Tuntunan Berhijab Ternyata Juga Ada Di Agama Lain Selain Islam?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA— Kewajiban memakai hijab bagi Muslimah merupakan perintah nan agung dalam Islam. Ini tak lain sebagai corak penghormatan dan pemuliaan untuk kaum perempuan. 

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada wanita nan beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, selain nan (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya selain kepada suami mereka, alias ayah mereka, alias ayah suami mereka, alias putera-putera mereka, alias putra-putra suami mereka, alias saudara-saudara laki-laki mereka, alias putra-putra kerabat laki-laki mereka, alias putra-putra kerabat wanita mereka, alias wanita-wanita Islam, alias budak-budak nan mereka miliki, alias pelayan-pelayan laki-laki nan tidak mempunyai kemauan (terhadap wanita) alias anak-anak nan belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan nan mereka sembunyikan. Dan bertobatlah Anda sekalian kepada Allah, hai orang-orang nan beragama agar Anda beruntung.”   

Husein Shahab dalam kata pengantar bukunya Jilbab Menurut Al-Quran dan As-Sunnah, dia mengatakan, ''Jilbab adalah satu norma nan tegas dan pasti nan seluruh wanita Muslim diwajibkan Allah SWT untuk mengenakannya. Melanggar alias tidak mengakuinya berfaedah mengingkari salah satu norma Islam nan esensial.''

Dikatakan oleh Dedy Mulyana dalam Islam: Antara Simbol dan Identitas, pemakaian jilbab nan dilandasi pengalaman keagamaan, tidak lain merupakan cermin dari inner states nan tulus.

Jilbab di sini bukan instrumen untuk menyenangkan orang lain alias sekadar untuk memenuhi persyaratan masuk ke dalam sebuah institusi, melainkan perwujudan rasa nyaman nan subjektif.

Tema tentang jilbab dan pengalaman keagamaan ini, dikupas lebih mendalam oleh Murtadha Muthahhari dalam bukunya Hijab Gaya Hidup Wanita Muslimah. Menurutnya, pemakaian hijab untuk memberikan kenyamanan diri sudah dipraktikkan sejak era India, Persia, dan Yunani kuno.

Pada masyarakat India kuno, motif pemakaian hijab lantaran ada kecenderungan ke arah kerahiban. Ini sebuah perjuangan melawan kesenangan dan menaklukkan ego.

Murtadha mensinyalir praktik pemakaian hijab berasal dari India. Kelompok agamawan membikin pemisah antara wanita dan laki-laki dalam rangka kerahiban itu. Konsep ini, menurutnya, kemudian berkembang dalam tradisi Yahudi dan Kristen.

sumber : Harian Republika

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam