Tujuan Ibadah Kurban Idul Adha

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jelang Idul Adha, pedagang memberi makan sapi hewan kurban di area Karet Tengsin, Jakarta, (29/5/2024).

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Berkurban menjadi sebuah ibadah nan ada dalam hari raya Idul Adha. Amalan ini berfaedah merelakan dan melepaskan apa-apa nan dipunyai seseorang kepada Allah, Zat nan Mahamemiliki segala sesuatu. Itu sebagai upaya mendekatkan diri kepada-Nya.

Sejarah kurban telah ada sejak dulu kala. Bahkan, tonggaknya muncul jauh sebelum Nabi Ibrahim AS, ialah melalui peristiwa nan dialami anak Adam AS, Qabil dan Habil. Masing-masing mereka menghadirkan persembahan dan menyaksikan sendiri, apakah ikhtiarnya diterima alias ditolak Allah.

Maka, apakah tujuan ibadah kurban menurut kepercayaan Islam? KH Ahsin Sakho dalam kitab Oase Alquran: Petunjuk dan Penyejuk Kehidupan menjelaskan bahwa penyembelihan kurban bukan tujuan utama dalam ibadah nan satu ini. Sebab, Allah tidak memerlukan daging dan cipratan darah hewan nan dikurbankan.

nan Allah kehendaki setelah seseorang berkurban, lanjut Kiai Ahsin Sakho, adalah terciptanya hati nan penuh ketakwaan kepada-Nya. Ini pun bakal berkapak pada seluruh aspek kehidupan si shahibul qurban. Demikianlah aliran kepercayaan nan benar, hanif, dan diridhai Allah.

Dalam sejarah, pernah terjadi pengorbanan dengan anak manusia. Itulah nan pernah terjadi di Mesir dan Sudan sebagaimana diriwayatkan sejarawan. Peristiwa "penyembelihan" Nabi Ismail agaknya sebagai corak upaya menghentikan pengorbanan dengan manusia. Sebaliknya, Allah mengganti kebiasaan ini dengan sesuatu nan bernuansa sosial, ialah kambing alias hewan ternak lainnya--yang dagingnya lampau dibagi-bagikan kepada masyarakat.

Hadirnya Islam tidak merombak budaya kebiasaan nan jelek dengan frontal. Melainkan mengganti tradisi tersebut dengan nan lebih berarti dalam kehidupan. Bukankah dulu bayi nan dilahirkan rambutnya diolesi darah hewan nan dipersembahkan kepada berhala, lampau oleh Nabi diganti dengan minyak Za'faran nan berwarna merah dan wangi?

Islam menghendaki agar ibadah nan berdimensi spiritual bisa melahirkan rasa sosial. Seperti ibadah shalat nan kudu melahirkan semangat amar makruf nahi munkar. Puasa kudu melahirkan rasa empati terhadap nan miskin. Shalat dan amal adalah dua kosa kata nan selalu bergandeng bersama, tak bisa dipisahkan.

Adapun penyelenggaraan ibadah haji sarat dengan pemandangan penuh makna. Haji nan mabrur bisa terlihat hasilnya manakala ibadah haji bisa melahirkan sikap manusia nan lebih bijak, santun, dan solider kepada sesama dalam realitas kehidupan.

Penyembelihan kurban bukan tujuan utama. Ibadah kurban adalah langkah agar manusia semakin lebih dekat kepada Allah SWT dan dekat terhadap sesamanya dalam aspek kehidupan.

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam