Tiga Kunci Keberkahan Untuk Pedagang

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Perdagangan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia sejak dulu kala. Pedagang pun adalah sebuah pekerjaan nan mulia. Bahkan, Rasulullah Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi utusan Allah telah mencari nafkah dengan berdagang.

Islam dengan jelas membedakan antara jual-beli dan aktivitas riba. “Orang-orang nan menyantap riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang nan kemasukan setan lantaran gila. nan demikian itu lantaran mereka berbicara bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS al-Baqarah: 275).

Meniru Rasulullah

Suku Quraisy, nan darinya Nabi Muhammad SAW berasal, dikenal sebagai kaum pedagang. Rasulullah SAW pun mewarisi talenta berbisnis dari pamannya nan juga seorang tokoh Quraisy, Abu Thalib. Saat berumur dewasa, reputasi beliau kian cemerlang di tengah masyarakat.

Nabi SAW dikenal luas sebagai pedagang yang ulet, amanah, dan jujur. Beliau jeli dalam memandang segmentasi konsumen sehingga bisa “membaca” dengan tepat permintaan pasar. Tidak pernah sekalipun menyembunyikan kualitas peralatan dagangannya. Tidak pula mengurangi takaran. Akhlaknya mesti ditiru, khususnya oleh mereka nan mau sukses dalam berbisnis.

Tidak menimbun

Dalam berbisnis, seorang Mukmin hendaknya menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan. Ia tidak boleh bertindak zalim, semisal menimbun barang-barang kebutuhan pokok masyarakat. Penimbunan itu bermaksud menjual kembali komoditas tersebut ketika harganya naik. Alhasil, masyarakat umum dirugikan lantaran sikap serakah si penimbun.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak bakal menimbun barang-barang selain orang nan berdosa (khathi’un)” (HR Muslim). Perkara itu jangan dianggap sepele. Allah menyebut Firaun, Hamman, dan bala tentaranya dengan julukan nan sama.

Pahami tiga asas

Dalam perspektif Islam, kearifan mengenai perniagaan bertumpu pada tiga asas, ialah persamaan, pemerataan distribusi, dan tidak berlebihan. nan pertama itu berfaedah bahwa setiap orang, dalam memperoleh haknya, mesti tidak mengganggu kewenangan orang lain. nan kedua berfaedah kecenderungan untuk menghindari monopoli.

Pada saat nan sama, hak-hak dan kesempatan setiap orang dijamin dalam kegiatan-kegiatan ekonomi, nan meliputi produksi, distribusi, dan konsumsi. Terakhir, Islam mengajarkan manusia agar tidak melakukan konsumsi nan berlebihan. Keserakahan adalah salah satu penyakit hati.

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam