka jangan lakukan. Lalu dia memainkan rebana tersebut.

Kemudian Abu Bakar masuk dan dia (budak) tetap menaboh rebananya. Ketika Ali masuk dia juga tetap menaboh rebananya. Ketika Utsman masuk dia tetap menaboh rebananya. Kemudian ketika Umar masuk, maka dia menyembunyikan rebananya di bawah pantatnya dan mendudukinya. Maka Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya setan takut padamu wahai Umar. Ketika saya duduk, dia menaboh rebanaya. Ketika Abu Bakar masuk dia tetap menaboh rebananya. Ketika Utsman masuk dia tetap menaboh rebananya. Namun ketika Anda masuk dia pun menyembunyikan rebananya.

Tampak jelas di sabda ini bahwa Abu Bakar tidak lagi berkomentar negatif terhadap musik. Begitu pula Rasulullah Saw dan sahabat lainnya. Di samping itu, sabda ini juga menunjukkan bahwa musik itu diperbolehkan. Pasalnya, dalam sabda ini dijelaskan bahwa Rasulullah Saw memperbolehkan orang bernazar untuk bermain musik. Jika seandainya musik itu haram, tentu Rasullullah Saw melarangnya. Karena bernazar dengan sesuatu nan haram tidak diperbolehkan dalam Islam.

Dari pemaparan di atas, sabda nan biasanya digunakan untuk mengharamkan musik dinilai kurang tepat dijadikan dalil keharaman musik oleh beberapa Ulama. Di sisi lain, justru fakta-fakta konkret menunjukkan bahwa Nabi Saw memperbolehkan bermain musik dalam beberapa kesempatan, termasuk bernazar dengan memainkan perangkat musik.

Wallahu a’lam

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah