Tiga Cara Meraih Ikhlas

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Ikhlas mudah diucapkan, tetapi sukar dilaksanakan. Dalam bahasa Arab, akar katanya adalah kha-la-sha. Artinya, ‘murni’ alias ‘bersih.’

Dalam Alquran, terdapat surah al-Ikhlash. Surah ke-112 itu, bagaimanapun, tidak memuat satu pun kata ikhlash. Secara garis besar, dengan surah tersebut Allah SWT secara unik menceritakan perihal Diri-Nya.

Tema tauhid yang kuat dalam surah al-Ikhlash mengindikasikan petunjuk tentang jalan meraih keikhlasan. Tidak cukup dengan berkata, seumpama, “Saya tulus beramal ini alias itu.” Seseorang kudu pertama-tama mengenal Allah. Sebab, hanya untuk mendapatkan ridha-Nya—itulah tujuan asasi semua amalan.

Ingat Allah

Setiap Muslim hendaknya mempunyai pola pikir (mindset) tauhid. Keyakinannya mantap bahwa diri hanyalah hamba, sedangkan Allah adalah satu-satunya Pemilik. Visinya tentang bumi tidak lepas dari penghambaan kepada-Nya.

Mindset itu bakal lebih mudah tertanam jika hati dan pikiran selalu mengingat Allah. Hakikat dzikrullah bukan hanya menyebut nama Allah, tetapi juga diikuti dengan keagamaan dan kebaikan saleh. Orang nan giat berzikir bakal menyadari, Allah selalu datang dan mengawasi semua perbuatannya, lahir maupun batin. Dengan begitu, dia bakal terus menjaga niat amalannya agar tetap murni lillahi Ta’ala.

Sadari adanya akhirat

Biasanya, nan merusak keikhlasan adalah pamrih duniawi. Lebih jelek lagi, seseorang beramal dengan tujuan mau dilihat dan dipuji manusia. Inilah riya, salah satu corak syirik mini nan dikhawatirkan Rasulullah SAW tatkala umatnya beribadah.

Untuk melawan timbulnya rasa pamrih, tanamkan mindset dalam diri bahwa alambaka selalu lebih utama daripada dunia. Allah menegaskan keistimewaan itu. “Dan kehidupan bumi ini hanya senda-gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri alambaka itulah kehidupan nan sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui” (QS al-Ankabut: 64).

Jangan sampai sesudah mati, penyesalan akhirnya datang. Tatkala ditimbang pada Hari Akhir, kebaikan ibadah rupanya tiada bobotnya lantaran diniatkan bukan untuk ridha Allah Ta’ala.

Jangan tunda amalan

Ikhlas terletak di hati. Namun, entitas ini dapat berubah dalam sekejap. Misalnya, akibat pengaruh lingkungan alias pergaulan. Seseorang boleh jadi antusias dalam mengerjakan kebaikan amal pada pagi hari. Menjelang sore, dirinya lalai sehingga ikut melakukan dosa.

Rasulullah SAW bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun Anda berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya (kebaikan) menghapusnya (keburukan).” Amal kebaikan pun hendaknya tidak ditunda-tunda. Ketika hati merasa terpanggil untuk tulus beribadah, maka lakukanlah segera. Pesan Nabi SAW, “Perlahan-lahan dalam segala sesuatu itu baik selain dalam perbuatan nan berkenaan dengan akhirat.”

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam