Terkenang Mbah Moen, Tokoh Ri Yang Wafat Di Tanah Suci

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Saat berada di Tanah Suci, umumnya jamaah haji tidak hanya melakukan syarat dan rukun haji. Mereka juga menyempatkan diri untuk mengunjungi pelbagai tempat nan berbobot sejarah di Makkah maupun Madinah.

Bagi jamaah asal Indonesia, rasanya tak komplit jika tidak berkunjung ke kompleks permakaman di kota suci. Minimal, mereka bakal berupaya untuk mengunjungi makam Nabi Muhammad SAW di Madinah.

Kemudian, ada pula Jannatul Ma'la sebagai salah satu area permakaman nan terkenal di Makkah. Bukan hanya penduduk setempat, tak sedikit pula orang luar Arab nan jenazahnya dikebumikan di sana.

Di antara mereka adalah KH Maimun Zubair. Sosok nan berkawan disapa Mbah Moen itu wafat di Makkah pada saat penyelenggaraan haji tahun 2019 lalu. Jenazah pengasuh Pondok Pesantren al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah, itu dimakamkan di Jannatul Ma'la.

Mbah Moen lahir di Rembang pada 28 Oktober 1928. Artinya, pada saat wafatnya sang pembimbing bangsa mencapai umur 90 tahun.

Mbah Moen tumbuh besar di lingkungan santri. Saat tetap berumur anak-anak, dia mengaji langsung kepada orang tuanya. Ayahnya merupakan siswa dari Syekh Said al-Yamani dan Syeikh Hasan al-Yamani al-Makky.

Pada 1945, Maimun Zubair muda memulai pengembaraan intelektual. Ia belajar kepercayaan di Pesantren Lirboyo, Kediri, di bawah pengasuhan KH Abdul Karim. Pemuda nan saleh itu juga mengaji kepada KH Mahrus Ali.

Saat usianya menapaki 21 tahun, Maimun muda diantar oleh kakeknya melanjutkan belajar kepercayaan di Makkah. Di Tanah Suci, dia belajar kepada antara lain Syekh Yasin al-Fadani.

Setelah pulang ke Tanah Air, Maimun kembali mengaji ke beberapa ustadz di tanah Jawa. Di antara guru-gurunya adalah KH Baidhowi, KH Ma'shum Lasem, KH Wahab Chasbullah, KH Muslih Mranggeng (Demak), dan beberapa ustad lainnya.

Sepanjang hidupnya, Maimun telah menunaikan sejumlah ibadah haji. Orang-orang pun menjulukinya Syekh Maimun Zubair al-Hajj.

Menurut penuturan anak-anaknya, Mbah Moen memang berambisi meninggal di Makkah. Allah mengabulkan angan sang alim. Hajinya pada 6 Agustus 2019 merupakan ibadah haji terakhirnya.

Mbah Moen meninggal bumi pada hari itu, tepat pukul 04.17 waktu Arab Saudi. Jenazah mantan personil DPDR Rembang ini dimakamkan di komplek pemakaman Jannatul Ma'la, komplek 70 nomor 151, urutan ke-41.

Tidak semua orang non-Arab bisa dikuburkan di sana. Ada peran lobi pemerintah RI dan sejumlah tokoh Tanah Air sehingga pihak Kerajaan Arab Saudi akhirnya mempersilakan jenazah Mbah Moen dimakamkan di Ma'la.

Mengutip kitab Enslikopedia Fiqih Haji dan Umroh karya Gus Arifin, Jannatul Ma'la berada di Jabal As-Sayyidah di kampung Al Hujuun, tepatnya di bawah bukit As-Sayyidah terbentang pemakaman Ma'la. Ketinggian bukit ini 400 m dan berada tidak jauh dari Masjidil Haram.

Di pemakaman Ma'la, dikubur juga sejumlah personil family Rasulullah SAW. Di antaranya adalah Khodijah (istri pertama Nabi SAW), Qasim bin Muhammad SAW, Abdul Mutholib (kakek Nabi SAW), Abu Thalib (paman Nabi SAW), Abdullah bin Zubair (sahabat Nabi), serta Asma' binti Abu Bakar ash-Shiddiq.

Dan, Mbah Moen bukan satu-satunya orang Indonesia nan jenazahnya dikebumikan di Ma'la. Sejumlah jamaah haji asal negara kita ada dimakamkan di sana. Misalnya, Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Ahmad Khatib Sambas, Syekh Abdul Karim al-Bantani, dan Syekh Muslih Mranggen.

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam