Umat Islam Perlu Tahu Empat Kriteria Judi Yang Diharamkan Islam

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

KINCAIMEDIA,JAKARTA -- Judi online sudah menjamur di mana-mana di era digital, banyak peristiwa pembunuhan terjadi akibat dipicu gambling online yang menimbulkan hutang alias menghabiskan uang. Judi meracuni kehidupan dan keagamaan seperti dikatakan dalam lirik lagu Rhoma Irama nan bernafaskan Islami.

Pada laman Rumah Fiqih, KH Ahmad Sarwat Lc menjelaskan bahwa secara ringkasnya sebuah permainan alias janji bakal menjadi gambling nan diharamkan jika terpenuhi empat kriterianya.

1. Adanya Dua Pihak nan Bertaruh

Tidaklah dikatakan gambling andaikan nan bertaruh hanya satu pihak saja. Setidaknya kudu ada dua belah pihak alias lebih untuk bisa memenuhi syarat judi.

Contohnya, jika saya menantang Anda untuk adu panco dan saya sediakan bingkisan Rp 100 ribu jika Anda sukses mengalahkan saya. Tetapi Anda sendiri tidak bertaruh apa-apa, sehingga andaikan Anda kalah maka Anda tidak perlu kehilangan kekayaan pertaruhan.

Maka adu panco ini bukan judi, lantaran nan bertaruh hanya satu pihak saja.

2. nan Dipertaruhkan Berupa Harta

Tidaklah dikatakan sebagai gambling manakala nan dipertaruhkan bukan termasuk harta. Harta itu bisa bermacam bentuknya. Bisa berbentuk uang, barang berbobot seperti emas, perak, jam tangan, gelang, kalung, perhiasan, rumah, tanah, kendaraan, surat berharga. Bahkan kekayaan juga berupa jasa nan punya nilai tertentu.

Adapun jika nan dipertaruhkan bukan berupa harta, seperti pertaruhan untuk mendapatkan shaf nan terdepan dengan langkah diundi seperti nan disebutkan dalam hadits nabawi, maka undian itu bukan termasuk judi.

3. Ada Lomba alias Undian nan Menentukan Menang Kalah

Dalam bahasa Arab, kriteria nan nomor tiga ini disebut dengan mughalabah, ialah adanya pertaruhan menang dan kalah. Bentuknya bisa berupa undian nan semata-mata menggantungkan nasib saja, namalain nasib-nasiban, tetapi bisa juga berupa hal-hal nan pakai pikiran, kecerdasan, keahlian intelektual dan lain sebagainya.

Dalam perihal ini nan menjadi titik masalah bukan undian dan untung-untungannya, melainkan adanya pemenang dan adanya pihak nan kalah. Bagaimana langkah menentukannya, sama sekali tidak ada kaitan dengan norma pertaruhan itu sendiri.

4. nan Menang Berhak Mengambil Harta nan Kalah

Terakhir, nan menjadi gol dalam norma gambling adalah kriteria nan terakhir ini, ialah adanya ketentuan bahwa pihak nan memang berkuasa mengambil kekayaan pertaruhan pihak nan kalah. Pihak nan kalah kudu rela dan tulus untuk kehilangan hartanya.

Maka andaikan keempat permainan alias janji di atas telah terpenuhi, resmilah hukumnya menjadi gambling nan diharamkan oleh hukum Islam. Demikian penjelasan singkatnya.

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam