Memanfaatkan Ramadan sebagai sarana mencari bekal perjalanan
Sahabat Muslim sekalian, gimana kabarnya? Semoga Allah senantiasa memberikan kebaikan dan semangat untuk beramal di bulan mulia ini.
Sabahat Kincai Media sekalian, sebagian manusia tidak sadar bahwa dirinya sedang berada di alam yang ketiga; lantaran kita telah melalui dua alam, ialah alam ruh dan alam rahim ibu kita semua. Sejatinya, kita sekarang berada di alam yang ketiga, ialah alam dunia.
Apakah kehidupan kita berhujung setelah kita selesai dan berpisah dari alam dunia?
Jawabannya tentu tidak, perjalanan kita tetap sangat panjang menuju tempat peristirahatan abadi, dan tempat peristirahatan kekal seorang muslim adalah surga Allah Ta’ala. Di sanalah sejatinya tempat tinggal kita, tempat kakek dan nenek kita dulu hidup, ialah Nabi Adam dan Siti Hawa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ
“Bersegeralah menuju pembebasan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Āli ‘Imrān: 133)
Perjalanan kita tetap panjang, tetap ada beberapa alam lagi yang kudu kita lewati.
Setelah wafat, kita bakal beranjak menuju alam kubur. Di sana kita bakal ditanyai oleh para malaikat tentang siapa Rabbmu? Siapa Nabimu? Dan apa agamamu?
Kemudian setelah dari alam kubur, terjadilah kiamat, sangkakala ditiup sekali hingga hancurlah semua makhluk selain yang Allah kehendaki tetap hidup. Kemudian ditiupkan sangkakala kedua sehingga manusia bangkit dari kuburnya.
Lalu kita bakal mengantre di padang mahsyar, dalam keadaan kepanasan, capek, tanpa berdasar kaki, dan tanpa berpakaian. Semua orang dalam keadaan takut dan was was, jangan-jangan rapot kehidupan di bumi hasilnya jelek.
Kemudian kita bakal satu persatu berhadapan dengan pengadilan Allah, tidak ada yang menemani kita selain catatan kebaikan kita. Jika kebaikan kita baik, maka kita bakal segera beristirahat di surga; adapun jika jelek, namun tetap mempunyai iman, maka keadilannya di tangan Allah: apakah Allah langsung mengampuni ataukah kudu di”cuci” dulu beberapa waktu di neraka. Semoga Allah berikan kita keselamatan
Melihat perjalanan panjang tersebut, tentunya tidak ada orang berakal yang nekat menempuh perjalanan panjang tanpa bekal yang cukup. TIdak mungkin menempuh perjalanan 1000 Km hanya sengan seliter air. Orang berakal pasti bakal membawa perbekalan yang banyak untuk pejalanan yang jauh. Dalam perjalanan panjang ini, berbekallah dengan ketakwaan kepada Allah.
وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ
“Berbekallah, lantaran sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai logika sehat.” (QS. Al-Baqarah: 197)
Sekarang kita berada di bulan Ramadan, bulan dimana Allah memberikan beragam potongan nilai dan keistimewaan besar agar seseorang bisa meraih sebanyak-banyaknya bekal menuju perjalanan akhirat. Amal kebaikan di bulan Ramadan Allah lipat gandakan jauh-jauh lebih banyak, mungkin 100 kali lipat, 1000 kali lipat, 1 juta kali lipat, dan seterusnya hanya Allah yang tahu. Maka, mari kita gunakan waktu ini sebagai sarana mencari bekal perjalanan sebanyak-banyaknya. Jangan kita lalaikan bulan ini.
Baca juga: Apa Amalan Terbaik di Bulan Ramadan?
Tiga tips memaksimalkan Ramadan
Oleh lantaran itu, kami berikan setidaknya tiga tips alias langkah agar kita bisa memaksimalkan Ramadan ini.
Pertama, milikilah sasaran pribadi yang terukur dan realistis
Setiap kita mempunyai kesibukan masing-masing, mempunyai pekerjaan masing-masing, mempunyai waktu senggang juga masing-masing. Sebagian kita ada yang bekerja, mempunyai janji pekerjaan dengan kantor, maka janji ini kudu dipenuhi. Kita tidak boleh menyelisihi janji yang sudah kita bangun. Sehingga waktu senggang kita masing-masing berbeda.
Serta kita juga mempunyai ibadah favorit masing masing, yang dengan mengerjakan ibadah tersebut, hati menjadi tenang dan khusyuk. Imam Malik rahimahullah pernah menyampaikan bahwa Allah membagi-bagi ibadah kebaikan kepada para hamba seperti Allah membagi-bagikan rezeki. Rezeki hamba berbeda-beda, ada yang bertani, ada yang menjaga kos, ada yang menjadi peneliti, guru, dan semisalnya. Maka, kemudahan dan kebaikan favorit setiap orang juga berbeda-beda. Sebagian senang sekali membaca Al-Qur’an, sebagian sangat intens ketika salat, sebagian lain sangat semangat jika berangkaian dengan membantu sesama. Hendaknya kebaikan tersebut kita buatkan sasaran yang realistis sesuai dengan keahlian dan keadaan kita.
Kedua, pecah sasaran tersebut ke dalam sasaran yang lebih mini dan miliki waktu unik masing-masing
Sebagaimana tadi kami sampaikan, waktu senggang setiap orang berbeda-beda. Ada yang kerja dari jam 9 pagi sampai 5 sore, sehingga waktu kosongnya malam. Ada yang berbisnis di malam hari, sehingga mungkin waktu kosongnya siang. Di waktu kosong ini, kita bagi-bagi sasaran kita menuju target-target mini yang lebih realistis.
Sebagai contoh, kita mempunyai sasaran membaca 3 juz setiap hari alias sekitar 60 halaman. Kita bisa bagi mungkin menjadi 5 kali membaca sesuai dengan waktu salat, menjadi masing-masing 12 halaman. Atau mungkin kita hanya mempunyai tiga waktu salat yang kosong lantaran waktu zuhur dan asar kudu segera kembali ke perkejaan. Karena waktu kasong hanya ada subuh, magrib, dan isya, maka 60 laman tadi dibagi tiga dan seterusnya.
Intinya, kita bagi menjadi kebaikan yang lebih kecil, lantaran itu lebih mudah konsisten, dan Allah mencintai kebaikan yang konsisten (istikamah) meskipun mungkin sedikit. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah ibadah yang kontinu walaupun sedikit.” (HR. Muslim no. 783)
Ketiga, carilah benchmark alias saingan kita dalam kebaikan
Manusia secara umum sangat senang berlomba, ada kalanya lomba tersebut baik, seperti lomba memperbanyak kebaikan, lomba paling sigap merespon perintah Allah, lomba paling sigap menjauhi larangan Allah, dan semisalnya. Ada juga lomba yang mungkin kurang baik, seperti lomba memperbanyak kekayaan yang tidak digunakan untuk kebaikan, lomba mencari pangkat tinggi namun digunakan untuk korupsi, dan semisalnya.
Manusia adalah makhluk yang senang berlomba. Oleh lantaran itu, Allah memotivasi agar kita berkompetisi dalam kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَفِيْ ذٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنٰفِسُوْنَ
“Untuk (mendapatkan) yang demikian itu (kenikmatan surga), hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 26)
Allah Ta’ala berfirman dalam surah Adz-Dzariyat,
فَفِرُّوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۖ إِنِّي لَكُم مِّنۡهُ نَذِير مُّبِين
“Maka segeralah berlari menuju kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya saya seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS. Adz-Dzariyat: 50)
Allah Ta’ala berfirman,
وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَة مِّن رَّبِّكُمۡ
“Dan bersegeralah Anda kepada pembebasan dari Tuhanmu.“ (QS. Ali Imran: 133)
Oleh lantaran itu, carilah kawan yang bisa menjadi saingan kita dalam kebaikan. Carilah kawan yang setiap kita berjumpa dengannya, dirinya sedang melantunkan Al-Qur’an. Cari kawan yang setiap bertemu, lisannya senantiasa terjaga dari kata-kata kotor dan umpatan. Cari kawan yang senantiasa melakukan baik dan bersedekah dengan orang lain. Cari mereka, lampau saingilah mereka dalam kebaikan, sehingga kita semakin semangat melakukan baik, dan bisa menjalankan sasaran kebaikan kita di bulan Ramadan dengan baik.
Demikian tiga tips yang dapat kami berikan untuk memaksimalkan ibadah di bulan Ramadan ini, semoga Allah memberikan kemudahan.
Baca juga: Mendidik Jiwa Sosial di Bulan Ramadan
***
Penulis: Dany Indra Permana
Artikel Kincai Media
English (US) ·
Indonesian (ID) ·