Tiga Faktor Merasakan Manisnya Iman

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Iman adalah kepercayaan nan diteguhkan dalam hati, diikrarkan dalam lisan, dan dibuktikan dalam tindakan. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Iman mempunyai lebih dari 70 cabang. nan paling tinggi adalah bersyahadat. Adapun nan terendah, menyingkirkan gangguan dari jalan” (HR Muslim).

Menguatkan ketaatan akan meningkatkan ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT. Sebaliknya, melemahnya ketaatan bakal membikin orang tersebut condong mengabaikan perintah-Nya dan mudah terjerumus dalam maksiat.

Sering kali, intensitas keagamaan tidak stabil. Adakalanya naik. Tidak jarang pula melandai. Karena itu, krusial sekali untuk selalu berupaya menjaga kualitas dan jumlah amalan. Berikut ini adalah beberapa aspek yang, insya Allah, membikin seseorang bisa merasakan lezatnya iman.

Cinta nan utama

Rasulullah SAW pernah mengungkapkan, “Ada tiga perkara nan andaikan ada dalam diri seseorang, niscaya dia bakal merasakan manisnya iman.” Hal pertama adalah menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada nan lain. Itu selaras dengan firman Allah Ta’ala dalam Alquran surah at-Taubah ayat ke-24.

Artinya, “Katakanlah, ‘jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, kekayaan kekayaan nan Anda usahakan, perdagangan nan Anda khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal nan Anda sukai, lebih Anda cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”

Maka, dalam hidup ini seorang Muslim hendaknya menyadari adanya cinta yang utama. Yakni, mencintai Allah dan Nabi Muhammad SAW.

Sadari argumen mencintai

Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, prinsip cinta merupakan mobilitas jiwa dari sang pencinta menuju nan dicintainya. Dalam pandangan seorang sufi abad ke-10 M, ar-Rudzbari, cinta berfaedah menanggalkan keakuan pribadi. Katanya, “Selama belum keluar sepenuhnya dari dirimu, engkau belum masuk ke dalam pemisah cinta.”

Apabila cinta dihubungkan dengan keterangan dari Nabi SAW, maka diperoleh konklusi bahwa Allah-lah tujuan cinta nan paling luhur. Karena itu, lezatnya ketaatan bakal dirasakan orang nan mencintai hanya karena-Nya. Dalam rumusan Rasulullah SAW, “Mencintai seseorang, dan dia (seorang Muslim) tidaklah mencintai selain lantaran Allah.”

Kenali argumen membenci

Ada cinta, ada pula kebencian. Perasaan itu bisa timbul dari dalam diri seorang manusia. Islam mengajarkan bahwa rasa tidak suka tidak otomatis salah, asalkan diarahkan secara tepat. Misalnya, tidak suka bermaksiat.

Dalam sabda sahih riwayat Imam Bukhari di atas, Nabi SAW menjelaskan, salah satu perkara nan memungkinkan seseorang merasakan manisnya ketaatan ialah tidak suka tidak berislam. “Benci untuk kembali pada kekufuran, sebagaimana dia (seorang Muslim) enggan dilemparkan ke neraka.” Dengan demikian, tidak suka dengan argumen itulah nan sebenarnya dianjurkan. Pada akhirnya, seorang Mukmin bakal betul-betul berterima kasih bahwa dirinya telah meyakini kebenaran Islam.

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam