Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid Dan Akidah (bag. 7)

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Faedah 17. Membaca sejarah munculnya syirik

Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan dalam kitabnya I’anatul Mustafid bahwa tauhid merupakan asal keadaan umat manusia. Adapun syirik merupakan perkara nan baru dan menodainya. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, “Adalah jarak antara Adam dan Nuh selama 10 kurun/abad. Mereka semua berada di atas tauhid.”

Syirik nan pertama kali muncul adalah di tengah kaum Nuh ‘alaihis salam ketika mereka bersikap berlebih-lebihan/ghuluw terhadap orang-orang saleh dan membikin gambar alias patung untuk mengenangnya. Sampai pada akhirnya, mereka pun menyembah patung dan gambar itu. Maka, Allah pun mengutus Nabi Nuh ‘alaihis salam untuk melarang perbuatan syirik dan memerintahkan ibadah untuk Allah semata. Begitu pula, para rasul datang sesudahnya dengan membawa misi nan sama. (lihat I’anatul Mustafid, 1: 5)

Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya tentang makna firman Allah,

كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةࣰ وَ ٰ⁠حِدَةࣰ

“Adalah manusia itu dulu umat nan satu…” (QS. Al-Baqarah: 213).

Beliau menafsirkan, ialah di atas kepercayaan nan satu/sama. (lihat Ma’alim At-Tanzil, hlm. 118)

Ibnu Katsir rahimahullah juga memberikan penafsiran serupa, dengan membawakan riwayat dari Ibnu Jarir dengan sanadnya dari Ibnu Abbas. Beliau berkata, “Adalah jarak antara Nuh dengan Adam sepuluh kurun. Mereka semua berada di atas hukum kebenaran, lampau mereka pun berselisih. Allah pun mengutus para nabi sebagai pemberi berita ceria dan pemberi peringatan.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 1: 327, cet. At-Taufiqiyah)

Penafsiran serupa, nan menjelaskan bahwa syirik pertama kali di muka bumi ini terjadi di tengah kaum Nabi Nuh, juga diriwayatkan dari para ustadz salaf nan lain semacam Qatadah dan Ikrimah. Ikrimah berkata, “Adalah jarak antara Adam dan Nuh sepuluh kurun. Mereka semua berada di atas Islam.” (lihat dalam kitab Asy-Syirk fil Qadim wal Hadits, 1: 209)

Demikian pula, penafsiran nan disampaikan oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah bahwa dulu umat manusia sejak era Nabi Adam merupakan umat nan satu, ialah berada di atas tauhid dan di atas kepercayaan nan sama, ialah Islam. (lihat Al-Qaul Al-Mufid, 1: 235, cet. Maktabah Al-’Ilmu, lihat pula Ahkam minal Qur’an Al-Karim, 2: 84,87)

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan dalam Kitab Tauhid-nya bahwa karena kekafiran anak Adam dan aspek nan menyebabkan mereka meninggalkan kepercayaan mereka (yaitu tauhid) adalah lantaran bersikap berlebih-lebihan terhadap orang-orang saleh. Hal ini menunjukkan bahwa syirik nan pertama kali muncul di muka bumi ini adalah gara-gara syubhat kecintaan kepada orang-orang saleh. (lihat Ibthal At-Tandid, hlm. 112)

Sikap berlebih-lebihan kepada orang saleh ini timbul akibat pencampuran kebenaran dengan kebatilan. nan dimaksud kebenaran di sini adalah kecintaan kepada orang saleh. Dan nan dimaksud kebatilan adalah perbuatan mengada-ada (bid’ah) nan dicetuskan oleh sebagian mahir pengetahuan alias mahir kepercayaan dengan niat baik mereka kemudian disalahpahami oleh generasi sesudahnya. Pelajaran nan bisa diambil darinya adalah ‘barangsiapa nan mau memperkuat agamanya dengan suatu perbuatan bid’ah, maka bahayanya justru lebih banyak daripada manfaatnya’. (lihat keterangan Syekh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah dalam Al-Qaul Al-Mufid, 1: 235)

Demikianlah, akar kesyirikan nan tumbuh berkembang di masa lalu, apalagi juga menjalar di tengah ahlul kitab. Ummul mu’minin, ‘Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan bahwa suatu hari, Ummu Salamah radhyiallahu ’anha mengisahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika itu beliau sedang sakit mendekati wafatnya, tentang sebuah gereja nan dilihatnya di negeri Habasyah beserta gambar/lukisan-lukisan nan ada di dalamnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Orang-orang itu, andaikan ada orang saleh alias hamba nan saleh meninggal di antara mereka, mereka membikin gedung masjid/tempat ibadah di atas kuburnya. Dan mereka pun membikin gambar-gambar semacam itu. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Semoga Allah melaknat Yahudi dan Nasrani lantaran mereka telah menjadikan kubur-kubur nabi mereka sebagai masjid/tempat ibadah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari sinilah, dapat kita ketahui bahwa penghambaan kepada Allah semata alias tauhid adalah asal keadaan umat manusia sejak manusia pertama, ialah Nabi Adam ‘alahis salam. Setelah terjadinya syirik di tengah kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam, maka Allah pun mengutus beliau dan kemudian diikuti dengan diutusnya para rasul setelahnya dengan menyerukan dakwah tauhid kepada manusia. Agar mereka kembali kepada jalan nan lurus, ialah tauhid.

Allah berfirman,

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ

“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul nan menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36)

Allah juga berfirman,

وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ

“Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu, Muhammad, seorang rasul pun, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada ilah/sesembahan, nan benar, selain Aku, maka sembahlah Aku saja.’” (QS. Al-Anbiya’: 25)

Allah berfirman pula,

وَلَقَدۡ أُوحِیَ إِلَیۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكَ لَىِٕنۡ أَشۡرَكۡتَ لَیَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ

“Dan sungguh telah Kami wahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, ‘Jika Anda melakukan syirik, pasti bakal lenyap seluruh amalmu, dan betul-betul Anda bakal termasuk golongan orang nan merugi.’” (QS. Az-Zumar: 65)

Pada masa jahiliyah, sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, kesyirikan merajalela di tengah manusia dalam corak peribadatan kepada pohon, batu, kuburan, bintang-bintang, berhala, jin, orang saleh, malaikat, dan sebagainya. Mereka membikin patung-patungnya dan mereka puja-puja. Mereka pun iktikaf di sekitarnya dengan mengharap keberkahan darinya. Pada saat itulah, Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam nan membujuk manusia untuk mentauhidkan Allah dan melarang syirik. (lihat Al-Mufid ‘ala Kitab At-Tauhid, hlm. 7)

Allah berfirman,

قُلۡ إِنَّمَاۤ أَنَا۠ بَشَرࣱ مِّثۡلُكُمۡ یُوحَىٰۤ إِلَیَّ أَنَّمَاۤ إِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهࣱ وَ ٰ⁠حِدࣱۖ فَمَن كَانَ یَرۡجُوا۟ لِقَاۤءَ رَبِّهِۦ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا وَلَا یُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya saya ini adalah manusia seperti kalian nan diberikan wahyu kepadaku, bahwa sesembahan kalian, nan benar, hanyalah satu sesembahan nan Maha Esa. Maka, barangsiapa nan mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan kebaikan saleh dan tidak mempersekutukan dalam beragama kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus oleh Allah untuk seluruh manusia, bukan bangsa Arab saja. Allah berfirman,

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً

“Katakanlah, ‘Wahai manusia, sesungguhnya saya ini adalah utusan Allah kepada kalian semuanya.’” (QS. Al-A’raf: 158)

Dalam ayat nan lain, Allah juga berfirman,

وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَـٰكَ إِلَّا كَاۤفَّةࣰ لِّلنَّاسِ

“Dan tidaklah Kami utus engkau, Muhammad, selain untuk seluruh manusia.” (QS. Saba’: 28)

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa dakwah tauhid dan aliran Islam nan dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah petunjuk Allah bagi seluruh manusia dan penutup semua nabi dan rasul. Inilah prinsip mendasar nan digerogoti oleh orang-orang nan menyerukan adanya perbincangan antara kepercayaan di masa kini. Karena mereka, umat-umat nan lain, menolak ditutupnya risalah dengan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka tidak setuju dengan ke-universal-an dan keumuman risalah nan beliau bawa. (lihat At-Taudhihat Al-Kasyifat ‘ala Kasyfi Asy-Syubuhat karya Syekh Muhammad Al-Habdan hafizhahullah, hlm. 62)

Islam membujuk manusia menghamba kepada Allah saja dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Dan inilah kunci keselamatan umat manusia. Maka, sungguh asing andaikan manusia menolak rayuan menuju negeri kebahagiaan dan justru mengelu-elukan syirik dan pemberhalaan!

Faidah 18. Pengikut aliran Nabi Ibrahim

Allah berfirman,

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu, ‘Hendaklah Anda mengikuti millah/ajaran Ibrahim nan hanif, dan sama sekali dia bukan termasuk golongan orang musyrik.” (QS. An-Nahl: 123)

Di dalam ayat nan agung ini, Allah memerintahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengikuti millah/ajaran nan dibawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, yaitu aliran tauhid dan keikhlasan beragama kepada Allah semata serta meninggalkan sesembahan selain-Nya.

Ajaran Nabi Ibrahim tidak lain adalah kepercayaan Islam nan dibawa oleh setiap nabi dan rasul. Setiap rasul membujuk umatnya untuk beragama kepada Allah dan menjauhi thaghut/sesembahan selain Allah.

Allah berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul nan menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36)

Allah menyebut aliran Nabi Ibrahim sebagai aliran nan hanif. Para ustadz juga menyebut aliran tauhid ini dengan istilah Al-Hanifiyyah. Inilah prinsip dari millah/ajaran kepercayaan nan dibawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan juga para rasul nan lain. nan demikian itu lantaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah seorang nan hanif, ialah nan tulus beragama kepada Allah.

Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan,

والحنيف هو: المقبل على الله المعرض عما سواه، هذا هو الحنيف: المقبل على الله بقلبه وأعماله ونياته ومقاصده كلها لله، المعرِض عما سواه

“Orang nan hanif adalah orang nan menghadapkan dirinya kepada Allah dan beralih dari segala sesembahan selain-Nya. Inilah prinsip orang nan hanif. nan menghadapkan diri kepada Allah dengan hati, amal, niat, dan kehendaknya itu seluruhnya dipersembahkan kepada Allah, dan dia beralih dari selain-Nya.” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’ oleh Syekh Shalih Al-Fauzan)

Allah berfirman,

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Bukanlah Ibrahim itu orang nan berakidah Yahudi alias Nasrani, bakal tetapi dia adalah seorang nan hanif lagi muslim, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67)

Ayat ini merupakan dalil nan sangat jelas dan tegas membantah klaim Yahudi dan Nasrani nan mengaku sebagai pengikut aliran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Bahkan, tidaklah berada di atas aliran dan kepercayaan nan diwariskan oleh Nabi Ibrahim, di antara umat akhir era ini, selain Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikutnya nan setia. Sehingga, pengakuan kaum Yahudi alias Nasrani bahwa mereka berada di atas kepercayaan Nabi Ibrahim adalah bohong belaka! Silahkan baca keterangan Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah di dalam tafsirnya (Tafsir Surah Ali Imran ayat 67).

Demikian sedikit kumpulan catatan. Semoga berfaedah.

Kembali ke bagian 6: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 6)

Lanjut ke bagian 8: Bersambung

***

Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.

Artikel: Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah