Tiga Nasihat Ibnu ‘athaillah Untuk Hidup Lebih Tenteram

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Syekh Ahmad bin Muhammad bin Atha’illah as-Sakandari merupakan seorang ustadz master tasawuf dari abad ke-13. Gelar as-Sakandari merujuk pada kota kelahirannya, Iskandariah di Mesir.

Ibnu ‘Athaillah tergolong berilmu nan produktif menulis. Tak kurang dari 20 kitab sudah dihasilkannya. Pembahasannya tidak hanya meliputi bagian tasawuf, melainkan juga akidah, ushul fikih, nahwu, tafsir Alquran, dan hadis. Dari beberapa karyanya, Al-Hikam merupakan nan paling masyhur. Di dalamnya, ada beragam nasihat dan perenungan.

Berpasrah diri

Dalam Al-Hikam, Ibnu ‘Athaillah menerangkan, kepasrahan bukanlah suatu corak kemalasan. Dengan bersikap pasrah, seorang Muslim tidak lantas berakhir bekerja dan bermohon dengan dalih semua telah diserahkan kepada Allah SWT. Sebab, setiap insan wajib berikhtiar.

Yang membikin seorang Mukmin istimewa, dia tak sekadar berusaha, tetapi juga meyakini Allah Mahamengatur segalanya. Sambil giat bekerja dan berdoa, orang beragama bakal menyandarkan angan hanya kepada Allah Ta’ala. Sebab, hanya Dia nan layak menjadi tumpuan harapan. Hanya Dia nan bisa memberikan agunan keselamatan. Melepaskan rasa ketergantungan pada selain-Nya, itulah prinsip pasrah.

Tak ikut mengatur

Ibnu ‘Athaillah menasihati kita agar ridha terhadap pengaturan nan telah digariskan Allah SWT. Untuk menjelaskan makna ridha, dia mengisahkan seorang syekh nan berkata, “Seandainya masyarakat surga telah dimasukkan ke surga dan masyarakat neraka telah digiring ke neraka, kemudian hanya diriku nan tersisa, saya tak bisa menduga, ke mana saya bakal dibawa.”

Menurut Ibnu ‘Athaillah, begitulah keadaan hamba nan tidak punya pilihan dan kemauan selain bersandar hanya kepada-Nya. “Keinginan adalah apa nan Dia (Allah) inginkan. Seorang ustadz mengatakan perihal nan serupa, ‘Pagi ini keinginanku berada dalam ketentuan Allah,’” tutur sang salik.

Ia pun berpesan, jangan ikut mengatur berbareng Allah. “Kau mengetahui bahwa dirimu adalah milik Allah. Dengan demikian, kau tidak berkuasa mengatur apa nan bukan milikmu,” katanya.

Ingat Allah

Menurut Ibnu ‘Athaillah, insan nan arif berbeda dari orang nan lalai. “Saat pagi,” kata sang sufi, “orang nan lalai berpikir tentang bumi dan berupaya mencarinya, dia menghitung-hitung apakah dunianya bertambah alias berkurang. Sedangkan orang nan zuhud dan mahir ibadah, memasuki waktu pagi, bakal mengevaluasi gimana kondisinya berbareng Allah.”

Seorang Mukmin seyogianya selalu mengingat Allah. Janganlah hatinya terlalu silau bakal kekayaan duniawi sehingga lalai dari dzikrullah. “Mereka (ahli makrifat) menyadari, Allah nan sebenarnya berkuasa atas diri dan kekayaan mereka. Apa pun nan mereka lakukan bertolak dari Allah, dengan Allah, dan untuk Allah,” ujar dia.

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam