Jakarta -
Orang tua sering tanpa sadar menerapkan pola asuh yang serba sempurna saat ini. Tuntutan berat ini diam-diam juga bisa mengganggu kesejahteraan sosial anak, termasuk pola makannya.
Ya, tuntutan ini dalam jangka panjang dapat berakibat langsung pada langkah anak memandang diri mereka sendiri.
Alasannya ialah lantaran standar yang terlalu tinggi dan rasa takut gagal, yang membikin bonding antara orang tua dan anak rentan bermasalah, Bunda.
Penelitian tentang akibat jelek pada pola makan anak
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal BMC Psychiatry menemukan bahwa perfeksionisme pada orang tua berangkaian dengan meningkatnya gangguan pola makan pada anak, terutama di rentang usia 6 hingga 11 tahun.
Kesempurnaan ini termasuk dari penetapan standar pribadi yang tinggi, ekspektasi besar, alias sikap terlalu kritis. Orang tua rentan stres, yang kemudian bisa 'menular' pada anak.
Hal ini pun membikin anak tanpa sadar selalu berupaya menjadi sempurna, kemudian mengembangkan pola makan yang tidak sehat.
Sebuah tinjauan lainnya dalam Journal of Eating Disorders juga menemukan adanya hubungan kuat antara sifat perfeksionis dengan perilaku makan berlebihan (binge eating).
Penelitian dari National Library of Medicine juga mengaitkan perfeksionisme dengan orthorexia (obsesi makan sehat berlebihan), sementara studi di Science Direct menghubungkannya dengan bulimia dan anoreksia.
Mengapa bisa terjadi demikian?
Ketika orang tua berupaya untuk selalu menjadi sempurna, anak-anak pun sebenarnya turut merasakan dampaknya. Mereka terbebani dari ekspektasi tersebut, sehingga ikut membentuk langkah mereka memandang diri sendiri.
"Orang tua yang berjuang dengan perfeksionisme sering kali mempunyai kemauan kuat untuk melakukan semuanya dengan sempurna. Termasuk dalam membesarkan anak dan aspek lain dalam hidupnya," ujar Psikolog Klinis di Amerika Serikat, Erin Parks, PhD, seperti dikutip dari Parents.
Salah satu bentuk perfeksionisme di rumah adalah dengan menetapkan patokan makan yang kaku, baik untuk diri sendiri maupun anak.
"Orang tua biasanya bermaksud baik, tetapi patokan ketat seperti 'tidak boleh makan makanan manis' alias 'harus menghabiskan semua makanan di piring' bisa menciptakan hubungan yang tidak sehat antara anak dengan makanan," ungkap Thea Runyan, peneliti di Centers for Disease Control and Prevention (CDC).
Menurut Runyan, anak-anak dengan patokan ketat demikian rentan merasa bersalah terhadap pilihan makanan mereka. Selain itu, anak juga berpotensi malah diam-diam menyantap makanan yang dilarang tersebut nantinya.
Waspadai tanda-tanda awal gangguan makan pada anak
Sebenarnya tidak semua anak dari orang tua yang perfeksionis bakal mengalami gangguan makan. Hal ini berfaedah ada masalah perilaku makan yang dapat berkembang menjadi gangguan makan secara medis.
Para mahir menyebut ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan oleh orang tua. Runyan menjelaskan bahwa salah satunya adalah ketika anak mulai menghindari kegiatan sehari-hari lantaran kekhawatiran terhadap makanan.
Sebagai contoh, anak menolak menghadiri pesta ulang tahun alias kegiatan menginap dengan argumen tidak cocok dengan makanannya. Perhatikan juga ketika anak mulai menghindari jenis makanan tertentu secara ekstrem.
"Jika anak berumur 8 tahun menyebut dirinya 'nakal' hanya lantaran makan sepotong kue, itu saat yang tepat bagi orang tua untuk mundur sejenak dan mengevaluasi kembali," kata Runyan.
Selain itu, perlu diketahui bahwa gangguan makan pada anak sering pun muncul dalam corak masalah emosional saat waktu makan. Ini bisa dimulai sejak usia sekitar 6 tahun.
Psikiater anak dan remaja, Asha Patton-Smith, menekankan pentingnya orang tua memperhatikan akibat emosional terhadap anak.
"Stres akibat perfeksionisme orang tua dan kemauan untuk menjadi sempurna, baik bagi anak maupun orang tua, bisa sangat. Hal ini dapat menimbulkan emosi tidak berkekuatan di dalam diri anak," imbuhnya.
Bagaimana langkah membantu anak agar punya pola makan sehat?
Ilustrasi/Foto: Getty Images/M-image
Tidak perlu selalu sempurna, alihkan konsentrasi Bunda dari 'kontrol' menjadi 'komunikasi'. Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan:
1. Jadilah teladan yang baik
Penting bagi orang tua untuk menjadi panutan bagi anak. Apa yang diucapkan memang penting, tetapi tidak sepenting apa yang anak lihat dari tindakan dan perbuatan secara langsung.
Artinya, makanlah beragam jenis makanan dan jangan menunjukkan rasa bersalah ketika sesekali menikmati camilan manis.
Waktu makan sebaiknya dijadikan momen untuk mempererat hubungan, bukan untuk menghakimi. Pastikan untuk menyimpan perangkat elektronik dan jangan lupa berbagi cerita tentang kegiatan harian Bunda, lampau biarkan anak juga melakukannya.
"Ketika anak tumbuh dengan mendengar kritik terus-menerus, mereka condong menumbuhkan bunyi jiwa yang kritis terhadap dirinya sendiri," pesan Patton-Smith.
"Mengatakan 'tidak boleh' pada makanan tertentu justru dapat membikin anak semakin menginginkannya. Sebaliknya, berikan agenda makan teratur dan pilihan sehat, sembari tetap memberi anak kebebasan memilih," imbuhnya.
2. Hindari kritik berlebihan
Hindari penggunaan kata yang mengarah pada ledekan fisik. Orang tua juga sebaiknya tidak mendorong anak untuk menurunkan berat badan.
"Komunikasi yang demikian terbukti meningkatkan akibat ketidakpuasan terhadap tubuh, perilaku pengendalian berat badan yang tidak sehat, serta menurunnya kesejahteraan psikologis anak dan remaja," tambah Patton-Smith.
3. Libatkan anak dalam proses makan
Pastikan orang tua membikin kebiasaan makan sehat yang berkarakter kolaboratif, bukan mengontrol.
Berikan kesempatan bagi anak untuk membantu merencanakan menu, berbelanja, alias menyiapkan camilan. Ketika anak ikut terlibat, mereka condong lebih antusias untuk menyantap makanan yang sudah disiapkan.
4. Jangan ragu untuk evaluasi
Jika Bunda merasa sudah terlanjur terlalu ketat dalam patokan makan, maka tak perlu khawatir. Hal ini tetap bisa diperbaiki dan ditinjau kembali.
Menunjukkan elastisitas bakal mengajarkan anak bahwa belajar dan beradaptasi itu perihal yang baik.
Itulah ulasan akibat tuntutan pola asuh yang sempurna terhadap pola makan anak, serta tips yang bisa diterapkan oleh orang tua.
Ingat, Bunda tidak perlu menunggu sampai gangguan makan berkembang menjadi lebih parah. Segera konsultasi dengan master anak alias konselor untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·