Tradisi Kirim Hampers Ramadhan; Begini  Hukumnya

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia– Masyarakat Indonesia terkenal dengan sifat dermawannya. Terlebih ketika memasuki bulan Ramadhan, kita dianjurkan untuk memperbanyak kebaikan baik, guna memperoleh keberkahan bulan suci ini. Nah salah satu tradisi baik nan umum dilakukan masyarakat kita dibulan puasa adalah memberikan parcel alias hampers Ramadhan alias saling mengantar makanan kepada orang-orang tersayang, mulai dari family hingga sahabat. 

Di wilayah kota-kota besar, apalagi memberikan bingkisan paket sekarang terkenal disebut dengan istilah inggrisnya, hampers (yang makna sebenarnya adalah, keranjang nan diisi dengan barang-barang nan dihadiahkan seperti makanan, alias barang-barang tertentu. Budaya baik ini terkenal lewat saling mengunggah hantaran hampers dari alias untuk orang-orang tersayang di sosial media, dengan menautkan akun nan memberi alias nan diberi. 

Nah semua pemberian tadi pada dasarnya konteks adalah hadiah. Hadiah, nan juga berasal dari kata Arab, al-hadiyyah, dijelaskan di dalam al-Mawsū’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah dijelaskan,  

الهِبةُ والهَديَّةُ بمعنًى واحدٍ، إلا أنَّ هناك بعضَ الفروقِ الطَّفيفةِ بيْنهما، ومِن ذلك: • أنَّ الهديَّةَ يُقصَدُ بها الإكرامُ والتوَدُّدُ ونحوُهُما، أمَّا الهِبةُ فيُقصَدُ بها -غالبًا- النفعُ • الهَديَّةُ تَختصُّ بالمنقولاتِ إكرامًا وإعظامًا للموهوبِ، والهِبةُ أعَمُّ   

Artinya, “Hibah dan bingkisan sebenarnya maknanya satu, hanya saja ada perbedaan tipis antara keduanya, diantaranya adalah: • Hadiah itu dimaksudkan untuk menandaskan sikap memuliakan, mengasihi, dan sejenisnya. Sementara hibah – pada umumnya – tujuannya adalah memberi faedah pada nan diberi.  • Hadiah dikhususkan untuk peralatan bergerak, tujuannya untuk memuliakan nan diberi hadiah. Sementara hibah lebih umum.” 

Lantas gimana Islam memandang praktik saling membalas hadiah, budaya saling mengantar makanan, alias saling memberi hampers nan menjadi salah satu budaya baik nan terkenal di negeri kita (dan mungkin juga di wilayah-wilayah lain di dunia)?

Tentu saja Islam begitu mengapresiasi, apalagi mendorong bukan mewajibkan untuk membalas kebaikan (baik bingkisan ataupun kebaikan lainnya) nan diberikan. Dalam sebuah sabda riwayat ‘Aisyah RA, Rasulullah SAW sendiri menerima bingkisan dan selalu berupaya membalasnya, jika bisa dengan jumlah nan lebih besar.

   عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا 

Artinya, “Dari ‘Aisyah RA, dia berkata: ‘Rasulullah Saw. itu memberi bingkisan dan membalasnya (dengan nan sama alias lebih baik).’” (HR Al-Bukhārī).  

Selain itu Rasulullah SAW selalu berpesan agar umatnya senantiasa membalas bingkisan alias setiap kebaikan. “Siapa nan melakukan kebaikan kepada kalian, maka balaslah dengan kebaikan nan setara. Jika engkau tidak mendapati sesuatu untuk membalas kebaikan tersebut, maka doakanlah dia sampai engkau percaya telah membalas kebaikannya (karena terus-menerus mendoakannya).” (HR Abu Dawud). 

 مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ 

Maka saat menerima kebaikan alias bingkisan dari rekan maupun saudara, kita dianjurkan di antaranya mengucapkan perihal berikut (meskipun boleh juga dengan ungkapan lain, pada prinsipnya adalah memuji nan memberi),  جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا Artinya, “Semoga Allah senantiasa membalasmu” (HR At-Tirmidzi dari Usamah bin Zayd). 

Jadi kesimpulannya tradisi memberikan hampers Ramadhan kesanak kerabat adalah boleh. Bahkan Rasulullah sangat menganjurkan umatnya untuk saling berbagi kebaikan guna mempererat tali persaudaraan. Demikian semoga bermanfaat.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah